Sampai kapan harga minyak akan turun ?


Sampai kapan “perang minyak” berlangsung ?

Pertanyaan selanjutnya memang menjadi sulit karena hampir setiap gejolak memiliki penyebab yang berbeda. Sebelum menjawab ini kita lihat bagaimana asal mula merosotnya harga ini.

The economist.com

The economist.com

Penurunan harga yang hingga saat ini tercatat hingga 60% dalam waktu hanya 6 bulan saja. Sejak tahun 2010 hingga pertengahan 2014 harga minyak mentah di kisaran 110$/bbl, sedangkan awal Januari 2015 menyentuh angka psikologis dibawah 50$/bbl.

“Shale oil fracking” di Amerika menjadi “tersangka” penyebab turunnya harga. Berita produksi minyak Amerika melebihi produksi Arab Saudi memicu “kesadaran” konsumen akan melimpahnya minyak yang bakalan tersedia di pasaran. Dengan demikian mudah dipahami, awalnya dimulai dari sekedar hukum pasar, supply and demand.

Namun ketika harga terus merosot, menurut The Economist (Dec 2014), menyebabkan para Sheik (kelompok OPEC) mulai memainkan “bola” yang menyebabkan harga terus menerut merosot hingga tercatat dibawah 50$ pada minggu pertama bulan Januari 2015.

Melihat gejala yang mirip, walau tidak benar-benar mirip, adalah gejolak harga pada tahun 2009 dimana terjadi “oil boom” hingga (400-500 % dari kestabilan harga) yang diikuti rebound dan kembali normal (stabil) dalam kurun waktu 2.5 tahun. Kalau saja merosotnya harga ini terus terjadi tentunya proses relaksasi harga ini juga akan memakan waktu lebih lama.

Angka-angka psikologis.

Turunnya harga hingga 60$/bbl sudah menjadikan Negara-negara penghasil minyak ongkos mahal, Rusia, kembang-kempis. Rusia mengharapkan harga minyak sekitar 70$/bbl untuk bernafas lega.
Ketika harga minyak menyentuh 50$/bbl menyentakkan Venezuela yang menginginkan harga diatas itu.
Ketika angka menyentuh dibawah angka psikologis 50$ ini membuat “game changer”, perubahan pola perkembangan pengelolaan industry “energy”.

Menariknya “perang” harga ini memang tergantung “amunisi”, senjata dan strategi bisnis. Yaitu rendahnya ongkos produksi, infrastruktur yang sudah terpasang dan strategi.

How low can you go, how long can you stand and how fast can you run.

Shale gas/oil diserang. Ongkos produksi (breakeven)-nya sangat bervariasi. Shale oil Marcellus mampu bergerak walau harga sekitar 35$.boe, Exxon Baken, Eagleford beroperasi dengan 60$/boe, dan yang paling mahal Utica memerlukan harga diatas 70$. (lihat gambar).

Namun gaya/style investasi dalam Shale oil/gas ini sangat berbeda dengan conventional. Kalau conventional memerlukan waktu payback hingga diatas 6 tahun, shale oil/gas ini pay out dapat diperloleh antara tahun pertama atau kedua. Dengan demikian walaupun harganya turun, kalau harga kembali meningkat mencapai harga breakevennya maka shale oil/gas ini dengan “segera” akan kembali, karena infrastrukturnya toh masih terpasang dan dapat beroperasi kembali. Dan ketika investasinya akan cepat kembali merekapun berani melakukannya dalam waktu singkat. Apalagi kalau selang waktu “istirahat“-nya kurang dari satu tahun.

Shale Gas/Oil Breakeven

Shale Gas/Oil Breakeven. Tidak semua shale gas/oil itu mahal. Teknologi serta kondisi geologinya sangat bervariasi. Kondisi ini juga berbeda saat awal dimulainya serta harga terrendah sebelum ditinggalkan karena keekonomiannya. (businessinsider.com)

Lebih sering dikatakan bahwa bisnis shale gas/oil ini mirip “fabrication” bukan “exploration and production“.
Disisi lain conventional oil di Saudi, yang sudah terpasang fasilitas produksinya, selesai terinstal dan sudah selesai investasinya, maka akan memerlukan operating cost yang sangat rendah hingga masih mampu berproduksi secara ekonomis dengan harga dibawah 20$/bbl.

Jadi mempertandingkan “Shek vs Shale” (seperti dilansir The Economis Desember 2014 lalu) bukan lagi pertandingan dua gajah. Tetapi antara unta dan aligator. Masing-masing memiliki karakteristik kekuatan yang berbeda.

Penalaran “conventional oil bussiness type” tidak dapat diterapkan pada “unconventional shale oil/gas” ini.
Memang terlihat adanya kelesuan dalam ekonomi dunia, tetapi sebenarnya yang lesu ya hanya industri migas (energi). Sedangkan lebih banyak industri lain yang suka cita, termasuk kebanyakan industri Amerika juga. Amerika selalu siap apapun skenario yang terjadi.
Are you ready?

Apakah mungkin harga kembali “normal”?

Untuk itu perlu memperhatikan gejala-gejala yang mungkin mempengaruhi harga minyak. Salah satu yang utama adalah bila minyak menjadi “langka” karena supply yang berkurang.

  • Pemilu Nigeria. Saat ini negara ini sedang dalam tahap pemilu yang kritis. Biasanya pasar dunia akan kekurangan pasokan hingga sebesar 700,000 barel perhari.
  • Kekacauan di Libya belum pulih, namun sepertinya belum akan ada tambahan pasokan yang diharapkan..
  • Krisis di Venezuela. Politik negeri sedang tidak stabil. Tentunya pasaran akan terancam berkurang hingga 200,000 barel sehari.
  • Resesi Rusia. Dengan ongkos produksinya yang ekstra mahal, tentunya produksi migasnya akan terganggu hingga mengancam 200,000 barel sehari pada akhir 2015.

Beberapa faktor diatas, mungkin memberikan “nafas” baru untuk meningkatnya harga minyak.

Bagaimana memperkirakan harga minyaknya ?

Dengan berbagai factor penyebab naik dan turunnya harga minyak, menjadikan formulasi harga minyak bukanlah sebuah rumusan linier. Fluktuasi harga minyak selalu unik, non linier kompleks dan terlalu banyak factor. Tidak hanya sekdar persoalan dagang hukum pasar, tidak hanya persoalan politik, tidak hanya alamiah tetapi juga faktor “emosi” serta elemen-elemen yang tidak diketahui.

Bacaan sebelumnya :

11 Tanggapan

  1. wah menarik mas tulisannya, apalagi melihat kondisi sekarang ampun banget yah…

  2. Ini semua mungkin salah jokowi😀
    Gambarnya dapat dari mana tuh ghan?
    Gue jadi ngkak nih

  3. Pak Rovicky, terima kasih atas tulisan yang bermanfaat Ini. Dengan kondisi sekarang 18 Agustus 2015, kiranya bapak sudi untuk membuat update tulisan perkiraan bapak tentang kondisi skrg Ini? Apakah industri minyak terancam turun terus dalam lima tahun kedepan? Terimakasih pak Rovicky. Salam

  4. Mudah2an cepat naik harga minyak nya, agar company2 di jawa gak loyo2 lagi.. dan bersemangat eksplorasi minyak lagi..

  5. Pak Rovicky, mau nanya..
    Adakah bacaan/referensi lebih lanjut tentang pay out time dari produksi shale oil/gas yang bisa hanya sekitar 1-2 tahun dibandingkan yang konvesional. Sangat menarik untuk dipelajari pak. trims.

  6. walau harga minyak turun dan BBM juga diturunkan tapi tarif angkot masih aja tinggi gak turun turun. piye iki?😛

  7. saya rasa harga akan kembali naik terus

  8. hanya bisa ngakak liat illustrasi gambarnya,…

  9. Reblogged this on DAMAILAH DI BUMI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: