Sejarah tidak pernah usang untuk terus dipelajari.


Sejarah tidak pernah usang untuk terus dipelajari.

Siapa ahli geologi Indonesia yang tidak mengenal nama Pak Koesoemadinata, Pak Katili, Pak Suyitno Patmosukismo, Pak Nayoan, Pak Wiyarso, juga Pak Adjat Sudrajat ?. Dalam celotehan mahasiswa, sering menyebutkan mereka adalah “Peneliti Terdahulu’. Ya, dalam penulisan skripsi hampir selalu ada bab yang menyebutkan siapa saja peneliti yang pernah melakukan sebelumnya. Dan mereka itu adalah tokoh-tokoh lama yang wajib dikenali.

Mereka, para “Peneliti Terdahulu” ini telah berkumpul saat Pertemuan Ilmiah Tahunan IAGI di Jogja pada tahun 1980. Tahukah anda bahwa pertemuan itu telah menyelamatkan kita semua, ya menyelamatkan Indonesia dari sebuah kiamat !

20120928-215016.jpg
Diantara para “peneliti terdahulu” ini berkumpul kembali di Yogya pada acara Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Geologi Indonesia ke 41 tahun 2012.

Saat itu teknologi seismik belum semaju sekarang, saat itu komputer personal (PC) bahkan masih impian. Tahun 1980, para ahli geologi ini sedang dilanda ‘demam’, akibat ancaman kiamat tahun 2000. Saat itu cadangan migas yang diketemukan sudah diketahui sangat rawan posisinya, hampir habis, sedangkan potensi energi lain belum juga muncul. Lantas apa yang harus diperbuat ?

Membuka, membongkar dan akhirnya menemukan potensi-potensi tersembunyi di dalam bumi sana dengan sebuah peta. Ya, peta !
Majalah Tempo Edisi Bulan Januari 1980 telah merekam bagaimana para “peneliti terdahulu” ini tertantang oleh sebuah ramalan bernama Skenario Hari Kiamat. Ramalan yang dibuat berdasarkan ketersediaan energi minyak dan gas di Indonesia yang nyaris akan habis di tahun 2000 !.

Tertulis dalam rekaman artikel ini bagaimana keseriusan, keyakinan akan kemampuan serta kerja keras tanpa kenal lelah. Naskah artikel majalah Tempo inipun memberinya judul “Peta Geologi Yang Optimis”. Seorang ahli eksplorasi tidak akan berkonsentrasi pada 90% kemungkinan gagal, tetapi mereka lebih tertarik dengan 10% kemungkinan sukses dan menjadikan kemungkinan 20% atau 25 % sukses.

Membaca tulisan itu (lihat artikel dibawah ini), tentunya dapat diambil pelajaran bahwa dengan keyakinan akan terus maju, maka kita pasti maju. Bagaimana tidak. Ramalan itu mengatakan Indonesia “kiamat” tahun 2000. Dan, nyatanya kita sudah duabelas tahun melewati Sekenario Hari Kiamat itu. Tentusaja ini terjadi karena hasil kerja para “Peneliti Terdahulu” ini telah sukses membuka peluang eksplorasi.

Peta merupakan media komunikasi universal, multi tafsir, berbicara lebih dari sejuta kata, bermakna lebih dari semilyar karakter. Peta yang dihasilkannya telah merubah cara pandang dan Sekenario Hari Kiamat yang merupakan cambuk dari Pak Wiyarso, selaku dirjen migas saat itu.

Saat ini Indonesia juga sedang diuji yang kesekian kali dengan minimnya sisa cadangan migas, minimnya cadangan energy. Namun dengan keyakinan sudah pasti Indonesia akan melewatinya. Dengan kerja keras, sepi ing pamrih rame ing gawe, begitu kata Prof Bintarto.

Mari bersama-sama kembali kita singsingkan lengan baju lagi …. lagi … lagi dan seterusnya !

majalah Tempo edisi, 10 Januari 1981.
“PETA YANG OPTIMIS”

SUASANA di Balai Pertemuan Universitas Gajah Mada di Yogyakarta menyentuh semangat perjuangan. Sekitar 190 ahli geologi dan mahasiswa ilmu itu menghadiri Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT 1980) Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Yang merangsang suasana cerah dan optimistis itu ialah sebuah peta geologi yang dipamerkan di sana, Desember lalu. Dengan jelas tergambar lokasi, penyebaran dan volume sumber daya yang tersimpan di bumi Indonesia.

“Peta ini tidak kenal adanya tahun kiamat,” ujar Ir. GAS Nayoan, menyanggah akan adanya Skenario Hari Kiamat. Ia baru saja menyerahkan jabatan Ketua Umum IAGI kepada Ir. Adjat Sudradjat, Direktur Direktorat Vulkanologi di Bandung.

“Peta itu punya pesan ‘singsingkan lengan baju’,” tandas Nayoan lagi yang sehari-hari memimpin Dinas Eksplorasi Pertamina. Tambah Sudradjat: “Saya optimistis tentang keadaan sumber daya kita di masa mendatang walaupun jumlah penduduk berlipat ganda.” Mengubah Asumsi Tentang apa yang akan terjadi pada akhir abad ke-20, para ahli menyusun berbagai skenario atau rangkaian kenyataan.

Ini mereka simpulkan dari suatu asumsi, berdasarkan data yang tersedia, serta interaksi data itu dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Bertambah lengkap data dan informasi yang tersedia, bertambah tepat pula asumsinya dan semakin realistis skenarionya. Perkembangan data itu juga bisa mengubah asumsi, dan dengan sendirinya skenarionya.

Itu suatu proses ilmiah, seperti yang dialami Ir. Wiyarso, Dirjen Migas. Tahun 1976, ia pernah mengemukakan soal perkembangan sektor minyak bumi di Indonesia menjelang tahun 2000. Analisanya, yang bernada pesimistis, kemudian tersohor sebagai Skenario Hari Kiamat.

Wiyarso pada pokoknya menyimpulkan bahwa seluruh produksi minyak Indonesia, 10-15 tahun mendatang, mungkin cukup untuk melayani konsumsi dalam negeri saja. Bahkan seluruh cadangan minyak bakal tamat sekitar tahun 2000. Semua itu dengan asumsi pola konsumsi tidak berubah dan tidak ada penemuan baru.

Tapi ladang minyak baru kemudian ditemukan, eksploitasi dan eksplorasi digalakkan. Data tentang keadaan berbagai sumber daya dalam bumi bahkan semakin banyak dan lengkap. Ini membuat Wiyarso meninjau kembali skenarionya.

Oktober lalu, di Kampus UGM, Yogyakarta, ia menyatakan skenario itu tidak berlaku lagi. Peta geologi yang dipamerkan tadi suatu perwujudan dari perkembangan data itu. Proses pembuatannya bermula di Bandung, tempat Seminar Sumber Daya Energi di Indonesia diselenggarakan IAGI, Juni lalu.

Seminar itu menyimpulkan bahwa apresiasi dan evaluasi kegunaan sumber daya energi lebih dapat dihayati jika diekspresikan pada sebuah peta.

Maka dikerjakanlah peta itu seperti yang disajikan Desember lalu di Yogya. Untuk mewujudkan gagasan itu dibentuk suatu Panitia Pengarah. Anggotanya G.A.S. Nayoan dari Pertamina, R.P. Koesoemadinata dari ITB, H.M.S. E lartono dari Puslitbang Geologi, Vincent T. Raja dari PLN dan Effentrip Agoes dari Batan.

Panitia itu kemudian menunjuk beberapa anggota IAGI sebagai pengarang peta itu. Unsur sumber daya minyak dan gas bumi dalam peta itu digarap Suyitno Patmokusumo dari Pertamina bersama Atik Suardy. Sumber daya batubara oleh Hardjono dari Direktorat Sumber Daya Mineral bersama Theopilus Matasak dari ITB. Sumber daya nuklir oleh Konradin Siahaan dan Djodjo dari Batan. Sumber daya panas bumi oleh W. Subroto Modjo dan N. Akbar dari Direktorat Vulkanologi. Sumber daya tenaga air oleh Didi Sulasdi sedang unsur geotektonik oleh Prof. Dr. J.A. Katili, Dirjen Pertambangan Umum.

“Peta itu karya ratusan geolog Indonesia yang bertahun-tahun naik-turun gunung dan menjelajah lautan,” ungkap Koesoemadinata dalam pertemuan itu.

Dan Prof. Bintarto, Guru besar dalam Geografi-sosial di UGM menilai peta itu dibuat dengan semangat Sepi ing pamrih, rame ing gawe (Sedikit bicara, banyak bekerja). Menurut Bintarto, tahun 2000 sering digambarkan sebagai tahun gawat. Berkurangnya persediaan air dan pangan, meluasnya tanah tandus, bertambahnya penduduk bumi dan timbulnya krisis energi akibat langkanya sumber daya alam.

Hingga “masyarakat sekarang ini secara diam-diam mengalami ketegangan psikologi,” tutur Bintarto. Kehadiran peta itu bukan hanya penting dari segi geologi, geografi, ekonomi atau politik. Bintarto mengatakan ia juga ikut membantu melenyapkan “ketegangan psikologis tersembunyi” itu.

“Mudah-mudahan dugaan tahun 2000 sebagai tahun malapetaka tidak pernah terjadi.” Peta itu masih mengalami koreksi. Dalam pertemuan para geolog tadi ia dinilai dan dibahas. Ternyata “ada kritik dan usul perubahan,” ujar Nayoan gembira. Namun Ir. Sudradjat yakin bahwa peta itu bakal selesai dicetak dalam 6 bulan mendatang.

4 Tanggapan

  1. Suatu saat nanti akan ditemukan kekayan yang tersembunyi di bumi Indonesia

  2. penelitian geologis yang baik, akan bisa merubah masa depan bangsa

  3. Semoga segala pemelitian yang dilakukan bisa membuahkan hasil yang maksimal demi masa depan Indonesia
    terus mendukung langkah2 para ahli geologi tetap berkarya ..

  4. Suatu ulasan yang menggugah para geologist untuk optimistis….tapi harus diikuti dengan upaya sesuai dengan kompetensi masing masing…maju terus IAGI ..berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan ..walau sekecil apapun..wassalam heryadi rachmat 0784

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: