Geothermal murah untuk skala kecil di Mataloko
6 November 2009 at 6:53 pm | In Energi, geothermal, gunungapi | 5 CommentsTags: energi listrik, geothermal, panas bumi, skala kecil
Berbicara soal energi tentunya tidak lepas dari energi yang melimpah di Indonesia. Ya. Energi geothermal atau panas bumi.
Namun dibenak ini seringkali terbentur bahwa pengembangan energi geothermal merupakan “makanannya” pengusaha bermodal besar. Modal besar ini hanya menarik buat perusahaan raksasa saja.
Kebetulan seorang sahabat saya Birean Sagala, yang bekerja di Chevron, bercerita pengalamannya ketika jalan-jalan melihat Geothermal skala kecil.
Nah, apa dongengan Om Birean kali ini ?
Jalan-jalan di Mataloko
Sebagai pendukung geothermal, sebenarnya Birean sangat mendambakan ada kebijakan dari Pemerintah untuk membuat regulasi khusus yang bisa merangsang investor mendevelop geothermal skala kecil di kepulauan Indonesia yang sangat remote, khususnya di Kepulauan Indonesia Bagian Timur. Kecil maksudnya adalah mungkin dibawah 10 MW.
“Pakdhe 10 MW itu kira-kira seberapa besar sih ?”
“Ya mudahnya bisa untuk satu kecamatan di Jawa ini, Thole”
Om Birean ini pernah berkujung ke P-Flores disana ada project PLN Mataloko (ada beberapa wells sudah di bore) power plant dengan capacity 5 MW? Sudah di installed.
Tapi menurut Om Birean sampai sekarang kelihatannya belum jalan mungkin ada problem teknis, yang mau saya ceriterakan disini bukan masalah jalan atau tidak jalannya project ini, tapi kreatifnya mereka yang ada di project menggunakan steam yang ada untuk generate listrik utk keperluan di camp. Mereka membuat turbine generator (katanya di buat di Bandung) dan generator diputar dengan mengunakan steam dari well head (back pressure) dan bisa menghasilkan 80KW. Lihat gambar.
Konon katanya mereka ingin mendesign utk yang 0.5 MW dan 1-MW?. Kalau kita lihat gambar tersebut di bawah, kotak merah mungkin adalah dynamo?, bisa di beli murah di Glodok, warna perak (bentuk spiral) adalah tempat blade/kipas yang di dorong oleh steam shg terjadi putaran.
Untuk pengembangan geothermal (skala industry) memang mahal di awalnya, component cost yang paling besar adalah di sector Power Plant dan Pemboran well, konon katanya :
- Power Plant harganya = USD 1-1.5MM/MW (buatan luar),
- 1 wellbore (standard big hole Pertamina = production casing mulai dengan 10-3/4” sampai ke 7” perforated liner) costnya berkisar USD 5 sampai 7 MM/well.
- Infra structure ya mungkin USD 1- 0.75 MM/MW?.
Tapi dalam kasus ini kita coba berandai-andai dengan menggunakan barang local. Misal kita order generator buatan local, infrastruktur bisa ngirit, hanya mungkin problem di cost utk well??.
Pengalaman negeri lain
“Thole, sekarang kita dengar dongengan Om Birean melanjutkan ceritanya”.
Saya pernah diskusi dengan geologist Canada yang pernah mendevelop Geothermal di Afrika (Kenya) ketika itu mereka membuat well completion relative slim, well designya mungkin bisa dicari di om Google. Big hole memang di design untuk field besar. dan bisa memproduksi 40 MW/well. Di Kenya mereka bisa drill 1- well bore dengan kedalaman 1800-m dengan biaya USD 2MM. Sebenarnya secara small scale technology ini bisa kita realisasikan di lapangan asalkan pemerintah men-support.
Sebagai illustrasi, Sokoria prospect di Ende, telah di tenderkan (kalau tidak salah pemenangnya group Bakrie) dengan harga USD135/MWh estimasi resource 30MW.
Mari kita bikin scenario dengan PPlant buatan local dengan harga listrik USD 135/MW, untuk produksi 2-MW. Simple model ekonominya= Gross Cash Flow = (135×2x24×30)/month = 194.4k/month.= 2.3 MM/year(roughly), mungkin dalam 1 thn tidak full bekerja bisa di kali fasktor mis 0.75 atau 0.90 terserah.
Capex (capital expenditure).
- Explorasi =USD 0.7MM
- 2-wells =USD 4 MM
- PP(2 MW-lokal) =USD 1.0 MM (no idea berapa?, mis 0.5 MM/MW)
- Infrastruktur =USD 0.3 MM
- Grid line?? =USD 2.0 MM (no idea berapa)
- Total Capex =USD 8.0 MM
Gross Cash Flow =USD 2.3 MM/years,
Apakah ini menarik?? Kita tanya sama ahli ekonomi, kalau tidak menarik kita cari components mana yang bisa di utak atik supaya menarik??
Dari pengalaman explorasi di Indonesia untuk mendapatkan 2 sampai 4 MW/ well itu tidak terlalu sulit, di Coy besar well dgn produksi dibawah 5MW sudah tidak menarik.
Ini adalah scenario yang sangat kasar, tapi dengan model ekonomi yang simple ini kita bisa membuka mata untuk melihat lebih jeli potensi small scale ini. Kontrak Geothermal biasanya 30 thn diluar masa explorasi dan Development. Kalau pemerintah bisa bantu di penyediaan grid-line dan perpajakan akan lebih menarik lagi angka-angkanya tsb diatas.
Impian investor
Sebagai praktisi sebenarnya kita pingin untuk mendapatkan block/ground geothermal di remote area yang tidak terlalu complicated persyaratan utk mendapatkannya, tdk banyak pungutan dll. Sederhananya begini, katakan satu Kabupaten, Bupatinya mengundang investor (melalui media), ini saya punya daerah, punya potensi geothermal, saya butuh 10MW dengan harga USD140/MW, yang berniat serious, stor duit USD 10MM (kira-kira 30% dari total investment) di Bank daerah kami sebagai tanda keseriusan, (duit tsb nantinya akan dipakai untuk explorasi, pemboran dll). Dengan model ini mungkin investor langsung ambil kalkulator untuk hitung-hitung ekonominya. Naluri Investor akan mengatakan kalau ada margin dan aman bussinesnya kenapa tidak.
Nah, kalau saja yang diuraikan Om Birean yang sudah berpengalaman di dunia geothermal ini dipalikasikan, tentusaja geothermal tidak harus dengan skala besar. Tidak harus perusahaan besar yang menimbulkan konflik terlalu rumit.
Apakah Pak Menteri ESDM yang baru bisa mengakomodir pemikiran paraktis seperti ini ?
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.


Iklan Gratis



Assalamu’alaikum Pakdhe, lebih baik jika melibatkan investor lokal dulu, agar uang berputar di antara kita.
Komentar oleh Wahyu Exano — 10 November 2009 #
Pakde keren.gmn kalu lgsg dfwd k pak mentri aja.?
Komentar oleh Admin — 12 November 2009 #
Kang. Panas bumi kita yang di Kamojang, Dieng (Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat) apa sudah Operasi menghasil kan tenaga listrik? Mungkin PLN tidak mengetahui panas bumi kapan habisnya, takut investasi mahal kena lahar dan biaya perawatan mahal karena uapnya mengandung belerang, kalau pakai minyak kan dapat diminum ramai-ramia? Ini bukan nuduh tapi sudah kejadian minyak nya diminum.
Komentar oleh Bimo Ariyotejo — 13 November 2009 #
Sudah, Kapasitasnya masih diatas 90% dari original design
Komentar oleh Rovicky — 13 November 2009 #
Kangmas, maaf ini pendatang baru, jadi agak banyak komentar. Mau tanya kenapa cerita yang sudah sudah, adakah cerita yang baru? bukan kempa tapi askes? gimana ya, bagus ditunggu tanggapannya
Komentar oleh trien_tip — 14 November 2009 #