Jakarta, Sudah Siapkah Menghadapi Banjir … Lagi ?


Flooded+HI+Round+Jan+2013[1]

Banjir Jakarta Januari 2013

Membicarakan banjir Jakarta tidak akan pernah basi terutama bila memasuki bulan Nopember – Desember. Hampir semua akan “maklum” (yang dipaksakan) ketika ada cerita banjir Jakarta. Sedangkan kalau berbicara kebutuhan air di Jakarta ini termasuk daerah yg susah mendapatkan air “bersih”.

😦 “Pakde, bukannya air hujan ini kan air bersih ?”
😀 “Justru itu Thole. Persoalan AIR di Jakarta ini perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya soal banjir, thok !”

Banjir Jakarta Itu Bencana Urban, “Urban Flood Disaster”.

Bencana didaerah urban ini akibat berbagai faktor diantaranya adalah akibat kesalahan pengelolaan daerah urban (perkotaan), termasuk penataan, pengaturan dan pemeliharaan lingkungan. Selain itu juga akibat perubahan iklim serta perubahan dinamika bumi itu sendiri.

Memang faktor yg utama yg dapat dikontrol oleh manusia adalah pengelolaan daerah urban.

Daya dukung alami  Jakarta sudah sangat tidak mungkin memenuhi jumlah manusia penduduknya. Rekayasa lingkungan atau Urban Engineering merupakan salah satu cara untuk mengatasi dan mengurangi dampak yg merugikan ini. Manusia yang ada di daerah urban ini harus mampu BERADAPTASI dengan perubahan-perubahan ini. Masyarakat perkotaan harus mampu merubah cara pandang pada lingkungan hasil rekayasa ini. Seperti manusia beradaptasi dari perubahan hidup di pohon, dihutan di gua hingga akhirnya menjadi manusia super moderen yg harus tetap hidup bahagia di apartemen yg dikelola dengan baik, manusiawi dan nyaman.

😦 “Whaddduh Pakde, jadi manusia itu beradaptasi dari diatas pohon akhirnya balik lagi diatas beton”

Persoalan banjir di Jakarta dan daerah pada umunya merupakan sebuah pandangan satu sisi dari manfaat dan ancaman air. Padahal air itu akan memiliki tiga masalah utama bila 3 T (terlalu):

  • Terlalu banyak menyebabkan BANJIR
  • Terlalu sedikit menyebabkan KEKERINGAN
  • Terlalu kotor menyebabkan POLUSI

Memindahkan ibukota tidak menyelesaikan banjir di Jakarta. Mengatasi kemacetan, tidak menyelesaikan banjir di Jakarta. Pengelolaan air permukaan dan bawah permukaan harus dibuat secara bersama dengan perhitungan neraca air untuk kebutuhan dasar. Menampung air hujan serta air sungai “kiriman” harus merupakan satu bagian dari langkah pencegahan banjir dan pencadangan kebutuhan air.

Mengelola tiga sumber air utama di Jakarta

Dengan adanya 3T diatas tentunya mengatasi dan mengelola air di Jakarta harus ditinjau dari sisi-sisi pengelolaan air yang uatama di Jakarta. Ketiga sumber air ini kalau kita lihat merupakan sebuah sistem alam dan sistem penggunaan manusia yang terlihat kurang dilihat secara menyeluruh, komprehensip, dan simultan atau bersama-sama. Secara kasar ada tiga sumber air yang mengisi Jakarta.

Air Tanah, Sumber Air Bersih Yang Paling Berharga

Penampang Lapisan yang Mengandung Air Tanah di Jakarta

Penampang Lapisan yang Mengandung Air Tanah di Jakarta

Untuk memenuhi kebutuhan air di Jakarta selama ini lebih sering dengan mengambil jalan pintas dengan mengambil air tanah. Padahal dalam mengelola dan konsevasi air yang benar adalah memanfaatkan air permukaan harus lebih didahulukan ketimbang air tanah. Artinya air tanah boleh diambil apabila air permukaannya memang sudah tidak ada lagi. Sekarang kita catat apa saja permasalahan air tanah di Jakarta ini:

  • Akibat pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan hidup air menjadi barang mahal di DKI, setiap tahun Jakarta defisit tanah 66,6 juta m³. Di Jabotabek terdapat 266 situ dan danau, hanya 33 buah yang berfungsi lainnya rusak atau hilang karena beralih fungsi menjadi bangunan atau bisnis.
  • Kondisi cekungan air tanah Jakarta saat ini sangat kritis akibat ekploitasi yang berlebihan hingga 40%, yang seharusnya maksimal 20%
  • Pengambilan air tanah hampir melebihi setengah aliran air tanah yang masuk kedalam akuifer(lapisan air tanah), kondisi ini dikategorikan sedah masuk zona kritis hingga rusak. Neraca air tanah Jakarta meliputi potensi air tanah 52 juta m³ per tahun, sedangkan pengambilannya 21 juta m³ pertahun ( 40% )
  • Dengan asumsi kebutuhan air bersih per jiwa 150 liter maka dibutuhkan pasokan air bersih 547,5 juta m³, disisi lain PDAM hanya dapat melayani 54% dari total kebutuhannya atau hanya 296,6 juta m³ pertahun, sehingga 46% atau 251,8 juta m³ sisanya menggunakan air tanah.
  • Dari 1872 buah industri yang ada hanya 645 buah industri yang membayar pajak air tanah, jadi kemungkinan besar industri yang lain tersebut menggunakan air tanah secara illegal
  • Akibat penyedotan air tanah yang berlebihan, diduga, juga mengakibatkan permukaan tanah Jakarta mengalami penurunan, selama 18 tahun terjadi penurunan permukaan tanah 40 cm. Disamping akibat penyedotan air tanah yang berlebihan penurunan permukaan tanah juga diakibatkan beban bangunan yang berlebihan dan kondisi tanahnya (adanya lapisan sedimen lunak yang mengempis )

Air Bersih Menjadi Impian

WestTarumCanal Dan tahukan dari mana sumber air baku ini ?

Sumber air baku dari Jatiluhur ! Gambar disebelah ini memperlihatkan   Saat ini air baku yang diperlukan di Jakarta dialirkan dari Waduk Jatiluhur. Betapa [entingnya air baku ini sehingga harus diambil dari jauuh, melalui dan memotong lema sungai besar yang ada. Saat ini air baku dari Jatiluhur mengisi lebih dari 80% kebutuhan air baku PAM Jakarta.

Banjir, Sumber Air Baku Yang Terusir

Tangkapan air baku bahkan kualitas air minum yang selalu diusir dari Jakarta

Tangkapan air baku bahkan kualitas air minum yang selalu diusir dari Jakarta

Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung selalu dilihat sebagai daerah yang selama ini selalu menjadi kambing hitam banjir di Jakarta.  Setiap ada air yang berada ijalur ini selalu diatasi dengan mengalirkan sesegera mungkin ke muara. Baik dengan saluran alamiah, bahkan dengan saluran buatan (Banjir Kanal). Air yang secara kualitas sebenarnya dapat menjadi air baku atau bahkan air minum untuk konsumsi secara terburu-buru diusir dari muka tanah Jakarta seolah diolok-olok, “Dah lu kelaut aje deh !”

Bayangkan saja air dengan kualitas bagus ini justru secara engineering dikelola sebagai sebuah bencana yang harus diusir dengan segera.

😦 “Lah Pakdhe ini kan menganggu to ?”
😀 “Menganggu karena kita tidak mampu mengelolanya Thole !”

Air Tercemar Yang Menganggu

Persoalan pencemaran di Jakarta merupakan salah satu faktor pengelolaan air yang kurang terprogram secara keseluruhan.

  • Di Wilayah DKI baru 3% terlayani sistem Jaringan air limbah sedangkan 97% belum tersentuh sama sekali dan masih menggunakan pengolahan limbah berjenis septic tank
  • Akibat sistem pengolahan limbah di DKI masih sangat buruk menyebabkan 70% kanal di Wilayah DKI tercemar air limbah seperti limbah rumah tangga,amonia, BOD(Biological Oxigen Demand) dan COD(Chemical Oxigen Demand)
  • Kanal Tarum Barat sebagai saluran air baku ke Jakarta telah tercemar limbah baik rumah tangga maupun industri sehingga biaya pengolahan air minum menjadi mahal yang berakibat naiknya tarif air minum

Jadi air permukaan yang ada tidak dapat dimanfaatkan karena tercemar. Pemanfaatan air tanah menjadi jalan pintas karena air baku dari Jatiluhur sudah semakin berkurang akibat pendangkalan, dan jumlah kebutuhan air meningkat akibat peningkatan jumlah penduduk.

Mengelola Air, Tidak Sekedar Mengatasi Banjir

Dari tiga sumber air yang mengisi Jakarta terlihat bahwa Jakarta mendatangkan air dengan biaya mahal dari Jatiluhur, dan mengambil air tanah yang sangat berharga tidak terkontrol dengan baik. Dan terburu-buru membuang air yang disebut dengan banjir.

Sungguh ironis kalau kita tahu bahwa kebutuhan air bersih untuk kehidupan sehari-hari yang ditentukan oleh International Water Association Standard (IWA) adalah 190 liter/orang/hari. Kalau penduduk Jakarta ini 10 juta, maka kebutuhan air sehari 1900 juta liter/hari, atau sekitar 57 m3/detik. Asumsikan bahwa kebutuhan industri 30% (17,18 m3/detik) dan untuk faktor keamanan membutuhkan 20%. Jumlah perhitungan kebutuhan air diproyeksikan pada tahun 2025 adalah sekitar 85,92 m3/detik, SUatu jumlah yang cukup besar. Saat ini air menjadi barang mahal di Jakarta, setiap tahun Jakarta defisit air tanah 66,6 juta m³. Di Jabotabek terdapat  266 situ dan danau, hanya 33 buah yang berfungsi lainnya rusak atau hilang karena beralih fungsi menjadi bangunan atau bisnis.

Jadi kalau kita perhatikan emang lutju pengelolaan air di Jakarta ini ! Air baku malah diusir dan dibuang, terus berusaha mendatangkan air dari jauh dan akhirnya malah memanfaatkan air paling berharga (air tanah) tidak dengan kontrol yang baik.

😦 “Hallah, Pakdhe nulis kok isinya ngeluh doang ! Usulannya gimana doonk ?”

😀 “Thole ini tulisan pertama, nanti usulannya ditulis terpisah, kalau nulisnya terlalu panjang malah ngga dibaca, kan ?”

Tulisan terkait :

2 Tanggapan

  1. Terimakasih infonya mantap bos….

  2. Yuuuk kita diskusi tentang SUMUR RESAPAN bersama FORTUGA (FORum TUjuh tiGA) ITB di Rumah FORTUGA… Salaam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: