Bonus Demografi : Ayo Siapkan Indonesia Untuk 2036 !


Bonus Demografi Lagi

Sangat disayangkan, kesempatan emas sebuah bangsa yang besar ini jarang menjadi perhatian, paling tidak disebut, oleh pengambil kebijakan. Saya khawatir kalau kebijakan-kebijakan yang ada tidak untuk diproyeksikan untuk masa kesempatan untuk kemajuan Indonesia.

😦 “Pakde politikus ya selalu mikirnya next election, kalau sekarang ya akan ditargetkan saat pemilu tahun 2019 !”

workforceworld

Puncak tenaga kerja akan melimpah ditahun 20136 ! Persiapan harus dimulai dari SEKARANG ! (Data as at September 26, 2012. Source: United Nations World Population Prospects, Haver Analytics.)

Jaman SBY sempat terlontar Indonesia bakal menyalip German, salah satunya karena adanya “tenaga kerja” Indonesia yang melimpah ini. Potensi ini harus disiapkan dengan Bahan Baku, Bahan Bakar, serta Lingkungan Aman. Sehingga anak-anak bangsa ini dapat berkiprah secara optimal untuk memajukan bangsanya. Pernah diramalkan menyalip Jerman 2030. http://www.cnbc.com/id/49069336

“Usia produktif tidak hanya usianya yang produktif tetapi produktivitasnya juga harus produktif. Kita harus perhatikan total factor productivity, harus kita masukkan dalam agenda pengembangan ekonomi. Bonus demografi harus dapat meningkatkan pertumbuhan pendapatan produk Neto bisa lebih dari 10 persen. Kesenjangan usia yang muda dari 0-15 , dan yang 60 ke atas harus kita dekati dengan program social protection, sedang yang produktif, kita harus perhatikan dengan pendekatan program employment yang ditinggikan”.

Bonus Demografi

Bonus demografi merupakan kondisi demografi dimana jumlah penduduk produktif melebihi jumlah penduduk yang tidak dalam usia produktif. Kondisi seperti ini tidak mudah terjadi atau bahkan bisa dikatakan kesempatannya hanya sekali saja. Kondisi ini merupakan hasil program kontrol kelahiran bayi yang dicanangkan secara intensif tahun 1960-1970 an yaitu Program Keluarga Berencana atas rancangan ide dari Widjoyo Nitisastro.

BonusDemografi1Salah satu konsen saya adalah penyediaan energi dan juga sumberdaya alam untuk menjadi bahan bakar dan bahan baku untuk generasi pekerja tangguh dari Indonesia! Dimana diperkirakan Indonesia akan menjadi Net Import Gas tahun 2016 dan menjadi Net Import Energi total tahun 2024 atau paling lambat 2027. Yang membuat saya galau adalah bagaimana kesiapan kita dalam penyediaan energi ini. Semoga kedua pemerintah mampu membuatnya menjadi sebuah kebijakan yang “aman”.

😦 “Pakde Net Import Energi itu nopo nggih ?”
🙂 “Artinya jumlah sumber bahan bakar energi dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan energi total. Jadi kita membeli (mengimport) energi dari negara lain. Jumlah batubara, migas, geothermal, serta energi kita tidak cukup karena rakyat Indonesia RAJIN BEKERJA membutuhkan ENERGI !”

Sebenernya import bahan baku bukan hal yang mengkhawatirkan karena yang lebih penting menyiapkan untuk kebutuhan itu, termasuk dengan kontrak pengiriman gas seperti yang dilakukan negara lain ketika kita masih surplus gas. Artinya untuk import gas perlu “receiving terminal” untuk proses de-gas-ing LNG.

BonusDemografiEnergiBanyak negara dapat mengimport dengan mudah karena daya beli masyarakatnya yang mampu membeli. Dimana rakyat yang tangguh, pandai, cerdas dan memiliki mental kerja bagus akan mendapatkan dari penjual (exportir).

😦 “Jadi import itu sebenernya tidak apa-apa ya Pakdhe ?”
🙂 “Yang penting kamu cerdas dan membuktikan bahwa mampu membeli dan membayarnya dengan bekerja !”

Bahan baku, Bahan bakar dan Bahan pangan

Strategi yang dijalankan pemerintahan sekarang dengan “membatasi” eksport bahan mentah hasil tambang merupakan salah satu kebijakan cerdas untuk menyiapkan “bahan baku” untuk tenaga kerja Indonesia dimasa depan. Program program seperti ini HARUS dijalankan nantinya oleh pemerintah. Dan juga untuk satu bahan yang terpenting lainnya yaitu membatasi eksport bahan pangan yg mengandung kecerdasan.

😦 “Hallah, Pakdhe ini. Mana ada bahan pangan mengandung kecerdasan ?”
😀 “Thole, tahukah kamu bahwa protein yg menjadi bahan dasar penyusun otak manusia itu ada pada udang yang selama ini kualitas nomer stunya justru kita kita eksport ?”
😦 “Woo pantesan saya nggak cerdas ya Pakdhe ?

Kalau belum yakin fungsi protein, silahkan baca artikel scientist ini http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/39492/title/Protein-Protects-Aging-Brain/

SemangatPagiDongengan tentang prakiraan impor energi akan terjadi pernah dituliskan disini “Siap-siap Import Energi”. Yang penting adalah pelabuhan, termnal penerimaan gas termasuk juga dengan infrastruktur pengaliran dan distribusinya. Kalau transportasi LNG sudah dapat dilakukan dengan truk seperti ditulis disini, maka transportasi mirip dengan menggunakan kapal kecil semestinya dapat dilakukan untuk pulau-pulau kecil di Indonesia. Selama ini kita berpikir bahwa transportasi kapal LNG mesti ukuran tanker raksasa. Untuk Indonesia bukan itu yang di[perlukan. Dengan demikian distribusi energi menjadi sangat mungkin menggunakan moda transportasi ini.

Nah, buat generasi muda, apa yang sudah kamu siapkan dalam kondisi hidup dimana kawan seusia kerja suangat banyak ?
Menjadi pengusaha, menjadi pekerja atau menjadi politisi ?

3 Tanggapan

  1. menunggu Pak Rovicky menulis kabut asap.

  2. indonesia sebenarnya menurut saya bisa sekali untuk maju. karena pada dasarnya orang indonesia itu kreatif dan mau belajar. terbukti tahun sekarang banyak UKM bermunculan dan mengangkat juga orang indonesia. tinggal butuh sinkronisasi peran pemerintah agar indonesia bisa maju

  3. Sebelum berita di CNBC hilang saya copas dibawah ini :
    http://www.cnbc.com/id/49069336

    Business
    Indonesia’s Economy to Surpass Germany, UK by 2030: McKinsey
    Shivali Nayak |News Assistant, CNBC Asia-Pacific
    Tuesday, 25 Sep 2012 | 2:03 AM ETCNBC.com

    Southeast Asia’s most populous nation is on track to become the world’s 7th largest economy by 2030, putting it ahead of the developed nations of Germany and the U.K., a new report by McKinsey Global Institute showed Tuesday.
    Pedestrians cross a street in Jakarta’s modern business district.
    Romeo Gacad | AFP | Getty Images
    Pedestrians cross a street in Jakarta’s modern business district.

    The report cites the country’s young population, new consumer class and the rapid urbanization of cities as reasons that will elevate Indonesia’s $850 billion economy up nine spots from its current place of 16th largest economy globally.

    The findings do not reveal the projected rankings of other economies, and are based on a “proprietary modeling” method which McKinsey declined to elaborate on.

    According to the report, Indonesia’s economy will be powered by an estimated 90 million additional consumers with considerable spending power by 2030, making its “consuming class stronger than in any economy of the world apart from China and India.”

    Its relatively younger population will also keep the economy’s productivity edge. McKinsey estimates that 70 percent of the country’s population will remain of working age of between 15 and 64 in the next 18 years.

    “Indonesia has a much younger, productive, and growing population. That is a different demographic outlook to the situation in many Western European economies, where the labor force will be either static or decline in size in the future,” said Raoul Oberman, Chairman of McKinsey & Company, Indonesia.

    The country’s rapid pace of urbanization-especially in its smaller cities-as it moves up the value chain will contribute significantly to the country’s growth. McKinsey estimates that 86 percent of GDP in the country will come from urban areas by 2030.

    “The greater areas around Jakarta and Surabaya are the economic powerhouses of Indonesia today, but we expect strong growth in cities like Pekanbaru, Pontianak, Karawang, Makassar, and Balikpapan which are all outside of Java,” Oberman said.

    The report highlights the key challenges facing the economy, which involves low productivity, rising inequality and soaring consumer demand, and says the country is at a “critical juncture.”

    “It (Indonesia) needs to build on its recent impressive performance to boost labor productivity to 4.6 percent – that’s 60 percent higher than in the past decade,” said Oberman. “It also needs to tackle concerns about rising inequality and manage soaring demand from its expanding consumer class to meet the government’s longer term GDP growth targets.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: