Apa maksudnya WASPADA GEMPA ?


Ngga mungkin diperkirakan kapan terjadi

Gambar penampang dari Samodra Indonesia memotong Palung Sumatra-Jawa. Ngga mungkin diperkirakan kapan gempa akan terjadi

Walaupun sudah diberitahukan bahwa gempa ndak bisa diramalkan sangat detil hingga dalam orde jam. Bahkan dalam orde hari atau minggu dan tahun kapan akan terjadinyapun ngga mungkin dilakukan secara ilmiah,  Yang dapat dilakukan secara ilmiah hanyalah mengerti bakalan ada atau daerah (zona luas) yang berpotensi gempa.

Padahal terjadinya gempa dan juga bencana ikutannya tsunami maupun longsor terjadi dalam orde menit setelah terjadinya gempa. Oleh sebab itu kita berbicara ketelitian hingga tahunan, bukan bulanan atau harian.

Jelas tidak mungkin meminta masyarakat untuk berjaga-jaga selama sepuluh tahun bersembunyi di kolong. Tetapi kewaspadaanlah yang perlu dimiliki. Banyak pertanyaan seputar kewaspadaan terhadap bahaya gempa ini . apa maksudnya WASPADA ?

WASPADA GEMPA

Ada beberapa point utama yang perlu diperhatikan dalam hal ini :

  • WASPADA itu bukan hanya ditujukan ke si (calon) korban bencana. Namun kewaspadaan ini perlu dimiliki oleh banyak pihak termasuk si penolong TIM SAR, pemerintah daerah dan pemerintah pusat juga pejabat dan masyarakat lain pada umumnya.
  • Salah satunya JANGAN NUNGGU LAPORAN ! perhatikan data ilmiah yang sudah tersedia. Besarnya, lokasinya, kedalamannya dll. Data ini memang tidak 100% benar, tetapi gunakan data terakhir yang ada.
  • Lihat parameter gempa. Konsentrasikan pada skala Mercali- MMI, bukan magnitude yang lebih bermakna pada kajian saintific atau kajian ilmiah. Skala Mercali-MMI akan lebih menunjukkan derajat kerusakan di permukaan.
  • Masyarakat perlu (wajib) memiliki “ILMU” atau pengetahuan tentang kegempaan dan kondisi lingkungan sekitar tempat hidupnya.

Waspada itu bermakna SIAP !.

monyet.jpg

Kaget artinya ga siap !

Waspada itu berbeda dengan was-was. Waspada dalam bahasa inggris disebut alert, sedangkan was-was itu worry. Ada sedikit rasa takut dalam rasa was-was, tetapi ada kata SIAP dalam makna waspada. Demikian juga akhirnya orang yang waspada harus siap menghadapi apa saja yang bakal terjadi.

Seperti kita tahu, gempa merupakan aktifitas endogen, aktifitas dari dalam bumi. Namun tidak seperti volkanisme, gempa memiliki karakteristik khusus yaitu SULIT DIDUGA !. Gempa juga berbeda dengan bencana akibat fenomena atmosferik, misal hujan, banjir, badai, angin puting beliung dan lain-lain.

Karena sifatnya yang MENDADAK inilah maka gempa memiliki ciri khusus dan cara khusus dalam berkenalan dengannya. Jangan sampai hanya mampu terkaget-kaget ketika terjadinya sesuatu. Kaget itu mengandung arti tidak siap. Jadi waspada boleh diartikan tidak terkaget-kaget ketika hal itu terjadi.

Ingat tulisan scenario-planning ? Coba baca lagi cerita membuat skenario disini .

Dalam bahasan resmi dan lebih ilmiah, peningkatan kewaspadaan terhadap bahaya bencana gempa dapat dilakukan dengan mitigasi. Namun sayangnya yang konsen terhadap mitigasi kegempaan ini belumlah mendarah daging di dalam masyarakat.

Beberapa ciri  penting fenomena kegempaan yang perlu diketahui adalah :

  • Datangnya tiba-tiba.
    • Seringkali bergetar awal, gempa utama (main shock) selama 1-2 menit, kemudian ada jeda sekitar 10-15 menit diikuti gempa susulan.
    • Gempa susulan lebih kecil dari gempa utama, lama dan besarnya tergantung dari besarnya gempa utama.
  • Goyangannya merusak bangunan yang sudah ada.
    • Gempa tidak menyebabkan kematian, tetapi bangunan dan runtuhan (longsoran) yang menyebabkan kematian
    • Bangunan yang terkoyak oleh gempa utama seringkali menjadi hancur lebur pada gempa susulan.
  • Hujan yang terjadi setelah gempa akan sangat berisiko menyebabkan longsoran lebih parah.

Dengan mengetahui ciri goyangan gempa maka dapat diambil tindakan penyelamatan yang sesuai. Ketika terjadi gempa hindakan diri dari kejatuhan benda. Usaha penyelamatan diri harus melihat kedua aspek diatas. Ketika dalam bangunan gedung usahakan keluar. Tetapi kalau berada di lantai atas, usahakan menghindari dari jatuhan.  Ketika jeda antara gempa utama dan susulan, usahakan lari menghindar keluar bangunan.

Mitigasi.

Mitigasi adalah salah satu usaha untuk mengurangi risiko dalam menghadapi bencana (bahaya). Sudah banyak ditulis tentang perlunya mitigasi bencana-bencana di Indonesia ini. Dibawah ini salah satu contoh panduan pengetahuan tentang mitigasi gempa yang diambil dari UNDP.

  • Mekanisme kerusakan
    • Energi getaran yang dikirimkan lewat permukaan bumi dari kedalaman. Getaran menyebabkan kerusakan dan menghancurkan bangunan-bangunan, yang pada gilirannya bisa membunuh dan melukai orang-orang yang bertempat tinggal di situ. Getaran juga mengakibatkan tanah longsor, pencairan, runtuhnya bebatuan dan kegagalan-kegagalan daratan yang lain, yang merusak tempat- tempat hunian di dekatnya. Getaran juga memicu kebakaran berganda, kecelakaan industri atau transportasi dan bisa memicu banjir lewat jebolnya bendungan-bendungan dan tanggul-tanggul penahan banjir.
  • Parameter kedahsyatan
    • Skala ukuran ( Richter, Momen Seismik ) menunjukkan jumlah energi yang dikeluarkan pada episenter- ukuran dari satu daerah yang terlanda gempa bumi secara kasar terkait dengan jumlah energi yang dikeluarkan. Skala intensitas ( Mercalli yang Dimodifikasi, MSK ) menunjukkan kekuatan dari getaran bumi pada satu lokasi-kekuatan getaran juga terkait dengan banyaknya energi yang dikeluarkan, jarak dari episenter gempa bumi dan kondisi- kondisi tanah setempat.
  • Penyebab
    • Pelepasan energi oleh penyesuaian- penyesuaian geofisik jauh di kedalaman bumi sepanjang daerah retakan yang terbentuk di dalam kerak bumi. Proses-proses tektonis dari gerakan benua yang lamban di atas permukaan bumi. Pergeseran-pergeseran geomorfologi setempat. Aktivitas vulkanis.
  • Pengkajian bahaya dan teknik-teknik pemetaan
    • Kejadian gempa masa lampau dan pencatatan yang akurat dari luas lahan dan pengaruh- pengaruhnya: kecenderungan gempa bumi untuk muncul lagi di daerah-daerah yang sama setelah masa seratus tahun.
    • Identifikasi darisistim-sistim retakan gempa dan daerah- daerah sumber gempa. Dalam kasus-kasus yang langka sangat memungkin-kan untuk mengidentifikasikan faktor penyebab kerentakan-keretakan secara sendiri-sendiri.
    • Pengukuran akan probabilitas adanya kekuatan-kekuatan gerakan bumi yang beragam pada satu tempat sehubungan dengan masa kembalinya ( waktu rata-rata antar kejadian ) untuk satu intensitas.
  • Potensi pengurangan bahaya
    • Tidak ada. (dalam artian mengontrol gempanya)
  • Serangan dan peringatan
    • Seketika. Sampai sekarang tidak memungkin- kan untuk meramalkan munculnya gempa bumi dalam jangka pendek dengan tepat.
  • Elemen-elemen yang paling beresiko
    • Kumpulan-kumpulan bangunan yang lemah dengan tingkat hunian yang tinggi.
    • Bangunan- bangunan yang didirikan tanpa perhitungan teknik sipil oleh pemilik rumah: tanah, pecahan batu dan bangunan dari batu tanpa diperkuat oleh kerangka.
    • Bangunan-bangunan dengan atap yang berat.
    • Bangunan-bangunan tua dengan kekuatan samping yang kecil, bangunan-bangunan yang berkualitas rendah atau bangunan-bangunan dengan konstruksi- konstruksi yang cacat.
    • Bangunan-bangunan tinggi yang jauh dari gempa bumi, dan bangunan-bangunan yang dibangun diatas tanah yang lembek. Bangunan-bangunan yang ditempatkan pada lereng-lereng yang lemah.
    • Infrastruktur di atas tanah atau tertanam di dalam tanah-tanah yang mengalami perubahan bentuk. Pabrik-pabrik industri dan kimia juga mendatangkan resiko sekunder.
  • Strategi-strategi mitigasi utama
    • Rekayasa bangunan-bangunan untuk menahan kekuatan-kekuatan getaran. Undang-undang bangunan gempa.
    • Kepatuhan terhadap persyaratan-persyaratan undang-undang bangunan dan dorongan akan standar kualitas bangunan yang lebih tinggi.
    • Konstruksi dari bangunan-bangunan sektor umum yang penting menurut standar tinggi dari rancangan teknik sipil.
    • Memperkuat bangunan-bangunan penting yang sudah ada yang diketahui rentan. Perencanaan lokasi untuk mengurangi kepadatan penduduk di perkotaan di daerah- daerah geologi yang diketahui dapat melipat gandakan getaran-getaran bumi. Asuransi, penetapan zona gempa dan peraturan- peraturan tata guna tanah.
  • Partisipasi Masyarakat
    • Konstruksi bangunan-bangunan tahan gempa dan keinginan untuk bertempat tinggal di dalam rumah-rumah yang aman terlindung dari kekuatan-kekuatan gempa. Kesadaran akan resiko gempa bumi.
    • Aktivitas-aktivitas dan pengaturan isi bangunan dilakukan dengan selalu mempertimbangkan adanya kemungkinan getaran bumi.
    • Sumber-sumber kebakaran yang terbuka, peralatan yang berbahaya dan sebagainya dibuat stabil dan aman.
    • Pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan pada saat terjadi suatu gempa bumi; partisipasi dalam latihan-latihan gempa bumi, praktek-praktek, program-program kesadaran umum. Kelompok-kelompok aksi masyarakat terhadap perlindungan sipil: pelatihan pemadaman kebakaran dan bantuan pertama. Persiapan memadamkan kebakaran, alat-alat penggalian dan peralatan perlindungan sipil yang lain. Rencana-rencana perkiraan untuk pelatihan anggota-anggota keluarga pada tingkat keluarga
Mitigasi Gempa Bumi - UNDP

Mitigasi Gempa Bumi - UNDP

Lengkapnya silahkan di unduh disini : Mitigasi-Bencana (1.5 MB)

Tulisan terkait

30 Tanggapan

  1. Gempa memang sukar ditebak.
    Ya lebih banyak berdoa saja

  2. Om RDP, mohon ijin beberapa link ku-share di FB, berharap temen yg lain bisa langsung kenal dan mengambil manfaat situs ini … yg banyak pencerahan. Bst regrd, … matursuwun.

  3. Pak Rovicky, baru2 ini pihak BPLS di Lusi mengatakan bahwa sesaat sebelum gempa Padang maupun di Sukabumi, terjadi kick di Lusi sehingga semburan mencapai beberapa meter. Kemudian saya juga mengamati bahwa saat ini frekwensi gempa dari Sumatra-Jawa-Bali-Sulawesi, ternyata terjadi terus (data dari BMG) tetapi minus Jatim (sangat sedikit sekali akhir2 ini). Saya sbg orang awam jadi berpikir, apakah lempeng Australia tsb jadi lebih mudah masuk di Jatim, gara2 Lusi?
    Saya juga berpikir jangan2 gempa Jogja dan lain2 jadi “lebih mudah terjadi” apakah gara2 Lusi (kalau nggak salah gempa Jogja itu juga diperdebatkan kaitannya dgn Lusi)?
    Apakah Pak Rovicky bisa menjelaskan/menggambarkan gerakan lempeng seperti diatas tsb, digabungkan dgn gambar Lusi (posisi Lusi) pada lempeng tsb?
    Terima kasih.

  4. Pak Dhe & Teman2 pembaca
    mencermati berbagai reaksi yang terjadi di masyarakat dan berbagai pihak2 terkait dengan gempa bumi belakangan ini, alangkah lebih baik kalau kita bersama-sama sesuai dengan kemampuan dan latar belakang kita masing-masing meningkatkan upaya-upaya mitigasi, terutama pada Potensi Pengurangan bahaya yang pada tulisan diatas digaris bawahi dan dicetak merah “Tidak Ada”. dari kalangan ilmuwan dengan perangkat dan teknologinya serta keilmuannya, dari kalangan pemerintah dengan kapasitasnya sebagai pihak pembuat kebijakan dan regulasi serta sebagai “pengayom rakyat”, dan dari kalangan lainnya tentunya Masyarakat bila diajak berpartisipasi ternyata mampu untuk mengurangi risiko bencana yang mengancam daerahnya… di daerah wukirsari,bantul yogya sudah ada forum pengurangan risiko bencana tingkat masyarakat yang sudah dapat mengurangi risiko bencana yang setiap tahun melanda yaitu kekeringan. dan pada musim kemarau tahun ini (2009)bersama dengan instansi terkait di pemerintah bisa mengatasi kesulitan air bagi beberapa wilayah di kabupaten bantul diluar wilayah wukirsari. kerjasama antar stakeholder terkait dengan masyarakat bila terjalin dengan baik maka persolan-persoalan yang ada(memenuhi kebutuhan air di musim kemarau bagi masyarakat) dapat diatasi bersama-sama dan biaya nya menjadi lebih murah. Tentunya Partisipasi masyarakat pun menjadi suatu hal yang sangat penting dalam hal ini.
    Mari bersama-sama kita mulai untuk menghilangkan : Tulisan bergaris bawah dan dicetak merah pada “Potensi Pengurangan Bahaya” : Tidak Ada Menjadi : ADA……..
    Sekian dulu Pak Dhe dan temen2
    Salam

    RDP –> Pengurangan potensi ini diartikan sebagai mencegah terjadinya gempa. Hingga saat ini mencegah gempa masih tidak mungkin. Kalau mencegah letusan gunung api dengan rekayasa jelas ada, contohnya Gunung Kelud dengan terowongannya.

  5. Mas Rovicky dan kawan-kawan pembaca blog tercinta,

    Menurut saya, masih diperlukan deteksi dengan melebarkan spektrum deteksi dan memperbanyak variasi teknik deteksi gempa. Meramal datangnya gempa memang istilah yang kurang tepat. Tetapi waspada akan datangnya gempa pada suatu lokasi tertentu dalam kurun waktu tertentu, bisa dilakukan dengan baik. Alam ini bersahabat kok, cuma kita saja yang ‘telmi’ menangkap dialog alam.

    Jaringan 64 stasiun seismograf yang terpasang di berbagai tempat di Indonesia telah secara kontinyu merekam datangnya gelombang seismik. Gelombang yang datang berurutan tadi mempunyai karakter yang berbeda-beda. Saintis sudah mengenali ini dengan baik: berapa frekuensi dan amplitudonya. Teknologi komputasi juga mampu melakukan filtrasi gelombang hingga dapat menyaring data dan membuang ‘noise’. Sehingga dapat dipakai sebagai tanda awal datangnya gempa.

    Bila episenter terlampau dekat dengan lokasi penduduk, maka tibanya gelombang-P pada stasiun seismograf terlampau singkat waktunya untuk dapat menginformasikan kepada masyarakat akan datangnya gelombang-S yang merusak. Akhirnya informasi datangnya gelombang-P ini hanya akan banyak bermanfaat untuk menghitung posisi episenter, longitude, latitude dan kedalamannya.
    Kita perlu pendeteksi lain yang bisa menginformasikan akan terjadinya gempa yang lebih besar. Geosaintis saat ini sepakat belum ada alat (geofisika) yang bisa memberikan signal awal akan datangnya gempa.

    Kita perlu terbuka (open minded). Mencoba ‘berdialog’ dengan alam, dan menangkap signal-signal alam yang dikirimkan. Binatang rupa-rupanya menyangkap beberapa signal itu. Awan yang bergerak di langit juga pada beberapa kesempatan sebelum gempa menunjukkan perilaku anomali.

    Mengamati perilaku anomali dari binatang menjelang letusan gunung berapi, gempa atau tsunami, kita bisa menarik kesimpulan bahwa binatang-binatang tersebut menangkap pancaran gelombang yang datang lebih dahulu dari sumber gempa di dalam bumi sana. Pancaran gelombang yang menjalar lebih cepat daripada gelombang seismic (P,S, Love dan Rayleigh). Gelombang apa yang datang lebih awal tersebut? Pada frekuensi berapa? Apakah ultrasound? Electromagnetis? Listrik? Magnetis? atau apa? Femomenanya jelas teramati beberapa menit bahkan beberapa hari sebelum peristiwa terjadi, tetapi belum ada yang benar-benar serius mengukurnya. Padahal dengan informasi ini akan banyak nyawa dan harta benda dapat terselamatkan.

    Misalnya saja kita asumsikan gelombang ultra sound yang dipakai. Binatang berkomunikasi antara sesamanya dengan frekuensi yang lebih tinggi dari manusia, maka kanal frekuensi itulah yang kemungkinan dipakai oleh gelombang yang merambat dari potensi episenter.

    Sensor gempa perlu dilengapi dengan kemampunan merekam pada spektrum yang lebih lebar. Biarkan geophone yang dipakai tanpa filtrasi frekuensi tinggi, termasuk frekuensi komunikasi binatang. Resikonya, data akan melimpah berlebihan dan butuh memori digital yang banyak sekali. Pada frekuensi peka binatang ini baru dibuat amplifikasi untuk mendeteksi sebarang anomali yang muncul dari dalam bumi dan dibedakan dari hiruk pikuknya ‘suara’ komunikasi para binatang.

    Jalur SOFAR channel pada kedalaman laut sekitar 500 meter kemungkinan juga bisa dimanfaatkan untuk meletakkan jaringan hydrophone permanen. Kanal SOFAR ini sebagai medium air laut yang mempunyai keunikan dapat merambatkan gelombang hingga ribuan kilometer dengan atenuasi yang rendah.

    Observasi lain bisa juga mulai dintesifkan dengan mengumpulkan data fenomena yang terjadi di langit. Beberapa pengamat melaporkan fenomena terbentuknya awan yang memanjang secara anomali sebelum terjadinya gempa. Dikenal juga berkas cahaya gempa (earthquake lights /EQL).
    EQL, berwarna putih kebiruan yang berkilau di langit dilaporkan selama beberapa detik mendahului datangnya gempa. Saintis masih menduga apakah ini ada hubungannya dengan beberapa perubahan di dekat episenter. Misalnya piezoelectricity, pemasanaran karena gesekan, exoelectron emissions, sonoluminescence, emisi gas phosphine, injeksi fluida, elektrokinetika, maupun konsentrasi ion bebas di udara atau pun perubahan sesaat bebatuan yang mengalami gesekan besar di perut bumi sana menjadi bersifat semikonduktor.

    Nampaknya kolaborasi saintis kebumian dengan saintis dari disiplin lain perlu digalang untuk memperbanyak variasi teknik deteksi dan menemukan kemampuan mendeksi lebih awal dan akurat. Keterbukaan dan kerelaan demi menyelamatkan jiwa manusia dan hartanya.

    Gitu dulu PakDhe…
    Salam.

    RDP –>Yang dikejar dalam pre-requisite atau gejala awal gempa adalah kejadian-kejadian yang berlangsung sehari atau beberapa jam sebelum kejadian. Kalau EQL beberapa detik saja masih terlalu cepat sebagai prerequiste dalam pencegahan. What we can do in 10, 20 or 50 second ?

  6. Apa kabar mas Rovicky yang luar biasa.

    Akhir-akhir ini banyak orang membicarakan dan menanyakan tentang gempa. Termasuk saya yang mempertanyakan teori gempa yang ada sekarang.

    Beberapa yang menjadi pertanyaan saya sekitar penyebab gempa bumi:

    1. Lempengan batuan di dalam bumi tidak akan melenting atau patah karena sifatnya sudah berubah menjadi plastis akibat suhu yang tinggi. Apa lagi ada episentrum gempa yang mencapai ke dalaman 700 km. tentunya tidak ada lagi proses benturan atau pelentingan atau hancuran pada kondisi batuan yang mendekati cair/liquid.

    2. Lokasi episentrum gempa yang dilaporkan berupa titik bukan garis atau area yang besar yang mana jika diakibatkan oleh hancuran batuan kurang cukup untuk menggetarkan bumi.

    Oleh karena itulah, saya memohon pertimbangan pendapat mas Rovicky dengan analisa dan pengetahuannya yang banyak tentang kemungkinan lain penyebab gempa antara lain yang saya pikirkan adalah adanya petir bawah bumi.

    Penyebab gempa kemungkinan adalah petir bawah bumi.

    Gerakan lempeng telah menimbulkan tekanan dan panas yang sangat tinggi. Hal ini menyebabkan terjadinya berbagai macam batuan, termasuk juga batuan metamorf. Perubahan ini akan menimbulkan perbedaan muatan antar block/lempengan batuan.

    Pada kondisi perbedaan muatan yang sudah demikian besar, akan terjadi loncatan listrik pada titik yang paling berdekatan. Loncatan listrik ini akan menimbulkan panas yang sangat tinggi dan memuaikan batuan sekitarnya secara mendadak yang menimbulkan ledakan besar.

    JIka ledakan ini berada jauh di bawah bumi, pelepasan energi berupa getaran ke sekitarnya. Kemudian energinya bisa juga berupa intrusi magma ke arah permukaan. Jika ledakan ini dekat permukan bumi, maka pelepasan energi berupa letusan gunung api ke atmosfir. Sisa-sisa muatan listrik nampak masih ada di dalam debu/awan vulkanis.

    Berdasarkan informasi nyata yang dialami teman saya ketika terjadi gempa Yogya yang menimbulkan tanah belah, adalah adanya rentetan ledakan sesaat gempa terjadi. Hal ini kemungkinan adanya loncatan listrik sampai ke permukaan bumi yang memuaikan udara secara mendadak.

    Demikian unek-unek dari saya. Bagaimana menurut mas Rovicky apakah ini mungkin secara ilmiah?

    Wassalam,

    Dedi ganedi

    RDP –> Titik pusat gempa direpresentasikan sebagai titik hanyalah karena utk mempermudah perhitungan. Kenyataannya adalah ada dua benda buesaar yang saling bergeser. Tetapi titik episentrum adalah titik pusat tenaga. Mirip titik berat dalam sebuah benda. Apa artinya titik berat ? Apakah berarti lokasi pinggiran ga ada beratnya ? Demikian juga bergesernya batu, bukan berarti titiknya merupakan pusat getaran.

  7. Apa ini gempa yang ditunggu-tunggu? Klik http://www.nextearthquake.com/earthquakes_long_term_forecasts.htm#earthquakes_top
    Tabel 23a, Sumatra gempa 7,5 M – 9,5 M tanggal 28 Oktober 2009 -/+ 3 hari

    RDP –> Silahkan baca bantahan Nextearthquake disini
    https://rovicky.wordpress.com/2009/11/03/meramal-gempa-lagi-lagi-lagi-meramal-gempa/

  8. aku baru aja liat update status tmn2 di fb, katanya 8 hari kedepan, jakarta bakal terjadi gempa sampe 8 SR, itu beneran g sih pak?

  9. wah perlu dibaca nih biar lebih siap..dan sigap tentunya.

  10. iya bener kita emg harus waspada.asal jangan berlebihan aja..

  11. iya nih gempa dimana2 sekarang..kita perlu banyak doa agar dapat perlindungan dari tuhan

  12. Ktany d bengkulu bklan ad gmpa y??
    Bner ga chy isu t??

  13. kunjungan pertama dan berharap mas vicky sudi mampir ke gubuk saya. salam hangat

  14. sekarang kita emang kudu waspada gempa setiap saat

  15. Info bagus nich… Thanks pak…!!

  16. Kalo prediksi gempa yg di link berikut ini gimana Pak Dhe? http://www.nextearthquake.com Thanks

  17. […] Walaupun sudah diberitahukan bahwa gempa ndak bisa diramalkan sangat detil hingga dalam orde jam. Bahkan dalam orde hari atau minggu […] Go to Source […]

  18. gak ada bangunan didunia ini yang tahan terhadap gempa,coba kita bayangkan gempa yang hanya 5 scala richter tetapi lamanya 15 menit aja,jangankan bangunan, kitapun tumbang dibuatnya,intinya simak aja lagu EBIT G Ade, Tanyakan pada rumput yang bergoyang……

  19. Kayaknya Arsitek ahli Gempa laris manis nih bikin rumah, bangunan, perkantoran 😀

  20. HADIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIRRRRRRRRR

    MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS NAMA PERSAHABATAN DAN PERSAUDARAAN

    SEMOGA DENGAN BERJALANNYA WAKTU SEMAKIN MEMPERSATUKAN KITA SEMUA.. TIDAK MELIHAT SIAPA KAMU.. APA AGAMAMU.. APA MAZHABMU.. TETAPI DENGAN MENYADARI KITA BERASAL DARI YANG SATU..

    SALAM SAYANG SELALU

  21. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

  22. Sob, mau tukar link?.
    Saya suka dengan artikel2 yang ada ditempat Anda.
    Kalau gitu saya tunggu konfirmasinya di salah satu postingan saya ya sob!.
    Ini Blog saya: Blognya anak Indonesia

  23. informasi menarik pak, yah sebenarnya waspada bencana yg harus diketahui 😀

  24. ga ada gempa yang bisa diprediksi , jadi mensyukuri aja , dan bekerja keras lagi, hanya bantuan doa

  25. Gempa ada peristiwa alam, lha kalau ingin mencegahnya ya harus dekar dong ama yang Penciptanya, banyak dzikir, saya itu yang paling utama dalam mewaspadai gempa

  26. kesiapsiagaan ditingkat masyarakat dapat mengurangi risiko bencana & Pengurangan Risiko Bencana Berbasis masyarakat perlu segera dilakukan untuk hal ini dapat menghubungi saya di edienugroho@yahoo.com atau edie.nugroho@gmail.com http://penguranganrisikobencanaa.blogspot.com
    fb:edie nugroho

  27. informasi menarik pak,,
    thx

    kalo smpet maen ke tempat temen saia tentang gempa tasik dini hari
    di richocean.wordpress.com

  28. Saya jadi jelas, matur suwun pak.

  29. kewaspadaan terhadap lingkungan perlu kita tingkatkan demi kepentingan pribadi maupun lingkungan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: