“Lereng Kritis”, Mengapa Longsor ?


Alam memiliki mekanisme unik. Hampir semua lereng bukit pada saat ini sejatinya pada kondisi kritisnya. Longsor merupakan saat ketika kondisi kritisnya terlampaui oleh sebuah gangguan. Gangguan ini dapat berupa pembebanan baru, atau karena perubahan (pemotongan lereng).

socSalah satu gangguan beban adalah penambahan air oleh hujan dimana saat ini menjadi pemicu uatama beberapa longsor.

Salah satu cara yang mudah untuk mengerti teori longsor adalah dengan membuat sandpile atau tumpukan pasir. Yaitu melihat realitasnya dengan tumpukan pasir atau boleh juga tumpukan beras seperti diatas itu. Nah yang sebelah ini adalah caranya untuk melihat dengan sebuah model.

Buatlah tumpukan beras, kemudian lihatlah seberapa besar lereng maksimumnya. Bila kamu tambah maka butirannya akan jatuh kebawah. Itu artinya sudutnya sudah maksimum.

😦 “Pakde, kalau pakai butiran kacang hujau sudutnya beda ya ?”

Kita coba beberapa modelnya.

Model 1

soc1Model disebelah ini menggambarkan bagaimana sebuah tumpukan kotak biru (anggap saja satu butir pasir) yang akan stabil apabila sudut kelerengannya atau gradiennya 2 atau 60 derajat. Sudut ini akan menjadi sudut kritisnya.

Ketika ditambah satu butir pasir saja tumpukan diatasnya, maka tumpukan itu akan jatuh kebawahnya, dan yang dibawah akan jatuh ke bawahnya lagi, dan seterusnya. Sampai maksimum hanya dua tumpukan disebalah ruang kosong. Ini mirip sebagai analogi, bila ada penambahan beban diatas bukit, atau adanya beban tambahan karena adanya air hujan.

Dengan demikian sudut kritis ini akan selalu terjaga. Dan akan menjadi sudut kritis berikutnya.

Dapat juga gangguan berupa pengambilan dibawahnya yang berakibat sama yaitu jatuhnya butiran diatasnya. Ini mirip kalau ada cutting pemotongan tebing.

😦 “Pakde, kalau begitu kondisi alam selalu dalam kondisi kritis ?”

😀 “Lebih tepatnya, alam itu selalu dinamis. Selalu berubah-ubah. Dan itu cirikhas dari planet yang ‘hidup

Model 2

soc3Model berikut ini misal ketika ada material lain disebelahnya, maka sudah mulai terlihat sedikit bertambah kompleks. Menambah dan mengambil satu butir atau satu tumpukan kotak saja sudah akan mempengaruhi kestabilan tebing atau kestabilan lereng.

Aplikasi ini mudah dilakukan kalau anda sebagai petugas gudang ingin menumpuk-numpuk barang. Itulah sebabnya ada tulisan dalam setiap kardus kemasan. Maksimum tumpukannya akan tertulis. Selain ditakutkan akan runtuh tumpukan kotak ini juga bisa jadi tidak kuat menahan beban diatasnya.

Semakin banyak jenis dan ukuran butiran, maka akan semakin rumit juga kalau ingin dibuat model matematisnya.

😦 “Whadooh, makin lama makin rumit pakde”

Namun seringkali, alam memiliki cara mneyelesaikan dengan analogi juga statistik dalam menyelesaikan equation (rumusan).

Model 3

soc4

Model ke 3 ini lebih kompleks dan mungkin banyak terdapat di alam ketika ada sebuah tumpuk-tumpukan material penyusun.

Misalnya saja tumpukan batuan. Coba bandingkan gambar ini dan diatas ini. Bagaimana seandainya saya mengambil satu kotak saja. Maka bentuk akhirnya tentu akan berbeda. Secara mudah saja kita akan tahu bagaimana kompleksnya seandainya tumpukan ini bukan hanya tumpukan kardus mie dicampur kardus kopi dan kardus roti. Di alam mungkin batuanpun terdiri dari bermacam-macam ukuran serta jenis materialnya.

😦 “Wis Pakde, semakin rumit semakin kompleks. malah sulit dimengerti nanti”

Memang melihat contoh, foto, gambar dan analogi sering kali lebih mudah untuk mengenali alam sekitar kita. Itulah sebabnya mengapa ilmu geologi semestinya lebih mudah ketimbang ilmu matematika yang hanya angka abstrak looh.

REalitasgeologi

Perlu ilmu pengetahuan tentang realitas untuk mengerti bumi, menemukan air, minyak, nikel, batubara dan sumberdaya lain. Bahkan untuk menghindari ancaman bencana alam

Dimana bumi dipijak ketahuilah apa dibawah telapak kakimu.

Alam itu sangat beragam, bahkan setiap bukit itu unik, dalam satu gunung juga unik. Pengenalan daerah seringkali lebih tepat. Apabila ada daerah yang barusaja longsor, dan apabila kita dapat merekonstruksikannya, maka mungkin kondisi tepat sebelum longsor dapat dianggap sebagai kondisi kritis. Ini pendekatan sederhananya saja. Dilapangan tentu akan bervariasi. Tetapi pendekatan ini dapat dipakai untuk melokalisir daerah berpotensi longsor.

Kalau kamu melihat gambar disamping, tentunya kamu tahu bahwa matematika itu jauh lebih sulit dari ilmu geologi kan ?

 

2 Tanggapan

  1. Salam pakde, saya sering melihat artikel pakde, maka sudah sepantasnya saya harus berterimakasih untuk ilmu bermanfaat yang pakde bagi karena setidaknya saya bisa sedikit mengetahui tentang tempat kaki ini berpijak. Syukron, jajakallah khoiron katsiro

  2. Maaf OOT, membaca beberapa tulisan Bapak terutama tentang potensi gempa dan tsunami,keliatannya bapak mengenal sekali daerah di Yogyakarta terutama di Kabupaten Gunungkidul. Kebetulan saya tinggal di kota Wonosari yang sesekali melihat http://www.stormsurf.com/locals/bali.shtml sebagai acuan gelombang pantai selatan untuk keamanan,baik wisata ataupun kemitigasian…pertanyaan saya:mungkin bapak tahu,bar disebelah kanan itu menunjukkan satuan apa pak…terimakasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: