“Kerjakan dulu soal yang termudah”, kata bu guru SD.


corrupt.jpg

Iseng-iseng pagi ini menulis status di FaceBook ”

“Salah satu cara mudah mengurangi korupsi adalah mengutamakan transaksi lewat rekening bank dan dilarang memakai kwitansi atau nota pembayaran” sebagai bukti transaksi resmi.

Tanggapannya beragam diantaranya :

  • Memangnya dalam bank ndak bisa terjadi korupsi to, Mas?
  • Lha njur piye ……rekening “gendut” saja sampai saat ini mung poco2 saja
  • lha, struk dari bank itu bukannya fungsinya sama dengan kwitansi atau nota pembayaran? Korupsi bisa diberantas itu bukan karena merubah moda transaksi pembayaran, tapi dengan jalan penegakan hukum. Gayus bisa punya duit di bank 110 M, tapi tuduhan yang dituduhkan cuma 570-an juta IDR dan suap 40rb USD 😦
  • inget Pak kasus BLBI , transaksi berantai melalui rekening yang bercabang2…

Semua ada tahapnya

Salah satu berpikir yg korup (corrupted mind) adalah menggunakan ‘jalan pintas’. Tidak ada “single silver bullet” dalam melawan korupsi. kalau anda berpikir “ah itu ngga menghilangkan, ah ini ga mungkin, itu cuman sebagian kecil” dsb, merupakan awal “corrupted mind“.

Awal tulisan ini sebenernya berangkat dari keluhan Seorang kawan yg berkecimpung di Media bilang begini ”

Cuma ngasih satu contoh kasus nyata saat sebuah XXXX xxxx beriklan di majalahku, Exxxx. Harga placement iklannya Rp 40juta, sudah diskon 30 persen. Yang dibayar ke Exxxx cuma Rp 30juta, sedangkan Rp 10juta masuk kantong oknum Humas XXXX  xxxxx itu. Kuitansinya sih masih Rp 40juta.
Kalau kita gak setuju sama si oknum, ancamannya Exxxx gak dapat jatah iklan lagi. Nah, gitu tuh contoh nyata XXXX yang katanya “Budaya korupsinya sudah lagi tidak kental”

Kenapa Malesa lebih sdikit korupsinya dibanding Indonesia, salah satunya adalah metode membayar listrik, air, membayar PKB, membayar asuransi dll lewat bank. Bahkan kembalian asuransiku yg hanya 15Ringgit, dikembalikan lewat rekening bank, bukan cash dan kuitansi ! “Maaf Pak Cik, I need your account number“, begitu kata pegawai asuransinya.

Korupsi besar itu awalnya kecil. Memberantas yg kecil lebih mudah. Kalau kata bu guru “kerjakan dulu soal yg mudah“. Jangan terlalu mikirin ikan hiu sekals Gayus pikiran anda langsung menjadi “corrupt“. Ketika kita mencoba mengalahkan ikan hiu ‘Gayus’, barapa koruptor baru yang muncul. Kalau polisi nangkep ikan teri, akan lebih mudah “mithes”-nya. Kalau sudah jadi harimau, anjingpun diterkamnya.

Tulisan sederhana tentang sampah korupsi pernah ditulis disini :

12 Tanggapan

  1. dimana2 KORUPSI….
    mau dibawa kemana INDONESIA ini…. !!

  2. Tul. Makanya POLRI mati-matian menolak pembayaran tilang, STNK, SIM dll via Bank. Kenapa ? Ya karena ada udang dibalik bakwan.

  3. bagus tuh, terutama untuk denda tilang, biaya di SIM, STNK, KTP, setor nya ke bank, kita tinggal serahin bukti setor ke petugas

  4. ijin copypas buat status fb saya

    –> SIlahkan

  5. wah, tertipu saya, saya kira membahas mengenai kenapa sih harus mengerjakan soal yang mudah dulu baru yang sulit, ternyata membahas menngenai kasus korupsi di mana yang satu kalimat ini hanya segelintir kecilnya saja. benar-benar suatu hal yang tidak disangka-sangka. namun memberantas korupsi di Indonesia memang membtuhkan tekad yang besar dan dukungan dari semua pihak. artikel yang menarik (membuat saya tertarik untuk membacanya soalnya, hahahaha) terimakasih

  6. Selain memperbaiki sistem (misal pembayaran lewat bank), pemberantasan korupsi juga harus dimulai dari hati nurani sendiri. Salah satu kelemahan orang Indonesia, yaitu tidak menggali ajaran spiritual para pendahulunya, lebih senang meng-impor dari luar negeri (sampai2 garam, beras, gula, .. juga impor). Kalau India punya Mahatma Gandhi, kalau Cina punya Lao Tse, Konfusius, Sun Yat Sen. Kalau Indonesia ? … ada lho … Dr.Sosrokartono (kakaknya ibu RA Kartini, dan guru spiritualnya Bung Karno), bisa dicermati riwayat hidup beliau, petuah dan perjuangannya, serta kemampuannya menguasai 28 bahasa. Masih banyak lagi tokoh perjuangan bangsa ini, tetapi anak cucunya (gue juga nich) … sontoloyo, amburadul ….

    Donlod Sosrokartono Raden Mas Panji Sosrokartono

  7. Dulu pas reformasi saya berharap seluruh peg neg di negeri ini di berhentikan dan diganti yg baru yg belum tau korupsi, tapi ternyata mas mbak dan gus gak berani

  8. bener juga idenya

  9. Pantes pakde, di kantor lama saya, sisa pj-an kurang dari 1ribu pun harus dikembalikan ke keuangan kantor via bank. Seringkali biaya transfernya lebih besar daripada yang ditransfer 😀

  10. Ide bagus juga Pak, untu indonesia lebih baik

    salam

    MAS

  11. tulisan yang simpel yang menarik, semoga usulan kecil dari pola pikir sederhana bisa mengurangi budaya korup yang semakin akut di negeri ini.

  12. Bener pakde, spt negri tempatku mencari sesuap nasi ini, serba via bank (debit/kredit card) & online dg polisi. Kalo bersisa dikrim kembali ke rekening tsb. Tp kalo nunggak polisi jg yg datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: