Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ?


Pos_Pengumben_banjir_jakarta_2007[1]

Banjir 2007

Tentunya banyak yang terkaget-kaget dengan banjir di Jakarta. Rumah yang dahulunya dinilai aman ternyata sekarang banjir cukup sedeng …. sedengkul !

(sumber foto Wikipedia)

Mengapa ?

Ada beberapa alasan mengapa banjir ini tidak seperti yang dahulu ditahun 2002. Banjir tahun 2002 cukup membuat Jakarta lumpuh. Namun kali ini di tahun 2007 hampir 60% kota Jakarta terendam.

Curah hujan.

Curah hujan yang terjadi kali ini relatif lebih besar dibanding tahun 2002. Pada tahun 2002 ketika Istana negara terkena banjir, hanyalah diakibatkan banjir kiriman dari Bogor. Namun tahun 2007 ini curah hujan tidak hanya di Bogor, bahkan di Jakarta sendiri juga terjadi hujan cukup deras hingga lebih dari tujuh jam pada hari Kamis malam (1/02-07).

Curah hujan yang cukup deras ini memang ada yang menganggap akibat perubahan cuaca dan perubahan iklim global.

Kenaikan Muka Air Laut

Pemanasan global memang menunjukkan kenaikan muka air laut. Namun kenaikan ini tidak terasa dalam lima tahun terakhir. Walopun saat ini sangat “diwanti-wanti” atau di peringatkan untuk mulai melihat perkotaan yang berada di kawasan pantai landai misalnya Palembang, Jakarta, Semarang dan Surabaya.

Kenaikan muka air laut ini tidak hanya karena global, karena kenaikan global ini sangat pelaan. Tetapi kenaikan karena air pasang sangat mungkin mempengaruhi. Kalau tidak salah saat ini kan sedang bulan purnama. Sehingga terjadi pasang purnama.

Kenaikan muka air laut akan membuat air lebih lambat mengalir ke laut. Beda ketinggan yang sebelumnya mampu mengalirkan air dengan cepat dengan gaya gravitasi menjadi berkurang. Kelampabatan pengaliran inilah yang menjadikan air semakin lama surut.

Perubahan topografi

Kalau melihat lokasi banjir yg cukup parah di Jakarta seperti yang trelihat dalam peta sebelumnya. Terlihat bahwa banjir ini lebih banyak pada lokasi yang sudah menjadi pelanggan banjir. Namun banyak juga yag merasa rumahnya baru kali ini terkena banjir.

Klick untuk memperbesar Banjir tahun 2002 sangat mengagetkan, sehingga banyak sekali penanganan banjir dilakukan dengan pencegahan antara lain meninggikan tanggul, meninggikan rumah. Dan selain itu juga pembangunan perumahan-perumahan baru atau reklamasi kompleks kumuh sebelumnya menjadi kawasan yang dianggap lebih tertata. NAmun perubahan topografi ini banyak yang tidak disadari oleh pemilik rumah yang merasa aman di tahun 2002. Sehingga tahun 2002 menjadi tolok ukur “keamanan” dari banjir.

Gambar diatas menunjukkan beberapa karakterisktik lokasi-lokasi banjir di Jakarta. Dimana ada tempat yang selalu banjir, ada yang selalu aman, dan ada yg menajdi lokasi banjir ditahun 2007 padahal dahulunya aman.

Nah dimana rumah anda ?

62 Tanggapan

  1. Lagi2 tahun 2012 juga terjadi hal yang sama..

  2. […] ada yg tanya, biasanya pertanyaan muncul ketika banjir di Jakarta : Februari 5th, 2007 at 3:02 pm e anung Says: – klo pindah ibu kota negara gimana pak dhe? ada rekomendasi yang […]

  3. Bukan hanya banjir air, banjir pelamar kerja juga, tuh di kantor lamaran menumpuk tidak pernah dibaca.

  4. Nah sekarang sudah tahun 2010, pemkot Jakarta sudah siap2 dengan pinter belum atasi bajir?
    kemacetan yg disebabkan jelas oleh manusia aja belum teratasi, apalagi bajir yg penyebabnya bukan hanya manusia tapi faktor alam juga.

  5. Ohhh.. Jadi gitu toh. Tapi.. walau jumlah penduduk berkembang jadi segede gaban gitu, andai saluran pengairan yang sudah ada dari jaman dulu tetep dipelihara bukankah banjir jadi dapat teratasi? *ngerutin dahi-mikir*

  6. Jaman belanda jumlah penduduk batavia cuma dikiits banget. Jadi ya kalau ada hujan ya ga ada yg kebanjiran. Lagian curah hujan saat ini juga jauh lebih besar.
    Jumlah penduduk jakarta “meledak” stlh merdeka dan setelah 65 (ordebaru). Karena era 70an era pertumbuhan dunia. Disemua kota di asia terjadi ledakan penduduk.

  7. PakDhe,
    Kenapa pada era Belanda dulu ngga pernah ada cerita Jakarta banjir? Apa karena ngga dimasukin buku sejarah, ato karena sistem kanal mereka?
    Dari buku2 sejarah yang pernah daku baca n novel2 berbau sejarah smacam “Rahasia Meede”, daku dapat gambaran kalau Jakarta tempo doeloe toe kaya’ Venezia… Apakah itu bpegaruh sama pola banjir? Ataukah semata-mata karena orang-orang Jakarta sekarang lebiiiih “kurang peduli” daripada orang-orang jaman baheula T_T ??

  8. […] Salah satu penjelasan rumah yang sebelumnya aman kemudian terkena banjir bisa dilihat disini : https://rovicky.wordpress.com/2007/02/04/mengapa-20-tahun-aman-kok-sekarang-banjir/ […]

  9. […] Curah hujan di Jakarta justru masih lebih rendah tinggi dari 2002. […]

  10. wah, jakarta banjir si wajar, memang sejak dahulu jakarta pasti kebanjiran. sampai pihak teknik sipil dan Perencanaan dari pihak Belanda pun mendisain kota Jakarta dengan banyak anak sungai dan pintu air.
    jadi kalau gak mau kebanjiran ya, sudah semestinya anak-anak sungai dan pintu-pintu air sebagai kendali banjir (debit maksimum) disediakan.
    \harus ada kajian tentang tata air di jakarta, dan kesadaran dari semua pihak untuk menjaga, melestarikan dan memanageman air. khususnya di Ibu kota Jakarta yang kebanjiran terus.
    ok peace…

  11. asline sing ngebak2i jakarta kuwi pancen kampring kabeh kok…
    wis cetho soko 1000000 populasi selama kurun +-20 tahun kok iso naik 900% tanpa ada kontrol dari pemerintah…
    lha saiki pertanyaannya yang kampring itu orang yang maksa masuk jakarta apa pemerintah yang “telo” gak bisa ngatur rakyatnya sendiri???
    padahal JELAS JELAS jakarta itu tempatnya orang memerintah…piye jal!!!
    orang masuk ke jakarta aslinya sama dengan pemerintahnya sendiri…nekad menuh2in jakarta aja…

    coba tengok perbandingan luasa vegetasi antara tahun 72 dan tahun 90-an dan tahun 2000…njomplang kan???
    trus sapa yang mo nyedot air mas!!!!!
    emang orang2 yang nekad menuh2in jakarta yang mau nyedot airnya????

    kalo emang bener ini yang aku tulis….AYO ORANG JAKARTA SEDOT AIR SAMPE ABISSSS!!!!!!!!!!!

    KAMPRING NIAN KAU SMUA!!!!

  12. Ass.Wr.Wb,
    Manusia adalah pemimpin di bumi, ditugaskan untuk mengelola bumi dengan benar. Mahluk hidup lainnya maupun benda-benda yang ada di bumi akan menurut apabila diatur oleh Manusia karena memang semuanya untuk manusia. Namun pengelolaan bumi harus mengikuti aturan yang dikehendaki oleh Allah (sunnatullah). Sunnatullah adalah aturan yang sudah diajarkan oleh Allah melalui Al Qur’an yang manifestasinya berupa ilmu-ilmu alam maupun ilmu hubungan antar mahluk maupun hubunga dengan Allah. Apabila pengelolaan bertentangan dengan aturan Allah, maka artinya Manusia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hukum-hukum ilmiah baik hukum ilmu alam maupun ilmu sosial yang sudah ditetapkan Allah. Akibatnya seberapa mampu manusia bertahan menerapkan aturannya melawan aturan Allah. Contoh, manusia membangun sarana dan prasarana tanpa menggunakan ilmu ekosistim dan manusia melaksanakan ekonomi tanpa menggunakan ilmu ekonomi yang diajarkan Al Qur’an. Implikasinya semuanya bertentangan seperti melawan gaya gravitasi bumi, Dan Allah tidak menghendaki alam menjadi rusak karena dikelola tidak dengan ilmu yang Allah, sementara Allah Maha Mengetahui dan manusia hanya sedikit memiliki pengetahuan. Secara Sunnatullah alam akan tetap patuh pada hukum Allah, sehingga alam akan bertambah melawan manusia apabila manusia menentang penerapan ilmu Allah pada diri alam, kebalikkannya alam akan tunduk pada manusia apabila Manusia mengelola alam sesuai dengan aturan Allah. Demikian, Wassalamu’alaikum Wr, wb.

  13. walopun jalanan depan rumah slalu banjir, air ga pernah masuk dlm rumah gr2 rumah saya dibangun cukup tinggi dr jalanan🙂

  14. Jakarta Banjir ? tidak heran, tapi masih ada korup, baru heran, barangkali uang yang dikorup itu kalau untuk mengatasi banjir bisa impas, ini barangkali kok …………………….

  15. 20 tahun “semua setuju” memilih pemimpin yang tidak tanggap lingkungan..maka saat inilah kita semua menuai “hasil” setiap tahun.

  16. […] Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ? […]

  17. Anakku klas 2 SMA.
    Nyari bahan untuk tulisannya mengenai pengrusakaan alam di lingkungan Jakarta.
    Tadinya ia sama yakinnya dengan temen2nya bahwa penyebab banjir Jakarta itu melulu pembuangan sampah yg semena-mena.
    Sekarang ia tahu bahwa selain bakat alam dari Jakarta (Dwikorita Karnawati: Dan ternyata upaya untuk pengendalian air di Jakarta tidaklah mudah. Meskipun di masa pemerintahan Hindia Belanda telah dibuat Banjir Kanal dan Pintu Air Manggarai, ternyata pada 19 Februari 1918 kota Batavia tetap tergenang air. Dan setelah itu, dengan makin pesatnya pembangunan di wilayah Jakarta dan sekitarnya, kejadian banjir makin sering terjadi di wilayah tersebut.) ternyata Curah Hujan, Kenaikan Muka Air Laut dan Perubahan Topografi juga telah mempengaruhi banjirnya banjir di ulang tahunnya anakku 2 Februari 2007.
    Jadi selain amanah maha berat bagi perencana kota dan penyelenggara pembangunannya dengan memperhatikan bakat alam kota ini,
    kita juga waspada kalau mendungnya hitam menggantung disertai saat bulan purnama..
    tahu diri kalau tinggal di kota pantai…
    rendah hati kalau sudah waktunya air akan naiik…
    Gustii…
    Allah Yang Maha Tinggi…
    mohon maaf dan selamatkan kami.
    Makasih ya pak Rovicky.

  18. klo ngomongin moral gak ada habisnya. apa lagi di indonesia. bukannya pesimis cuman miris aja. disatu sisi ada yang cuman mikirin dirinya sendiri gimana supaya masuk surga (ato malah neraka), disatu sisi “alhamdullilah” masih ada yang mikirin sesamanya dan lingkungannya. maaf klo ada yang tersinggung.

  19. lingkaran sampah – sungai – banjir – dst…

    > http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=270667
    >
    > Sabtu, 10 Feb 2007,
    > Habis Banjir Terbitlah Lumpur
    >
    >
    > Mirip Porong, Kerahkan Mobil Kebakaran
    >
    > Untuk membersihkan lumpur yang menggenangi segenap ruas
    > jalan, tidak ada jalan lain kecuali dibuang ke sungai
    > terdekat. Sebab, tingginya volume lumpur tidak mungkin
    > hilang hanya disiram. Apalagi sampah juga menumpuk.
    > “Mungkin kami akan mengumpulkannya menjadi satu, lalu
    > kami buang ke sungai. Kami akan sangat terbantu jika
    > truk-truk Dinas Kebersihan datang membantu,” tukas
    > Wawan, salah seorang pengangkut sampah.
    >

  20. pak Rovicky, ikut prihatin sama rumah sampeyan yang kebanjiran.

    berikut ini ada tulisan “INDONESIA: NATURAL DISASTERS OR MASS MURDER?” By Andre Vltchek , katanya sih dah kirim ke jakarta post tapi ditolak. . . Banjir jakarta ini sudah menelan korban 80 orang lebih. . . kayaknya bangsa kita sudah kapalen mau berapa orang mati, dah nggak perduli lagi. . . ujung2nya adalah soal moral yang udah amburadul, penyebab bencana ini.

    http://www.zmag.org/sustainers/content/2007-01/11vltchek.cfm

  21. pindah ke sentul, biar bebas banjir, pakdhe Rovicky …😀

  22. Shaleh kepada Tuhan (Keshalehan Individu) , shaleh kepada sesama manusia (keshalehan sosial) tetap saja tidak akan dapat mencegah banjir seperti ini, kalau tidak disertai keshalehan kepada alam/lingkungan hidup.
    Semua mempunyai hak untuk kita penuhi.

  23. Nggih mas Charless…

    tapi yen sing di beritaken sing apik2 thok, lha nanti sing jelek jelek sapa yang mo koreksi..???

    Dhuh Gusti, Kulo Nyuwun Pangapunten..

  24. Kalau kita lihat Banjir di Jakarta itu adalah seijin Tuhan karena kalao kita melihat kehidupan kota Jakarta yang terkenal dengan sikap egois yaitu Lu dan Gue nah itu dia yang Tuhan nggak suka karena Tuhan itu lebih suka kalao umatNya bisa saling mengasihi dan bukan saling cuek dan saat bagi masyarakat Jakarta untuk bisa saling tolong-menolong dan bahu membahu supaya yang Kaya bisa melihat penderitaan si miskin dan juga yang miskin juga bisa merasakan bahwa dirinya masih diperhatikan oleh orang terdekat mereka.

    GBU

    Beritakan kabar baik bukan kabar buruk sebab kalao kabar baik diberitakan maka hati dan pikiran kita juga akan baik

    Dari Charles

  25. Ass wr. wb.
    Sorry nek OOT pak dhe…
    mungkin ada benarnya… banjir salah satu peringatan Sing Murbeng Dumadi (Gusti Alloh sing Maha Agung)…
    Abis Busway, trus flu burung, trus Banjir PP 37, trus Banir bandang, trus demam berdarah, truss Adam Air, trus Lapindo, terus… maaf pakdhe, kalo urutane keliru…

    Mungkin karena di sini, korupsi udah sampek ke akar rumput, sekarang dari bawah ampek atas uda bisa korupsi, mulai tukang parkir, jaga gudang, sampai Dewan, sibuk polahe dewe, pokoke kaya, pokoke sugih..

  26. Aku barusan berhasil menelpon tetanggaku di Pulo Gebang Permai Jakarta. Dan ternyata rumahkupun tak bebas banjir kali ini.

    Air masuk rumah sampai sepinggang !!
    Waddduh !

  27. setelah anggota DPRD(wakil rakyat) dikasih “banjir” dhuwit, mangkanya biar adil maka rakyat juga dikasih banjir juga, tapi banjir air. Coba ya air segitu banyak digalonin, trus dijual kan jadi banjir dhuwit juga kan.
    Adil kan? kalo wakilnya saja kena banjir, rakyat juga harus merasaken banjir. Kan sama-sama bikin ribut…

  28. coba tanyakan pada hati nurani
    sebetulnya semua terjadi karena aturan yang dibuat dilanggar sendiri oleh KEKUASAAN, diatur sedemikian rupa agar semua tetap sesuai aturan. Yang pada akhirnya, alam akan mencari jalan sendiri. Sebenarnya dan agak miris untuk dikatakan, kalau sistem yang dibuat saja sudah dilanggar, berarti sendi-sendi kedisiplinan dan hirarki tidak berjalan dan ini merupakan tanda awal dari kegagalan pengawasan, yang merupakan tanggung jawab pemerintah.
    Uang memang perlu tapi lebih perlu adanya aturan yang membuat uang tidak bisa menjadi RAJA yang berarti KEKUASAAN yang tidak berpihak kepada nilai dasar atau nilai hakiki sebagai bangsa yang bermatabat.

  29. Ini semua memang ulah sendiri Dhee
    yang slalu merusak alam dan tak mau menjaganya
    Liat Dhe Hutan hutan & pengunungan Pohon – pohon sudah habis Dibabat – Ditebang bahkan sudah ganti fungsi.
    Mulai Dari Banyuwangi – Jatim sampai jawa barat

  30. Lha aku malah nggumun, seumur2 hidup di kampung ga pernah kebanjiran, pergi ke ibu kota kok malah kena banjir.. aneh banget😦 jadi obyek wisata menarik nih, poto2 di lokasi banjir, hehehe norak deh🙂

  31. […] tahu siapa yang njelekin orang lain akan balik dia sendiri nantinya yang tertuding. Kalau dibaca di komentar tentang salah seorang warga Jakarta disini […]

  32. ..bencana/kasih sayangNya?
    setiap kejadian merupakan rangkaian akumulasi dari berbagai macam sebab, baik yang datang dari diri kita maupun dari luar diri kita. dengan sebegitu bijaknya Dia, setiap kejadian telah di menejNya, sebegitu proporsional, sehingga tidak ada satu kejadian pun yang sia- sia. semua itu adalah dalam rangka menyempurnakan manusia, sebagai hamba n sekaligus khalifahNya dimuka bumi ini.
    kalau kita ingat waktu sekolah, pak guru yang bijak akan memberikan latihan- latihan, ulangan, pr, kuis dll. semua itu sama sekali bukan untuk membebani kita atau karena bencinya beliau kepada kita, justru karena sayangnya beliau pada kita, beliau hendak mengasah/ menyempurnakan kemampuan kita, mungkin kita baru menyadari setelah kita dewasa, karena sifat kekanak-kanakan kita kala itu. demikian juga untuk bisa naik kelas tentunya kita akan melalui berbagai ujian. seorang guru yang bijak tentunya tidak akan memberikan soal untuk anak sma kepada anak sd, juga sebalikya
    coba kita kembali mengingat masa kecil lagi, ketika kita pilek, dan kebetulan ada yang jual es lewat depan rumah kita, dan kita ingin n minta dibelikan kepada ibu kita, ternyata beliau tidak membelikannya, bahkan beliau memberi kita pil yang sama sekali tidak kita sukai. apakah beliau membenci kita? tidak sayang kepada kita? sama sekali bukan, justru itu adalah wujud kasih sayang beliau kepada kita. begitu terbatasnya kemampuan kita, seringkali kita menganggap sesuatu itu baik dan kita menyukainya, ternyata hal itu buruk akibatnya, juga sebalikya
    mungkin yang sangat penting untuk dikembangkan adalah sikap baik sangka/ husnudhon pada setiap kejadian, bahwa semua telah melalui menejemen Ilahi yang begitu proporsional, begitu bijak, dalam rangka penyempurnaan kita…
    Allau a’lam

  33. Banjir teruss….terus banjir……tenggelam. Waks…..!!??

  34. Malu ih,ibu kota negara kok kebanjiran..??Penduduknya kebanyakan kali ya??Buang sampah sembarangan,masa katanya gara-gara gak tau buang sampah dimana???

    Ck..Ck..Ck..
    Negara berkembang kok penduduknya sulit berkembangnya ya??

  35. Melihat dari topografi baru…
    bagaimana kalo dibuatlah semacam bak2 penampung, yg kalo di offshore platform ya semacam drain box… terletak didaerah yg berpotensi terjadi genangan air(banjir), drain box ini dibagian bawahnya disambungkan dgn kanal bawah tanah. Dgn kanal2 ini, semua air dialirkan menuju kanal lbh besar (sub header), lalu menuju ke header yg akan mengalirkan air dgn sukses ke laut.
    jadi gak perlu membebaskan tanah, yg mbulet dan berbelit2.
    ya barangx bisa disempurnakan semburat ide ini.

  36. Jakarta Banjir karena Sutiyoso, pasti itu!

  37. Sudah jelas toh kenapa banjir gede:

    1. Curah hujan tinggi, baik di JKT maupun selatan jakarta. BTW sekarang ini bahkan pantura kebanjiran berat, tapi beritanya kalah sama banjir jakarta. Ini kata pakde gara2 pemanasan suhu terutama suhu air laut. Buat yg no 1 ini bener2 kita nggak bisa milih/nggak ada andil, sepenuhnya hak YMK (Yg Maha Kuasa).

    Untuk no 2 dan seterusnya gara2 wong:

    2. Pembangungan yg aslinya di rawa-rawa (macam kelapa gading)

    3. Pembangungan yg semrawut : tidak ada selokan, memindahkan aliran sungai, rawa diurug, membangun dimana aja, drainage tdk dipikirkan, dst.

    4. Kurang memperhatikan resapan air; Padahal sudah ada perda tiap rumah kudu punya sumur resapan.

    5. Buang sampah sembarangan: wah pusing kalo mikirin ini.

    dst dst (tambah ndiri ya. . .)

    Sekedar contoh yg no 2 dan 3, mertua saya punya rumah tahun 1989 di Ulujami, tepatnya di jl. Perdatam VIII. Dibangun sama developer kompleks sekitar 30 rumah di bantaran kali Pesanggrahan (kira2 masih 100 meter). Asal tanah ini rawa2 yg kemudian developer urug (Kesalahan no 2). Awal-awal tahun penempatan nggak pernah banjir, tapi sudah mulai air masuk ke jalanan semata kaki setelah 2-3 tahun ditempati. Ketinggian banjir semakin tahun semakin parah, terutama ketika mal Cipulir plaza dibangun. Itu mal, juga mengurug rawa2, dan pas dipinggir kali Pesanggrahan, dan juga mereka mengalihkan aliran kali Pesanggrahan (Kesalahan 2 dan 3 di atas). Mulai sejak itu air banjir naik terus sampai sepinggang kalau musim hujan (kemungkinan besar banyak pembangunan di kali pesanggrahan di arah utara Cipulir). Perbaikan drainage di kompleks menuju kali pesangrahan tidak terlalu menolong (sdh terlambat, Kesalahan no 3). Thn 2002 dan 2007 ini sudah nggak ketolong lagi ketika curah hujan gede banget (sebab no 1 di atas), thn 2002, air masuk ke dalam rumah 1.8 meter, thn 2007 sudah 2 meter. Selama ini ortu ngotot nggak mau pindah (abis dah guyub ama tetangga, maunya bedol desa, pindah rame2), dan dirumah sendiri tersedia sampai 3 pompa air untuk sedot air keluar (air dibendung di pagar, dan halaman tertutup oleh pagar, didalam ada kolam ikan yg berfungsi sebagai kolam penampungan banjir). Jadi praktis sebenarnya air paling masuk ke halaman dalam semata kaki walaupun diluar sudah sepinggang.

    Eniwei, begitulah keadaannya, ya. . .

    Kalau mau dibilang bencana, ya jelas. Apakah Allah penyebabnya? Tentu saja; Apakah karena Allah murka kpd ortu dan mengazab mereka? Lha yg kena kan nggak cuma ortu aja; Tapi memang musibah akan mengenai semua orang, baik yg beriman maupun yang bejat, terutama ketika nasehat-menasehati dalam kebenaran, atau menegur yg fasik, tidak dijalankan lagi; Semua orang cuek, dewe-dewe; Ada orang berbuat mesum, ya wes ben, kan dia ini yg berbuat, bukan kita;
    Apakah musibah ini bisa dihindari? Ya tentu saja, dengan pindah ketempat yg lebih aman. Tapi apa bisa? Ada teman pedagang yg bilang kesaya, “Ngapain tinggal disana, kalau dah jelas banjir, langsung jual aja” Trus saya nanya, “Lha sampeyan gimana, toko sampeyan dimana? Di Kemang kan? Kebanjiran nggak? Kebanjiran juga toh??? Pindah nggak? Nggak toh???” Sudah berapa lama punya toko? Dari tahun 80 bo! Dia cuma mesam-mesem aja. . . hopo tumon. . .

  38. Siklusnya mungkin bakalan lebih rapet di tahun2 mendatang… yang tadinya biasane 5 tahunan bisa lebih rempet meneh…..
    Gak mau nyalahin siapa2.. deh…. mungkin jugah salahku… wektu mbuang bungkus permen sak uprittt… diselokan rumah… truss.
    digelondor air….. ke bawa ke kali (sungai-red)…. ngumpul sama sampah2 yang lain…. blaik toh…
    Perlu penanganan terpadu jugah… anatara Jabar.. sebagai pengirim dan Ibukota sebagai Penerima Air yang jumlahnya bejibun-jibun….

  39. Pak Dhe,
    Punya peta kontur permukaan terbaru untuk daerah Jakarta dan sekitarnya gak???

    Urun rembug ya pak Dhe…

    Ideal nya sih entah PEMDA, atau pihak terkait, memberikan updated ke masyarakat, tentang daerah2 yang rawan banjir, pelatihan kalau terjadi banjir, sekalian pengecek an tentang kesiapan manusia dan alat2 nya (tapi yang kaya gini lumayan sulit ya…), terus sosialisasi ke mereka, resiko yang akan terjadi dari kejadian yang mungkin muncul, mau dipindahkan secara sukarela atau tidak, misal lewat transmigrasi begitu…

    Sebaik nya juga ada master plan tentang penanggulangan bencana, baik banjir, longsor, gempa, gunung meletus (siapa tahu Gunung Krakatau meletus…), secara terencana dan berkesinambungan…

    …jadi membangun adalah bagus, tapi juga jangan berakibat buruk untuk lingkungan di kemudian hari…

    Mungkin sudah ada, tapi aku belum tahu kali ya, he he he…

    Salam
    Sigit

  40. pindah ke papua aja…jadi para wakil rakyat kalo mau sidang naik ojek…bisa jadi alasan buat telat
    ..trus ga perlu pake baju safari..cukup pake koteka…(kalo YZ masi jadi wakil rakyat, kotekanya ukuran apa ya?XL?S?atau XS?)hihi..
    btw maaf kalau agak rasial, tapi bukan maksud itu, biar pemerintah pusat tau kalo saudara2 kita di papua masih banyak yang belum bisa merasakan pembangunan…

  41. klo pindah ibu kota negara gimana pak? ada rekomendasi yang bagus?

  42. Indonesia memang rawan bencana, tsunami lebih dahsyat dari banjir di Jakarta, tetapi kok tetep ngeri juga ya menyaksikan orang-orang yang dievakuasi bahkan ada yang sampai kelaparan. Padahal itu kan ibu kota Indonesia.

  43. nggak pengen tinggal di Jakarta deh, males, mending di desa asal makmur, tentram, gemah ripah loh jinawi, bukankah itu juga termasuk kesejahteraan artinya bebas banjir. Meskipun penghasilan dikit asal cukup he…he…he…

  44. […] bisa timbul banjir yang sedemikian parah di Jakarta? Mas Rovicky sudah memberikan […]

  45. Aduh, aduh.. Sekali lagi… Semuanya bersumber pada EDUKASI MASSA!!!
    Okelah, kita punya ahli geologi di BMG yang bisa prediksi datangnya bencana. Okelah kita punya Satkorlak yang siap siaga kalau ada bencana. Tapi gimana cara yang efektif untuk meng KOMUNIKASI kan pengetahuan tersebut???
    Saya ‘gemes’ waktu ada salah seorang penduduk yang diwawancara di TV bilang kalo udah diperingatkan, tapi ‘kagak percaye, gue… mana mungkin banjir sebegitu?’ dan akhirnya lenyaplah rumahnya tinggal atap tersisa. SALAH SIAPA???
    Lantas di salah satu perumahan deket rumah saya, hariminggu pernah diadakan simulasi gempa. Sirine dibunyikan, dan aparat masyarakat mengumpulkan orang-orang di lapangan. Setelah mereka diberitahu bahwa ini acara simulasi, banyak yang marah-marah dan protes! LAH IKI PIYE???
    Apa ya yang terjadi sama orang Indonesia? Apa karena warisan semangat HARAKIRI penjajah Jepang dulu? atau memang nyawa udah gak ada nilainya jaman edan ini?

  46. Terlepas dari yang tidak percaya atau tidak bahwa bencana alam itu merupakan peringatan dari Gusti Allah kepada ummat manusia, saya kok berani mengatakan bahwa ada pekerjaan manusia yang memberikan sumbangan terhadap banjir di Jakarta. Bisa dikatakan keseimbangan alam telah rusak oleh ulah manusia. Contone, sudah jelas Jakarta itu dulunya rawa-rawa. Saya dulu pernah baca di koran, pembangunan Batavia sudah menuai kritik dari para arsitek di Belanda. Dikritik habis karena yang dibangun menjadi Batavia adalah rawa-rawa.

    Lah, saiki Jakarta dibangun terus sedangkan punggung bukit di Bogor sana dibangun villa mewah oleh orang Jakarta juga. Akibatnya, air hujang langsung saja dibuang ke kali tanpa ada kekuatan alam untuk menahan.

    Buat Mr. Tajib, apakah mengirim banjir lebih sepele bagi Gusti Allah daripada mencabuti nyawa manusia yang sudah sampe ajalnya? Monggo direnungkan untuk bahan tulisan selanjutnya.

  47. Assalamualaikum wr wb..
    Maaf…Beribu maaf…
    Murka ALLAH memang bukan karena salah mereka yg kini “terendam”.. mungkin???!!!
    Tapi mestinya kita bisa mengkoreksi diri kita, khususnya saya sendiri, mas mas ato mbak mbak yg baca di BLOG ini.
    Apakah ada tingkah laku kita? pergaulan kita? cara kita mencari nafkah, cara ibadah kita? sudah kah sesuai dgn yg “diinginkan” ALLAH? atau ada yg salah?
    Kalau semua aspek kehidupan kita susah benar, sudah sesuai kehendak ALLAH, tak mungkin ALLAH turunkan pada kita bencana.

  48. Ya pasti, banjir karena hujan. So, kalo memang negara ini brengsek, apakah negara2 lain lebih agamis dari Indonesia. Amerika walau ada majalah playboy, ada prostitusi legal, sex bebas, judi legal, .. so, tau ah gelap.

    Jadi menurut saya. Semua sunnatullah. Seperti gaya gravitasi. Air mengalir dari tempat tinggi ke rendah. Menebang harus menanam. Makan makanan diproses tubuh keluar ampas. So. Justru kita mesti lebih arif menata hidup kita.

    Tetap semangat teman2. Tak selamanya hujan akan turun. Seperti hidup. Semua pasti berakhir. Good luck.

  49. Pakde,
    Good point teori global warmingnya, di Melbourne juga banjir, di Alaska sini snownya melting… bencana di mana2 tp di Indonesia lebih parah ditambah human error…

  50. setuju pakdhe…aku kalo ada yang bilang bencana adalah azab tuhan kok jadi miris ya…pas habis tsunami ke aceh njuk ngeliat survivors di sana masa mau ditambah bilang “Ini peringatan dari Allah” ealah kok yo banget men

    Sudahlah lagi ketiban musibah pake dibilang murka tuhan, tuhan sih pengasih lah yaw

    cintaku pada Allah tidak memberiku ruang untuk membenci setan…kata tante rabiah sih

  51. Saya ini kadang tidak tega menyatakan bahwa bencana ini adalah murkaNya karena kebejatan moral manusia sendiri.
    Yang aku tengok di Jogja ketika gempa, juga yang aku lihat ketika banjir kemarin sepanjang perjalanan dari Hotel ke Cengkareng lewat Tangerang bersama Pak Ziggie …. kok rasanya bukan mereka yang salah. Apa iya aku bilang ke korban bencana ini … “Hey, Pak Bu … ini kan salahmu sendiri, makanya diazab oleh Allah !” Blaik bisa-bisa aku di pentungi korban bencana ini, bisa-bisa dikejar2 sak kampung.

    Masya Allah …Mereka sedang kesusahan, eeeh kok masih dituduh berbuat mungkar sehingga ditinggalkan Allah … Apakah iya Tuhan itu “dengan santainya” menjatuhkan azab begitu ?
    Yang aku tahu Tuhan Maha Pengasih, Maha penyayang … Walopun aku yakin tuhan mampu menciptakan azab yang pedih.

    Ah aku manusia biasa yang ga tegaan😦

  52. Berarti beli properti di jakarta adalah investasi buruk.

  53. Ini peringatan bagi kita bahwa Jakarta sudah tidak bisa
    lagi dipertahankan sebagai ibukota, akan dibutuhkan
    banyak dana untuk mengatasi ini mungkin akan lebih
    murah kalau ibukota pindah

  54. Emange kalo air didoakan bisa menyingkir … aku yakin keputusan manusialah yang membuat manusia aman atau tidak. alam hanya memfasilitasi. Tuhan hanya ndelok saja kelakuan masing-masing.

    pripun dhe ?

  55. Assalamualaikum wr wb..
    Benar bang Tajib, sesungguhnya banjir ini peringatan sekaligus sebenarnya tandatanya (?) kenapa ALLAH turunkan banjir? kenapa yg turun bancana? bukan keberkahan?
    Kalau kita mau melihat dgn Bashirah, hubungan kita dgn ALLAH sebenarnya sedang rusak.
    Yang kita perlukan bukan Teknologi atau Teori untuk mencegah banjir, tapi bagaimana kita “perbaiki” hubungan kita dgn ALLAH, kalau hubungan kita dgn ALLAH baik, tak mungkin ALLAH turunkan bencana.
    Apa lagi tanda hubungan kita dgn ALLAH sedang rusak? Satu contoh, tempat yg paling disukai ALLAH adalah Mesjid, dan tempat yg dibenci ALLAH adalah pasar, tetapi sekarang ini… ketika ADZAN dikumandangkan orang malah mencari pasar, MAL! bukan Mesjid. maka wajar ALLAH turunkan bencana.

    Keputusan ALLAH dilangit tergantung Amalan penduduk Bumi, apabila baik Amalan penduduk Bumi maka Keputusan ALLAH yang turun dari langit akan baik, begitu juga sebaliknya..

  56. […] Saya menungu-nunggu ada blogger yang nulis tentang banjir. Tetapi bukan tulisan modelnya dongeng geologi. Melainkan tulisan yang isinya mengatakan, bahwa terjadinya banjir itu karena Tuhan sedang […]

  57. yang jelas, bukan karena kutukan Tuhan pak!

  58. makasih infonya Pakde, di Sangatta juga banjir, 3 hari 3 malam listrik mati, gelap rek.

  59. sama pak, lha gara-gara kantor telkom kebanjiran (http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/02/time/125425/idnews/737516/idkanal/328) acara video conference kami (http://givangkara.multiply.com/calendar/item/10012) jadi batal dan diundur sampai pemberitahuan lebih lanjut.

  60. Duh Mas Wahyu
    Akhirnya dampak Jakarta sebagai Hub (ibu kota) berimbas ke daerah-daerah lain ya …
    Turut prihatin.

  61. Waduh, banjir lagi tuh, sampe mau ngurus di bank di Jogja aja jadi offline, karena data center yang di jakarta terendam air. duh😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: