Alarm Bahaya SDM Migas. WAWANCARA, ENERGIA Tahun 1 Vol. 08.


JALEnergia-1AN hidup seseorang tak selamanya dimulai dari kecintaan pada sesuatu. Bisa juga sebaliknya. Atau keduanya seperti yang dialami Rovicky Dwi Putrohari saat memulai perjalanan panjang karir profesionalnya sebagai seorang geolog. Dia memilih kuliah di jurusan Geologi karena sejak sekolah menengah, menyukai naik gunung, Hobi membaui alam, menurut Rovicky, bisa tersalurkan di jurusan tersebut yang memang kerap keluar masuk hutan dan gunung.

“Saya juga masuk Geologi karena paling sedikit matematikanya dibandingkan jurusan teknik yang lain,” ujar laki-laki berusia 51 tahun ini. Entah mengapa, ia kurang begitu suka dengan pelajaran Matematika. “Saat S2 pun, saya sampai mengulang tiga kali,” ujar Rovicky. Ia menamatkan program master di Jurusan Geo Fisika Universitas Indonesia pada 1998.

Sejak kuliah, Rovicky terus memantapkan hatinya untuk menjadi geolog profesial. Lebih dari tiga puluh tahun, dia menyibak inchi demi inchi lapisan bumi. Berbagai jebakan migas sudah dia pelototi. Tak hanya di Indonesia, dia sudah menjelajahi seluruh kawasan Asean, Australia, Timur Tengah—biasa disebut Austral Asia, dan Afrika untuk mencari minyak. “Yang belum Amerika,” ujar laki-laki ramah ini.

Petualangannya sebagai seorang geolog dimulai saat bergabung dengan Hudbay Oil seusai menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Geologi UGM pada 1987. Kemudian berganti menjadi Lasmo dan akhirnya dibeli Kondur Petroleum. Delapan belas tahun kemudian, Rovicky mulai mencicipi tantangan bekerja di luar negeri. “Tak ada pilihan lain karena saat itu di Indonesia tak ada pekerjaan eksplorasi,” ujarnya. Sampai 2003, dia menjual keahliannya di Brunei Darussalam pada perusahaan Shell. Kemudian, dia balik ke tanah air. Selama setahun bekerja untuk Total E& P Indonesia di Balikpapan.

Energia-2Setelah itu, pada 2004 bergabung dengan Murphy Oil Corp di Kuala Lumpur, Setahun kemudian, masih di negeri jiran Rovicky  bergabung dengan Hess Oil and Gas Kuala Lumpur.

Baru pada 2010, dia kembali ke Jakarta. Bekerja untuk HESS Oil and Gas Jakarta. Baru-baru ini HESS memutuskan untuk mengakhiri seluruh operasinya di Indonesia. Alasannya, ingin berkonsentrasi pada proyekproyek unconventional gas yang lagi booming di Amerika.
Dengan perjalanan karir yang panjang dengan beragam penugasan di dalam dan luar negeri, tak salah jika ribuan geologi di tanah air mendapuknya sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).

Berkaca dari pengalaman dan pergaulannya selama puluhan tahun bekerja di dunia migas, Rovicky yakin kemampuan SDM Migas Indonesia, tak kalah oleh yang lainnya. “Di Malaysia saja ada sekitar 400 geolog dan engineer dari Indonesia. Belum di Middle East, dan negara lainnya,” ujarnya. Suasana ini menjadi paradok. Di satu sisi, banyaknya yang bekerja di luar negeri merupakan pengakuan terhadap kompetensi SDM. Di sisi lain kondisi menjadi alarm bahaya bagi perusahaan migas di Indonesia.

Dengan banyaknya yang bekerja di luar negeri, Apakah bahayanya bagi industri migas tanah air?

Sangat mungkin terjadi technical gap karena kekurangan SDM dengan experience 10 tahun sampai 20 tahun. Yang bekerja di luar negeri rata-rata pada rentang pengalaman seperti itu,. Demandnya memang begitu. Mereka dianggap sudah matang dan sudah mampu mengerjakan proyek sendiri.

Dalam industri migas, orang dengan pengalaman 10-20 tahun boleh disebut usia emas. Di atas 20 tahun umumnya sudah bekerja di level manajerial. Yang 0-5 tahun periode belajar, 5-10 tahun mengarah kepada keahlian yang lebih spesial, apakah sebagai spesialis
reservoir, spesialis geologi atau yang lainnya.

Kasihan dong perusahaan-perusahaan yang sudah susah payah mendidik karyawannya dari nol?

Tak banyak perusahaan yang mempunyai program untuk fresh graduate. Umumnya perusahaan-perusahan besar masih mempertahankannya seperti Pertamina dengan program BPS (Bimbingan Profesi Sarjana). Ini sebenarnya bagus untuk industrinya,
tapi terasa kurang adil bagi perusahaan karena karyawannya setelah jadi justru dibajak perusahaan lain. Per usahaan tak bisa menghalang-halangi. Yang harus dilakukan menawarkan oppurtunity sehingga karyawan tak tergiur tawaran bekerja di luar negeri.

Dari sisi psikologis orang-orang Indonesia senang jika bekerja sebagai ekspatriat. Ini sebenarnya yang harus diantisipasi. Perusahaan-perusahaan migas Indonesia harus mulai melebarkan sayapnya ke luar negeri untuk mengakomodasi kecenderungan ini. Medco dan Pertamina sudah berada di jalur yang benar dengan melakukan akuisisi blok-blok di luar negeri.

Penyebab utama mereka lebih memilih bekerja di luar?

Kalau kita lihat 10 tahun terakhir penemuan jarang sekali sehingga pekerjaan tidak banyak. Kuncinya kalau ada pekerjaan mereka akan balik. Bukan hanya orangnya tapi juga investasi. Sekarang ini boleh dibilang masa kritis. Karena Pemilu, banyak yang menunggu.

Kalau ada pekerjaan otomatis akan balik?

Tidak otomatis juga. Remunerasi juga harus diperhitungkan. Tapi untuk Region, remunerasi yang ditawarkan perusahaan migas dalam negeri sudah cukup kompetitif. Dari sisi non teknis adalah kenyamanan. Ini yang masih harus diperbaiki. Sekarang ini, KL dan Brunei dianggap lebih nyaman dibandingkan bekerja di Jakarta.

Dari blok-blok yang dilelang, tak banyak investor yang berminat, Apakah ini menandakan Indonesia sudah tidak kondusif untuk investasi di sektor migas?

Bukan peminatnya kurang. Investor masih menunggu konfi gurasi hasil Pemilu seperti apa. Apakah termnya masih sama. Mereka juga
menunggu kepastian revisi UU Migas. Sebetulnya, sekarang ini tak efektif kalau pemerintah melelang Energia-3blok-blok baru. Sampai dua tahun ke depan lebih baik kalau pemerintah melakukan evaluasi terhadap data-data eksplorasi, terutama yang menyangkut data regional. Eksplorasi itu butuh waktu, bisa sampai lima belas tahun baru diketahui hasilnya. Harus ada yang menanam biar anak cucu kelak yang
menikmati.

Banyak yang mengeluh karena izin yang harus diurus terlalu banyak?
Eksplorasi itu menyangkut timing. Izin sampai ratusan kalau bisa cepat selesai gak masalah. Di sini persoalannya, penyelesaian tak jelas. Kalau separuh cycle ekplorasi dihabiskan untuk perizinan tentunya problem, waktu ekplorasinya tak cukup. Padahal waktunya hanya dibatasi 2 x 3 tahun.

Badan Geologi melakukan eksplorasi yang intensif di wilayah Papua dan baru-baru ini mempublikasikan ke publik tentang kemungkinan adanya cadangan migas yang besar di wilayah tersebut? Bagaimana Anda melihat hal tersebut?

Indonesia Wilayah Timur merupakan daerah yang “relatif” belum terjamah dibandingkan Wilayah Barat. Melihat penemuan migas di wilayah Australia serta berlimpahnya migas di Papua Timur, sangat jelas mengindikasikan bahwa Wilayah Timur ini (termasuk Papua Barat) merupakan daerah yang memiliki potensi migas cukup besar.

Dengan demikian tidaklah keliru bila Badan Geologi menyatakan bahwa Wilayah Indonesia Timur masih menyimpan potensi migas yang cukup besar. Kegiatan eksplorasi yang “menjanjikan” penemuan besar secara logis ada di daerah ini.

Yang perlu diingat adalah kegiatan eksplorasi migas tidak dapat hanya dalam satu periode eksplorasi yang saat ini (2×3) tahun saja. Pengalaman selama ini rata-rata 2-4 kali periode eksplorasi (10-15 tahun) baru akan menemukan sebuah lapangan yang signifikan volumenya. Artinya kalau off shore Papua baru satu kali periode ini dan daerahnya dikembalikan ke negara, harus segera ditawarkan ulang setelah bertambahnya data-data baru, sumur baru maupun data seismik baru. “Exploration re-Cycle” merupakan salah satu strategi eksplorasi yang berkesinambungan wajib dijalankan supaya tidak kehilangan momentum dan gairah eksplorasi ini.

Setelah penemuan cadangan besar di Cepu untuk Onshore di Indonesia tak lagi ada penemuan lain. Apakah masih memungkinkan temuan-temuan besar di wilayah Onshore di Indonesia?

Wilayah onshore sebetulnya belum jenuh. Di Sumatera, misalnya sumursumur ekplorasinya masih sangat jarang, sangat jauh jika dibandingkan dengan wilayah lain di luar negeri yang sudah digarap habis-habisan dengan sumur-sumur eksplorasi yang sangat
rapat.

Wilayah darat/onshore masih banyak menyimpan potensi migas terutama dengan jenis jebakan baru serta jebakan lebih dalam (deepening). Jenis jebakan baru misalnya jebakan stratigrafi yang relatif lebih rumit konfi gurasi geometrinya. Dengan teknologi 3D seismic resolusi tinggi, serta teknik geofisika yg moderen, memungkinkan untuk mengidentifi kasi serta mengurai
kerumitannya.

Kesuksesan mengejar potensi pada jebakan lebih dalam (deepening), salah satunya adalah penemuan Lapangan Cepu. Di mana  diketemukan jebakan lain dibawah reservoir dari lapangan-lapangan tua yang sudah umum diketemukan sebelumnya. Konsekuensinya adalah, kegiatan eksplorasi ini me merlu kan “biaya’ eksplorasi yang lebih ma hal. Serta adanya permasalahan tumpang tindih penggunaan lahan dan tum pang tindih aturan menyulitkan kegiatan eksplorasi dengan metode diatas.

Energia-5

Majalah EP-Pertamina yang dapat diunduh gratis disini http://www.pertamina-ep.com/Berita/Majalah-Energia

Bagaimana dengan Offshore?

Wilayah Offshore juga memiliki tantangan teknologi, khususnya di laut dalam. Indonesia ma sih memiliki potensi sumber daya migas  yang sangat besar, namun Indonesia memiliki sedikit cadangan migas. Artinya migas di Indonesia itu masih harus dieksplorasi dengan membutuhkan waktu, biaya yg mahal dan perlu usaha yang keras untuk menemukannya.

Apa yang harus dilakukan untuk menggairahkan eksplorasi migas di Indonesia?

Selain tantangan teknologi dan tantangan alami (laut dalam serta reservoir lebih dalam), untuk menggairahkan kegiatan eksplorasi ini diperlukan usaha keras serta koordinasi untuk mengurangi tumpang tindih pemanfaatan lahan dan tumpang tindih kepentingan sektoral. Baik sektoral antar kementrian maupun sektoral antara kepentingan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Dari sisi keprofesian ahli geologi, salah satu tantangan untuk menggairahkan eksplorasi adalah adanya keterbukaan data. Dengan kebijakan ketertutupan data saat ini, menyulitkan evaluasi regional yang dilakukan oleh perusahaan yang tidak mampu “membeli” lisensi data. Juga ketertutupan data ini menjadikan kajian geologi selalu lokal dan mengesampingkan kondisi regional. Kajian regional sangat diperlukan dalam kegiatan kesplorasi sedangkan kajian lokal lebih banyak dipergunakan untuk pengembangan skala lapangan. Semakin banyak data yang terbuka akan semakin banyak potensi-potensi jebakan dan “play” baru yang akan berkembang.
Tentunya ini akan menggairahkan kegiatan eksplorasi migas.

7 Tanggapan

  1. Negara kita kaya akan potensi alam tapi dikelola oleh orang yang kurang cakap dan bermental korup.

  2. tetap semangat ..

  3. Numpang mampir di komentar pak De, lama jadi silent reader karya karya pak de, di Blogger

  4. Reblogged this on Bumi Persinggahan.

  5. luar biasa pak Rovi…. sgt menjelaskan…
    masalah kedaulatan energi dan keamanan energi RI kita tercinta mmg sangat penting, tp sampai skrg kok gak ada capres yg berani ngomong jelas ttg hal ini, bikin sy msh blm ada yg match dg salah satu capres mainstream… apa bnr ketergantungan energi RI thd luarnegeri (persh energi asing n cukong2nya) ini mmg sengaja dipelihara oleh beberapa pihak?
    padahal menurut saya, INdonesia ini sgt luas, so masih sangat memungkinkan menemukan cadangan migas yg besarr…yg nantinya bisa mendukung kedaulatan energi dan percepatan pengembangan ekonomi nasional…
    Bayangkan saya sbg org awam pak Rovi, sektor konsumsi n manufaktur kita skrg maju pesat shg mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, dan seandainya hal tsb didukung dg produksi energi yg besar dari dlm negeri (subsidi BBM hasil impor hilang), tentunya perkembangan ekonomi kita akan luar biasa pak…

  6. dijual murah😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: