Gempa Manokwari Januari 2009 yang menyisakan teka-teki – Tsunami dan mekanisme gempa


Pada gempa di Manokwari tanggal 4 January 2009, ternyata juga memicu adanya tsunami. Walaupun amaran tsunami itu dicabut beberapa jam setelahnya berita gelombang tsunami melanda pantai Jepang.  Statsiun pencatatan pasang surut juga telah menerima sinyal yang diperkirakan tsunami berkaitan dengan gempa Manokwari.

mnokwari2009

Gempa Manokwari Jan 2009

Apa yang menyebabkan tsunami inipun dipertanyakan. Para geolog-pun banyak yang mendiskusikannya. Bahkan ada yang menyebutkan gempa doublet, karena ada dua gempa utama yang begetar, dimana yang berikutnya bukan merupakan gempa susulan (bukan aftershock).

Bagaimana mekanismenya apa hubungannya dengan gempa ?
Benarkan sesar Sorong yang bergerak ?
Apakah bukan Subduction yang menggerakkannya ?

Dibawah ini bukan kesimpulan tetapi bagaimana diskusi gempa Manokwari menjadi sangat menarik karena data terus berdatangan dari aftershock, ilmu juga berkembang, serta diskusipun terus berlangsung.

Dongengan awal disini menyebutkan kemungkinan Sesar Sorong yang bergerak. Asumsi waktu itu gempa disebabkan oleh pergerakan Sesar Sorong yang merupakan Zona sesar geser yang tegak. Waktu ditulis di dongeng ini analisa sesar ini belum tuntas.

Tentusaja analisanya prematur. Namun dalam keadaan darurat perlu adanya analisa yang mampu dipakai untuk menjelaskan atau mengantisipasi kemungkinan bencana selanjutnya. Ingat gempa itu bencana yg ditimbulkan gempa bukan hanya saat main shock, aftershock ini perlu diikuti untuk mengantisipasi daerah lain yang mungkin akan bergetar berikutnya. Seolah-olah kita kejar-kejaran dengan gemeretaknya lapisan tanah. “pretak … krak … prak … !!

Selain itu tsunami yang disebabkan oleh entah longsoran maupun dislokasi yang terpicu gempa diperkirakan terjadi . Sebagai pengingat tsunami akibat longsoran ini pernah terjadi pada tahun 1998 di Papua utara di sebelah utara Aitape Papua Nugini.

Tsunami Dislokasi Patahan

seafloor51

Mekanisme tsunami (klik utk memperbesar gambar)

Ma’rufin mencoba dengan cara analisa kuantitatif dengan perhitungan.  menurut dia  tsunami itu murni produk dislokasi patahan. Indikasinya sederhana saja. Dari data tinggi gelombang yang ada (Manokwari = 0,8 meter, Biak = 0,35 meter dan Jayapura = 0,2 meter) dan kemudian dikomparasikan dengan data tinggi gelombang di Jepang yang sebesar 15 cm itu, dan setelah dimasukkan data-data jarak episentral tiap titik di atas, maka dengan menggunakan rumus Katsuyuki Abe (Abe, 1981) tentang tsunami magnitude (Mt), diperoleh nilai rata-rata Mt = 7,95 +/- 0,10.

Hitung2an sederhana ini (karena saya hanya menggunakan MS Excell) ternyata memberikan hasil yang tak berbeda dengan prediksi GDACS 2009. Jika kita bandingkan dengan nilai magnitude gempa yang besarnya Mw = 7,6 maka jelaslah bahwa nilai Mt tidak berbeda jauh dengan Mw.

Dari kedekatan nilai ini Marufin menyimpulkan bahwa mekanisme pembangkitan tsunami lebih didominasi oleh dislokasi vertikal dasar laut di lokasi sumber gempa. (lihat gambar Skenario 1)

Sementara tsunami produk longsoran gigantik di dasar laut akan terbaca dengan jelas lewat perbedaan nilai Mt dan Mw yang signifikan (melebihi 1). Kasus terakhir tentang tsunami macam gini bisa ditemui misalnya pada Gempa Samudera Hindia 17 Juli 2006 yang tsunaminya menghantam pantai selatan Jawa itu.

USGS menyebut gempa ini mempunyai magnitude Mw = 7,7. Sementara data-data ketinggian gelombang dan jarak episentral yang dikumpulkan dari beragam titik di sepanjang pantai selatan dari Pangandaran hingga Parangtritis menunjukkan tsunaminya memiliki Mt = 8,9.

Perbedaannya sangat signifikan, dan itulah yang disebut kasus “tsunami earthquake”, yang sekaligus menjawab kegelisahan banyak orang mengapa gempa yang ‘kecil’ dan tidak terasakan itu justru menimbulkan tsunami yang magnitudenya setara dengan tsunami dahsyat yang dilepaskan gempa megathrust Sumatra Andaman 26 Desember 2004 silam.

Tsunami 1998 yang menghantam Papua Nugini itu, menurut Abe, juga bisa dikategorikan sebagai tsunami longsoran atau tsunami earthquake, karena mekanismenya juga mirip dengan tsunami Samudera Hindia 17 Juli 2006.

Namun Marufin masih merasa ada yang ‘aneh’ dari gempa ini. Plotting posisi sumber gempa (dari gempa utama dan gempa2 susulannya) menunjukkan ia berlokasi di lintasan patahan Sorong atau didekatnya. Namun mekanisme pematahannya koq naik ya ?

kslide_tsunami

Tsunami yang diakibatkan oleh longsoran.

Tsunami akibat longsoran bawah laut

Pak Awang masih belum tegas memperkirakan apakah tsunami  akibat longsoran ataupun akibat pematahan. Namun yakin subduksi (penunjaman) yang menyebabkan gempa Manokwari (subduction related).

Menurut Pak Awang, untuk gempa-gempa berlokasi di darat yang ternyata menimbulkan tsunami harus dicek dulu seberapa luas rupture zone-nya (data ini saat ini tak/belum tersedia di USGS), kalau rupture zonenya memanjang sampai ke laut maka tsunami bisa saja akibat dislokasi batuan, bukan karena longsoran (lihat gambar diatas).

Dua gempa kemarin, yang pertama (7,6 Mw) belokasi sekitar 20 km dari pantai, sedangkan yang kedua (7,4 Mw) berlokasi di pantai. Yang kedua kemungkinan besar punya rupture zone yang meluas ke laut.

Besar sudut thrust gempa pertama 36 deg, besar sudut thrust gempa kedua 29 deg.

Memang asal tsunami sering menjadi perdebatan antara karena patahan di dasar laut atau karena longsoran bawahlaut yang dipicu gempa. Saya pikir kuncinya bukan hanya di analisis kuantitatif, analisis tektonik pun patut dipertimbangkan.

https://rovicky.files.wordpress.com/2006/09/indonesia_small.jpg

Warna kemerahan adalah laut dangkal (Shelf/Paparan). Batas warna merah ini disebut shelf edge (pinggir paparan)

Di wilayah ini terjadi interplay pada focal mechanism gempa antara thrusting akibat subduction dengan strike-slip faulting akibat Sesar Sorong, tak mengherankan walaupun lokasinya dekat Sesar Sorong tetapi mekanisme-nya thrusting, itu berarti subduction-related thrusting-nya yang dominan, tetapi gempa 6,1 Mw yg terjadi tanggal 6 Jan 2009 berasal dari reaktivasi Sesar Sorong dengan mekanisme strike-slip faulting.

😦 “Pakdhe, interplay pada focal mechanism niku nopo nggih ?”

😀 “Thole sesar sorong iki memang bukan sembarang patahan. Terbentuknya memang unik. Lihat aja dongeng sebelumnya. Nanti itu jadi dongeng dewe, Saiki dengerin dulu tuh dewa-dewa kahyangan lagi podo diskusi. Sudah dengerin dulu apa yang mereka diskusikan”

Mekanisme longsoran yg digambarkan diatas sangat mirip longsoran dipermukaan, baca longsoran di Kuala Lumpur Desember 2008 lalu.  Longsoran ini seringkali terjadi pada daerah pinggir paparan (shelf edge) yang sangat curam.

Lereng yang curam di Asia tenggara dapat terlihat pada peta kedalaman laut. Mudah terlihat karena daerah ini  biasanya memiliki kedalaman sekitar 200 m. Pada kontour kedalaman laut 200 meter inilah perlu dilihat bagaimana kondisi pinggir paparan.

Irwan Meilano, Pak dosen muda dan energik dari ITB ini juga masih tertegun.

Menarik sekali untuk mengamati lokasi dan mekanisme gempa utama serta gempa susulan dari gempa (Mw7.6) serta gempa ke-2 (Mw7.4) yang berada diantara Manokwari Trough (MT) dan Sorong Fault (SF).

Apabila kita coba untuk memplot focal mechanism untuk gempa2 disekitar sana, dengan sumber data harvard cmt dari tahun 1976-2008 (sebelum gempa manokwari). Tdp beberapa hal menarik : Bahwa diatara MT dan SF terdapat banyak gempa dengan mekanisme thrust, dengan arah strike 100-120 derajat, dan dip 15-30 derajat. Dengan magnitud lebih kecil dari Mw6.5.

Dan 2 gempa terbaru juga memiliki strike/dip: 107/24(gempa pertama) dan 100/25 (gempa ke-2). Sama seperti belasan gempa yg telah terjadi dalam kurun 32 thn pada lokasi ini, tetapi dengan magnitud yg lebih kecil. Sehingga seharusnya ada konstrain tektonik yang menyebabkan terdapat gempa2 dengan mekanisme konsisten seperti ini.

Dan kelurusan sesar diantara MT dan SFZ(Sorong Fault Zone-termasuk diantaranya Sesar Koor) belum diketemukan dibeberapa referensi, sementara focal mechanism, menjelaskan indikasi adanya “sesuatu”.

Kemudian: Kegempaan disekitar MT pun sangat sedikit, sehingga kita tdk dapat membuat potongan untuk melihat apakah ada subduksi pada MT. Pak Mino dlm papernya (2005) menjelaskan bahwa MT mengalami transform, karena pergerakan lempeng pasifik dominan ke Barat. Sehingga tdk akan kita temukan benioff zone disana.

Hal ini menjelaskan bahwa wilayah gempa kemarin berada diatara 2 zone sesar sinistral. Kompresi ini yg kemungkinan menjadi sumber dari konsistennya pola thrust disana.

Gempa kemarin selain memberikan potongan informasi tetapi juga meninggalkan lebih banyak pertanyaan.

Beberapa pertanyaan yg belum km pahami jawabannya:

  1. Apakah lokasi gempa kemarin merupakan cabang(splay) dari SF Karena diselatan manokwari dari arah timur sesar sorong agak membengkok ke barat laut dan kelurusannya merupakan lokasi dari gempa ke-2?
  2. Mengapa dlm kurun waktu 32thn tdk terdapat gempa strike-slip pada sesar sorong, (area kepala burung). Padahal rate dari SF, 2 kali lebih cepat dari sesar sumatra?
  3. Seandainya point 1 adalah benar, apakah semua energi dari SF terakumulasi pada splay nya?

😦 “Haddduh Pakdhe. Kok poro dewo diskusi sampai begitu serius. Lah emangnya kalau ketahuan trus gempanya bisa disetop ?”

😀 “Thole, itu tadi cirikhas scientist”

😦 “Pakde bilang yang bergerak Sesar Sorong, Pak Awang bilang Zona Subduksi, Marufin bilang tsunami dislokasi, Pak Irwan malah bertanya-tanya ….. Jadi yang bener manaaaa ?”

Scientist tidak akan cukup berani memberikan pendapat apa yang sedang terjadi. Mereka akan sangat berhati-hati memberikan pendapatnya. Sampai semua data cukup lengkap dianalisa sehingga kesimpulannya dapat dipakai untuk pembelajaran selanjutnya.Bagi mereka akan terkesan gegabah kalau memberikan sebuah kesimpulan yang salah.

Berbeda dengan praktisi dan yang amatiran (kayak Pakdhe) yang memberikan pendapat awal bahwa yang bergerak Sesar Sorong karena pengetahuan yang ada saat itu dan paling pantes dicurigai adalah sesar Sorong. Walaupun, kenyataan gempa-gempa susulannya berada diseputar Sesar Sorong, tetapi komplikasi datanya tidak secara mudah untuk dapat dikatakan Sesar Sorong telah bergerak.

Dalam tanggap darurat “Emergency Response“, selalu dibutuhkan pengetahuan dasar terlebih dahulu apa yang terjadi. Pengetahuan awal ini sebagai bagian dari “tool for action” atau alat untuk bertindak dalam kondisi darurat. Dalam kondisi yang sangat genting, apapun keputusan yang paling logis tetap diperlukan.
Namun pasca kejadian harus selalu dilakukan evaluasi untuk menghadapi terjadinya bencana yang mirip dikemudian hari.

😦 “bener ya Pakdhe, Jadi benar dan salah bagaimanapun perlu adanya sebuah keputusan”

😀 “Hiya Thole, bener dan salah sebuah keputusan itu hanya akan diketahui kemudian. Tetapi yang pasti salah adalah tidak membuat keputusan dalam kondisi darurat”

Kita tunggu saja. Sebentar lagi IAGI akan menggelar seminar khusus Gempa ini. Tetapi mungkin akan didahului kunjungan ke lokasi untuk meempunyai data yang cukup dalam seminar dan diskusi.

Iklan

21 Tanggapan

  1. wah infonya bagus ni………….. tapi klo bisa solusinya kita cari bersama yukzzzzzzzzzzzzzzz

  2. Wah… Infonya bagus! Makasih ya!

  3. hmffff…….

  4. bagi para dermawan mohon bantuan dong wat korban gempa kan kasihan

  5. Posko Bencana Alam Nasional Papua Barat di Jakarta, mohon dukungan dari seluruh rakyat indonesia khususnya pada dermawan/donatur untuk dapat membantu saudara-saudara kami korban gempa bumi di manokwari dan sorong Papua Barat.
    sekretariat posko : Jl. Kerajinan No. 02 Lt. II Gaja Mada – Jakarta Barat
    Contak Person : 081218665747 (kelly); 085285654546 (wilson)
    Rekening Panitia : 033201010827504 a.n. Derek Samberbori (bendahara)
    email : gedab-gedab09@yahoo.com

    Terima kasih atas partisipasi dari semua pihak.
    Kiranya Tuhan yang punya berkat senantiasa memberakti kita sekalian.

    Wilson Wanda Klemens Samberbori, S.Sos
    Ketua Sekretaris

  6. Berikan informasi2 yang jelas biar masyarakat manokwari tdk bingung dan panik terkait isu2 gempa yang sering beredar

  7. Berikan info yang jelas tentang gempa manokwari terkait sering beredarnya info yang meresahkan masyarakat

  8. Foto kejadian gempa di papua manokwari

  9. mau nanya neh klo gempa susulan itu bisa mengakibatkan tsunami ngk ???
    Thanks

  10. Mudah bekerja , mudah menganalisa , itulah anda , dan sangat senang menulis.

    smoga saya bisa seperti anda, he. . e. .h.eh. h

  11. saya juga mumet neh pak, di usgs hasil focalnya menunjukkan sesar naik (thrust) tapi kenapa lokasinya di sesar sorong?
    jadi pak kalo emang gempa yang menyebabkan tsunami (bukan longsoran) gempa yang mana? yang magnitudonya 7,7 SR atau yang 7,4 SR?

  12. Hehehe… saya yang lagi tinggal di Sorong masih menunggu berita dari konperensi para dewa di kahyangan. 🙂 Soalnya, tinggal di atas tanah yang “bergoyang-goyang” apa nggak bikin jantung berdegup lebih keras, Pakdhe ?

  13. Mendingan nunggu press release para dewa di khayangan aja ya pakdhe. 😀

  14. tsunami,gr2 patahan ato longsoran? jadi bingung juga neh!mang, bedanya apa pa’dhe?
    trus, hasil seminarnya nanti bagi2 ya pa’dhe, abis g sanggup klo mo ikut, g sanggup bayarnya, 😦

  15. Moga moga gak terjadi disini deh

  16. Boleh boleh….

  17. Pakdhe, makasih infonya
    salam kenal

  18. Ya uwis
    Nanti saja kalau sudah selesei dianalisa sama Dewo-dewo kahyangan nanti dibuat dongengannya. IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) sedang mencoba bikin seminar untuk dirembug.
    Ndengerin dewo-dewo berdiskusi emang bikin puyenk ! 😉

    😦 “Tapi itu gempa knapa masih goyang terus ya ?”

  19. pakdhe…
    koq mumet…

  20. Pakdhe, kok strike n dipny rentangny sdikit?
    Lagian,kok cenderung ‘tetap’?
    Kalo gara2 gempa longsoran pd gempa ke-2, apa itu juga akibat dr gempa pertama?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: