Bencana LuSi di Jaman Majapahit (1297 Caka)
20 Maret 2007 at 5:50 am | In Blogroll, Dongeng Geologi, tsunami | 90 Comments
Ternyata bencana semacam Lusi Pernah Terjadi pada Jaman Majapahit !!! Benar pada jaman Majapahit, dikenali dari Pararaton pada tahun 1296 Caka. Seorang geolog sahabat saya yang juga belepotan minyak sakjane (maksudte bekerja di permigasan), Pak Awang Harun Satyana bercerita dibawah ini untuk penikmat dongengan.
-
-
:“Pakdhe, Ternyata banyak ahli-ahli masalalu, ya ? Ada ahli geologi kayak Pakdhe yang mengkaji proses-proses dibumi ratusan ribu hingga jutaan tahun yang lalu. Ada ahli arkeologi dan anthropologi yang mengkaji kisah manusia dan peninggalannya ribuan tahun yang lalu. Juga ada ahli bio-evolusi dan paleontologi yang mengkaji mahkluk hidup jaman dahulu sejak bumi terbentuk. Bahkan ada Paleoanthropologi yang ahlinya Pak Jacob dari Jogja” -
:”Lah kowe wis pinter mendongeng juga gitu, to le ?” -
:”Tapi mbok dongeng evolusinya diterusin dhe ?”
-
Pararaton 1296 Caka : Bencana “Pagunung Anyar” dan Sandyakala ning Majapahit
Awang Harun Satyana
Judul di atas maksudnya adalah menurut Kitab Pararaton yang diterjemahkan Brandes (1896), bahwa pada tahun 1296 Caka atau 1374 Masehi telah terjadi sebuah bencana bernama “Pagunung Anyar” yang memundurkan Majapahit, kerajaan Nusantara terbesar. Apakah bencana Pagunung Anyar ? Saya menafsirkannya, itu adalah erupsi gununglumpur ala semburan LUSI (!)
Di bawah ini adalah catatan2 saya setelah mempelajari buku2 sejarah, geologi, dan folklore yang berselang lebih dari 100 tahun penerbitannya. Dimulai dari Daldjoeni (1984, 1992) “Geografi Kesejarahan”, lalu bersambung ke depan dan ke belakang menuju Purwadi (2001) “Babad Tanah Jawi : Menelusuri Jejak Konflik”, Slamet Muljana (1968, 2005) “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara”, Slamet Muljana (1965, 2005) “Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)”, Denys Lombard (1990) “Le Carrefour Javanais”, James Nash (1932), “Enige voorlopige opmerkingen omtrent de hydrogeologie der Brantas vlakte – Handelingen van 6de Ned. Indische Natuur Wetenschappelijke Congres”, H.J. de Graaf (1949) “de Geschiedenis van Indonesie”, J. Brandes (1896) “Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit”, buku2 geologi karya Duyfjes (1936-1938) untuk pemetaan wilayah Kendeng bagian timur (“Zur geologie und stratigraphie des Kendenggebietes zwischen Trinil und Soerabaja” dan “Toelichting bij blad 115,109, 110, 116), juga karya masterpiece van Bemmelen (1949, 1972) “The Geology of Indonesia”, dan buku folklore karya James Danandjaja (1984) “ Folklor Indonesia : Ilmu gossip, dongeng, dan lain2”
Maksud hati ingin menelusuri tulisan2 sejarah tentang kronik kejadian Bledug Kuwu di selatan Purwodadi agar bisa mencari analogi untuk kronik semburan LUSI, ternyata penelusuran buku2 di atas malahan membawa saya ke pemikiran bahwa : selain oleh alasan politik, Majapahit MUNGKIN telah mundur oleh deformasi Delta Brantas akibat rentetan erupsi gununglumpur Jombang-Mojokerto-Bangsal pada kawasan sepanjang 25 km. Mari kita lihat sisik-meliknya.

Kita mulai dari panorama sebuah gunung yang dikeramatkan oleh penduduk dan tokoh2 kerajaan sejak Mpu Sindok, Erlangga, dan para pengikutnya : Gunung Penanggungan. Gunung Penanggungan, sebuah gunung setinggi 1659 meter di utara Gunung Arjuno-Welirang, adalah gunung paling dekat ke lokasi semburan LUSI. Gunung ini terletak di sebelah selatan Sungai Porong dan masih ke sebelah selatan dari Gawir Watukosek, sebuah gawir sesar hasil deformasi Sesar Watukosek yang juga membelokkan Sungai Porong , melalui titik2 semburan lumpur panas termasuk LUSI, juga melalui gunung2 lumpur di sekitar Surabaya dan Bangkalan Madura.
Dalam sejarah kerajaan2 Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan adalah sebuah gunung yang penting (Daldjoeni, 1984; Lombard, 1990). Kerajaan2 yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat nadi Sungai Brantas, kerajaan2 itu mengelilingi Gunung Penanggungan, misalnya Kahuripan, Jenggala, Daha, Majapahit, dan Tumapel (Singhasari). Daerah genangan LUSI sekarang dulunya adalah wilayah Medang atau Kahuripan dari zaman Sindok dan Erlangga, juga termasuk ke dalam wilayah Majapahit. Setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan2 itu, maka Gunung Penanggungan dijadikan ajang strategi perang. Erlangga pun pada saat pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan Dharmawangsa mertuanya (Maha Pralaya), bersembunyi di Penanggungan sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan bagaimana membangun kerajaannya yang baru. Penanggungan pun dijadikan tempat2 untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Erlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Erlangga di Jalatunda. Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat. Makam2 keramat ini ditemukan penduduk Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus2 tahun terkubur, saat mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan pupuk.
Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran Brantas. Menurut Nash (1932) – “hydrogeologie der Brantas vlakte”, Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan2 ini kelihatannya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.
Menurut penelitian Nash pada tahun 1930, tanah Delta Brantas itu tidak stabil karena di bawahnya masih terus saja bergerak tujuh jajaran antiklin sebagai sambungan ujung Pegunungan Kendeng yang mengarah ke Selat Madura. Misalnya, pernah terjadi kenaikan tanah di sekitar sambungan (muara) Kali Brantas dengan Kali Mas; palung sungai bergeser ke kiri sehingga airnya mengalir ke barat. Setelah mengisi ledokan yang dinamai Kedunglidah (di sebelah barat Surabaya sekarang), kemudian mengalir menuju laut dan bermuara di dekat Gresik. Menurut catatan sejarah, Kedunglidah itu masih ada pada tahun 1838.
Denys Lombard, ahli sejarah berkebangsaan Prancis yang menulis tiga volume tebal buku sejarah Jawa tahun 1990 “Le Carrefour Javanais – Essai d’Histoire Globale” (sudah diterjemahkan oleh Gramedia sejak 1996 dan cetakan ketiganya diterbitkan Maret 2005) menulis tentang “Prasasti Kelagyan” zaman Erlangga bercandra sengkala 959 Caka (1037 M). Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. Prasasti Kelagyan mmenceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah2 penduduk. Erlangga bertindak dengan membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa sungai kembali mengalir ke utara. Mungkin, inilah yang disebut sebagai bencana “Banyu Pindah” dalam buku Pararaton. Bencana seperti ini kelihatannya terjadi berulang2, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256 Caka (1334 M) pada zaman Majapahit.
Sejak zaman Kerajaan Medang abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh). Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Kahuripan yang letaknya di dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin, di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (sekitar 10 km ke sebelah utara baratlaut dari lokasi semburan LUSI sekarang). Setelah kerajaan Erlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri, pelabuhan dari Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, dekat Mojokerto sekarang. Kemudian, Kediri digantikan Singhasari, lalu akhirnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M, pusat kerajaan kembali mendekati laut di Delta Brantas, sehingga Majapahit menjadi kerajaan yang menguasai maritim.
Daldjoeni (1984) menulis bahwa mulai mundurnya Majapahit pada akhir tahun 1300-an mungkin bukan hanya karena sepeninggal patih Gajah Mada (1364 M) atau Raja Hayam Wuruk (1389 M), tetapi juga dapat dihubungkan dengan mundurnya fungsi delta Brantas yang didahului oleh rentetan bencana geomorfologis yang dalam buku-buku sejarah tidak pernah ditulis. Namun, sebagai gejala alami, Kitab Pararaton mencatat hal-hal yang menarik untuk kita perhatikan. Kitab Pararaton menurut Prof. Slamet Muljana ditulis pada tahun 1613 M. Kitab Pararaton menceritakan kronik Singhasari sejak Ken Arok sampai habisnya Kerajaan Majapahit. Pararaton adalah sumber sejarah penting Majapahit di samping Negara Krtagama karangan Mpu Prapanca (Mpu Prapanca hidup sezaman dengan Gajah Mada).
Dalam hubungan dengan kemunduran Majapahit, kitab Pararaton mencatat (Brandes, 1896: “Pararaton” terbit lagi tahun 1920 setelah diedit oleh N.J. Krom) :
- Bencana yang dalam kitab Pararaton disebut “BANYU PINDAH” (terjadi tahun 1256 Caka atau 1334 M).
- Bencana yang dalam kitab Pararaton disebut “PAGUNUNG ANYAR” (terjadi tahun 1296 Caka atau 1374 M)
Secara harafiah, Banyu Pindah=Air Pindah, Pagunung Anyar = Gunung Baru.
Penelitian selanjutnya (Nash, 1932) telah menemukan bukti-bukti bahwa telah terjadi berbagai deformasi tanah yang pangkalnya adalah bukit-bukit Tunggorono di sebelah selatan kota Jombang sekarang, kemudian menjalar ke timurlaut ke Jombatan dan Segunung. Akhirnya gerakan deformasi tersebut mengenai lokasi pelabuhan Canggu di sekitar Mojokerto sekarang, lalu makin ke timur menuju Bangsal (sekitar 25 km di sebelah barat lokasi semburan LUSI sekarang). Di dekat Bangsal ada sebuah desa yang namanya GUNUNG ANYAR. Begitu juga di tempat pangkal bencana terjadi di selatan Jombang ada nama desa serupa yaitu DENANYAR yang semula bernama REDIANYAR yang berarti gunung baru.
Perhatikan bahwa nama GUNUNG ANYAR juga dipakai sebagai nama sebuah kawasan di dekat Surabaya yang sekarang menjadi terkenal dalam hubungan dengan kasus semburan LUSI sebab ternyata GUNUNG ANYAR adalah sebuah mud volcano yang membentuk kelurusan dengan LUSI.
Nah, apakah bencana alam yang memundurkan era keemasan Majapahit yang dalam kitab Pararaton disebut bencana “Pagunung Anyar” adalah bencana-bencana terjadinya erupsi jalur gununglumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal ? Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Kalau erupsi semua gununglumpur itu sedahsyat seperti semburan LUSI sekarang, bisa dibayangkan bagaimana terganggunya kehidupan di Majapahit pada akhir tahun1300-an dan pada awal 1400-an. Serangan fatal mungkin terjadi karena rusaknya pelabuhan Canggu di dekat Mojokerto, sehingga Majapahit yang merupakan kerajaan maritim menjadi terisolir dan perekonomiannya mundur. Zaman itu, Canggu di Mojokerto masih bisa dilayari dari laut sekitar Surabaya sekarang.
Secara geologi, Jalur Jombang-Mojokerto-Bangsal adalah masih di dalam Jalur Kendeng, sejalur dengan lokasi semburan LUSI, masih di dalam wilayah bersedimentasi labil dan tertekan (elisional), yang menurut Nash (1932) di bawahnya dari selatan ke utara ada jajaran antiklin Jombang, antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil. Aktivitas deformasi di bagian timur Kendeng ini secara detail digambarkan oleh Duyfjes (1936) yang memetakan lembar peta 109 (Lamongan), 110 (Mojokerto), 115 (Surabaya), dan 116 (Sidoarjo) pada skala 1 : 100.000. Beberapa gambar2-nya dimuat di buku van Bemmelen (1949) yang juga mengatakan bahwa secara struktural deformasi di wilayah Kendeng bagian timur ini terjadi melalui gravitational tectogenesis sebab geosinklin Kendeng timur-Madura Strait masih sedang menurun. Kondisi elisional semacam ini tentu memudahkan piercement structures seperti mud volcano eruption. Dari geosinklin menjadi antiklinorium jelas melibatkan sebuah sistem elisional.
Sepeninggal Hayam Wuruk, raja-raja Majapahit kurang cakap memimpin negara, banyak perang saudara, seperti Paregreg, yang melemahkan negara sampai akhirnya Majapahit musnah pada tahun 1527 M saat diserang kerajaan Islam pertama di Jawa : Demak. Suksesi tidak berjalan dengan baik, one-man show mendominasi pemerintahan selama Gajah Mada dan Hayam Wuruk, tak ada regenerasi ke penerusnya. Sepeninggal pasangan Gajah Mada-Hayam Wuruk, negara melemah. Tetapi, catatan2 tak tertulis di buku sejarah, kecuali Pararaton beserta kondisi geologis-geomorfologis Delta Brantas menunjukkan, bahwa bencana alam erupsi gununglumpur ala semburan LUSI juga patut diperhitungkan sebagai penyebab kemunduran Majapahit.
Cerita rakyat atau dongeng Jawa Timur “Timun Mas” (seperti pernah di-posting Pak Dwi-PetroChina dan kita diskusikan tahun lalu dalam hubungannya dengan semburan LUSI) berasal dari sekitar zaman Kahuripan di Delta Brantas sekitar abad ke-11 (James Danandjaja, 1984 : “Folklor Indonesia”). Kemunculan raksasa yang selalu disertai gempa, garam yang dilempar Timun Mas yang menjadi lautan, dan terasi yang dilempar Timun Mas yang menjadi lumpur panas yang akhirnya menenggelamkan sang raksasa, secara samar menggambarkan kondisi bagaimana kalau sebuah mud volcano ala LUSI meletus. Kita melihatnya sekarang, lumpur panas dan genangan seperti laut dengan air asin menengelamkan desa2 Sidoarjo yang dulunya adalah wilayah Kahuripan. Apakah dongeng Timun Mas sebenarnya menggambarkan bahwa dulu pun kasus seperti LUSI pernah terjadi ? Walahualam, tetapi penelusuran buku2 sejarah, geologi, dan folklore Timun Mas rasanya memungkinkan hal itu.
Apakah bencana LUSI sekarang akan memundurkan Jawa Timur atau bahkan Indonesia ? Sekitar 500-600 tahun yang lalu mungkin hal yang sama telah terjadi terhadap Majapahit ! Lima ratus tahun kemudian, mestinya kini kita tak semudah itu patah diterjang bencana bukan ?
Awang H S
Geologist Indonesia
Catetan epiloque
” Wadduh Dhe ,,, kalau begitu semestinya kita harus melihat ulang sejarah Indonesia. Memasukkan faktor ilmu kebumian kedalam pembelajaran sejarah sangat penting untuk rakyat Indonesia dimasa mendatang. Seperti yang PakDhe tulis dahulu tentang Candi Kedulan, Ya Dhe ?
“Ya, pelajaran itu mestinya untuk generasimu dan generasi nantinya le, jas merah jangan digantung saja … Jangan Lupakan Sejarah ! “
Tulisan diatas hanya menunjukkan bahwa di daerah ini dahulu pernah terjadi secara alamiah, juga memebrikan pelajaran bahwa MV adalah proses alam yang pernah terjadi sejak dahulu di daerah ini. Artinya daerah Jawa Timur terutama sekitar Porong sangat BERPOTENSI untuk terjadi atau munculnya Mud Volkano.
Sama saja dengan daerah Jakarta yang memang dibentuk oleh endapan banjir. Secara alamiah memang Jakarta tempatnya banjir. Tetapi bukan untuk menyatakan karena sering banjir ya udah kita nerima saja, bukan.
Demikian juga dengan MV di Porong. Kalau anda berbuat sesuatu akhirnya dapat juga “memicu dan memacu” terbentuknya MV. Coba simak Detak-detak kelahiran LUSI.
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Iklan Gratis



Sirna Ilang Kertaning Bumi –> mungkin ngga diterjemahkan hilang ambles ditelan bumi ? maksudnya ketutup semburan lumpur seperti pabrik-pabrik disekitar BPJ-1 kmaren itu ?
Komentar oleh Rovicky — 20 Maret 2007 #
Bencana banjir di zaman Nabi Nuh, juga adanya semburan air dari bawah tanah. Namun, diduga sumber air berasal dari limpahan air danau karena hujan lebat yang berada di atasnya yang mengalir melalui rekahan bawah tanah.
Menurut yang saya teliti, melalui google earth, luas genangan banjir Nuh pada level +1530 sekitar 5 juta ha, panjang 550 km (hampir sepertiga pulau Jawa) dan hanya ada satu outlet (celah sempit keluarnya air) menuju laut Kaspia. Genangan maksimum pada level 1980 dengan luas datar 9-10 juta ha.
Sedangkan bekas cetakan perahu Nuh, berupa tanah menyerupai perahu raksasa, ditemukan pada ketinggian 1480-1500. Lihat http://www.noahsark-naxuan.com
Komentar oleh Dedi Ganedi — 20 Maret 2007 #
Prasasti Kelagyan di zaman Erlangga dipakai tahun Caka yang berdasar peredaran matahari, jadi sengkalannya bukan candrasangkala tetapi suryasengkala.( candra =bulan, surya = matahari ),selisih tahun Caka dan Masehi selalu tetap =78 tahun.
Komentar oleh ompapang — 20 Maret 2007 #
di SMA dulu guru saya sejarah bilang runtuhnya Majapahit tahun 1478 M atau 1400 Caka,ditandai dengan suryasengkala Sirna Ilang Kertaning Bumi ( artinya 0041,dibaca 1400), dengan raja terakhir bernama Kertabumi. dalam dongeng ini kok 1527 M, mana yang benar ?
Komentar oleh ompapang — 20 Maret 2007 #
pak dhe, mo nanya neeh apa seeh pengaruh gempa terhadap tumbuhan? mohon dijawab yahh penting banget
Komentar oleh aath — 20 Maret 2007 #
Analisa mud volcano jaman mojopahit boleh juga Pak Dhe, apalagi kalo data-datanya lebih lengkap dan akurat, maka akan menjadi kajian ilmiah yang menarik, jadi temans bisa bantu untuk mengoreksi, menambahkan sehingga kajian Pak Dhe bisa lebih mengigit.
Salam
Komentar oleh Robert VDR — 20 Maret 2007 #
–> aath
Pengaruh gempa terhadap tumbuhan aku rasa ga ada pengaruh langsungnya … lah wong gempa itu getaran yg dirasakan pohon lebih kecil dari angin berhembus je. Gempa jogja itu getarannya hanya sekitar selama satu menit …saja
Komentar oleh Rovicky — 20 Maret 2007 #
Suryasengkala, condrosengkolo = sistem penanggalan (penahunan?). “sirna-ilang-kertaning-bumi” = tahun 1400. Begitulah/kah kira-kira?
MW
Komentar oleh mawari — 21 Maret 2007 #
Posting bung Awang Harun bagus banget tu Kang.
Geologi kan memang sejarahnya bumi, so kaitan dengan sejarah manusia ya setali bolak balik aja kalee. Di mana ya bisa baca buku-buku sejarah kuno kayak gitu? Dari prasasti2 laloe itu mestinya banyak info penting geologi, natural disaster dan riwayat2 laen, seperti meletupnya krakatau, kapan lagi tuh …
Komentar oleh mawari — 21 Maret 2007 #
Kang Robert VDR
>-
Wah lebih menggigit gimana, di jaman Majapahit kan belum ada jurnal2 geologi, c/beritanya aja didapat dari bukunya empu-empu atau dari tulisan di candi-candi yg gak semua orang bisa baca dan udah langka
Komentar oleh mawari — 21 Maret 2007 #
Jadi maksudnya, semburan lumpur itu bukan karena akibat pemboran berdasarkan catatan sejarah. Bukan begitu?
Komentar oleh Dedi Ganedi — 21 Maret 2007 #
–> Mas Dedi Ganedi ,
Saya tidak melihatnya begitu, saya melihatnya adanya potensi semburan lumpur didaerah Jawa Timur ini. Kita harus membedakan antara Trigger/Pemicu dan Potensi Bahaya.
Yang saya dilihat pada tulisan itu adalah sangat tingginya potensi semburan lumpur yang ada di daerah JaTim ini.
Soal trigger itu soal lain. Ini seolah-olah hanya menyatakan adanya bensin di daerah ini tetapi tidak berbicara apa yang menjadi pemantik dari kebakaran..
Komentar oleh Rovicky — 21 Maret 2007 #
Mantap benar tulisan di atas. Selama ini kita gak pernah belajar dari sejarah. Bahkan bencana yang merenggut nyawa ratusan orang-pun akan cepat dilupakan. Ato memang kita ini bangsa pelupa?
Komentar oleh Didik — 21 Maret 2007 #
Saya jadi banyak tahu setelah membaca tulisan ini ! Mungkin ini akan berguna buat cerita anak cucu kelak !
Komentar oleh purwadi06 — 21 Maret 2007 #
Mbak, Mas Mawari ??
Tulisan Pak Dhe bisa lebih menggigit, klu dilampiri dg data-data umur lapisan tanah misalnya, kan dari situ bisa dilihat umur endapan tanahnya, contohnya mengapa di india ada endapan lapisan vulkanik, juga di malaysia, dari situ para geolog mungkin bisa memprediksi mengapa hal ini bisa terjadi (prediksi karena letusan toba), so….bagaimana impack-nya thd kehidupan manusia pada saat tsb. Umur endapan MV pada jaman majapahit juga bisa diambil sampelnya u/ di-compare dg endapan lumpur Lusi, di analisa lalu dibuat semacam enginering memorandumnya. Itu dari sisi geloginya, dari sisi legenda,cerita rakyat, tulisan ….etc kan bisa digali lagi…….yaaaah semacam itulah semuanya, itu sih pendapat daku,…..mbe’e onok pakar sing gelem nyumbang datane kan orak popo,……iyo nggak Pak Dhe……..
Salam
Komentar oleh Robert VDR — 21 Maret 2007 #
Pak Dhe, Sirna Ilang Kertaning Bumi merupakan kata-kata bersayap,bisa saja diartikan HILANGNYA KEMAKMURAN, dalam arti hilangnya kesuburan tanah karena tertutup lumpur.
buat Mawari,saya mau ndongeng !
kala artinya waktu. Sengkalan =hal mengenai sengkala. Sengkala singkatan dari sangkakala, penanda waktu. Sebagai gambaran di barak militer, tiap jam 6 pagi dan jam 10 malam,dibunyikan sangkakala dengan mengunakan terompet dengan nada/lagu tertentu sebagai tanda bangun pagi dan tidur malam.Di Kerajaan – kerajaan Jawa, untuk menandai tahun(waktu) selesai dibuatnya bangunan, pada bangunan ybs ditandai dengan sengkalan,dapat berupa ornamen pada bangunan itu atau bentuk bangunan itu sendiri atau kalimat berupa sandi yang mengandung makna dari masing-masing kata penyusunnya.Bila berupa gambar atau bentuk bangunan disebut sengkalan memed,artinya sukar dan rumit.(ctt: bukan sukandar rumidi yang gurunya pak dhe lho! )
Di Kraton Yogya maupun Surakarta banyak dijumpai sengkalan memed ini.Datang saja di Pagelaran Kraton Yogya,ada candrasengkala berupa relief/gambar biawak(salira) dikerumuni lebah (gana), didalam Kraton ada candra sengkala berupa patung ular naga ekornya saling membelit,maksudnya Dwi Naga Rasa Tunggal dan masih banyak lagi,silahkan mengunjungi kraton Yogya.
Kalau orang Belanda menandai waktu selesainya bangunan meniru orang Roma yaitu dengan tulisan,misal ANNO 1909, artinya selesai dibuat tahun 1909 M (Kalender Gregorian).
Apakah Candrasengkala dan suryasengkala penanggalan ?
Candrasengkala dan Suryasengkala bukan penanggalan atau kalender.
Candrasengkala adalah penanda waktu (tahun) kapan terjadinya peristiwa (misal selesainya bangunan) yang ditunjukkan dengan kalender berdasar peredaran bulan ( tahun komariyah, komar=bulan).Candrasengkala ini umumnya dipakai dikerajaan Mataram Islam dan pecahan-pecahannya sesudah tahun 1633 M atau 1555 Saka saat mana Sultan Agung meresmikan kalender Jawa ( Sultan Agungan) sebagai “gabungan” tahun Hidjriah dan tahun Saka, yaitu bahwa mulai tahun 1555 Saka, perhitungan penanggalan diubah dari berdasar peredaran matahari (tahun samsiyah) menjadi berdasar peredaran bulan (komariyah) seperti tahun Hidjriah.Adapun siklus hariannya nya adalah 35 hari ( Senen Pon, Selasa Wage, Rebo Kliwon,Kemis Legi, Jemuah Paing,Setu Pon, Ngahad wage dst sampai 35 hari kembali ke Senen Pon lagi).
Siklus tahunannya 8 tahun atau satu windu dimulai tahun Alip.
Kalau tidak salah didaerah Jogja dianut aliran ASAPON, artinya pada tanggal 1 Suro (permulaan Tahun Baru Jawa ) jatuh hari Selasa Pon (Alip,selaSA,PON). Di daerah Surakarta menganut faham ABOGE, yaitu bahwa tgl 1 Suro tahun Alip,jatuh pada hari RaBO WaGE ( Alip,reBO,waGE).Perbedaan ini bisa terjadi karena pergantian dari Pon ke Wage tidak terjadi pada jam 24.00 atau jam 12 malam,tetapi pada jam 16.00 (4 sore).
Sebelum berlaku tahun Jawa, atau sebelum tahun 1633 M,dapat dipastikan sengkalan yang dibuat adalah menunjukkan tahun Saka(Caka), jadi Suryasengkala.
Jaman merdeka sekarang,masyarakat umum kalau membuat sengkalan cenderung menggunakan Suryasengkala,dalam arti tahun yang ditunjukkan adalah tahun Masehi (Tarich Umum),Misal Jalma Obah Anggatra Negara,artinya Umat (manusia) Bergerak Membentuk Negara,maksudnya menunjuk tahun 1961 M.
Dalam suryasengkala tersebut kenapa Obah (bergerak) dilambangkan angka 6, tidak lain karena gerakan itu punya sifat 6,yaitu dapat berarah maju, mundur, kekiri, kekanan, keatas dan kebawah,6 jurusan seperti yang ditunjukkan oleh sumbu Cartesian ( X,Y,Z ) dalam matematika.
Cara membaca sengkalan,yaitu setelah diketahui makna masing-masing kata,kemudian dibaca dari belakang ( dari kanan kekiri ).
Jadi Sirna Ilang Kertaning Bumi, ditulis 0041,dibaca 1400.
Sekian dulu ya Mawari dongengnya ompapang !
Komentar oleh ompapang — 21 Maret 2007 #
Ompapang, paling bisa aja dongeng yasono-yosini, hueran aku, tambah mumet … ^*>?!@#+-)&(!!, ngelmune kulak ngendi om?
Kang Robert, …. i-c i-c, piiis & thk.
Komentar oleh mawari — 21 Maret 2007 #
Begitu banyak sistem penandaan waktu ya om, baik dulu, kini, lokal, regional – int’l. Bisa-bisa orang salah comot dokumen, untuk nyortir kronologi sejarahnya.
Nggih, maturnuwun om (lali aku), … tambah ngelmuku.
Posting tentang MV-jaman Majapahit ini kayaknya belum pernah disinggung sebelumnya, jadi bahan diskusi yg fresh!
(gatau, apa Lapindo & timnas juga punya acuan ini sebelumnya?). Syukur bisa bawa wacana atau pemikiran baru yang positif ke depan bagi penanganan eh pengelolaan Lusi.
Lusi jok kon tangani loo reek, … mesakke.
Komentar oleh mawari — 21 Maret 2007 #
buat Mawari, diluar konteks topik, tak tambahi dongengnya.
Penanggalan Cina dan Jepang juga berdasar peredaran Matahari. Penanggalan Jepang lebih tua berselisih 660 tahun,maka teks asli proklamasi kemerdekaan Indonesia ditulis tgl 17 bulan ke-8 tahun 05 (maksudnya 2605 th Jepang)
Ada juga ajaran moral pada penanggalan Jawa lho!
Kita kenal peribahasa berakit rakit kehulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu,bersenang senang kemudian.
Makna kata- kata tersebut juga terdapat dalam
penanggalan Jawa, untuk menyebut hari,kita sebut malamnya dahulu,misal MALAM JUMAT Kliwon untuk menyebut hari Jumat Kliwon yang akan dijalani esok hari dalam aktifitas kehidupan insan Jawa, bukan menyebut dengan KAMIS Wage MALAM. Berbeda kan dengan kalender Nasional?!
Artinya insan Jawa menjalani malam dahulu yang gelap (tidak nyaman) kemudian baru siang yang cerah(nyaman).
Habis Gelap Terbitlah Terang, begitulah kira-kira,senada dengan judul buku yang ditulis Abandonen berisi kumpulan surat-surat R.A. KARTINI.
Komentar oleh ompapang — 22 Maret 2007 #
Ompapang, dari mana ya nama-nama hari itu berasal. Apakah di Cina, Jepang, India, Majapahit juga menggunakan nama-nama hari.
Komentar oleh Dedi Ganedi — 22 Maret 2007 #
Pak Dhe, sebaiknya artikel-artikel bagus ini dikirimkan saja ke media cetak. Misalnya http://www.republika.co.id yang punya fasilitas untuk menampung artikel dari pengguna internet untuk dimuat di koran. Jadi banyak orang bisa baca dan bisa juga sekalian memperkenalkan situsnya Pak Dhe. Siapa tahu ada yang menawarkan pasang iklan.
Komentar oleh Dedi Ganedi — 22 Maret 2007 #
Pak Dedi,
Menurut sejarahnya sih nama hari dari kalender yang umum kita pakai sekarang berasal dari Yunani,kemudian diadopsi oleh Yulius Caesar menjadi kalender Yulian. Kemudian oleh Paus Gregorius XII , diubah menjadi kalender Gregorian atau Masehi seperti sekarang. Namanya ya menurut bahasa masing-masing bangsa yang menggunakannya. Setahu saya, nama 7 hari dalam seminggu kita berasal dari bahasa Arab,yaitu:Isnin,Selasa,Arba’a,Khamis,Jum’at,Sabtu,Ahad .
Kita biasa menyebut Senin sebagai awal mingguan,berbeda dengan orang Barat yang menyebut Sunday (Minggu) sebagai awal mingguan.
Yang aneh lagi adalah hari-hari suci yang dipilih oleh agama/kepercayaan seperti berikut:
Agama Yahudi menentukan Sabat (Sabtu )sebagai hari suci, agama Kristen menentukan Minggu,sedang Islam menentukan hari Jum’at sebagai hari suci dan yang terachir Kejawen menentukan hari Senin dan Kamis yang dijalani dengan puasa Senin-Kemis.( Bernafaspun Senin-Kemis !)
Jadi hari Selasa dan Rabu berarti bukan hari suci tiap minggunya. Mungkin besok ada agama baru yang memilih hari Selasa dan Rabu sebagai hari Suci.
Kalau mau dongeng yang lebih banyak tentang Kalender Gregorian,Kalender Saka,kalender Jawa,kalender Hijriah dll cari pakai Google,tinggal pilih mana yang disuka. Salam!
Komentar oleh ompapang — 22 Maret 2007 #
Thank’s
Komentar oleh Dedi Ganedi — 22 Maret 2007 #
Selain mengambil dari Pararaton 1296 Caka, ada baikna juga melihat kitab Ramalan Gaib Sabdo Palon. Bukana banyak sunber akan lebih baik?? Pis
Komentar oleh heero — 22 Maret 2007 #
Saluut deh Ompapang, lha popo kok enjoh wae lho.
Enake dak juluki “the generalist” ae yo om. Siip.
Ahad=1, so hari-hari islami dimulai ahad sampai sabtu (=7). Liburan sekolah islam dulu banyak yg Jum’at (krn hari raya-mingguan). Tapi karena mensinkronkan kondisi umum, kepentingan komunikasi dan hal-hal administratif (nasional & internasional) akhirnya sebagian besar sudah menyesuaikan diri. Mbok menawi mekaten lho om.
Salam, IM.
Komentar oleh im3ama — 22 Maret 2007 #
gur comot sana ,comot sini kok IM, kaya orang jual gado-gado gitu lho.( anggere ora salah comot ae! )
Komentar oleh ompapang — 22 Maret 2007 #
Kalender jawa, apa dikembangkan saat jumeneng Sultan Agung (Mataram-Islam) dulu ya om? Maap ga pati ngerti sejarahe.
Soal puasa sunnah senin-kamis, puasa Daud (sehari puasa sehari tdK) itu juga tuntunan islam. Tapi puasa Daud disarankan tidak dimulai hari sabtu atau minggu, karena itu hari raya umatnya Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS.
Ada lagi jenis puasa lain, sing iso sak geleme dw, yi “puasa-anak-kos” …. ben irit! (Duh, dadi kelingan jaman biye’).
Piye to ki, dadi ngrembuk poso, ngko didukani om Web Mastere lho! Nuwun.
Komentar oleh im3ama — 22 Maret 2007 #
Buat IM,
Kalender Jawa bukan untuk menandai Sultan Agung naik tahta ( jumeneng Nata ). Sultan Agung sebagai Raja Mataram -Islam, bertahta 1613 – 1645 M. Keratonnya di Plered sebelah selatan Kotagede Yogyakarta. Beliau menggabungkan tahun Saka dengan tahun Hijriah. Tahun Saka yang tadinya tahun Matahari diteruskan menjadi tahun Jawa sebagai tahun komar/lunar. ( Jadi Tahun Jawa 1 tidak ada). Tahun Jawa ada yang mengatakan mulai 1555 Saka ( 1633 M),sumber lain mengatakan 1547 Saka ( 1625 ). Jang jelas dalam kurun waktu Sultan Agung menjadi raja. Mungkin Sultan Agung meniru pembentukan tahun Hijriah yang dimulai tahun 622 M (?). Sebelum ada tahun Hijriah di Arab dipakai tahun Julian ( dari Yulius Caesar yang mengadopsi tahun Yunani), yang berdasar peredaran matahari,lalu dilanjutkan dengan tahun bulan menjadi tahun Hijriah. Seperti tahun Jawa, tahun Hijriah 1 sepengetahuanku tidak ada. Diperkirakan,tahun Saka juga berasal dari Yunani lewat Azerbaijan dan Afganistan lalu India terus ke Jawa.
Kembali ke Sultan Agung, apa iya beliau tiru-tiru Yulius Caesar atau Paus Gregorius, saya kira tidak. Ide itu muncul sebagai bentuk usaha syiar agama Islam lewat akulturasi seperti dilakukan Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus.
(ctt.Sunan Kalijaga dengan Sekatennya, Sunan Kudus dengan penyembelihan kerbau, bukan sapi didaerah Kudus, untuk akulturasi dengan umat Hindu dan bahkan Mesjid Kudus dibangun dng arsitektur Hindu yang sampai sekarang masih ada.Sampai sekarang menyembelih sapi di daerah Kudus masih tabu )
Kebiasaan orang Jawa ,walaupun bukan muslim berpuasa Senin – Kemis mungkin juga sebagai bukti keberhasilan akulturasi syiar agama Islam oleh ulama-ulama tempo dulu.
Paling tidak Sultan Agung sudah menciptakan kalender untuk orang Jawa setara Yulius Caesar, itu yang patut dikagumi.
Komentar oleh ompapang — 22 Maret 2007 #
Puasa sunnat lain (yg mandiri) juga sebaiknya jangan mulai pada hari jum’at kan? untuk hormati hari raya. Bahkan di hari raya Ad’ha & Fitri gak boleh puasa lho (diharamkan). Correct?
Kitab-kitab dari jaman kerajan2 dulu itu yg aslinya sekarang di simpen di mana ya? Aku minat koleksi gitu lho, tapi yg udah terjemahan aja. Termasuk jaman kerajaan Jawa, kerajaan2 Melayu doeloe, dan lain-lainnya se indonesia.
Ompapang ni ‘kali yang punya banyak simpenan ?? Ok. Thanks.
Komentar oleh mawari — 22 Maret 2007 #
Buat Mawari,
Coba buka-buka situs di Internet, telusuri dengan Google,misal Kerajaan Majapahit, Mataram,Melayu lalu serat Centini, Wulang Reh, Weda Tama dsb. Weda tama yang diterjemahkan ke Indonesia juga sudah ada .
Ompapang pernah buka silsilah raja-raja seluruh dunia ,kalau gak salah yang buat web orang Inggris.
Saya rasa sekarang ARSIP NASIONAL juga melayani umum untuk mendapatkan copy dalam bentuk CD (atau bawa flash disc sendiri) dari buku-buku kerajaan jaman dulu atau dokumen termasuk foto dan film yang diarsipkan disana.
Yang menjadi Kepala sekarang Drs.DJOKO UTOMO,MA
Terakhir saya ketemu beliau pas pengukuhan Prof.Dr.Suhartono sebagai guru besar sejarah Fak. Sastra dan Budaya UGM ( Pak Suhartono masih famili dekat Pak Djoko Utomo ). datang saja ke Arsip Nasional atau buka situsnya (kalau ada,aku belum pernah nelusuri)
Di Perpustakaan Nasional mungkin banyak buku-buku kerajaan yang sudah diterjemahkan soalnya ada kewajiban bagi penerbit untuk menyerahkan satu buku tiap judul terbitannya , kunjungi saja situsnya, kalau gak salah juga melayani soft copy dalam bentuk CD. Coba hubungi Ibu DINA atau Ibu PRITA WULANDARI selaku Kepala Bidang yang ngurusin E-LIBRARY , gimana caranya memperoleh soft copy. Selamat berburu buku !
Komentar oleh ompapang — 23 Maret 2007 #
Pak Dhe, nanya nih,…..keluar konteks dari pembahasan Si Lusi. Aku nonton Discovery,……yg bahas super volcano,……kamsud’te super volcano iku opo sih Dhe, terus apa setiap volcano bisa dadi super volcano, ………lek iso dibahas dalam bentuk tulisan yo Dhe,….please.
Matursuwon sadherenge Pak Guru.
Salam
Mutiara aini
Komentar oleh mutiara_aini — 23 Maret 2007 #
Wah matursuwun banget Ompapang,
info yang sangat berguna, juga mungkin bagi temen-temin lain yang memerlukan, paling tidak membantu harus ke mana.
Trims.
Komentar oleh mawari — 23 Maret 2007 #
pak de rov…tulisan tentang lusi dikumpulin bisa jadi buku tuh
semoga sebentar lagi disatuin & dipajang versi PDF nya xixixi…
Komentar oleh oon — 24 Maret 2007 #
Bahannya bagus kerana belum dibahaskan di berita berita dan forum forum.
Komentar oleh ナキーブ — 26 Maret 2007 #
agar lebih lengkap ‘dongeng’ yang benar-benar dongeng berlanjut ke Bali.
Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau di hormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.
dengan mata batin, beliau sudah dapat melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa, maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai tapi apa daya menyadari keterbatsan kemampuan yang dimiliki untuk melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Hindu terbesar dan terakhir yaitu Majapahit, akhirnya Beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan Majapahit dan terkenal indah pemandangan alamnya : Bali.
Pada waktu Beliau datang ke Bali untuk menjalankan misinya, yang berkuasa pada saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong yang menyambut Beliau dengan sangat hormat. Beliau mengajarkan dan menyebarkan ajaran Dharma sampai ke pelosok-pelosok pulau Bali dan banyak membangun tempat-tempat suci untuk membangun dan meningkatkan kesadaran spiritual dan memperdalam ajaran-ajaran agama Hindu. Perjalanan Beliau bukannya tidak menghalangi hambatan, tetapi karena kepiawaian beliau untuk menyerap kebiasaan orang setempat dalam mempraktekan ajaran yang disebarkan, Beliau yang awalnya ditolak bahkan dimusuhi, berbalik menjadi disegani.
Disebutkan pada saat Beliau menjalankan “Dharma Yatra” di Rambut Siwi, Beliau melihat sinar suci dari arah Tenggara dan mengikutinya sampai pada sumbernya yang ternyata adalah sebuah sumber mata air. Tidak jauh dari sumber mata air tersebut, Beliau menemukan sebuah tempat yang sangat indah yang disebut “Gili Beo” ( Gili artinya batu karang, Beo artinya burung) jadi itu adalah sebuah batukarang besar berbentuk burung beo. Di tempat inilah Beliau membangun tempat untuk bermeditasi dan melakukan pemujaan kepada Dewa Penguasa Laut.
Dalam mata batin, Beliau melihat bahwa di tempat ini akan menjadi sebuah tempat layaknya bak sebuah nirwana, dan akan menjadi terkenal seantero jagat sehingga orang berbondong-bondong datang untuk melihat, bukan hanya orang dari pulau ini saja tetapi dari luar pulau dan juga negeri seberang. Karena dalam penglihatan Beliau, orang yang datang bukan yang berambut hitam saja, tetapi juga orang-orang jangkung berambut pirang. Banyak juga orang-orang bermata sipit dan berkulit putih, dan tidak ketinggalan orang-orang berkulit hitam bak sehitam jelaga. Penglihatan lain adalah setiap cangkul yang diayun menghasilkan gemerincing emas, bukan padi (aneh), tapi Beliau sudah tidak terpikat lagi dengan hal-hal duniawi semacam itu, toh emas-pun kalau Tuhan mau bisa berkarat dan termakan ngengat.
Beliau mulai menyebarkan ajarannya kepada penduduk setempat, yaitu yang berada di Desa Beraban dimana desa tersebut di kepalai oleh seorang pemimpin suci yang disebut “Bendesa Beraban Sakti”.
Pada saat itu penduduk Desa Beraban menganut monotheisme. Dalam waktu singkat, ajaran Dang Hyang Nirartha yaitu tentang agama Hindu telah membuat para penduduk mulai meninggalkan ajaran monotheisme tersebut. Begitu pula sebagian kecil pengikut Bendesa Beraban mulai meninggalkannya, dan dia menyalahkan Dang Hyang Nirartha atas hal tersebut. Kemudian dia mengumpulkan para pengikutnya yang masih setia dan memimpin mereka untuk mengusir Dang Hyang Nirartha dari tempat tersebut. Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki oleh Dang Hyang Nirartha, Beliau melindungi diri dari serangan Bendesa Beraban dengan memindahkan batukarang besar tersebut tempat Beliau bermeditasi ke tengah lautan dan menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batukarang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut. Kemudian Beliau memberi nama “Tengah Lod” yang berarti Tanah di Tengah Lautan.
Akhirnya Bendesa Beraban mengakui kesaktian dan kekuatan spritual dari Dang Hyang Nirartha, dan dia mulai mempelajari ajaran-ajaran yang di ajarkan oleh orang suci tersebut, hingga menjadi pengikut setia dan ikut menyebarkan ajaran itu kepada para penduduknya untuk bergabung mengikuti kepercayaan tersebut.
Sebelum pergi, Beliau memberikan sebilah keris suci dan sakti yang dikenal dengan nama “KI BARU GAJAH (Jaramerana)” kepada Bendesa Beraban yang mempunyai kesaktian untuk menaklukan segala macam hama penyakit di persawahan dan juga mampu menghilangkan segala macam wabahpenyakit di Pulau bali. Saat ini keris tersebut distanakan di Puri Kediri yang sangat dikeramatkan oleh segenap masyarakat dan diupacarai setiap hari Raya Kuningan dengan berjalan kaki 11 km pulang pergi menuju Pura Luhur Pakendungan yang berlokasi 300 meter dari Pura Luhur Tanah Lot.
Konon sang Pandita ini, menghilang gaib (ada yang menuliskan mencapai moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).
Berabad-abad kemudian, Tanah Lot menjadi salah satu obyek wisata yang dikunjungi bukan hanya penduduk Bali dan Indonesia, tetapi juga wisatawan manca-negara. Tanah Lot menjadi terkenal sebagai salah satu ‘icon’ obyek wisata di Bali. Kalau ke Bali, harus sempat mampir ke Tanah Lot ! Terus bagaimana penglihatan mengenai cangkul yang menghasilan emas ? yang ada sih menghasilkan padi, yang berbulir beras (bukan emas).
sekitar tahun 1993, keheningan Tanah Lot terusik oleh rencana pembangunan sebuah resort dan lapangan golf bertaraf internasional di atas lahan 120 hektar. sebagian besar masyarakat Bali tidak menyetujui pembangunan tersebut, karena akan mengganggu ke’sakral’an Pura Tanah Lot, sehingga berbagai upaya penolakan damai dilakukan, tetapi tidak mendapat tanggapan berarti. upaya penolakan mencapai klimaks sekitar bulan januari 1994, dengan adanya demo yang melibatkan berbagai kalangan mencapai 5000 an orang ke DPRD, aksi yang berhasil menunda pelaksanaan proyek sd bulan september 1994. dan menjadi antiklimaks ketika sebulan kemudian gubernur mengeluarkan ijin kelanjutan proyek yang kemudian dikenal dengan Bali Nirwana Resort (BNR yang sebelumnya bernama Bakrie Nirwana Resort), yang resmi beroperasi mulai 14/11/97.
Memang benar kemudian di depan pura Tanah Lot, dibangun sebuah nirwana, dengan lapangan golf 18 hole karya maestro “Greg Norman”. Ternyata cangkul yang dilihat Sang Bhagawan bukan cangkul besi bergagang kayu biasa yang lazimnya digunakan para petani, tetapi cangkul ‘titanium’ stick golf dengan type kayu (wood) dan besi (iron) yang dipakai para ‘Jack-ies’. Dan memang ayunan cangkul titanium menghasilkan gemerincing US$ (yang kestabilan nilai tukarnya setara emas), bagi pengelola dan pekerja. Konon untuk bisa main golf di sana, green-fee dipatok di US$ 150/orang , belum termasuk vat 10% (setara dengan dua kuintal beras atau satu gram emas 22 karat).
Dan sembilan tahun kemudian, pada tanggal 29/5/06 terjadi musibah lumpur sidoardjo yang digarap LAPINDO cs, yang melibatkan Group Bakrie.
kalau Grup Bakrie yang berjasa membangun sebuah ‘nirwana’ yang sangat menawan menurut pandangan manusia, kok rasanya ‘impossible’ Grup yang sama, dengan sengaja membuat musibah ‘bleduk kuwu anyar’ yang menyengsarakan penduduk sekitar porong (sidoardjo). Mungkin itu Bakrie yang lain … walahualam.
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar …
Allah Maha Besar …
Ternyata di bawah kedalaman samudra yang dingin, nun jauh di bawah sana bergejolak suatu panas api yang membara ? inikah ejawantah neraka ?
Bebagai kerajaan telah Engkau ijinkan berkuasa di negeri ini, adakah kerajaan lain yang Engkau berkenan untuk menyelamatkan bangsa ini ?
Manusia boleh berencana, tetapi Engkau yang berkuasa, Tuhan.
Terjadilah menurut kehendakMu.
sumber : http://www.tanahlot.net, google earth, kliping berita bali post.
Komentar oleh savebali — 26 Maret 2007 #
Wah ternyata cerita masa lalu terulang kembali, sejak dulu ternyata leluhur kita memang pinter2 yah, salut… semoga apapun itu membawa berkah kelak.
Komentar oleh helgeduelbek — 27 Maret 2007 #
mohon izin menyebarkan tulisan yang menyegarkan dan membuka wawasan ini, terutama soal kaitan ilmu bumi dengan sejarah (yang selama ini jarang diulas, kecuali sebagai fakta belaka tanpa mencoba dicari kaitannya). nuhun
Komentar oleh Ari AMS — 27 Maret 2007 #
Wah.. banyak kisah sejarah toh di daerah sini, ya udah di jadiin daerah wisata aja tuh, Wahana Wisata Lusi heheheh… Niru2 Yellowstone kalo di Amrik yg terkenal dgn geyser dan hotmudnya. terus sungai porong bisa jadi tmpt pemadian air hangat. Just my imagination..
Komentar oleh Rudi — 29 Maret 2007 #
Kalau saya tidak salah, delta itu kan daratan yang terbentuk dari endapan/sedimen lumpur di muara sungai to pak De. Di danau dekat rumah saya ada muara sungai kecil dan juga terbentuk delta semacam itu. Yang unik, delta tersebut bagian atasnya sudah mengeras tapi bagian bawahnya masih berupa lumpur halus yang sangat lembek meskipun telah terbentuk selama lebih dari 10 tahun.
Kalau begitu, apakah mungkin LUSI itu merupakan endapan lumpur di bagian bawah delta yang tetap lembek selama ribuan tahun yang karena mendapat tekanan dari atas lalu keluar lewat celah yang ada ? ( mecothot seperti klepon diinjak ). Terimakasih dan salam eksperimen.
Komentar oleh Paijo — 5 April 2007 #
Betul sekalee Mas Paijo
Memang begitulah ‘mekanisme-nya’. Hanya saja skalanya yang lebih besar dari delta dirumah anda.
Komentar oleh Rovicky — 5 April 2007 #
Ya … apa ini sama sejarahnya
tapi ada selisih 52 tahun mendahului
http://hotmudflow.wordpress.com/2007/03/15/ramalan-lumpur-mama-lauren-diam-diam-diseriusi-gubernur/#comment-12284
Komentar oleh herman — 6 April 2007 #
Hm, bagus tulisannya pakdhe, biar yg muda2 tau dan suka belajar sejarah. Ngomong2 bukunya Denys Lombard bagus lho…
Komentar oleh Piye to, yoko — 9 April 2007 #
wah sebagai orang mojokerto saya baru tahu kalo dulu juga ada bencana lumpur di jaman mojopahit….alias lusi.
tapi menurut keterangan seorang temen yg kerja di museum trowulan emang ada betulnya kalo mojopahit dulu luluh lantak
dengan letusan gunung welirang juga dan sedimentasi sungai brantas
Komentar oleh darma — 7 Mei 2007 #
Ompapang! kalau begitu apa bisa disimpulkan bahwa
urutan hari yang benar adalah sbb?:
Hari ke-satu, ke-dua………ke-tujuh adalah:
Ahad, senin……..Sabtu
Ini penting om, masaalahnya waktu saya kecil dulu
dikampung, urutan harinya sbb:
Senin=hari ke-satu, Selasa=hari ke-dua dst.
Komentar oleh usil — 7 Mei 2007 #
Betul pak Usil,aslinya satu minggu mulai hari Ahad,senin …dan hari ketujuh adalah Saptu (Sabat,Sapta = 7). Urutan itu katanya sudah dipakai pada kalender Yunani yang diadopsi Yulius Caesar kemudian dipakai dalam kalender Gregorian sampai sekarang.Sedang kalender Hijrah, tetap menggunakan 7 hari untuk satu minggu (satu pekan ) dimulai hari Ahad, namun untuk setahun mendasarkan peredaran bulan.
Tetapi bangsa kita biasa menyebut 1 minggu mulai hari senin sebagai hari pertama dan minggu sebagai hari terakhir (ketujuh). Ingat nggak, nyanyian yang diajarkan Ibu Guru TK : “Senin Selasa….Rabu Kamis…Jumat Saptu Minggu itulah nama hari”. Jadi budaya kita memang demikian, sejak kanak-kanak kita menyebut 1 minggu itu mulai dari hari Senin, bukan Ahad. Tetapi kalau menyebut akhir pekan (week end) tetap saptu sore atau malam minggu bukan minggu sore. Orang Jawa menyebutnya salah kaprah, artinya ungkapan yang salah namun dapat diterima oleh khalayak ramai (umum).
Komentar oleh ompapang — 7 Mei 2007 #
Makasih omPapang! Anda benar, saya juga sudah dapat
konfirmasi dari teman (lewat media lain).
Katanya urut-urutan hari itu, diubah pada abad (sekian)
oleh Gereja Romawi (Paus kesekian) dan dokumennya
masih tersimpan rapi di Roma sana.
Kuncinya ada pada kata: “sabtu/sabbath/sapta” yang berarti = Hari yang ke-7 dalam satu minngu. Thanks.
Komentar oleh usil — 11 Mei 2007 #
Artikel ini menarik sekali. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/
AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI
Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.
Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.
Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).
Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.
Agama bumi dan agama langit.
Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:
“Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)
Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.
Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).
Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?
Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).
Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.
Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.
Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.
Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?
Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.
Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.
Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.
Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.
Masalah wahyu
Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.
Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.
Pertama, kesalahan mengenai fakta.
Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.
Kedua, kontradiksi-kontradiksi.
Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir
Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.
Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.
Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.
Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.
Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?
Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).
Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?
Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.
Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.
Kesimpulan.
Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.
Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?
Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.
Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.
(Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).
Catatan kaki:
I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
4). Ibid hal 720.
Komentar oleh sejati — 19 Agustus 2007 #
pencerahan sejati yang amat jernih. gampang memahaminya. namun kesombongan para tokoh masih menjerat ras manusia puluhan tahun lagi, malah mungkin masih seratus tahun dengan klaim kebenaran mutlak. kalo nanti sudah terpuruk abis, mungkin banyakan yang jadi sadar, bahwa simbol kuasa abadi yang selalu tersinggung, marah, penuh kebencian dan kekerasan dengan ancaman api neraka itu tidak mungkinlah kebenaran mutlak, apalagi satu2 nya. mohon ngebrentiin lumpur lapindo aja ga digubris.
uraian diatas menjelaskan dengan cantik, betapa ras manusia akan maju, damai dan makmur, kalo mau belajar dari sejarah, mengutamakan persamaan, kasih sayang dan memakai nalar dalam kebebasan dan realitas.
Komentar oleh a_otnaidah — 19 Agustus 2007 #
Apakah tulisan ini untuk mendukung teori ‘mud volcano’ sebagai sebab terjadinya bencana LUSI? Apakah data-data pemboran yang (saya dengar) menyatakan lapisan yg ditembus adalah lapisan keras dan bukan gunungan lumpur bisa mendukung teori ini?
Komentar oleh Agung WL — 22 Agustus 2007 #
Tulisan diatas hanya menunjukkan bahwa di daerah ini dahulu pernah terjadi secara alamiah, bahwa MV adalah proses alam yang pernah terjadi dahulu. Artinya daerah Jawa timur sangat BERPOTENSI untuk terjadi atau munculnya Mud Volkano.
Sama saja dengan daerah Jakarta yang memang dibentuk oleh endapan banjir. Secara alamiah memang Jakarta tempatnya banjir. Tetapi bukan untuk menyatakan karena sering banjir ya udah kita nerima saja, bukan.
Demikian juga dengan MV di Porong. Kalau anda berbuat sesuatu akhirnya dapat juga “memicu dan memacu” terbentuknya MV.
Komentar oleh Rovicky — 22 Agustus 2007 #
kalau memang manusia percaya dengan tuhan maka tidak ada yang namanya manusia makan manusia,, agama dan tuhan tidak pernah mengijinkan manusia untuk saling membunuh, itu sudah merupakan karmanya sendiri.
Komentar oleh wed — 31 Agustus 2007 #
wah, dongeng geologi ini menarik sekali. menambah pengetahuan saya dalam hal Geologi sebagai mahasiswa di Jurusan Tanah.
tapi saya agak geli membaca artikel agama. Ada 3 hal yang perlu saya sampaikan, yang mana semuanya berasal dari Qur’an :
1. Allah bersabda, “Janganlah memikirkan tentang penciptamu, karena kamu tidak akan mampu. tetapi pikirkanlah tentang ciptaan-Nya di alam semesta ini.” itulah kunci untuk mengenal Tuhan
2. Jangan sekali-kali mempersonifikasikan Tuhan. karena manusia terjebak oleh keterbatasan panca inderanya.
3. ada dua alasan agama dipermasalahkan : pertama karena kita tidak mengerti tetapi mengambil sepotong-sepotong. kedua karena landasan nafsu kita
Teruskan dongengnya ya Pak Dhe, karena saya ingin mengenal tuhan saya lebih dekat melalui ciptaan-Nya di alam semesta ini.
Komentar oleh irawan — 4 September 2007 #
Mas Irawan, dengan menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Nya’,'Dia’,'Mu’ atau ‘Engkau’ dan juga menyebut ‘Allah bersabda’, berarti kita sudah memPERSONIFIKASIkan Tuhan. Terus kenapa pada butir 2, mas Irawan menulis “Jangan sekali-kali mempersonifikasikan Tuhan dst. Dalam konteks apa kita tidak boleh mempersonifikasikan Tuhan ?
Komentar oleh ompapang — 4 September 2007 #
Pak Awang…
Mengenai Cerita DangHyang Nirartha di Desa Beraban.
Ada hal yang membuat saya bingung dengan pernyataan bapak, mengingat berdasarkan penuturan para leluhur saya yang memang berasal dari Beraban.
Adapun pernyataan bapak yang membingungkan adalah : “Pada saat itu penduduk Desa Beraban menganut monotheisme. Dalam waktu singkat, ajaran Dang Hyang Nirartha yaitu tentang agama Hindu telah membuat para penduduk mulai meninggalkan ajaran monotheisme tersebut. ”
Saya jelas tidak paham disini, mengenai ajaran Monotheisme yang dimaksud. Disitu disebutkan bahwa penduduk desa Beraban telah menganut monotheisme (monotheisme seperti apa ?….).
Dan kemudian disebutkan agama Hindu membuat para penduduk meninggalkan ajaran monotheisme tersebut. Statement ini menggambarkan bawa Agama Hindu bukan monotheisme, dimana hal ini adalah tidak benar.
Secara singkat, saya sampaikan :
1. Penduduk desa Beraban telah menganut Agama Hindu sebelum kedatangan Dang Hyang Nirartha, yaitu dimana semenjak agama Hindu disebarkan oleh Rsi Markandeya di Pulau Bali dari Pulau Jawa, yang dimulai pada abad 8 SM.
2. Agama Hindu adalah agama monotheisme (dengan tetap mengakui monisme, pantheisme. Karena monisme dan pantheisme adalah bagian dari monotheisme).
Salam damai,
PanKania
Komentar oleh Pan Kania — 10 September 2007 #
Cerita seperti timun emas, kancil nyolong timun dll (cerita jawa kuno) mungkin merupakan gambaran apa-apa yang terjadi pada jaman dulu. Perlu dipahami bahwa orang jawa setiap mau menyampaikan sesuatu sering tidak langsung tetapi menggunakan kiasan. Hanya Tuhan yang Maha Tahu.
Komentar oleh Antong — 26 September 2007 #
menanggapi tentang silsilah hari, sebenarnya nama hari di indonesia juga mengadopsi dari arab. 1 minggu di mulai dari hari ahad. hal ini berdasarkan hitungan 1,2,3,4,5,6,7. (ahad)wahid=1, (senin)isnaini=2 (selasa)salasa=3, (rabu)arbain=4 (kamis)khomsa=5 dst. moga bermanfaat.
Komentar oleh nasir — 20 Oktober 2007 #
wah bagus banget ceritanya….. saya mau tanya, di tempat saya (daerah kecamatan taman, sidoarjo) katanya orang2 tua kalo mau buat rumah harus dilihat secara secara gaib (mungkin) berada di sisi manakah rumah tersebut terhadap bengawan, padahal tempat yang akan dibangun rumah tersebut adalah tanah datar tidak ada bengawan.apakah ini ada hubungannya dengan mitos “banyu pindah” yang anda ceritakan. toloooong dong jelaskan secara ilmiah menurut pengetahuan anda dan tolooong dong balas di e-mail saya farid_ckp@plasa.com. trima kasih
Komentar oleh farid — 9 November 2007 #
emang gitu kog, pakde dapet data kog 90% valid gitu yah. saat ini rakyat memeang perlu informasi yang seperti begituan lho, jangan hanya kelihatan yang GUMLEGER aja . ada pepetah dan kiasa yang nurut saya bagus bahwa jangan sampai manusia melupakan sejarahnya. Bung Karno saja pernah bilang JASMERAH. kita rakyatnya yang tinggal mangan turu kari enake jnagan sampai lupa, tau. matur nuwun Pakde, HAL INI merupakan pencerahan bagi kami wong awam sing bodoh tapi ngaku pinter,matur suwun .
Komentar oleh eko — 20 November 2007 #
dhe… lha yen Lapindo kae,.. keno dihubungke karo, kisah “sangkalaning pararaton” ra’..??
Komentar oleh waghimin — 31 Desember 2007 #
GOD
Komentar oleh alit — 21 April 2008 #
Aku jadi narik nafas panjang bacanya ……. mohon ijin untuk nyopas Pak….
Terima kasih.
Komentar oleh tuturus_sang_rakeyan — 19 Mei 2008 #
sejarahnya dirunut ditorikoh siddiqiyyah Losari,Ploso . Jombang. mulai dari sumpah palapa, sumpah pemuda, hingga kejayaan Indonesia pada akhirnya nanti
Komentar oleh aji — 26 Mei 2008 #
dhe, menurut legenda kerajaan kahuripan dipecah jadi dua, yaitu jenggala dan panjalu. pada saat peristiwa pembagian wilayah, mpu sindok menumpahkan air kendi yang kemudian menjadi sungai brantas sebagai pemisah kedua kerajaan. kira-kira ini ada hubungannya dengan ‘banyu pindah’ atau tidak ya?
Komentar oleh sera — 12 Juni 2008 #
Sudah jarang ada orang jawa yang memahami adat dan budayanya. Pak Dhe mgkn salah satu dari jutaan org jawa yang tersisa di tanah jawa ini yg akan membuka hati dan pikiran org2 Indonesia pada umumnya dan org jawa pd khususnya bahwa kita adalah bangsa besar bangsa yang beradab berbudi luhur dan bangsa yang disegani oleh bangsa lain. Ditengah kerasnya Intervensi asing yg semakin mengobrak abrik keutuhan Bangsa ini. Ingat, jiwa Hayam Wuruk dan Gajah Mada akan datang menjayakan bangsa ini persiapkan diri menyambutnya. Jaya Rahayu, Sujud Sembah Setya Marang Ibu Pertiwi. Btw
kira2 ada yg bisa bantu aq nyari copy-an transkip sastra jawa kuno. Karena itu jadi syarat untuk mempersunting gadis pujaanku. Kalo ada tlg kasih info ke Email :achiles72002@yahoo.com.
Komentar oleh Arok Witjaksono Girendhrawangsa — 19 Juni 2008 #
Oya PakDhe Saya mau tanya, kira2 di Arsip Nasional ngijinkan tidak utk mencopy transkip karya sastra jawa yang asli beserta penjelasan asal usul sastra trsbt. Untuk lokasi Arsip Nasional itu dimana ya? Karena sekarang saya ada di Papua. Saya menunggu penjelasannya dari PakDhe. Terima Kasih.
Komentar oleh Arok Witjaksono Girendhrawangsa — 19 Juni 2008 #
boleh sekalian diterangkan sejarahnya kali porong, sejak jaman mojopahit sampe jaman londo. sebenarnya sejak kapan kali ini ada?
Komentar oleh rere — 7 Juli 2008 #
iya juga, bisa dibayangkan keadaan majapahit dulu sewaktu ada lusi. wong sekarang aja di zaman modern kita kelabakan setelah terkena lusi dan semua terganggu. transportasi, ekonomi, dll.
bisa dibayangkan beratus2 tahun lalu, waktu terkena lusi kayak gni. yang notabene belum ada truck2 pengangkut pasir and kontraktor yang bisa menutup sementara genangan lumpur ini.
Komentar oleh mujiholic — 28 Juli 2008 #
ompapang,memang okeeeeeeyyyyyyy….tapi kayak dagelan murahan aja klo anda sudah masuk ranah agama?????salam.
Komentar oleh keling — 1 Agustus 2008 #
APA SIH
Komentar oleh taya — 10 Agustus 2008 #
[...] Pada awalnya di lokasi Porong tidak terlihat aktifitas mudvolkano sehebat yang kita lihat saat ini. Namun gejala-gejala regional dengan unculnya mudvolkano memang jelas teramati baik disekitar Porong masa purba, maupun juga jaman majapahit seperti yang ditulis disini sebelumnya. [...]
Ping balik oleh Ghe_Rhy Blog » Blog Archive » Semburan Lapindo — 11 September 2008 #
500 tahun yang lalu ( jaman majapahit )terjadi geger banyu pindah dan pagunung anyar, mungkin istilahnya bisa disebut LAPISAN / bencana yang pertama.Dan yang terjadi sekarang terjadi bencana yang terulang lagi di wilayah majapahit (jawa timur )yang kemudian terkenal dengan istilah LAPINDO / bencana yang kedua.mungkin 500 tahun lagi bukan namanya bencana Lapisan / Lapindo tapi LADALAH metu meneh….he..he..he..he (bukankah begitu pakde????????)
Komentar oleh janu siswanto — 22 September 2008 #
ompapang,memang okeeeeeeyyyyyyy….tapi kayak dagelan murahan aja klo anda sudah masuk ranah agama?????salam.
Bukti!!!!!!!!!!!!! agama langit tidak bisa dikutak-katik/dogma
Komentar oleh aaaa — 24 Oktober 2008 #
wuuuahhh keren lanjut
Komentar oleh king noor — 5 November 2008 #
allah yang karim itulah tuhan kita
mustinya kita berfikir bahwa kita lah yang sebenarnya berbuat demikian hingga allah menurunkan azabnya
allahu akbar!!!!!!
Komentar oleh mahfuddin — 15 November 2008 #
saya peminat geological and cultural landscape, beberapa catatan dan tanggapan disini sungguh menggugah hati saya untuk lebih banyak mendalami kitab-kitab kuno guna mencapatkan dongeng geologi seperti ini. di Korea ada sebuah prestasi para arsitektur disana yang berhasil membangun kembali kuil kuno berdasarkan cerita, hikayat kuno dan dongeng turun temurun. Wah diskusi ini jadi tambah menarik aja. Bravo tuk penggagas blog ini. Gun-jogja.
Komentar oleh mazigoen — 19 November 2008 #
saya sering naik gunung penanggungan, yang saya rasakan waktu itu adalah indahnya karya seni Sang Kuasa dan ciptaanNya. alamnya begitu indah dan candi-candinya berseni tinggi. tapi sayang kurang terawat. dan bahkan ada patung dan situs waktu saya naik pertama kali ada sekarang sudah hilang dan ada yang rusak. mohon pengelola kawasan wisata ini juga memperhatikan situs/candi2 yang ada di atas gunung, jangan candi jolotundo saja yang dirawat. candi2 diatasnya juga perlu. ntar kalau mereka iri terus piye…???? He….
Komentar oleh Bayu — 16 Desember 2008 #
Yth. Bpk. Awang
Salam kenal,
Sangat menarik membaca tulisan Anda. Sedikit usul : Bagaimana kalau bekerjasama dengan jurusan sejarah, sastra kuna, dll. sehingga hipothesis tersebut dapat menjadi sebuah penelitian yang dapat memberi informasi baru demi kemajuan bangsa Indonesia.
Saya optimis Anda akan dapatr menemukan beberapa “orang Gila” lainnya yang akan mendukung hipothesis tersebut.
Selamat Berjuang
Jayalah Nusantara.
Salam,
Hari
Komentar oleh Harinatha — 3 Januari 2009 #
waw.. ternyata sejarah pun mengandung ilmu-ilmu lain. gak sekedar cerita-cerita doang,,
terima kasih pakdhe,pengetahuan saya jadi nambah..
Komentar oleh chocoandvanilla — 11 Januari 2009 #
salam
menurut saya peristiwa sejarah dulu dengan sekarang sangat berkaitan.cerita yang kita alami sekarang mungkin pernah terjadi dahulu kala.
karna itu (menurut saya)orang bijak tidak boleh melupakan sejarah.
karena dengan mempelajari sejarah tsb kita akan dapat menafsirkan apa yang mungkin terjadi di masa yg akan datang.
yahh..walau hanya nafsir tapi ya bisa lbh hati2 gitulah.ok ga?
-thanks-
Komentar oleh mz_yan1981@ymail.com — 6 Maret 2009 #
saya sangat tertarik dengan cerita sejarah , sejarah apaaaaa aja karena sejarah bisa menuntun kita kejalan yang lebih baik , pendek kata buat pelajaran getuu
Komentar oleh masruki — 10 Maret 2009 #
BREAKING NEWS: Saat ini sedang dipersiapkan proses produksi Film Kolosal Layar Lebar dan Mega Sinetron dengan judul ‘MAHAPATIH GAJAH MADA’ produksi PT TAWI NUSANTARA FILM (Pamulang) dengan Sutradara Renny Masmada, yang telah mempelajari Sejarah Mahapatih Gajah Mada selama 20 Tahun. Saat ini sudah bisa dilihat pembuatan setting & property-nya di lokasi shooting di Kp. Cogrek Ds. Peusar Kec. Panongan Cikupa-Tangerang. Rencana film ini nantinya akan dipasarkan di seluruh Asia Tenggara. Terima kasih (PT TNF PUBLICATION DEPT)
Komentar oleh Ki Ageng Mangir — 7 April 2009 #
lhuwaaaaaaaarrrr biasaaaaaa…..
forum seperti inilah yg bs membuat bangsa kita jadi besar…
lanjuuuuuut maaaannngggg…
Komentar oleh gatulll — 11 Juni 2009 #
buat sejati….anda mengatakan bahasa bahasa kitab suci seperti koran dan surat kabar yang di buat manusia,…saya tanya emang turunya kitab suci dan orang membuat surat kabar itu duluan mana ?
Komentar oleh capones — 17 Juli 2009 #
CANDI SUKUH TEMPAT KEBERADAANNYA DI TAWANG MANGU.TAWANG MANGUN ARTINYA MEMBANGUN KESADARAN.YANG MEMBUAT ELING DAN SADAR PRABU BRAWIJAYA BERDASARKAN PENJELASAN SABDO PALON ATAS AJARAN YANG DIBAWA KALI JAGA DAN YANG DIAGUNG-AGUNGKAN PUTRI CAMPA.ADALAH PRABU BRAWIJAYA MENANYAKAN CIKAL BAKAL DAN HASIL AKHIR PERJALANAN SESEORANG BILA MENGIKUTI AJARAN YANG DIBAWA KALIJAGA.SABDO PALON YANG SEBENARNYA SEMAR TANAH JAWA DENGAN KESAKTIANNYA MENTERJEMAHKAN AJARAN KALI JAGA MENJADI CANDI SUKUH.ALQURAN DI TERJEMAHKAN MENJADI CANDI SUKUH.CANDI SUKUH ADALAH URAIAN ALQURAN YANG DIBAWA KALI JAGA DAN PUTRI CAMPA KE TANAH JAWA.PADA CANDI SUKUH ADA CANDRA SENGKALA.CANDRA SENGKALA ARTINYA JURU PENERANG YANG MENGANTARKAN MANUSIA PADA KEHANCURAN ATAU KESENGSARAA.CANDRA SENGKALA ARTINYA AJARAN YANG MENYESATKAN YANG MENGANTARKAN MANUSIA PADA KEBINASAAN ATAU KIAMAT.BAGI PENGANUT AJARAN INI HANYA MENGANTARKAN MANUSIA MENJADI MAKANAN BUTO/RAKSASA.PADA AJARAN KALI JAGA INI SEMAR MELUKISKAN PERLAKUAN TERHADAP WANITA YANG SEMENA-MENA.WANITA DIRENDAHKAN.DIPERKOSA DAN DILECEHKAN.HINGGA DEWATA TAK BERKENAN HADIR DI DUNIA/TANAH JAWAMEMBERI BERKAT KEMAKMURAN.SUDAH SURATAN TAKDIR BILA PADA SEBUAH NEGERI YANG WANITANYA MENGALAMI PENISTAAN AKAN MENJADI NEGERI LARA.ADALAH DUSTA BILA ADA PEMIMPIN DAPAT MEWUJUDKAN NEGERI MAKMUR BILA WANITANYA DI RENDAHKAN ATU DINISTA.KARENA PADA AJARAN KALIJAGA PELECEHAN TERHADAP WANITA ADALAH SYARAT RITUALNYA.INI PULA YANG MENJADI PANGKAL KERUNTUHAN MAJAPAHIT.DENGAN ADANYA KALIMAT SIRNA ILANG KERTANING BUMI ARTINYA DENGAN AJARAN KALI JAGA SIRNALAH SEBUAH NEGERI YANG MAKMUR YANG BERNAMA MAJAPAHIT.DEWATA TAK SUDI MEMBERI BERKAT KEMAKMURAN BAGI NEGERI YANG MENISTA WANITA.ADALAH AJARAN KALI JAGA TERLAHIR DARI KEDURHAKAAN DEWA KAMAJAYA PADA DEWA SIWA.DEWA KAMAJAYA DURHAKA MENGGANGGU SEMEDI DEWA SIWA YANG KEMUDIAN BERAKIBAT MURKANYA DEWA SIWA DAN MEMBAKAR KAMAJAYA MENJADI ABU.SELANJUTNYA ROH DEWA KAMAJAYA TERUSIR DARI SURGA.ROH KAMAJAYA BERKELANA DI DUNIA MENEMPATI JIWA MAHLUK HIDUP YANG BERCINTA UNTUK MEMPEROLEH KETURUNAN DAN MANUSIA YANG KASMARAN.DEWA KAMAJAYA TAK PERNAH MENCAPAI SURGA.DEMIKIANLAH PEMELUK AGAMA INI TAK PERNAH MENCAPAI SURGA.WONG NABINYA SAJA TAK MENCAPAI SURGA.CANDI SUKUH BERDAMPINGAN ATAU DEKAT DENGAN GROJOGAN SEWU.GROJOGAN SEWU ARTINYA AIR BAH/TSUNAMI.DEMIKIANLAH PARA PENGIKUT AJARAN INI PADA KLIMAKNYA HANYA AKAN MEMPEROLEH KUTUKAN AIR BAH/TSUNAMI.SEPERTI ACEH SEBAGAI CONTOH NYATA DI DUNIA.AJARAN INI SARAT PERKELAMINAN.DAN RASAKANLAH NAPSU BIRAHI YANG MENYERGAP JIWAMU BILA AZAN BERKUMANDANG 5 KALI SEHARI.
Komentar oleh namdasa — 24 Juli 2009 #
Halo Pak Dhe..
Belakangan ini saya jadi sering ‘nemplok’ di blog Pak Dhe. Tulisan Pak Dhe ramah buat yang awam dengan geologi dsb seperti saya.
Dan saya senang juga baca tulisan ini. Menarik sekali. Ternyata ada penjelasan (yang lebih) ‘logis’ di balik semua ‘mitos’ ataupun dongeng atau fakta2 yang belum terungkap dari kerajaan2 di Indonesia, dalam tulisan Pak Dhe khususnya Majapahit.
Pengetahuan2 tambahan yang disampaikan Ompapang juga sangat membantu memahami lagi sejarah.
Tapi sayang, kenapa tulisan ini akhirnya banyak yang komentar soal agama2 segala. Saya sih merasa itu gak berhubungan (setidaknya secara langsung). Dan saya tidak merasa perlu untuk meninggalkan komentar soal itu.
Jadi, Pak Dhe, tetap mendongeng terus. Ternyata dongeng pun telah mencerahkan saya.
Terima kasih
Komentar oleh Danar — 14 September 2009 #
Hi. Pembaca sejarah Indonesia. Aku dengar Agung * yangkemudian bergelar Sultan Senopati ing Ngalogo Sayidin Panoto-gomo. itu baru umur 30 ( tigapuluh) tahun “masuk” Islam, ditandai dengan “sekatenan”. Apa bener bbegitu aku tak taju past. Yang jelas orang-orang Jawa sejak itu sudah banyak yang menjadi “mislim”, terutama penduduk sepanjang pesisir, dari pulau-pulau di Nusantara. berkat penyebaran agama ISLAM oleh para pedagang
dari Arab – Gujarat ( India.) Waktu itu bangsa Eropa belum banyak pengaruhnya dieilayah ini. Setelah orang -orang Nusantara dan Raja-Rajanya sudah menjadi : muslim”, barulah menyusul bangsa Eropa, konon Portugis sebagai Kelana ( abru penjajagan daerah.) seperti Vasco De Gama, dan dari Belanda Cornelis de Houtman. Pelaut Inggris “lewat” saja sampai ke Ustrali Jims Cook. Begitulah ceritera kasar dan entah benar entah tidak. Tokoh-tokoh petualang, Potugis, Inggris, Belanda. Orang Perancis yang mewakili negerinya yang pernah menguasai Belanda, naamanya Daendels, dan utusan Inggris yang berkuasa atas Belanda,namanya Raffles dengan kenang-
kenangannya Bangunan Dep.Keuangan di tepi “lapangan Banteng. Sedang Belanda sendiri sudah sempat membuat gudang-gudang barang dagangannya di Pelabuah Pasar ikan sekarang. bbikin Gedung Kota-Praja di Kota. istana Negara dan istana Merdeka , istana Bogor, Cipanas dll. Raja-raja Jawa dan suku bangsa luar Jawa tidak kuasa menahan perkembangan kekuasaan Belanda, mulai dari V.O.C. nya samapi menjadi badan hukum Nederlands Oost Indie. Berhasil mengkondusifkan Raja-Raja dan Ulama Islam, menetapkan ” surat pengangkatan jabatan, dan menetapkan GAJI mereka. Tokoh bangsa itu menjadi ” Raja gajian” ” Para ulama, gajian.” dan urusan PAJAK ditangani oleh BElanda dengan mengangkat orang pribumi sebagai ” pengumpul pajak” ( kolektur, dan pangkat BESKAL, mungkin dari kata Fiscal? Waaah, pokoknya canggih bangetlah orang Eropa itu menguasai dan mengatur bangsa-bangsa di Nusantara., Konon yang terakhir NURUT ( takluk) kepada kekuasan Belanda ialah bangsa Bugis dan bangsa Aceh. Sedang yang diJawa sudah lama menjadi “kawan” koloniaalis Belanda yang sama-sama Feodalnya. Belanda tidak bernafsu untuk mengKristen-kan orang-orang di Nusantara, karena tujuannya bukan masalah agama, melainka masalah “kekayaan bumi Nusantara, mrica, pala, kelapa (kopra) dan minyaknya, dan hasil perkebunan, tembakau, tebu, indigo, karet, kina dsb. bahkan Belanda membuatkan nesjid-mesjid dihapir setiap sebelah Barat aloon-aloon kabupaten. Kegiatanagama ISLAM yang tidaak militan dibiarkan tumbuh. TYang militang, mengasah golok dan belajar silat ditangani secara keras. Gerakan pangeran Diponegorio dll, dianggap Gerakan Pengacau Keaamanan dan di tumpas, dibantu olegh para priyayi Jawa yang abangan, ngaku muslim ( islam) tetapi tidak militan, bahkan ikut-ikut “menjinakkan” rakyat jelata supaya tunduk krpada Pemangku KLekuasaan, Belanda maupun para bangsawan pribumi. Pokoknya aman terkendali, feodal pribumi dqn penguasa Belanda sama-sama mau menang diatas angin, mengauasa rakyat banyak. O.K. saja pokoknya. Asal cukup bayaran dan fasilitas hidupntya, sedang rakyat.. bagaimana. Rupa-rupanya sama saja sejak dulu sampai sekaarang . Rakyat jelata menjadi ” budak-budak” pengausa Feodal. Barumsetelaj Jepang datang di thn 1942. para feodal kehilangan wibawa dan pamornya, sehingga rakyat mulai beringas…. tetapi tokh akhirnya ditindas juga sampai jaman ini. pERISTIEA PALING TRAGIS SETELAH merdeka ILAH (1.) dIBUBARKANNYA PARTA masyumi. OLEH bUNG kARNO. (2.) Pasarta PKI yang jelas-jelas memihak rakyat jelata,,buruh dan tani dibubarkan oleh Jendral Soeharta. konon karena pesan sponsor Paman Sam.
Jadi keadaan Nusantara sekarang lebih buruk dari jaman kolonial, lebih buruk dari jaman Mokopahit, lebih kacau dari suasa babi-babi dikandangnya.
Alolah sudah memperingatkan para Pemangku Kekuasaan dengan FirmanNya di surat al Israaq Q.S. 17: 8, 16.. tanda-tanda kehancuran totaal bagi negeri ini sudah mulai tampak. Pemerintahannya sesuai sinyaleman Allah di s. al A’raaf Q.S. 7: 27. Pejabatnya banyak yang FASIQ dan berani melanggar sumpah jabatan, Tidak takut NERAKA, tujuannya hanya aberkuasa dan uang banyak. Kegiatan agama dijadikan KEDOK, kasmuflaser, topeng, kosmetik, aksoessoris dan kebihiomngan dan pembohongan yang tidak bermoral dan tanpa etika kemnusiaan yang manusiawi, jujur dan trithful Firman Allah di s. an Nahl Q.S. 16: 90 yang adalah inti dari Deklarasi Hak Asasi Manusia…tidak dihiraukan, bahkan tidak dijelaskan secara JUJUR kepada uamat manusia khususnya bangsanya sendiri dan kaumnya. Manejemen “konflik” dijalankan tertaang-terangan. walau diperingatkan Allah tentang istilah “misyriq” di s. ar Ruum Q.S. 30: 30, 31, 32. Kitan suci al Quran sejak berabad-abad ditanfgan para ” penguasa dan pemdesar bangsa-bangsa.”, Firman Allah kehilangan “cahayanya” s. at taubah Q.S. 9: 32; s. az Zukhruf Q.S. 43: 37. Inilqah WACANA kiDipowardoyo, dari mengungkap SEJARAH sampai kerpada HIKMAH dari Allah yangb hanya bisa diterima dan dihayati para ULUL-ALBAB. Selain itu adalah orang yang sudah bersekutu dengan AZAB. s. az Zukhruf Q.S. 43: 39, 78, 88, 89. dan menjurus ke NERAKA menurut ketetapan Allah s. Maryam Q.S. 19: 71. Akhirnya semua HARUS terjadi menurut Rencana Agung Allah. S. al A’raaf Q.S.78, 159, 168, 1B1, 1B2 s. al Mujaadilah Q.S. 58: 22. s.ash Shaff Q.S. 61: 14; dan semua saja tanpa kecuali PAsti KEMBAlI kepada Akkah, karena Allah Maha Besar mencakup semua dan segala-galanya. Innalilahi wa inna illaihi rooji’uun. Mau apa lagi ?
Bagi manusia tak ada yang BAIK, mBekik ketitik , OLO ketoro… manusia mngalmai TOOTAL-DEPRAVITY. Semua mau selamat atai celaka, abadi atau binasa dengan IZIN- ALLAH. s. at Taugah Q.S. 9: 51. dan pedoman orang yang benar-benar “muslim dan mukmin.” ialah s Aali Imran Q.S. 3: 83 VBukankah mau atau tidak mau orang lahir dan hidup dimuka bumi hanya berakhir dengan MATI? Mau apa lagi? Bagi manusia daging dan tulang ” tot onmacht behoort al he dergelijke.” Kebanyakan manusia memqng KAFIR ( tidak beriman.) al Baqarah Q.S. 2: 99, 100, 101. Anjuran “back to natur” adalah menjadi seperti sapi dan kambing yang tidak kuwatir apa-apa dan tidak tahu apa itu surrga atau neraka. Hewan ternak malah tidak bingung dan terjangkit “neurosis-syndrome.” seperti orang yang buiyayakan tidak karu-karuan, dan gemar bohong tidak ketulungan. Kitan smua tunggu KIAMAAAT , barulah benar-benar MERDEKAAAAAAAAAAAAA Laji saja HO NO CO RO KO abjad jawa dan akhirnya sama-sama bongko. MO GO BO THO NGO. itu saja . Mau apa lagi?
Komentar oleh kusdjono / john koeswoyo — 14 September 2009 #
its very nice and amazing projected.
Komentar oleh haber — 27 Oktober 2009 #
tulisan bagus………… sok atuh lajengkeun
Komentar oleh ruddy_torres — 31 Oktober 2009 #
mud volcano…
mungkin juga gunung meletus yang mempora-poradakan majapahit
fact :
> candi penataran di kaki gunung kelud tempat ritual untuk menyembah giridra atau dewa gunung yang bersifat siwais (penghancur)
> jika difungsikan sebagai tempat ritual,dalam periode tersebut aktivitas gunung berapi sudah ada sejak dulu
> candi penataran mulai dibangun sejak jaman kerajaan kediri – hayam wuruk dan difungsikan sama
> letak candi penataran atau candi palah (gunug) dengan bekas tanggul lahar di desa penataran krang lebih 400 meter
Komentar oleh amri sanjaya — 5 November 2009 #
Assalamualaikum Wr, Wb. Salam sejahtera bagi kita semua semoga Alloh SWT. Melimpahkan rahmat taufik serta hidayah kepa kita semua, saya sangat berterimakasih kepada redaksi yang sudah membuat situs ini, mesti saya baru mengenal yang mana nya internet, mohon untuk sekitaran mojopait juga di ceritakan seperti mojosari tempat saya dulu tinggal. apakah masih dalam lingkup mojopait juga, mohon kalo ada cerita tentang mojosari dan sekitar nya kami deberi tahu melaui E-mail. saya ato dimuat di situs ini terimakasih
Komentar oleh rahmat Hidayat — 8 November 2009 #