Kearifan lokalpun perlu beradaptasi – 3 (Budaya Jawa dan gunungapi)


Dua tulisan sebelumnya menjelaskan bagaimana persepsi masyarakat Jawa yg hidupnya berdekatan dengan gunungapi. Ilmu pengetahuan moderen saat ini melihat gunungapi juga sebagai berkah dan ancaman, namun penanganan atau tepatnya mitigasi gunung dilakukan dengan cara berbeda. Bukan dengan pendekatan mistik tetapi dengan pendekatan ilmu pengetahuan (sains).

😦 “Emang dulu ngga pakai mikir Pakdhe ?”

😀 “Thole keduanya sama-sama menggunakan otak dan berpikir, hanya dasar dan cara berpikirnya yang berbeda. Bukan soal mana bener-mana salah, tetapi keduanya mesti dilakukan untuk menunjang kelangsungan hidup, Thole”

Budaya keyakinan (Cultural beliefs)

Hubungan antara orang Jawa dan lingkungan gunungapi (vulkanik) sangat kuat. Desa ini merupakan tempat tinggal mereka sejak lahir dan tumbuh berkembang juga merupakan tempat tinggal orang-orang dari nenek moyang mereka. Orang-orang ini relatif tidak suka berpindah karena itu sangat melekat pada desa kelahiran mereka (Koentjaraningrat, 1985). Untuk alasan itu, orang sering segan untuk mengevakuasi dan / atau terburu-buru untuk kembali pulang setelah diminta untuk menyingkir oleh otoritas setempat setelah terjadinya aktifitas gunungapi.

Sumbu Merapi-Parangkusumo. Patahan lama dari Merapi ke Bantul, yang aktif saat gempa Mei 2006, sejajar dengan sumbu suci utara-selatan antara Merapi dan pantai Parangkusumo. Adanya patahan lain dari Gunung Merapi ke Gunung Lawu dapat menjelaskan mengapa Lawu merupakan elemen penting keempat dalam merepresentasikan Jawa. (Sumber Lavigne dkk, 2008)

Kenyataan setempat ini juga dikondisikan oleh keyakinan yang lebih dalam berkaitan dengan representasi mental dari gunung berapi. Di Sumatera orang Batak orang di sekitar Mt. Sibayak, Mt. Sinabung dan Danau Toba adalah keturunan dari komunitas mantan berlayar, seperti yang terlihat dalam bentuk atap rumah tradisional mereka. Oleh karena itu, risiko vulkanik kurang-hadir dalam kepercayaan tradisional mereka daripada di Jawa, di mana representasi dunia berpusat pada gunung berapi. Meskipun zaman moderen saat ini masyarakat Islam Jawa telah menggantikan budaya-masing-masing sebelumnya dan telah menambahkan ke arah kenyataan kebenaran, setengah kebenaran dan mitos, Hindu dan Budha cosmogonies masih tetap hidup.

Upacara "labuhan" Merapi Agustus 2006

Kompleksitas spiritualitas sinkretis memainkan peran penting dalam membentuk reaksi terhadap kejadian sekitarnya. Disekitar lereng gunung berapi di mana Islam cukup kuat seperti di Dieng, beberapa pemimpin agama mengklaim bahwa letusan adalah peringatan dari Tuhan tentang kejahatan-kejahatan minum minuman keras kuat atau dosa-dosa lain seperti pelacuran. Ide-ide serupa juga menyebar oleh penginjil setelah letusan Gunung Saint-Helens pada tahun 1980 (Blong, 1984), atau di Banda Aceh setelah 26 Desember 2004 tsunami. Didaerah lereng Merapi, beberapa desa di dekatnya tidak percaya pada ilmu pengetahuan modern dan pemerintah, dan lebih mempercayai mitologi Jawa kuno (Schlehe, 1996).

😦 “Lah trus pripun Pakdhe. Mosok mereka didiamkan saja untuk tertimpa musibah ini ?”

😀 “Ini hasil sebuah riset ilmiah, menjadi PeeR besar kita semua, Thole”

Legenda

Hampir semua gunung berapi Indonesia memiliki legenda mereka sendiri, yang biasanya melibatkan dewa-dewa, pangeran dan putri, dan manusia (Mathews, 1983). Dalam kosmologi Jawa, yang kudus dan yang profan yang dimasukkan ke dalam suatu kerangka konseptual tunggal. Pentingnya hubungan antara unsur-unsur alami umumnya dipahami dalam hal skema biner yang saling melengkapi tetapi berada pada ruang yang saling berseberangan, keduanya dihubungkan oleh hubungan pertukaran. Contoh terbaik dari hubungan ini adalah polaritas gunung berapi-laut dimediasi oleh sungai yang dilalui bukit-bukit dan dataran di antara keduanya.

Dalam kosmogoni Jawa, Samudera India adalah rumah dari Ratu Kidul, Putri Selatan, yang terkenal untuk mempengaruhi aktivitas Merapi. Kutub berlawanan biasanya dihubungkan oleh sebuah garis rohani, yang sering berhubungan dengan patahan aktif. pola pemukiman adat biasanya berasal dari fitur kosmologi atau hubungan ideal. Seringkali keduanya terhubung bersama dalam skema pemerintahan tunggal.

Dunia Wayang Kulit, memiliki ciri khas yang terkenal yang merupakan gunung khayalan yang dinamakan Gunungan (gunung) atau Kayon (pohon). Kayon menunjukkan dua wajah yang berlawanan: Pohon Kehidupan, dan Pohon Kematian. Kedua wajah-pohon gunung berapi dari pohon kehidupan dan kematian-terwakili dalam kata Korban Jawa dan bahasa Indonesia. Kata ini berarti baik korban dan pengorbanan. Ketika penduduk desa yang tidak tercela, mereka menafsirkan kehancuran dari letusan oleh fakta bahwa gunung berapi perlu mempersiapkan resepsi.

Pola pembangunan pedesaan.

Pola desa ideal di Indonesia  diambil dari  Riggs (2003). Pembangunan candi Buddha Boroburur dan Mendut candi di Jawa Tengah didasarkan pada polaritas gunung-laut ideal.

Pola pedesaan/perkotaan mereka dibangun di atas garis spiritual di mana candi yang lebih kecil lainnya terletak diantara Merapi dan laut. Ini simbolis gunung kosmik telah digunakan oleh kuil-kuil Hindu dan Buddha, yang dianggap sebagai titik pertemuan antara para dewa dan manusia (Boomgaard, 2003, p 301; Dumarcay, 1986, p 88-91, Sevin, 1992, p 117). Kraton, tempat tinggal sultan, juga dibangun di sekitar sumbu otoritas, yang mencerminkan polaritas gunung-laut. Di Yogyakarta, ini adalah sejajar sumbu utara-selatan (gambar diatas) sedangkan di Jepara itu sejajar timur barat untuk berhubungan tepat ke gunung paling suci di wilayah tersebut. Desa-desa Bali dibangun dengan konsep kosmologi yang sama.

😦 “Whadduh Pakdhe, bagaimana mungkin jaman dulu kraton dibangun dalam sumbu yang lurus ini ya ?. Kan belom ada alat teropong”

😀 “Itulah thole Borobudur dibuat kontak teratur juga bukan dengan teknologi masa kini. Jadi seperti ditulis diawal, ada perbedaan cara pandang jadi jangan semena-mena dianggap klenik dan mistik secara negatif. Yang penting kita ketahui adalah ilmu apapun kalau ngga dikembangkan ya akan ketinggalan. Perlu adaptasi dengan perubahan”

Bersambung ….

Alih bahasa (sebagian) dari: Research paper “People’s behaviour in the face of volcanic hazards: Perspectives from Javanese communities, Indonesia” ditulis oleh : Franck Lavigne, Benjamin De Coster, Nancy Juvin, François Flohic, Jean-Christophe Gaillard, Pauline Texier, Julie Morin dan Junun Sartohadi, Journal of Volcanology and Geothermal Research, Volume 172, Issues 3-4, 20 May 2008, Pages 273-287.

Bacaan terkait

Iklan

8 Tanggapan

  1. Terima kasih. Saya memang peminat blog ini. Penuh ilmiah. Banyak knowledge tentang gunung berapi atau volcano yang sebelum ini saya belajar sewaktu muda2 dulu menyimpang drpd apa yg yang belajar dari buku ( yg sememangnya sudah usang ketikat itu. terima kasih.

  2. wah..wah..wah jadi kepingin tahu nih peradaban jawa masa lampau ?????

  3. majukan terus desa-desa di indonesia

  4. jd nambah pengetahuan thanks 🙂

  5. pakdhe para pendaki gunungpun masih banyak yang percaya gunung itu ada penunggunya. mereka sering berhadapan hal2 yang tidak bisa dinalar.


    –> Masih banyak fenomena alam yang sulit dan tidak bisa dinalar, dan perlu dimengerti dengan cara yang benar. Tapi apakah diselesaikan dengan menyerahkan tumbal dan labuhan atau dengan penelitian ilmiah ?. Ini bedanya antara pendekatan sains dan poendekatan spiritual.

  6. Congrat gan jadi pemenang kategori BRONZE. 🙂

  7. […] This post was mentioned on Twitter by maya dwi annisha, JALIN MERAPI and Yoga Hanggara, Rovicky Putrohari. Rovicky Putrohari said: Kearifan lokalpun perlu beradaptasi – 3 (Budaya Jawa dan gunungapi): http://t.co/wOAiBiK @jalinmerapi @jalinbromo #merapi #bromo […]

  8. Hm hm..

    pak Dhe, yg baik …
    menurut ku, cerita lagenda lama sangat boleh or perlu diketahui oleh masyarakat sekitarnya .. termasuk yang yang membawa masyarakat tradisonal mungkin akan percaya dengan ancaman, penringatan yang mungkin logi or sulit untuk dilogiskan dalam kerangka pikir ilmiah.. ya sekali lagi legenda, mungkin legemda tersebut jalan ceritamya ya benar seperti apa adanya kejadia yang sesuguhnya (ahli sejarha bisa ga buktikan ini) or malah udah berubah sedikit or malah banyak dari kejadian yang sebenarnya, ya siapa tahu juga khan, perubahan jalan cerita ini bisa juga dari akibat perkembangan dan persepsi masyarakat-masyarakat setempat yang juga berkembang pola pikirnya dan rasionalaitasnya) …..

    Nah, mungkinkah pak Dhe, … masyarakat baru (new generation) setempat (di area rawan bencana) yang akan datang kerangka pikir ilmiah nya harus sudah IMBANG dalam cara merespon baik secara non ilmiah (mungkin mistik, gitu) maupun secara ilmiha da rasionala dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru (sukur2 bahkan masyakarat menjadi lebih cerdas, arti persetasi pengethauan ilmiah mereka lebih kuat dimasa akan datang, gitu),
    untuk ini khan perlu di ajari mulai di SD SMP gitu khan pak dhe..

    Artinya, new generation people di area itu, tahu bagaiman CARA YANG PALAING BAIK harus merespon, kapan, dan kemana, ketika ada warning bencana secara ilmiah, … dan tahu juga jika belon ada warning .. juga tahu apa bagiamana cara sebaiknya memanfaatkan/menggunakan ke positifan di daerah rawan bencana tersebut, misalnya hanya untuk pengembngan bisnis objeck wisata gitu .. dst

    –Chytha, Saya mengimpikan pemanfaatan wayang kulit dalam menjelaskan mitigasi gunungapi. Jadi penjelasannya menggunakan bahasa rakyat walupun yg disampaikan hasil riset ilmiah. Mimpidotcom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: