Adakah Korelasi Tingkat Pendidikan dengan Keberhasilan Karir?


Saya juga jadi gatal menanggapi tulisan berjudul diatas itu dari sebuah mailist Migas Indonesia tentang hal ini.

Lah kok kebetulan saja saya tidak sependapat dengan Pak Togap Siagian. Skali lagi sekedar berbeda bukan masalah benar dan salah … Pak Togap Siagian ini telah sukses mengelola mailist beasiswa.

– 😦 ” Wah Pakdhe, aku juga mau donk dikasi beasiswa?”
+ 😀 “Yo harus pinter Tole, IP harus tinggi ”
– 😦 “Katanya Index prestasi tidak menentukan karier Pakdhe”
+ 😀 “Walaupun banyak yang bilang IP tidak menentukan karir seseorang, tapi tanpa IP tinggi kamu akan lebih sulit diterima ditempat kerja. Lah wong banyak yang ngasih syarat melamar saja IP diatas 3.0, Tole .. Jare simbah ‘do you wanna a hard way or normal way’ ?”

Menurut saya pendidikan “formal” berbanding lurus dengan karier dan prestasi. Saya memang tidak (punya) menggunakan data otentik atau melakukan survey tetapi secara intuitif saya bisa mengatakan hal itu, mengapa saya berbeda dengan Pak Togap ?

Quote —
Kalau ditanyakan bagaimana proyeksi karir dengan pendidikan, jawaban saya: sekitar 20% saja. Lho kok sedikit sekali. Ya, karena pada kenyataannya, tingkat karir sering kali tidak berkorelasi linier dengan tingkat pendidikan. Seorang dengan pendidikan S2 atau S3 tidak selalu akan mendapatkan karir yang baik.

Saya melihat apa yang dijabarkan oleh Pak Togap adalah konsentrasi pada mereka-mereka yang sukses dan berada diatas. Sehingga hasilnya hanya menunjukkan korelasi sekitar 20% saja (seperti yang beliau tuliskan diatas). Tetapi kalau kita menggunakan seluruh populasi data, saya yakin yang menempuh pendidikan formal akan lebih sukses ketimbang yang tidak menempuh pendidikan (formal). Saya malah memberikan korelasi 80% !

Memang betul Bill Gates sukses bukan karena pendidikan (formal) yang menyandang gelar, juga Purdi E Chandra mendirikan Primagama padahal belum lulus kuliah. Tetapi harap diingat bahwa hanya satu diantara seribu atau berjuta orang yang seperti mereka. Mereka harus diperlakukan sebagai anomali dalam distribusi kejadian, mereka bukanlah modus yang dapat sebagai sebagai pernyataan korelasional.

Aku lebih suka menggunakan contoh dengan data statistik negara maju dibanding negara berkembang. Negara-negara maju memiliki prosentase sarjana yang lebih tinggi ketimbang negara berkembang. Jumlah Phd Indonesia ini suangat kecuil dibanding negara-negara tetangga kita. Saya sendiri takut barangkali karena selama ini lebih banyak yang menggunakan analogi atau argumentasi anomali dalam menjawab tantangan karier. Sehingga seseorang akan sangat terpacu oleh anomali-anomali dalam mengejar karier. Padahal dirinya bukanlah anomali. Dirinya bukanlah Bill Gates, dirinya bukanlah Purdi E Chandra, dirinya hanyalah ordinary people. Psst tahu nggak … lah wong anaknya Bill Gates dan dan anaknya Purdi juga masih dimasukkan sekolah formal juga.

Mengapa China harus diperhitungkan oleh Amerika dalam kaitan pentingnya pendidikan formal ini ? Aku sitir pidato Menkeu Dr. Jusuf Anwar, MA Menteri Keuangan RI dan Dosen Pascasarjana Universitas Padjadjaran di Bandung, 21 Mei 2005 tentang pentingnya pendidikan Doktor :

Quote — Jumlah doktor di China sampai akhir 2001 adalah 78.000 orang dan pada tahun 2002 sebanyak 37.000 calon doktor sudah mulai belajar, sehingga betul bahwa menurut perkiraan, tahun 2010 jumlah doktor di China akan melebihi jumlah doktor di Amerika Serikat dan Jerman, karena pada tahun 2001 saja, di Amerika Serikat jumlah doktornya hanya bertambah sebanyak 40.000. Itupun sebagian bukan merupakan warga Amerika Serikat.

pendidikan-karier.jpgApakah yang ditulis Pak Togap ini salah ?
Woo jangan begituuu … beliau menuliskan sebagai motivasi individu, walaupun menurut saya bukan sebagai sebuah pengungkapan fakta general tetapi untuk individu apa yang beliau tulis harusnya memberikan semangat kepada mereka yang tidak sempat mengenyam pendidikan (formal) tinggi. Perubahan itu memang bisa terjadi karena motivasi, bukan karena fakta general. Tetapi dalam hal “iming-iming” memang akan lebih mudah menggunakan iming-iming dengan argumentasi anomali ketimbang argumentasi modus, mean atau median dalam sebuah sebaran data, kan ?.

Secara intuitive saya gambarkan grafis hubungan pendidikan dengan karier seseorang. Ini bukan berdasarkan data real, hanya mempermudah menjelaskan saja.

gaji-1.jpgPada jenjang karier rendah-menengah, maka pendidikan (formal) merupakan hal yang sangat penting. Karena disinilah intinya “bekerja”. Dalam karier yang tinggi maka korelasi antara pendidikan dengan karier (mungkin) akan rendah karena dalam karier atau jabatan tinggi, maka bukan hanya pendidikan formal, bukan hanya ilmu dan pengetahuan saja yang diperlukan. Dalam tulisan sebelumnya tentang konsultan apa yang dapat dijual oleh seorang profesional tergambar disana bahwa knowledge akan selalu diperlukan pada jenjang (usia) kapapun.

Memang ada bahayanya ketika menggunakan argumen anomali ?.

Seorang anak yang dibilangin si mBoknya gini,
“nDuk, mbok ya kamu kuliah yang baik” …
“Wah mBok, si Bill Gates aja itu drop out dari sekolah ya sukses kok ”
“Emange kamu keturunan Bill Gates ? wong kowe anake si Mbok bakul pasar yo tetep mesti sekolah. nDuk !”

Apakah mementingkan pendidikan formal pasti selalu bagus ?

Blaik .. !! tidak ada yang pasti didunia ini semua selalu ada anomali. Lah wong kenyataan juga banyak yang mleset juga kok di negeri ini. Ketika pendidikan formal dianggap penting sekolah menjamur tetapi malah mleset juwal-beli” ijazah yang terjadi !

Walaupun begitu, hal ini menurut saya ini akibat dari pemikiran jalan pintas tadi.
Masih ingat ngga ?… masa-masa menjelang milenium baru (akhir 90-an) banyak sekali kursus-kursus yang mengajarkan “Cara singkat untuk sukses !”.. trus ada lagi … “Short cut to raise your career !” “... tips and trick for … bla bla ..“. Saat ini kursus mimpi mengukir langit sudah banyak harus dikurangi, saat ini kursus membuat patung dengan batu dibumi lebih penting.

Dahulu, itu semua terjadi ketika argumentasi anomali lebih dipakai mencari jalan pintas sukses (trick). Dimana sesuatu saat kenyataan fakta yang asli dan benar telah diplesetkan. Ketika sekolah dibilang yang penting, eh malah mleset menjadi ijasah lebih penting ! wee lah kojur ane !

Saya hanya berpendapat berbeda melihat kesuksesan (karir) dengan Pak Togap. Pak Togap Siagian melihat kesuksesan (karir) individual saya melihat kesuksesan (karir) komunal.

itu saja kok …

60 Tanggapan

  1. cccccccccccccccccccccccc

  2. Assalamu’alaikum…

    salam kenal….
    kesuksesan karer…..yups,,,masih d dominasi pleh pendidikan , n koneksi …..

  3. Find all Career Tips, Resume Building, Interview Tips and much more.

  4. termanggut2 baca ini blog**

    huehehe..

  5. Assalamu’alaikum…

    salam kenal….
    kesuksesan karer…..yups,,,masih d dominasi pleh pendidikan , n koneksi …..

  6. hmM,

    nambahin dikit. kayaknya terjadi kesimpangsiuran topik y? menurut saya, topik yg dibahas tu bukan “korelasi tingkat pendidikan dengan keberhasilan karir”, tapi “korelasi tingkat pendidikan dengan kesempatan untuk bekerja dengan orang lain”,,

    bill gates g bisa di ambil contoh bt kasus ini karena bill gates ga kerja ma orang lain (jadi, dy g butuh IPK yg bagus bt mendirikan perusahaan, wong g ditanyain ma orang lain “IPK kamu berapa, Nak?”).

    jadi, tergantung individunya, ingin kemana? kerja d perusahaan ato bikin perusahaan?

    P.S: penulis hanya mahasiswa eksakta yg terjebak antara tuntutan IPK vs Softskill yg tinggi

  7. Pertama, koreksi: “… dijual 100 kali lipat…” seharusnya ” ..10 kali lipat..” saja:) nanti dianggap Perbudakan lagi:), padahal tadi lihat ada penawaran $0,5 untuk bola yang dijual di ebay $15. Kemarin ada yag beli celana Guess 1,5jeti, aduh.. UMR saya berapa yak?:)

    Buruh konstruksi kita sukses membangun Menara Kembar Petronas, Metro Manila. Buruh Perkebunan kita sukses Membangun Agroindustri Malaysia. Pertamina “sukses mendidik” Petronas.

    “kijang” diekspor tetapi tentu Tidak ada “Kijang” di LN. Poduk PT PAL diakui dunia, walau kita meyayangkan nasib PT DI (kualat nama kata Ompapang). di tengah maraknya “value airlines”.

    Mengenai Nilai tambah, saya sependapat. Indonesia mengungguli Malaysia dalam VOLUME CPO, tetapi masih kalah jauh dalam NILAI JUAL Produk Turunan. Hal yang sama terjadi di banyak sektor, Tambang, Jasa, Advertising, Manufaktur, Sinetron, dll.

    Tetapi itulah yang terjadi, apakah demikian Kualitas Policy Makernya (Pemerintah dan Pengusaha)? ataukah karena “Pementasan” harus demikian?.

    Bahwa itu menjadikan HARGA buruh / Karyawan Indonesia saat ini, tak lebih seharga se-pixel nama Nike, Mikasa, Petronas, dll. Alangkah sayangnya, maka wajar (?) Ekpats di Indonesia “lebih mahal” dari Indonesian yang menjadi “ekspat’? Too bad!

  8. @ barista:
    jangan salah loh, banyak tenaga kerja asal indonesia yang skilled & experienced, meskipun hanya lulusan setingkat SMA telah banyak dipakai (baca: pindah) terutama di sektor petrokimia di middle east sana dengan gaji 10 kali lipat daripada gaji waktu bekerja di indonesia.
    Padahal kalo dipikir, industri tempat mereka bekerja disana itu, sama persis dengan industri tempat mereka bekerja di indonesia dulu, yang berarti memakai bahan baku yang sama (yang bisa berarti harga pembeliannya mirip), proses produksi yang sama, produk yang sama dan harga jual internasional yang realtif sama juga.
    selain gaji yang 10 kali lipat, mereka juga dapat tempat tinggal gratis + perabotan lengkap, tunjangan istri dan anak, tunjangan pembelian mobil, uang cuti dan uang tiket sampai hometown mereka di indonesia, pokoknya nggak bisa dibandingkan dengan apa yang mereka dapat di indonesia dulu.
    Padahal industrinya sama persis sis!!! tanya kenapa???
    Skilled employee di indonesia sebenarnya underpaid dari yang seharusnya. Lha wong gaji hanya cukup untuk kebutuhan primer kok, nyicil rumah yang baru lunas pas anaknya dah lulus SMA…
    Kalo cuman masalah pesangon dan masalah ketenagakerjaan lainnya, itu gampang saja. berikan saja gaji dan fasilitas yang sama, atau minimal setengahnya lah, dari yang kerja di mideast sono, nggak akan ada yang nuntut pesangon, karena otomatis mereka pada bisa nabung buat pensiun mereka.
    Lha wong skilled worker di indonesia hanya digaji setara dengan babu di mideast sono.

  9. “Nanya nich:), Produk Bola Sepak atau Cock atau Nike itu OEM bukan? Standarnya apa?
    Kalau produk akhirnya dijual 100 kali lipat dan dipakai di seantero dunia. Apakah kualitas RIIL itu karena embel-embel Nike or Mikasa saja??”

    Ini maksudnya apa?
    Hubungan dg upah buruh kita yang jomplang dg upah buruh Amrik?

    Justru karena bikin yang gitu2 tidak perlu skill tinggi, maka Nike order ke negara2 berkembang. Ngga mau dia bikin pabrik sendiri di Amrik.

    UMR Eropa/US tinggi, ya makanya investor yang masuk sana juga yg pabrikan hi-tech atau industri service. Kenapa Airbus dan Boeing ngga bikin pabrik di negara berkembang?
    Selain itu disana juga lebih siap infrastrukturnya dan lebih stabil secara politik. Itu yang belum bisa kita siapkan.

  10. Kalau tidak salah baca, permasalahan UU Naker (jaman Mega = pro buruh??), adalah pasal PHK & PESANGON.

    Misal karena hal NEGATIF, dipecat kok dikasih Pesangon? (ya ini gila juga), Ini sama sekali tidak mendidik! Orang lancung kok dikasih angin!

    Juga pesangon untuk perusahaan pailit. Udah bangkrut mana ada uang lagi. Mungkin perlu dikaitkan dengan porsi asuransi saja. ASTEK atau apalah.

    Juga pesangon untuk yang mengundurkan diri, well ini ada tricky juga, sering juga perusahaan menggeser karyawan biar nggak betah toh?

    saya pikir untuk Hub Perusahaan dan Karyawan/ Buruh, dua-duanya harus gentle. Buruk bilang buruk. Baik bilang Baik. Stick & Carrot-nya imbang. Karyawan di bawah standar, ya pecat. Harusnya selain UU Naker ‘kan juga ada Perjanjian Kerja Internal. Win-win solution lah.

    Sama OKNUM PUNGLI kita sering DAMAI, masa internal perusahaan tidak bisa. Terima kasih lagi untuk spacenya. Edit on Your Call.

  11. Nanya nich:), Produk Bola Sepak atau Cock atau Nike itu OEM bukan? Standarnya apa?
    Kalau produk akhirnya dijual 100 kali lipat dan dipakai di seantero dunia. Apakah kualitas RIIL itu karena embel-embel Nike or Mikasa saja??

  12. Masyarakat lebah yang maju mempunyai tugas sesuai dengan bakatnya masing-masing untuk membangun sarang dan madu, meneruskan generasi. Disana ada peraturan yang adil yang sudah baku.

    UU tenaga kerja harus berdasarkan keadilan untuk kesejahteraan bersama. Pengusaha dilindungi dari pungutan tidak proporsional dari oknum. Dan karyawan memperoleh haknya sesuai dengan besar keuntungan yang biasa diperoleh perusahaan. Sistem bagi hasil, seluruh karyawan memperoleh sekian persen dari keuntungan. Kekurangannya dibayarkan dalam bentuk bonus di akhir tahun.

  13. buat ??:
    “Saya hanya pikir, Europe / USA dengan standar upah yang berlipat dari UMP kita saja, mereka bisa demikian majunya. Jadi sekarang Investor mana (asing atau aseng?) yang komplain?”

    Gak salah tuh bandingin Indonesia dan Eropa/US?
    Liat dulu ah kompetensi kita: tingkat pendidikan, skill, infrastruktur, regulasi.
    Orang Indonesia disuruh ngantri aja susah bener, mau minta gaji buruh sama dg di Eropa.

    Kalau buruh pabrik sepatu mampu jadi buruh Airbus, nah baru bicara level gaji yang sama.

    Dulu gaji buruh di Eropa juga ngga setinggi sekarang… Proses menaikkan kompetensi bangsa, itu yang penting.

  14. […] Pandangan seperti ini diperparah lagi dengan adanya anggapan bahwa orang yang pintar (bidang akademis) akan kalah ’sukses’ dengan orang yang bodoh (akademisnya). Seperti yang tertulis di sini dan juga di sini. […]

  15. Wah kasihan yang Jadi TNI / Polri, resiko nyawa, gaji tak seberapa. Paradoks apa lagi yang diciptakan (oleh siapa?)

    Tadi malem Penasehat Presiden bilang UU Naker yang sekarang menghambat Investasi. Coba liat vietnam, dll.

    Saya hanya pikir, Europe / USA dengan standar upah yang berlipat dari UMP kita saja, mereka bisa demikian majunya. Jadi sekarang Investor mana (asing atau aseng?) yang komplain?

    Mari sedkit berhitung, buka buku telepon, hitung ada berapa perusahaan, kalikan 10 atau 20 puluh orang. Hitung rata-rata modal tiap perusahaan. Mati seratus mati dua ribu.

    Bandingkan, satu konsorsium, modal Rp3T dengan serapan tenaga kerja 100.000 orang. Mati satu mati seratus ribu.

    Ha..ha…, Hanya permainan portofolio saja.

    Jangan terpukau oleh investasi Asing/ Aseng, camkan saja!. Kita hanya butuh satu contoh sebagai etalase. Artinya kalau pemilik modal bilang kita jadikan Vietnam sebagai contoh biar regionalnya mengikuti. Nah, kita hanya butuh satu “tiupan” kecil untuk meregutnya kembali. (ingat krisis yang dimulai dari “tiupan” di Latin Amerika).

    Dulu Brasil pernah masuk 10 Negara Adidaya dengan “dopping” jor-joran investasi Asing/Aseng. Apakah langgeng? Jelas tidak karena memang itulah skenarionya. Hanya etalase. Semua harus bermula dari Dalam, karena disitulah akar dapat langgeng tertanam.

    Apakah akan terjadi lagi di Cina atau India. Kalau Cina perlu “upaya ekstra” untuk menggoyangnya. Dan kalau Pemimpinnya masih memiliki mental Ketua Mao atau Deng, saya kira susah.

    Sasaran lain mungkin India, Bunga Ranum yang tengah mekar-mekarnya. Kita tidak mengharapkan yang buruk. Selama “Investor” belum memukul genderang, just enjoy the happy life.

    Dan kita bukan keledai. Kuat karena diri sendiri, insya Allah kuat menghadapi rongrongan dari luar.

    Kuat karena Dopping, jangan harap kuat selamanya. Udah ah, trima kasih Pak Dhe atas spacenya. Kalau tidak berkenan dihapus juga boleh. Terima kasih.

  16. Salam kenal pak rovicky,

    Saya sependapat bahwa kesuksesan karir masih dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.

    Tetapi harus tetap diingat bahwa kesuksesan itu harus diterjemahkan bukan dalam arti materi. Jangan sampe nanti ada kesan sukses karir berarti banyak harta.
    Orang yang berprestasi dalam meniti karir layak mendapat imbalan berupa posisi yang lebih tinggi. itu adalah ukuran kesuksesan karir. Jangan dirancukan dengan jumlah mobil sekian, jumlah deposito sekian.

    Toh dalam memilih karir sebelumnya kita pasti sudah tahu seberapa “kaya” kita nanti kalo sampe posisi puncak. Jangan milih jadi PNS/TNI/Polisi tapi pengen harta menyamai pengusaha besar. Ya ujung-ujungnya jd ga bener (kecuali punya usaha lain). Itu namanya salah memilih karir.
    Maaf agak menyimpang.

  17. Whallah Mas Lontong ini …… (eh laki-laki kan ?)
    Nuhun diskusinya …. 😛

    Memberikan pendidikan yg sesuai dengan masing2 individu ini tidak mudah. Selama ini di Indonesia, setahu saya pendidikan (yg umum) memberlakukan semua murid semua sama. Sekolah IKIP ada beberapa yg memberikan kekhususan utk anak tertentu, misal memberikan perhatian anak tertentu untuk loncat kelas. Aku ngga tahu apakah ITB, juga UGM, UPN dll dalam kurikulumnya memungkinkan untuk memberikan perlakuan khusus pada anak didik/mahasiswa misalnya berbakat “geologi struktur” untuk diberi materi khusus pelajaran ini ? Kalau bisa sih ideal untuk menjadikan seorang spesialis geologi struktur tentunya. 😀 Kekhususan selama ini biasanya diberikan sebagai matakuliah pilihan saja. Tapi saya ngga tahu apakah bertujuan memberikann perhatian khusus karena bakat juga, atau sekedar minat si mhs.

  18. oke, terima kasih telah menunjukkan point-nya. lame me, jadi maluw 😀
    perbedaan sudut pandang ya? i c
    *walaupun memang secara pribadi saya kurang setuju terhadap generalisasi semua hal yang berhubungan dengan individu manusia.
    pendidikan dan karir seharusnya merupakan satu alat untuk mencapai ‘tujuan’ hidup dengan (what so ever called) bakat yang dimiliki. Tetapi hasil pandangan saya terhadap lingkungan sekitar, bakat2 ini seringkali terbengkalai dengan janji/iming/doktrin-2 tentang kesuksesan dari dunia pendidikan (formal). Maksud saya seperti ini, seseorang yang katakan saja jenius memiliki bakat di dunia sepakbola dan ingin berkarir di bidang tersebut. Tetapi karena doktrin tadi, ia akhirnya menempuh dunia pendidikan (formal) yang membuatnya menjadi seorang ordinary. Dan (sebut saja) untuk menjadi ahli geologi struktur, beliau masih dipusingkan dengan pendidikan biologi, sosiologi dan 12 mata pelajaran lainnya di SMU. Mengapa tidak dilakukan unique sampling case terhadap tiap orang berbeda dalam menuju jenjang karirnya? imho, untuk mencapai kesuksesan karir, kerja keras dan identifikasi permasalahan mutlak diperlukan karena tiap orang akan menghadapi permasalahan yang berbeda. Bekal yang diberikan juga seharusnya mendukung bakat, bukan menggeneralisir dan mengikuti trend. Tenaga dan waktu banyak tercurah pada mempersiapkan gagang pisaunya dibanding menajamkan pisaunya. Toh, menjadi pemain sepakbola adalah sebuah karir juga kan?

    Mungkin kalau dipanjangin malah akan ngawur dan irrelevant; ntar jadinya malah bahas pendidikan 😀
    Tetapi terima kasih atas diskusi, pencerahan dan perbedaan sudut pandang tadi, Pak. Saya masih perlu banyak belajar soalnya 😉

  19. hihihii…. jadi rame 🙂

    padahal kemaren ceramahnya cuma satu jam aja. sisanya kebanyakan tanya jawab.
    yang agak menyedihkan saya adalah banyak pertanyaan mereka lebih kepada menanyakan cara-cara instan menuju karir sukses, seperti tip/trik gitu deh. mungkin karena kebanyakan nonton acara reality show kali ya.. 😀

    saya sendiri termasuk yang mempercayai bahwa pendidikan sangat relevan dengan karir, paling tidak untuk titik permulaan ketika ybs diterima bekerja di suatu perusahaan atau institusi. tentunya yang dimaksud pendidikan disini adalah memang kwalitas personelnya, bukan cuma sekedar selembar ijazah. misal, diperusahaan tempat saya kerja menerapkan sistim pengembangan karir yang kita-kira seperti ini. dan setahu saya dibeberapa perusaan KPS pun banyak yang mensyaratkan pendidikan tertentu untuk bisa menempati jabatan yang seharusnya sudah waktunya segera dia dapatkan. dan banyak temen saya yang sebenernya sudah agak sepuh harus ikut kuliah bareng saya karena dia tidak bisa dipromosikan kalau pendidikan terakhirnya hanya dari SMA.

    Memang skil menjadi salah satu variabel dalam keberhasilan karir, tapi jika tidak dibarengi dengan pendidikan juga malah bisa mengakibatkan demotivasi. misal saya pinjem grafiknya pak rovicky yang ini deh :

    untuk pekerja yang skill dan konditenya juga bagus idealnya dia akan mengalami percepatan karir yang grafiknya kira-kira seperti diatas. nah masalahnya kalau dia sendiri tidak melakukan upgrade pendidikannya maka grafik sisa masa karja dari percepatan tersebut akan relatif datar. dan ini bisa berakibat ubs mengalami demotivasi seperti yang saya bilang tadi. dan itu manusiawi, bisa dibayangkan gimana seseorang yang sudah antusias dengan percepatan karirnya kemudian akhirnya frustasi karena karirnya akan mentok karena aturan perusahaan yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan dia ketika masuk kerja.

    makanya banyak perusahaan yang memberikan pendidikan kepada pekerjanya yang berprestasi tersebut, baik dengan cara mengikuti kursus-kursus mandatori atau disuruh masuk bangku sekolahan lagi seperti temen-temen kuliah saya itu, supaya end point (titik pensiun) dia juga bisa naik.

    ya… kira-kira gitu deh yang saya sampaikan ke siswa-siswa saya.

  20. Mungkin anda belum selesei membaca detil lengkapnya
    lihat kalimat terakhir :

    Saya hanya berpendapat berbeda melihat kesuksesan (karir) dengan Pak Togap. Pak Togap Siagian melihat kesuksesan (karir) individual saya melihat kesuksesan (karir) komunal.

    Tentusaja secara komunal atau general tidak berbicara anomali.

    Sebelumnya juga saya katakan bahwa apa yang ditulis Pak Togap sangat perlu “untuk memotivasi”, bukan berbicara fakta secara umum (korelasional).

  21. argh… masih ada kata-kata yang rancu:
    Padahal dirinya bukanlah anomali. Dirinya bukanlah Bill Gates, dirinya bukanlah Purdi E Chandra, dirinya hanyalah ordinary people. Psst tahu nggak … lah wong anaknya Bill Gates dan dan anaknya Purdi juga masih dimasukkan sekolah formal juga.

    yang menentukan dirinya anomali atau tidak itu siapa pak? dirinya sendiri bukan? klo untuk memperoleh jalan singkat, iya, saya setuju tetapi kalau tadi dikatakan anomali dan ordinary, itu kan hasil keputusan diri sendiri. Bill Gates, yang baru menyelesaikan studinya baru-baru ini, tetap melihat bahwa pendidikan itu sebagai tools untuk mendukung aktivitasnya, bukan dijadikan landasan aktivitasnya. Ini kadang yang menyebabkan terjadinya kasta-kasta (baca:passing grade) jurusan pendidikan. Setiap orang berhak dan (seharusnya) bisa menjadi anomali, tidak melulu berserah pada nasib yang mengatakan bahwa di adalah ordinary people. IMHO, candu-candu seperti ini malah yang harusnya diperbanyak dan diedarkan di indonesia yang tentu saja akan ‘menolong’ orang-orang yang gak bisa apa-apa dan pasrah pada ke-ordinary-annya tadi. Doktrin orangtua pada anaknya bahwa pendidikan dijadikan sebagai dasar, bukan sebagai tools, yang mengurung pola pikir kebanyakan teman saya. Klo boleh kata saya katakan (maaf kalo terkesan arogan), bila bapak menyekolahkan anak bapak tinggi-tinggi dengan harapan prestasinya akan lebih tinggi, itu berarti bapak merendahkan derajat anak bapak sendiri yang menyarankan bahwa dia adalah ordinary people tidak kepada penerapan konsep bahwa semuanya itu bisa diperoleh dengan kerja keras dan jadikan pendidikan yang dikenyam sebagai salah satu ‘jurus’ dalam bertarung di jalanan 😉

    Dan akhirnya akan terwujud, bukan bagaimana madat candu itu lagi tetapi bagaimana membuat candu-candu baru bagi generasi selanjutnya :p

  22. Jangan fun lagi, Mas. Msiswa udah kbayakan energi, kalau tawuran semangatnya minta ampun. Apalagi menjelang ujian semesteran :))) alih-alih minta liburan. Kalau demo nomer satu, tapi kalau disuruh studi kasus ??? nol gede.

    Setuju, Msiswa harus SADAR, banyak orang tak punya kesempatan masuk PT. Kalau tidak niat, berikan kesempatan yang lain. Lupakan gengsi titel atau apalah.

    materi SKS harus diubah sedikit, setiap periode (3 bulanan) Msiswa / PT kerjasama dengan Perusahaan, terkait materi SKS mengadakan magang. Laporan/Makalah Msiswa dinilai sebagai prosentase (say 50%), Laporan pemberi Kerja (say 25% ), Dosen Pengawas magang (25%). Hope Link&Match-nya jalan. Kesan saya Msiswa gagap menghadapi RealWorld.

  23. Masukan untuk para pendidik dan pelajar-pelajar di Indonesia

    Saat ini di seluruh dunia termasuk negara-negara maju sedang menghadapi fenomena peningkatan jumlah pengangguran (jobless growth phenomenon). Pertumbuhan ekonomi dan industri yang terjadi tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan kesempatan kerja. Salah satu penyebab utamanya adalah penggunaan tekhnologi mesin yang dianggap jauh lebih efisien untuk menggantikan peran manusia. Hal ini tentu saja menjadikan persaingan dalam mencari pekerjaan di masa datang akan semakin ketat, apalagi dengan adanya globalisasi di mana tidak ada lagi penghalang dalam mendapatkan pekerjaan selain kompetensi yang disyaratkan.
    Orang-orang yang mempunyai nilai plus atau at least one step a step over the other yang dapat bertahan dalam kompetisi tersebut. Masa depan membutuhkan pribadi-pribadi berjiwa kepemimpinan yang dapat mendorong dan menciptakan perubahan (drive to change), bukannya yang hanya dapat mengikuti perkembangan (drive by change), apalagi yang anti perubahan (resist to change) (Harsiwi, 2003). Kemampuan untuk menjadi agent of change inilah salah satu hal yang merupakan kelebihan manusia dari mesin-mesin tekhnologi.
    Agar dapat memenuhi hal tersebut sudah seharusnya setiap mahasiswa yang diharapkan nantinya dapat berperan sebagai pelaku utama di masa depan harus sudah membuat target dan persiapan matang untuk mencapainya. Sebagaimana dikatakan oleh Wiranto Arismunandar (2003) bahwa dengan memiliki target dari awal mereka akan memahami dan bersungguh-sungguh dengan motivasi yang tinggi mendapatkan kemampuan dan keterampilan yang perlu dimiliki. Walaupun seiring dengan perjalanan waktu nantinya akan sangat mungkin terjadi perubahan dalam keinginan dan cita-citanya tersebut. Hal ini sangat wajar dan manusiawi terjadi sesuai dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman yang bersangkutan.

    Peran Vital Kampus Dalam Menciptakan Pemimpin Masa Depan
    Universitas sebagai menara gading tempat bercokol dan pembentukan para intelektual diharapkan dapat menjadi tempat lahirnya pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul dari sisi kognitif tetapi juga mempunyai kematangan mental. Hal ini sangat sesuai dengan empat tujuan yang menjadi idealisme pendidikan tinggi. Pertama, tujuan menekankan kemampuan untuk memperebutkan kesempatan kerja. Pendidikan akan difokuskan pada memperoleh keterampilan dan pengetahuan khusus supaya unggul dalam bidangnya. Kedua, tujuan menekankan orientasi humanistik. Pendidikan membantu mengembangkan kemampuan penalaran agar bisa mempertanggungjawabkan pernyataan, keyakinan, dan tindakannya. Ketiga, kebiasaan mempelajari secara sistematis apa yang dilakukan dan mulai mengadakan studi terbatas sebagai pendasaran pembentukan pendapat sendiri. Tujuan keempat, menjawab tantangan sosial, ekonomi dan keadilan (Haryatmoko, 2001).
    Maka sudah seharusnya selain memberikan ketrampilan dan ilmu pengetahuan, kampus juga harus dapat mengembangkan jiwa kepemimpinan mahasiswa yang termasuk di dalamnya kemampuan untuk mengambil keputusan. Jika tidak demikian kampus tidak lebih hanyalah sebuah lanjutan tingkat dari SMU. Kampus harus dapat menjadi tempat mahasiswa untuk menemukan jati dirinya. Berbagaimacam program harus diusahakan untuk merangsang jiwa kreatif dan kepemimpinan mahasiswa, seperti forum diskusi dan penelitian ilmiah. Universitas seharusnya merupakan tempat pengujian dan pengembangan ilmu dimana segala sesuatu bisa diperdebatkan selama tetap berada pada rel yang benar, bukan hanya sekedar menjadi tempat transfer ilmu dari dosen ke mahasiswa.
    Salah satu indikator keberhasilan pendidikan tinggi dapat dilihat dari kemampuan mahasiswa untuk belajar mandiri. Dalam hal ini termasuk kemampuan membaca dan menyatakan pendapat dalam berbagai media yang ada. Selama masa studinya mahasiswa harus dapat meluaskan pergaulan dan interaksinya dengan warga kampus, tetangga, dan masyarakat pada umumnya. Keterampilan mengambil keputusanpun dapat dilatih dan dikembangkan dengan pengalaman menangani masalah riil. Dengan senantiasa diasah secara langsung maka intuisinya juga akan semakin tajam (Arismunandar, 2003).

    Masukan Untuk Program Kepemimpinan Kampus di Indonesia
    Untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna memang adalah hal yang tidak mungkin. Manusia hanya dapat terus-menerus berusaha melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik. Demikian pula dengan apa yang telah dilakukan oleh berbagai universiitas di indonesia dengan program-programnya. Berhubung tidak adanya data dan kapabilitas yang ada pada penulis, maka pada kesempatan ini penulis tidak akan membahas tentang jalannya program maupun efektifitas hasil program yang sedang berlangsung. Tulisan ini akan memberikan masukan dari sisi luar kegiatan berupa pengamatan makro terhadap program-program yang sedang berlangsung.
    Sebagaimana ditulis oleh Hersey dan Blanchard (1982) yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang ditampilkan ketika mencoba mempengaruhi tingkah laku orang lain seperti yang dipersepsikan oleh orang yang akan kita pengaruhi tersebut. Oleh karena itu segala sesuatu yang menyangkut kepemimpinan secara khusus dan masalah kepribadian secara umum merupakan hal yang lebih membutuhkan contoh dibanding teori. Individu yang dididik sudah pasti akan melihat kepada pendidiknya. Sehingga akan tidak efektif misalnya apabila seorang dosen yang kurang memiliki pengalaman dalam kewirausahaan harus mengajar materi kewirausahaan. Hal ini bukannya memberi arahan agar dosen-dosen juga memiliki usaha diluar sehingga mengurangi profesionalismenya sebagai pendidik dan peneliti, akan tetapi harus dicari solusi lain yang lebih tepat seperti menghadirkan dosen tamu dari luar yang memang berprofesi di bidang tersebut.
    Hal berikutnya adalah yang paling kompleks karena menyangkut masalah kebijakan yang lebih luas. Buah simalakama yang merupakan dampak dari permasalahan pendanaan pendidikan mengakibatkan pilihan yang sangat sulit sehingga memberi persoalan tingginya biaya kuliah di Universitas-uiniversitas di Indonesia. Hal ini tentu saja merupakan beban yang harus dipikul oleh mahasiswa sehingga fokus terbesar mereka adalah IPK yang dengan itu mereka dapat mengajukan beasiswa dan lulus secepat-cepatnya. Mahasiswa menjadi enggan untuk mencoba aktif di beberapa kegiatan yang dalam pikiran praktis beberapa mahasiswa kurang dirasakan mamfaatnya secara langsung.
    Suasana perguruan tinggi yang sudah mirip perdagangan mengakibatkan yang ada di pikiran sebagian mahasiswa adalah persoalan untung rugi, sehingga mereka harus cepat lulus dan bekerja di perusahaan dengan gaji tinggi sehingga bisa menutup pengeluaran selama kuliah. Memang tidak 100 persen salah, hanya saja sangat disayangkan bahwa potensi mahasiswa sebenarnya bisa lebih dari itu. Belum lagi ada sebagian yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga waktu yang tersisa semakin sedikit. Bekerja sambil kuliah atau yang populer dengan istilah “ngobyek” ini memang memiliki dampak positif karena dapat memberi pengalaman akan kondisi the real life, akan tetapi apabila porsinya yang tidak pas akan menyebabkan terkurasnya waktu dan tenaga mahasiswa.
    Jalan keluarnya adalah dengan merancang kegiatan yang akan dibuat dalam suasana fun sehingga mahasiswa tidak merasa sebagian dari waktu istirahat atau bersantai mereka tersita. Cara lain adalah dengan menyiasati kegiatan tersebut dengan memformatnya dalam bentuk sebuah kerja sambilan dimana mahasiswa dapat bekerja yang berguna bagi universitas sehingga pantas untuk digaji. Akan tetapi yang terpenting dibalik itu adalah mahasiswa juga memperoleh skill bermutu dari kerjanya tersebut yang sulit diperoleh apabila kerja sambilan di luar kampus.
    Selanjutnya yang menjadi masalah kebanyakan program-program di kampus adalah kurang seriusnya penggarapan sosialisasi dari kegiatan-kegiatan yang ada. Sangat banyak contoh yang dapat kita lihat dimana suatu program dan kebijakan yang baik harus mendapat hambatan dan tentangan hanya karena kurangnya sosialisasi. Untuk itu pihak universitas kedepannya harus lebih melibatkan mahasiswa dalam pembuatan kebijakan atau pencarian ide segar dalam penggarapan suatu program, terutama untuk kegiatan yang menjadikan mahasiswa sebagai obyeknya. Dengan melakukan hal ini bukan saja pihak kampus akan mendapat masukan dari sudut pandang mahasiswa untuk peningkatan mutu kegiatan, namun yang lebih penting adalah akan meningkatkan apresiasi mahasiswa yang juga merasa turut memiliki kegiatan tersebut.
    The last but not least adalah agar dalam program selanjutnya Universitas-universitas di Indonesia dapat merealisasikan pembentukan sebuah badan yang mempunyai fungsi dan peranan seperti College Career Centers yang dimiliki universitas-universitas di luar negeri. Badan seperti ini sangat penting untuk memberi informasi dan membuka wawasan mahasiswa, sehingga nantinya dapat membantu dalam pengambilan keputusan karir masa depan yang akan ditempuh oleh mahasiswa.

  24. Artikel yang bagus Pakde…
    Jadi lebih semangat nyari beasiswa S2, tapi lulus S1 dulu…

    *salam kenal*

  25. Artikel yang bagus pak Dhe Rovicky. Cenderung setuju. Tapi, biar lebih menarik, coba cari-cari negasi-nya ah.

    Orang yang bisa masuk pendidikan formal sampai tingkat tinggi mungkin memiliki kualitas tertentu yang memungkinkan dia bisa mengambil pendidikan formal sampai tingkat tinggi (misal IQ tinggi, secara finansial keluarga lebih kuat dan tahu bagaimana mengelola uang, dll). Mungkin kesuksesan karier mereka bukan karena pendidikan formalnya tapi karena kualitas pribadi mereka.

    So, buat saya korelasinya gak sampai 80%. Tapi ide pak Rovicky dimana korelasinya tidak linear seperti yang di gambar di atas bagus tuh. Buat saya, bagian paling atas mungkin korelasinya malah negatif.

  26. Terimakasih Pak Hardono yth.

    Tentunya HRD/HRO mempunyai peraturan dan cara yang cerdas untuk memilih dan mengangkat karyawan. Apalagi dari perusahan asing yang melakukan proses pengangkatan dengan cara dan alasan yang logis.

    Namun, dengan maraknya penjualan ijazah dari perguruan tinggi fiktif untuk memanfaatkan kebodohan bangsa kita, saya berharap agar pihak HRD/HRO tidak silau dengan ijazah yang gemerlap. Pihak HRD/HRO agar lebih menitikberatkan pada kualitas manusianya bukan ijazahnya.

    Saya sendiri lebih menghargai orang yang mau belajar autodidak dan memiliki prestasi yang luar biasa, seperti Pak Rovicky yang memiliki pengetahuan luas dan menjadi guru kita semua yang sadar atau tidak kita sedang belajar disini.

  27. Pendidikan, gelar, IR, DR, MBA dst “hanya” akan mencetak
    orang agar MAMPU (punya TOOLS) untuk bekerja, tapi belum ada HASIL disitu. HASIL (out-put) didapat dari bekerja keras dengan smart. Sudah merupakan dalil bahwa setiap institusi baik pemerintah atau swasta, akan memberikan gaji dan karir yang baik bagi orang yang
    memberi HASIL (out-put) yang maksimal.

    Seseorang dengan gelar IR atau DR, teoritis gampang
    menghasilkan OUT-PUT yang maximal, karena punya tools.
    Disitulah KORELASINYA.

    Seseorang yang hanya SMP/SMA, tapi bekerja keras dan
    smart, dapat juga menghasilkan OUT-PUT maksimal.
    Disitulah ANOMALINYA.

    Kembali ke omPapang: O o… glatik to? tak kiraken burung
    kakatua. Habis gak kelihatan, hadapnya ke sono sih! he3x

  28. Pak Dedi yth

    Konon perusahan asing tidak melihat status pendidikan untuk memperoleh karir yang meningkat.

    Kalau untuk perjalanan setelah diterima kerja, barangkali benar. Tapi mosok sih ujug-ujug lulusan SMP jadi supervisor.

    Ada kabar bahwa seorang cleaning service di Hongkong telah diangkat menjadi seorang mechanic gedung karena berhasil memperbaiki AC.

    Mungkin kabar ini benar, tapi sayangnya kita tidak di Hongkong 😀 . Mengangkat sebagai mechanic hanya karena memperbaiki AC kali juga hanya membesar-besarkan. Paling tidak, hanya anomali kata Pakdhe. Iya ngga, de ?

    Dan saya sendiri menyaksikan sebuah perusahaan asing dari Canada telah mengangkat seorang lulusan STM yang sudah berpengalaman menjadi seorang superintendent membawahi beberapa orang berpendidikan sarjana.

    Ada berapa orang Canada yg mengalami hal ini ?

    Nampaknya perusahaan yang berorientasi kepada keuntungan tidak melihat status ijazah karyawan melainkan keahlian yang relevan dengan bidang pekerjaan.

    Pada saat rekruiting tetap saja diperlukan. Dan tidak semua perusahaan (HR-nya) mampu melihat keahlian yang relevan dalam satu perusahaan. Anda beruntung kalau mendapatkan perusahaan seperti ini.

  29. Konon perusahan asing tidak melihat status pendidikan untuk memperoleh karir yang meningkat.

    Ada kabar bahwa seorang cleaning service di Hongkong telah diangkat menjadi seorang mechanic gedung karena berhasil memperbaiki AC.

    Dan saya sendiri menyaksikan sebuah perusahaan asing dari Canada telah mengangkat seorang lulusan STM yang sudah berpengalaman menjadi seorang superintendent membawahi beberapa orang berpendidikan sarjana.

    Nampaknya perusahaan yang berorientasi kepada keuntungan tidak melihat status ijazah karyawan melainkan keahlian yang relevan dengan bidang pekerjaan.

  30. Bagus… bagus…. ternyata semakin banyak yang menyadari bahwa pendidikan memiliki korelasi positif dengan karir.

  31. Antara pendidikan formal dan non formal tidak ada yang lebih penting, saling melengkapi n sama-sama penting.

    Dari pendidikan formal kita dapat ijazah dan sertifikat buwat ngelamar kerja. Dari pendidikan non formal, kita (co) dapat ilmu untuk melamar seorang gadis…. he he 🙂

  32. Pakde Rovicky udah baca tentang Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia di blognya pak Zuki?

  33. Salam kenal dari saya buat pak Rovicky,

    Saya kemarin secara gak sengaja masuk ke blog-nya pak Rovicky. Setelah2 baca2 beberapa postingnya saya sangat tertarik. Terutama masalah geologi dan energi, karena tulisannya mudah dimengerti orang awam seperti saya.

    Semoga pak Rovicky masih senang menulis agar saya khususnya dan masyarakat Indonesia bisa bertambah pengetahuan dan wawasan.

    Wassalam,
    Anwar

  34. Pak Rovicky,
    Saya sependapat, karena walau sudah kerja tetap harus belajar…..dan kenapa kalau lagi ada pendidikan, orang2 berusaha mendapat nilai yang termasuk “The big Five”? Karena perhatian Direksi dan pemberi peluang karir tetap melihat kesitu…ditambah bisa menerapkan dilapangan.

    Dengan keberhasilan, banyak tawaran datang…berarti ini menunjukkan bahwa pendidikan memang sangaaat…sangaaat penting

  35. Anda berikan Mereka kesempatan semoga Mereka mewujudkan Harapan.

    Seleksi Alam? Survival of The Fittest? Kalau kita mempercayai sistem pendidikan kita maka seharusnya kita tidak meragukan Outputnya (NEM, IPK, Award, Sertifikasi, dll).

    Simpelnya, itulah “saringan awalnya” bahwa ada yang lolos karena PMDK 🙂 atau lewat referensi atau surat sakti :). Ya, namanya juga kehidupan.

    Hanya jangan kebangetan, sehingga muncul Pameo Pendidikanmu tidak menjamin Karirmu. (ingat ‘kan cerita Om tentang Jebolan DI jualan es cendol ? Tak perlu kecil hati, halal bertriliun-triliun kali lebih baik dari korupsi!). Siapa tahu justru teknik pembuatan esnya berkembang dengan dasar pendidikan yang pernah dilakoni.

    Aslinya, boleh tanya apakah Owner BERANI mempekerjakan SDTT untuk memimpin salah satu perusahaannya? Ataukah MAU mempekerjakan Profesor? Saya pikir banyak hal yang menjadi pertimbangan.

    Yang pasti Practise make Perfect. Belajar bisa formal dan nonformal. Bahwa Aturan PIHAK LAIN mensyaratkan Bukti FORMAL, Anda mau masuk Anda harus ikuti. Anda sanggup berdikari, wadehell with those requirement!!

  36. Itu burung glatik lho pak Usil, masa dikatakan burung kakaktua setua orangnya.
    Kata orang , kalau sudah tua tinggal dirumah saja harus ada kegiatan supaya awet tua, thak-thik, tak thik gitu lho. Makanya ompapang dirumah ternak glatik. Dibanding ternak kenari atau love bird boleh dikata tak ada untungnya, tetapi tujuan pokoknya adalah mengisi kegiatan dan ngiras pantes melestarikan satwa yang hampir punah.
    Btw, ternyata burung glatik hasil tangkapan dari alam tidak mau sarangnya dibuatkan orang,tetapi membuat sarang sendiri, dimulai dengan rumput kasar dilapis yang agak halus kemudian lapisan paling atas adalah helaian rumput halus, persis orang membuat atap rumah yaitu blandar, usuk kemudian reng baru genting.
    Kembali ke laptop, contoh wong beja ngalahake wong pinter. Aku punya tetangga juga teman sekolah. SDnya 7 tahun, SMP 4 tahun,SMA 4 tahun. Jadi pernah tinggal kelas 3 kali. Kemudian gelar Doktergigi dicapai hanya dalam waktu 7 tahun, lalu jadi Kowad, jabatan terakhir setingkat eselon 2(namanya ada dibuku kerja Mabes AD),pangkat saat pensiun kolonel, suaminya laksamana bintang dua, sekarang mengelola LPK komputer yang akan ditingkatkan menjadi insitut pendidikan informatika, koleksi mobilnya 21 buah.
    ck ..ck…ck ….apa tumon ?

  37. Diatas ada wong “NDREGIL” dan yang pasti karirnya
    cocok dengan pendidikannya. Jadi, tidak ada anomali
    disitu. Cuma kenapa kok pake simbol burung Kakatua(?). Apa karena umurnya sudah tua? Uuuuuh!!!

  38. Banyak orang pinter belajar di internet.

  39. pakdhe …gmana ya cara nya agar pinter ndongeng kayak pakdhe? blajar dmana? bagis2 dunk tips nya

  40. tergantung nasib juga lah…………

  41. terkadang korelasi keduanya dapat di temukan khususnya di kampus2 sebagian besar hanya dosen2 yg berkualitas yg bisa masuk dalam community kamus2 tsb…

    tapi di dunia real kerja lebih di utamakan smart experience dan backingan atau koneksi kalee hehhe..

    work smart and work hard itu yang utama dalam menunjang keberhasilan seseorg juga loyalitas itu pending

  42. Setuju Pak Dee. Dengan pendidikan yang lebih baik, kita akan lebih mampu mengelola hidup kita. Seorang entrepreneur lulusan SD, dia bisa berhasil setelah sekian kali melakukan trial and error dalam usahanya, dalam jangka waktu katakanlah 10 tahun. Apabila dia mengenyam pendidikan SMA atau sarjana, dengan kemampuan analitisnya, maka dia akan mampu meminimalisir trial and errornya, dan mungkin akan mampu mencapai level yang sama hanya dalam waktu 2 tahun.
    Masalahnya, sudahkah sistem pendidikan kita mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi dalam kehidupan kita? Mampukan pendidikan di negara kita membekali life skill yang komprehensif, bukan sekedar academic skill yang kadang kepake nggak lebih dari 5% dalam karir kita?

  43. bagaimanapun korelasi antar pendidikan dan karir itu sangat menentukan, bagaimana mungkin seseorang dapat berkarir kalo tidak di tunjang dengan ilmu, untuk mengetahui seberapa banyak ilmu seseorang harus punya penilaian atau paremeternya contohnya dengan IPK atau prestasi beberapa piagam perlombaan dsb, nah menurut saya Hubungan korelasi dan tingkat keberhasilan karir sangat PENTING contohnya aja pak rovicky kita, dia tidak bisa membuat dongeng geologi kalo tidak punya dasar dan pak rovicky tidak akan berhasil membangun web ini kalo pak rovicy saja tidak pernah mencari ilmu

  44. Pendidikan yang efektif dan efisien dibutuhkan untuk mencapai kemajuan bangsa yang pesat.

    Selama ini pendidikan formal yang telah dan sedang berjalan tidak efektif dan efisien.
    Banyak waktu terbuang dengan sia-sia karena mengikuti pendidikan formal.
    Banyak tenaga dan pikiran terbuang dengan sia-sia karena mengikuti pendidikan formal.
    Banyak uang yang terbuang sia-sia karena mengikuti pendidikan formal.
    Banyak perjuangan orang tua dengan kesedihan dan penderitaan keluarga tanpa hasil karena anaknya mengikuti pendidikan formal.
    Banyak ilmu yang telah dipelajari mati-matian tidak digunakan dan terbuang percuma.
    Banyak lulusan pendidikan formal menjadi penganggur, baik karena mau lulus atau dilululuskan dengan IPK pas-pasan atau juga karena tidak ada lapangan kerja yang disiapkan.

    Dan sampai kapankah kita akan terus menjalani kebiasaan yang sangat-sangat bodoh ini? Hanya untuk mendapatkan secari kertas ijazah.

  45. Sepakat, anomali ini memang jadi candu, sama seperti orang yang punya anak banyak (>10) misalkan ternyata keluarganya sukses, atau orang yang punya istri banyak, tetapi rukun-rukun aja.

    Tapi ya memang hukum urban legend, justru yang kaya gini-gini kita malah hafal ya pa dhe.

  46. Untuk orang yang berpendidikan akademis tinggi , tetapi dalam karir pekerjaan pendidikan BOSSnya jauh lebih rendah, pepatah Jawa mengatakan :” Wong PINTER dadi pangane wong BODHO.” ( Orang pandai menjadi makanan/mangsa orang bodoh)
    Sedang untuk BOSS berpendidikan RENDAH yang membawahi banyak staf atau anak buah yang berpendidikan tinggi, dikatakan : Wong BEJA ngalahake wong PINTER” ( Orang MUJUR mengalahkan orang PANDAI)
    Pada level yang sama, orang berpendidikan rendah yang prestasi karyanya melebihi prestasi temannya yang berpendidikan jauh lebih tinggi, diibaratkan :” Wong NDREGIL ngalahake wong PINTER” (Orang CERDIK/banyak siasat mengalahkan orang PANDAI)

  47. Satuju banget…!!! Pendapat umum masyarakat sekarang kesuksesan akademis tidak penting yang penting tuh koneksi,,,,,,

    Hasrusnya dalam mencapai kesuksesan semuanya harus kita peroleh baik akademis dan non akademisnya..!!
    —————————————————————————-
    Baca juga :

    http://suarapelajarindonesia.wordpress.com/2007/07/07/iq-versus-eq/

    —————————————————————————-

  48. Saya sependapat dengan pak dhe, dan juga pak togap 😀
    lho kok bisa?
    menurut saya yang membuat seseorang sukses itu adalah bagaimana seseorang itu mendapatkan pendidikan untuk dirinya sendiri sehingga diakui oleh orang lain sebagai orang yang kompeten/kontributif.
    Seseorang yang lulus S2 atau S3, punya peluang lebih daripada lulusan dibawahnya karena diakui sebagai orang yang kompeten dari hasil pendidikan formalnya.
    Sedangkan orang-orang seperti Bill Gates mencari pendidikan untuk dirinya sendiri untuk menjadi orang yang kontributif di dunia IT.
    *pandangan dari orang yang belum sukses :D*

  49. saya setuju dengan posting mas rovicky ini…Kisah-kisah anomali kadang menjadi ‘candu’ juga, padahal kasusnya sedikit dibanding dengan yang massal. Selain itu, mungkin yang lebih penting adalah sebaiknya kita selalu berusaha melakukan/mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, kata orang Londo being passionate…:-). Karena, ukuran ‘karir yang sukses’ berbeda bagi setiap orang.

  50. Hm, saya sendiri mikir bahwa karena pendidikan di Indonesia itu banyak nggak beresnya, saya jadi lebih seneng dan percaya sama teori anomali tadi..

    mungkin beda lagi kalo provider pendidikan sudah bener-bener murni berniat memajukan pendidikan (bukan lahan cari uang, misalnya).

  51. Korelasi tingkat pendidikan dengan keberhasilan karir?? Saya sependapat dengan pak dhe rovick mengenai ini, pada jenjang karier rendah s/d menengah (katakanlah lulusan SD, SMP, SMA dan S1), maka korelasinya sangat tinggi, dengan catatan dengan status sebagai employee/pekerja/pegawai, tingkatan pendidikan sangat mempengaruhi jenjang karir, baik di swasta maupun di instansi pemerintahan (PNS). Hampir tidak mungkin, seorang supervisor, engineer, manager, superintendent ataupun direktur hanya seorang lulusan SMA. Kecuali memang kita sendiri yang mendirikan suatu perusahaan, misalnya temen saya yang hanya lulusan SMA menjadi direktur sebuah perusahaan tour & travel, karena dia yang mendirikan perusahaan itu. Mungkin yang dimaksud tidak adanya korelasi antara jenjang pendidikan dengan jenjang karir adalah di bidang itu, yaitu berwirausaha dan jika berhasil, meskipun SD tdk luluspun, dengan pengalaman berwirausaha, jabatan direktur bisa ditangan.

    Kebahagiaan, menurut saya, berkorelasi dengan banyak sedikitnya keinginan dan tingkat pemenuhan keinginan tersebut, akan tetapi semakin banyak keinginan biasanya menjadikan orang tersebut kurang bahagia.
    Contoh, orang pedalaman misalnya, biasanya cukup bahagia bila kebutuhan primernya tercukupi, dan keinginannyapun sederhana saja, yang penting perut kenyang, kebahagiaan sudah tercapai.
    Lain lagi dengan kaum urban, kebutuhan primer saja menuntut lebih (misal: makan berasnya harus yang bagus, minum susu tiap hari, tinggal harus dirumah yang besar, pakaian banyak dan mahal-mahal), sehingga untuk mencapai level bahagia, kaum urban lebih sulit.

    So, menurut pituture bin nasehat nenek moyang, kunci hidup bahagia itu lakon sumeleh, atau dengan bahasa sekarang kunci hidup bahagia itu dengan membatasi keinginan dengan hanya mencukupi sesuai batas kebutuhan.
    biasanya keinginan kalau dipenuhi akan selalu kurang, tapi kebutuhan kalo dipenuhi akan selalu cukup.
    contoh: kendaraan, motor misalnya, keinginan bilang, “aku ingin motor sport.”, tapi kebutuhan bilang,”cukuplah motor bebek aja.”
    beli motor sport ataupun bebek, ada sisi bahagia maupun sisi tidak bahagianya.
    motorsport, kebahagiaan terletak pada kebanggaan, di sisi lain, ada sisi gelapnya, misalnya kredit yang mahal, sparepart yang mahal dan sulit, boros bensin dll.
    motor bebek, mungkin tidak sebangga motorsport, tapi sisi positifnya, bisa beli cash, bensin irit, sparepart murah dan mudah, uang lebihnya bisa digunakan untuk hal lain, misal ditabung buat beli mobil dll.

    btw, pak dhe Formula bahagia menurut BBC itu kan berdasarkan penelitian, sedangkan semua penelitian pasti ada ruang lingkup dan batasan-batasan yang tidak bisa berlaku universal. Kalo menilik Formula bahagia itu menurut BBC, ya pastinya ruang lingkupnya berdasar gaya hidup orang Eropah sana, yang pasti ada perbedaanya dengan orang Asia misalnya.
    mungkin formulanya benar, tapi nilainya mungkin lain. Bisa jadi faktor terpenting dalam Formula bahagia adalah P (personal charasteristic) bagi sebagian orang, sedang faktor E dan H tergantung dari faktor P nya.
    misalnya faktor P nya adalah sumeleh dan nrimo, maka tuntutan akan faktor E dan H tidak akan bernilai besar.
    pendapat saya, faktor P adalah faktor terpenting sehingga tidak perlu pengalian, sedang faktor E dan H bernilai kecil sehingga perlu pengalian. (pendapat ngawur kali ya? 🙂 )

  52. @Realist
    Anomali itu juga bisa jadi realitas. Hanya saja perlu diberlakukan sesuai dengan statusnya. Hanya utk mereka2 yang memang dirinya anomali.
    @fira
    Kebahagian dengan pendidikan sulit dikorelasikan. Definisi bahagia sendiri itu bisa sngat beragam tetapi ada penelitian yang ditulis BBC menyebutkan bahagia dapat dirumuskan seperti yg ditulis Eyang Broto, teman Pakdhe

    Formula Bahagia

    Narasumber : BBC dan narasumber lain

    Formula Bahagia = P + (5E) + (3H)

    P = Personal Characteristic = karakteristik pribadi. Memang ada orang2 tertentu yang mudah bahagia ada yang dari sononya pemurung (melankoli). Termasuk dalam ini adalah pandangan hidupnya. Apakah ia memandang hidup sebagai samsara, poya2 & hura2, bekerja, ibadah, dst.
    Bahwa hidup itu susah/gampang, dst. Juga keluwesan dan kemudahan untuk pulih dari kesedihan / kemalangan.

    E = eksistensi = cukup sehat, finansial tercukupi, rasa aman, dan kawan, dan kebebasan untuk memilih.

    H = Higher Order Need. Ini adalah kebutuhan2 yang latarannya lebih tinggi dari kebutuhan primer (sandang, pangan, papan, saru) yaitu ambisi2, harapan2nya, impian2nya, harga diri, dst.

    P terdiri dari nature yaitu biochemistry, enzim2, struktur fisiologis, dll, yang menyebabkan seseorang melankoli atau gampang bahagia. Kedua nurture yaitu bagaimana mereka diajari memandang hidup.

    Tidak perlu penjelasan bahwa kesehatan, uang, dll, adalah faktor2 vital dalam menentukan rasa bahagia. Orang2 juga sudah tahu bahwa kawan adalah sumber bahagia. Kemudahan bergaul menentukan kadar bahagia. Yang patut disimak dari formula itu, ternyata faktor E adalah 5, artinya dominan atau penting.

    Menurut BBC kebanyakan orang tidak tahu makna bahagia. Banyak yang beranggapan bahwa bahagia itu banyak uang, pangkat tinggi, punya cem2an, dst. kesalahan kedua, masih versi BBC, kecewa dengan apa yang tidak dimiliki sehingga kurang menikmati apa yang dimiliki.

    “We tend to be very obsessed with what is wrong, what is missing and what we have not got, rather than focusing on what we want and getting it.
    “It would be nice to just enjoy your life, because life is a bit short.”

    Agama2 mengajarkan agar kita mensyukuri anugerah. Kata ‘mensyukuri’ terasa abstrak. Lebih kongkrit ‘MENIKMATI’.

    Kata BBC apa yang menyebabken hepi berbeda antara pria dan wanita. 4 dari 10 pria bilang akan hepi kalo berbuat saru 😉 dan 7 dari 10 wanita hepi kalo bersama keluarga.

     Memang kita lebih sering terobsesi pada hal-hal yang salah dan yang  TIDAK kita miliki, bukan hal-hal yang sudah diperoleh ataupun yang diinginkan dan bagaimana mendapatkan.

  53. Pedidikan tinggi walau tidak berbading lurus dengan karier,
    tapi pendidikan tinggi membantu seseorang unutk mencapai karier yang bagus
    http://blog.indosiar.com/nandar_faiz/

  54. Ada faktor GOD yang sangat berkuasa menentukan keberhasilan seseorang, bukan hanya nilai, IP, dan tingkat pendidikan.

    BTW Rejeki, Jodoh dan Mati sudah ditentukan, bukan berarti kita nerima aja, ya nggak, pendidikan sangat penting, dan itu merupakan salah satu ikhtiar untuk merubah takdir…

  55. Sayangnya di Indo korelasi antara pendidikan dengan knowledge masih belum begitu bagus, gara2 banyak yang sekolah/kuliahnya lebih terfokus ke nilai/lulus/ijazah/gelar dan bukannya ke perolehan ilmu itu sendiri. 😦 Mungkin ini juga sebabnya kenapa banyak orang kita sangat percaya ketika dibilang pendidikan tidak/sedikit pengaruhnya terhadap karir.

  56. ya iyalah, hubungannya erat banget, wong kalo cari kerja yang di tanya ijazah en IP koq,,,

  57. Ada satu lagi Pak, meniti karier lewat simbah dukun…he..he..he. Lha wong disini preman, koruptor dll wae iso dadi angota DPR & MPR yang terhormat….opo tumon

  58. korelasi……………..?? ya tentu saja ada.
    berapa PErsen……??masing2 orang akan berbeda,ya bener juga kata pa’de,mungkin akan berpengaruh pada awal2 memulai merintis karir,tetapi ketika sudah menuju karir yang lebih tinggi/mantap,maka yang diperlukan yaa pengalaman sebelumnya ketika merintis memulai karir,dan begitu seterusnya, sehingga persen korelasi tingkat pendidikan terhadap karirnya akan semakin kecil. (kali…….@#$%^&??)

    KALOU KORELASI TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP KEBAHAGIAAN HIDUP…….@#$%?????
    apakah dengan tingkat pendidikan tinggi akan membuat kita hidup bahagia pa’de…????

    –> Jawaban lihat dibawah ya 😛

  59. Mantebb pakdhe
    Sebagai seorang realis saya setuju dengan uraian diatas. masih banyak rekan-rekan yang berbicara menggunakan anomali bukan berdasar realitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: