Brain Drain “Mengapa mereka (pekerja migas) pergi ?”


_DSC1667Menghadapi AFTA dan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), banyak yang khawatir Indonesia kebanjiran tenaga asing. Tapi khusus untuk pekerja MIGAS, justru kemungkinan terjadi kebalikan, malah khawatir kehilangan pekerja MIGAS Indonesia yang hengkang keluar dari Indonesia. Brain drain atau keluarnya tenaga ahli dari suatu negara menjadi konsen dalam beberapa tahun lalu. Dan mungkin akan menjadi konsen menerus ketika dibukanya AFTA dan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean 2015).

Mengetahui alasan mereka pergi, mungkin menjadi informasi penting baik untuk mengirimkan tenaga kerja keluar sebagai duta-duta bangsa, maupun mengetahui seberapa besar potensial kerugian negara kehilangan potensi dari pekerja tangguh ini.

Salah satu alasan utama yang sering muncul adalah rendahnya remunerasi atau gaji yang diterima pekerja di dalam negeri. Hipotesa ini perlu diuji dengan data yang dapat melihat lebih jauh seperti apa sebenarnya kondisi global dari tenaga kerja migas ini.

BrainDrainLocalvsImpor

Perbandingan gaji pekerja migas tetap di beberapa negara (Hays ” Oil & Gas Global Salary Guide 2013″)

Gambar diatas menunjukkan perbedaan gaji local vs tenaga impor diberbagai negara di dunia. (sumber Hays 2013). Ada banyak hal yang menarik bahwa ternyata Indonesia termasuk negara yang “baik hati” dengan pekerja asingnya dengan memberikan gaji 3 kali lipat dibanding pekerja lokalnya. Jauhnya selisih pekerja lokal dengan tenaga impor ini, diduga, yang memicu semakin banyaknya pekerja Indonesia yang hengkang ke luar negeri.

😦 “Pakdhe, dulu ke di luar juga karena ini ya ?”

Tingginya gaji ekpat atau tenaga import di Indonesia memberikan inspirasi pada pekerja untuk bekerja diluar. Namun juga adan mencurigai bahwa pekerja migas impor ini toh secara langsung atau tidak langsung akan terbayarkan dari “cost recovery”. Hal ini perlu dicermati lagi. Indonesia adalah salah satu negara dengan membayarkan pada pekerja importnya 3.09 kali lebih besar dari pekerja lokalnya selain Sudan (3.22), Filipina (4.0), Yaman (4.14) Ghana (4.79) dan Vietnam (5.35). Namun diantara negara-negara ini sebenarnya Indonesia sudah jauh berpengalaman dalam mengelola migas.

Memanggil mereka untuk kembali

Pekerja Migas Indonesia itu lebih canggih dan lebih tangguh ketimbang pekerja migas dari luar (khususnya ASEAN), bahkan juga banyak yang hengkang ke US/Eropa dan terutama Middle East (Timur Tengah). Pengalaman Industri Migas Indonesia yang lebih dari 100 tahun menghasilkan tenaga-tenaga trampil jauh lebih bagus ketimbang negara-negara lain. Tidak sekedar kurangnya remunerasi penghargaan profesinya, tetapi justru susahnya operasi migas di Indonesia ini yang menyebabkan sulitnya menciptakan pekerjaan yang pas dan berujung pada hengkangnya pekerja migas yang berpengalaman ini.

Berapa jumlah tenaga ahli migas (geologi, geofisika dan Engineer) dari Indonesia di luar negeri ? menurut penelitian sepintas lebih dari seribu orang tenaga ahli Indonesia di luar yang tersebar :

  • Malaysia 300 – 400 tenaga ahli
  • Oman 50 – 100 tenaga ahli
  • Norway 50 – 100 tenaga ahli
  • Houston 200 – 300 tenaga ahli
  • Perancis sekitar 30 – 50 tenaga ahli
  • Australia 50 – 100 tenaga ahli

Lantas bagaimana untuk mencegah atau memanggilnya mereka supaya kembali ? Usaha untuk memanggil kembali mereka yang dulu sekolahnya disubsidi dan mungkin ada yang trainingnya masuk “cost recovery” ini pernah beberapakali dilakukan. Pertamina juga perusahaan-perusahaan EP di Indonesia beberapa kali mencobanya. Keberhasilannya relatif rendah. Bahkan yang sudah kembali ke Indonesia menjadi tidak betah dan kembali keluar negeri. Fenomena ini berulang dari tahun ke tahun.

😦 “Pakde, apa negara tidak rugi kehilangan tenaga kerjanya ?”
🙂 “Yang lebih merugikan itu mereka yang tetap disini tapi malah ikut merusak didalam negeri dengan korupsi, Thole”

Mungkin memang tidak perlu repot-repot memanggil mereka kembali tetapi mungkin lebih penting memperbaiki iklim usaha di Indonesia sehingga semakin banyak pekerjaan yang tercipta di Indonesia yang akan dengan sendirinya menarik banyak pekerja migas ini. Namun tentusaja tetap menerima mereka apabila mereka sendiri menyatakan siap untuk kembali secara mandiri, sebelum usia pensiun tentunya.

Bersama sebagian dari mereka yang di Houston

Bersama sebagian dari pekerja migas yang di Houston, US

7 Tanggapan

  1. wow, ngeri jg,,
    kyaknya bukan hanya pekerja migas saja yg bakalan gituan.

  2. Memang enak bekerja di rumah sendiri, tapi semua kembali kepada pilihan masing-masing orang, kalau di luar negeri lebih baik kenapa tidak?

  3. For me: Gue berusaha untuk mengirim keluar anak buah gue yang berprestasi, selain mereka dapat pengalaman luar negri, gue buktikan ke negara maju, banyak sekali orang Indo yang “capable”, so far sudah 3 orang gue kirim ke luar negri, 5 orang lagi menyusul segera. FYI di kantor gue cuman ada 30 orang.
    batu gamping

  4. saya adalah salah satu engineer yg memutuskan hengkang dari tanah air. ketimpangan remunerasi antara expat dan lokal sebagai salah satu sebab. kompetensi expat dan lokal tidak jauh berbeda. kami bahkan tak jarang harus mengajari para expat untuk bekerja dengan ‘baik dan benar’, dengan imbalan yang mungkin 1/10 dari mereka.
    hal lain adalah untuk memperbaiki kualitas hidup keluarga. bekerja dengan ‘berangkat gelap dan pulang gelap’ di kota besar khususnya Jakarta adalah pilihan yang salah buat saya. saya tidak ingin keluarga saya kehilangan waktu saya dengan cara ini. sementara di luar, saya bisa curahkan waktu saya maksimal untuk keluarga, juga untuk kegiatan sosial dan agama yg lebih berguna.
    tentu saja, ada yang harus dikorbankan, terutama jenjang karir. di luar negeri, jangan berharap berkarir, kita dibayar profesional seperti layaknya pemain bola, yang berpindah kemanapun yg mau bayar lebih mahal.
    semoga kelak saya bisa berkarya untuk bangsa, bila saatnya tiba

    salam dari Doha-Qatar

  5. Uhuk…uhuk… salam kenal Om, satu yang lupa untuk dibahas. Kalau soal expertise orang lokal nggak kalah cerdas dan jago tapi Om lupa kalau orang luar habit dan atitudenya jauh lebih efektif dari pada orang lokal yang saya yakin Om tahu sendiri seperti apa.

    Kalau saya memang nggak bergelut dibidang migas namun buat saya memberi gaji pekerja asing 3x lipat dari pada pekerja lokal adalah worth it! Bukan masalah kapabilitas tapi lebih ke budaya kerja yang efektif dan efisien.

  6. Salam kenal Pak Rovicky, buat saya pribadi, mengapa saya memilih pergi dari Indonesia, khususnya Jakarta, adalah untuk kualitas hidup. Gaji bukan yg pertama, tapi bagaimana untuk tidak stress di jalan, sampai rumah masih bisa baca2 tidak kecapaian.

    Tentunya ini pandangan yg naif🙂
    Seenak enaknya wagyu steak di negeri orang, lebih enak nasi padang di kampung sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: