Bahaya lahar hujan: erosi, sedimentasi dan suhu.


Terjadinya lahar hujan. Endapan piroklastik di hulu mengalir akibat curah hujan tinggi.

Terjadinya lahar hujan. Endapan piroklastik di hulu mengalir akibat curah hujan tinggi.

Jogja saat ini memang sudah masuk kategori aman dari erupsi Merapi. Walaupun Merapi masih dalam status AWAS, namun erupsinya sudah dalam taraf mendarat. Mbah Rono menyebutnya taraf landing. Kalau landing ya harus mulus supaya tidak terjadi goncangan.

😦 “Safe landing, happy ending ya, Pakdhe “

😀 “Betul Thole, saat mendarat juga kadang ada goncangan kecil itu biasa. Seperti saat menurunkan roda pendaratan dan mengatur sayap pesawat”

Tentunya tidak boleh terlena dengan kata “aman” erupsi. Namun juga harus WASPADA lahar hujan.

Ancaman Bahaya sekunder

Salah satu yang dikhawatirkan ancaman gunung Merapi berikutnya adalah ancaman lahar hujan. Lahar hujan artinya, aliran banjir material lahar yang diakibatkan oleh adanya curah hujan yang sangat deras. Yang dimaksud curah hujan deras ini sebagai patokan adalah data dari BMKG. kira-kira bila terjadi curah hujan 40-70 mm selama dua jam saja mampu meluruhkan lahar dingin.

Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta, kata Subandriyo, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, telah memperkirakan curah hujan akan meningkat. November ini curah hujan mencapai 200-300 mm (dalam satu bulan), dan akan menignkat menjadi 300-400 mm pada Desember nanti. Curah hujan tertinggi akan terjadi pada bulan Januari, hingga 500 mm dalam satu bulan.

Pemanfaatan lahan yang amburradul

Profil sungai dan pemanfaatannya

Ketika dalam kondisi normal sungai-sungai di Jogja yang memiliki profil berbeda ternyata juga dimanfaatkan secara berbeda. Memang ada yang patut disayangkan adalah pemanfaatan lahan bantaran kali sebagai pemukiman. Ini terutama pada daerah-daerah yang memiliki profil sungai relatif lebar.

Pada profil-profil sungai yang sempit disitu merupakan lokasi yang laing sering dipakai untuk membuat jembatan. Ya tentusaja kalau profil sungainya sangat lebar maka bentangan jembatan juga akan semakin lebar dan berbuntut pada biaya yang mahal.

Kudua profil ekstrim ini semestinya dimanfaatkan dengan arif dan bijak. Bagaimanapun sungai adalah jalannya air. Ini jatahnya air untuk mengalir, bukan jatahnya manusia untuk bermukim. Memang air memiliki jalannya yang sesuai dengan keperluannya. Sehingga ketika masa normal air hanya membutuhkan jalan kecilnya. Air yang mengalirpun jernih. Namun ada kalanya air memerlukan jalan yang besar ketika debit alirannya meningkat. Pada saat air membutuhkan jalan tentusaja air akan mengambil haknya untuk menuju ke laut sebagai tempat bermuaranya.

Pada saat banjir, sungai akan memiliki debit yang jauh lebih besar sehingga memelukan prnampang yang jauh lebih lebar untuk mengalirkan airnya. Ketika aliran sungai ini sangat besar maka tentusaja tinggi muka air sungai akan meningkat. Selain meningkat kecepatan alirannyapun juga semakin besar.

Pada proses lahar hujan, yang mengalir tidak hanya air, tetapi termasuk material-material hasil erupsi yang belum terbatukan.

😦 “Pakdhe kenapa erupsi tahun 2006 lalu tidak terjadi dampak lahar hujan seperti sekarang ?”

😀 “Selain materialnnya lebih sedikit, erupsi tahun 2006 terjadi pada bulan Mei. Puncak hujan biasanya bulan Desember hingga Januari. Jadi dahulu ada masa 6 bulan untuk material erupsi 2006 ini terbatukan. Erupsi tahun 2010 ini terjadi bulan Nopember, sehingga masa 2 bulan tidak cukup untuk membatukan endapan piroklastik ini”.

😦 “Apalagi ditambah perubahan hujan ekstrim ini ya, Pakdhe ?”

Saat terjadi aliran lahar hujan

Di tempat yang landai, maka kecepatan air akan lebih rendah. Lahar hujan dalam alirannya juga tercampur batu, kerakal, kerikil serta pasir, maka material-material padat dan berat ini akan cenderung diendapkan. Sehingga ketika berada ditempat yang landai inilah tempat endapan material padat termasuk kerakal, kerikil serta pasir akan mengendap.

Endapan material lahar hujan ini terdiri  dari material vulkanik yang apabila kering akan menjadi sekeras semen. Dengan demikian perlu segera dibersihkan sebelum mengeras membatu.

Ditempat yang memiliki profil sungai sempit jumlah air plus batu dan kerakal yang mengalir relatif sama. Sehingga kecepatan air ditempat itu akan semakin besar, selain kecepatannya bertambah, naiknya ketinggian air juga lebih tinggi ketimbang ditempat yang landai.

Ruang tamu yg teredam pasir sekitar 100 cm. Lokasi : Kampung Jogoyudan (Selatan Jembatan Gondolayu - barat sungai)

karena kecepatannya tinggi, maka ditempat ini tidak terjadi sedimentasi. Hanya batu-batu besar saja mungkin akan tersangkut sehingga tinggal disitu. Sedangkan material-material lainnya akan terus mengalir dengan kecepatan dan kekuatan lebih besar.

Kekuatan inilah yang sangat membahayakan konstruksi bangunan karena akan mampu mengerosi bahkan menghancurkan apa saja yang dilewati. Termasuk tiang-tiang jembatan serta rumah. Itulah sebabnya banyak jembatan ambrol karena profilnya yang sempit serta tenaga alirannya yang membesar.

Jembatan penghubung antara Kampung Terban dan Kampung Jetis Lokasi : Kampung Terban (Selatan Jembatan Jl. Sarjito - timur sungai) (29 Nop 2010)

Material yang dibawa tentunya material hasil erupsi sebelumnya termasuk si Gajah Bengkak.  Proses membawanya mirip seperti dalam video yang penrah didongengkan disini.

Lahar hujan sering diterjemahkan lahar dingin. Walaupun sebenarnya material ini juga bisa saja sangat panas. Suhu material piroklastik di daerah Ngancar (10 Km dari puncak Merapi)  masih memiliki suhu diatas 200 derajat celsius. Ini diukur pada kedalaman 1 meter dan tiga minggu setelah diendapkan.

Dengan demikian kita tahu bahwa ancaman lahar hujan ini adalah, sedimentasi, erosi, serta kemungkinan panas yang yang masih tinggi.

Salam WASPADA !

Dongengan terkait :

Iklan

4 Tanggapan

  1. Suwun informasinya Pakdhe.

    Kalau di merapi (dekat2 sabo dam) ada aktivitas penambangan pasir merapi. Dari sisi geologi gimana ya Pakdhe? logikanya bisa mengurangi tingkat pendangkalan stream akibat sedimentasi,supaya range sedimentasinya tidak jauh2 dari hulu (jauh dari pemukiman). Apa begitu?

    Terus term “mengontrol sedimentasi” maksudnya piye yaa Pak dhe? Pemukiman di DAS skrg2 hampir semua berada di dataran banjir yg notabene dulunya endapan sungai juga.

  2. Banjir lahar hujan itu penting “mengontrol sedimen”. Bagaimanapun hrs dipikirkan dimana diendapkannya.

  3. hem hm… pak De yang lcu n baek

    >>Endapan material lahar hujan ini terdiri dari >>material vulkanik yang apabila kering akan menjadi >>sekeras semen.

    oo gitu yaa, la kenapa ya PEMDA or masyarakat setempat ga dimanfaatkan untuk digunakan or dibuatkan or dikerus untuk dijadikan sebagai bahan/dinding pembatas bibir sungai (kiri kanan sungai) misal setingggi 2-5 meter setebal 2 meter, mulai dari hulu hingga ke hlir sungai yang ke laut itu …, dan tentu kalo INDAH dilihat bukan …

  4. luar biasa cerita ini, pengetahuan yang rumit disampaikan dengan cara yang sangat menarik. Ceritanya juga banyak bermuatan lokal sehingga terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata.
    Salut buat pembuatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: