Mekanisme Unik dari Ranau Fault yang Menggetarkan Kinabalu


GempaKalimantanGempa 5 Juni 2015 yang menggoyang Gunung Kinabalu, Sabah, gunung tertinggi di Kalimantan, memiliki keunikan tersendiri. Daerah ini memang sudah menjadi pengamatan tersendiri yang dilakukan oleh Department of Survey and Mapping Malaysia (JUPEM) dan Department of Minerals and Geoscience (JMG). Pada tahun 2010 dilakukan pengukuran gerakan dengan GPS, setelah tahun 2007 ada gempa terrekam di daerah ini.

PetaGeologiKinabaluMelihat peta geologi disebelah ini terlihat bahwa Gunung Kinabalu memiliki arah distribusi batuan berarah Timur Laut – Barat Daya. Penyebaran batuan ini dikontrol oleh struktur geologinya yang salah satunya adalah kontrol patahan.

Patahan-patahan inilah yang menjadi obyek penelitian dan pengamatan yg dilakukan oleh Geodetic Survey Malaysia untuk melihat seberapa aktif patahan ini. Dan yang menjadi obyek termasuk Ranau Fault.

😦 “Wah Pakdhe, memang semestinya semua patahan aktif di Indonesia juga diamati donk”

😀 “Benar Thole. Termasuk patahan Lembang, Opak, Grindulu, Semangko, Sorong, … wah banyak lagi lainnya. Beberapa patahan aktif di Indonesia juga sudah dimonitor termasuk Patahan Opak”

AbsoluteMovement

Pengamatan dalam dua periode (Azhari, Survey Dept Malaysia, 2012)

Hasil pengamatan tahun 2010 ini menunjukkan memang Patahan Ranau ini mengalami “tekanan” walau selama ini pemekaran Laut China Selatan sudah dianggap pasif gerakannya.Gerakan absolutnya tercatat hingga beberapa centimeter dalam satu tahun.

Pengukuran dengan GPS inilah yang menjadi dasar melihat adanya gerakan-gerakan relatif antar sisi patahan yang ada disekitar Gunung Kinabalu. Goyangan gempa di daerah ini tercatat ada 85 kali selama 1923-2007, dengan kekuatan 3,3-6.5 SR.

😦 “Penelitian ada juga di patahan-patahan aktif di Indonesia juga kan Pakde ?”

Analisa Tensor Gempa Ranau (5 Juni 2015)

TensorRanau

Analisa tensor ini menunjukkan gerakan mengarah sebagai sebuah “sesar turun” (normal fault). Dengan sedikit komponen geser (strike-slip).

Hasil analisa tensor yang dilakukan oleh USGS pada getaran-getaran gelombang gempa ini memperlihatkan adanya komponen turun pada sisi atas bidang patahan. Pada kondisi normal hal ini dikenali sebagai sebuah patahan normal saja. Sehingga secara mudah akan diambil kesimpulan bahwa penyebab gempa ini berupa sesar normal.

Namun kalau dilihat pada kondisi tektonik di daerah ini sepertinya jarang dijumpai sesar normal. Karena daerah ini merupakan daerah yang mengalami kompresi atau tekanan samping yang sangat kuat.

Robert Hall, salah seorang ahli tektonik yang terkenal pada tahun 2013 membuat model geologi dari Kalimantan Utara ini. Model ini cukup menarik kalau diamati khususnya pada daerah dibawah Kinabalu.  Model yang dibuat oleh Robert Hall ini dapat dipakai sebagai acuan dasar dalam mengamati dan menganalisa gempa di Ranau awal Juni ini,

DownThust

Penampang regional memotong Kalimantan Bagian Utara. Memperlihatkan adanya patahan naik (Sesar Sungkup/Thrust Fault) Juga ada patahan normal berupa gravity glide pada lapisan hijau. Namun dibawah Kinabalu diperkirakan banyak sesar sungkup (Thrust Falut).

Melihat lebih detil pada model diatas menunjukkan bahwa ada sesar sungkup yang justru menurun. kita sebut saja “Down Thrust”, yaitu sesar sungkup yang bukan menaik tetapi justru menurun. Dengan demikian selain ada dorongan dari samping tentunya juga ada faktor gravitasi yang mentebabkan gempa cukup kuat.

DownThustRanau

“Down Thrust” yang menggetarkan Gunung Kinabalu

Selama ini gempa yang terjadi pada sesar normal kekuatannya relatif kecil. Karena tenaganya hanyalah berupa tenaga gravitasi saja. Sedangkan bila tenaga gravitasi diperkuat dengan tenaga dorongan dari samping akan mungkin menggetarkan dan menggeser batuan dengan rupture yang relatif besar.

Dugaan atau analisa ini hanyalah berdasarkan atas pengamatan literatur dan sumber lain. Perlu pengamatan lapangan supaya lebih “matang” analisanya. Seperti Sesar Opak yang telah dianalisa dengan berbagai cara dan metode dan menghasilkan model sesar Opak paling tidak ada 8 model Sesar Opak !.

Referensi :

  • Hall, et al, 2008 “Kinabalu Handbook
  • Robert Hall, 2013 “Contraction and extension in northern Borneo driven by subduction rollback
  • Azhari bin Mohamed, 2012, “Monitoring Active Faults in Ranau, Sabah Using GPS

Bacaan terkait :

3 Tanggapan

  1. Jadi , penyebabnya bukan karena ada wisatawan yang bugil ya pak dhe hehehhehee

  2. saya sudah melakukan tips poin 2 dan 3 untuk point 1 menyusul , Aerona

  3. keren, nice artikel gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: