Whalllah banjir !!
2 Februari 2007 at 3:54 am | In Bencana Alam, Nggrundel, RuPa-RupI | 22 Comments
Hari pertama aku dateng di Jakarta dari Kuala Lumpur kemaren (1 feb 07) disambut hujan deres malamnya.
Paginya jam 3.30 disambut gempa ….
Hari ini disambut banjirrr dimana-mana …
Pegawe kantor yg semestinya ditraining ga bisa dateng …. mau mbalik KL juga ga bisa wong jalan toll airprot issuenya lumpuhh …
-
“Duh ! pripun niku, Dhe ? Njenengan pun ngramal gitu kok ya masih ketiban duren ta ?”
+![]()
Jakarta memang merupakan daratan banjir
Tanah penyusun kota jakarta, terutama Jakarta Utara adalah endapan banjir. Peta geologi kota Jakarta sangat menunjukkan hal itu. Peta yang aku tampilkan ini bentuk sederhana dari peta yang diterbitkan oleh P3G Bandung.
Peta geologi ini menunjukkan pelamparan endapan muda volkanik yang menumpang diatas batuan volkanik. Coba perhatikan bentuk sungai yang menggerus endapan volkanik ini, sehingga disekitar torehan-torehan sungai akan terlihat batuan yang berada dibawahnya. Lihat penampangnya dibawah ini.
-
”
Whaduuuh cilik menthik Pak Dhe, di klick tetep ga mudeng Dhe … Buatin yang mudah gitu PakDhe !
+
“Wah ini asli dari Pak Bammelen. Pak Bammelen ini Geologist Londo yang membuat buku geologi indonesia secara lengkap. Ya wis aku gawekke sing sederhana dibawahnya lagi ni”
Di gambar yang dibawah ini semestinya mudah dimengerti bahwa sebenarnya dibawah kota jakarta ini banyak endapan-endapan pantai. Endapan ini dibentuk dengan cara apa … Ya salah satunya dengan mekanisme banjir itu. Makanya tidak mudah membuat Jakarta bebas banjir.
Walaupun jakarta dientuk oleh endapan banjir tetapi jangan trus nrimo gitu saja.
Banjir akan selalu saja datang tetapi manusia tentunya juga memerlukan tempat untuk hidup. Yang penting kita pinter-pinteran dengan alam. Lah wong Belanda saja bisa membendung sebuah teluk untuk dijadikan tempat tinggal kok. Artinya kalau ada usaha rekayasa teknik (engineering) ya memang mungkin membuat Jakarta bebas banjir.
Sik sik aku kudu balik ke KL, sik …. : D
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Iklan Gratis



wah,, malang sekali,, lagi ga rejeki tu,,
tapi emg bnr,, alam di negeri ni uda mulai berumur,, jadi ya…
begini…
Komentar oleh yustina — 2 Februari 2007 #
Whuah,.. Pakdhe, jangan2 krn Pakdhe datang? Wualah, mesti diruwat itu
.
Komentar oleh DilLa — 2 Februari 2007 #
Kayaknya ramalannya Pak Dhe mulai terbukti nih… Selamat datang di tahun waspada…..Waspadalah…Waspadalah (Kata bung Napi)
Komentar oleh Prasojo — 2 Februari 2007 #
ngertiyo rasah mangkat yo kang
Komentar oleh budhe — 2 Februari 2007 #
sing sabar mawon kang, sifate banyu yo ngono kuwi, dijarno mili, di bendung munggah amber.
Komentar oleh nng — 3 Februari 2007 #
Injih Mas Nanang
Acara sabtu juga batal. Aku mesti balik ke airprot cepet2. Saat ini (pagi) Jakarta masih diliuti mendung hitam merata.
Semoga tidak hujan lagi …
whadduh … jelas mendung hitam kok doa ngga hujan apa ya bisa ya ?
Komentar oleh Dongeng Geologi — 3 Februari 2007 #
Assalamualaikum wr wb..
Kenapa Banjir? kenapa Bencana semakin sering turun?
ini bukan karena kita tidak pafam bagaimana teknologi menghindari BANJIR.
Tetapi, ini pertanda “hubungan kita dgn ALLAH sedang rusak”, maka yg diperlukan bukan mempersiapkan “teknologi anti banjir”, tetapi bagaimana memperbaiki Hubungan kita dgn ALLAH, agar yg turun bukan lagi bencana, tetapi keberkahan.
Mari kita perbaiki hubungan kita dgn ALLAH, dgn membuat amalan yg disukai ALLAH, dan buat “USAHA”, usaha apa? usaha AGAMA! karena memperbaiki hubungan dgn ALLAH cuma lewat AGAMA. dan sambungkan diri kita dgn MESJID.
Komentar oleh Abdullah — 3 Februari 2007 #
pak rovicky : Sik sik aku kudu balik ke KL, sik …. : D
wah2 pak rovicky melarikan diri kah dari banjir?
ayo pak berikan pencerahan buat pemerintah biar ga keulang banjir lagi…btw mengenai komennya pak Abdullah, jadi inget ulasan kang Murtajib yang tentang “Masa sih Tuhan melakukan pekerjaan remeh seperti itu, mengirim banjir..”…
Komentar oleh antobilang — 5 Februari 2007 #
Ass.wr.wb
Halo Pak dhe salam kenal yah…
Banjir yang terjadi di jakarta memang selalu dikaitkan dengan fenomena alam dan kita mau tidak mau setuju akan hal itu, seperti yang telah dijelaskan disini bahwa sebagian jakarta dibentuk dari endapan banjir. Akan tetapi sebenarnya kita bisa lho belajar dari pengalaman dan sejarah bahwa banjir besar seperti ini terjadi setiap 5 tahun seperti yang dialami juga pada tahun 2002.
Seyogyanya berangkat dari pengalaman itu insinyur-insinyur ahli rekayasa atau ilmuwan-ilmuwan ( yang mungkin rumahnya kebanjiran juga ;p ) belajar bagaimana mengatasi atau paling tidak mengurangi dampak yang ditimbulkan apabila hal ini berulang kembali. Kita ini oleh Gusti Allah diwarisi kemampuan untuk berpikir sehingga dapat membuat kehidupan menjadi lebih baik. Oleh karena itu “usaha” pun tidak hanya vertikal saja ke atas tapi horizontalnya dalam bentuk nyata juga harus dilakukan.
wass. wr wb
Prasso
Komentar oleh Prasso — 6 Februari 2007 #
Pak Dhe
Matur nuwun sekilat assesmentnya, saya yg miskin informasi jadi mudheng ttg banjir jakarta. Saat ini saya jauh dari jakarta, tp keluarga ada disana.
Ngomong2 ttg menanggulangi banjir, dari jaman Ali Sadikin, udah dirancang banjir kanal barat dan timur. Saya yg bukan org jakarta jadi pingin tahu, apa itu banjir kanal?apa ini capable mengatasi banjir dimasa dtg?kok gak selesai2 mbangunnya…apakah kanalnya nanti jg anti gempa…
Buat sdr Abdullah
saya setuju kita harus semakin dekat ke Allah, tp bukan pas susah aja, pas senang juga. terkait dgn gempa, secara vertical kita pasrah dan terus mendekatkan diri ke Allah, secara horizontal kita jg berusaha menyiasati disaster dgn kemampuan kita. Allah mencintai orang yg berdoa dan berusaha.
Wassalam
aku di Baku
Komentar oleh yudi — 6 Februari 2007 #
Memang Tahun bencana nhi
Di Tempatku Porong Banjir Lumpur & di Banjir kiriman
ini semua memang ulah manusianya
Hutan bagus – bagus kok Ditebangi
Alam bagus – bagus kok dirusak
Komentar oleh mulyadi — 7 Februari 2007 #
Permasalahan penyebab banjir Jakarta yang belum banyak dibahas adalah faktor landsubsidence. Seperti kita ketahui bahwa endapan aluvium yang melampar dari Pulogadung – Monas sampai Daan Mogot ke arah pantai adalah endapan aluvium yang masih berumur kurang dari 5000 tahun dan tebalnya lebih dari 250 m, dimana endapan ini masih belum mengalami konsolidasi (proses pemampatan) dengan baik sehingga faktor pemampatan alami masih berlangsung hingga sekarang. Disamping itu pengambilan air tanah oleh industri/hotel dll telah mempercepat proses Konsolidasi aluvium Jakarta, akibatnya secara regional Jakarta mengalami penurunan tanah (landsubsidence). Hasil data dari Dinas Pertambangan DKI Jakarta tahun 1997 : di daerah Rawa Buaya, Sunter penurunan telah terjadi > 7 cm/th berarti kalau dianggap linier selama 10 th telah turun 70 cm
Sebagai pembanding pihak jalan tol memperkirakan dari beban jalan tol hanya akan terjadi penurunan kurang dari 90 cm sehingga diperkirakan tidak akan berada di bawah muka laut, tapi kenyataannya sekarang tol Cengkareng pada km 25-26 sudah berada di bawah muka laut (saiki wis dibangun jembatan neng tol Cengkareng, ben ora kebanjiran), hal ini menunjukan bukti lagi bahwa Jakarta telah mengalami landsubsidence.
Konklusinya bila faktor landsubsidence tidak dipertimbangkan dalam penanggulangan banjir maka usaha itu akan percuma, karena memang topografinya selalu turun.
Permasalahannya sekarang PAM Jaya dapat tidak mensuplai air bersih bagi populasi yang tinggal di Jakarta sehingga pengambilan air tanah dapat dikurangi dengan konsekuensi PAD dari retribusi air tanah akan hilang atau pihak Pemda DKI akan menggalakan proses imbuhan air tanah baik yang dangkal maupun yang dalam.
Iki mung omong-omong kosong sinambi ngicipi teh nasgitel lan gorengan tela
Sumannga
Komentar oleh Dodid — 14 Februari 2007 #
Njih Mas Dodid,
Nanti malam tak ndongeng soal Land Subsidence Jakarta
Komentar oleh Rovicky — 14 Februari 2007 #
Minta tolong dong kalau bisa dibantu saya butuh peta 13 aliran sungan di Jakarta
Komentar oleh Joko — 9 Maret 2007 #
Jakarta itu kayak SPON, udah beban gedung berat banget ditambah lagi dengan exploitasi air tanah…..jadinya…..ambleg (kata orang Jawa)…udah deh….pindahin aja ibukota ke Papua
Komentar oleh Tania Edna B — 3 Januari 2008 #
[...] Whalllah banjir !! [...]
Ping balik oleh Banjir Jakarta, Banjir Solo, dan Banjir Pinggir Pantai « Dongeng Geologi — 9 Januari 2008 #
aqu mau tanya!!!!!
ada hubungannya g sih banjir di jakarta ma paleogeomorfologi jakarta???
mang dulunya jakarta tuh apa???
gimana prosesnya yah koq bisa jadi kayak sekarang???
Komentar oleh faqh — 12 Mei 2008 #
[...] Kondisi geografis Jakarta yang berbakat tergenang air. [...]
Ping balik oleh Let’s make the road safe » Blog Archive » Banjir Jakarta 2007 — 11 September 2008 #
[...] Whalllah banjir !! [...]
Ping balik oleh Jakarta yang “makin” sumpek - 2. Tak se’sexy’ dulu ! « Dongeng Geologi — 28 Oktober 2008 #
Susah Merubah Kejadian Alam dari Pikiran Perkembangan Cara Mengatasi dan Tangan yang Berkerja. Karena itu udah Jadi Seperti Garis Melengkung
Komentar oleh verna — 29 Oktober 2008 #
[...] ada yang menarik dari sebuah bacaan disini yaitu tentang andaikata jakarta kena banjir dan tenggelam. Seperti yang saya baca di Kompas Edisi Ini yang katanya tahun 2050 jakarta akan terendam. Secara logis jakarta merupakan daerah delta dahulunya dimana endapan delta berasal dari kali-kali yang mata airnya bersumber di sekitar puncak dan kali ciliwung. Permasalahan letak utama tentunya tidak lepas dengan daerah resapan jakarta. Ya referensi geologi jakarta saya dapatkan di blog dongengan ala geologi di rovicky [...]
Ping balik oleh Andaikata Jakarta Tenggelam… « Syawal88’s Blognya Geologist Muda — 3 Maret 2009 #
wah pak dhe kayaknya donegengan landsubsidence menarik pak dhe… semarang juga saya tahu merupakan daerah rawan subsidence…. mana lagi yang saya dengar intrusi air laut dah sampai simpang lima pak dhe…. Saya tunggu lo.. Pak dhe dongengan subsidencenya ……
Komentar oleh Syawal — 11 Maret 2009 #