Perhitungan penanggalan jaman “bumi datar” berbeda dengan geosentris, dan heliosentris.


Peta Jaman Babilonia (abad ke 6). Menggambarkan bumi datar. (wikipedia)

Perintah puasa yg kita ikuti ini dimulai abad ke 7 (Jaman Nabi Muhammad). Apakah anda membayangkan bahwa pada saat itu konsep yg dimengerti manusia adalah “flat earth” (bumi datar) dan bumi sebagai pusat tatasurya, planet-planet mengelilingi bumi sebagai pusatnya (geosentris).

😦 “Jangan-jangan dulu memang bumi itu kotak trus karena muter-muter akhirnya bunder, buleyt gitu ya Pakdhe ?”

😀 Hust bukan begitu, tetapi pemikiran dan persepsi manusianya yang berubah. Buminya sendiri ya sejak dulu ya gitu-gitu saja”

Bumi bulat (Geosentris)

Model geosentris dari Ptolemeous

Abad ke 9 Jaman Kalifah Abassiah, beberapa pemikir Islam mengadopsi pemikiran dari astronom Yunani dengan gagasan bahwa bumi itu bulat (Bumi Bulat) dan bumi menjadi pusat alam semesta (model geosentris).

Pada jaman itu Ptolemy percaya bahwa bulan, matahari, planet dan bintang-bintang berada dalam bola kaca yang berlapis-lapis dan berputar mengelilingi bumi. Bulan ada di lapisan terdalam, dan bintang-bintang ada di lapisan terluar. Jadi bumi berada di pusat alam semesta.

Bumi Bulat (Heliosentris)

Heliosentris

Konsep bumi bulat dan matahari sebagai pusat peredaran tatasurya (heliosentris) dari Galileo baru muncul abad ke 16. Artinya konsep berpiki rbumi bulat dan juga bumi sebagai pusat peredaran planet tata surya baru dimulai beberapa abad yang lalu. Atau sembilan abad setelah perintah puasa itu sendiri.

Tentunya dapat dibayangkan metode perhitungan penanggalan jaman Nabi Muhammad dulu pasti akan mleset-mleset, sehingga perlu dibantu pengamatan dengan melihat dengan indera (mata) atau dikenal dengan nama Rukyah.

Saat ini hampir semua orang mengerti tidak hanya bumi berputar tetapi bahkan matahari sebagai pusat tatasurya.

Kalau dibandingkan jaman dahulu tentusaja ‘margin eror‘ (nilai kesalahan) cara perhitungan untuk sebuah penanggalan semakin kecil dan ini tidak menjadikan pemikir ini diam. Bahkan inilah sikap intelektual manusia yang selalu berpikir ngulik menjadi tidak mengherankan kalau banyak yang mendiskusikan ketelitian (akurasi dan presisi) ini untuk menyatakan kapan awal penanggalan bulan.

Belum lagi ditambah saling “melempar dalil”, wuih !

😦 “Wah kalau lempar-lemparan hasil penelitian emang seru ya, Pakdhe”

Semakin lama semakin pinter juga manusia ini. Perhitunganpun semakin akurat dan seolah pasti tetapi diskusi tetap saja tidak pernah berhenti.

13 Tanggapan

  1. Tidak ada satupun ayat Alquran mengatakan bumi beredar dalam garis edarnya. Sedangkan banyak ayat yang mengatakan bulan dan matahari “kullun fii falakin yasbahun” — semuanya pada garis edarnya.

  2. Maaf pa’de sedikit meralat. Dalam al-Quran tidak pernah ada kalimat yg menyebutkan bahwasannya bumi itu datar dan bumi sebagai pusat tata surya. Saya memang bukan seorang yg hapal al-Quran, tapi yg saya agak ingat di dalam al-Quran disebutkan bahwa bumi, bulan, dan bintang berjalan pada tiap2 garisnya. Kemudian Allah SWT juga memerintahkan agar manusia berjalan di muka bumi agar dapat mengetahui apa yg terjadi pada umat2 sebelumnya. Untuk lebih jelas silahkan buka al-Quran dan kaji dengan hati bersih. Terimakasih Pa Dhe.

  3. menarik sekali artikelnya bisa nambah pengetahuan, thks

  4. masalahnya banyak pihak yang mengesampingkan perkembangan ilmu pengetahuan dan berkeyakinan tanpa dasar ilmu itulah yang kebanyakan terjadi…
    sementara dari sisi ibadahnya sendiri yang perlu diprhatikan terutama bukan apakah puasa itu benar benar jatuh pada hari pertama di awal bulan tapi lebih pada sisi spiritual, kebersamaan dan keikhlasan… begitulah kira kira …

  5. kalau soal penanggalan bulan, saya pikir pada jamannya nabi malah lebih akurat soalnya pada jaman tersebut keahlian mereka jauh dari kita meskipun secara umum dijaman kita sudah lebih maju. Walauhu Alam..

  6. lanjut kan pak dhe….

  7. Sebenernya keduanya sama (sangat dekat) hasilnya untuk saat ini, tapi kriterianya yang berbeda. Yang satu mengandalkan “mata telanjang” sebagai kriteria, yang lain mengandalkan angka untuk memutuskannya. Ada yg bilang satu derajat cukup, ada yg bilang harus diatas dua derajat. Belum lagi titik referensi pengamatannya. Apakah Saudi Arabia atau Makkah sebagai titik referensi, apakah harus satu negara sebagai kriteria. Atau bahkan asalkan di belahan dunia manapun bisa terlihat, rukyah hilal global. Jadi permasalahannya bukan sekedar pakai hisab dan rukyah saja.

  8. izin reblogged ya pakdhe :d

  9. Reblogged this on Bumi persinggahan.

  10. Jam modern masih saja belum akurat, selalu mencari paling akurat. petani dan nelayan bisa hidup karena niteni waktu alam semesta bukan jam tangan dan kalender modern

  11. Kalau didalam Al-quran disebutkan Bumi sebagai pusat alam semesta sementara “kenyataan” nya Matahari sebagai pusat. Kemudian mengenai teori Kabah sebagai sumbu rotasi (kutub) Bumi. Bagaimana pandangan Pak Rovicky? Terima kasih. Geo_02

  12. Kalau beberapa tahun lalu jam atom dianggap paling presisi, sekarang ada jam nuklir yang jauh lebih presisi lagi. Begitu juga komputer untuk komputasi dengan adanya sistem 64bit memungkinkan komputasi makin presisi.
    Bahkan kalau mau dari citra “teropong” penglihatan manusia bisa dilakukan digitalisasi selanjutnya diproses pakai komputer. Kan malah jadi bisa mengakomodasi keduanya to.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: