“Lereng Kritis”, Mengapa Longsor ?

Alam memiliki mekanisme unik. Hampir semua lereng bukit pada saat ini sejatinya pada kondisi kritisnya. Longsor merupakan saat ketika kondisi kritisnya terlampaui oleh sebuah gangguan. Gangguan ini dapat berupa pembebanan baru, atau karena perubahan (pemotongan lereng).

socSalah satu gangguan beban adalah penambahan air oleh hujan dimana saat ini menjadi pemicu uatama beberapa longsor.

Salah satu cara yang mudah untuk mengerti teori longsor adalah dengan membuat sandpile atau tumpukan pasir. Yaitu melihat realitasnya dengan tumpukan pasir atau boleh juga tumpukan beras seperti diatas itu. Nah yang sebelah ini adalah caranya untuk melihat dengan sebuah model.

Buatlah tumpukan beras, kemudian lihatlah seberapa besar lereng maksimumnya. Bila kamu tambah maka butirannya akan jatuh kebawah. Itu artinya sudutnya sudah maksimum.

😦 “Pakde, kalau pakai butiran kacang hujau sudutnya beda ya ?”

Kita coba beberapa modelnya. Baca lebih lanjut

MENGENALI GEJALA AWAL LONGSOR.

[Keprihatinan banjir dan longsor yg terjadi di beberapa tempat].

lonsorBencana longsor disetiap musim hujan akhir tahun maupun tengah tahun karena pergeseran musim selalu saja mengagetkan dan selalu menunjuk hidung kita sendiri. Ya benar, kita pernah tahu dan kita juga sudah belajar dan kita juga sudah mengantisipasi. Tapi mengapa masih juga menelan korban ?

Mungkin saja masih ada yg terlupa pada program mitigasi kebencanaan kita selama ini. Mungkin kita perlu melihat dari kacamata berbeda

Hujan merupakan pemicu utama bencana longsor, oleh sebab itu maka ketika hujan deras terjadi, perhatikan daerah berlereng tajam, derah kurang vegetasi dan daerah yg banyak dijumpai rekahan/retak. Gejala-gejala dan pemicu longsor ini semestinya dapat lebih mudah dikenali. Namun tidak mungkin semua mengerti gejala dan pemicu ini, sehingga harus dengan koordinasi. Kalau toh koordinasi juga masih sulit salah satu yg paling memungkinkan adalah “berbagi”. Ya, saling berbagi informasi.

Anak-anak desa yang suka berpetualang menjadi “surveyor”.

20100928140337-tanah-terbelah-280910

Retakan terbuka dan relatif lurus di ujung bukit berlereng tajam, sebagai tanda awal longsor.

Mengenali rekahan bukanlah hal yg sulit, anak-anak yg suka berjalan berkelana kesana kemari dapat diajari untuk mengenali gejala ini.

Retakan sebagai gejala awal longsoran biasanya lurus panjang dan terbuka. Kalau anak-anak diajari ttg hal ini, mungkin akan menjadi “agen agen mitigasi” yg handal.

Dan bila mereka melihat gejala itu diminta membertahukan ke guru atau kakaknya bila melihat gejala ini saat ada di jalan pulang sekolah atau saat bermain.

Tips Menghadapi Longsor dan Ciri Daerah Rawan Longsor

longsor3

Amblesan di lereng yg awalnya beberapa centi akan berkembang menjadi beberapa meter. haris diwaspadai. Khususnya yang tinggal dibawahnya.

Ciri Daerah Rawan Longsor
1. Daerah berbukit dengan kelerengan lebih dari 20 derajat
2. Lapisan tanah tebal di atas lereng
3. Sistem tata air dan tata guna lahan yang kurang baik
4. Lereng terbuka atau gundul
5. Terdapat retakan tapal kuda pada bagian atas tebing
6. Banyaknya mata air/rembesan air pada tebing disertai longsoran-longsoran kecil
7. Adanya aliran sungai di dasar lereng
8. Pembebanan yang berlebihan pada lereng seperti adanya bangunan rumah atau saranan lainnya.
9. Pemotongan tebing untuk pembangunan rumah atau jalan

Upaya mengurangi tanah longsor
1. Menutup retakan pada atas tebing dengan material lempung.
2. Menanami lereng dengan tanaman serta memperbaiki tata air dan guna lahan.
3. Waspada terhadap mata air/rembesan air pada lereng.
4. Waspada padsa saat curah hujan yang tinggi pada waktu yang lama

Yang dilakukan pada saat dan setelah longsor

longsor4

Longsoran kecil-kecil perlu dipetakan untuk melihat besarnya potensi longsor.

1. Karena longsor terjadi pada saat yang mendadak, evakuasi penduduk segera setelah diketahui tanda-tanda tebing akan longsor.
2. Segera hubungi pihak terkait dan lakukan pemindahan korban dengan hati-hati.
3. Segera lakukan pemindahan penduduk ke tempat yang aman.

Alam hanya meminta waktu sementara untuk melakukan tugasnya

Endapan Awanpanas Purba di Cangkringan

Sebagai besar ahli geologi tentunya tahu bahwa tanah tapak yang kita pijak dan untuk hunian ini merupakan sebuah endapan. Proses pengendapannya terjadi jutaan tahun lalu, ribuan tahun lalu, puluhan tahun lalu … dan juga TAHUN LALU ! dengan bermacam-macam proses pengendapan. Kalau di gunungapi ada endapan lahar dingin, endapan piroklastik. Di dataran ada endapan banjir bandang (alluvial fan), ada endapan hasil limpahan sungai (splay), ada endapan gosong pasir (hasil erosi sungai). Di pantai kita mendapati endapan banjir muara dan endapan pasang-surut, tidal (Rob). Jadi kalau semua proses diatas adalah suatu proses merugikan dan membahayakan, hampir semua tempat kita berpijak merupakan hasil proses yg selama ini sering disebut BENCANA !

Baca lebih lanjut

Selokan Alamiah di Desa Sukodono, Jepara

181017_tanahterbelah_3

Tanah “terbelah” (detikdotcom)

Adanya ‘penampakan’ retakan di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah banyak mengagetkan (gambar disamping ini). Apalagi dengan bumbu patahan yang memisahkan Gunung Muria atau Pulau Muria dengan pulau Jawa.

😦 “Lah hiya Pakdhe. Kok mirip membelah tanah begitu ya ?”

Baca lebih lanjut

Banjir dan Longsor Masih Terus Mengancam

IAGI - LogoIkatan Ahli Geologi Indonesia

PRESS RELEASE IAGI 21 Februari 2013

Banjir dan Longsor Masih Terus Mengancam

JAKARTA – Perubahan iklim global terus mempengaruhi cuaca dan hujan di awal tahun 2013. Ancaman banjir dan longsor masih terus harus diwaspadai.

Ancaman bahwa masih akan terus berlangsungnya banjir dan tanah longsor semakin terlihat nyata” kata Rovicky Dwi Putrohari, Ketua IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia di Jakarta, Kamis (21/2/2013). Baca lebih lanjut

Info curah hujan hari ini Jakarta dan sekitarnya

princ_radar_1[1]

RADAR Memancarkan dan menerima gelombang pantul.

Selain akibat ulah manusia yang kurang cakap dalam menata tata ruang lingkungan hidupnya, salah satu pemicu utama banjir tentusaja hujan. Mengetahui kondisi terkini dari hujan di diatu tempat sangatlah bermanfaat.

Untuk memantau curah hujan dapar dilihat pada citra radar yang dikeluarkan oleh BMKG dibawah ini.

Baca lebih lanjut

Mengenali endapan sebagai bagian dari catatan bencana dimasa lalu.

Banyak kejadian di bumi ini berulang. Satu pelajaran yang terbaik bagi manusia adalah pengalaman. Pengalaman akan memberikan pelajaran yang sudah semestinya menjadi bahan pengingat supaya sebuah kesuksesan untuk diulang kembali. Namun juga pengalaman buruk atau sebuah kesalahan atau kerugian tidak terulang kembali,

Namun ada kalanya sebuah kejadian itu perulangannya tidak terjadi dalam satu periode kehidupan. Kalau satu individu manusia hidup rata-rata terlama kira-kira hingga berumur 70-80 tahun, maka sebuah kejadian yang berulang setiap 100 tahun atau lebih seringkali tidak dapat diingat. Baca lebih lanjut