Menentukan Pemenang sebuah Pemilihan


Kemarin kita belajar statistik, sampling dan bias akibat pengambilan sampel yang tidak tepat. Nah sekarang bagaimana kalau sensus atau “real count”nya sudah ditentukan, bagaimana kalau hasilnya seperti ini ?
Secara total Kuning menang tetapi tidak mewakili provinsi yang memang dimana merah menguasai 4 propinsi. [Perhatikan adanya kesalahan mata ketika mentransfer data]. Kesalahan atau error selalu saja ada. Tidak harus sebuah kesalahan yang disengaja, dapat juga karena ketidak sengajaan ataupun karena rumusan dan keterbatasan tehnis lainnya.

Siapa_Juaranya

Menentukan pemenang dalam sebuah pilihan itu yang pasti bukan dari Quick Count. Kita harus legowo kalau memang aturan perhitungannya sudah ditentukan oleh pejabat dan lembaga yang berwenang untuk itu.

😦 “Hadduh Pakde. Contoh kok ya salah to ?”

🙂 “Thole, ini ulisan dibuat hanya dalam waktu sejam. Ingat hal yang penting ini : kejujuran itu jauh lebih penting ketimbang kebenaran yang masih relatif

beberapa kesalahan atau kelemahan teknis statistik misalnya, rounding (pembulatan), averaging (perataan), posting dsb. Ini perlu diatur dalam sebuah kesepakatan bagaimana seharusnya atau yang terbaik menurut kondisi geografis di Indonesia.

Ketika distribusi tidak merata, dan kita tahu bahwa di Indonesia ini pemerataan merupakan salah satu problema yang harus dihadapi. Dalam contoh ditas digambarkan adanya satu tepat yang berpenduduk sangat sedikit dibandingkan propinsi A dan B yang penduduknya padat. Disinilah pentingnya kebijakan yang membela daerah tertinggal, daerah berpenduduk sedikit, daerah miskin dsb. NKRI membutuhkan itu semua.

Konstitusi harus diutamakan.

Dalam sebuah negara itu selalu ada konstitusi atau kesepakatan bersama. Di Indonesia dikenal dengan nama Undang-undang. Banyak hal dibuat berdasarkan undang-undang. Termasuk didalamnya Undang-undang Pemilu untuk menentukan jumlah kursi dalam parlemen (DPR), Pilkada dan  sebagainya. Pemenangan pemilu tentu saja diatus oleh Undang-undang.

😦 Pakde jadi siapa yang menag ?”

😀 “Sekali lagi thole. Kita tunduk pada kesepakatan bersama dan menyerahkan kepada lembaga yang berwenang”

Selamat bekerja untuk KPU.

Satu Tanggapan

  1. Jagalah hati, Jangan kau kotori..
    Jagalah hati, lentera hidup ini. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: