“Eksplorasi” dan “Alokasi” Produksi [Migas], Kunci untuk Memenuhi Kemandirian [Energi]


Berbicara energi semakin seksi saja akhir-akhir ini. Issue produksi migas dan penataan, pengusahaan serta pengelolaan migas menjadi terasa sangat penting.

😦 “Pakdhe, nasi itu kan juga energi utk tubuh sebelum bekerja”

😀 “Nasi juga karbo hidrat atau hidrokarbon isinya juga sama H dan C”

Kebutuhan SDA sejalan dengan pertumbuhan penduduk.

Menurut pakar-pakar demografi jumlah warga Indonesia akan mencapai sekitar 400 juta pada tahun 2050. Indonesia mungkin akan menggeser posisi Amerika Serikat yang kini berada di peringkat ketiga, setelah China dan India, dengan jumlah penduduk 325.000.000, berkat program keluarga berencana yang dijalankan. China dan India dengan penduduk masing-masing 1,3 miliar dan 1,1 miliar tampaknya akan tetap berada di puncak saat penghuni planet Bumi ini mencapai 9.850 juta (mendekati 10 miliar) tahun itu.

Dengan jumlah penduduk dunia pada tahun 2050, yang meningkat sepertiga dari saat ini, tentusaja jumlah kebutuhan SDA pendukung kehidupannya juga akan berbanding lurus, bahkan mungkin berlipat seandainya tidak ada penghematan pemanfaatan SDA, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi. Sedangkan secara umum diketahui bahwa profil produksi bahan-bahan hasil SDA itu akan menurun sejalan dengan waktu produksinya, dikenal dengan “Production Decline”.

Produksi total migas Indonesia menurun sudah sejak tahun 2000 hingga sekarang. Penurunan produksi ini sangat mengkhawatirkan karena juga dibarengi juga menurunnya jumlah penemuan (discovery) lapangan-lapangan baru. Dengan produksi minyak dan gas saat ini yang mencapai 1.5 juta MMBOe/d (million barrel oil equivalent perday) berarti kira-kira 525 MMBOe tiap tahun. Sedangkan penemuan sejak tahun 2000 hanya sekitar 50 MMBoe, atau hanya sepersepuluh yang diproduksi. Artinya jumlah cadangan migas nasional menurun drastis.

Gambar 1. menunjukkan bagaimana penemuan (discovery, bawah), dan produksi (atas) migas selama ini di Indonesia. Terlihat bahwa eksplorasi migas di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1890-an ketika awal dilakukannya pengeboran minyak di Sumatera Utara), selanjutnya penemuan migas di Indonesia telah bertambah dan berkembang hingga sekitar 1940-1950. Dalam gambar ini juga terlihat bahwa waktu yg diperlukan untuk mencapai puncak produksi migas ini antara 20-30 tahun.

Perlu diketahui juga bahwa minyak yang dihasilkan Indonesia ini tidak seluruhnya dinikmati sendiri. Masih ada bagian hak pengelola (kontraktor). Dengan demikian jumlah migas yang dialokasikan ke dalam konsumsi sendiri ada dibawah itu. Artinya walaupun kita memproduksi minyak, kita masih belanja minyak juga.

Gambar diatas juga memperlihatkan fenomena menarik bila dilihat lamanya fase puncak produksinya. Migas di Indonesia mencapai puncak produksi sekitar tahun 1970 hingga tahun 2000. Selaras dengan satu kali periode kontrak PSC yang 30 tahun-an. Artinya perusahaan migas akan selalu berusaha mengoptimumkan produksinya untuk selama masa kontrak, 30 tahun.  Hal ini disebabkan karena laju pengurasan (withdrawal rate) lapangan migas ini tidak dibatasi dalam perjanjian kontrak PSC. Di negeri tetangga Malaysia. Besarnya laju pengursan dibatasi. Sehingga pada saat kontrak berakhir, semua cadangan beserta asset dikembalikan ke  Negara masih memiliki sisa cadangan yang akhirnya dioperasikan oleh Petronas.

Walaupun Malaysia dulu mencontoh system kontrak PSC Indonesia, sudah semestinya Indonesia juga belajar balik dari Malaysia (Petronas) dalam pengelolaan migasnya. Kemandirian pengelolaan yang dimulai pada saat kontrak habis merupakan cara paling elegan dalam proses transisi pengelolaan. Swakelola yg dimulai dari saat kontrak habis perlu dijalankan di seluruh kontrak SDA.

Alokasi, bukan sekedar bagi hasil.

Migas memang laku dijual, bahkan sebagai bahan dagangan, barang ini dicari dimana-mana. Namun migas bukanlah sekedar komoditi namun migas sejatinya merupakan energy untuk hidupnya sebuah bangsa. Mirip seperti kebutuhan bahan makanan bagi manusia.

Produksi migas sebagai energy sudah selayaknya tidak hanya dilihat sebagai sebuah komoditi tetapi sebagai energy, ya sebagai energy.  Dengan demikian migas yang dihasilkan oleh bumi Indonesia sudah selayaknya dinikmati bukan hanya sebagai bahan mentah untuk diganti dengan mata uang.

Dengan demikian alokasi untuk kebutuhan dalam negeri menjadi hal yang utama dibandingkan bagi hasilnya. Migas yg dihasilkan akan lebih bermanfaat bila dimanfaatkan didalam negeri. Nilai tambah dari pemanfaatan energy ini akan bernilai lebih karena akan mengasilkan efek perputaran kerja di dalam negeri.

Amerika-pun enggan menjual gasnya ke luar negeri ?

Sewaktu kampanye pemilu presiden US, Obama dengan Romney juga mengangkat issue energy. Walaupun harga gas di dalam negeri amerika hanya 3US$/MMBTU, sedangkan harga di kawasan Asia hingga 6-8$/MMBTU, mereka sudah mulai memikirkan untuk TIDAK MENGEKSPORT gasnya karena diperlukan untuk meghidupi dalam negeri. Saat krisis beberapa tahun lalu diketahui bahwa tindakan memindahkan industrinya ke luar Amerika merupakan salah satu penyebab krisis dan pengangguran. Besarnya jumlah pengangguran di Amerika akhirnya menuntut dikembalikannya pabrik dan industrinya di luar Amerika supaya mengurangi pengangguran di dalam negeri.

😦 “Naah ini Pakdhe, mereka sadar bahwa gas itu energi, bukan sekedar komoditi. Mestinya rak begitu”

Tentusaja industry-industri yang kembali ke Amerika ini memerlukan energy nantinya. Sedangkan kalau saja gas ini terlanjur dijual ke luar Amerika, maka Amerika akan kekurangan gas sebagai sumber energinya yg terikat kontrak penjualan gas. Dengan demikian mudah dimengerti bahwa ALOKASI untuk kebutuhan dalam negeri merupakan sebuah tindakan proteksi penjaminan supply energy.

Indonesia sudah semestinya mulai memilikirkan jaminan supply dalam negerinya dengan memikirkan alokasi produksi untuk kebutuhan domestic. Kontrak-kontrak penjualan gas (LNG) ke luar harus ditinjau dan pembuatan kontrak penjualan jangka panjang harus mulai diperhatikan. Apalagi dengan diketahui bahwa dengan pertumbuhan 6-7% pertahun, akan membutuhkan energy lebih dari 15% dibanding tahun sebelumnya.

Dengan peningkatan jumlah penduduk, sudah tentu mudah dimengerti bahwa kegiatan EKSPLORASI (untuk menemukan lapangan baru) yang disertai dengan pengaturan ALOKASI produksi (penjaminan pemanfatan ke dalam negeri) menjadi kunci dalam memenuhi kemandirian energy.

5 Tanggapan

  1. kalau tak salah ni Amerika memiliki cadangan energi yang besar lalu kita apa ya kalau terus menerus dikuras dan dijual keluar, apakah tidak merugi suatu saat nanti..
    nice share, bisa menambah wawasan saya

  2. Pak De,
    Analogi ‘ekspor udang kualitas prima ke Jepang dan membeli daging berlemak tinggi dari Ustrali’ tampaknya kurang pas dalam konteks crude oil swap dalam pengelolaan kilang kita. Crude oil baik kwalitas tinggi/rendah akan menghasilkan produk-produk yg sama, yaitu bbm dan bahan baku sampingan (chemical) dengan kandungan gizi yang sama. Yg berbeda adalah kuantitas dan jenis produk sampingannya, sehingga dengan crude swap ini menghasilkan selisih pendapatan yg cukup signifikan.

    Perihal termin penjualan migas, kalau crude oil setahu saya selalu jangka pendek tidak lebih dari 4 bulan. Sedangkan untuk kontrak penjualan gas hampir selalu jangka panjang; pembeli tentunya memerlukan jaminan pasokan jangka panjang untuk menjamin investasinya. Jika gas dikirim via pipa yang puluhan bahkan ratusan km jaraknya, tentunya nggak nyucuk (ga worthed) kalau kontraknya jangka pendek, padahal investor sudah capek-capek bangun pipa dengan biaya yang besar untuk kepentingan kontrak jangka panjang. Hal yg sama juga berlaku untuk transportasi gas yg menggunakan kapal yang dikontrak untuk jangka panjang, seperti pengiriman LNG.

    Pak De,
    Investasi kilang minyak itu marginnya kecil tapi risikonya gedhe, belum lagi risiko sosial politik dalam negeri kita yg kurang mendukung bagi investor untuk put their money dalam refinery. Dunia besar sangat mempengaruhi industri migas kita. Dalam era demokrasi ini semua orang bebas berbicara sehingga memerlukan informasi yang lurus agar tersaji informasi yang benar-benar mencerahkan. Karenanya, saya sangat appreciate tulisan-tulisan Pak De yang sangat enlightening bagi sebagian besar masyarakat. Namun demikian kayaknya kita masih harus hati-hati kalau menuliskan hal-hal tentang industri migas. Jangan sampai pembaca kita terbawa ke pemahaman yang salah, sehingga menghasilkan opini yang salah, dan akhirnya menyesatkan dan merugikan kepentingan negara yg lebih besar. Setuju ya Pak De?
    Salam hormat saya.

    Pak Yuwono,
    Terimakasih apresiasinya. Analogi yg saya berikan memang bukan ansich sama. Memang bukan seperti itu dampaknya, saya hanya berpikir bahwa pasti akan terjadi selisih akibat transaksi. Secara mudah ada energi terbuang ketika kita harus mentransport minyak mentah kesana kemari. Dari sisi fisika energi sudah jelas ada keborosan energi ketika mengangkut. Ini salah satu yg saya kritisi ketika kita harus menggunakan batubara dari kalimantan utk menjadi sumber energi listrik di jawa. Ada bbm untuk menjalankan kapal. Seandainya yg ditransmisikan itu listrik lewat kabel laut saya yakin akan ada efisiensi energi.
    Demikian juga yg saya pikirkan dengan mengangkut minyak mentah. Akan ada energi terbuang.
    Indahnya demokrasi saat ini adalah kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Senang dapat berbagi dan berdiskusi.
    Salam juga

  3. Leres sanget Pakdhe, saya pernah punya angan-angan kalau sumber daya energi yang kita miliki itu lebih diutamakan untuk kita terlebih dahulu pakdhe. Ketahanan energi Indonesia ini sudah kritis tapi sumber energi masih dianggap sebagai komoditi. Pernah juga rerasan kalau BBM untuk kebutuhan non industri itu sebaiknya sudah tidak perlu disubsidi. terus harga listrik untuk kegiatan non produktif harganya dibuat mahal.

    http://sekarlangit.com/langkah-kecil-indonesia-mandiri-energi.php

  4. Di Tuban dibangun PPI (refinery) tapi malah di-mangkrak-kan.. sptnya ada yg gak beres nih..

  5. Wah tulisannya seperti pengamat.
    Kita memang sudah bisa mengolah crude oil di refinery2 dalam negeri, tetapi harus diingat refinery kita didesign utk minyak murah yang berkualitas rendah. (dr middle east)….hanya minyak Duri yang langsung bisa dikirim ke Balongan untuk di proses jadi BBM. Karena crude Indonesia sangat bagus, maka crude kita dijual keluar dengan harga bagus, terus kita beli crude murah dr middle east untuk diolah di refinery dalam negeri. Bukankah disini ada nilai tambah yang selalu diciptakan.

    Persoalannya kan kapasitas produksi refinery kita terbatas, sehingga untuk kebutuhan BBM dalam negeri harus mengimpor BBM dari luar.

    Kenapa tidak dibangun refinery baru….peluang ini sudah dibuka tetapi tidak ada yang tertarik untuk membangun refinery di Indonesai hingga saat ini.

    Klo seandainya pemerintah akan mebangun refinery baru, menurut saya juga harus didesign untuk mengolah crude yang murah (kualitas rendah) dan bukan untuk mengolah crude hasil produksi Indonesia yang berkualitas bagus. crude oil kita yang berkualitas bagus dijual harga tinggi,beli lagi dari orang dg harga murah utk diolah….

    Jadi migas hasil produksi nasional utk kebutuhan dalam negeri kan bisa dengan cara crude kita dijual dengan harga tinggi dan untuk beli crude yang murah utk diolah di dalam negeri……kan sama saja….

    begitu pakde….

    –> Pakde Yanto,
    Memang dijual keluar trus beli lagi terkesan sama saja, itu betul. Ini meninjau migas sebagai komoditi, tetapi perlu diingat lagi bahwa coal, migas, itu adalah energi, bukan sekedar komoditi. Perlu diperhatikan juga kalau penjualannya terikat kontrak, dimana suatu saat nanti Indonesia perlu “lebih banyak” karena jumlah penduduknya meningkat, maka yg saya tuliskan kontrak jual-beli jangka panjang ini yang wajar ditinjau lagi. Menjual barang bagus beli barang murah ini kan mirip menjual Udang kwalitas prima (berprotein tinggi) ke Jepang dan membeli daging yang berlemak tinggi dari Ustrali. Itulah sebabnya Jepang menjadi pinter karena mengkonsumsi protein🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: