Memperkirakan profil produksi migas Indonesia hingga 2050.


Setiap perusahaan migas selalu membuat prakiraan profil produksi hingga akhir proyek atau akhir kontrak. Dengan demikian perusahaan akan cenderung menggenjot produksi secepatnya, dan kalau mungkin tidak menyisakan pada akhir kontrak sehingga keuntungannya optimal. Ya, karena pada prinsipnya perusahaan mencari profit (keuntungan) dan perlu diketahui juga sepanjang hal itu tidak menyalahi persetujuan kontrak. Optimalisasi produksi memang perlu dilakukan dengan persyaratan tentunya tidak meinggalkan kerusakan. Tetapi bagi sebuah negara memproduksi minyak bukan hanya soal untung rugi, karena keberadaan negara diharapkan langgeng seterusnya.

Apapun background falsafahnya, kurva produksi migas pada umumnya memiliki kesamaan. Secara natural alam akan memberikan pola tertentu pada produksi sumberdaya alam yang diambil.

Hubbert memperkenalkan teorinya yang dikenal dengan nama Hubbert Peak, atau Puncak Hubbert, yaitu bentuk kurva normal dari produksi migas.

Metode puncak Hubbert ini menggambarkan kondisi ideal bila apa yang sudah diketemukan dan diproduksikan. Namun ini jelas bukan keadaan nyata nantinya, karena angka cadangan dan produksi bisa berubah setiap tahun dan waktu tercapainya puncak produksi dan permulaan deklinasi tidak dapat diketahui.

Ketika mencapai puncak produksi ini menandakan bahwa 50% cadangan telah digunakan, sehingga hanya tinggal tersisa 50% cadangan yang sudah terambil dari reservoir, dan diperkirakan akan secara normal mengikuti pola pembalikan saat diproduksikan. Dengan demikian akan membentuk pola lonceng (Bell-shape).

Kurva distribusi normal sebagai dasar model hubbert.

Minyak yang diproduksi akan mencapai puncaknya dan akan menurun sesuai dengan pola kurva normal seperti diatas.

Bagaimana dengan Indonesia ?

Lauty D Santy yang lebih akrab dipanggil Santi salah satu staf Badan Geologi dalam seminar di Badan Geologi bulan Januari lalu mempresentasikan perkiraan produksi minyak Indonesia menggunakan metode Hubbert. Hasil perkiraan beliau ada dibawah ini.

😦 “Padhe, Bu Santi ini dulu muridnya Pakdhe wektu pakdhe masih bekerja di Kondur , kan ?”

😀 “Ya Santi ini, geologist perempuan yang cukup unik. Idenya cukup mengagetkan saya ketika dia mengusulkan mekanisme tektonik sebagai mekanisme pengisian minyak di salah satu lapangan minyak di Selat Malaka”.

Prakiraan produksi Minyak dan Gas di Indonesia

Santi menggunakan sekenario dalam perkiraan total minyak dan gas yang mampu diproduksikan dari lapangan-lapangan yang telah dan sedang berproduksi.

Diperkirakan total minyak yang mampu diproduksi sebesar (P1 = 14.3 BBO ; P2 = 26 BBO dan P3 = 30 BBO). Angka ini diperolehnya dari kurva laju produksi dibawah ini.

Grafik perkiraan total produksi minyak Indonesia

Setelah dilakukan perkiraan total minyak yang mampu disedot, maka dapat diperkirakan pola produksi dari tahun ke tahun.

Tiga kurva. Kurva pembelajaran, kurva realitas, dan kurva usaha.

Kurva ungu (P1) memperlihatkan kurva produksi dimana puncak nya terlihat pada sekitar tahun 1977. Ya, saat itu produksi minyak Indonesia rata-rata sehari mencapai diatas 1.5 juta barel sehari. Kurva ini tepat untuk menunjukkan pola yang sama dengan pola pra 1977, namun memang bukan kurva yang mendekati kondisi riil pada pasca 1977. Lah wong kenyataannya kita masih berproduksi lebih dari 800 ribu barrel perhari di tahun 2009.

Karena konsentrasi kita lebih mengarah untuk memperkirakan produksi nantinya, maka kurva biru mungkin merupakan kurva yang lebih tepat menggambarkan kondisi saat ini.

Belajar dari kurva masa lalu

Apakah ini menjadi kenyataan pasti ? Tentusaja tidak. Kurva ungu sebelumnya menunjukkan kesuksesan teknik ini menebak hubungan matematis masa lalu. Namun sepertinya ada sebuah “kegiatan” ditahun 1990 yang meningkatkan produksi sehingga kurva ungu hanyalah sebagai sebuah pembelajaran … ya kurva ungu dan kurva biru seharusnya menjadi pembelajaran. Pembelajaran bahwa yang kita lakukan saat ini kalai “gini-gini saja” akan mengikuti kurva biru.

Perlu sebuah “gerakan baru” untuk membuat kurva biru ini senasib dengan kurva ungu. Artinya kalau Indonesia memiliki niyat tentunya akan mampu meningkatkan produksi. Dan ini bukan isapan jempol karena tahun 1990-an sudah membuktikannya.

Yang perlu diingat adalah pada tahun 2025 (target KEN), produksi minyak hanya sekitar 450 ribu barel perhari. Sedangkan kebutuhan minyak sekitar 1.5 juta bopd. Lihat tulisan sebelumnya disini : Kebijakan Energi Nasional (PP 05/2006) Yang Terasa Jadul – 2 . Ini menunjukkan bahwa perlu mencari sumber energi minyak ataupun pengganti yang akan mengisi tahun 2025 nanti.

Gas yang masih berjalan menuju puncak.

Berbeda dengan pola produksi minyak. Produksi gas di Indonesia diperkirakan masih akan meningkat menuju puncak.

Santi memperkirakan tiga skenario untuk hal ini. Tentusaja variabelnya adalah jumlah maksimum yang mampu diambil oleh tehnologi yang ada.

Yang pertama Q1 bila total yang terambil 183 Tcf, Q2 295 Tcf dan Q3 300 Tcf. Dari ketika skenario ini kemudian dihasilkan kurca produksi gas di Indonesia sepeti dibawah ini.

Cukup menarik melihat kurva perkiraan produksi gas di Indonesia ini. Kurva ini menunjukkan kurva immature production dimana puncak produksi masih akan dicapai nanti di tahun 2030 sebesar hampir 5 TCf  pertahun. Artinya sumberdaya alam gas di Indonesia masih memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan.

Kurva biru adalah skenario terburuk, dimana kita hanya melakukan seperti apa adanya saat ini. Ini sekenario malas. Sedangkan skenario hijau mungkin akan dicapai kalau kita melakukan usaha khusus. Sedangkan kurva ungu (P3) mungkin menunjukkan kurva produksi gas yang optimum dari data-data lapangan yang sudah diketemukan saat ini. Artinya masih ada potensi lain bila eksplorasi dan pengembangan lebih diintensifkan.

Yang lebih penting gas ini untuk siapa ?

Pemerintah dan tentunya pemerhati energi di Indonesia mengerti bahwa kebutuhan dalam negeri ini semestinya menjadi tujuan utama dari kementrian energi. Sehingga perlu dipikirkan bagaimana (rakyat)  Indonesia mampu memanfaatkan produksi gas ini untuk kebutuhan energinya. Dan perlu diketahui juga bahwa gas ini adalah energi bukan sekedar komoditi.

Tulisan terkait :

Refrensi : Lauti D Santi, 2010 “

7 Tanggapan

  1. Pak dhe… ijin share….

  2. […] bener Thole, ditulis disini. tetapi ini harus dipahami sebagai base case, atau pemikiran dasar kalau kita hanya melakukan […]

  3. pak dhe,…kalo minyak diIndonesia abis, kira2 prospek kedepan. Geotermal+hidrotermal pie?

  4. Wah nga lama indonesia miskin ni… jika terus2n hanx bergantung pada SDA khususnx pertamabangan.. karna 30% pendapatan negara kita berasal dari tambang klo di pikir2 misalax SDA habis.. apa yang mau di jual Negari ini.. sangat dilema…

  5. minta doa restunya om, biar 5 tahun mendatang saya diterima di pertambangan Indonesia, amin…

    😀

  6. Teknik-teknik forecastingnya mencerahkan pak.
    Memang seharusnya pemerintah itu berpikir & bertindak lebih strategis. Masa Cina aja katanya nahan-nahan produksi batubara dalam negerinya, karena mereka tahu simpanan mineral mereka adalah aset masa depan. Bukan buat dihabiskan di masa sekarang, apalagi dijual murah keluar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: