“Infrastruktur” Pemicu Berkembangnya Shale Gas dan Shale Oil.

Cukup menarik melihat salah satu faktor utama penyebab anjloknya harga minyak. Satu hal lagi yang menjadi perhatian saya adalah dinamisnya kondisi ini. Khususnya melihat betapa tangguhnya Shale Oil ini.

Sekitar awal abad 21, banyak perusahaan minyak menyatakan bahwa tahun-tahun awal abad ini akan menjadikan kelangkaan minyak bumi, dan kelangkaan energi. Minyak bumi akan semakin sulit diperoleh. Ngebor semakin dalam akan memperoleh gas ketimbang minyak, karena batuan mendekati batuan induknya yang kebanyakan sudah mencapai kematangan menghasilkan gas. Sehingga persiapan memanfaatkan gas harus dimulai. Termasuk infrastrukturnya, pipa, bahkan industri genset gas berkembang.

HargaMinyakShaleGas

Harga minyak tahun 2004 mulai merangkak naik barangkali salah satunya akibat issue kelangkaan minyak. Puncaknya tahun 2009 harga minyak hingga mencapai 140$/bbl.

:-( “Pakdhe, mbok shale gas atau gas serpih yang di Indonesia juga dikembangkan ?”

:-D “Bangun dulu infrastruktur dengan baik !”

Ditempat lain pada tahun 2008 saat USGS menyakatan angka 3.65 Billion Bbl oil recoverable di Bakken, setelah melakukan riset puluhan tahun. Saat itu (2008-2010) harga minyak sangat fluktuatif pada kisaran 80-100 $/bbl.

Apa yang dilakukan US saat itu ? Pembuatan infrastruktur gas akibat issue sebelumnya. Infratruktur gas khususnya pipa ini banyak dikerjakan dan dikembangkan juga oleh swasta. Demikian juga fracking, teknik perekahan, shale gas berkembang ditunjang dengan harga yang sangat tinggi saat itu.

Teknik fracking mampu mengeluarkan minyak.

frackingdiagramSLIDERTidak berhenti disini saja, teknik fracking shale gas ini juga berkembang, hingga akhirnya dengan metode yang terus dikembangkan rekahannya cukup lebar untuk mengeluarkan dan dilalui minyak, yg ukuran molekulnya lebih besar, yang keluar tidak hanya gasnya saja.

Saat itulah shale oil (minyak serpih) berkembang sangat pesat sejak 2009-2010. Puncak produksinya tercapai pada tahun 2014 ketika meampaui produksi Saudi ! Selanjunya seperti yang kita tahu ada pengaruhnya pada harga minyak yang anjlok hingga dibawah 50$/bbl. Hal ini salah satunya akibat pasaran amerika yang merupakan konsumen minyak terbesar didunia terbanjiri oleh minyak.

Namun apakah Shale gas dan Shale oil terus mati dengan harga rendah ? Tentusaja tidak karena infrastrukturnya sudah terpasang, Biaya pemasangannya barangkali sudah “terbayar” ketika harga sangat tinggi. Sehingga saat ini Shale gas dan Shale oil ini akan dengan segera kembali bila harga membaik. Silahkan baca dongengan ini Shale oil/gas: Merugi belum tentu mati.

:-( “Jadi kalau belum ada infrastrutur gimana. Pakdhe ?”

:-D “Jangan memasukkan gas-gas yang konon 500 Tcf itu kedalam kebijakan supply energi, tetapi masuk dalam kebijakan RISET ENERGI di Indonesia”

ShaleGasIndonesiaESDM2012

Harga minyak tidak tergantung teknologi

Sebagai pekerja migas, tentunya lebih senang apabila harga minyak dunia itu setinggi langit. Gaji selangit dengan bonus berlimpah, dan fasilitas tumpah-ruah. Tetapi sebagian lain yang tidak bekerja dalam bidang migas tentunya bertanya-tanya, mengapa harga minyak bisa setinggi bintang ?

Ini eksplorasi minyak, bukan pabrik minyak.

Usaha eksplorasi migas dan juga usaha pertambangan pada umumnya, mereka tidak dapat menentukan harga komoditas yang dihasilkannya. Perusahaan ice-cream, pasta gigi, sarung tenun dan sebangsanya, tentunya akan mematok harga mahal bila produknya dibuat dengan tehnologi tinggi dan menggunakan bahan tercanggih serta proses yang sophisticated. Ya tentunya saja karena biayanya mahal maka produknya mahal. Namun hal ini tidak mungkin terjadi pada migas serta produk pertambangan. Tidak mungkin produsen minyak mengatakan “karena minyak ini diproduksi dari laut utara yang ganas serta dengan teknologi canggih maka minyak ini mahal”. Tidak bisa mereka menentukan harganya dengan cara itu. Juga tidak mengatakan karena minyak diambil di laut dalam maka harga minyaknya lebih mahal dari harga minyak yg diproduksi di darat. Tidak bisa begitu.

OilTradingMinyak bumi dijual sesuai hukum pasar, perbandingan jumlah produksi dan kebutuhan (supply-demand). Bila kebutuhan lebih dari produksi tentunya harga anjlok dan sebaliknya. Kegiatan jual beli minyak itu sangat kapitalis dan pasar bebas. Fluktuasi harganya sering disebabkan karena banyak hal supply-demand, sentimen pasar, politik, perang, … dan bahkan “ulah pedagang“. Sedemikian peliknya dinamikanya sehingga sering dituduh dimainkan oleh siapapun yang memperoleh keuntungan darinya (konspirasi),

Dengan demikian maka keuntuntungan perusahaan migas diperoleh bila mampu menghasilkan migas secara efisien. Siapa yang paling efisien dalam memproduksi migas maka dialah yang paling banyak keuntungannya. Sehingga perusahaan migas akan berhitung dengan lebih jeli bila harganya turun, atau harga rendah.

Banjir juga bisa untuk wisata air ! (out of the box)

459835[1]Kalau banjir itu memang memiliki sisi kegembiraan, mengapa tidak dibuat saja wisata musim banjir. Air dialirkan ke tempat-tempat tertentu dimana disana dibuat event atau acara musiman yang menarik. Terutama wisata air tentusaja. Ada lomba dayung, lomba jet sky, termasuk didalamnya lomba gebug-gebugan bantal basah diatas papan dll. Air itu berkah bukan hanya musibah.

“Pak Gubernur, Kamu Pasti Bisa !”

Baca lebih lanjut

Ini dia curah hujan yang mengguyur Jakarta

Update curah hujan 9-10 Feb 2015. Pemutakhiran (update) peta sebaran curah hujan ini menunjukkan bahwa banjir Jakarta kemarin bukanlah sekedar banjir kiriman, dan bukan banjir rob (pasang). Ini mestinya menjadi pembelajaran bagi warga Jakarta untuk memelihara lingkungannya sendiri, tanpa harus menyalahkan kiriman dari Bogor.

Peta sebaran curah hujan selama 24 Jam (09 Feb 2015 pukul 07.00 WIB - 10 Feb 2015 07.00 WIB)

Peta sebaran curah hujan selama 24 Jam (09 Feb 2015 pukul 07.00 WIB – 10 Feb 2015 07.00 WIB)

:-( “Berarti bukan sabotase ya Pakdhe ?”

:-D “Hust !”

Baca lebih lanjut

Shale oil/gas: Merugi belum tentu mati.

Walaupun harga minyak sudah dibawah 50$, tetap saja shale oil/shale gas belum benar-benar mati. Karena BEP (Breakeven point) itu juga akan turun “mengikuti” turunnya harga komoditas. Sampai akhirnya bener-bener berhenti pada titik yang jauh dibawah BEP. Kita tahu munculnya ketika dipermukaan, tetapi “akar” dari Shale oil/gas ini ada pada “infrastruktur”nya yang sudah terlalu kuat untuk dicabut !

oilpice222015

Harga minyak 2 Feb 2015

Pada level tertentu mempertahankan hidup itu berbeda dengan mengawali kehidupan. Seperti juga ketika kita mendorong meja memerlukan tenaga lebih besar (FS – Force Static/Gaya statis), namun ketika sudah bergerak maka yang kita perlukan hanya (FD – Force Dinamic/Gaya dinamis).

Demikian juga Shale gas yang memerlukan harga tinggi untuk memulai tetapi ketika sudah “terlanjur berjalan” akan berhenti pada harga yang sangat rendah.

Sumber Bloomberg okt 2014

perkiraan BEP pada saat harga minyak sekitar 90$/bbl

Saat turunnya harga mencapai sekitar 87$/bbl (WTI, Nymex). Shale oil dianggap akan mati ketika mencapai harga dibawah 80. Namun kenyataan hingga harga dibawah 50, masih saja ada yang hidup. Walaupun aktifitas berkurang.

Akar dari shale gas/oil ini pada infrastruktur yang sudah menancap kuat. Kalau ingin mencabut harus mencabut akar yang sudah tertancap ini. Jadi mulailah dengan menumbuhkan akar-akar yang kokoh untuk bertahan.

Bacaan terkait :

Sampai kapan harga minyak akan turun ?

Sampai kapan “perang minyak” berlangsung ?

Pertanyaan selanjutnya memang menjadi sulit karena hampir setiap gejolak memiliki penyebab yang berbeda. Sebelum menjawab ini kita lihat bagaimana asal mula merosotnya harga ini.

The economist.com

The economist.com

Penurunan harga yang hingga saat ini tercatat hingga 60% dalam waktu hanya 6 bulan saja. Sejak tahun 2010 hingga pertengahan 2014 harga minyak mentah di kisaran 110$/bbl, sedangkan awal Januari 2015 menyentuh angka psikologis dibawah 50$/bbl.

“Shale oil fracking” di Amerika menjadi “tersangka” penyebab turunnya harga. Berita produksi minyak Amerika melebihi produksi Arab Saudi memicu “kesadaran” konsumen akan melimpahnya minyak yang bakalan tersedia di pasaran. Dengan demikian mudah dipahami, awalnya dimulai dari sekedar hukum pasar, supply and demand.

Namun ketika harga terus merosot, menurut The Economist (Dec 2014), menyebabkan para Sheik (kelompok OPEC) mulai memainkan “bola” yang menyebabkan harga terus menerut merosot hingga tercatat dibawah 50$ pada minggu pertama bulan Januari 2015. Baca lebih lanjut

Bagaimana kalau harga minyak anjlok 20$/bbl ?

Sampai berapa ? How low can you go ?

Bagaimana kalau harga minyak 20$/bbl ?

Salah satu artikel yang saya baca dari media bisnis di UK mengatakan bukan hal yang tidak mungkin harga merosot hingga 20$. karena kitapun pernah mengenyam harga itu dan semua masih berjalan. Lihat periode 1980-2000 dengan kisaran 20$/bbl.

HargaMinyakMentah2015Ada yang menganggap anjloknya harga minyak ini akan menjadikan krisis moneter global. Karena banyaknya negara yang tergantung dari harga minyak. Namun pada kenyataannya menurut perhitungan ahli-ahli economist Oxford justru sebaliknya. Pertumbuhan ekonomi global justru akan meningkat rata-rata 0.5% dari biasanya.

Ini akan menolong pemerintahan Indonesia yang diperkirakan akan membesar 0,1-0,2% karena efek harga 40$/bbl, dibandingkan bila harga minyak 84$/bbl. Tentusaja kalau Indonesia mampu memanfaatkan hal ini dengan cerdas ! Harga murah harus dimanfaatkan bener-bener bahwa minyak ini sebagai ENERGI, bukan sekedar komoditas. Harus menggerakkan roda ekonomi. Harus mampu menggerakkan mesin-mesin produksi.

Mengapa Indonesia diperkirakan hanya sedikit naik ? Mungkin karena “mesin produksi” Indonesia ini memiliki elastisitas energi yang rendah. Jadi kurang mampu memanfaatkan energi untuk berproduksi.

Gambaran dunia kita bila harga minyak 40$

Gambaran dunia kita bila harga minyak 40$. Dampak pertumbuhan GDP pada harga minyak yang berbeda harga minyak 40$ dibanding 84$.

Amerikapun suka cita dengan hal ini !.

Tidak sedikit yang mengira anjloknya harga minyak ini akan mematikan Amerika ketika usaha shale gas dan shale oilnya colaps. Dan memang benar barangkali yang terpukul adalah “pengusaha” minyak. Tetapi secara umum rakyat Amerika akan mengambil keuntungan lebih besar dengan pertumbuhan ekonomi bertambah GDPnya 0.7%, jauh diatas dampak positip dari Indonesia. Jadi jangan terburu-buru menganggap bahwa industri minyak ini didominasi Amerika dan akan membuat Amerika merana dengan anjloknya harga minyak.

Harapan positip ini khususnya akan dirasakan oleh negara-negara yg selama ini mengimpor minyak. Negara pemenang utamanya diperkirakan Pilipina yang mengambil untung hingga pertambahan GDP diatas 1.5%  Tentusaja negara-negara OPEC adalah negara yang “terkorban” bila harga anjlok menerus. KArena pendapatan negara ini dari minyak.

Skenario energi murah.

Ini hanya satu skenario bila anjloknya harga minyak ini berkepanjangan. Yang dapat saja terjadi dengan melihat fakta musim dingin kali ini tidak sedingin sebelumnya, dan walau musim dingin harga minyak tetep merosot tak terolong. Dan dalam jangka panjang IEA pernah menyebutkan bahwa gas yang ada di dunia ini mampu memberikan “energi” untuk semua dibumi ini selama 200 tahun. Juga energi efisiensi semakin tinggi dengan melihat fakta penerima nobel tahun ini adalah penemuan lampu LED yang mampu menghemat energi 1/10 energinya dengan lebih hemat biaya.

:-( : “Pakde, Kalau begitu eksplorasi minyak tidak perlu lagi ?”

:-D “Kata siapa ? Ingat, prediksi itu seringkali salah. Tapi yang tidak mempersiapkan yang akan merugi”

Tulisan terkait :

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.959 pengikut lainnya.