BIG DATA ladang eksplorasi baru di dunia migas

Apa itu BIG DATA ?

Bayangkan anda memiliki data 3D seismic untuk satu cekungan. Tentunya tidak berupa satu volume 3D data yang sama. Wajar saja kalau data-data volume ini tidak diakuisisi dalam satu survey yang sama. Juga data ini diambil dalam berbagai tujuan, berbagai parameter dan berbagai tingkat kedetilan. Lantas, apakah dapat dianalisa secara komprehensif bersama-sama dan simultan dengan data sumur serta data hasil analisa log, core serta data paleontology ? Untuk mencari migas !.

BIGDATA potential

BIG DATA dalam dunia migas ! Banyak yang harus di”eksplorasi” !

Impian diatas bukanlah sebuah impian saja. Tapi menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan tehnologi informasi dalam mensupport kegiatan eksplorasi dan produksi migas.

:-( “Waduh Pakdhe, data sebanyak itu kalau dimasukkan dalam diskette jaman dulu akan ada berapa truk untuk mengangkutnya ?”

:-) “Bukan hanya Volumenya saja Thole, walau sudah menjadi petabyte, bukan hanya terrabyte, tetapi jenis data ini juga berVariasi. Selain itu juga Velocity penambahan data serta kecepatan prosesing data ini yang menjadi tantangan”

Tantangan Volume, Variety, and Velocity

BIG DATA secara umum dapat diartiken sebagai sekumpulan informasi yang sangat besar, kompleks, dan bergerak cepat sehingga sulit untuk ditangani menggunakan perangkat yang biasa”. Dalam BIG DATA ini ada tiga hal tantangan utama yaitu Volume, Variasi dan Velocity. Ketiga hal ini dalam dunia migas tentusaja akan selalu dilihat sebagai sebuah Value ! karena bisnis ini selalu membiacaran biaya, efisiensi serta profit.

Volume. Jumlah data yang sudah dikumpulkan dalam kegiatan eksplorasi dalam satu cekungan tentunya sudah bukan hanya terrabyte tetapi PETABYTE size !. Bayangkan seberapa besar RAM memory untuk menganalisanya secara simultan !

:-( “Petabyte itu Seribu Terabyte atau Sejuta Gigabyte, ya kan Pakde ?”

Variety. Data yang ada tentunya ada yang terstruktur, semi terstruktur maupun yang tidak terstuktur. Structured-Unstructured. Konon ada sekitar 80% data ini tidak terstruktur. Ada yang berupa data time-series, ada yang berupa depth series, ada yang berupa geographic (GIS), dan ada yang berupa data drawing (DWG) bahkan mungkin data multimedia !.

Velocity. Data-data ini juga tidak statis tetapi bertambah dengan kecepatan tertentu, misal data produksi harian. Data pengamatan tekanan sumur, data pengeboran (drilling) yang sedang berjalan. Nah bagaimana menganalisas semua data ini dalam waktu yang singkat. Tentunya memerlukan speed (Velocity) dari processor maupun operating system tersendiri.

Untuk meng”handle” itu semua, apakah perlu software khusus, apakah tidak juga hardware yang khusus ?. Atau bahkan memerlukan ilmu pemrograman yang khusus ? Ini menjadi tantangan tersendiri. Dengan minyak menjadi komoditas yang paling laku saat ini, tentunya tantangan-tantangan untuk membuat keputusan yang tepat, cermat serta cepat menjadi menarik. Apalagi fluktuasi harga minyak sering berubah sangat cepat.

BIG DATA Oil and gas

Microsoft pun sudah “melirik” potensi bisnis dalam BIG DATA in Oil and Gas.Ditempat lain sebenarnya IBM juga Schlumberger sudah mengintip dan menjadikan potensi risetnya yang mungkin akan dipasarkan bila sudah siap.

:-( “Iya ya Pakdhe. Ngga mungkin manajemen menunggu selama setahun untuk menganalisa data ini. Keburu harga minyak sudah anjlok ya ?”

Dengan ketiga hal utama diatas tentunya semua memiliki nilai atau VALUE yang akan dihitung nilai keekonomiannya dengan kriteria biaya atau harga, efisiensi serta profit yang akan dieroleh.

Ini baru sebagian saja seluk dan beluknya BIG DATA. Namun paling tidak, semstinya, kita sudah harus mengikuti perkembangan BIG DATA ini. Bidang ini mungkin akan menjadi cabang ilmu tersendiri dan masih menanti untuk dieksplorasi dalam dunia migas maupun lainnya. Anda mungkin saat ini mengerti tentang GIS (Geographic Information System) yang saat ini sudah menjadi cabang ilmu baru untuk menganalisa data yang memiliki attribut lokasi atau geographic location. Nah perkembangan BIG DATA ini bisa saja nantinya mirip dengan perkembangan GIS ini. Bahkan GIS inipun merupakan bagian dari BIG DATA !

:-( “Pakdhe dunia selain migas BIG DATA ini apa ?”

Tentusaja BIG data ini tidak hanya ada di dunia migas. Hampir semua bisnis saat ini merasakan telah memiliki DATA yang buanyakk yang nantinya perlu dipakai dalam membuat keputusan.

Tunggu dongengan selanjutnya mengenai BIG DATA ini.

:-( “Hallah Pakdhe teriak-teriak soal data migas di Indonesia saja ga ada yang melakukan tindakan khusus kok ini malah sudah mikirin BIG DATA !

Defisit Air Tawar (Hari Air Sedunia 22 Maret)

WaterDayMenyambut hari air sedunia 22 Maret kita diingatkan perlunya air untuk pembangunan berkelanjutan.

Beberapa fakta tentang air di Indonesia perlu kita ketahui.

Pulau Jawa dengan jumlah penduduk sebesar lebih dari 128 juta jiwa atau 59,0% dari jumlah penduduk nasional, tingkat pertumbuhan penduduk per tahun 1,53%, dan kepadatan penduduk 1.413 jiwa/km2 (BPS, 2005) dengan segala aktivitasnya jelas berpengaruh terhadap neraca air dan kondisi lingkungan yang ada. Bahkan saat ini daya dukung lingkungan berdasarkan metode jejak ekologi (ecological footprint) dengan kriteria konsumsi lahan dunia dan kriteria konsumsi lahan khas Indonesia menunjukkan bahwa seluruh kondisi daya dukung lingkungan sudah terlampaui (KKP, 2006).

NeracaAir

Pada tahun 2003, sekitar 77 persen kabupaten/kota di Pulau Jawa mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 78,4 persen pada tahun 2025. Jumlah bulan defisit maksimal mencapai 8 bulan dan meningkat menjadi 12 bulan pada tahun 2025, atau defisit sepanjang tahun. Khusus wilayah Jabotabek yang pasokan airnya relatif terjamin, pada tahun 2003 sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada tahun 2025. Diantara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut, bahkan sejak tahun 2003 terdapat 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. (quote Sutopo, “Analisis Neraca Air Pulau Jawa)

Menurut BMKG. Sumatera banyak yang kekurangan air tanah. Di Jawa air cukup banyak di musim penghujan namun beberapa tempat sudah mengalami defisit air khususnya bila nanti di musim kemarau.

kat[1]

Membangun Terowongan MRT Dibawah Kota Sesibuk Jakarta

MRT_jakarta[1]Membuat terowongan dengan mesin bor

Membuat terowongan dijaman moderen yang sudah supersibuk ini tentusaja tidak boleh menganggu jalannya aktifitas di permukaan. Juga tidak boleh mempengaruhi konstruksi yang sudah ada diatasnya. Salah satu teknologi yang saat ini sudah banyak diaplikasikan adalah dengan TBM – Tunelling Boring Machine, Mesin Pengebor Terowongan).

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yg akan membangun MRT Jakarta ini mengungkapkan Tunnel Bore Machine (TBM) atau mesin bor terowongan untuk pengerjaan stasiun bawah tanah MRT akan tiba pada April mendatang. Dengan begitu, proses penggalian terowongan untuk stasiun bawah tanah dapat dimulai pada bulan Agustus.

1425372782[1]

TBM (Tunnel Boring Machine)

Alat bor ini memiliki ukuran diameter 12 meter dengan panjang sekitar 100 meter. Sering juga disebut Mole (sejenis tikus pembuat lubang terowongan). Ada beberapa perusahaan yang melakukan pengeboran dengan MOLE ini. Salah satunya dapat dilihat cara kerjanya dibawah ini.

Alat bor raksasa ini akan melakukan kegiatannya dibawah tanah tanpa menganggu aktifitas dipermukaan. Alat ini cocok utk tanah lunak seperti Jakarta. Karena batuannya tidak perlu di ledakkan seperti kalau membuat terowongan pertambangan.

Dibagian depan dipakai untuk mengebor dan memasang dinding beton tahan air. Dibelakang alat bor ini ada bagian yang berfungsi sebagai alat angkut logistik. Terutama beton-beton yang nantinya akan menjadi dinding terowongan.

:-( “Mudah-mudahan tidak ada banjir besar selama tahap konstruksi ya Pakde”.

Tantangan selama tahap konstruksi

Untuk membangun terowongan di kota super padat dan super sibuk seperti jakarta ini tantangannya tentunya cukup banyak. Selain kondisi geologi diatas (subsidence dan patahan aktif), tantangan bawah permukaan yang harus diperhitungkan misalnya konstruksi yang sudah ada diatas jalur terowongan. Kerentanan konstruksi diatasnya juga harus diketahui dan diperhitungkan supaya tidak terpengaruh oleh akibat getaran mesin bor, perubahan perilaku penurunan tanah, dsb.

Semoga saja dengan alat super canggih ini tidak hanya satu terowongan yang akan dibuat di Jakarta. Bahkan mungkin kita juga mungkin membuat MPT (Multi Purpose Tunnel). Walaupun sulit dan mahal, pembuatan terowongan inipun perlu dibuat, kan ?

159448_475[1]

Penampang “Multi Purpose Tunnel” Dua pertiga diatas untuk jalan kendaraan, dibawah untuk jalan air.

:-( “Betul Pakde, mendingan dana APBD untuk membuat Deep Tunnel walaupun mahal. Daripada dipakai buat belanja UPS !”

“Infrastruktur” Pemicu Berkembangnya Shale Gas dan Shale Oil.

Cukup menarik melihat salah satu faktor utama penyebab anjloknya harga minyak. Satu hal lagi yang menjadi perhatian saya adalah dinamisnya kondisi ini. Khususnya melihat betapa tangguhnya Shale Oil ini.

Sekitar awal abad 21, banyak perusahaan minyak menyatakan bahwa tahun-tahun awal abad ini akan menjadikan kelangkaan minyak bumi, dan kelangkaan energi. Minyak bumi akan semakin sulit diperoleh. Ngebor semakin dalam akan memperoleh gas ketimbang minyak, karena batuan mendekati batuan induknya yang kebanyakan sudah mencapai kematangan menghasilkan gas. Sehingga persiapan memanfaatkan gas harus dimulai. Termasuk infrastrukturnya, pipa, bahkan industri genset gas berkembang.

HargaMinyakShaleGas

Harga minyak tahun 2004 mulai merangkak naik barangkali salah satunya akibat issue kelangkaan minyak. Puncaknya tahun 2009 harga minyak hingga mencapai 140$/bbl.

:-( “Pakdhe, mbok shale gas atau gas serpih yang di Indonesia juga dikembangkan ?”

:-D “Bangun dulu infrastruktur dengan baik !”

Ditempat lain pada tahun 2008 saat USGS menyakatan angka 3.65 Billion Bbl oil recoverable di Bakken, setelah melakukan riset puluhan tahun. Saat itu (2008-2010) harga minyak sangat fluktuatif pada kisaran 80-100 $/bbl.

Apa yang dilakukan US saat itu ? Pembuatan infrastruktur gas akibat issue sebelumnya. Infratruktur gas khususnya pipa ini banyak dikerjakan dan dikembangkan juga oleh swasta. Demikian juga fracking, teknik perekahan, shale gas berkembang ditunjang dengan harga yang sangat tinggi saat itu.

Teknik fracking mampu mengeluarkan minyak.

frackingdiagramSLIDERTidak berhenti disini saja, teknik fracking shale gas ini juga berkembang, hingga akhirnya dengan metode yang terus dikembangkan rekahannya cukup lebar untuk mengeluarkan dan dilalui minyak, yg ukuran molekulnya lebih besar, yang keluar tidak hanya gasnya saja.

Saat itulah shale oil (minyak serpih) berkembang sangat pesat sejak 2009-2010. Puncak produksinya tercapai pada tahun 2014 ketika meampaui produksi Saudi ! Selanjunya seperti yang kita tahu ada pengaruhnya pada harga minyak yang anjlok hingga dibawah 50$/bbl. Hal ini salah satunya akibat pasaran amerika yang merupakan konsumen minyak terbesar didunia terbanjiri oleh minyak.

Namun apakah Shale gas dan Shale oil terus mati dengan harga rendah ? Tentusaja tidak karena infrastrukturnya sudah terpasang, Biaya pemasangannya barangkali sudah “terbayar” ketika harga sangat tinggi. Sehingga saat ini Shale gas dan Shale oil ini akan dengan segera kembali bila harga membaik. Silahkan baca dongengan ini Shale oil/gas: Merugi belum tentu mati.

:-( “Jadi kalau belum ada infrastrutur gimana. Pakdhe ?”

:-D “Jangan memasukkan gas-gas yang konon 500 Tcf itu kedalam kebijakan supply energi, tetapi masuk dalam kebijakan RISET ENERGI di Indonesia”

ShaleGasIndonesiaESDM2012

Harga minyak tidak tergantung teknologi

Sebagai pekerja migas, tentunya lebih senang apabila harga minyak dunia itu setinggi langit. Gaji selangit dengan bonus berlimpah, dan fasilitas tumpah-ruah. Tetapi sebagian lain yang tidak bekerja dalam bidang migas tentunya bertanya-tanya, mengapa harga minyak bisa setinggi bintang ?

Ini eksplorasi minyak, bukan pabrik minyak.

Usaha eksplorasi migas dan juga usaha pertambangan pada umumnya, mereka tidak dapat menentukan harga komoditas yang dihasilkannya. Perusahaan ice-cream, pasta gigi, sarung tenun dan sebangsanya, tentunya akan mematok harga mahal bila produknya dibuat dengan tehnologi tinggi dan menggunakan bahan tercanggih serta proses yang sophisticated. Ya tentunya saja karena biayanya mahal maka produknya mahal. Namun hal ini tidak mungkin terjadi pada migas serta produk pertambangan. Tidak mungkin produsen minyak mengatakan “karena minyak ini diproduksi dari laut utara yang ganas serta dengan teknologi canggih maka minyak ini mahal”. Tidak bisa mereka menentukan harganya dengan cara itu. Juga tidak mengatakan karena minyak diambil di laut dalam maka harga minyaknya lebih mahal dari harga minyak yg diproduksi di darat. Tidak bisa begitu.

OilTradingMinyak bumi dijual sesuai hukum pasar, perbandingan jumlah produksi dan kebutuhan (supply-demand). Bila kebutuhan lebih dari produksi tentunya harga anjlok dan sebaliknya. Kegiatan jual beli minyak itu sangat kapitalis dan pasar bebas. Fluktuasi harganya sering disebabkan karena banyak hal supply-demand, sentimen pasar, politik, perang, … dan bahkan “ulah pedagang“. Sedemikian peliknya dinamikanya sehingga sering dituduh dimainkan oleh siapapun yang memperoleh keuntungan darinya (konspirasi),

Dengan demikian maka keuntuntungan perusahaan migas diperoleh bila mampu menghasilkan migas secara efisien. Siapa yang paling efisien dalam memproduksi migas maka dialah yang paling banyak keuntungannya. Sehingga perusahaan migas akan berhitung dengan lebih jeli bila harganya turun, atau harga rendah.

Banjir juga bisa untuk wisata air ! (out of the box)

459835[1]Kalau banjir itu memang memiliki sisi kegembiraan, mengapa tidak dibuat saja wisata musim banjir. Air dialirkan ke tempat-tempat tertentu dimana disana dibuat event atau acara musiman yang menarik. Terutama wisata air tentusaja. Ada lomba dayung, lomba jet sky, termasuk didalamnya lomba gebug-gebugan bantal basah diatas papan dll. Air itu berkah bukan hanya musibah.

“Pak Gubernur, Kamu Pasti Bisa !”

Baca lebih lanjut

Ini dia curah hujan yang mengguyur Jakarta

Update curah hujan 9-10 Feb 2015. Pemutakhiran (update) peta sebaran curah hujan ini menunjukkan bahwa banjir Jakarta kemarin bukanlah sekedar banjir kiriman, dan bukan banjir rob (pasang). Ini mestinya menjadi pembelajaran bagi warga Jakarta untuk memelihara lingkungannya sendiri, tanpa harus menyalahkan kiriman dari Bogor.

Peta sebaran curah hujan selama 24 Jam (09 Feb 2015 pukul 07.00 WIB - 10 Feb 2015 07.00 WIB)

Peta sebaran curah hujan selama 24 Jam (09 Feb 2015 pukul 07.00 WIB – 10 Feb 2015 07.00 WIB)

:-( “Berarti bukan sabotase ya Pakdhe ?”

:-D “Hust !”

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.013 pengikut lainnya.