Rukyah dan Hisab, bagaikan ibu dan bapak.


 

Saya ini rada risih kalau Rukyah “diperlawankan” Hisab. Seolah keduanya dua model yang “bertentangan” sehingga akhirnya pantas diadu. Sampai sampai ditulis Rukyah “vs” Hisab, whaduuh.

Menurut saya yang awam ini, keduanya mirip seperti ibu dan ayah. Keduanya harus bekerja bersama untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik. 

Semasa bayi ibulah yang berperan.

Pada waktu awal, ketika memiliki bayi, maka ibulah yang paling banyak berperan. Lah emang bapak mau menyusui. Mau ga mau ya ibulah yang harus berperan membesarkan si anak bayi ini. Ya, anggap saya seperti rukyah. Pada awalnya perintah puasa jaman nabi dulu dunia masih menganut “flat earth”, dunia dianggap datar. Jadi kalau coba-coba menggunakan hitungan saya jamin pasti mleset-mleset ga karuan. Pasti hitungan kapan munculnya anak bulan bisa-bisa mleset dua hari malahan. 

Setelah dewasa, seorang anak harus dididik sangat memerlukan peran ayahnya untuk terus hidup tumbuh berkembang, bekerja, mencari makan, berpikir, walaupun untuk anak perempuan tetep saja bapaklah yang akan menikahkannya. Peran ibu sudah mulai berkurang ketika anak sudah dewasa. Disinilah perkembangan yang sudah “dewasa”, termasuk dalam hal penentuan penanggalan bulan ini. Perhitungan, atau hisab, sudah mulai berkembang saat ini. Bumi sudah tidak lagi dianggap datar, bumi juga sudah tidak lagi dianggap pusat tatasurya, seperti copernican. Saat ini mataharilah yang dianggap sebagai pusat peredaran tata surya. 

 
Penaggalan bulan juga menggunakan matahari dan bulan sebagai faktor (parameter) dalam perhitungannya. Coba saja lihat, saat matahari tenggelam, bulan sudah terlihat. Akhirnya muncul pemikiran berapa derajat munculnya, seperti apa pengamatannya. Boleh tidaknya menggunakan alat dsb. Tetapi ini jelas menunjukkan bahwa matahari dan bulan masih diperhitungkan. Dan itulah sebabnya pemikiran bumi datar, bumi bulat, dan matahari sebagai pusat peredaran tatasurya menjadi perkembangan penting dalam kedewasaan dalam berpikrinya umat Islam.
 
Jadi janganlah dua metode ini dipertentangkan, dua metode ini selalu diperlukan dan dibutuhkan untuk menhasilkan sesuatu yg lebih baik.
 
Apakah ibu sama skali tidak diperlukan setelah dewasa ?
Tentusaja tidak, masih ada peran ibu ketika anak dewasa. Banyak peran ibu yg akan mengisi peran bapak dalam mendidik dan membina anaknya. 
 
Demikian juga dengan hisab dan rukyat, akan selalu saling mengisi, saling kompliment. Dan pasti bukan untuk dipertentangkan dan dikontraskan.

11 Tanggapan

  1. Harus disikapi dengan dewasa ya kalau ada hasil yang berbeda biar kitanya tetap bisa rukun🙂

  2. weeh iyo kalau ibuk-bapak saling salah menyalahkan besok anaknya mau jadi apanya??? yang jadi panutan mana ya hehe,, kalau nggak salah di At Taubah (9) ayat 36 bilangan bulan tahun qomariah ada 12 bulan, dan jumlah harinya 11 yang tetap dan 1 bulan yang tidak yaitu romadhon 29/30, sehingga jika di teliti dng ilmunya ahlinya … perubahan jumlah hari romadhon terjadi 25 tahun alias 1/4 abad ya pakdhe… lha tapi ada dalil yang lain harus ibuk-bapak tadi… jadi pakdhe ikut yang mana ….🙂

  3. Apa agaknya kesudahan plan untuk menyatukan kesemua “Zon Waktu” agar kebaikan ekonomi berkemungkinan? Jika tahap hidup boleh meningkat, nescaya itu akan memuliakan Muslimin dan seluruh jelata di negara.

    http://goo.gl/Zsg2U

  4. rekor derajat paling kecil yang dapat dilihat berapa ya sekarang

  5. setuju, pak. perbedaannya ga usah dipertentangkan. apalagi kalau sampai bikin berantem. silakan ikut saja deh. mau ikut ulama-nya, atau mau ikut pejabatnya. yang penting dijalani dengan keyakinan saja🙂

  6. kebenaran dalam hisab perlu dibuktikan dengan rukyat ini hakekat yang harus dipenuhi. selama ini perbedaan terjadi karena rukyat tidak dapat membuktikan penetapan dalam hisab karena kendala cuaca dan lokasi yang tidak memungkinkan. untuk mendukung pendekatan hasil penetapan hisab dengan rukyat saya mengusulkan penggunakan pesawat yang terbang pada ketinggian 10.000m untuk melihat bulan baru pada saat matahari terbenam. logikanya dengan mata telanjang dari jendela pesawat tersebut dapat kita buktikan terlihatnya bulan baru setelah matahari terbenam sempurna dan langit meredup pada cakrawala barat. Karena pada ketinggian tersebut hampir tidak ada awan yang menghalanginya. teknologi ini yang saya kira perlu dicoba di Indonesia.
    Salam

    Sebenernya keduanya sama (sangat dekat) hasilnya untuk saat ini, tapi kriterianya yang berbeda. Yang satu mengandalkan “mata telanjang” sebagai kriteria, yang lain mengandalkan angka untuk memutuskannya. Ada yg bilang satu derajat cukup, ada yg bilang harus diatas dua derajat. Belum lagi titik referensi pengamatannya. Apakah Saudi Arabia atau Makkah sebagai titik referensi, apakah harus satu negara sebagai kriteria. Atau bahkan asalkan didunia terlihat, rukyah hilal global. Jadi bukan sekedar hisab dan rukyah saja.

  7. Kalau akal sudah mengalahkan ayat dan hadist yg shohih…maka mau dikemanakan Agama ini..Sungguh agama islam ini diturunkan untuk memudahkan bagi pemeluknya…Syariat yg mulia ini telah membimbing kita untuk mengenal awal bulan Ramadhan dengan mudah…dan sungguh Syariat yg mulia ini telah membimbing kita untuk senantiasa taat kepada ulil amri yg muslim meskipun mereka melakukan ke dzoliman…kalau seandainya kaum muslimin mau kembali kepada Alquran dan Hadist yg shohih dan ditafsirkan berdasarkan para sahabat…..Sungguh nikmat islam akan terasa akan berbeda…..

  8. Ibu yang mengkoreksi kalau bapak salah, atau bapak yang mengkoreksi kalau ibu salah?

    Selanjutnya mengenai hisab, metode ini bukankah sebenarnya cukup populer di kalangan astronom, buktinya telah banyak badan-badan riset yang sampai bisa menentukan kapan suatu fenomena akan terjadi semisal kapan terjadi gerhana matahari, kapan terjadi gerhana bulan, kapan komet ini lewat, kapan asteroid lewat, bahkan hingga untuk puluhan tahun kedepan, dengan akurasi yang bisa dikatakan sampai ke orde milidetiknya.

    Jadi pertanyaannya adalah kembali ke siapa yang mengkoreksi siapa pakdhe…

  9. ahli rukyat pastilah ahli hisab

  10. Bukan ahli maths atau astronomer, tapi saya agak ianya perhitungan dan perkiraan aje dan berapa “darjah” menentukan permulaan, setelahnya tetap persetujuan.

    Namun itu, ilmu sains memerlukan observasi peribadi saperti dalam mana-mana eksperimen yang wajar yang boleh disaksikan secara biasa.

    Satu kontroversi terhamil, bila manusia terlibat. Ini mutlaknya tertimbul dalm 1/1million ? atau kurang? 1 risiko natural dalam apa-apa pun usaha langsung menyabitkan manusia.

    Berubah pula bila kita menjajahi bulan! :-))

    Atau mendiami “Mars” ?

    Tapi ilmu astronomi dan maths asas.

    ??? Dari segi geografi dan astronomi bagaimana kalau perhitungan puasa ditentukan dengan sistem kalendar matahari? Bila agaknya bermula puasa jika ditetapkan 1 tarikh? Mustahil? Sebab akan berubahkah ayat-ayat Quran?

    ???Tapi apa perlunya diubah?

    Mungkin hanya satu sebab! Pertanian dan usaha murni manusia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: