Jakarta, Sudah Siapkah Menghadapi Banjir … Lagi ?

Flooded+HI+Round+Jan+2013[1]

Banjir Jakarta Januari 2013

Membicarakan banjir Jakarta tidak akan pernah basi terutama bila memasuki bulan Nopember – Desember. Hampir semua akan “maklum” (yang dipaksakan) ketika ada cerita banjir Jakarta. Sedangkan kalau berbicara kebutuhan air di Jakarta ini termasuk daerah yg susah mendapatkan air “bersih”.

😦 “Pakde, bukannya air hujan ini kan air bersih ?”
😀 “Justru itu Thole. Persoalan AIR di Jakarta ini perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya soal banjir, thok !”

Baca lebih lanjut

Menyambut Hari Anak Nasional (23 Juli), Apa yang penah anda alami waktu kecil ?

childrens_day_2013-2000005-hp[1]Menyambut Hari Anak Nasional (23 Juli)

Masih inget apa kejadian sepele yang nyebelin sewaktu masih kecil ? Dibawah ini kejadian kecil nyebelin bagi anak kecil :

  • Midak tegesan” (Nginjek puntung rokok masih nyala)
  • Keslomot kenalpot” (kena kenalpot panas) – mestinya naruh knalpot mepet tembok
  • Kecocok pines” (nginjek paku payung)
  • Kepleset” (Terpeleset)
  • Midak telek” (nginjek tai ayam) mestinya ayamnya dikandangin doonk !
  • Bermain di tegalan kena “lugud” … itutuh bulu-bulu di pohon bambu … guatel nemen.

Banyak kecelakaan kecil yang menimpa anak disebabkan oleh keteledoran orang dewasa ! Baca lebih lanjut

Kontekstual “Pyramid” Gunung Padang

Satu presentasi yang mengundang banyak pengunjung di Booth IAGI dalam Konvensi IPA adalah Presentasi Gunung Padang oleh Dr Andang Bachtiar (Salah satu pakar geologi dalam Tim Riset Terpadu Mandiri).

Presentasi G Padang di Booth IAGIBegitu meyakinkan Pak ADB mendongeng Gunung Padang, yang diikuti banyak pengunjung, inilah, semakin kontroversi semakin menarik. Semakin besar “sesuatu” berita semakin besar pula pengunjung dan peminatnya. Konteks antara besar dan kecilnya sebuah penemuan itu tergantung dari dampak dan juga dukungan akan “sesuatu” itu sendiri. Demikian juga dengan Gunung Padang. Ah bukan Situs megalith Gunung padang yang besar tetapi “Pyramid Gunung Padang” … istilah pyramid saja sudah besar gemanya. Apalagi dengan ukuran sekian kali Borobudur !

😦 “Whadduh, Pakdhe ini sesuatu banget

Baca lebih lanjut

Digital Darwinisme“: Urang Bandung paling ceriwis

Kita hidup di era apa yang disebut sebagai “Digital Darwinisme“, saat teknologi dan kehidupan sosial yang berkembang lebih cepat dari kemampuan banyak manusia serta komunitasnya untuk beradaptasi mengikuti. Sosial media is more about social science than technology. Berbiacara tentang sosial media lebih mengarah ke  ilmu sosial ketimbang tentang tehnologi.

Bayangkan saja, saat ini segelintir orang bisa menghancurkan citra, merusak bisnis dan mematikan usaha. Namun juga dengan ‘getok tular‘ tweeps anda dapat menaikkan citra penyanyi ndangdut lokalan menjadi setingkat nasional dalam sepekan.

Tahukah anda bahwa kota Bandung menjadi tweepers terceriwis di dunia ?

Top20CityofTweet

Baca lebih lanjut

Persoalan subsidi bukan hanya soal untung rugi.

Subsidi energi awalnya persoalan ekonomi. Tapi ktika persoalan negeri tentang ekonomi ini dibahas oleh pimpinan lembaga negara selalu menjadi masalah politis dengan mekanisme jual beli, akhirnya hanya ada dagang sapi, “kamu dapet apa aku dapet apa” …. Dan rakyat akan dipihak kalah, karena terjebak dalam labirin ciptaan politikus.

Sudah banyak persoalan kriminal, persoalan bisnis, dan persoalan hukum yg ujungnya diselesaikan secara politis oleh politikus. Rakyat jelata hingga elitis kampus dan tehnokratpun ikut dalam permainan labirin politikus lembaga negara. Saling beradu konsep, beradu data, beradu pendapat. Kerugian subsidi bukan sekedar banyaknya biaya yg dikeluarkan tetapi lebih banyak hilangnya potensi karya serta waktu berargumentasi yg merongrong masa bekerja yg produktip

Termasuk kita, saya dan anda yg merugi

Politikus mengalahkan teknokrat dan pemikir bangsa ini.

Jelas subsidi itu masalah ekonomi, memang menjadi ruwet ketika harus diputuskan secara politik. Ya akhirnya semua yang berkepentingan masuk dalam jebakan labirin bikinan politikus. Keharusan diputuskan secara politis itu karena ulah politikus yg telah merubah cara berpikir dan cara menjalankan negeri kita. Tatacara dan protokoler pengambilan keputusan ini  ada dalam kesepakatan politikus yg saat ini sedang menjadi pejabat negara, baik pemerintahan, DPR, serta lebaga-lembaga politis negara lainnya.

Didalam labirin politikus ini, para tehnokrat, serta ahli pemikir bangsa ini awalnya berbeda pendapat saja, namun ketika masuk didalam laga labirin menjadi berseberangan, bertentangan dan akhirnya saling menyerang. Sedangkan sang politikus ngekek-ngekek diatas balkoni. Saat ini birokrat, teknokrat, pemikir serta ahli-ahli tehnis negeri ini dipaksa oleh politikus untuk bermain berlaga  didalam labirinnya, ya mesti wae yang ikut membuat labirin yang memenangkannya.

Jadi tehnokrat serta ahli pemikir dan pakar ilmiah Indonesia saat ini kalah dalam percaturan politik yg menentukan masa depan bangsa ini. Prihatin !

Dongeng Geologi lebih berharga dari Web DPR

Dengan adanya berita bahwa biaya membuat Web DPR ternyata menelan biaya sebesar 9.75 Milyar rupiah, seorang sahabat Pakdhe bernama Sulastama membandingkan dua website. Yang satu Website bernuansa dongengan berisi ilmu sederhana, yang satunya website resmi kenegaraan yang berbiaya tinggi hinggi 9.75 Milyar.

Dan inilah hasilnya:

Baca lebih lanjut

Gunung Magnet, ilusi gravitasi atau fakta ?

Misteri gunung magnet kembali diributkan, kali ini ada di Banyumas, sebelumnya ada di Gunung Kelud. Sedangkan yang paling sering dibicarakan adalah Jabal Magnet di Saudi Arabia, yang sering dibincangkan para peziarah haji. Apakah benar sebuah bukit magnet dapat menarik mobil ? Kalau bisa menarik mobil tentunya juga menarik paku, serta besi lain  juga akan ditarik kan ? Tetapi kalau magnet hanya menarik besi, mengapa air juga ikutan mengalir ke arah yang sama ? Baca lebih lanjut