Enambulan lalu mereka sudah tahu TRUMP bakal menang Pemilu Amerika ! – Memprediksi hasil pemilu dengan BIG DATA –

Memprediksi hasil pemilu dengan BIG DATA.

Dengan semakin banyaknya pengguna internet dan dalam berselancar diketahui kecenderungan perilakunya, maka ada kemungkinan hasil pemilu dapat diketahui hasilnya sebelum pemilu diadakan.

Baca lebih lanjut

Menteri Professional, Seperti apa ?

profesi-2[1]Dikotomi politikus dan kaum professional dalam penyusunan kabinet Jokowi-JK membuat dua kutub ini seolah berseberangan. Dikotomi ini seringkali merupakan manifestasi kurangnya sikap “MENTAL PROFESSIONAL” baik si politisi maupun kaum professional. Saya sendiri tidak begitu suka dengan pemisahan politikus dan kaum professional dalam hal ini. Karena permasalahannya bukan sekedar mendudukan dua kutub ini berseberangan atau bahkan bertentangan. Saya lebih cenderung mendudukan mental profesional lebih penting baik sebagai politikus profesional maupun menteri yg profesional.

😦 “Jadi revolusi mental itu juga termasuk ini ya Pakdhe ?”

😀 “Iya Thole REVOLUSI MENTAL PROFESIONAL”

Moral dan mental professional, baik utk politikus maupun kaum profesional.

Kata professional sering muncul dalam lingkungan kerja maupun organisasi. Tentunya tidak mudah mendefinisikan arti “professional” ini.  Bahkkan Pak Jokowi sendiri tidak secara jelas menjelaskan apa itu professional.

Ada beberapa definisi praktis misalnya: Profesional berarti bayaran, seperti petinju profesional, petenis profesional, dsb. Biasanya ini berhubungan dengan olah raga. Namun dalam dunia kerjapun, kata profesional sering rancu, terutama ketika memisahkan antara jenjang manajerial dan jenjang profesional. Padahal diperlukan juga seorang manajer yang profesional, yang benar-benar melakukan pekerjaan menejerial. Secara mudahnya kenapa manajer masih juga memutar sekrup, kenapa manajer ‘masih memegang obeng’ yang dianggap bukan manajer profesional. Hal sebaliknya kalo berpangkat engineer tentunya bukan ikutan mengatur manusia-manusianya saja, tanpa melakukan pekerjaan rekayasa.

Selain itu organisasi profesi melihat pula sisi profesi ini dengan memberikan batasan-batasan profesinya, misal dengan kode etik profesi. Dalam dunia kedokteran ada kode etik kedokteran yang dikeluarkan IDI, dalam dunia wartawan ada kode etik jurnalistik juga masih banyak organisasi profesi lain mengeluarkan kode etiknya. Kode etik ini biasanya berkaitan erat dengan aturan prosedur teknis secara profesi sehingga bisa dibuat jenjang-jenjang sertifikasi, misal sertifikat keahlian dasar, menengah, hingga ahli; juga surat ijin praktek kategori A, B, C dst.

jadi saya hanya ingin menuturkan sedikit tentang tinjauan dari sisi moral yang bukan etika teknis. memang dari itu semuaaspek diatas, kitamudah melihat ada tiga aspek pokok dalam melihat keprofesionalan seseorang, yaitu :
– Profesional secara economy. (bayaran vs amatir)
– Profesional secara hukum. (sertifikasi, kode etik dsb)
– Profesional secara moral dan mental. (sikap dan konsep diri)

😦 “Pak Dhe, aku juga profesional donk !
😀 “Kenapa, kok iso ?”
😦 “Setiap kali jajan mesti dibayarin”

Untuk lebih sedikit fokus coba kita mengulas profesional dari sisi moral/mental dalam tiga hal yang harus dihindari oleh seseorang sehingga menurut orang tersebut dapat disebut profesional secara moral. Bagamaina sesorang dianggap profesional dari sisi moral ? Menurut hemat saya ada tiga hal pokok yang musti dilakukan/dipegang oleh seorang pekerja profesional, yaitu :

– tidak memaksa,
– tidak mengiba, dan
– tidak berjanji.

Sikap moral profesi ini sangat dikontrol oleh konsep diri seseorang antara lain sikap menghadapi tantangan, cobaan serta hambatan.

1. Tidak memaksa

Seorang yang berjiwa atau bermoral profesional tetunya akan memiliki keahlian teknis yang khusus yang mendukung keprofesionalannya. Dengan demikian dia akan mempunyai kekuatan (`power’). Sehingga dengan ‘power’ yang dia miliki, dia dapat melakukan tindakan untuk menekan pihak lain. Misal pekerja menekan manajernya utuk meminta kenaikan gaji, karena tahu dialah satu-satunya staf ahli di perusahaan itu. Kalo tidak diluluskan mengancam akan keluar dari perusahaan. Tindakan pemaksaan ini menurut hemat saya adalah tindakan yang tidak memeliki moral profesional. Hal yang sama seandainya seorang manajer yang melakukan penekanan kepada anak buahnya untuk menerima upah berapapun yang diberikan, karena diketahui betapa sulitnya mencari kerja saat ini.

Dalam interaksi pekerja dan yang mempekerjakan (employee – employer) selalu muncul kesepakan sebelum dimulainya pekerjaan. Seandainya ada salah satu diantara kedua pihak merasa ada yang merasa terpaksa melakukan atau mengikuti aturan kerja maka kemungkinan besar ada sesuatu yang tidak profesional dalam menangani perjanjian kerja ini.

Akan sangat bagus sebelum dimulainya pekerjaan manajer menanyakan bagaimana kesanggupan anak buahnya Demikian juga anak buah menanyakan apakah hasilnya dapat diterima oleh atasannya.

Bagi seorang menteri yang professional juga harus mengerti aturan tata laksana yang sesuai prosedur sehingga tidak memaksakan kehendaknya ketika menjalankan tugas.

2. Tidak mengiba

Pada saat-saat tertentu kesulitan atau hambatan muncul baik dipihak pekerja maupun perusahaan. Krisis ekonomi saat lalu (soalnya saya yakin saat ini sudah mulai tahap penyembuhan) banyak mengakibatkan kesulitan dikedua pihak. Pihak perusahaan akan sangat kesulitan mengelola perusahaan, dilain pihak pekerja atau karyawan juga mengalami hal yang sama dalam kehidupan sehari-harinya. Sering kita dengar ada perusahaan yang yang dengan mengiba datang ke Depnaker utk melakukan PHK massal, untuk dinyatakan bangkrut/ pailit. Atau juga seorang karyawan yang datang ke manajernya memohon untuk tidak di PHK karena anaknya masih kecil. Ada saat seperti ini, moral keprofesionalan pekerja dan penilik perusahaan (biasanya diwakili manajernya) mengalami ujian dalam menghadapi tantangan hidup.
Tentunya tidak bisa hanya dengan mengiba untuk mengahdapi kesulitan ini, dan tentunya tindakan mengiba ini bukan moral yang professional.

Demikian menteri yg professional. Semua juga tahu bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia bukan hal yang mudah, bukan sesuatu masalah kecil saja. Tidak boleh menteri kok mengeluh. Tentunya kita sering mendengar pejabat mengeluh. Kalau pingin mengeluh jadilah rakyat biasa saja. Jangan jadi pejabat, apalagi menteri !

3. Tidak berjanji

Satu sikap moral professional dalam menghadapi apapun yang telah, sedang dan bakal terjadi juga hal yang harus diperhatikan. Sikap ihlas dalam menghadapi keberhasilan maupun kegagalan merupakan sikap professional yang ketiga. Berjanji merupakan tindakan yang mungkin sekali menjadikan kita melanggar dua sikap moral sebelumnya yang disebutan diatas. Karena kegagalan maka akan muncul pemaksaan atau mengiba dari salah satu pihak, atau bahkan kedua pihak. Sehingga kesiapan menerima apapun yang bakan terjadi merupakan sikap moral profesi yang dibutuhkan.

Program kerja saat ini banyak sekali mempunyai tuntutan, target produksi, target penjualan, serta target target perusahaan lainnya hendaknya bukan merupakan janji yang harus dipenuhi melainkan merupakan sebagai pemicu semata, sebagai ‘alat ukur performance’ yang bukan merupakan harga mati baik untuk kedua pihak.

Janji-janji sebelum menjabat ini sering menjadikan “tergadaikannya” sikap mental diatas. Bagaimanapun kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Tidak tercapainya target harus diantisipasi dengan langkah lain. Janji juga sering menjadikan seorang pejabat tidak mampu melaksanakan tugas demi negara.

Nah dari sikap moral dan mental professional diatas lebih penting daripada memisahkan dikotomi politikus vs profesional, kita dapat melihat sejauh mana keprofesionalan para menteri ini nantinya. Ingat sebagai pimpinan perusahaan, manajer, pemegang pimpinan organisasi serta anggota organisasi profesi maupun anggota partai sekalipun dalam bersikap profesional.

😦 “Pakdhe mau masuk kabinet, jadi menteri juga ya ?”
😀 “Mentra-mentri, kitchen kabinet thole ?

Hanya untuk pendukung Prabowo

Kalau susah move on jadilah explorationist seperti saya yang 90% ngebor gagal, dryhole itu kerjaan sehari-hari. Kalau suksespun yg akan dipuji bagian produksi — feeling strong.

move-on[1]Saya bisa mengerti hari-hari ini merupakan hari yang berat buat pendukung Prabowo. Dukungan anda kalah, dan dia malah melakukan manuver diluar dugaan yang bisa saja membuat anda tambah down. Padahal kita ngga pernah tahu apa yang dipikirkan Prabowo dukungan anda.

That’s the game.

Menang atau kalah itu wajar. Kalau dicari-cari alasan mengapa bisa kalah, tentu ada saja ada ditemukan. Kurang kerja keras selama kampanye atau bahkan merasa dicurangi. Untuk lanjut ke MK atau tidak, sepertinya tidak merubah hasil kok. Tahun 2009 lalupun putusan KPU dibawa ke MK. Ingat saja, saat dibacakan putusannya capres dan cawapres yang kalah saat itu juga ga hadir dan tidak peduli lagi.

Jadi ingat juga timnas Piala Dunia Argentina saat juara dunia, Maradona menciptakan gol kemenangan kontroversial via “tangan tuhan“. Meskipun sang wasit yang bertanggung jawab sudah diadili, divonis bersalah, sanksi skorsing juga sudah dilaksanakan. Namun predikat Juara Dunia yang disandang Argentina tidak pernah dicabut atau dianulir. Dan diakui masuk dalam catatan sejarah. Dalam kehidupan mungkin berbeda, tetapi dalam permainan (game), pemenang selalu benar. Jadi untuk apa berlama-lama melihat masa lalu.

Pengalaman saya sebagai eksplorationis, secara statistik 90% gagal. Artinya kalau saya hanya meratapi kegagalan maka mustahil pernah mencapai sebuah penemuan lapangan. “No discovery without dry hole well“. Salah satu tugas saya adalah mengembalikan mental mengarah ke depan dan tidak berlama-lama menengok kebelakang.

Kalau anda ingin move on, coba saja membalas dengan cerdas.

Misalnya dengan mengatakan :

  • Anda satu diantara 62,262,844 orang pemilih yang belum bisa “move on” ?
    Ga papa, ada loh yang perlu 10 tahun berpuasa baru sekarang bisa “move on”. Rileks saja. — feeling relaxed
  • Kalau masih sulit move on, pakai saja kartu “e-move on”. Dijamin 2 minggu saja langsung On !.
  • Jangan nagih janji kampanye, dulu buatnya nggak pakai mikir !

Pendukung Jokowi pasti tahu maksudnya dan itu lebih baik ketimbang anda mencari-cari alasan curang. Wong keduanya melakukan hal yang sama. Proses “perkelahian” (dalam tanda kutip) ini memang begitu. Walau keduanya mungkin saling melanggar norma-norma yg ada, asalkan tidak ada korban cedera kan ok ok saja dalam proses demokrasi yang benar. Memang yang membuat (saya) geram itu adanya pihak ketiga yang ikut campur didalam “papan catur” kita. Campur tangan pihak asing ini yg, menurut analisis saya, bisa berkelanjutan dalam lima tahun kedepan.Ini soal lain, kita bicara lagi nanti soal pihak ketiga dalam demokrasi di Indonesia.

Mereka yang bukan winner tapi hanya follower (bolo dupakan).

Mungkin anda masih saja di-bully oleh pendukung Jokowi. Dan itu banyak di social media, bahkan media mainstreampun masih melakukan karena

Kesel, kan ?
Mangkel, kan ?
Tapi ngga bisa membalas kan ?

Itu selalu saja begitu dalam sebuah permainan (game). Lah wong supporter sepak bola di luar negeri saja bisa dipakai untuk saling mengolok-olok, kok. Tapi ketahuilah pendukung Jokowi yang masih sibuk mem-bully dan mengolok-olok itu bukanlah mereka yang bermental “winner“. Mereka itu hanyalah orang yang masih bermental “follower“, pengikut, pembebek atau “bolo dupakan“. Mereka jelas bukan panutan yg pantas untuk diikuti. Ini ujian mental. Makanya kita tahu siapa yang perlu revolusi mental, kan ?.

Yang menjadi leader winner itu jelas Jokowi-nya sendiri. Jokowi sudah tidak membully lagi setelah permainan selesai. Pemimpin-pemimpin kita dulu juga seperti itu. Ketika berseberangan di parlemen bisa udreg-udregan sambil gebrak meja. Tetapi setelah itu ngopi-ngopi bareng. Mereka-mereka yang bener-bener sebagai leader (panutan) bahkan mengajak untuk memperbesar koalisinya.

 😦 “Pakdhe, kalau sepuluh tahun jothakan itu leader atau bukan”
😀 “Ntar dulu thole, aku tahu maksudmu”

Koalisi politikus itu tidak akan pernah permanen. Seorang leader akan memperbesar koalisinya untuk mempermudah jalannya pemerintahan pasca pemilu. Tanpa dukungan koalisi di parlemen (DPR), pemerintah yang dipimpin presiden ini tidak mungkin (kesulitan) menjalankan tugasnya. Sehingga sangat penting bagi pemenang pemilu itu untuk mencari partai follower.

Kalau masih tidak bisa move-on maka pilihan lain adalah move in !

😦 “Pakde, politikus yang sudah ancang-ancang move-in sudah terlihat, looh”
😀 “Kalau yang mutung itu Move Out”

Move-in itu langkah strategis dalam berpolitik di Indonesia. Plin-plan itu disebutnya strategic manuver. Halllah. Saat ini semua rakyat harus membantu Jokowi-Kalla, sesuai kompetensi. Dulu saja, SBY dipilih oleh 73.874.562 sekarang jokowi dipilih oleh 70.633.576. Tentunya sekarang RI-1 harus bekerja “lebih keras lagi”.

PR dalam waktu dekat adalah abrasi akibat beban subsidi BBM yang menggerogoti APBN. Dulu SBY yg dukungannya lebih besar saja sempat kelabakan ketika akan menaikkan harga BBM. PR kedua adalah Newmont karena gugatan arbritasenya, langkah-langkah yang salah akan mengancam pelanggaran UU Minerba dalam pelarangan eksport bijih (hiliriasasi). Untuk jangka menengah tentunya RUU Migas yang harus dikawal terus. Jangan sampai seperti UU Migas 2001 yg akhirnya dianulir pasal-pasalnya karena yg nulis “tangan jahil“. Semuanya adalah PeeR SDA/SDEnergi dimana yang berkepentingan tidak hanya internal dalam negeri. Ada tantangan dari luar selain problema di dalam.

Ayo, di-share sesama pendukung mungkin akan mengurangi sakit hati anda …

Lets MOVE !

Quick Count Itu Tidak Demokratis

Dalam beberapa hari menjelang pengumuman pemenang presiden rakyat Indonesia dihadapkan pada sebuah fakta kenyataan bahwa ada teknik-teknik statistik yang sangat canggih dalam ilmu statistik. Banyak lembaga-lembaga survey yang berani mengklaim kecanggihan metode yang dimilikinya. Bahkan ada seorang ahli dalam survey yang berani bertaruh potong leher. Haddduh ini kok yo kebangetan juga.

😦 “Pakde, bukannya cara ini lebih murah, menghemat dan lebih cepat ?”

🙂 “Thole, dalam sebuah rangkaian kereta api, kecepatan kereta api itu ditentukan oleh kecepatan gerbong yang paling lambat. Kalau enggak gerbongnya akan terpisah. Demikian juga dengan negara, kita harus menggunakan cara paling sederhana untuk menghargai semua warganya”.

SAMPLING

Sampling atau pengambilan perconto diperlukan dalam sebuah survey. Dalam ilmu statistik dikenal beberapa teknik sampling. Teknik ini diperlukan karena kebutuhan khusus, misalnya mencari sesuatu yang sangat jarang (langka), terkendala waktu, terkendala biaya, serta kebutuhan mendesak lainnya.

Dibawah ini ada beberapa teknik sampling yang dikenal. Barangkali saja ada teknik-teknik lain yang belum ter’cover‘, tetapi cukuplah untuk kali ini.

Random Sampling

Sampling1

Sampling Acak (Random) apabila populasi datanya merata

Random sampling ini dapat dilakukan apabila distribusi dan populasi datanya MERATA atau HOMOGEN. dengan melihat beberapa sampel saja sudah mencukupi dan dianggap mewakili seluruh populasi data.

Misalny aingin melihat kualitas kandungan air dalam beras yang diambil dari satu jenis varietas saja. Tentunya hanya akan mengambil beberapa beras saja yang dipilih untuk dilaukan sebagai sample (perconto) untuk dianalisa.

😦 “Lah Pakdhe kalau semua beras dihitung kandungan airnya satu-satu untuk satu karung ya kapan selesainya ?”
😦 “Yo sekalian nunggu bedug Adzan Magrib Thole. Hahahaha !”

Stratified Random Sampling

Apabila datanya diyakini memiliki beberapa kelompok (grup). Maka data ini dapat dikelompokkan sebelum dilakukan samplin secara acak setelahnya. Cara ini dapat dilakukan misal dalam satu pabrik menginginkan data untuk operatornya yang rata-rata lulusan SD SMP SMA. Semua karyawan sudah bercampur, bahkan ada beberapa lulusan SD sudah menjadi supervisor karena jenjang karier dan prestasinya yang bagus. Maka dengan membagi ketiga jenjang pendidikan ini diharapkan hasilnya akan mewakili setiap kelompok.

Systematic Sampling

Pengambilan sampel dilakukan secara sistematis ini sering dilakukan untuk menguji produk-prroduk pabrik yang operasionalnya secara kontinyu. Misal pabrik sabun yang menginginkan sampel sabunya untuk uji kualitas setiap tiga jam. Kenapa tiga jam, barangkali saja ada shift kerja setiap 8 jam, sehingga setiap shift kerja akan terwakili dua data.

Sampling2

Cluster dan Multi Stage sampling

Cluster Sampling

Seringkali data dan informasi yang akan dianalisa sudah diketahui sebelumnya, khususnya untuk daerah tertentu, tempat tertentu ataupun karakteristik tertentu. Misalnya sampel untuk mencari tambang emas. Tentunya tidak mungkin mengambil semua data jenis batuan dianalisa. Harus dicari jenis-jenis batuan tertentu yang akan diambil sebagai sampel untuk dianalisa di laboratorium. Hanya sampel-sampel yang sudah dicuigai sebagai data yang bagus yang akan diambil sebagai sampel untuk dianalisa.

Tentusaja disini sangat penting peranan seorang pengambil sampel, misal untuk “mencari” batuan yang diperkirakan mengandung “emas”. Jadi tidak sembarang batu dianalisa untuk kandungan emasnya. Karena selain analisanya mahal juga konsentrasi emas itu sangat sedikit.

😦 “Pakde lah terus yang mengambil atau menentukan sampel batuan mana yang akan dianalisa itu siapa ? Pasti bayarannya mahal donk Pakde ?”
🙂 “Ya begitulah menjadi seorang ahli geologi pertambangan ?” 😀 😀

Multi Stage Sampling

Untuk kebutuhan yang cepat dan terukur, seringkali diperlukan cara-cara sampling yang sangat khusus. Termasuk didalamnya Sampling berjenjang. Setelah populasi datanya dikelompokkan, kemudian setiap kelompok diambil sampelnya secara random, ataupun bahkan dengan kelompok-kelompok atau sub grup selanjutnya.

Cara sampling ini tentunya cukup rumit. Dan cara ini sering dilakukan dalam Quick Count atau hitung cepat. Disini diperlukan tidak hanya kemampuan memindai sampel mana yang mewakili tetapi juga perlu keahlian dan kelihaian menentukan sampel yang mewakili.

😦 “berarti mirip ahli geologi memilih contoh batuan Pakdhe ?

Yang perlu diperhatikan disini adalah ketika melakukan SELEKSI SAMPEL ! Karena bisa saja pengambil sampel menjadi penyebab perbedaan dalam penghitungan quick count. Tangan-tangan sampler ini tidak sekdar dilakukan oleh mesin yang dianggap netral tetapi dilakukan oleh “tangan manusia” (otak Si Surveyor), untuk memilih sampel mana yang diambil.

Setiap data dalam perhitungan ini dikelompokkan sesuai dengan grupnya masing-masing. Misal perkotaan-pedesaan, kemudian daerah kumuh dibandingkan perkampungan yang tertata. Sehingga seolah-olah setiap kelompok memiliki “harga” yang berbeda dalam perlakuan.

Sensus

Samplin3

Cara SENSUS. Semua data diambil sebagai informasi untuk diperhitungkan. Semua data memiliki dan diperlakukan kesamaan kepentingan dan perilakunya.

Berbeda dengan cara-cara diatas. SENSUS mengambil seluruh populasi dalam perhitungannya atau pengukurannya. Tidak ada satu datapun dari populasi yang dilewatkan. Semua data dianggap sama, semua data dianggap perlu untuk dihitung.

Dalam metode ini tidak ada statistik sampling. Dilakukan pada kondisi data yang  homogen atau bahkan heterogen (sangat beragam) sekalipun. Data dapat saja tersebar tak teratur ataupun teratur. Tidak ada perbedaan perlakuan pada data.

Disinilah letak demokratisnya setiap individu data. Disinilah letak bagaimana perlunya satu suara anda kemarin sewaktu memilih. Dalam pemilu di Indonesia yang sangat beragam dan tersebar dari pelosok kota yang kumuh hingga pedesaan terpencil akan diperlakuakn dengan sama. Suara seorang professor di kampus, dianggap sama dengan suara seorang tkang sapu dipinggir jalan.

Dengan demikian kalau kita mengadop demokrasi yang elagliter dimana semua suara itu sama perlakuannya maka keputusan sebuah pemilu memang sudah seharusnya dengan metode real count atau sensus.

Quick Count

Quick Count ini adalah salah satu cara untuk mengetahui hasil berdasarkan sampling yang “terpilih” tentusaja pemilihannya tidak sembangan dan memerlukan keahlian tersendiri. Perlu kenetralan dan tidak ada bias sedikitpun. Namun karena yang melakukannya masih manusia juga, seringkali tidak dapat terhindarkan.

Walaupun diakui bahwa metode ini sangat cocok dan sering dilakukan dalam sebuah perhitungan cepat, tidak hanya pemilu, namun melihat adanya kemungkinan salah inilah maka metode QC tidak dapat dipakai sebagai dasar keputusan pemenangan pemilu.

Jadi apakah menurut anda quick count itu demokratis ?

 

 

 

 

NgomPol-in Capres : Strategi Pemilu

Pemilu-2014Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Nah kalau untuk pemilu saat ini ada dua tujuan yang dicapai, menang dalam pemilihan legislative dan juga menang dalam pemilu presiden. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan dan sudah semestinya dibuat satu strategi sesuai dengan karakteristik dan kemampuan serta kelemahan yang dimiliki.

😦 “Hallah Pakdhe kok ikutan NGOMongin POLitik to ?”
😀 “Alhamdulillah tidak ada bencana besar jadi kita belajar politik, mumpung masih musimnya, Thole”

Baca lebih lanjut

Tor-tor : Jangan terlalu risau, itu politik dalam negeri Malesa.

Saat ini banyak yang risau dan ribut dengan adanya rencana “klaim” dari Kerajaan Malesa pada tarian Tor-Tor dari mandailing. Seperti biasa muncul Pro-Kontra. Namun kalau dilihat dari kacamata lebih lebar yang mendunia mungkin rakyat Indonesia akan mengerti mengapa Malesa begitu ngotot mengadopsi budaya Indonesia.

😦 “Wah Pakdhe. Kisah klaim ini sudah ke sekian kali looh !”

😀 “Ngga usah ribut Thole. Ini maslaah rumahtangga Malesa yang rasial. Mereka mencari akar nenek moyangnya untuk dijadikan ikon negerinya. Kesian kaan ?”

Ceritanya tidak jauh dari dua tulisan sebelunya disini

Baca lebih lanjut

Persoalan subsidi bukan hanya soal untung rugi.

Subsidi energi awalnya persoalan ekonomi. Tapi ktika persoalan negeri tentang ekonomi ini dibahas oleh pimpinan lembaga negara selalu menjadi masalah politis dengan mekanisme jual beli, akhirnya hanya ada dagang sapi, “kamu dapet apa aku dapet apa” …. Dan rakyat akan dipihak kalah, karena terjebak dalam labirin ciptaan politikus.

Sudah banyak persoalan kriminal, persoalan bisnis, dan persoalan hukum yg ujungnya diselesaikan secara politis oleh politikus. Rakyat jelata hingga elitis kampus dan tehnokratpun ikut dalam permainan labirin politikus lembaga negara. Saling beradu konsep, beradu data, beradu pendapat. Kerugian subsidi bukan sekedar banyaknya biaya yg dikeluarkan tetapi lebih banyak hilangnya potensi karya serta waktu berargumentasi yg merongrong masa bekerja yg produktip

Termasuk kita, saya dan anda yg merugi

Politikus mengalahkan teknokrat dan pemikir bangsa ini.

Jelas subsidi itu masalah ekonomi, memang menjadi ruwet ketika harus diputuskan secara politik. Ya akhirnya semua yang berkepentingan masuk dalam jebakan labirin bikinan politikus. Keharusan diputuskan secara politis itu karena ulah politikus yg telah merubah cara berpikir dan cara menjalankan negeri kita. Tatacara dan protokoler pengambilan keputusan ini  ada dalam kesepakatan politikus yg saat ini sedang menjadi pejabat negara, baik pemerintahan, DPR, serta lebaga-lembaga politis negara lainnya.

Didalam labirin politikus ini, para tehnokrat, serta ahli pemikir bangsa ini awalnya berbeda pendapat saja, namun ketika masuk didalam laga labirin menjadi berseberangan, bertentangan dan akhirnya saling menyerang. Sedangkan sang politikus ngekek-ngekek diatas balkoni. Saat ini birokrat, teknokrat, pemikir serta ahli-ahli tehnis negeri ini dipaksa oleh politikus untuk bermain berlaga  didalam labirinnya, ya mesti wae yang ikut membuat labirin yang memenangkannya.

Jadi tehnokrat serta ahli pemikir dan pakar ilmiah Indonesia saat ini kalah dalam percaturan politik yg menentukan masa depan bangsa ini. Prihatin !