Quick Count Itu Tidak Demokratis


Dalam beberapa hari menjelang pengumuman pemenang presiden rakyat Indonesia dihadapkan pada sebuah fakta kenyataan bahwa ada teknik-teknik statistik yang sangat canggih dalam ilmu statistik. Banyak lembaga-lembaga survey yang berani mengklaim kecanggihan metode yang dimilikinya. Bahkan ada seorang ahli dalam survey yang berani bertaruh potong leher. Haddduh ini kok yo kebangetan juga.

😦 “Pakde, bukannya cara ini lebih murah, menghemat dan lebih cepat ?”

🙂 “Thole, dalam sebuah rangkaian kereta api, kecepatan kereta api itu ditentukan oleh kecepatan gerbong yang paling lambat. Kalau enggak gerbongnya akan terpisah. Demikian juga dengan negara, kita harus menggunakan cara paling sederhana untuk menghargai semua warganya”.

SAMPLING

Sampling atau pengambilan perconto diperlukan dalam sebuah survey. Dalam ilmu statistik dikenal beberapa teknik sampling. Teknik ini diperlukan karena kebutuhan khusus, misalnya mencari sesuatu yang sangat jarang (langka), terkendala waktu, terkendala biaya, serta kebutuhan mendesak lainnya.

Dibawah ini ada beberapa teknik sampling yang dikenal. Barangkali saja ada teknik-teknik lain yang belum ter’cover‘, tetapi cukuplah untuk kali ini.

Random Sampling

Sampling1

Sampling Acak (Random) apabila populasi datanya merata

Random sampling ini dapat dilakukan apabila distribusi dan populasi datanya MERATA atau HOMOGEN. dengan melihat beberapa sampel saja sudah mencukupi dan dianggap mewakili seluruh populasi data.

Misalny aingin melihat kualitas kandungan air dalam beras yang diambil dari satu jenis varietas saja. Tentunya hanya akan mengambil beberapa beras saja yang dipilih untuk dilaukan sebagai sample (perconto) untuk dianalisa.

😦 “Lah Pakdhe kalau semua beras dihitung kandungan airnya satu-satu untuk satu karung ya kapan selesainya ?”
😦 “Yo sekalian nunggu bedug Adzan Magrib Thole. Hahahaha !”

Stratified Random Sampling

Apabila datanya diyakini memiliki beberapa kelompok (grup). Maka data ini dapat dikelompokkan sebelum dilakukan samplin secara acak setelahnya. Cara ini dapat dilakukan misal dalam satu pabrik menginginkan data untuk operatornya yang rata-rata lulusan SD SMP SMA. Semua karyawan sudah bercampur, bahkan ada beberapa lulusan SD sudah menjadi supervisor karena jenjang karier dan prestasinya yang bagus. Maka dengan membagi ketiga jenjang pendidikan ini diharapkan hasilnya akan mewakili setiap kelompok.

Systematic Sampling

Pengambilan sampel dilakukan secara sistematis ini sering dilakukan untuk menguji produk-prroduk pabrik yang operasionalnya secara kontinyu. Misal pabrik sabun yang menginginkan sampel sabunya untuk uji kualitas setiap tiga jam. Kenapa tiga jam, barangkali saja ada shift kerja setiap 8 jam, sehingga setiap shift kerja akan terwakili dua data.

Sampling2

Cluster dan Multi Stage sampling

Cluster Sampling

Seringkali data dan informasi yang akan dianalisa sudah diketahui sebelumnya, khususnya untuk daerah tertentu, tempat tertentu ataupun karakteristik tertentu. Misalnya sampel untuk mencari tambang emas. Tentunya tidak mungkin mengambil semua data jenis batuan dianalisa. Harus dicari jenis-jenis batuan tertentu yang akan diambil sebagai sampel untuk dianalisa di laboratorium. Hanya sampel-sampel yang sudah dicuigai sebagai data yang bagus yang akan diambil sebagai sampel untuk dianalisa.

Tentusaja disini sangat penting peranan seorang pengambil sampel, misal untuk “mencari” batuan yang diperkirakan mengandung “emas”. Jadi tidak sembarang batu dianalisa untuk kandungan emasnya. Karena selain analisanya mahal juga konsentrasi emas itu sangat sedikit.

😦 “Pakde lah terus yang mengambil atau menentukan sampel batuan mana yang akan dianalisa itu siapa ? Pasti bayarannya mahal donk Pakde ?”
🙂 “Ya begitulah menjadi seorang ahli geologi pertambangan ?”😀😀

Multi Stage Sampling

Untuk kebutuhan yang cepat dan terukur, seringkali diperlukan cara-cara sampling yang sangat khusus. Termasuk didalamnya Sampling berjenjang. Setelah populasi datanya dikelompokkan, kemudian setiap kelompok diambil sampelnya secara random, ataupun bahkan dengan kelompok-kelompok atau sub grup selanjutnya.

Cara sampling ini tentunya cukup rumit. Dan cara ini sering dilakukan dalam Quick Count atau hitung cepat. Disini diperlukan tidak hanya kemampuan memindai sampel mana yang mewakili tetapi juga perlu keahlian dan kelihaian menentukan sampel yang mewakili.

😦 “berarti mirip ahli geologi memilih contoh batuan Pakdhe ?

Yang perlu diperhatikan disini adalah ketika melakukan SELEKSI SAMPEL ! Karena bisa saja pengambil sampel menjadi penyebab perbedaan dalam penghitungan quick count. Tangan-tangan sampler ini tidak sekdar dilakukan oleh mesin yang dianggap netral tetapi dilakukan oleh “tangan manusia” (otak Si Surveyor), untuk memilih sampel mana yang diambil.

Setiap data dalam perhitungan ini dikelompokkan sesuai dengan grupnya masing-masing. Misal perkotaan-pedesaan, kemudian daerah kumuh dibandingkan perkampungan yang tertata. Sehingga seolah-olah setiap kelompok memiliki “harga” yang berbeda dalam perlakuan.

Sensus

Samplin3

Cara SENSUS. Semua data diambil sebagai informasi untuk diperhitungkan. Semua data memiliki dan diperlakukan kesamaan kepentingan dan perilakunya.

Berbeda dengan cara-cara diatas. SENSUS mengambil seluruh populasi dalam perhitungannya atau pengukurannya. Tidak ada satu datapun dari populasi yang dilewatkan. Semua data dianggap sama, semua data dianggap perlu untuk dihitung.

Dalam metode ini tidak ada statistik sampling. Dilakukan pada kondisi data yang  homogen atau bahkan heterogen (sangat beragam) sekalipun. Data dapat saja tersebar tak teratur ataupun teratur. Tidak ada perbedaan perlakuan pada data.

Disinilah letak demokratisnya setiap individu data. Disinilah letak bagaimana perlunya satu suara anda kemarin sewaktu memilih. Dalam pemilu di Indonesia yang sangat beragam dan tersebar dari pelosok kota yang kumuh hingga pedesaan terpencil akan diperlakuakn dengan sama. Suara seorang professor di kampus, dianggap sama dengan suara seorang tkang sapu dipinggir jalan.

Dengan demikian kalau kita mengadop demokrasi yang elagliter dimana semua suara itu sama perlakuannya maka keputusan sebuah pemilu memang sudah seharusnya dengan metode real count atau sensus.

Quick Count

Quick Count ini adalah salah satu cara untuk mengetahui hasil berdasarkan sampling yang “terpilih” tentusaja pemilihannya tidak sembangan dan memerlukan keahlian tersendiri. Perlu kenetralan dan tidak ada bias sedikitpun. Namun karena yang melakukannya masih manusia juga, seringkali tidak dapat terhindarkan.

Walaupun diakui bahwa metode ini sangat cocok dan sering dilakukan dalam sebuah perhitungan cepat, tidak hanya pemilu, namun melihat adanya kemungkinan salah inilah maka metode QC tidak dapat dipakai sebagai dasar keputusan pemenangan pemilu.

Jadi apakah menurut anda quick count itu demokratis ?

 

 

 

 

6 Tanggapan

  1. quick count itu lebih efisien…

  2. Reblogged this on the science of conscience and commented:
    THIS !

  3. Makasih pakde atas ilmu yang bermanfaat ini..

  4. geopolitik ya buu ??😀

  5. Terima kasih postnya Pakde… He he… Lumayan buat ngajar materi semester 1 untuk siswa pemula saya….

  6. Pak DE…. crita geologinya mana? saya sudah rindu. Yang quick—quick gini udah bikin saya pusing….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: