Internet sebagai sumber referensi riset. Boleh kah ? “The Internet: A Mile Wide, an Inch (or Less) Deep”


sumber : http://netsains.com/wp-content/uploads/2008/10/computer-guy.jpgInternet bukanlah sumber utama referensi. Kalau ingin riset yang benar jangan hanya menggunakan mesin pencari (google dll). Tengok perpustakaan baca literatur, lihat peta, perhatikan grafik, teliti diagram dan tabel yang ada dalam jurnal-jurnal ilmiah, artikel yang seringkali hanya ada di PERPUSTAKAAAN !!

Yang diatas itu status yang saya buat di FaceBook. Mengundang diskusi cukup bagus karena ada pro kontra dalam menggunakan internet sebagai sumber data dalam melakukan riset.

:( “Wealah Pakde diskusinya ga cuman lewat mailist tapi juga dimana-mana, termasuk FB, ya ?”

Nah apa saja kata mereka ?

    • Rini Yanti Journal ilmiah kan sekarang banyak yang online pak de..
    • Nurcahya Priyonugroho Tapi google banyak membantu…, apa yang dulu saya kerjakan untuk thesis selama seminggu, mungkin bisa dikerjakan google dalam sedetik… apalagi artikel online bisa di-copas dengan simple :-D
      Rovicky Dwi Putrohari Melihat peta ukuran A4 akan berbeda dengan menggunakan zooming peta berukuran A0. You can feel the difference
    • Rovicky Dwi Putrohari Kalau Google itu jelas “tool” atau alat bantu yg canggih tetapi bukan referensi.

    • “Internet bukanlah sumber utama referensi.”
      Kalo hanya mau riset untuk bekal eyel-eyelan di milis cari di internet ya cukup lah… :)

      Rovicky Dwi Putrohari Sebelum ada bukti masih dibilang HOAX yaAlbert Pratama ? ;-)
    •  Rini Yanti Dulu mo bikin proposal, nyari journal ilmiah…, dari pagi sampe sore.. belum tentu nemu 1 yang sesuai. Sekarang mo nyari naskah journal ilmiah dari Food chemistry, JAOCS, bisa cari di Sciencediriect, springerlink. Kalo ini gimana pak de..:)?
    • Iwan Budi Santoso Kalau perpustakaannya google book gimana pak dhe?
    • Graifhan Ramadhani Kalau menurut saya, persoalan apakah referensinya online atau offline (jurnal di perpustakaan) sekarang sudah tidak relevan lagi. Yg paling penting adalah kredibilitas literatur maupun penulis yg karyanya akan kita jadikan referensi. IMHO loh ya.
    • Rini Yanti Journal2 international itu selain versi cetak .. , sudah banyak sekali yang versi online… Pengaruhnya besar untuk peningkatan sitasi. Universitas2 yang dulunya melanggan versi hardcopy… sekarang rata2 melanggan yang online, gampang diakses :). Dengan keyword yang pas.. keluar ribuan judul paper… , ya membantu sekali..
    • Thomas Triadi Putranto itu kl internet di negara ngastino yg super lemot & tdk bnyak langganan jurnal ilmiah..lha kl di negara tetangga yg super high speed & bnyak sekali langganan jurnal ilmiah ya tinggal klik klik rebes..justru mlah skr dibalik jngn bnyak baca buku teori tp jurnal yg terkini yg lebih aplikatif pakde…

      Ety Suryani Pak..kalau geologist muda cari data hanya di internet..klu ke lapangan pasti bingung bedain carnelian, basalt. lava bantal….
    • Rizqi Syawal wah jangan jangan itu punya saya ya pak he he he he
    • Kiswanto Mitro Sudarmo nah lu syawal
    • Agung Budiman Sekedar masukan pak…klo ingin riset yg benar tidak sekedar membaca literatur, artikel, jurnal ilmiah dan ke lapangan, tapi jg berani mencoba melakukan eksperimen fisik berskala lab. sbg analog untuk mempermudah, memahami proses yg pernah terjadi dlm skala ruang & waktu, meskipun tdk sepenuhnya persis dgn kasus aktualnya. Saya rasa riset2 spt itu yg msh jarang di Indonesia. Mungkin diluar kita tdk asing dgn nama Ken McClay dgn eksperimen sandbox strukturnya, Chris Paola,St. anthony falls laboratory dgn eksperimen stratigrafi dan sedimentologi kuantitatifnya. Semoga hal spt itu suatu saat bs berkembang juga di Indonesia. Maaf bila ada salah kata.

    • Rovicky Dwi Putrohari Riset atau research, memang artinya “re-search”, mencari lagi. Mesin pencari (search engine sepertoi google) memang alat bantu yg canggih. Tapi sebelum menggunakan informasi yang ada didalamnya perlu diperhatikan khusus.

       Kalau akan memaksa menggunakan informasi web sebagai bahan riset perhatikan :
    • • Siapa penulis informasi di web itu ? bagaimana reputasi mereka?
      • Siapa penerbit atau sumber informasi ini? Jika penulis tidak teridentifikasi, apakah Anda mendengar tentang organisasinya ? bagaimana reputasi organisasi itu? Jika sulit untuk menentukan hal ini, cobalah bersikap skeptis.
      • Apakah dasar dari informasi di situs yang anda baca ini? Apakah studi atau penelitian? Apakah ada kutipan? Apakah anekdotal?
      • Bagaimana informasi saat ini? Waspadalah terhadap apa pun yang tidak punya tanggal penerbitan. HOAX sering berulang.
      • Bagaimana sudut pandang atau perspektif informasi? Apakah netral, faktual, atau anti-segala sesuatu yang lain? Apakah penulis tampaknya memiliki agenda tersembunyi?
      • Apakah ada iklan pada situs web? Apakah situs web menjual sesuatu? Jika demikian, bagaimana itu terkait dengan informasi yang Anda apakai untuk mengumpulkan hasil kajian dari situs itu?
      • Lihatlah situs web uniform resource locator (URL) untuk informasi tentang yang memposting itu, mana http://www/ (nama domain).. (negara, jika tidak Amerika Serikat). (tipe). Lihathttp://www.inktomi.com/webmap/ untuk informasi lebih lanjut tentang URL

      Rizqi Syawal Pak Rovicky Dwi Putrohari ; hmmm saya rasa ketersediaan ruang dan metode didalam membuat karya nampaknya perlu dilihat kembali. Saat ini internet memang menjadi cara mudah kawan-kawan, para pemula, dan researcher awal untuk menulis. Mungkin keterbatasan waktu dan keinginan untuk menulis secara simple (tanpa keluar ongkos dan waktu banyak tentunya). Mendorong banyak research research muda melakukan tersebut.Berharap adanya forum forum penelitianlah yang dapat mendorong seseorang untuk mengetahui titik lemah dan kekurangan dalam sebuah penulisan. just share pak
    • Rovicky Dwi Putrohari ‎Rizqi Syawal untuk geologi mudah sekali padanannya yaitu jangan mengaku telah meneliti geologinya tanpa melihat “batu”nya. Walaupun ada fotonya serta deskripsinya, tetap saja penelitian geologi tanpa melihat singkapan itu bukanlah sebuah riset geologi. Di migas, saya saja masih memaksa untuk melihat data sumur dari cutting atau core samplenya.
    • Rizqi Syawal ‎Rovicky Dwi Putrohari ; Like This Pak, “Back To Basic Look at The rock”
    • Sulastama Raharja internet aapg, llyel ambek elsevier lho Mas… dudu google :D
    • Rovicky Dwi Putrohari Sila baca link ini “The Internet: A Mile Wide, an Inch (or Less) Deep” http://www.ala.org/ala/alonline/resources/slctdarticles/ALA_print_layout_1_24213_24213.cfm

      www.ala.org Reading, said the great English essayist Matthew Arnold, “is culture.” Given the…See More

    • Wahyu W. Basjir Aku seringnya sih dolan ke online library, ndonlot literatur.. Dadi ya, internet lumayan membantu kawula kantong cupet kaya aku..
    • Graifhan Ramadhani Link yg diberikan pak Rovicky itu sepertinya sudah obsolete. Pertama kali terbit pada 2001. Nama Google tidak pernah disebut2 dlm artikel ini, apalagi sistem page rank. Pencarian di intenet saat ini tidak lagi seperti jarum dalam jerami. Statement tentang hanya 8% dari jurnal ilmiah yg tersedia di web dan lebih sedikit lagi buku yg tersedia juga sudah tidak bisa dijadikan pegangan (saat artikel itu ditulis, Google Books masih belum ada).Pendeknya, saya setuju mengenai pentingnya literatur dalam bentuk hardcopy, tapi kalau mengesampingkan sama sekali penggunaan materi online dalam research saya kira itu terlalu berlebihan.

    • Rovicky Dwi Putrohari ‎Graifhan Ramadhani Kalau memang yg dicari memang literaturnya, kemudahan akses masih memerlukan perhatian khusus:

      - Credibility
      - Accuracy
      - Reasonableness
      - Support
      Nah ini link ke hal mirip yg lebih baru tahun 2010. http://www.virtualsalt.com/evalu8it.htm Kemudahan akses sering menjadikan informasi sains yg aksesnya mahal menjadi terdistorsi oleh hal-hal yg mudah diakses scr gratis.

      www.virtualsalt.com

      Guidelines for evaluating Internet sources, including a checklist to help assure…
    • Sulastama Raharja Lhoh Mas Vick, apa kredibilitas elsevier, Llyel atau aapg masih diragukan? :D
    • Rovicky Dwi Putrohari Mas Sulastama Raharja mereka itu juga mikir binis looh, walau bisnis ilmu. Lah namanya publikasi kok mbayarnya mahal. :( Makanya perlu ada evaluasi terhadap sumber yg ada di internet. Dua link sebelumnya adalah suatu cara supaya tidak gegabah dalam menggunakan internet sebagai sumber informasi. Kalau Autumation (auto+ tion” artinye menjadikan “auto”, Publication kok tidak menjadikan milik publik ? Mbayar mahal euy.

Nah apakah blog juga dapat dipakai sebagai referensi ilmiah ?

Satu hal yang lebih penting dalam mengumpulkan data atau referensi dalam riset adalah mencari data yang relevan, bukan sekedar mencari data atau referensi yang mudah diperoleh.

Salam riset !

12 Tanggapan

  1. kalau menurut saya sah saja pak lagi pula sangat banyak hasil penelitian yang dipublikasikan di internet..
    sukses selalu Pak :)

  2. Mua, cari sumber tidak hanya tergantung dari Google Tdk jga hanya tergantung juga dari perpustakaan. Pintar2 sja kitA mencari informasi atau sumbernya….:)

  3. mungkin lebih baik kalau kedua duanya dipakai,k kelemahan yang sekarang saya perhatikan, siswa siswa saya hanya mengkopi paste suatu artikel di ihnternet tanpa melihat sumber dan penulisnya, kadang informasi yanng digunakan tidak tepat atau tidak sesuai dengan literatur pada umumnya, jadi ya harus dua duanya

  4. Menurut pelajaran yang saya dapat di kuliah (berhubung saya kuliah di jurusan ilmu perpustakaan dan informasi), untuk menulis tulisan ilmiah mengambil dari blog boleh saja asal dapat dipertanggungjawabkan (contoh ada sumber referensinya). Tapi lebih baik kalau mengambil dari sumber primer (sumber referensi itu). Jadi sebelum asal copy paste, mending dicek lagi deh kebenaran isinya itu. :D Kalau jurnal ilmiah online memang sudah boleh dijadikan referensi. :D kalo di jurusan, web yang ga boleh dijadiin referensi itu wikipedia, soalnya ga bisa dipertanggungjawabkan isinya (dapat diubah2 sendiri).

    –> intinya tulisanilmiah itu mestinya “auditable” (dapat di audit) artinya refrensinya dapat dirunut, hasil penelitian bisa diulang (repeatable) dan juga sebuah fakta berdasarkan data dsb. Jadi dalam hal pensitiran yang jelas ya harus bisa dirunut asal muasalnya. Mesti jelas perawinya … Kayak hadits gitu

  5. Reblogged this on Wawasan Pendidikan.

  6. pakdhe, saya jadi agak malu setelah baca artikel ini, saya termasuk mahasiswa yang lebih banyak pake internet sebagai sumber referensi daripada buku,,

  7. Go GREEN !!!!

  8. yang ini google harus memikirkan, toh si gugel itu sudah mencoba memindah berjuta buku koleksi dalam proyeknya alias Google Book :)

  9. Pakdhe, kalau begitu bagaimana dengan standarisasi jurnal ilmiah yang dipublikasikan di internet? Apa kegunaan ISBN/ISSN?

    –> Ya ini sebuah tantangan baru bagi dunia publikasi saat ini. Dari workshop penerbitan jurnal geologi di Bandung beberapa waktu lalu, ada presenter dari Jepang yang mangatakan bahwa Jepang akan memulai penerbitan online dan meninggalkan printed paper/journalnya. Ini tentunya menjadi tantangan pada penerbitan ISBN dan ISSN.

  10. Kalimat yang sangat menarik untuk disadur (dengan beberapa perubahan) di Internet For Kids, sekedar untuk pengingat anak-anak sekolah yang suka njiplak mentah-mentah dari internet untuk tugas sekolahnya…
    mohon ijin nih!

  11. Ide ini sebaiknya dibawa ke kampus kita tinggal ikut saja.

  12. Alhamdulillah sekarang sudah semakin ok informasi mengenai kegeologian agar bisa dipahami (pake p bukan f) oleh masyarakat luas dari anak sekolah, kuliahan, pegawai yang punya anak masih di SD dan memerlukan bantuan ortu….selamat Sukses PIT IAGI 2012 , wassalam heryadi rachmat. NPA 0784

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.173 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: