Mengenang 10 tahun Gempa Tsunami Aceh 2014


Saat terjadinya Gempa Tsunami Aceh 2004, saya memerlukan waktu beberapa hari untuk menyadari apa yang sebenernya sedang dan akan terjadi. Saya menuliskan kekhawatiran ini dua hari setelah kejadian dalam milis Apakabar, milist Migas dll saat itu. Dan menggambarkan kartun sederhana tentang tsunami.

FirstPict

Kecepatan gelombang 800 km/jam ini akhirnya juga harus harus koreksi, karena itu kecepatan gelombang tsunami saat di laut lepas. DI laut dangkal kecepatannya lebih rendah. Fakta di Pangandaran ternyata gelombang ini sampai dipantai setelah 20-30 menit setelah gempa terasa.

—- Quote 28 Dec 2014 :

” … aku yg sering lihat gejala gempa memang terkaget2 dengan besarnya gempa Aceh ini dan sudah sejak awal .

ShockAcehSampai hari ini sudah 38 kali gempa beserta ikutannya dengan kekuatan 5-9 SR, terjadi di Aceh dan Andaman. Yang menakutkan saya adalah gempa-gempa ini masih susul menyusul hingga saat ini dan masih terkonsentrasi di ujung utara. Padahal kita memiliki sesar atau patahan geser Semangko Fault dan Mentawai fault, yg relatif sejajar denga pulau Sumatra.

Karena saat ini yg aktif berada di utara, bisa jadi sesar2 (patahan) ini akan meneruskan pergerakannya kearah selatan. Atau bisa saja gempa2 ini menjadi “trigger” daerah2 kritis lainnya sepanjang kedua sesar ini. Jadi himbauan menghindari pantai mesti dilakukan. Atau kalau merasakan ada gempa/getaran jauhilah pantai .. dimanapun pantainya.

Selain kondisi kritis sesar2 ini, gempa ini sering juga menjadi pemicu atau “trigger” aktifitas gunung api (ingat “ring of fire” dr Sumatra-Jawa-Sumbawa) yang tentu saja mentrigger gejala-gelaja katastropik yang lain2nya (domino effect). Efeknya mungkin memang tidak akan instant (orde harian) tetapi bisa jadi mengakselerasi dan mengubah status-status gunung api, kelongsoran dsb. Artinya mesti ada pekerjaan evaluasi ulang tentang status kerawanan bencana didaerah2 ini. Dan memang kewaspadaan mestinya jangan ditinggalkan kapan pun !.

Bumi kita ini “fragile” hentakan kecil saja sudah cukup mengggerakkan bermacam-macam bencana.”
—-

mentawai2

Kejadian berikutnya (28 Maret 2005) semakin menyeramkan ketika terjadi Gempa Tsunami Mentawai.
Dan lebih menakutkan lagi ketika para ahli kebumian SALAH menilai ketika menyatakan Pantai Selatan Jawan “aman”. Namun Gempa tsunami melanda Pangandaran 17 Juli 2006.

Pelajaran barupun muncul, “bencana jangan diramalkan“.

Catatan lain :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: