Adaptasi Manusia : Mengerti, Merekayasa, atau Menghindari Bahaya Alam


Flooded+HI+Round+Jan+2013[1]

Banjir kok dinikmati

Ciri utama manusia yang paling hakiki itu belajar. Tanpa belajar manusia tidak mungkin memiliki budaya. Perkembangan makhluk hidup di bumi, saat ini diketahui secara evolutif, merangkak pelan-pelan, berubah, bertahan dan menjadi seperti saat ini. Alam lingkungannya pun juga demikian berubah dengan kaidah-kaidah alamiahnya sendiri. Demikian juga tingkat kebudayaan dan kearifan manusia dalam menghadapi lingkungannya tentu juga sama.

😦 “Pakdhe, kita semua tahu bahwa setiap tahun akan ada masa hujan deras yang mungkin menyebabkan banjir” Tapi kenapa kok ya diulang-ulang banjir tapi tetep saja dirasakan”

archaeology_1

Geologi salah satu ilmu untuk mengerti perilaku bumi.

Salah satu alat manusia dalam mempertahankan diri adalah ilmu. Perubahan alam sejak terbentuk 4 milyar tahun yang lalu bukanlah hal aneh bagi ilmu geologi. Manusia juga memerlukan tempat di bumi ini untuk hidup. Nah sebagai seorang ahli geologi tentunya tahu sebesapa besar daya dukung lingkungan untuk sebuah pemukiman atau untuk peruntukan yang lain.

Kalau daerah yang kita huni ini memang bantaran sungai, atau flood plain, tentunya mengerti memang secara alamiah akan banjir. Paling tidak ini diketahui lebih dahulu 602archaeology2sebelum pengembangan wilayan atau penggunaan lahan. Kemudian apabila ada faktor yg mengharuskan (keterbatasan lahan dsb) perlu menyadari dengan :

1. Mengikuti irama alam, adaptif terhadap sifat-sifat alami yang ada disitu. Misal, memperhitungkan konsekuensi (biaya, waktu, kerugian dsb) apabila musim banjir ya mengungsi dulu (katakanlah selama 2 pekan banjir untuk setiap tahun, seperi layaknya cuti), Membuat konstruksi tahan banjir (rumah panggung, termasuk utk ternak dsb, memperhitungkan musim untuk bercocok tanam.

😦 “Pakdhe kadangkala irama alam itu mengalun santai seperti slow rock. Tetapi kadangkala juga hard rock yang jedar-jeder ngagetin je”.
🙂 “Makanya itu, Thole. Yang pertama harus mengerti adalah tentang perilaku lingkungannya”

2. Apabila cara diatas sudah tidak mampu lagi dihadapi, dipikirkan perlunya melakukan rekayasa lingkungan (engineering). Misalnya dibuat dam-dam buatan, tanggul buatan, merubah pola sungai dsb. Yang perlu diperhitungkan adalah konsekuensi logis dari perubahan ini . Disinilah perlunya AMDAL. Sehingga konsekuensi akibat rekayasa ini dapat diantisipasi.

Termasuk didalamnya adalah membuat banjir kanal dan membuat sumur resapan !

3. Kalau usaha rekayasa (engineering) sudah tidak memungkinkan ya menghindari dengan mencari lahan baru.

Jadi bagaimanapun awalnya harus mengerti kondisi lingkungannya sebelum mengembangkan wilayah untuk pemukiman dll. Seandainya sudah terlanjur ya sekarang harus dimengerti konsekuensi logis akibat peristiwa alam ini.

Dengan mengerti adanya proses perubahan iklim, cuaca, perubahan geologi manusia akan terus mengikuti siklus alami.

😦 “Pakdhe, kalau begitu banjir Jakarta memang harus dinikmati setahun sekali ya ? Lah itu buktinya belum pindah-pindah juga”
🙂 “Selama biaya kerugiannya lebih kecil dari keuntungan yg diperoleh selama setahun, mana ada yang mau meninggalkan Jakarta”

2 Tanggapan

  1. Artikel yang luar biasa. Terima kasih pak Rovicky sudah sharing. Mudah2an bermanfaat utk generasi ke depan. Mohon ijin untuk ambil foto Bundaran HI nya untuk presentasi saya ttg Fluida Dinamis. Trims.

  2. katanya manusia kan mahluk yang paling adaptif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: