Evolusi#3 – Awas lubang keledai (Potential Pitfall)
11 Februari 2007 at 10:54 pm | In Dongeng Geologi, evolusi | 25 Comments
Sebelum berjalan mengendarai mobil, mungkin ada baiknya (eh whajib kata pak pulisi) kalau kita membaca tanda-tanda lalu-lintas dulu. Juga membaca peta perjalanan kira-kira mana tempat lubang keledei supaya tidak terjerembab masuk lubang.
Nah sekarang saya akan menuliskan beberapa rambu dalam membca tulisan science terutama untuk soal evolusi.
-
“Haiyak Pakdhe niku cuman mau baca aja mesti pakai SIM segala sih ?”
+“Lah iya ta le, Mau mengendarai mobil mesti punya SIM. Itu SIM kamu beli apa ujian ?”
-” mmmm … anu Pakdhe …. diajarin kok sama penguji waktu ujiannya, baik deh langganan saya itu, murah lagi
“
+” HUSH !”
Banyak istilah atau terminologi yang dipakai dalam belajar evolusi. Juga ada kata-kata yang tepat yang semestinya dipakai dalam “membaca” tanda-tanda alam ini dalam kaitannya dengan keilmuan. Dalam pembicaraan sehari-hari bisa jadi berbeda dengan penulisan artikel atau berbicara dalam seminar.
Misalnya, “Aku pikir Persija bakalan menang malam nanti” atau bisa juga “Menurut hipotesa saya, Persija memiliki peluang lebih banyak untuk menang dalam pertandingan nanti malam“. Keduanya intinya sama tetapi secara etymologi ilmiah (science) yang kedua lebih tepat.
-
“Tapi masak sih aku ngomong gitu ama temen … kaga gaul Pakdhe Neeeh …”
Fungsi bukan Tujuan (Function not purpose)
Ada sdikit perbedaan dalam pengertian dan implikasi dari sebuah penyebutan.
Misalnya :
- Gajah memiliki belalai panjang, belalai ini bertujuan berfungsi untuk mengambil makanan. Bukan bertujuan untuk mengambil makanan. Gajah tidak menentukan dirinya memiliki belalai, tetapi gajah memang memilki belalai yang fungsinya untuk mengambil makanan.
- Berbeda dengan pukul besi yang dibuat bertujuan untuk memasang paku. Pukul besi memang didesign untuk itu. Tetapi fungsi atau penggunaan pukulbesinya sendiri bisa macam-macam.
-
“Termasuk buat mbalang kamu kalau ngeyell terus, Yun !”
+
“Waah Pakdhe sadish !”
Nantinya dalam mempelajari evolusi akan ditemukan hal-hal yang juga demikian. Evolusi binatang ini tidak bertujuan ke sesuatu arah, tetapi perkembangannya menjadikan munculnya alat-alat tambahan.
Tanda-tanda bukan Bukti (Evidence not Proof)
Ada sdikit kesulitan dalam penerjemahan kata, kedua kata “evidence” dan “proof” dalam bahasa Inggris ini biasa diterjemahkan sebagai “bukti”. Namun evidence dalam science merupakan sekumpulan tanda-tanda untuk menguji hipotesa, sampai suatu saat hipotesa daat saja terlihat salah dan muncul hipotesa baru. Hipotesa dan teori mungkin disusun oleh beberapa atau banyak evidence tetapi tidak pernah terbukti. Proof atau bukti sebenernya kata-kata dalam pengadilan yang tidak tepat dalam membicarakan sesuatu pembicaraan dalam ilmiah.
Primitif dan Sangat maju (Primitive and Advance)
Perlu kehati-hatian menyebutkan kata primitif dan maju. Sering ada yg bertanya-tanya … Apakah srigala lebih primitif dari singa ? Apakah monyet lebih primitif dari chimpanse ? Pembandingan ini sangat keliru dalam pandangan evolusi. Mereka semua sama-sama sudah melewati masa evolusi yang lama dan puanjang. Dengan demikian, perlu kehati-hatian menyebut kata-kata “primitif atau maju” ini terutama dalam melihat binatang-binatang yang kita lihat saat ini.
Apakah anda menganggap amoeba itu primitive ?
Tunggu dulu. Amoba tidak punya mekanisme berpikir untuk mempertahankan diri. Lantas bagaimana dia mempertahankan diri dari “serangan” luar ? padahal amobe tidak punya otak untuk berpikir. Mekanisme mempertahankan diri si Amoba juga tidak lebih sederhana dari chimpanse sewaktu lari dikejar singa, kan ?
Mata dapat dipakai untuk mengindera, tetapi mata yang paling bagus dalam mengindera adalah mata cumi-cumi. Jadi badan biologi saja tidak mampu menjelaskan bahwa manusia paling sempurna. Kesempurnaan manusia bukan sekedar kesempurnaan biologi looh !
Evolusi itu berupa “pohon evolusi” bukan anak tangga evolusi.
Ini yang harus dimengerti dengan benar. Jadi tidak tepat kalau menyatakan evolusi itu menuju hal yang lebih advance. Sesama primata-pun tidak mudah menyatakan chimpanse lebih maju evolusinya ketimbang monyet. Masing2 memilki keunikan dan kompleksitasnya sendiri-sendiri. Bahkan viruspun memilki kompleksitas yang tidak kalah rumitnya dengan bakteri.
Evolusi berjalan sesuai dengan perjalanan waktu evolusi tidak menyatakan bahwa manusia berasal dari kera atau monyet tetapi evolusi hanya menunjukkan adanya pattern atau pola dalam perkembangan binatang-binatang dimuka bumi ini. Ada kesamaan leluhur diantara binatang-binatang dimuka bumi ini.
Percaya atau menerima (believe or accept)
Pertanyaan ini sering muncul disini. “Apakah Pak Dhe percaya science ? “. Jawabannya sederhana. Science tidak untuk dipercaya, karena science suatu saat kan terbukti kelemahannya. Tetapi science ini diterima karena adanya sekumpulan tanda-tanda (evidence). Science menjelaskan bahwa bumi ini usianya sangat tua dan telah berjalan melalui proses-proses yang sangat rumit. Dan semua itu yang telah ditunjukkan oleh sekumpulan tanda-tanda yang telah diketemukan hingga saat ini.
Tentunya evidence tentang teori evolusi ini dapat diterima dengan mudah menggunakan logika sains. Dan juga teori evolusi dapat dimanfaatkan ilmunya untuk kelangsungan kehidupan. Misalnya kedokteran atau pengobatan. Munculnya virus-virus baru, munculnya daya tahan bakteri terhadap antibiotika, ini diduga sebagai salah satu contoh dalam teori evolusi.
Dongengan lain yang bermanfaat
- Evolusi # 1. Sejarah singkat bumi dan kehidupannya
- Evolusi#2. Berubah !
- Evolusi#3 – Awas lubang keledai (Potential Pitfall)
- Evolusi – intermezzo – Kapan saat kamu terkecil yang bisa diingat ?
- Evolusi #4 – Mekanisme evolusi (1)
- Evolusi #4 – Mekanisme evolusi (2)
- Evolusi – intermezzo – Apa itu fosil ?
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.


Iklan Gratis



hasil penggalian evolusi di milis evolusi dan apakabar yah, pakdhe …
Komentar oleh papabonbon — 12 Februari 2007 #
Iya neeh
Kalau dalam format dongeng mesti dijelasin atu-atu … dan diwanti-wanti sebelum kebablasan, njujug ngomel2 karena dibilang sodaraan sama chimp … wupst !
Komentar oleh Rovicky — 12 Februari 2007 #
Cuma keledai yang jatuh di lobang yang sama…
Komentar oleh Arki Rifazka — 12 Februari 2007 #
Salut Pak Dhe, atas ketelatenan dan kesabaran untuk “pasang rambu” terlebih dahulu. Semoga setelah perjalanan mulai serius, Pak Dhe, dapat dengan ikhlash (fashikh banget ya?) bersikap cuek (atau cukup mendoakan saja) terhadap para komentator yang “tersesat” akibat mengikuti egonya untuk tidak mempedulikan Rambu yang Pak Dhe Pasang.
Komentar oleh Wong Dau Wan — 12 Februari 2007 #
hmmm … ‘rambu’ yang menarik pak!
memang kadang kita sering terjebak dengan kata-kata dengan banyak pemahaman seperti ini pak!
scientist ternyata nda cukup dengan ke-ilmu-annya akan bidang pengetahuannya yo pak, juga butuh belajar bahasa …
ya ya ya …
semoga nda pada tersesat setelah mbaca rambu yang dijelasin pakdhe Rovicky …
nuwun … pareng …
Komentar oleh tjebolang — 12 Februari 2007 #
Kok pembahasanya jadi kayak pake bahasa filsafat ya…
Function not purpose —> belalai gajah dan “pukul besi” (wah wis suwe aku ra krungu “pukul besi”
)
evidence not proof —> ataukah evidence (is) not proof?
kalo bhs pulisi evidence adalah alat bukti untuk membuktikan (evidence for proofing)
Primitif and advance –> past and future
pohon evolusi bukan tangga evolusi –> apakah pohon itu bermula/berasal dari akar dan berakhir di ranting daun? ataukah nenek moyang ranting, daun, bunga dan buah itu akar?
believe or accept –> if you are not on my side you are my enemy. (bhs indonesiane buah simalakama)
walah pakdhe, ternyata teori evolusi itu rumite kayak urusan sama hukum di indonesia…., lebih sulit dari ngerjain persamaan integral differensial….
Komentar oleh Mas Agus — 12 Februari 2007 #
kenapa ya om, orang mesti ngomel2 kalo dibilang saudaraan ama hewan?
Komentar oleh Khaidar — 12 Februari 2007 #
Bagus sekali Om rambu-rambunya. Kata-kata dengan banyak pemahaman bisa membuat terjadi debat yang berkepanjangan tanpa penyelesaian yang akhirnya saling hujat.
Jadi inget debat tentang “Pluralisme”, masing2 bicara sesuai persepsi/ definisi masing-masing ttg pluralisme, sehingga si A menuding bahwa si B tidak suka hidup berdampingan dengan agama lain, sedangkan si B menuding si A bermaksud mencampuradukan ajaran2 agama.
Komentar oleh Kang Odoy — 13 Februari 2007 #
Jadi bumi diciptakan dalam waktu 6 hari yah?
Wah bikin anak saja perlu 9 bulan yah.
Komentar oleh Min — 13 Februari 2007 #
Suwun, Pak Dhe…
Setuju, kalo begini kan, belajar evolusinya tetap dlm koridor ilmiah. Fungsi Dongeng Evolusi ini banyak sekali, selain nambah ilmu juga bahan cerita utk anak-cucu, tapi apa tujuan Pak Dhe sebenarnya? — pembuat/penciptalah yg paling tahu tujuan pembuatan/penciptaannya, begitukah?
tapi, masih lanjut terus kan mbahas evolusinya?
Ada sedikit nih, boleh dong dikasih comment:
(1) saya punya majalah National Geogrhapic Indonesia edisi perdana April 2005, topik utamanya: Manusia Kerdil/Homo Floresiensis.
(2) hari minggu 11/02/07jam 14.00-15.00 di metrotv ada acara: National Geogrhapic: The Last Man Standing; The Human Race, ttg perjalanan evolusi manusia.
Ternyata, dari kedua2nya, sama2 menyiratkan kebingungan dan pertanyaan2 yg blm bisa mereka (penganut evolusionis) jawab sendiri. Mereka menunggu penemuan fosil2 berikutnya. Digambarkan di metrotv, evolusi awalnya berjalan lurus: Lucy-Australopithecus A., yg disebut nenek moyang man., turun dr pohon terus ngambil tongkat estafet lalu lari dan memberikan tongkat itu ke “kera” berikutnya s/d h.sapiens sbg penyentuh garis finish akhir.
Tapi setelah banyak fosil ditemukan, terutama H. Floresiensis di Indonesia dan Goliath di Prancis n Spanyol, teori evolusi garis lurus itu dibatalkan, yg digambarkan seekor/seorang (??) “kera” melempar tongkat estafet ke atas.
Di majalahnya, dlm akhir bahasan hal. 40: Bagaimana hominin purba bisa ada di Flores? Apakah homo erectus adalah pelaut yg mampu membuat rakit dan merancang pelayaran? Pertanyaan menggelitik lainnya: Manusia modern yg mendiami Australia datang dari daratan utama Asia sekitar 50.000 th lalu, dan tinggal di Indonesia dalam perjalanan mereka. Mungkinkah mereka dan Hobbit/H.Floresiensis saling berjumpa?
Bagaimana nih? Suwun.
Komentar oleh maztegh — 14 Februari 2007 #
Nambahin dikit lagi…
kalo menelusuri jalur pemikiran para evolusionis, maka yang perlu diperhatikan:
Bahwa umur H.Floresiensis diperkirakan oleh penemunya adalah 18.000 th lalu.
Sedangkan umur fosil manusia modern yg diketemukan di Australia adalah 50.000 th lalu.
Di hal. lain digambarkan Hobbit ini bertemu dg manusia modern dan hidup berdampingan selama 40.000 th.
Di metrotv, jg diilustrasikan pertemuan dua makhluk ini dengan saling berhadapan.
Pertanyaannya: apakah mereka satu nenek moyang? yaitu dari H. Erectus yang berimigrasi dari benua afrika ?
Komentar oleh maztegh — 15 Februari 2007 #
Ada dua point yang diambil Mas Teguh
1. Bahwa umur H.Floresiensis diperkirakan oleh penemunya adalah 18.000 th lalu.
2. Sedangkan umur fosil manusia modern yg diketemukan di Australia adalah 50.000 th lalu.
Yang perlu diperhatikan juga adalah waktu hidup kedua spesies ini. Ada perbedaan penggunaan usia dari sample (fosil) dan jangka hidup dari spesies yang bersangkutan mulai kemunculan spesies tersebut sampai punahnya.
Saya tidak tahu jangka hidupnya HF, tetapi jelas sekitar 18.000 (karena diketemukan pada batuan berusia 18.000. dan manusia Australia 50 000.
Komentar oleh Rovicky — 15 Februari 2007 #
tolong cariin contoh dongeng dalam inggris aksimal 100 kata
Komentar oleh jono — 23 Agustus 2007 #
tolong cariin contoh dongeng dalam inggris aksimal 100 kata
buruan
Komentar oleh jono — 23 Agustus 2007 #
Buat Pak Rovicky, Pak Wartono Raharjo saja tidak mengakui “teori” evolusi lho. karena beliau tahu ada skandal disinformasi waktu geologis yang dilakukan oleh evolusionis, tentunya Pak Rovicky masih ingat kisah kerang purb ayang polanya secra evolusi semakin rumit, tetapi secara umur geologi malah loncat maju-mundur, yang sederana lebih muda yang rumit lebih tua,hilang satu zaman,muncul lagi di zaman yang berbeda.
Komentar oleh Adik Angkatan — 1 September 2007 #
Pak Rovicky, berarti eohippus bukan leluhur kuda modern dong? soalnya ternyata ditemukan fosil kuda modern hidup berdampingan dengan eohippus 50 juta tahun yang lalu… pripun Pak?
karena sebelumnya equus dianggap hasil evolusi dari plesippus, dan plesippus adalah hasil evolusi dari dinohippus yang merupakan hasil evolusi dari merychippus. merychippus sendiri adalah hasil evolusi dari mesohippus dan akhirnya pada “akarnya” ada eohippus. nah kalu lah kuda modern adalah evolusi langsung dari eohippus maka teori itu boleh jadi benar, karena bisa saja kuda modern hidup sezaman dengan eohippus. sayanganya menurut teori, equus adalah hasil evolusi dari plesippus dan seterusnya baru sampai ke eohippus, bukan evolusi langsung dari eohippus, sehingga tidak memenuhi penjelasan pohon evolusi. pripun Pak?
Komentar oleh Adik Angkatan — 1 September 2007 #
Teori evolusi tidak butuh pengakuan siapapun untuk berkembang. Bahkan secara abtraksi teori inipun berkembang dengan sendirinya. Malah kalau kau percaya teori ini berasal dari Darwin-pun juga keliru. Karena Wallace jauh sebelumnya sudah beripiki soal “perubahan” ini ketika membuat Wallace line (tau kan walace line ?).
Muncul hilangnya sebuah “jalur” evolusi sangat dikontrol oleh “preservation” (penyimpanan). Hilangnya sebuah jalur disebabkan karena “tidak ada preservation” ntah tidak tersimpan karena binatangnya bermigrasi ke lokasi lain, atau ada proses geologi yang tidak memungkinnya tersimpannya dengan baik … ingat “cambrian explosion” yg merupakan “AWAL” tersimpannya cangkang keras. Karena sebelumnya ngga ada cangkang ya ngga ada yg tersimpan, tetapi begitu muncul cangkang akhirnya “ada” bagian sisa tubuh yg tersimpan.
Soal perubahan ini jangan dipikirkan bahwa evolusi berjalan semakin “kompleks”. Kalau aku tanya kompleks mana antara kuda dengan amoeba ? Lah wong binatang satu sel saja kok “hidup” ? Sedangkan potongan kaki laba-laba yg terdisi berjuta-juta sel kok ngga bisa hidup ?
Salah satu kesalahan memahami evolusi adalah ketika kita berpikir bahwa evolusi berjalan satu arah, evolusi juga tidak tidak ketahuan punya tujuan looh … Ingat pitfalldiatas.
Is evolution reversable ? Apakah evolusi bisa diulang ?
NAh soal ini juga yg sekarang banyak ditanyakan …. seandainya kita putar balik waktu geologi ini ke waktu NOL … apakah perjalanan evolusi akan sama persis seperti yang kita lihat saat ini ? Ataukan ada proses random sehingga prosesnya ada kemungkinan berjalan “kearah” lain ?
Komentar oleh Rovicky — 1 September 2007 #
Pak Dhe, lupa-lupa ingat, nama Pulau SULAWESI yang binatang-binatangnya berbeda dengan Kalimantan (misal Babi rusa, anoa )dan juga berbeda dengan P. Irian atau benua Australia apa berasal dari nama WALLACE dan garis Wallace apa garis perubahan fauna yang melewati P Sulawesi dan apakah ada hubungannya dengan ring of fire gunung api ?
Komentar oleh ompapang — 2 September 2007 #
Ompapang, setauku garis Wallace tidak berhubungan langsung dg ring of fire. Tetapi grs ini merupakan “batas” tektonik antara Indonesia bagian barat (IBB)dan Indonesia bagian timur(IBT).
IBB dan IBT bertemu ketika lempeng ustrali bergerak ke utara. Tentunya sebelum bertemu kedua pulau ini sudah dihuni oleh binatang2 yang berbeda evolusinya. Evolusi binatang2 di ustrali tidak sama persis dg perkembangan evolusi binatang2 di benua asia. Dan wallace lah yg menemukan batas keduanya. Itulah awal Wallace bercerita dan mendongeng “impiannya” ttg perubahan yang saat ini kita kenal dengan teori evolusi. Darwin kmudian lebih dikenal karena telah berhasil mempupolerkan dengan bukunya “origin of species” itu.
Komentar oleh dongeng geologi — 2 September 2007 #
Maaf, mau niombrung komentar setelah lama cuma baca2 saja blognya mas Rovicky.
Mengenai garis Wallace itu sebenarnya bagaimana ya, apa sekedar garis pemisah tektonik saja atau ada faktor penyebab lain yg mengakibatkan jenis binatang dari wilayah saling bertetangga itu sangat berbeda dalam banyak hal. Kalau dipikir-pikir pemisah apa atau peristiwa apa yang menyebabkan hal ini terjadi?
Mengutip pendapat “Tentunya sebelum bertemu kedua pulau ini sudah dihuni oleh binatang2 yang berbeda evolusinya. Evolusi binatang2 di ustrali tidak sama persis dg perkembangan evolusi binatang2 di benua asia.” Bagaimana hal ini bisa terjadi ya. Apakah ada suatu perubahan dahsyat di masa lalu smapai pola evolusinya berbeda padahal ustrali dan asia tidak terlalu jauh bahkan dulu mungkin menyatu (mhn dikoreksi kalau saya salah soale bukan geolog)?
Komentar oleh atmoon — 23 Oktober 2007 #
Atmoon
.
Justru terbalik. Dahulu Indonesia dan Ustrali itu pisah dan sejak 5 juta tahun lalu “bertemu”, eh tabrakan dink !
Lah garis wallace ini yang merupakan batas antara kerak-kerak yang berasal dari selatan Ustrali, dan dari Utara-Barat atau kerak Sunda.
Evolusi itu tidak berjalan sama disebua tempat. Evolusi itu sangat tergantung dari lingkungan. Kalau binatang ga dapet makanan maka tubuhnya kecil2 dan kalau keterusan mempengaruhi secara genetik dan diturunkan ke generasi penerusnya. Lah kalau hidup di daeah yg banyak makanan tentunya tumbuh subur dan badannya besar-besar.
Belajar evolusi itu tidak dapat dipisahkan dengan tektonik tentusaja.
Komentar oleh Rovicky — 23 Oktober 2007 #
trus kalo gtuuuu neee, petunjuk adanya evolusi apaan tuuu????
Komentar oleh Phie — 19 November 2007 #
pakde, saya hampir nangis membaca posting yang satu ini. saya mendapat “cara menjelaskan” yang pas untuk pertanyaan orang2 di sekitar saya.
terima kasih.
Komentar oleh tj — 8 Februari 2008 #
[...] Tidak begitu. Evolusi terjadi secara bercabang dan tidak mesti linear. Penjelasan lebih lanjut tentang ini, silakan klik [di sini] [...]
Ping balik oleh Beberapa FAQ tentang Evolusi « sora-kun.weblog() — 14 Juni 2008 #
Buat Phie yg kebingungan, mana petunjuk evolusi: ada bejibun di depan kita. Ikan koi kok bisa macam2 begitu, mas koki juga begitu bentuknya beda2 tapi kita masih nyebut maskoki. Contoh lain: kubis, kembangkol, brokoli, brusselsprouts, semua masih satu spesies padahal beda2 banget bentuknya.
Kok bisa begitu? Karena alam kasih banyak sekali variasi untuk suatu jenis. Tergantung sekarang, variasi itu sanggup bertahan atau tidak. Kalau sanggup maka ia akan terus hidup (dan mengembangkan variasi baru!). Spesies yg ada sekarang sebetulnya cuma sekedar “potret”/snapshot dari proses yg sangat panjang.
Komentar oleh jaka — 22 September 2008 #