Mengenal “Tanah LongSoR


Ambles, AmblonG, SubsiDeNce, Galodo, LaNdslide, Mass WasTing dsb, dll … Sakjane masih banyak istilah-istilah serta jargon-jargon yang dipakai untuk menyebutkan tanah yang bergerak apalagi kalau gaya nulisnya gaya nulis sms ws meSTi bUyar kabeh ;)

- :( ” Pakdhe, Mbok jangan tambah bikin bingung gini Dhe” :(
+ :) “Looh iku bener le, banyak istilah-istilah dipakai dalam mendiskripsikan longsoran, masing-masing memilki karakteristik sendiri-sendiri, pembentukannya berbeda, penanganannya juga beda-beda tentunya”
- :( “Tapi bener juga Dhe, wong yang namanya lutung, kethek, munyuk sama gorilla nggih beda-beda kok nggih ?”
+ :) “Lah iyo, walopun mereka mirip kamu semua !”
- :( ” Wuah Pakdhe niku …”

Penggunaan Istilah dalam setiap disiplin ilmu memang sangat diperlukan, tetapi setiap istilah semestinya sangat khas dan memiliki arti khusus. Demikian juga dalam gerakan tanah, atau bhasa dewa-nya mass wasting. Istilah gerakan tanah sebenernya istilah umum yang mudah menyangkut segala aspek pergerakan tanah.

Klasifikasi gerakan tanah dapat dibuat dengan melihat tipe pergerakannya, kemudian dilihat tipe materialnya. Detilnya bisa dilihat dibawah ini :

Klasifikasi Gerakan Tanah

Klasifikasi ini diatas itu dibuat berdasarkan

  1. Tipe gerakannya
    1. Runtuh (Falls)
    2. Meluncur (Slide)
      1. Rotasi
      2. Translasi
        1. Sedikit (bongkah)
        2. Banyak
    3. Menyebar secara lateral (Lateral Spread
    4. Mengalir (Flow)
    5. Kompleks
  2. Material yang bergerak
    1. Batuan dasar (BedRock)
    2. Lapisan Tanah (Soil)
      1. Ukuran Kasar
      2. Ukuran Halus
SLIDE(Luncuran)
Landslide - slides
CREEP (Rayapan)
Landslide - creep
SLUMP (Longsoran)
Landslide - slump
TOPPLE (ambrukan)
Landslide - topple
FALL (jatuhan)
Landslide - fall
FLOW (aliran)
Landslide - flow

Juga cobaah amati perkembangan nya, sehingga kita mengerti dimana bekas-bekas terjadinya gerakan tanah dimasa lampau.
Dibawah ini ada dua video tentang gerakan tanah ini :

yang pertama gerakan RockFall klick di sini coba amati : Awalnya hanya runtuhan kecil kemudian diikuti oleh runtuhan yang sangat besar dan menutup aliran sungai mirip kejadian yang pernah ditulis munculnya danau mendadak di detik.com dan diulas disini.

Yang kedua sebuah longsoran besar di jepang. lihatlah bagaimana longsoran ini menutup sebuah jalan dan amati kecepatan longsoran yang besar ini. Walaupun pepohonan sangat rindang, namun kalau lerengnya terlalu curam, maka longsoran tetap akan terjadi. Perhatikan disebelahnya ada bekas longsoran yang terlihat terkuaknya pepohonan disebelah kanannya. mengenali bekas longsoran ini bisa menambah kewaspadaankita akan terulangnya longsoran-longsoran sejenis.

:( “Waduh dhe, longsoran kalau ukurannya sampai gede begitu ya membahayakan ya ?”
+ :) “Ya, semua harus dilihat skala-nya, dan dampaknya ta le”

Sekarang mestinya sudah sedikit mengerti ya, bahwa gerakan tanah itu bermacam-macam. Semua menyebutnya longsoran atau tanah longsor. Kalau dilihat satu-satu tentunya kita bisa mengerti kenapa terjadi dan gejalanya. Penyebab dan pemicu dari gerakan tanah dapat digambarkan secara sederhana dibawah ini.

Referensi : Wikipedia, Geoscience Australia

About these ads

43 Tanggapan

  1. […] masih inget jenis jenis gerakan tanah nggak ?” “Ya inget Pakdhe, dulu waktu pakdhe njelasin jenis tanah longsor, kan ?” “Tumben kelingan, daya ingatmu bertambah Thole” “Ya ngga pakdhe, saiki aku […]

  2. [...] inget jenis jenis gerakan tanah nggak ?” “Ya inget Pakdhe, dulu waktu pakdhe njelasin jenis tanah longsor, kan ?” “Tumben kelingan, daya ingatmu bertambah Thole” “Ya ngga pakdhe, [...]

  3. yah aku baru tau ternyata kaya gitu

  4. Untuk Om Papang, saya mau tanya apakah sudah mutlak jika ditanami pohon-pohon besar di lereng malah bisa mengakibatkan longsor? Apalagi contoh2nya adalah pohon2 yang memiliki akar kuat seperti beringin dan trembesi. Saya minta pencerahannya. Atau bagi siapa pun yang tahu tentang ini.
    Saya sedang membuat iklan layanan masyarakat untuk radio komunitas di padang sago mengenai longsor dan penanggulanggannya. Takut saya salah info maka orang yang mendengarkan menjadi mengikuti yang salah juga.

  5. Mlm kanda… apa kbr???
    Mohon penjelasan bagaimana pengaruh iklim terhadap mass movement/tanah longsor.
    Tlong kalo bisa dgn contoh kasus pada suatu daerah.
    Mksh

  6. mas ato pak ya manggilnya..lgsung aja..terkait skripsi saya tentang Pemetaan daerah rawan longsor dgn Penginderaan jauh dan SIG (studi kasus hutan lindung kab.mojokerto)..saya bingung ttg literaturnya n metode skoringnya…gmana itu pak..kira2 bisa bantu ga??????thanks

  7. KEPADA YANG MEMBACA TOLONG CARIKAN APA YANG ANDA KETAHUI TENTANG TANAH LONGSOR?
    EH,….ANDA TAU G ENTANG OCEANOGRAFI.
    MAKASIH KALAU ANDA MENJAWAB.
    THANKS!!!!!

  8. Assalamualaikum.Bos, bisa bantu sy untuk penelitian mengenai tanah longsor gak?.

  9. mintag penyebabnya donk . .qaia 5w 1h . .

  10. saya mau penelitian potensi longsor di Gunung Lawu pake GIS. cuma belum tahu metode apa yang bisa dipake. Ada yg punya info : metode utk menghitung potensi longsor ? Parameternya apa saja ? Tolong dong…. trims

  11. gambarnya lucu, jadi lebih gampang ngerti materinya, untuk bantu2 nambahin referensi bahan kuliah. Thx..

  12. Maaf ya, rekan2 sekalian. Kami warga baru, bukan guru atau suhu, hanya mau share. Untuk tanaman pada slope sering kami gunakan adalah jenis serai, ditanam dengan jarak spot 50 cm. Sejauh ini cukup membantu dan belum ada masalah yang terjadi. Terima kasih.

  13. wah keren!
    thank u dah buat smua jd tau ttg pengelolaan sdl
    and mass movement…

    sory g bs kasih koment ilmiah
    kayaknya diatas dah lengkap
    ak malh dpt pengetahuan br nie
    maklum masih belajar

  14. lom ada comment

  15. saya rasa pohon yang masih hidup tidak begitu merugikan jika tumbuh didaerah lereng bukit jika pegangan akarnya sangat kuat didalam tanah.
    sifat fisika tanah juga mempengaruhi aliran permukaan,
    saya pikir tumbuhan perdu tidak begitu mambantu dalam mengurangi longsor (tergantung tanamannya)..
    yang dapat memperlambat kecepatan longsor, adalah tanaman semak (ex sere wangi) tanaman ini sangat membantu karena tanaman ini tumbuh sangat rimbun sehingga dapat menghalangi lajunya air..
    itu sih menurut saya…

  16. hai !!!!
    boleh kenalan gag ma yang si cakep stranger ntu …
    hhehe , secakep apa seh kamu ..
    jadii penasaran …
    lam kenal yah !!
    lam kenal juga buat tanah longsornya ..
    wahahahahah ……
    ( looh . ko jadi kenalan ni .. )
    hahahahaha …….. ga nyambung yaa ………..

  17. Gileeeee……. Ada kabar baru nih! Pasti lo smua udah pada taw yach??? Sini gw bisikin. Pst…Pst…Pst…
    ( Isi: Gileee… Gw cakep banget yach…)
    Huakakakakaka

  18. [...] tengok kecepatan saat terjadinya longsor disini. Klick di movie Youtube yg ada disitu. Posted in Dongeng [...]

  19. Untuk Im, tentang jarak pagar (Jatropha curcas),saya baca di media cetak, etung-etungan produksi pertahun/hektar antara 8 – 15 ton biji/hectar. Kalau perkilo Rp500.–,maka pendapatan petani rata-rata sekitar 5 juta rupiah. Ada yang berpendapat,sebagai tambahan pendapatan itu cukup, tetapi kalau sebagai penghasilan pokok (bukan sambilan ) itu kurang. Di TVRI saya juga lihat pada wawancara Dekan Fakultas Pertanian UGM, beliau mengatakan belum ada bibit unggul jarak pagar ini, jadi dicoba dulu dengan yang ada, Faperta UGM sedang mengembangkannya. Sekarang Pemerintah sedang menggalakkan desa mandiri energi dengan salah satunya usaha penanaman jarak pagar. Hal itu sudah dicanangkan SBY di Purwodadi tempo hari. Tulisan mengenai jarak pagar sebagai bio fuel dimuat di harian KR( Kedaulatan Rakyat) hari jumat 16 Februari 2007,saya ada klipingnya.Juga dimajalah Nasional Geography Indonesia ( GRAMEDIA) bulan Juni 2006.(?) Yang jelas tanaman ini sebaiknya ditanam dilahan tidak produktif, supaya tidak mengurangi produksi tanaman pangan. Guna MENCEGAH LONGSOR ditanah miring mungkin juga cocok.Untuk pembibitan saya sudah mencoba dengan setek, hasilnya kurang memuaskan hanya sekitar 5 %,banyak yang busuk. Saya tidak tahu,mungkin caranya yang salah. Tapi bila dari biji,mungkin % yang tumbuh lebih tinggi, belum kucoba, bijinya masih kusimpan.
    Btw, ..kalau mau nanam biji matoa ( klengkeng Irian) tidak boleh dijemur/dikeringkan. Harus keadaan segar,dicuci sampai bersih baru ditanam. Kalau masih ada bekas daging /rasa manis buahnya kemungkinan timbul jamur, sehingga biji yang ditanam seperti terfermentasi. Di Irian, kayu matoa dipergunakan untuk bahan bangunan,seperti misalnya kosen pintu dsb. Kalau mindah bibit tanaman dari poly bag sebaiknya tanah dalam polybag jangan sampai pecah, bibit matoa rentan terhadap perubahan kepadatan tanah pada poly bagnya.Pada umur 4 @ 5 tahun sudah mulai berbuah. Di toko swalayan harga 15 – 20 ribu rupiah perkilo. Didepan rumahku ada satu pohon berumur 20 tahun ( kutanam th 1987 ) dapat menghasilkan 70 -80 kg sekali berbuah. Mungkin tanaman ini lebih prospekif untuk tambahan penghasilan penduduk desa dibanding buah rambutan. Semoga informasi ini bermanfaat untuk IM dan lainnya.

  20. Wheealaah, ‘bul jenengan dhewe tho om finalis-e … keciaaan deh. OOO itu tho bioengineering, gek ngerti aku, jika itu yang dimaksud ya aku mau dongeng dikit ya,

    Dulu saya dkk pernah mengunjungi lokasi transmigran dari exodus Aceh pada jaman referendum dulu. Mereka ditempatkan di suatu perbukitan selatan jabar; kondisi lahan marginal, sebagian dengan kelerengan cukup tajam, tapi agak lumayan luas, walo terpencil dan jarang penduduknya.
    Trus waktu itu kami bikin proposal kecil-kecilan, untuk membantu transmigran mengembangkan pertanian di lahan begitu rupa yang sekaligus mengkonservasi lahan di situ. Mengingat transmigran butuh penghasilan-instant untuk menyokong kehidupannya, sedang bantuan dari PEMDA setempat pun terbatas. Tapi sayang kondisi lagi krisis, tidak ada dana yang cukup mendukung pelaksanaan proposal itu, baik dari pemda setempat maupun beberapa perusahaan agrokimia yang kami ajak kerjasama. Jadi cuma sampai memberi saran saja dengan proposal itu ke pejabat pemda setempat.
    Idenya: membuat terasering, sisi teras dihijaukan dengan tanaman keras-fast growth yang cepat menghasilkan biomass seperti gliricidae, acacia, lamtoro dll, yang scr periodik dapat dipangkas untuk dijadikan mulsa sekaligus pupuk yang menyuburkan tanah. Ditambah pupuk biologis seperti Rhizobium (bakteri), mikoriza (myco=jamur) dan effectif microorganism, karena pupuk buatan umumnya kurang baik untuk lahan spt itu. Di sela-selanya ditanami tanaman semusim yang menghasilkan baik tnm pangan maupun palawija. Sedangkan lahan yang terlalu miring disarankan ditanami tanaman keras tahunan yang menghasilkan buah atau kayu.
    Lhaa yg kurang dg rencana itu adalah mengatur tata air terutama di saat musim hujan; dan ide-ide untuk mencegah bahaya pergerakan tanah kurang intens dikembangkan karena memang tidak ada ahlinya yang terlibat. Di antara referensinya adalah: pengembangan Wana Gama di Gunung Kidul yang memang kondisinya agak miirip, juga prinsip-prinsip agro-forestry dan alley cropping.
    Jika ada kesempatan kami mau coba buat proposal lagi macem itu, yang berkait dengan rehabilitasi, konservasi lahan dan pemberdayaan masyarakat di lahan marginal.
    Cuman dalam kaitan dg kebencanaan pergerakan tanah, kami merasa masih jauh untuk sampai tujuan itu.
    Berharap ada saran dari pak Amin, Ompapang, Om RDP dan juga rekan-rekan blogger lain tentunya …
    Eh, bagaimana pula prospek jarak pagar – yg lagi ruame itu??

    (Naaa wis ketok tho om, nek ilmuku tu cuman gado-gado … fast-food yg murah, tapi uenak tenan. Jk dari ilmu gizi, termasuk yg ngandung banyak serat ‘kali, jadi cukup menyehatkan)

    Salam, IM

  21. ada pembetulan : kata “tetapi karena berdaun jarum,sehingga .. …dst”,seharusnya : “tambahan pula karena berdaun jarum, akan menjadikan tahanan angin (drag)nya kecil, …dst “

  22. Kalau di soil sains,ada istilah konservasi tanah atau pengawetan tanah , apakah yang pak amin sebut dengan bio engineering itu sama dengan konservasi tanah ? Misal tanah miring itu dibuat terasering berdasar fisika tanah,lalu kalau menurut mikrobiologi, tanah disebari bakteri mikoriza (mycorrhizae) agar pertumbuhan tanaman bagus. Sebagai contoh kalau kita mindah bibit tanaman pinus harus berikut tanahnya,sebab ia akan mati bila bakteri mikorisa tidak disertakan dengan tanah saat pemindahan.
    Contoh lagi : disetiap bangunan irigasi dekat pintu air,sering kita jumpai pohon cemara laut (casuarina ), yang akarnya memperkuat tanggul,tetapi karena pohon berdaun jarum, sehingga tahanan angin (drag)nya kecil,sehingga bila ada angin besar atau badai tidak akan tumbang .
    Jadi apa ini yang disebut bio engineering ,perekayasaan
    biologi pak Amien?

  23. Buat IM, kalau aku bicara mekanika tanah bukan berarti aku orang mekanika tanah, apalagi ahli mekanika tanah. Demikian juga kalau berbicara soal vegetasi tanaman keras, misalnya pinus merkusii ( pinus),ficus benyamina (beringin ) , casuarina sp (cemara laut), mimusop elengi ( sawo kecik) dsb, bukan berarti aku orang biologi atau kehutanan. Aku memang pernah ujian mekanika tanah,tapi sesudah lulus ya lupa lagi,jadi mesti belajar dulu kalau ditanya soal itu.Kalau yang aku dongengkan dilapangan itu memang aku lihat sendiri saat field trip dikala aku muda. Coba deh tanya langsung pada yang profesional, di setiap jurusan Teknik Sipil biasanya ada laboratorium Mekanika Tanah atau di Balai Pengujian Dinas ( dulu Kanwil) Pekerjaan Umum. Disana biasanya dilakukan test kekuatan tanah dari sample penyelidikan tanah dari lapangan.( Biasanya kalau mau membangun gedung bertingkat banyak).
    Soal finalis itu, kecian ya ? Sampai saat inipun idenya masih dikembangkan, baik berdasar pendekatan hidrologi /meteorologi untuk early warning banjir, ataupun pendekatan geologi untuk peringatan dini bahaya longsor.
    Kalau IM berminat mengembangkan saya dapat bantu,wong finalisnya saya sendiri,he ,he, he.
    Sudah saya buat simulasinya di komputer untuk beberapa skenario curah hujan, silahkan kalau mau mengembangkan.

  24. @ Pak Amien,
    - memang sebenarnya pertanyaan benakku sedari awal: bagaimana mengelola vegetasi di lahan miring-rentan agar fungsinya optimal – mencegah longsor (walau memang pada kondisi kritis tidak signifikan lagi).
    - sebenarnya selaju apakah evapotrasnpirasi? sehingga bisa mengurangi kejenuhan air tanah, misal dibandingkan pada kondisi hujan terus-menerus selama seminggu.
    - Ups yang ini aku blum ngerti yi “bio engeenering”, bisa dijelaskan pendek-agak melebar dikit lah pak.
    Atau mudah-mudahan nanti bisa kutemukan jawabannya diblog Pak Amien.

    @ Ompapang,
    - Apakah selalu bidang gelincir itu berbentuk kurva (“Mohr”)?, atau mungkin karena model hitungan dari gaya-gaya disitu (ada beban, gravitasi, bidang miring-datar, hambatan, dll).
    - Trus finalis lomba di YK itu ga ada yg dapat hadiah ya om? Kecian amat ya, menurutku yg penting bukan karena hadiah, tapi rasa dihargai karyanya itu ‘kan memacu orang lebih semangat mengembangkan kreasi lebih jauh lagi. Tinggal mengembangkan ide dan menambah akurasi sehingga tercipta alat untuk early warning system (EWS) yg lebih baik.
    Lha contoh video yg ditampilin om RDP dari Jpn itu, apa bukan karena adanya EWS yg baik, sehingga orang berkesempatan bikin videonya. Kenapa tidak mengadop teknologi dari negara lain yg lebih baik, krn di Indonesia sgt urgent saat ini?

    Wah-waaah … jadi tukang tanya aku ….
    Matur suwun, IM

  25. TANAH LONGSOR merupakan salah satu dari sekian ragam bencana di Indonesia, yang intensitasnya saya yakin akan semakin meningkat di tahun-tahun mendatang. Informasi sangat diperlukan masyarakat untuk mengantisipasi dan berwaspada thd kebencanaan ini. Di Jawa saja jk dihitung pasti ratusan lokasi rentan, apalagi se Indonesia bisa ribuan.

    Mungkin masyarakat luas hanya memahami kebencanaan jenis ini sepintas saja, lengah atau terlupakan. Perlu diingatkan, dari beberapa kejadian – bencana longsor bisa begitu tiba-tiba, dan banyak menelan korban, padahal masih bisa diantisipasi dan diwaspadai sebelumnya.

    Trims pak Amien, saya dukung blognya yang segera muncul dari Sby, smoga menjadi sumber informasi waspada-kebencanaan dan pencerah bagi masyarakat luas.
    Ngeblog dengan bahasa populer dan nyantai begini, plus getok tular via warung kopi, pastilah ngelmunya poro ahli cepat meresap dan membumi.

    Om Papang, yuk … ntar kita satronin blognya Dhe Amien, biar ruameee …! Om orang mekanika tanah ya … bisa ngeklop deh.
    Aku ini juga ahli mekanika lho, tapi cuman mekanikane enthung, ndi lor – ndi kidul? isone mung ugal-ugil, he he he …

    Nuwun, IM

  26. Pak Amien W, ini ndongeng ya,tahun 2002 yang lalu Kantor SABO Technical Center di Yogya, dalam rangka seminar nasional banjir dan longsor,mengadakan sayembara berhadiah utama 5 juta rupiah,diumumkan disurat kabar KR.
    Sayembaranya adalah membuat alat peringatan dini (early warning system) untuk banjir dan tanah longsor,dengan kriteria alat akan memberi warning bila curah hujan lebih dari 20 mm/jam atau total 100 mm. Ada 18 peserta,yang masuk final: 2 peserta. Pada saat final,salah seorang peserta tidak mempertahankan karyanya justru mengatakan kalau kriteria yang dipakai dasar membuat alat tersebut tidak tepat, dengan kriteria itu alat dapat terlalu dini memberi warning,sehingga mengecoh penduduk.Akibatnya penduduk sudah mengungsi longsor tak kunjung tiba.Bila 3 kali terkecoh,mungkin pada saat longsor sungguh – sungguh penduduk banyak yang tidak mengungsi,sehingga banyak jatuh korban. demikian pula kalau terlalu lambat memberi warning,longsor keburu datang penduduk belum mengungsi ,hingga korban jatuh tentu saja banyak. Dikatakan oleh finalis tersebut, bahwa curah hujan yang baru mulai seminggu memasuki musim hujan dengan intensitas 30 mm/jam ( lebih dari 20 mm/jam) selama 3 jam belum tentu menimbulkan banjir,sebaliknya curah hujan kurang 20 mm/jam dan total perhari rata-rata 80 mm ( kurang dari 100 mm),kalau hujan itu terjadi 30 hari berturut turut selama musin hujan, walaupun tidak terjadi banjir karena run off nya kecil,maka pada hari yang ke 31,mungkin akan terjadi longsor karena jenuhnya tanah atau beban tanah berlebihan akibat infiltrasi air selama 30 hari. Akhirnya para yuri yang terdiri ahli meteorologi,hidrologi dan geofisika memutuskan tidak ada pemenangnya. Ini sungguh-sungguh terjadi bahwa ada hadiah 5 juta ngandang, karena kriteria yang dibuat dapat disangkal oleh pesertanya sendiri. Kalau mau dapat hadiah, finalis itu mestinya manut saja kriteria dari panitia.
    Kalau kriterianya bebas,mungkin dapat dipilih pendekatan geologi untuk tanah longsor, sedang warning banjir mungkin tetap seperti kriteria panitia. Untuk tanah longsor kriterianya ,misal bila regangan tanah 5 cm tiap 100 meter tinggi lereng, warningnya untuk siap-siap, kalau sudah 10 cm harus mengungsi, mungkin dengan itu tujuan menekan jumlah korban jiwa dapat tercapai.
    Dengan kriteria tersebut,mungkin dapat didesain warning system dengan merentangkan kawat terpendam pada lereng miring dengan satu patok diatas dan satunya dibawah, dilengkapi dengan switch otomatis yang bisa ON saat regangan dipermukaan tanah mencapai 5 cm atau 10 cm, sehingga alat peringatan berupa suara sirene ataupun cahaya lampu berkelap kelip dengan warna kuning atau merah dapat menyala saat bahaya mengancam. Ini sekedar dongeng !

  27. Untuk ompapang
    Berbagai kasus longsor di Indonesia perbaikannya sangat susah dilakukan. Umumnya lokasi gawir/bidang longsor itu sangat jauh dan sangat tinggi serta tidak ada jalan menuju ke lokasi tersebut (Nanti tak kirimi gambar-gambar yang menunjukkan lokasi longsor yang tidak bisa dijangkau tsb). Memang itu yang jadi masalah sampai saat ini. Jadi upaya stabilisasi lereng sangat susah dilakukan. Mungkin diperlukakan upaya lain agar menjadi lebih baik yaitu dengan cara bio engineering.

    AW

  28. Untuk Die kontak imelku ya, biar kenal lebih dekat…
    Untuk im3ma saya lagi coba buat blognya semoga cepat selesai hingga gudang ilmu manajemen bencanaku bisa di baca oleh semua orang…… sabar ya….
    Untuk hubungan vegetasi dan tanah di lereng adalah sebagai berikut :
    1. Vegetasi menahan/mengikat tanah dengan akar-akarnya
    2. Vegetasi mengatur tata air di sekitar akar agar jangan sampai jenuh air dengan jalan evapotranspirasi. Bila tanah jenuh air maka tanah akan meluncur longsor.
    3. Vegetasi mengatur siklus hara tanah agar tidak pergi jauh dari sekitar pohon. Bersamaan dengan proses evapotranspirasi unsur hara tanah terbawa ke daun-daun dan ranting-ranting pohon. Saat daun dan ranting gugur maka unsur hara tanah diserap kembali oleh tanah dan akar tanaman (siklus).
    Jika ada pemindahan vegetasi (ditebang resmi maupun tidak resmi, terbakar/dibakar atau tumbang kena angin ribut dll) maka proses evapotrasnpirasi tidak terjadi sehingga tanah akan jenuh air dan unsur hara tanah/unsur semen pengikat tanah akan larut terbawa air sehingga tanah akan tidak stabil. Tapi kalau masih ada akar maka tanah masih akan bisa tertahan sampai sekitar 5 – 10 tahun (akar menjadi busuk). Tapi karena kebiasaan buruk kita yang selalu menebang pohon seakar-akarnya dan ada pembeli akar untuk meja, maka ii menjadikan stabilitas tanah menjadi tidak bertahan lama.

    AW

  29. kalimat terakhir maksudnya penangkis SERANGAN UDARA dst (ctt:mana ada udara kok ditangkis )

  30. Untuk im3rama,( saya baca imtriama !)
    Kalau memaku tanah itu ada ilmunya,yaitu mekanika tanah,soil mechanic.Dengan penyelidikan lapangan,seorang ahli mekanika tanah mengambil sample dilapangan,kemudian diteliti dilaboratorium mekanika tanah,diketahui sifat-sifat mekanikanya, kemudian dibuat perhitungan kemungkinan longsor sampai berapa jauh letak bidang gelincirnya itu dari tepi tebing.Bidang gelincir tersebut membentuk busur lingkaran dengan jari-jari lingkaran,yang disebut lingkaran “Mohr”.Kalau sudah ketemu lingkaran “Mohr”nya baru ditentukan dimana harus menancapkan pakunya serta sampai kedalaman berapa paku tersebut menancap, mungkin tidak sampai bedrock, mungkin juga harus menancap bedrock,tergantung jari-jari lingkaran “Mohr”.
    Paku yang dipakai dapat dipakai tiang pancang (dari beton)
    dapat juga dari rel lori (bekas rel kereta api tak boleh dijual bebas), juga ada yang namanya sheet pile,seperti talang besi tebal sekitar 12 mm.
    Ada juga dengan cara digrouting,yaitu tebingnya lebih dahulu di bor secara tegak lurus bidang miring tebing dengan kedalaman sesuai perhitungan desain darihasil penyelidikan,kemudian dimasuki batang besi beton berulir yang disambung dengan ukir sekerup sekitar 2 meter dengan diameter yang sesuai antara 30 -40 mm, sehingga panjang seluruhnya kira-kira 1 meter lebih panjang dari lubang bor (mencuat keluar), sesudah batang besi dimasukkan,kemudian lubang digrouting dengan memasukkan adonan semen kedalamnya hingga penuh. Sesudah penuh dan kering semennya,pada permukaannya diratakan dengan semen kemudian dipasang plat baja tebal 20 mm dengan ukuran 2mX2m dengan lubang tepat ditengahnya dengan diameter sedikit lebih besar dari diameter batang sekerup. Sesudah dirasa semen cukup umur,maka mur dikencangkan agar plat baja menekan tanah dalam rangka menahan tanah biar tidak longsor. Banyaknya penguatan tebing cara itu tergantung penyelidikan yang mendahului, atau tergantung volume atau luasan tebing yang akan diamankan. Yang jelas jumlahnya puluhan mungkin ratusan,tidak hanya belasan.Karena mahal biasanya dipakai untuk melindungi permukiman dibawahnya, instalasi atau jalur transportasi vital.Bayangkan untuk luasan 2X2 m2 permukaan tebing saja sudah tinggi beayanya. Pada tebing yang dikuati dengan cara ini, kalau diamati seperti dipasangi senjata penangkis udara yang tersebar dibidang miring tebing tersebut!

  31. Nuwun sewu ikutan gabung….Kalo setau saya yang ngaruh di longsor tuh berat jenis tanah/batuan (W) yang makin gede tantunya makin rawan, trus kohesi (C) yang kecil, sudut geser dalam, muka air tanah pada lokasi (kedalamannya), dimensi dari lokasi longsor tentunya besarnya slope, trus pemisahan antara bedrock sama soilnya, apakah ada struktur yang mengenainya bisa sesar ato adeknya (kekar). Yang tambah m,asalah musim ujan kaya gini, coba hujan bisa dikontrol pake remote. Tambah ujan tmbah berat beban, tambah kecil kohesinya blom lagi kalo infiltrasinya ngumpul di bidang gelincir, ya udah berdoa aja… KJalo masalah vegetasi serba salah sih di satu sisi dia menyerap air yang jatuh dari atas, di sisi lain kalo pahonnya segede-gede gajah beban vertikal dari atas makin berat. Coba kalo ada robot yg gede2 daerah yg rawan longsor kan bisa dikepras, trus nimbun laut di indonesia biar daratannya makin luas he he he

  32. Nambah maneh, … masih dongeng vegetasi.
    Dongeng dari kawanku ekologist:
    Struktur perakaran cenderung tergantung dari spesies tumbuhannya, tapi juga dipengaruhi kondisi lingkungan setempat.
    Contohnya, dari hasil penelitian di hutan hujan tropis kalimantan yang kepadatannya sangat tinggi; ternyata siklus hara di situ hampir2 bersifat “tertutup”. Maksudnya dedaunan yang jatuh dan terurai menjadi “available nutrient” langsung terserap oleh perakaran yang padat pula, sehingga hara tidak banyak terbuang atau keluar dari lokasi itu. Karena kompetisi yang tinggi menyebabkan akar tumbuhan disitu hanya tumbuh horisontal, saling berbelit di permukaan berebut makanan. Ketika ada gap, tanahnya terbuka dan erosi, tanah di lapisan bawahnya ternyata tandus sama sekali tidak subur.
    Contoh lain dari dataran Amazon dengan vegetasi hutan yang padat agak mirip di Kalimantan itu: Suatu saat terpantau adanya kawasan hutan yang bolong, tanahnya terbuka tanpa pohon sampai radius ratusan meter (bukan karena penebangan liar lho). Selidik2, ternyata hutan di area itu telah terbang digondol “lesus” (puting beliung), dan jatuh krungkep membalik di tempat lain. Setelah diteliti akar-akar pepohonannya juga tumbuh horisontal saja. Yang aneh, ternyata akar-akar pohon bukan hanya saling belit, tapi juga bergandeng-gandengan*), sehingga ketika tercerabut, banyak pepohonan sekitar yang ikutan terbang.
    *) Maksudnya antara akar-akar pohon itu bener2 saling lekat, yang secara anatomis jaringan akar menyatu (root grafting), pada hal berbeda spesies dan familinya. (Jika kita grafting/okulasi batang, batang atas dan bawah paling tidak harus dari tumbuhan se-famili). Katanya itu juga akibat kompetisi yang tinggi antar pepohonan hutan yang sangat padat.
    Udah dulu dongengnya, … kembali ke laptop: == Mengenal Tanah Longsor==

  33. Bagus penjelasannya om, bisa agak dong, trims
    Ternyata banyak faktor yang pengaruhi longsor, dan complicated saling berinteraksi.
    Saat hujan, vegetasi membantu “menangkap” air, termasuk mungkin serasah yang membentuk lapisan organik di permukaan dan tanaman bawah/undergrowth. Sehingga run off dihambat, air tidak lewat begitu saja – mencegah erosi dan banjir.
    Di lain sisi, air yang ditangkap oleh vegetasi tentunya membantu peresapan atau infiltrasi air ke dalam tanah. Ini pun memicu kejenuhan air tanah menjadi sangat tinggi, konsistensi tanah jadi lembek.
    Jadi “pembebanan” pada tanah datang dari vegetasi yang memang sudah ada di situ, ditambah air yang tertahan dan meresap menjenuhi tanah.
    Rumit juga, tapi itu faktor alam yang manusia harusnya mengelola dengan baik sebisa mungkin. Pilihan vegetasi yang tidak terlalu berat seperti teh, + perakaran yang dalam, mungkin cukup bijaksana tuk menjaga keseimbangan tanah miring-kritis.
    Apa mungkin bisa diaplikasi, yaitu “memaku” tanah itu sampai tembus ke bedrock? Waa … biayane. Dan jk tanah sudah over jenuh ga ada artinya lagi ya.
    Nuwun, IM.

  34. Pohon pohon atau tanaman keras yang ditanam dilereng mempunyai dampak menguntungkan yaitu menahan erosi, tetapi sebaliknya akan berdampak merugikan yaitu membebani tanah sehingga turut membantu terjadinya longsoran. Untuk menahan erosi ditanah miring/lereng yang terbaik adalah tanaman perdu atau rerumputan. Kita dapat belajar pada keadaan perkebunan teh dipegunungan yang jarang terjadi longsoran dan banjir ,karena erosi minimal dan pohon teh tidak begitu besar membebani tanah lereng. Pohon teh pada 10 m2 luasan kebun teh mempunyai bobot yang jauh lebih ringan dibanding satu pohon kelapa atau pohon cemara, apalagi dibanding pohon beringin,sengon atau trembesi/munggur. Bila turun hujan,pohon besar lebih berpotensi menahan air pada lembar-lembar daunnya sehingga mengurangi air run off sehingga berpotensi mencegah erosi dan banjir, sebaliknya karena menahan air ditajuk daunnya, maka bobotnya akan bertambah,sehingga berpotensi mempercepat timbulnya longsoran (sliding) pada tanah miring. Lebih-lebih tanah tersebut punya rekahan tempat air masuk kedalamnya dan punya batuan kedap air sebagai bidang gelincirnya. Dengan penyelidikan oleh ahli geologi, ahli mekanika tanah serta ahli kehutanan suatu tanah miring yang penuh vegetasi tanaman keras mungkin dapat dapat diketahui potensi akan terjadinya longsoran.Bila perpotensi terjadi longsor, pada area tertentu dapat diberi tanda bahaya longsor.

  35. Naaah…. maka dari itu… daripada cuman omong-omongan masalah longsor di sini, kita-kita aja yang tambah pinter, tapi orang-orang di sana yang tetep tertimbun, sebagai komunitas intelektual, cari dong jalan agar bisa memberikan suatu sumbangsih yang sangat berarti buat masyarakat… Lewat mana????? (Yah…. lagi-lagi ini pertanyaannya…)
    *Pak Amin :
    Di kampus apa ada komunitas yang punya link khusus untuk permasalahan seperti ini? Manajemen Bencana misalnya? Yang langsung terlibat vertikal kedalam. Jadi enggak cuman kasih rekomendasi-2 yang entah kapan baru bisa dijalani… (biasa…. harus lewat banyak “pintu-pintu” dulu baru dikerjain… salah-salah nunggu longsor “babak kedua!)
    *Buat korban Lapindo :
    Sing sabar, yo, rek… Nglumpukno duit trilyunan kudu ngenteni setahun maneh… Sabar…sabar…
    *Pak Rovicky :
    Iseng-iseng nanya lagi… Kira-kira mungkin enggak di atas lumpur Lapindo dibikin struktur? Yang ADAPTABLE DESIGN gitu…

  36. Halaman utama koran pagi ini … beritanya masih longsor-longsor-longsor, tiba2 pemukiman amblas jadi danau, dll.
    Menghadapi sisa-sisa musim hujan ini … kita masih harus waspada mengamati sekitar kita, apalagi musim hujan tahun depan dan depannya lagi, makin rentan …. cemaaasss!

  37. Begitu bermacamnya pergerakan tanah dan jenis atau faktor2 penyebabnya. Pusing deh …. tapi menarik.
    Ternyata jika telah mencapai titik kritis, vegetasi pepohonan pun tdk menolong menahan longsor. Pernah saya lihat suatu berita di TV, suatu bencana longsoran yang menampak struktur perakaran pohon-pohon besar di situ; ternyata perakaran pohon bukannya menunjam ke dalam tanah, tapi banyak tumbuh menyamping (horisontal), apa mungkin karena ketersediaan hara dan aerasi yang baik hanya pada lapisan tanah atas saja. Untuk kesimpulan smentaraku, vegetasi mungkin hanya menahan erosi, bukan longsor atau pergerakan tanah dalam sekala besar (begitukah pak AW).
    Namun sejauh manakah para ahli mengumpulkan data-data dan mperhitungkan “tingkat kritis” suatu lahan – jadi berpotensi “bencana-pergerakan tanah”, sehingga bisa mberikan early warning kpd masyarakat awam. Apakah lahan berlereng curam pd gunung/bukit2 di Jawa ini (misalnya) sudah “kritis” semua saat musim hujan. Karena akhir2 begitu banyak kejadian bencana jenis ini. Trims

  38. lanjutan…………
    Vegetasi sangat berfungsi untuk tanah yang tidak tebal mungkin hanya setebal

  39. Hubungan tanah dan vegetasi
    Pelapukan dikontrol oleh iklim (terutama curah hujan), bahan induk (batuan), organisme (termasuk vegetasi), topografi (terutama ketinggian dan kemiringan) dan waktu. Jadi disini organisme (vegetasi) merupakan salah satu faktor dari proses pembentukan tanah dan kita tahu bahwa organisme/vegetasi umurnya terbatas (mungkin hanya ribuan tahun saja maka vegetasi sudah tidak mampu lagi bertambah besar) sedangkan faktor yang lain terus bertambah sampai batas limit (diprediksi sekitar 2 juta tahun). Ini berarti tebal tanah bisa melebihi dari panjangnya akar vegetasi sehingga saat terjadi longsor vegetasi tidak ada artinya.
    Vegetasi sangat berarti untuk tanah yang tidak tebal mungkin hanya setebal

  40. Pak dhe,

    kalo longsoran nya di daerah pemukiman, berapa lama ya dhe, tanah longsoran tersebut settle dan aman untuk di tempati lagi (misalnya untuk mbangun tower/menara diatasnya?..

    maklum dhe, bukan orang geologi, jadi awam.

    #im3ama

    iya bu, saya juga lagi nunggu pic dari pak amien tentang penurunan tanah di bodag madiun tuh,..

  41. Waow, … filmnya mengerikan!

    Lha itu di lereng-lereng gunung Lawu dan gunung2 anakan di sebelah selatan-nya sring terjadi seperti itu.
    Walau vegetasi serimbun itu, masih juga terjadi longsor. Apalagi jika hutannya ditebangi atau di/terbakar, seperti hutan-hutan pinus di Lawu.

    Wah berarti di Indonesia ini semakin lama semakin tinggi kerawanan longsornya. Karena proses pelapukan batuan sudah sedimikian menua (lama). Apalagi di daerah tropis ini pelapukan lebih cepat jika dibanding di Japan itu.

    Referensi pak Amien W untuk Jatim mungkin banyak ya pak? Buka gudang dong pak, apa pak AW ada blog khusus ttg ini atau geologi?

    Salam, IM

  42. Salam Dhe,
    Wah ini lebih jadi pencerahan, excellent … trims banget!

    Ada satu pertanyaan lagi dhe. Apakah aktivitas vulkanik juga menyebabkan adanya growongan-growongan di dalam gunung/tanah? Dan apakah suatu saat dalam growongan tersebut bisa terjadi ada material yang runtuh — dan mungkin bisa menimbulkan gempa sekitar gunung, atau bisa menimbulkan “tanah bolong”. Maaf mungkin ini agak beda kasus …. (di pikiran saya), tapi apa ada istilahnya. Maaf hanya kubayangkan aja ya Dhe, lawong aku bukan geologist. Maturnuwun banget.

  43. Longsor itu menurut versiku karena proses pelapukan dan pembentukan tanah di lereng sudah dalam keadaan kritis.
    Misalnya ada lereng batu, mungkin kita bisa dibayangkan lereng lahar yang dibentuk waktu gunung Merapi mengeluarkan lahar dan menutupi lerengnya 15 Juni 2006 yang lalu. Lahar ini menempel pada lereng yang tajam dan terus mengalami pelapukan. Pelapukan tanah di lereng akan menyebabkan bongkah batu berubah menjadi semakin kecil semakin kecil sampai sangat halus, sehingga sudut kritis material menjadi sangat kecil. Saat masih berukuran bongkah lahar masih bisa menempel di lereng yang curam tapi saat berubah menjadi ukuran halus (lempung) maka sudut kritisnya terlampaui sehingga dalam kondisi kritis. Walau tidak ada hujan, getaran atau gangguan lainnya tanah akan longsor dengan sendirinya. Karena di Inodonesia beriklim tropis yang banyak hujannya akan memicu longsor tersebut. Hujan menyebabkan tanah menjadi berat dan kohesi (ikatan) tanah akan berkurang sehingga akan longsor.

    AW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.162 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: