Belajar dari Mbah Rono: “MITIGASI” Kebencanaan


1382180_1459733644251879_1984778908_n[1]Dalam diskusi terbuka di Group FB (Kelompok Studi Kawasan Merapi) terjadi perbedaan pendapat tentang jenis letusan Merapi kemarin (freatik, magmatik, freatomagmatik). Ada pembelajaran yang bagus dari Mbah Rono tentang MITIGASI kebencanaan.

😦 “Wah Pakdhe, diskusi di FaceBook ada juga manfaatnya ya”

MITIGASI ITU UNTUK MASYARAKAT

Secara tegas Mbah Rono mengatakan apapun jenis letusannya: freatik, freato-magmatik dan magmatik itu bukan masalah. Yang jadi masalah bila sebelum terjadi letusan harus diketahui berdasarkan tanda2 aktivitasnya, jika gunungapi tersebut dipantau secara menerus. Jika diketahui peningkatan secara dini, maka disampaikan secara dini aktivitas tersebut termasuk ancaman bahaya jika terjadi erupsi, agar masyarakat dapat mengantisipasi secara dini guna mengantisipasi ancaman bahaya erupsi, Dengan demikian resiko bencana erupsi gunungapi dapat ditekan secara optimal.

Setiap gejala alam, pasti ada tanda2nya, itu bagian dari kepastian alam. Seperti hujan akan diawali dengan mendung, walau mendung belum tentu diakhiri oleh hujan, demikian juga tidak semua peningkatan aktivitas gunungapi diakhiri oleh letusan.

Menurut Pak Surono, “Lebih baik saya salah mengambil keputusan, namun semua selamat, dr pd saya ragu atau membuat semua orang ragu dan panik/ketakutan. Karena panik, resah, takut karena ketidak-pastian aktivitas gunungapi sudah merupakan bencana“.

UNTUK KEPENTINGAN MASYARAKAT

Bahwa peringatan dini aktivitas gunungapi itu kewenangan pemerintah, tetapi ditujukan untuk kepentingan masyarakat di sekitar yang bermukim dan beraktivitas di kawasan rawan bencana gunungapi, bukan untuk gunungapi dan bukan untuk para ahlinya. Karena dlm mitigasi bencana (apapun jenisnys) yang menjadi subjek adalah masyarakat di kawasan rawan bencana, bukan objek ancaman bahayanya juga bukan ahlinya.

Peringatan dini gunungapi bukan untuk meramalkan kapan gunungapi akan meletus dan berapa besarnya letusannya, namun merupakan “jembatan” antara aktivitas gunungapi yg berpotensi memberikan ancaman bahaya yg berisiko menyebabkan bencana dengan masyarakat di sekitarnya.

😦 “Wah Pakdhe, kalau begitu sangat tepat IAGI telah memberikan penghargaan khusus kepada Pak Surono pada Joint Convention HAGI-IAGI di Medan kemarin ya”

PERINGATAN DINI ADALAH HAK ASASI.

Jadi, peringatan dini adalah hak masyarakat yg merupakan bagian dari bentuk layanan pemerintah kepada masyarakat. Hal ini dijamin dlm amanah UUD 1945 Pasal 28 G Ayat 1: dimana ketenangan dan rasa aman terhadap rasa takut dari ancaman merupakan hak asasi yg dijamin oleh pemerintah untuk masyarakat.

[UUD 1945 Pasal 28G : Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi].

Mudah-mudahan pelajaran Mbah Rono ini juga menjadi pembelajaran setiap petugas, pengamat, ahli dan masyarakat.

Note/Catatan Pakde:

Didalam pengamatan gejala alam, termasuk bencana, setiap orang/individu manusia akan memiliki tugas, fungsi, dan juga kepentingan sendiri. yg sering bermasalah itu bukan benar salahnya pendapat atau langkah yg diambil. tetapi kalau itu dilakukan oleh orang yg tidak berkompeten pada masalah itu. biarkan saja ahlinya berdebat wong tugas mereka, memang itu tugas saintis. Lah kalau petugas kebencanaan ya jangan ikutan debatnya. Disitulah fungsi pejabat pengambil keputusan. Harus mampu memutuskan langkah, bukan memutuskan jenis letusan.

2 Tanggapan

  1. Peringatan dini adalah hak azasi,,, sungguh sebuah kalimat yg luar biasa pak dhe.

  2. Bener tuh Pakdhe…pengungsi juga dipahami sebagai subyek, bukan hanya obyek dalam penanggulangan bencana. Benar, ketika mereka menjadi “target sasaran” karena ketidakmampuan (dlm aneka aspek) ketika benncana erupsi datang melalui aneka program o pemerintah, swasata, LSM, univ, relawan, dll, tetapi setelah itu mereka perlu bersama-sama diposisikan sebagai subyek. Mereka yang banyak menjadi kurban justru tinggal di lokasi yang bukan dusun teratas (kecuali Mbah Maridjan, dkk, kecuali yang sedang membujuknya untuk turun mengungsi)… Di Balerante tuh Pakdhe…kata Pakde Kuncung yang tinggal di sana, hanya 1 yang meninggal…itupun maaf…orang sakit ingatan…. Semakin warga kian siap sebagai subyek…semakin cepat tanggap thd bencana. Memang tidak semua warga mau cepat mengungsi…seperti keluhan Paklik Jainu, Kadus Balerante,…tapi pasca 2010…e.e.e…ada gludhug2 warga langsung menyet…njenggirat…mlayu lho Pakdhe…tanpa aba-aba langsung siap ngungsi…he he he… Tibak-e …dadi subyek itu juga proses lho Pakdhe…ora ujug-ujug dadi…he he he jare: kalau tidak terbentur tidak akan terbentuk lho…

    Matur nuwun kiriman warta ttg Mbah Rono…wah lagi tahu lho…ana HAM e tibak-e nggon bencana itu…

    Siiip. Rahayu sagung dumadi (keselamatan untuk semua yang tercipta)…

    Suryo Hamijoyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: