Menyiapkan Penyediaan Energi Dengan Akselerasi Kegiatan Eksplorasi.


Memberikan pasokan energi yang cukup merupakan salah satu tugas dan fungsi Negara yang semestinya menjadi bagian penting. Keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan akan memperkuat ketahanan energy yang memberikan nilai optimum pada pertumbuhan ekonomi. Ketimpangan yang dialami di Indonesia saat ini bukan hanya disebabkan karena kebutuhan yang meningkat namun juga keterlambatan dalam mengantisipasi kebutuhan yang memerlukan kajian dalam jangka panjang.
Penyediaan energi fosil rata-rata memerlukan waktu 10 hingga 20 tahun sejak awal kegiatan eksplorasi. Riset pengembangan energy nonfosil termasuk energy baru dan terbarukan juga memerlukan waktu lebih dari 10 tahun hingga memasuki tingkat keekonomian yang visible.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 6%/tahun maka kebutuhan energi total Indonesia meningkat 7.1% pertahun. Kebutuhan gas Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan akan meningkat 134% dibandingkan tahun 2010. Salah satu konsekuensi besarnya pertumbuhan ekonomi ini adalah kemungkinan terjadinya net import energy total pada tahun 2024.
Beberapa tindakan dan perubahan utama yang masih memungkinkan dilakukan sesuai dalam kemampuan kita saat ini antara lain :

• Meningkatkan eksplorasi sumberdaya energi dengan akselerasi khususnya migas di Indonesia Timur.
• Mengantisipasi kemungkinan terjadinya net impor energy total tahun 2024
• Mengurangi ketergantungan pada minyak dengan mengembangkan sektor gas alam dan gas nonkonvensional.
• Diversifikasi energi mix kita dengan percepatan rencana untuk mengeksplorasi sumber-sumber energi terbarukan.
• Mengurangi beban subsidi minyak dan mengalokasi dana-dana tersebut ke area-area yang diprioritaskan.

Peningkatan Kebutuhan Energi

Kebutuhan energi Indonesia (energy demand) terus meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi (kesejahteraan) serta bertambahnya jumlah penduduk. Kebutuhan ini akan terus meningkat juga disebabkan karena adanya demographic bonus, dimana proporsi penduduk usia kerja meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 2010-2025. Pemenuhan kebutuhan energy ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Namun, untuk memenuhi kebutuhan energi ini sisi penyediaan energinya (energy supply) tidak mampu mengimbangi.

😦 “Wah kayaknya Pakdhe nulisnya serius, ga bisa diganggu nih”

Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak naik dengan PDB rata-rata 7.6% pertahun aakan mendorong kebutuhan energy tahun 2030 menjadi hamper 3 kali lipat dari kebutuhan 2010. Atau 3 kali lipat dalam 20 tahun. Dengan scenario MP3EI dengan laju pertumbuhan PDB rata-rata 10.4% pertahun, kebutuhan energy di tahun 2030 naik menjadi 4.3 kali lipat kebutuhan 2010. Dalam jangka pendek yaitu tahun 2015, kebutuhan energy final akan meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 4.5% pertahun. Sebagai penggerak ekonomi nasional, kebutuhan sector industry diperkirakan terus meningkat dan mendominasi total kebutuhan energy final. Kemudian diikuti oleh kebutuhan energy sector transportasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi.

Gambar1

Gambar 1. Outlook Energi Indonesia 2012 yang dilakukan oleh BPPT tahun 2012 memperlihatkan pertumbuhan konsumsi energy yang meningkat secara historical dengan pertumbuhan rata-rata 3.09% pertahun dari tahun 2000 sampai 2010.

Gambar 1. Proyeksi total kebutuhan energy inal di Indonesia menurut jenis sumber energy. (BPPT, 2012).
Pemakaian bahan bakar minyak (bensin, minyak solar, minyak bakar, minyak tanah dan avtur) masih mendominasi kebutuhan energy nasional dengan pangsa 32% pada tahun 2015. Dengan scenario dasar dan MP3EI, kemudian meningkat menjadi 42% dan bahkan mencapai 43% pada scenario MP3EI.

Sisi penyediaan

Penyediaan energi merupakan salah satu sisi yang terpenting dalam hal meningkatkan ketahanan energi. Penyediaan dari dalam negeri akan memperkuat kemandirian energy. Dua hal ini menjadi sebuah pemikiran jangka panjang karena penyediaan secara mandiri berarti harus mengembangkan dari potensi yang sudah ada di Indonesia.

Belajar dari Pengelolaan Migas

Kegiatan eksplorasi migas di Indonesia dimulai sejak akhir abad 19, dengan penemuan minyak pertama di Lapangan Telaga Said, Sumatera Utara. Penemuan lapangan minyak besar terjadi pada tahun 1940-an dengan diketemukannya dua lapangan raksasa Duri dan Minas. Puncak produksi minyak pertama dicapai pada tahun 1978 dan puncak produksi kedua tahun 1996. Penemuan lapangan gas raksasa Arun tahun 1971 merupakan awal produksi gas di Indonesia dengan dikapalkannya LNG pertama pada pada tahun 1977.

Gambar. 1 Menunjukkan penemuan dan produksi gas di Indonesia.

Gambar. 2 Menunjukkan penemuan dan produksi gas di Indonesia.

Dari pengalaman pengusahaan migas di Indonesia diketahui bahwa rata-rata kegiatan eksplorasi memerlukan waktu 5-20 tahun sampai diketemukan lapangan yang siap dikembangkan. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk mulai memproduksikan lapangan diketemukan memerlukan waktu saat ini kira-kira 8-13 tahun.

😦 “Beneran, isinya serius. Tumben ya”

Waktu puncak produksi migas di Indonesia dicapai mulai tahun 1970 hingga tahun 2000. Atau satu kali masa kontrak. Hal ini mudah dimengerti karena perusahaan pengelola akan mengoptimalkan keekonomian hanya satu kali masa kontrak selama 30 tahun. Penemuan migas merosot tajam sejak tahun 2000 yang bersamaan dengan penurunan produksi minyak. Walaupun produksi gas masih memiliki potensi meningkat namun secara total minyak-gas mengalami penurunan.

Dengan produksi sekitar 840 000 Bph dan jumlah cadangan minyak terbukti hanya sekitar 3.4 milliar barrel yang merupakan no 27 di dunia dan hanya menyisakan waktu produksi 12 tahun. Penemuan migas yang sangat kecil sejak tahun 2000 telah memberikan sinyal awas untuk tahun-tahun mendatang. Kemandirian sisi penyediaan energi khususnya migas jelas tidak dapat diharapkan banyak hingga tahun 2025.

Saat ini migas masih menyumbang lebih dari 30% kebutuhan energy total di Indonesia. Proyeksi kebutuhan energy total sekitar 3 juta SBM sesuai perhitungan yang dilakukan oleh BPPT (2012) menunjukkan

Eksplorasi migas dengan akselerasi.

Salah satu cara untuk meningkatkan sisi penyediaan dari dalam negeri dengan mengembangkan kegiatan eksplorasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemandirian energy khsusunya dalam meningkatkan ketahanan energi.

Akselerasi eksplorasi Indonesia Timur

Studi cekungan tidak hanya sebagai awal riset kegeologian

Hampir semua explorationist mengerti bahwa kegiatan eksplorasi adalah sebuah riset yang diikuti kegiatan operasi pengeboran. Diawali dari studi secara regional dalam luasan yang tidak terbatas oleh batasan geografi maupun batasan wilayah kerja (WK). Untuk saat ini memang tidak dapat dikatakan tidak ada daerah yang belum dijamah, dan itu barangkali benar kalau dilihat secara geografis.

Gambar. Studi cekungan tidak dibatasi oleh batas territorial. Pengetahuan eksplorasi di Timor dapat dikembangkan dengan pengetahuan geologi dan hasil eksplorasi di NW Australia.

Hampir semua cekungan pernah diambil datanya. Tetapi harus dimengerti bahwa dalam eksplorasi migas selain batas lateral geografis juga ada batas kedalaman yang dibatasi oleh kemampuan penginderaan alat. Banyak daerah-daerah yang memiliki data seismic maupun sumur, namun hanya sampai kedalaman tertentu, hanya ditargetkan pada umur sedimen tertentu. Dimana penyebaran data ini seringkali menimbulkan “mislead” (salah tafsir) ketika menganggap bahwa daerah itu sudah tersedia data. Harus dipahami bahwa representasi peta sebaran ketersediaan data tidak selalu menunjukkan tingkat pemahaman geologi suatu daerah.

😦 “Pakdhe, boleh nanya nggak ?”

Selain perkembangan ilmu pengetahuan yang seringkali mengalami percepatan dengan semakin banyaknya data dan perkembangan pemahaman geologi umum serta perkembangan tehnologi sering menumbuhkan pemikiran-pemikian baru dalam eksplorasi. Dengan demikian Studi Cekungan (Basin Study) bukan sebuah kegiatan yang hanya dikerjakan sekali saja dalam satu periode kegiatan eksplorasi. Kegiatan studi cekungan juga merupakan kegiatan yang harus selalu di-“recycle” dan secara terus-menerus diperbaharui.

Bagi pemerintah, sebagai host country, kegiatan ini harus dilakukan bahkan harus ada memiliki satu divisi khusus untuk studi cekungan. Kegiatan studi cekungan dilakukan terus menerus hanya karena keterbatasan jumlah tenaga ahli seringkali prioritasinya yang mungkin akan menentukan yang mana yang akan dilakukan terlebih dahulu.

Akselerasi Eksplorasi :

Usaha percepatan bukanlah sebuah usaha yang dimulai dari nol. Namanya saja percepatan dimana sudah harus ada kecepatan yang berjalan. Akselerasi sudah semestinya mempercepat sebuah proses yang sudah atau sedang berjalan. Tidak dapat dipungkiri hampir semua kegiatan eksplorasi sumberdaya alam selalu memanfaatkan penelitian sebelumnya,demikian juga dalam kegiatan eksplorasi migas. Oleh sebab itu akselerasi harus disesuaikan dengan status atau tingkat kemajuan dari kegiatan eksplorasi migas. Tidak semua daerah dapat dipercepat dengan studi cekungan, juga tidak semua daerah dipercepat dengan percepatan perijinan. Percepatan harus dilakukan pada semua stadia eksplorasi.

Indonesia Timur saat ini memiliki puluhan blok PSC yang sedang aktif melaksanakan kegiatan eksplorasi, namun dalam stadia yang berbeda-beda. Ada beberapa wilayah kerja yang sedang melaksanakan Studi Bersama (Joint Study), ada yang sedang melakukan kegiatan survey seismik, ada yang sedang mempersiapkan pengeboran dan juga ada yang sedang mengevaluasi hasil pengeboran yang barusaja diselesaikan.

• Akselerasi pada kegiatan wilayah joint study

Daerah-daerah yang sedang dilakukan studi bersama perlu dibantu dengan memberikan pengarahan secara tehnis kegeologian. Seringkali keterbatasan akses data pada daerah yang lebih luas menyebabkan pemahaman geologi suatu daerah menjadi kurang tepat. Batasan-batasan wilayah studi bersama tidak harus menjadi batasan akses data. Pemberian kemudahan akses data pada daerah-daerah lain yang mungkin sedang dioperasikan semestinya diberikan pada perusahaan-perusahaan yang sedang melakukan joint studi ini.

Daerah yang sedang dilakukan studi bersama ini nantinya diharapkan akan ditawarkan dalam “Direct Proposal Tender”. Dengan demikian perusahaan yang melakukan studi bersama ini sudah memiliki data-data baru serta pemikiran baru dari daerah ini. Tentunya dalam kontrak WK inis sudah semestinya ada percepatan dalam kegiatan nantinya dibandingkan WK yang ditawarkan dengan “regular tender”. Misal, harus ada komitmen pasti pengeboran sumur.

😦 “Wah aku ngga digubris sama Pakdhe. Ya sudah aku baca-baca dulu”

• Akselerasi pada kegiatan WK KKKS yang sedang berjalan

Untuk wilayah kerja yang sudah menjadi wilayah kerja PSC, akselerasi kegiatan sudah seharusnya disesuaikan dengan stadia ini. Pemerintah melalui SKKMIGAS perlu dan telah melakukan usaha-usaha percepatan ini terutama untuk pemenuhan komitmen pasti. Khsusnya dalam hal pengeboran dan akuisisi data sesimik.

Khususnya untuk proses perijinan, kebutuhan akselerasi ini, harus disosialisasikan ke instansi-instansi terkait. Hambatan tumpang tindih perijinan masih sering menjadi alas an dan menjadi penghambat operasi yang memundurkan kegiatan pemenuhan komitmen pasti.

• Revisit dan re-evaluasi WK yg telah dikembalikan

Satu kali siklus kegiatan eksplorasi dalam kontrak PSC adalah 2 X 3tahun hingga maksimum 10 tahun. Eksplorasi intensif di Indonesia Timur dimulai 2005 ketika survey umum (Specualtive survey) dilakukan. Berdasarkan pengalaman Indonesia yang dimulai eksplorasi sekitar awal abad 19 dan penemuan besar diperoleh tahun 1940, maka lama kegiatan eksplorasi membuahkan hasil adalah 40 tahun.

Gambar5

Penemuan dapat terjadi setelah beberapa kali siklus eksplorasi berjalan.

Penemuan besar Indonesia Timur (Tangguh Field) dimulai dari kegiatan eksplorasi didaerah ini setelah kesuksesan eksplorasi North Shelf Australia, diperkirakan memerlukan waktu 15 tahun. Artinya kegiatan eksplorasi memerlukan waktu lebih dari satu kali siklus eksplorasi.

Apabila pengalaman ini akan diulang, maka diperlukan review serta recycle kegiatan eksplorasi dengan segera. Dengan data-data baru yang diperoleh sejak tahun 2005 ini diperlukan sebuah kegiatan review secara menyeluruh dengan study cekungan yang komprehensip.

Dengan masih terkendalanya dengan keterbatasan akses terhadap yang ada pada kontraktor pelaku eksplorasi maka Pemerintahlah yang paling memungkinkan untuk melakukan kegiatan ini. Pemanfaatan data-data terbaru (pasca 2005) ini mutlak harus dilakukan segera, sehingga siklus eksplorasi ini akan terus berjalan tanpa harus menunggu waktu pengembalian WK yang belum berhasil. Sehingga WK-WK yang dikembalikan ini dapat ditawarkan ulang dengan sebuah pandangan baru yang lebih menarik.

• Evaluasi ulang New Play, New Concept.

Ada beberapa WK yang telah melakukan kegiatan eksplorasi hingga melakukan pengeboran. Penambahan data point ini harus mampu memberikan informasi tambahan untuk pengembangan-pengembangan play baru (new play concept), atau merevisi play-play yang belum berhasil. Dengan merevisi dan menemukan play baru hasil dari pengeboran dan akuisisi seismic oleh WK-WK yang dioperasikan sejak 2005 ini, semestinya penawaran WK-WK selanjutnya harus menyertakan informasi ini. Data paket yang ditawarkan sudah seharusnya menyantumkan informasi-informasi terbaru.

Gambar3

Belajar dari Negara Tetangga

• Akuisisi Data Baru

Ketersediaan data harus dilihat dan dipahami dan disesuaikan dengan stadia eksplorasi yang data. Penambahan data tidak hanya didorong oleh ketiadaan data. Bukan hanya mengisi area yang belum meiliki data secara geografis, tetapi akuisisi data baru semestinya ditargetkan mematangkan potensi yang sudah ada. Disinilah perlu dipikirkan untuk akuisisi data-data khususnya untuk prospek-prospek yang sebelumnya sudah terindentifikasi namun tidak dilakukan uji pengeboran namun masih memiliki peluang untuk berhasil.

😦 “Pakde, akuisisi data itu maksudnya mengambil data baru kan, kan kan ?”

Program penambahan data ini misalnya, daerah yang sudah diketahui “proven petroleum system” dapat ditambahkan data 3D seismic untuk menambah ketepatan pemilihan lokasi sumur. Atau daerah yang sudah memiliki potensi jebakan tetapi masih diragukan “petroleum system”nya dapat ditambahkan data “drop core/oil seapage” . Sehingga daerah ini akan jauh lebih menarik untuk dilakukan uji pengeborannya.

• Perlu Revisi/revisit Peta Tektonik

Peta tektonik Indonesia Timur yang terakhir dipublikasikan adalah peta tahun 2008. Dimana peta ini belum memperhitungkan atau belum menggunakan data-data hasil seismic terbaru. Perlu dilakukan revisi untuk membuat peta tektonik khususnya di Indonesia Timur.

Untuk mememberikan percepatan kegiatan eksplorasi, program akselerasi eksplorasi di Indonesia Timur perlu memperhitungkan stadia WK eksplorasi daerah yang sedang dikerjakan, review dan revisit daerah yang dikembalikan, Evaluasi ulang new play concept, revisi Peta Tektonik Indonesia, khususnya dengan menggunakan data-data yang baru yang diakuisisi sejak tahun 2005.

Gambar4

Perlunya revisi dan revisit peta tektonik Indonesia. Setelah adanya data-data baru yang telah diakuisisi oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi sejak 2008 lalu.

Dengan bertambahnya data-data sejak dikerjakannya eksplorasi intensif di Indonesia Timur, termasuk didalamnya data seismic, data sumur, serta data-data penunjang lainnya (Multibeam Bathymetry, Dropcore etc) study cekungan perlu dilakukan ulang termasuk didalamnya perlu dikerjakan oleh pemerintah yang memiliki akses pada seluruh data-data ini.

Kesimpulan

Dalam jangka pendek perlu dipersiapkan kemungkinan net-impor gas pada tahun 2017 dan kemungkinan net impor energy total pada tahun 2025.

Selain percepatan kegiatan eksplorasi sumberdaya energy tentunya beberapa tindakan dan perubahan utama yang masih memungkinkan dilakukan sesuai dalam kemampuan kita saat ini antara lain:

  1. Meningkatkan eksplorasi sumberdaya energi dengan akselerasi khususnya migas di Indonesia Timur.
  2. Mengantisipasi kemungkinan terjadinya percepatan net impor energy total tahun 2024.
  3. Mengurangi ketergantungan pada minyak dengan mengembangkan sektor gas alam dan gas nonkonvensional.
  4. Diversifikasi energi mix kita dengan percepatan rencana untuk mengeksplorasi sumber-sumber energi terbarukan.
  5. Mengurangi beban subsidi minyak dan mengalokasi dana-dana tersebut ke area-area yang diprioritaskan.

Penguatan Ketahanan Energi dapat dioptimumkan antara lain melalui penghematan energi dan penggunaan energi terbarukan maupun energi tak terbarukan yang diproses supaya ramah lingkungan, mempercepat penguasaan teknologi di bidang eksplorasi, pengelolaan, konversi, penghematan energi dan teknologi energi baik terbarukan maupun takterbarukan. Disamping memproduksi dan memanfaatkan energi secara optimal di dalam negeri maka Indonesia perlu mengusahakan energi di luar negeri karena disamping memperoleh keuntungan sebagian hasilnya diimpor untuk digunakan di dalam negeri.

References :

  • Hutagalung, and Hartono (2012), “The Economic-Wide Impact of Natural Gas Allocation in Indonesia: An Analysis Using Recursive Dynamic Computable General Equilibrium Model”, in Fifth Annual Conference On Competition And Regulation In Network Industries 30 November 2012 Residence Palace, Brussels, Belgium
  • BPPT 2012, Outlook Energi Indonesia 2012. Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
  • Media-Media lain.

😦 “Wah emang Pakde ga bisa diganggu. Howgh nulisnya panjangan banget”

 

Satu Tanggapan

  1. nice info gan, teruskan!!!
    mampir ke bawah ya gan

    http://bit.do/utm-murah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: