Minyak Dan Energi Lain Masih Cukup Untuk Menghidupi Dunia [Skenario dunia damai]


Paradigm Shift

kekiri atau kekanan ?

Krisis minyak atau krisis energi barangkali benar-benar akan terjadi tetapi tidak akan membuat dunia ini kiamat atau kepunahan manusia, yang mungkin akan terjadi adalah “pergeseran cara berpikir manusia”  untuk lebih inovatif dan kreatif dalam penghematan dan pemanfaatan energi. Negara maju saat ini adalah negara boros energi, tapi nanti negara majulah yang paling sedikit kebutuhan energi perkapitanya. Barangkali itulah “survival of the fittest“nya Darwin !

Apakah Indonesia mesti berhemat dari sekarang ? JANGAN BURU-BURU ! Indonesia masih harus maju dulu, perlu memberikann listrik ke seluruh rakyat supaya memiliki daya juang dan daya saing, terutama ketika dunia nanti mulai berlomba menguasai ilmu dan teknologi. Posisi kita saat masih memanfaatkan energi untuk hidup dan bertahan.

Peak oil yg mulai dianggap sebagai mitos

Peak Oil Production (Wikipedia) yg mulai diragukan.

Mungkin anda pernah membaca atau melihat grafik peak oil yg sangat terkenal yg juga dikenal sebagai Hubbert Peak. Ya, grafik itu cukup jeli menggambarkan bagaimana sebuah cara memprediksi bahwa minyak suatu saat akan habis dan yang lebih ditakutkan adalah habis dengan penurunan yang sangat tajam. Penurunan tajam ini mungkin akan membuat dunia kacau balau karena sangat mungkin terjadi perebutan energi dunia dan tentusaja ujungnya peperangan.

Skenario perebutan ini mungkin saja secara diam-diam mungkin dipersiapkan oleh beberapa negara yang haus energi, karena kalau saja terjadi pastilah dunia akan berantakan. Sekali lagi nafsu manusia akan sangat berperan dalam setiap perebutan.

Namun adakah skenario lainnya ? barangkali saja akan terjadi dunia akan tetap damai, walaupun diselingi keributan kecil antara negara yang hanya berupa pergolakan lokal atau mungkin regional.

😦 “Wah dunia kalau ga ada pertempuran ga seru ya Pak Dhe, kayak bude masak ga pakai garam”
😀 “Yang penting kamu ngga ikutan dalam pertempuran berdarah-darah saja. Eyela-eyelan boleh tapi jangan pukul-pukulan”

Yang cukup menarik dari Peak Oil ini adalah bahwa metode ini sepertinya berlaku untuk sesuatu yang sudah diketahui. Atau secara intrinsik mengandung perkiraan berdasarkan atas past history, berdasarkan sejarah penemuan dan produksi dimasa lalu. Tentusaja tidak masuk pemikiran inovasi, kreatifitas, ide serta pemikiran-pemikiran baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Apakah ada inovasi serta sesuatu yang belum kita ketahui ? Sebagai contoh, penemuan minyak di Brasil dimana ditemukan minyak dibawah kubah garam, pemanfaatan oil shale di Bakken, juga kalau di Indonesia penemuan-penemuan minyak dibawah lapangan tua di Cepu. Itu merupakan beberapa contoh bahwa di otak explorationist masih ada yang dapat diperas. Hal-hal baru ini tentusaja tidak atau belum masuk dalam perumusan perkiraan produksi dari metode Hubbert Peak.

😦 ” Looh Tapi Pakdhe kan juga pernah mendongeng tentang Peak Oil ini untuk Indonesia, kan ?”
😀 “Iya bener Thole, ditulis disini. tetapi ini harus dipahami sebagai base case, atau pemikiran dasar kalau kita hanya melakukan seperti apa adanya saat ini. Sedangkan disini kita perlu inovasi, ide, serta pemikiran baru untuk selalu maju”

Penurunan produksi tahun 1980an

Adanya penurunan produksi pada awal tahun 1980an terjadi didunia bahkan di Indonesia. Fakta ini menunjukkan bahwa kalau memang berniat dan mau, dunia ini masih akan hidup dengan lengang ketika mengurangi produksi minyak. Artinya berkurangnya produksi minyak tidak akan mematikan, bukan sebuah kiamat, bahkan terlihat laju peningkatan produksinya dapat direm menjadi landai. Ada satu pembelajaran yang telah terjadi hingga memasuki abad XXI ini.

Tata nilai dunia sudah bukan barbar

Memang kalau kita melihat sejarah dimana jaman dahulu setiap kali terjadi perebutan sumberdaya alam ataupun sumber makanan selalu didahului dengan peperangan. Namun dunia saat ini sudah jauh berbeda dengan jaman dahulu. Di Indonesia saja tata nilai untuk bernegara sudah mengalami perubahan yang sangat dahsyat dengan adanya proses reformasi yang harus dibayar mahal.

Dengan demikian kita tidak dapat dengan serta merta menggunakan kejadian masa lampau akan terulang dengan begitu saja di dunia ini. Perang dunia semestinya bukan lagi menjadi sumber ketakutan dan kekhawatiran. Justru sangat diharapkan kebersamaan manusia di dunia akan menjadikan kesejahteraan akan meningkat.

😦 “Whallah Pakdhe mimpi, nih ?”
😀 “Thole mimpi itu harus yang bagus-bagus. Karena dengan mimpi yang bagus-bagus beginilah manusia akan benar-benar menjadi bagus”

Bagaimana posisi Indonesia dalam pemanfaatan energi ?

Gambar dibawah ini menunjukkan bagaiaman hubungan antara GDP (perkapita) atau pendapatan perkapita di setiap negara, dibandingkan dengan penggunaan energinya (efisiensinya).

Indonesia saat ini harusnya mengikuti garis kuning. Efisiensi khususnya untuk negeri maju (high productive).

Dengan mudah kita melihat bahwa Indonesia berada dibawah dalam soal produktifitas. Pendapatan perkapita kita rendah. Walaupun masuk dalam G20, itu hanyalah dalam sekala total seluruh negara, namun karena jumlah penduduk di Indonesia ini sangat buanyak maka angka GDP perkapitanya menjadi sangat rendah, atau produktifitasnya rendah.

Lantas Indonesia harus bagaimana ?

Kalau melihat pola negara-negara yg digambarkan bulet dan lonjong, terlihat bahwa negara-negara ini mengikuti sebuah pola dimana meningkatkan produksi lebih tinggi kelasnya ketimbang dalam kelas efisiensi. Negara super hebat semestinya memiliki produktifitas yang tinggi dan efisiensi juga tinggi, didalamnya ada Austria, Switzerland dan Hongkong. Nah, terlihat pada kenyataannya negara-negara yag memiliki produktifitas tinggi yang tercermin pada GDP perkapita tinggi ini namun efisiensinya rendah.  

Lingkar kuning yang memperlihatkan Indonesia ini menunjukkan bahwa Indonesia semestinya mengarah dalam peningkatan produktifitas, bukan mengutamakan efisiensi. Ini hanya skala prioritas, bukan berarti mengabaikan penghematan energi. Artinya pakailah energi sesukamu tetapi dipakai untuk hal-hal yang produktif.

😦 “Pakdhe kalau gitu lampu dikamarku harus terang ya supaya aku jalau membaca dan belajar lebih bagus hasilnya ?”
😀 “Yaa, begitulah Thole seharusnya. Gunakan energi itu untuk berproduksi. Dan salah satu tugas pemerintah sekarang akan menyediakan energi untuk negeri ini ini. Sesedikit mungkin mengeksport energi.

Tugas pemerintah Indonesia dan ESDM

Memang dengan mudah kita melihat bahwa tugas pemerintah Indonesia saat ini terutama dalam bidang ESDM adalah menyediakan energi untuk rakyatnya. Karena penyediaan energi di dalam negeri ini akan memberikan dampak positip lebih banyak ketimbang berusaha menghemat.

Untuk negri-negeri yang sudah memiliki GDP perkapita tinggi tentunya akan lebih mudah melakukan efisiensi dan menghemat, dan mereka akan survive dengan penghematan energi. Tentunya cara global ini tidak harus diikuti Indonesia dengan begitu saja, karena posisi kita berbeda dengan mereka.

Tulisan terkait :

16 Tanggapan

  1. Semoga pemerintah kita memiliki program jangka panjang yang bagus supaya kita tidak kehabisan minyak dan energi untuk masa mendatang
    Ulasannya sangat luar biasa, terima kasih..

  2. semoga saja dunia nggak sperti yg kita bayangkn

  3. semoga anak cucu kita nanti masih ikut menikmati nya…..

  4. Minyak galian akan sentiasa memain peranan penting dalam hidup kita sebab teknologi bersabit dengannya telah dioptimumkan.

    Yang menjadi cabaran kepada masyarakat sekarang, agaknya paradigma atau “threshold” yang menutup minda manusia.

    Dengan adanya “air car”, jelas bahawa “peak oil” dan apa lagi secucuk dengannya saperti rekabentuk jentara kereta adalah hanya rationalisasi bizness saja.

    Tapi sekarang dengan masaalah ekonomi dunia 2 – 5 trillion US dollar telah hilang dari sistem dan ini ada buruk dan baiknya. Sekarang pemikiran dan prinsip engineering dalam “air-car” boleh diguna untuk apa saja jenis jentera yang perlu prinsip tenaga dalam jentera kerana udara di sana tiada had bekalannya!

    Balik kepada “paradigma” atau “threshold” tadi – kini satu lagi idea telah tercetus mengenai perubatan – bahwa prinsip-prinsip genomics dan proteomics telah mula memadamkan asas lama tentang kaedah pemikiran dalam “penyakit”.

    Satu usaha sekarang nampaknya telah tercetus untuk memahami “pertuturan” ada komunikasi antara perkara halus, agaknya tahap atomic di mana tiap-tiap satunya yang halus itu bertutur dan bercakap satu antara lain dan jika kita faham apa yang dibisikkan mereka, tahulah nanti bagaimana kita boleh tahu apa yang kurang atau lebih dan masuk campur dengan kaedah yang sekarang difahami sebagai “cansering” daripada idea “cancer”.

    Silaj tonton klip video ini dari “TED” yang benar-benar berinspirasi –

  5. wah,iya ya..bener bgd..solusi satu-satunya ya hemat itu ya :)b

  6. wah,,iya ya..betul betul betul…hemat solusinya..tapi,bisa gak ya..:-\

  7. setuju pakdhe…
    energi jangan terus diekspor… di Indonesia sendiri aja masih kekurangan energi ya Pak… 😀

  8. harus hemat energi….

  9. yang pasti kita harus proporsional menggunakan segala sesuatunya, menggunakan energi dengan tepat, otomatis nanti akan hemat, bukannya dihemat-hematin sampe gak bisa memproduksi sesuatu yang bermanfaat. trims infonya mencerahkan

  10. Sepertinya memang sudah jadi semacam hukum alam, peningkatan produksi menomor-duakan penghemat. Mana bisa mau dapat banyak tapi cuma berani keluar modal sedikit.

  11. Kalau begitu, apa masih memerlukan energi nuklir PLTN?

  12. selama in banyak yang berpikir efisiensi efisiensi..lupa bahwa selama tingkat produktivitas masih rendah, percuma juga melakukan efisiensi. masalahnya Indonesia itu udah produktivtiasnya rendah, boros lagi menggunakan energi. Tulisan yang mencerahkan.

  13. Setuju Pakdhe,… apartemen memang membentuk pola hidup yg komsopolitan…selain menghemat biaya transport, juga bs menurunkan populasi penduduk…coba lihat yg tinggal di apartemen, paling anaknya 1 atau 2….:)

  14. Menggunakan energi utk hal2 yg produktif …pas buanget Pakdhe, tapi kalo kita liat kemacetan dimana2, ini pemanfaatannya menjadi tidak produktif….apa bangun aparteman sebanyak2nya biar menjadi produktif lagi ya…??

    –> Membangun rumah secara vertikal berupa apartemen, rumah susun atau flat, merupakan cara cerdas menghemat transportasi. Namun disini ada pergeseran paradigma bahwa rumah tinggal tidak harus diatas tanah (“ngambah lemah”). Dan perlu dimnegerti bahwa rumah tingkat lebih aman dari gempa karena gempa lebih sering mematikan akibat beban atap. Faktanya rumah susun lebih tahan gempa ketimbang rumah kumuh yg atapnya genting berat sangat rawan rubuh.

  15. Dengan adanya shift tsb,brarti jga bhw kita adalah pola2 dari trend intelek(zeitgeist) tsbut.menarik pakdhe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: