Berapa harga minyak tahun 2017 ?

Akhir tahun seperti biasa dihiasi oleh ramalan-ramalan. Salah satu yang kepingin diketahui adalah HARGA MINYAK ! Kali ini akan kita lihat berapa harga minyak tahun depan. Akankah harga minyak masih dapat diprediksikan, ataukah masih perlukah kita meramal harga minyak ?

😦 “Pakdhe kok ikutan meramal, mau jadi dukun minyak ya ?”

😀 “Bukan itu Thole, setiap mengawali usaha harus memiliki dasar perhitungan kedepan. Salah satunya memperkirakan patokan harga sebagai dasar berpijak”

hargaminyak

Sejak akhir tahun 2014 hingga 2016 dirasakan sebagai tahun paceklik bagi industri migas. Hampir semua investasi dalam pengusahaan migas dihentikan atau dibatalkan, atau paling tidak ditangguhkan. Anjloknya harga ini memberikan pelajaran khusus bahwa tidak ada yang mampu menjaga kelanggengan pasar yang sangat “volatile” (mudah berubah). Juga tidak diketahui pasti mekanismenya.

Harga 2017 sekitar 50-60 US$/bbl.

Kalau melihat tren sesaat kana sulit membuat prediksi (harapan) berapa harga minyak nantinya. Namun kalaupun dipkasakan, maka harga minyak antara 50-60 US$/bbl merupakan harga yang mungkin akan terjadi.

Harga tentunya parameter yang mutlak dan perlu dalam ekonomi dan bisnis. Dalam urusan ekonomi dan bisnis perlu memilki asumsi dalam perhitungan, “eh, berapa untungnya nanti ?”. Tanpa asumsi, tanpa prediksi jelas ndak mungkin melakukan perhitungan prakiraan untuk menentukan layak tidaknya proyek dilakukan, termasuk eksplorasi. Sehingga walaupun prediksi yang sudah diketahui pasti bakalan salahpun tetep saja dilakukan dan tetep saja diperlukan. Hanya dipakai sebagai pegangan dalam perhitungan sebelum melakukan usaha. Tetapi jelas prediksi dalam hal ini hanya sebagai asumsi yang HARUS dimiliki sebelum dimulainya suatu usaha.

Kapan Harga Minyak Kembali mendekati 100 US$/bbl  ?

Sudah bukan jamannya lagi menunggu harga minyak membaik. Yang lebih penting adalah perusahaan harus mampu tetap melakukan semua kegiatan usaha (Studi, Eksplorasi, dan produksi) dengan harga yang ada saat ini ,40-50 US$/bbl, saya yakin perusahaan akan lebih sehat ketimbang menunggu harga tinggi.

Menyiapkan Penyediaan Energi Dengan Akselerasi Kegiatan Eksplorasi.

Memberikan pasokan energi yang cukup merupakan salah satu tugas dan fungsi Negara yang semestinya menjadi bagian penting. Keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan akan memperkuat ketahanan energy yang memberikan nilai optimum pada pertumbuhan ekonomi. Ketimpangan yang dialami di Indonesia saat ini bukan hanya disebabkan karena kebutuhan yang meningkat namun juga keterlambatan dalam mengantisipasi kebutuhan yang memerlukan kajian dalam jangka panjang.
Penyediaan energi fosil rata-rata memerlukan waktu 10 hingga 20 tahun sejak awal kegiatan eksplorasi. Riset pengembangan energy nonfosil termasuk energy baru dan terbarukan juga memerlukan waktu lebih dari 10 tahun hingga memasuki tingkat keekonomian yang visible.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 6%/tahun maka kebutuhan energi total Indonesia meningkat 7.1% pertahun. Kebutuhan gas Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan akan meningkat 134% dibandingkan tahun 2010. Salah satu konsekuensi besarnya pertumbuhan ekonomi ini adalah kemungkinan terjadinya net import energy total pada tahun 2024.
Beberapa tindakan dan perubahan utama yang masih memungkinkan dilakukan sesuai dalam kemampuan kita saat ini antara lain :

• Meningkatkan eksplorasi sumberdaya energi dengan akselerasi khususnya migas di Indonesia Timur.
• Mengantisipasi kemungkinan terjadinya net impor energy total tahun 2024
• Mengurangi ketergantungan pada minyak dengan mengembangkan sektor gas alam dan gas nonkonvensional.
• Diversifikasi energi mix kita dengan percepatan rencana untuk mengeksplorasi sumber-sumber energi terbarukan.
• Mengurangi beban subsidi minyak dan mengalokasi dana-dana tersebut ke area-area yang diprioritaskan.

Baca lebih lanjut

Mengapa Panik dengan BBM ?

Paling tidak ada dua hal penting dalam soal subsidi BBM ini yaitu pembatasan volume (46 juta kilo liter) dan pembatasan jumlah subsidi (rupiah). Perhitungan Pertimina, jatah kuota premium akan habis 20 Desember dan solar bersubsidi habis 5-6 Desember. Saat ini Pemerintah sedang melakukan ‘uji coba’ membatasi “volume”, dan kita lihat dampaknya, yaitu timbul kepanikan di berbagai tempat. Issue kelangkaan BBM menjadi momok bagi pengguna.

Kenapa ?

Utamanya tidak adanya (minimnya) transportasi umum yang tersedia. Ini menjadikan rakyat berusaha melakukan aktifitas BBMtransportasi secara mandiri dan memastikan aktifitasnya tidak terganggu. Setelah memiliki motor atau mobil pribadi maka salah satu langkah selanjutnya mengisi tangkinya penuh, bahkan mungkin mengisi jerigen dirumahnya. Tentusaja BBM yang beredar dimasyarakat menjadi semakin besar. Pada kondisi normal memiliki cadangan bensin setengah tangki di motornya sudah merasa aman. Sebenarnya pemerintah hanya mengurangi 5% saja tetapi kepanikan menimbulkan seolah dipasaran berkurang 25% atau lebih. Padahal sebenernya BBM ada di tangki masing-masing.

Sekalilagi transportasi umum (publik) bagaimanapun harus menjadi tugas utama penyelenggara negara. Dan infrastruktur transportasi ini tidak hanya urusan satu kementrian saja.

😦 “Ah itu ngeluhnya, pelajarannya apa Pakdhe ?”

Paling tidak ada pelajaran khusus dalam hal pengelolaan BBM ini. Sehingga mungkin diperlukan tiga hal dalam pengalihan subsidi. yaitu Terbuka, Terukur dan Terjadwal.

TERBUKA : Meningkatkan kepercayaan pada pemerintah perlu digemborkan dengan sikap keterbukaan dalam membuat kebijakan. Apa yang terjadi, mengapa harga BBM kok naik, apa saja langkah yang dilakukan pemerintah, apa yang mesti dilakukan masyarakat dsb. Sosialisasi ini merupakan salah satu cara meningkatkan kepercyaan rakyat pada pemerintah. Memang sosialisasi seperti ini pernah dilakukan, tetapi sosialisasi ini semestinya tidak hanya pernah, harus RUTIN dilakukan pembelajaran.

TERUKUR : Perhitungan subsidi BBM harus terus dilakukan dan diupdate, karena perubahan harga, perubahan (penurunan) produksi dalam negeri, serta perubahan situasi energi regional maupun global. Perhitungan ini memang ada beberapa versi. Tentusaja yang perlu disosialisasikan verse sederhananya saja.

TERJADWAL (bertahap) : Dengan mengetahui jadwal serta tahap-tahap kenaikan harga BBM, masyarakat akan mencoba mengukur kemampuan dirinya sendiri. Mereka akan ikut berhitung, ikut merasa perlu berhemat. Tanpa harus panik. Kepanikan rakyat seringkali terjadi karena ketidak-pastian. Tentunya penjadwalan ini merupakan kesepakatan pemerintah dan DPR. Dan kalau sudah dijadwalkan tentunya tanpa harus sidang khusus lagi seperti kenaikan tarif listrik yang nyaris tanpa gejolak.

😦 “Pakdhe, kalau begitu dalam beberapa hari lagi pompa bensin akan sepi karena bensinnya masih penuh di tangki ya ?”

Menaikkan harga BBM kenapa harus takut ?

politician[1]Jokowi ngga perlu takut dalam soal BBM ini. Apabila SBY tidak mau menurunkan BBM pada mas pemerintahan kali ini, ada cara politis supaya popularitasnya tidak terganggu :

  1. Angkat Kabinet dari kalangan professional. Sesuai janji kampanye yang menyatakan akan mengangkat para professional, saya yakin popularitas meningkat atau paling tidak tetap. Siapa tahu pendukung lawannya akan menyeberang. Sambil manggut-manggut.
  2. Naikkan BBM setinggi mungkin, artinya sesuai harga keekonomian. Dengan membuat alasan yang logis misalnya dengan menyatakan,: “Langkah ini akibat kesalahan pemimpin sebelumnya yang salah dan tidak benar dalam melakukan perhitungan dan pemanfaatan migas selama ini. Sehingga saat ini BBM terpaksa harus dinaikkan untuk menyelamatkan negara. Harus disadari ini kemungkinan akan terjadi chaos, kacau atau rame karena kebijakan menaikkan BBM merupakan tindakan tidak populer. Tetapi alihkan atau supply BBM untuk luar jawa segera. Supaya luar jawa merasakan bahwa sekarang BBM juga dikirimkan ke luar jawa.
  3. Bila terjadi kekacauan berketerusan, Lakukan Reshuffle Kabinet menjadi kabinet “transaksional” untuk mendapatkan dukungan partai politik lainnya. Katakan saja para professional ini ‘nggak becus‘ memimpin negeri ini. Kemudian pilih Menteri dari Partai sesuai janji sebelum kampanye kemarin. Pssst, Ini langkah khusus untuk menambah dukungan dari Parlemen nantinya. Saya kira saat itu nanti rakyat sudah lupa dengan janji kampanye kemarin.
  4. Kalau masih tetep rame, –>TURUNKAN harga BBM <–, sedikit saja. Langkah seperti ini, diyakini akan menaikkan citra dimata rakyat. lah sekali-sekali PDIP menurunkan harga BBM. [Belum ada dalam sejarah looh]. Yang penting dalam menaikkan harga sebelumnya itu harus signifikan mengikuti harga keekonomiannya.
  5. Selesaikan tugas masa sisa kepemimpinan hingga 5 tahun. Kalau sukses ya masih bisa kepilih lagi, lumayan to ?

Langkah ditas memang merupakan langkah politis. Mungkin sekali bukan langkah terbaik demi negeri tetapi sangat mungkin dilihat realistis bagi para politikus.

Langkah terbaik untuk jangka panjang tetap harus mengalihkan BBMinyak ke BBGas ! Alihkan subsidi BBM ini untuk pembangunan infrastruktur gas. Dan jangan lupa transportasi massal yang haus BBM selama ini.

😦 “Pakdhe, lah kok ujung2nya soal popularitas saja to ?”
😀 “Thole, pencitraan itu sudah ada dari sononya. Jadi jangan terlalu lugu menganggap tidak ada pencitraan dalam perpolitikan”

Bicara BBM dan Energi yang REALISTIS saja.

Hampir semua yang dituangkan dalam pembicaraan/diskusi energi maupun berita di koran masih lebih banyak soal “snapshot” saat ini, atau impian jauh kedepan. Saat ini (sebagian rakyat) sedang panik karena munculnya issue energi ini, drama kelangkaan BBM disorot oleh media menjadi santapan berita. Disisi lain memimpikan pengembangan energi terbarukan yang dampak serta manfaatnya diperoleh setelah 10 tahun atau lebih. Artinya keduanya berbicara dalam dua titik ekstrim. Yang satu mudah dipolitisir, yang satu sarat ilmiah “scientific” tetapi melambung diangkasa tidak menyentuh bumi, khusunya bumi para politisi yang membutuhkan “nama/popularitas”, terutama untuk 5 tahun kedepan.

Langkah realistis adalah ALIHKAN SUBSIDI BBM PADA PERBAIKAN TRANSPORTASI UMUM SEGERA. Salah satu yang “doable” adalah menambah armada bus kota / busway untuk di Jakarta. Juga kota-kota besar lainnya. Penambahan MRT bussway ini pembangunan jalannya hanya memerlukan wakyu 1-2 tahun saja. Saya yakin dampaknya terlihat dalam 3 tahun kedepan dan akan menentukan “popularitas” pada tahun ke empat dan kelima untuk pemilu mendatang 2019. Semoga politisi suka dengan hal ini. Semua politisi akan berpikir apa yang bisa saya perbuat supaya saya terpilih “lagi”. REALISTIS !!

BonusDemografi1

Sepuluh tahun lagi akan ada hampir 200 juta warga yang perlu pekerjaan di Indonesia.

Membangun MRT (Subway) memerlukan waktu lima tahun lebih, juga beralih ke gas dengan membangun infrastruktur gas, ini CITA-CITA MULIA. Kegiatan eksplorasi SDAalam dan SD Energi berdampak lebih dari 15 tahun kedepan, ini juga impian yang HARUS TERWUJUD. Mengembangkan EBTKE (Energi Baru dan Terbarukan) juga salah satu yang TIDAK BOLEH DITINGGALKAN karena ini menyangkut kebrlangsungan jadi diri bangsa yg tidak ada batas waktunya.

Semua harus berjalan PARALEL ! Tidak ada sumber energi yang tidak diperlukan termasuk mengembangkan energi nuklir. Tahun 2020-2030 Indonesia akan memiliki 180 juta warganya yang memerlukan PEKERJAAN. Kebutuhan ini harus dipenuhi dengan menyediakan tiga bahan utama. BAHAN BAKU, BAHAN BAKAR dan BAHAN MAKAN. Dua bahan harus dipenuhi oleh satu kementrian di Indonesia. Ini tugas terberat dalam kementrian di Indonesia.

Lontarkan ide dan pemikiran TANPA TARGET apapun. Dan jangan ada kata mutung 😀

Salah satu kunci yang penting dalam pemanfaatan energi di Indonesia adalah menyediakan transportasi.

Data statistik saat ini serta proyeksi kedepan menunjukkan bahwa 30% energi di Indonesia dipakai untuk transportasi.

EnergiFinal

Menyelesaikan masalah transportasi sudah dipastikan akan meningkatlkan ketahanan energi (sumber BPPT)

Menyelesaikan (mengadakan) masalah transportasi (masal) sudah dapat dipastikan menghemat energi. Bisa juga memperbaiki infrastruktur jalan bebas macet, mungkin mengurangi banyak sekali konsumsi BBM.

Kita tidak dapat tidak dapat serta-merta mengatakan Indonesia itu negara boros, walaupun dari elastisitas energi di Indonesia itu rendah. Karena di Indonesia energi masih dipakai “untuk hidup”, bukan untuk berfoya-foya energi. Untuk negara maju dimana kebutuhan energi perkapitanya tinggi, maka “Elastisitas Energi” parameter yang hanya cocok utk ‘High GDP Country’.

gdpvsefisiensiGlobal

Elastisitas vs GDP

Saya memiliki plot lain tentang pemakaian energi perkapita dibandingkan GDP-nya. Indonesia ternyata secara perkapita hanya sedikit menggunakan energi. Saya kira Indonesia menggunakan energinya masih diutamakan untuk hidup. Masih memerlukan banyak energi untuk memulai menggunakan energi dalam berproduksi. Jadi ada satu titik dimana bila ditambah supply energi, energi ini akan habis terus sampai mencapai titik balik. Nah saya kira Indonesia masih belum mencapai titik itu.

😦 “Jadi harusnya kinerjanya diukur pakai apa pakde ?”

😀 “Paling tidak jangan menggunakan tolok ukur negara maju untuk menilai kinerja Indonesia yang belum menjadi negara maju. Sediakan dulu energi yang CUKUP untuk rakyat, kemudian kita lihat kinerjanya”.

Plot ini menunjukkan bahwa penggunaan parameter elastisitas energi ini cocok untuk negara-negara maju (high GDP). dimana semakin banyak energi yg dimasukkan akan semakin tinggi produktifitasnya. Sedangkan untuk negara-negara Low GDP, penggunaan parameter elastisitas energi justru akan menghambat kemajuan.

Perlu dipikirkan, walau dikatakan bahwa Indonesia yang masih low productivity dan low eficiency masih harus dibanjiri energi supaya Indonesia mampu berproduksi lebih efisien, kalau melihat konerja negara maju. Memang harus melampaui titik jenuh energi. Nah ini tentusaja perlu kebaranian dan perlu usaha dalam mengisi, atau menggelontori energi sebanyak mungkin. Malaysia walaupun memiliki GDP lebih dari Indonesia tetapi perkapita mereka memerlukan energi lebih besar dari Indonesia.

Sebenernya ada pertanyaan yg sangat tepat. “Kenapa jumlah ahli kebumian (eksplorasi) bertambah tetapi produksi migas turun terus ?”

Kalau saja produksi energi “dinaikkan dan dipergunakan di dalam negeri” barangkali Indonesia akan melewati titik jenuh, dimana ini perlu ‘keberanian’ karena akan melewati titik kritis dimana menjadi negara dengan energi perkapita meningkat tetapi jumlah energi perkapita melampaui titik kritis.

)* Note: Elastisitas energi atau elasticity “ε” merupakan perbandingan antara banyaknya energi yang dipakai dibandingkan dengan besarnya GDP (kemajuan ekonomi suatu negara).

Turun ke Gelanggang : Dewan Energi Nasional (DEN).

Mohon doa restu kawan-kawan saudara Indonesia yang baik. Saya mengikuti proses pencalonan Dewan Energi Nasional dan masih akan mengikuti satu proses akhir dalam Fit and Proper Test di Komisi 7 DPR RI. Monggo silahkan memberikan input dukungan ke set_komisi7@dpr.go.id dengan disertakan dokumen tanda pengenal.

RDP4DEN

#RDP4DEN

Baca lebih lanjut