Laut Yang Berubah Merah ! Bukan Kutukan tetapi BERBAHAYA !

Air tiba-tiba berwarna merah darah !

Air tiba-tiba berwarna merah darah !

“Tahukah kamu bahwa alga ini menjadi sumber minyak bumi ?” Berita laut memerah sering kita lihat didaerah pantai, termasuk yang terjadi di Pulau Ai, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, di mana air laut tiba-tiba berubah warna jadi merah seperti darah. Warga setempat dibuat heboh dengan fenomena air laut berwarna merah darah ini, yang tiba-tiba muncul pada hari Minggu (21/6/2015).

:-( ‘Lah iya siapa ngga kaget melihat air berwarna merad darah begini Pakde ?” :-D “Ini gejala yang banyak teramati di beberapa tempat. Bukan kutukan, tetapi bisa berbahaya !”

Organisme bersel tunggal yang sedang mekar !!

Baca lebih lanjut

Melihat Kabah dan sekitarnya secara 360 derajat.

Bisa diputar2. Gunakan Smartphone, putar handphonenya ! 
Ntah siapapun yang membuatnya semoga mendapatkan pahala. Silahkan buka satu per satu link nya.
Motretnya pakai program 360 degree. Bisa diputar kalau pakai smartphone ataupun komputer biasa.
1. http://t.co/2nR7badBOR
2. http://t.co/O9YCtLVLOI
3. http://t.co/v9xlileXg3
4. http://t.co/oXrRxuqJXP
5. http://goo.gl/j2BSF0
Kabah2Smartphonenya di gerakin ke atas, bawah, kanan, kiri, bisa di zoom juga. Kalian akan merasakan seolah-olah sedang berada disana.
Pingin mau masuk Hijir Ismail? Tekan no. 3.
Pingin persis berada didepan Ka’bah silahkan tekan No.1.
Atau bahkan ingin berada di atas Ka’bah, tekan No. 5.
Silahkan dishare !

Kabah1

Memahami “Penguasaan” Migas dari Sejarah (oleh : Prof Koesoemadinata)

Prof. Dr RP Koesoemadinata

Prof. Dr RP Koesoemadinata

Lepas dari persoalan interpretasi dan pemahaman istilah “dikuasi” dalam pasal 33 UUD 1945. Pengelolaan migas di Indonesia ini telah berkembang lebih dari seabad yang lalu. Siapa saja yang mengelola (mencari, menemukan dan memproduksi) dan bagaimana perubahannya di dongengkan Prof (emeritus) Koesoemadinata dibawah ini.

Diskusi awal di IAGI-net terpicu oleh pernyataan dari salah satu praktisi migas membuat Pak Koesoema untuk kembali mengorek sejarah.

:-( “Wah mBah Koesoema mendongeng ya Pakdhe?”

Awal penguasaan migas.

Baca lebih lanjut

Mekanisme Unik dari Ranau Fault yang Menggetarkan Kinabalu

GempaKalimantanGempa 5 Juni 2015 yang menggoyang Gunung Kinabalu, Sabah, gunung tertinggi di Kalimantan, memiliki keunikan tersendiri. Daerah ini memang sudah menjadi pengamatan tersendiri yang dilakukan oleh Department of Survey and Mapping Malaysia (JUPEM) dan Department of Minerals and Geoscience (JMG). Pada tahun 2010 dilakukan pengukuran gerakan dengan GPS, setelah tahun 2007 ada gempa terrekam di daerah ini.

PetaGeologiKinabaluMelihat peta geologi disebelah ini terlihat bahwa Gunung Kinabalu memiliki arah distribusi batuan berarah Timur Laut – Barat Daya. Penyebaran batuan ini dikontrol oleh struktur geologinya yang salah satunya adalah kontrol patahan.

Patahan-patahan inilah yang menjadi obyek penelitian dan pengamatan yg dilakukan oleh Geodetic Survey Malaysia untuk melihat seberapa aktif patahan ini. Dan yang menjadi obyek termasuk Ranau Fault. Baca lebih lanjut

Kalimantanpun TIDAK Bebas Gempa

M6.0 (14 Km)

Sebenarnya tidak salah bila menyebutkan Kalimantan itu “relatif” aman dari gempa. Namun jelas tidak ada lokasi di dunia ini yang benar-benar bebas dari gempa. Hampir semua batuan dasar di bumi ini pernah mengalami tekanan (stress) dan masih menyimpan tenaga (strain).  Mungkin tidak ada lokasi di dunia yang bisa dibilang benar-benar bebas gempa, karena walau bagaimanapun pasti ada akumulasi strain juga meskipun sangat perlahan-lahan.

:-( “Wah Pakdhe. Kalau begitu yang di Kalimantan harus waspada juga ya ?”

:-D “Ya, bagaimanapun yang di Jawa dan Sumatera tetap harus lebih waspada dari mereka yang di Kalimantan, Thole !”

Baca lebih lanjut

Memprediksi Gempa Dengan Perilaku Hewan, Bisa kah ?

Sumber Internet

Suara gempa apa maling ya ? jangan-jangan ada koruptor mendekat, ya ?

Bulan Mei 2015 lalu, di Jogja diributkan dengan adanya perilaku cacing yang keluar dari dalam tanah. Cerita ini bukan hal yang baru. Bahkan cerita paling kuno tentang perilaku hewan yang tidak biasa sebelum gempa yang signifikan adalah kisah dari Yunani pada 373 SM. Saat itu dilaporkan adanya tikus, musang, ular, dan lipan yang berbondong-bondong meninggalkan rumah, liang serta sarang mereka dan menuju kesuatu tempat beberapa hari sebelum terjadinya gempa yang merusak.

Peramalan gempa secara mudah ada tiga macam :

  • NON ILMIAH – Misalnya ramalan dukun atau psychic. Metode mboh aku ngga tahu tetapi yang jelas ada yang mencoba meramal dan memberitahukan ke orang lain. Keakurasian dan lainnya silahkan disimak sendiri :-P
  • SEMI ILMIAH – Ini seringkali berhubungan dengan perilaku alam yang aneh. Misal binatang yang dikatakan punya indera khusus. Namun lucunya kenapa tidak terjadi pada gempa susulan. Bukankah gempa susulan juga memiliki mekanisme yang sama ? hanya ukuran kekuatannya lebih kecil.
  • ILMIAH – Ciri khas dari metode ilmiah ini adalah dapat dipelajari oleh siapa saja. Apabila memerlukan alat, maka alat tersebut semestinya dapat di’indera’ oleh siapa saja, misal pengukuran dengan meteran atau alat ukur. Berdasarkan pengukuran serta metode fisis (parameter fisika).

Bukti serta kisah dan dongengan untuk penelitian semi ilmiah, termasuk perilaku hewan ini, cukup banyak dijumpai. Penelitian ini banyak juga dilakukan, para perilaku aneh termasuk pada ikan, burung, reptil, dan serangga menunjukkan perilaku aneh di mana saja dari sekian minggu ada juga sekian detik sebelum gempa bumi. Namun, perilakunya sering tidak konsisten dan belum dapat diandalkan sebelum dapat dipakai sebagai penanda akan datangnya gempa. Juga belum ada mekanisme atau teori yang pas yang dapat menjelaskan bagaimana perilaku itu bisa diapaki sebagai ‘pertanda’ khusus. Kebanyakan, tetapi tidak semua, para ilmuwan yang mencoba meneliti misteri ini berada di China atau Jepang.

redwoodantmounds[1]

Gambar sarang 15 000 semut merah yang diamati Gabriele Berberich di Jerman

Seorang peniliti Jerman, Gabriele Berberich, mengamati perilaku 15.000 semut merah di daerah dekat patahan aktif. Dan menemukan adanya perubahan perilaku hewan yang mengalami gempa berkekuatan 2-3.2 sebanyak 10 kali selama pengamatan 2009-2012.

:-( , “Whaduh Pakdhe, kalau gempa skala diatas 3 saja sudah harus pindah rumah semut, di Indonesia saja bisa 400 kali dalam sebulan !. Apa ngga kesian semutnya tuh. Uyang-uyung tiap hari ?” :-P

Hewan mungkin merasakan Gelombang Primer (P wave)

Sebenarnya kita bisa dengan mudah menjelaskan penyebab perilaku yang tidak biasa yang ditunjukkan oleh hewan sekian detik sebelum manusia merasakan gempa. Manusia seringkali tidak mampu merasakan datangnya gelombang Primer yang lebih lemah yang bergerak paling cepat dari sumber gempa dan tiba sebelum gelombang S lebih besar. Tapi banyak hewan dengan indra yang lebih tajam dapat merasakan datangnya gelombang P sebelum gelombang S tiba.

Dibawah ini adalah rekaman gelombang gempa sumatra yang direkam di Weston Amerika Serikat, yang jaraknya 16.000 Km (separuh lingkaran bumi).

Weston_Sumatra_Quakes

Rekaman Gempa Sumatera di Weston, Miami, Amerika Serikat. Jeda S dan P kira-kira 1 detika setiap jarak 4 Km.

Rekaman ini memperlihatkan bagaimana getaran gempa Sumatra yang direkam ribuan kilometer lokasinya dari pusat gempa.  Terlihat bahwa getaran gelombang gempa terdiri atas beberapa gelombang yang saling menyusul. Gelombang yang saling menyusul ini memiliki kecepatan berbeda-beda, sehingga dalam jarak yang jauh akan memiliki jeda yang lebih lama. Gelombang P dirasakan 4000 detik sebelum gelombang S yang merusak.

Walaupun ada jeda waktu yang cukup besar tetapi karena dalam jarak ribuan kilometer dari pusat gempa ini tidak ada goyangan yang dirasakan manusia. Hanya alat yang mampu mendeteksinya. Dengan demikian, fenomena ini jelas tidak banyak berguna untuk tujuan menyelamatkan diri.

Berbeda dengan ketika hewan “merasakan” akan datangnya gempa beberapa hari atau beberapa minggu sebelum terjadi, itu adalah cerita yang berbeda dengan fenomena gelompang primer dan sekunder diatas.

Hewan kehilangan orientasi.

strange_spc_gravity_waves_02[1]Di sekitar San Andreas yang difilemkan ini, pernah ada sebuah teori pernah populer diakui bahwa ada korelasi antara jumlah iklan hilangnya binatang peliharaan di harian “San Jose Mercury News” dan tanggal gempa bumi di wilayah San Francisco Bay. Namun kemudian perkumpulan ahli geologi di Californaia (1988) membuat sebuah analisis statistik dilengkapi dengan teori ini-itu, namun menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara hilangnya hewan dengan gejala kegempaan itu.

Memang secara logika ‘common sense‘ hewan memiliki indera tertentu dalam menangkap gelombang. Tetapi ketidak konsistenan perilaku dari hasil pengamatan menunjukkan hal ini perlu dilihat secara khusus. Dan tidak bisa sertamerta dipakai sebagai ‘early warning system‘.

Apakah harus diteruskan penelitian hewan ini ?

Makalah tentang perilaku hewan ini menimbulkan beberapa pertanyaan unik : Apakah masuk akal untuk pola perilaku menghidari gempa (seismic-escape) binatang ini dikembangkan ? dan dapatkan dilihat secara biologis/genetis seperti apa hewan mempertahankan diri dalam menghadapi ancaman seleksi alam ini ? Khususnya bila dihadapkan pada pemanfaatan sebagai ‘early warning‘ gempa merusak.

Semua hewan secara naluriah akan melarikan diri dari ancaman predator (termasuk kejadian alam) khususnya untuk mempertahankan hidup mereka. Berbagai jenis vertebrata diakui sudah menunjukkan memiliki “peringatan dini” dari gerak-gerik perilakunya, sehingga diperkirakan bahwa ada perkembangan evolutif dari respon “seismik-escape”.

Meneliti Binatangnya atau Gejala Fisikanya ?

CacingKerenFakta penemuan adanya reaksi naluriah, sekian detik, diatas saat bereaksi akibat datangnya gelombang P sebelum gelombang S bukanlah penemuan besar yang diinginkan. Namun bagaimana caranya mendapatkan prekursor lain yang mungkin terjadi sekian hari atau sekian minggu sebelum gempa bumi datang?

Sebenarnya ada prekursor untuk gempa yang signifikan yang perlu diteliti, seperti miringnya tanah, perubahan tinggi muka air tanah, gejala listrik tanah atau variasi medan magnet. Walaupun memang ada kemungkinan bahwa beberapa hewan bisa merasakan sinyal-sinyal ini dan menghubungkan persepsi dengan yang akan datang gempa, tetapi bagaimana manusia merasakannya dengan alat ukur ?.

Banyak penelitian masih perlu dilakukan tentang hal ini.

:-( “Menurut Pakde gimana. Apakah meneliti perilaku hewan merasakan tanda datangnya gempa ini tidak berguna ?”

:-D “Bukan begitu Thole. Manusia melihat gejala yang dirasakan oleh binatang ini perlu diteliti apakah karena memang gejala perubahan elektro magnetik. Apakah gejala perubahan gaya gravitasi. Nah manusia meneliti gejala elektromagnetisnya, atau gejala perubahan gravitasinya. Bukan sekedar mengamati binatangnya !”

Referensi :

Dongengan terkait

“Seimic Gap”, Lokasi rawan gempa – tsunami.

SEISMIC GAP adalah jalur “sepi” gempa dimana saat ini daerah yang dimaksud tersebut justru tidak terdapat gempa selama ini. Bandingkan disebelah-menyebelahnya, dimana di tempat itu tenaga gempa sudah dilepaskan pada saat terjadinya gempa beberapa tahun atau puluh tahun lalu.

Jalur yang menjadi pusat gempa salah satunya jalur subduksi atau jalur tubrukan seperti dibawah ini.

Zona GempaSelama 10 tahun sejak 2005-2015 daerah ini menjadi pusat gempa seperti yang terlihat sebelumnya disini. Dimana terlihat bahwa gempa-gempa besar diatas skala 6 terjadi di banyak tempat sepanjang jalur selatan Sumatera-Jawa, juga di palung Jepang.

image Sepertinya memang selalu ada gempa di sepanjang jalur ini. Namun seorang ahli kegempaan akan mengetahui bahwa tidak disepanjang jalur ini telah terjadi gempa. Pada periode dan masa-masa tertentu ada daerah yang sepi gempa. Daerah yang sepi gempa inilah yang disebut SEISMIC GAP !

Seismic Gap PadangTentunya kita hanya dapat menghimbau kepada pemerintah dan masyarakat untuk bisa memahami dan mengantisipasi potensi bencana gempabumi di masa datang. Dengan cara harus meneliti dan memetakan dengan sebaik-baiknya patahan-patahan aktif yang berada di darat dan di bawah laut.   Hal ini mutlak diperlukan untuk membuat peta bahaya dan risiko gempabumi.  Tanpa indentifikasi bahaya dan risiko bencana yang baik maka akan sulit untuk melakukan mitigasi bencana yang efektif, termasuk  untuk rencana tata ruang, membuat peraturan bangunan tahan gempa dan melakukan pendidikan masyarakat tentang bahaya gempa di wilayah yang bersangkutan.

:( “Pakdhe, jadi bener donk ramalan bakalan akan ada gempa bumi di Jawa Barat ?”

:D “Owalah Thole, lah kalau cuman bilang gitu, aku ya bisa saja bilang, besok akan ada gempa kekuatan diatas 8 di sekitar Indonesia. Posisi dan kapan terjadinya masih belum diketahui dengan pasti!”

:( “Lah semua kejadian gempa kan begitu Pakdhe ? Ndak bisa diketahui kapan terjadinya”

:D “Gempa memang bisa diramalkan lokasinya dan besarnya kekuatannya secara kasar, tetapi waktunya ndak bakalan diketahui dengan pasti. Jadi ndak usah panik tetapi tetap WASPADA“

Bila kita tahu daerah rawan gempa (seismic gap) nya adanya di laut, tentunya harus waspada pada tsunaminya juga. Sedangkan bila di darat tentunya goyangannya harus diwaspadai. Khususnya untuk didarat, zona patahan aktif juga menjadi daerah yang perlu diperhitungkan. Patahan aktif yang ‘baru saja’ bergerak adalah patahan Opak di selatan kota Jogja yang pada tahun 2006 menggoyang dan menelan korban lebih dari 5000 orang.

Jadi kalau begitu zona rawannya juga didarat di dekitar patahan aktif seperti yang digambar dibawah ini.

Gempa-3-DongengGeologiCom
Gambar diatas memperlihatkan seismic gap diselatan Jawa Barat. Tentunya masih ingat gempa tsunami Pangandaran, kan ? Itu adalah pelepasan gempa yang sebelunya juga berupa seismic gap.
:-( “Wah Pakdhe nakut-nakutin nih !”
:-D “Selalu saya beri tahu, bahwa korban kecelakaan lalu-lintas itu lebih banyak ketimbang gempa. Jadi hato-hatilah dijalan raya, Thole !”
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.409 pengikut lainnya.