Tragedi Bunker Merapi 2006 – Efusif bukan berarti aman terkendali


merapi8.jpg Pasca “njedulnya” pulau baru di kawah Gunung Kelud mengundang banyak tanya dan persepsi yang mesti harus di perhatikan bersama. Memang benar bahwa letusan yang BLARR memang berkurang kemungkinannya. Dan terjadi perubahan kemungkinan tipe letusan daril edakan explosive menjadi tipe pancuran atau lelehan effusive.

😦 “Jadi nanti letusannya brrruzzzz, gitu Pakdhe ” 😛 .
😀 “Kalau perkembangnnya memang terus dan tidak ada yang menyumbat ya memang bisa saja begitu. Tetapi bukan berarti kalau ada lelehan lava itu bukan berarti tidak berbahaya thole”

Ayo kita belajar dari Merapi. Salah satu tipe letusan effusive itu adalah Gunung Merapi, yang tahun lalu sempat mengeluarkan lava panasnya ke arah selatan. Lelehan lava Gunung Merapi ini sangat berbahaya. Nah seperti apa leleran lava panas ini ?

Lelehan lava Merapi 2006

Pada bulan Mei 2006, Jogja digoyang gempa yang disusul oleh letusan Gunung Merapi yang sebelum gempa sudah ditunggu-tunggu kejadiannya. Lelelah lava ini sebelumnya sudah diperkirakan oleh time BPPTK (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta) dengan empat buah sekenario, seperti yang tergambar dibawah ini.

merapi-1.jpgEmpat kemungkinan letusan itu hampir semua ke arah barat, dan satu kemungkinan juga ke arah selatan. Lihat warna-warna pada peta dibawah yang menggambarkan arah penyebaran lelehan lava serta awan panas.

Yang terjadi akhirnya leleran lava panas kearah selatan. Lava ini juga besamaan dengan luncuran awan panas, yang menewaskan dua orang. Keduanya berada didalam bunker yang tidak kuat menahan suhu dari leleran lava ini.

Seberapa besar leleran lava Merapi 2006 ini.

Leleran lava merapi tahun 2007 ini meluncur ke arah selatan setelah dinding yang dikenal dengan nama Geger Boyo Ambrol beberapa hari setelah gempa Jogja. Karena ambrolnya dinding inilah yang menyebabkan aliran lava serta luncuran awan panas kearah selatan. Luncuran lava ini hingga mencapai Kaliadem tempat dimana terdapat bunker persembunyian bila terkjadi luncuranawan panas.

Dibawah ini dua buah foto perbandingan sebelum dan sesudah terjadinya leleran lava wedus gembel.

merapi-2a.jpg

Bunker Kaliadem sebelum letusan 20006

Gambar pertama diambil di sekitar tempat wisata Kaliadem, didepan bunker . Pemandangan indah di depan bunker ini diambil sebelum terjadinya letusan bulan May tahun 2006. Coba perhatikan ketinggian/kedalaman lubang terowongan buatan ini yang didesign untuk kuat menahan terjangan awan panas.

merapi-2b.jpg

Bunker sesudah letusan 2006

Ketinggian dari bawah hingga ke atas ini kira-kira 15 meter. Bandingkan dengan foto disebelah kanan, Klick gambarnya untuk memperbesar. Sebagai pembanding lihatlah ketinggian orang yang berdiri diatas bunker ini. Terlihat kira-kira ketebalan lava yang menutup disini sekitar 3-7 meter !.

Dua orang yang tewas didalam bunker ini tentunya tidak mampu menahan panas dari lava.Konon ketika dibongkar tiga hari setelah kejadian suhu tanah/batu dipermukaannya masih diatas 80 bahkan hingga 120 derajat Celcius. Lihat perbedaan warna hijau dari hutan disebalah kanan dan warna kecoklatan karena terbakar awan panas disebelah timur lembah sungai.

Bagaimana dengan lokasi wisata Kaliadem ?

Dibawah dua foto sebelum dan sesudah letusan 2006 itu.

merapi-3a.jpg

Kaliadem sebelum letusan 2006

Disebelah ini gambar diambil di sekitar tempat kios-kios di Kaliadem. Bandingkan dengan gambar disebelah kanan sesudah dilalui lava panas ini.

merapi-3b.jpg

Kaliadem sesudah letusan 2006

Dari gambar disebelah kanan ini terlihat arah luncuran dari lava Merapi yang meluncur kearah selatan, kemudian menabrak perbukitan sehingga berbelok kearah kiri (barat). Lihat ketebalan lava yang menutup hampir separuh ketinggian rumah-rumah ini. Kalau anda perhatikan di Kaliadem saat ini tentunya dapat membayangkan bahwa sebenarnya kios-kios ini berada pada bukit igir-igir atau punggungan. Jadi lokasi kios ini bukan pada sebuah lembah. Jadi luncuran lava dengan kecepatan dapat mencapai 65 Km/jam iniakan mampu “mendaki” sebuah bukit.

😦 “Whallah, kalau dibawah ini sih Pakdhe narsis aja, kaan ?”
😀 “Hush kuwi nunjukin kalau bukit kiri dan kanan yang berbeda akibat terjangan awan panas thole. Terus perbedaan warna kehitaman itu akhir atau ujung dari awan panas. Jadi awan panas itu juga membawa material pasir dan juga kerikil” 😛

merapi-4.jpg

Jadi sekarang mestinya sudah tahu bahwa letusan efusif-pun juga dapat sangat-sangat berbahaya.

Untuk letusan 2010 ini belum dapat dipastikan kemana arah lelerannya. Sehingga perlu diiikuti berita dari Direktorat Volkanologi (VSI-Vulcanological Survey of Indonesia)

Salam WASPADA !

Iklan

37 Tanggapan

  1. […] Tragedi Bunker Merapi 2006 – Efusif Bukan Berarti Aman Terkendali […]

  2. […] extreme heat. I found a site with photos of what the bunker looked like before the 2006 eruption *click*. This is what it looks like […]

  3. […] untuk tempat menyelamatkan diri dari terjangan awan panas ketika gunung meletus. Bisa dilihat di sini kondisi bungker sebelum dan sesudah letusan tahun […]

  4. wah mantap pak dhe semoga bermanfaat untuk temen2 terutama yang sudah membaca dongeng dongeng dari pakdhe. kudoakan semoga selalu jaya dan sehat agar selalu dapat berdogeng untuk kita semua amin.

  5. moga semua ini ada hikmahnya

  6. Sekalian pak De minta informasi mengenai kegempaan dalam kaitannya dengan recording dan pembacaan dalam SR, amplitudo getaran, efek perusakannya dan seterusnya ….. jarak jangkau dari suatu titik gempa dan sterusnya ….

    matur nuwun … rahayu..rahayu… sagung dumadi

  7. Nuwun seweu ikut gabung dan share semua data yang ada dalam artikel ini untuk disebar luaskan ke seluruh Indonesia sebagai suatu proses pembelajaran bagi saudaraku S Indonesia dan generasi mendatang dibagian Timur sini….

    Wassalam,
    Dicky Saputra – the Wetarian

  8. Semoga cukup sampai disini bencana Indonesia…

  9. bebeng dan kinah.. berubah total

  10. Ass. Wr. Wb. mohon diijinkan untuk membaca dan gabung mengikuti artikel2 dongeng geologi

  11. hmmmmmm…….!!

  12. izin share ya pakde, moga2 tidak terjadi hal yg demikian, kasihan sedulur2

  13. pak dhe ysh.
    meski blm beli tanah/rmh, wong ya masih klumpuk2, saya pengin menikmati pensiun di yogya je. ning kok stl baca cerita merapi yang, nggegirisi gitu, kok mrinding ya. sepertinya yogya ga spt dulu lg..ada lahar yg arahnya tak bisa diduga, ada jalur gempa..
    njuk daerah mana yg aman u orangtua spt saya nanti ya? sekitar ibukota kab sleman kira2 amankah, pak dhe?
    matur nuwun.

  14. @murtado.
    jaman sampeyan era soeharto teknologi impormasi belom secanggih saat ini .so ada bom mleduk di kota sebelah aja taunya setelah sebulan kemudian. yo bisa dimaklumi to !

  15. ijin share di facebook,pak…

  16. Pak Dhe… mohon dijelaskan lagi tentang “Awan Panas” itu Pak Dhe.. karena istilah “Awan Panas” itu mengaburkan makna sesungguhnya… Awan Panas itukan materialnya berupa Lapilli (halaah nambah angel)… maksudnya pasir dan kerikil dan kerakal yang tentu juga debu dan gas-gas yang masih sangat panas..bukan anget lagi… panas…
    Hanya karena Geologist eh Vulkanologistnya saat bikin tulisan lagi kasmaran… jadi terlalu puitis lah istilah untuk ublekan pasir-kerikil-kreakal dan debu dan Gas panas tersebut… akhirnya… sebagian masyarakat yang terancam bahaya ublekan pasir-kerikil-kreakal dan debu dan Gas panas … bisa berkilah… halah ming “awan” ko’… begitu Pak Dhe… ya-e…
    salam

  17. emang gunung merapi itu dasyat. makasih loh ni bisa buat nyelesaiin tugas kami nuwun….tahanks, merci,

  18. Pak Rock,
    Ada hal yang menarik…
    Bapak berdiri di atas lapisan batuan yang mengandung radiasi gamma sebesar XX mrad (maaf saya tidak meberitahu)…
    kebetulan saya aktif sebagai relawan karena saya terpanggil untuk membantu sebelum erupsi bersama-sama rekan-rekan tergabung dalam Merapi Balerante 907… Jadi terpaksa menjadi pengangguran karena gak bisa bail ke Site…
    Saat erupsi saya ada di balerante sekitar 5 KM dari puncak… pemandangan yang luar biasa… saya menduga letusan (erupsi) tersebut letusan langsung terutama melihat hasil LOTEm dari Jepang sebelum erupsi sehingga reaksi magmatik juga akan keluar bersama batuan yang masih mengandung radiasi (fusi magma)… Saya beribnisiatif meminta bantuan rekan-rekan BATAN untuk mengukur radiasi pada batuan yang ternyata kalau Pak Rock lihat batuan yang berwarna merah itu masih mengandung radiasi… ada batuan yang mengandung radiasi cukup besar terpaksa di Evakuasi ke BATAN…
    Kapan-kapan saya kirimkan foto-fotonya…

  19. Efusif memang bukan berarti aman. Efusif hanya sebuah istilah bagi erupsi gunung api yang bersifat aliran, baik itu material lava yang mengalir maupun aliran piroklastik. Tipe erupsi ini lebih tenang dibanding Eksplosif yang menyebabkan terjadinya ledakan. Memuntahkan fragmen batuan Bomb, block, lapili, sampe debu yang halus (Tuf). Yang membawa dampak lebih besar dan dengan jangkauan yang lebih luas seperti “hujan batu”, huja abu dsb. Namun, aliran efusif tetap membawa bahaya yang tak kalah bahayanya. Aliran lava, dapat melelehkan material yang dilaluinya (suhunya aja bisa sampe 1300 C), gitu juga aliran pirolkastik (debris avalancehes) bisa membakar material yang dilaluinya (suhunya mencapai 815 C) kecepatannya antara 65-150 km/jam bener kata pakD Roviky “materialnya bisa sampe manjat bukit”.

    Tapi menurut saya Pak. Surono pasti jg udah tau akan hal ini. Masalahnya terkadang media yang membuat mainset “Dibilang aman, dibikin jadi kesannya tak akan terjadi dampak apa-apa”. Nah untungnya ada dari pakD yang menyadarkan, dan membuat mainset kebalikan. Bagus pakD, saya suka Blognya…

    Kalau ada waktu luang, kunjungi blog ku yah…
    http://blogofgeo.wordpress.com

    Dari Bandung…
    Lg belajar jg nih pakD

  20. jaman saya kecil dan muda dulu (jaman suharto) kok saya gak pernah denger ya, ada 4 sampai lima gunung di indonesia berstatus siaga alias siap untuk njebluk. Lha kok sekarang sering bgt saya mendengar berita seperti itu. Apakah ini karena cuma akses informasi skrg lebih maju dari jaman dulu, atau memang jaman sekarang jamannya gunung gunung indonesia ber demonstrasi??

  21. Asyik banget dongengnya. Apalagi tentang Gunung Merapi.

    Boleh cerita sedikit tentang sebuah batu besar ( yen gedhene > rumah type 36 satuane sebuah, seonggok apa secuil? )
    Lokasinya 7°41’25.16″S 110°26’31.94″E
    di Google Earth tidak terlihat karena tertutup pohon-pohon.
    Bentuknya tidak teratur tapi licin warna hitam.

    Mohon dijelaskan asal mula batu itu.
    -apa dulu terbang atau ngglundhung dari Gunung Merapi ?
    -apakah njedul dari tanah?
    -kapan pembentukannya?

    Terimakasih.

  22. Pak Rovicky,
    salam kenal…boleh ya blog-nya saya link di blog saya. Blog saya mah cuman cerita2 doang. Tapi sy suka ama yang namanya geology gini. Apalagi yang nerangin juga pinter. Jadi aku nih mudeng…makasih..

  23. Pak De,
    Saya mau nanya lagi nich!! Akibat letusan Merapi thn 2006, berapa jauh kira2 jarak yg bisa ditempuh oleh lelehan lava Merapi & luncuran awan panasnya? Dan seberapa luas daerah yg mengalami kerusakan akibat letusan merapi 2006? Makasih.
    Hmmmm…. jadi pengin liat Pak Dhe kalo batuk, apa juga bisa medeni kayak gunung api gitu??? 😀

  24. G.Kelud berubah perilaku ?
    Saya pernah denger, katanya GUNUNG itu termasuk mahluk hidup, bahkan pernah ditawarin jadi kalifah di bumi.
    Mungkin perubahan perilaku G.Kelud dan G.Merapi sebagai “tanda” bahwa Gunung juga mahluk hidup.
    Bener kah Pak Dhe?

  25. Mampir mas .. habis jalan-jalan …. ada beberapa interperstasi ttg gunung kelud seandainya tidak jadi meletus maka energi magma yang tetahan tidak keluar akan mencari ruang gerak sedemikian rupa. Analogi dengan Merapi yang hanya meletus dg wedus gembelnya disusul gempa di Bantul .Wallahua’lam

  26. pakde,
    saat ini saya ingin tahu bagaimana proses “kematian” gunung berapi? yang saya tahu, banyak terdapat gunung api yang tidak aktif lagi seperti gunung Wilis dan gunung Kawi yang “tetangganya” gunung kelud itu. tolong ya dijelaskan.

  27. Pakde, perbedaan type letusan (erupsi) itu disebabkan faktor apa? Apakah struktur kubah & batuannya, atau faktor lain, misalnya perbedaan kandungan magmanya? Maaf ya pakde, si thole nanya teruuss..

  28. wah,,nek dolan neng kaliadem wis gersang bgt de. Ra koyo mbiyen sing isih ijo.

  29. Pakde, aku yo duwe foto persis nggone sampeyan, yang di kaliadem.

  30. Mau tambahin
    Betul pak Rovick G. Kelud masih berbahaya, effusif nya jangan dibayangkan koyo Hawai atau Etna. Di G.Kelut itu terdapat sekurang-kurangnya ada tujuh Kubah lava yang terbentuk dimasa sejarahnya. contoh. Puncak G. Kelud itu kubah lava, G. Lirang juga kubah lava, G. Sumbing juga Kubah lava, G. Gajah Mungkur juga lava, G.Umbuk, G Kromasan, dll nya. jadi periode pembentukan kubah lava ini didalam sejarah pembentukan aktivitas G. Kelud sebenarnya berkali-kali diakhiri kubah lava. itu hal biasa di G. Kelut. Hanya memang dalam sejarah aktivitas 4 kali letusan terakhirnya dengan bledoss kuat kemudian diakhiri sumbat. seperti 1919, 1951, 1966, 1990. memang yang sekarang belum tahu kan belum berakhir. Sewaktu-waktu bila tenaganya masih ada kubah bisa tambah tinggi. apakah danau kawah jadi hilang atau tidak kan belum tahu.
    ma kasih

  31. Farieq,
    Pada prinsipnya arah aliran itu sama saja dengan aliran lahar, karena sekedar mengikuti gravitasi. Jadi sepanjang jalur lahar tetap paling berbahaya. Peta yang dibuat PVMBG aku rasa masih valid sebagai pedoman sementara. Kalau nantinya ada dinding yang runtuh ya tentu saja harus dimodifikasi lagi. Seperti runtuhnya dinding Geger Boyo di Merapi wektu itu.

    Ana
    Wah mesti lihat bathuk-ku ya .. 😦

    Kalau yang disiapin … mmm ya terutama kaki, buat lari !!! Apa iya bisa lari kecepatan 65 Km/jam ya 😛
    Tentunya “memonitor aktifitas” itu adalah cara yang paling tepat. Sehingga mampu menghindar sebelum dikejar.

  32. Wah! Pak De klo lagi in action gitu ok juga tuh dibandingkan gunung merapinya.. hehehehe.. 😀

  33. Wah! udah kedahuluan mas farid..
    Ada tambahan dikit pak Dhe, apa saja yg harus disiapkan untuk mengantisipasi “kentut” dan “muntahan lava cairnya Si Kelud ini? Mohon dijelasin ya Pak De.

    Makasih..

  34. dhe…
    anggap letusan kelud sekarang akan bertipe effusive, tentu ini merupakan sejarah baru bagi kelud, berarti perlu edukasi bagi masyarakat sekitar kelud tentang bahaya awan panas dan lelehan lava dan itu menurut saya bukan pekerjaan mudah 😦
    terus kalo letusan effusive bisa diprediksi nggak kemungkinan bakal mengarah kemana dan seberapa jauh?
    suwun

  35. Lek Krakatau, yak opo Dhe, jarene lontaran batu apung panas’e iso tekan pantai anyer, merak….?? jarak’e kiro2 75-an Km, abune iso nutupi srengenge nok Jkt (jarak’e 200 Km langkung),….terus lek Gn Salak karo Gn Gede sing cieudek Jkt lek Mbledoosh,…iso gak Dhe letusanne koyok letusan Krakatau……??Tks Dhe.

  36. Pak De,
    Terima kasih, tadi siang saya tanya tentang Merapi.
    Eh malam ini saya baca Erupsi Merapi 2006 sebagai pembanding belajar G. Kelut.

    Satu pertanyaan lagi Pak De. Mengapa arah lahar bisa pindah ke timur (Klaten)? Pada hal sudah berabad-abad selalu mengarah ke barat (Magelang dan Sleman sisi barat).
    Kami di Magelang “kehilangan” pesona Merapi, karena tidak melihat lagi lidah-lidah api.
    Apakah mungkin juga bisa ke utara seperti ke Selo, Boyolali, entah berapa ratus tahun lagi? Faktor apa penyebabnya?

    Terima kasih Pak De

    Salam tentram Merapi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: