Mengenal si Ahli Kebumian dibanding Insinyur, di era perubahan


pekerja Sahabat saya Mas Soejanto mengulik-ulik kawan geologist atau ahli kebumian yang banyak bekerja di perminyakan. Menurut beliau rata-rata geologist di perminyakan ini sulit diajak bisnis. Konon katanya ahli geologi itu lebih sulit untuk diajak berpikir tentang bidang lain terutama di dunia industri. Si ahli bumi ini lebih banyak memikirkan riset dan penelitian ketimbang mikir bisnis nyari duwik.

😦 “Lah tapekno kenapa lulusannya mesti pakai insinyur bukan doktoradus geologi, gitu ta Pakdhe ?”

😀 “Lah ini kan maunya mertua. Kalau dalam undangan kawinan anak mantunya ada gelar insinyur kan bisa sambil mesam-mesem ta, Thole”

Geology is more science than applied knowledge

Sependek pengetahuanku, walaupun lulusannya dulu disebut sebagai insinyur, ahli geologi bukan disebut engineer. Karena memang lebih bersifat sebagai ilmu murni (science) ketimbang applikasi. Sehingga secara natural akan mempengaruhi gaya berpikir serta gaya hidup geologist (ahli geologi itu sendiri). Engineering memang begitu dinamis sejak dari lahirnya.

Ilmu geologi walaupun bersifat dinamik, namun siklusnya bisa jutaan tahun, walaupun bisa juga sepuluh tahunan, namun jelas tidak sependek ilmu engineerig. Engineering sebagai ilmu aplikatif ini akan menuntut perubahan yang jauh lebih dinamis ketimbang dinamika banjir sekalipun.
Ilmu management yg berhubungan profit ekonomi lebih dinamis lagi, dengan siklus “budget” yang tahunan merupakan bentuk bagaimana pemikiran strategisnya setahun sekali akan berubah.
Politik lebih “gelo” lagi. Perubahan dinamisnya bisa dalam orde jam dan detik apalagi ketika masa-masa penghitungan swara pemilu pilkadal. Wuik !!

Perbedaan siklus dinamika ilmu inilah yang membuat geologist akan terasa lambaan dibanding siput ! Kura-kura saja mungkin terasa terlalu cepat kalau dibandingkan gerakan lempeng tektonik yang 7 cm pertahun !!

Beruntunglah bagi rekan-rekan geologist mengenyam posisi management sehingga mental siklus jutaan tahunnya bisa diperpendek menjadi siklus tahunan. Lebih-lebih yang akhirnya ikut terjun di lingkup politik, pergerakannya secepat Formula – 1 Wush-wush-wush !!!

Pendidikan

Pendidikan geologi jelas ditujukan untuk pendidikan secara general. Dimana pendidikan atau universitas adalah bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia melalui olah nalar dan olah pikir. Akan sangat sulit kalau pendidikan dibuat menjadi sebuah bisnis entity “ansich”. Kalau manajementnya diubah seperti layaknya menjalankan gaya bisnis … bolehlah. Saat inipun sistem manajement University yang BHMN ini juga sudah jauh beda.

Tapi kalau pendidikan (PT jurusan Geologi, seperti istilah Mas Soe) untuk lebih ditujukan untuk tujuan industri aku pikir ndak mudah, bisa-bisa malah jadi salah arah nantinya. University bukan seperti Primagama untuk mengadakan kursus. Tapi mengadakan serta mendidik ahli riset merupakan salah satu tujuan pendidikan secara general.

Positioning !

Nah slentingan Pak Soejanto ini aku pikir lebih banyak untuk mnggelitik si Geologist … bukan PT Jurusan geologi ….. Yang lebih penting adalah buat geologistnya atau buat alumninya untuk segera mengerti posisinya. Terutama posisinya ketika saat ini berada. Ntah sebagai mahasiswa, sebagai dosen, sebagai pekerja ataupun reseacher.

Harus tahu posisinya saat mulai masuk bekerja, atau bahkan saat lulus. Persis seperti ajaran Pak Wartono kalau ke lapangan. Ketahui dulu posisimu, tembak G Pendul dan G Pegat, plot dimana dalam peta sebelum mendiskripsi singkapan. Ketahui lokasi samplemu sebelum membuat sayatan dst dsb.

Kalau memang saat ini berada di dunia kerja mungkin kita (yg geologist) harus mampu memberikan pengaruh (influence positip pada lingkungannya untuk ngerti apa itu geologi. Bukan seperti dulu dimana hanya manager geologist yang harus cerita ke bagian keuangan.

Lah iya lah …. Sebagai geologist atau sebagai ustad ataupun dosen, ataupun tukang tambal ban (eh ada yg baca ga ya) …sebagusnya mesti bisa mengoptimalkan kemampuan serta peran dalam mempengaruhi (influence) lingkungan.

OK kembali ke Laptop

Yang diatas tadi hanyalah permisif untuk mengatakan “Aku emang sudah dari sononya begitu“. “Ilmuku juga begitu. Dan ajaran yang kuperoleh emang ya kudu begitu.”

😦 “Lah hiya pakdhe, lantas kenapa Pak Soejanto bisa bilang kalau ahli geologi itu lebih sulit untuk diajak berpikir tentang bidang lain terutama di dunia industri ?”

Soal perbedaan Gelogist dengan insinyur memeng sudah ada dari sononya. tetapi ketika seseorang menjadi ahli kebumian atau geologist yang ingin berlari maju kenceng sekenceng Formula – 1, yang lebih penting adalah ahli geologi ini harus mampu secara cepat mengantisipasi perubahan. Perubahan dalam siklus waktu sangat pendek tentusaja. Siklus pendek yang jarang dijumpai dalam ilmu yang dipelajarinya.

Perubahan dalam industri

Dulu ketika perusahaan masih berbentuk silo-silo atau kotak-kotak profesi (ini jaman aku awal masuk kerja), geologist dipimpin oleh Mgr Geologi, geophycisist dipimpin oleh Mgr Geophysics, demikian juga drilling, petroleum dan production engineer. Semua berada pada kotak-kotak profesinya masing-masing. Pada waktu itu tentusaja geologist masih berkutet dengan pemikiran sciencenya yang luambaatt. Orde tektonik dalam kecepatan 7 cm/tahun.

Saat ini sudah jamannya globalisasi, alias jaman gado-gado campur lotek. Bekerja sudah dalam satu “team” yang terdiri atas Geologist-Geopsikis-Enginner, bahkan kadangkala ada economist. Geologist harus mampu menjadi pemimpin untuk soal kebumian di team itu, demikian juga yang lain. Learning atau belajar harus dilakukan sendiri. Kalau dulu ada orang yang lebih senior dalam kotak profesi, saat ini geologist harus lebih mandiri dalam mengejar ketertinggalan ilmunya.

geologiundip

Kampus Geologi Undip

Kalau saja ilmu diskripsi singkapan dari pak Wartono masih diingat dan dijalankan … aku rasa dengan mengetahui “dimana posisiku kali ini”, saya yakin geologist akan mudah beradaptasi. Adaptasi akan lebih mudah ketika kita mengerti ada dimana dan mau kemana. Dan seperti kata Pak Soejanto, bahwa industri itu tujuannya untuk mencari keuntungan. Bukan mencari tahu seperti tujuan riset.

😦 “Lah iya pakdhe. Tujuan dibuatnya perusahaan memang mencari keuntungan materi. Bukan sekedar ngebor untuk pingin tahu isinya apa”

😀 “Disitulah perbedaan dengan engineer yang lebih praktis dalam berpikir. Selalu aplikatif dalam hasil kerjanya”

😦 “Pakdhe, yang lebih hebat itu orang yang mengerti bagaimana cara kerja geologist anakbuahnya, yang mengerti bagaimana mengatur anakbuahnya. Gitu kan, Pakdhe ?

Segalanya berubah.
Bahkan perubahanpun sudah berubah !

Untungnya cara belajar serta mengajar jaman saya dulu sudah tidak lagi statis. Saat ini cara belajar mengajar di kampus sudah berubah. Sebagai gambaran juga. Bahwa mahasiswa geologi jaman sekarang sudah beda dengan mahasiswa geologi jaman aku dulu.

Pengalaman Mas Wahyu, dosen di Geologi Undip yang kutemui hari Sabtu kemarin cukup memberikan gambaran baru ttentang  dunia mahasiswa saat ini. Mas Wahyu yg jadi dosen di Undip ini sudah terbiasa di sms muridnya. Jaman saya dulu menunggu dosen yang masih didalam kantornya untuk mengingatkan jam kuliah sudah mulai saja rada rikuh dan pakewuh.Sip lah. Dunia belajar mengajar sudah berubah.

Juga cross disiplin ini sudah mulai terbiasa di kampus.

Seminar Energi di Undip Semarang

Ada banyak perubahan cara pandangku akan dunia kampus ketika kemarin wektu aku dan dan Mas Yusmawan (presdir BP-Castrol) memberikan seminar sehari di Undip. Seminar ini juga dihadiri oleh mahasiswa jurusan lain.

Bahkan dengan membayar 30 ribu per mahasiswa, seminar saat ini bisa dihadiri 370 mahsiswa bebagai jurusan. Wuih Hebatt !!! Generasi sekarang bukan generasi yang hanya mintak subsidi. Bukan generasi gratis yanghanya nuntut ditraktir. Mereka sudah mandiri. Mengerti bahwa mengadakan seminar itu juga perlu biaya. Salute buat mahasiswa generasi baru ini !!

Dunia mahasiswa sekarang sudah beda
Dunia universitas juga berubah
Kita juga berubah …
Pandangan kitapun harus di”ajust” dan dikalibarsi supaya tidak salah duga apa yang terjadi disana.

Fakultas Teknik Prodi Geologi Universitas Diponegoro membanggakan !

Disisi lain aku salut dengan ahli-ahli geologi yang menjadi dosen di UNDIP. Dalam waktu 5 tahun sudah meluluskan 30 alumni dengan lama studi tercepat 3 tahun 8 bulan !.
Bahkan berhasil menggondol juara 1, 2 dan 3 sekaligus dalam lomba karya ilmiah di ITB, juara-juara ini atas nama Aveliansyah, Risky Syawal, dan M. Dinul H. Mengalahkan ITB dan UGM yang usianya sudah puluhan tahun  !!

14 Tanggapan

  1. wah .pak Rovicky
    Terima kasih jurusan dan almat saya
    Geologi Undip,disebut di postingan bapak

  2. Pak Rovicky,

    Saya lagi bingung kebetulan anak saya baru di terima di usakti jurusan geologi.
    Yang menjadi kebimbangan saya, lapangan kerja apa saja yang tersedia untuk seorang geologi dan juga berapa besar peluang di bidang tersebut. Selama ini saya tak pernah melihat serjana geologi itu pekerja untuk apa?
    Terus terang saya tak mau anak saya harus bekerja di pemerintahan.
    Dan juga apa yang membedakan jurusan perminyakan, pertambangan dan geologi. dari ketiga itu mana yang lebih banyak tawaran kerja yang untuk kedepan.
    Kalau ada hubungan nya dengan bisnis. Bisnis apa yang yang berhubungan dengan geologi?
    Demikian pertanyaan dari kebingungan yang lagi saya hadapi.

    Salam
    Agus miardi

    –> Sebelumnya selamat deh putranya sudah diterima kuliah di Jurusan Geologi. 🙂
    Lapangan kerja untuk geologi itu sangat lebar dan panjang … maksudte LUASS. Saya sering membagi ruang lingkup geologi bisa bekerja di :
    Ekstraksi (pemanfaatan sumberdaya alam), mulai dari sumberdaya energi, sumberdaya air, sumberdaya mineral/pertambangan. Disini tentunya bisa di persh swasta atau pemerintahan.
    Ini yang paling banyak saat ini.
    Konservasi (pemeliharaan alam), terutama lingkungan dan juga lands use. Ada beberapa yg bekerja di NGO maupun lembaga-lembaga survey dan perusahaan penyedia layanan pemeliharaan linkungan AMDAL dll.
    Kebencanaan. Disini ruang lingkup geologi sebagai ahli kebencanaan. Tentunya ini perlu sekali di Indonesia ini jumlah ahli kebencanaan mungkin kurang dari 5 (yg setingkat Phd). Tentusaja lahannya bukan hanya pemerintah. Di LN banyak lembaga-lembaga riset swasta yg memperkerjakan untuk survey kebencanaan/lahan kritis dsb.

    Jadi ruang lingkupnya luas. Perminyakan dan pertambangan dalam hal ini merupakan bagian dari lingkup Geologi. Artinya Sarjana geologi bisa masuk ke pertambangan dan perminyakan juga. Sedangkan mereka sudah sangat spesialis.

    Lapangan dan kesempatan kerja ya saya yakin masih jauh dari mencukupi. Kebutuhan sarjana kebumian di Indonesia ini rendah dibanding negeri-negeri lain.

    Salam

  3. Sya msh skul kls 2sma,,
    sy t’trik dgn t.geology nie,,
    nah pel apa aja cie yg hrus qta dlami utk t.geology ini??

    Mksh,,


    — > Ilmu dasar yang diperlukan fisika dan matematika. Tambahannya biologi dan kimia
    .

  4. Apa Untugnya kuliah Geologi dibanding dengan Jurusan Lain?????????

  5. Sebagai mantan mahasiswa teknik geologi, saya tidak setuju kalau geologist tidak bisa berbisnis

    Buktinya sudah banyak 🙂

  6. salam buat geologist indonesia.

  7. DASAR SI JAKA kurang gaul(CUPU)
    lo ngomong asal bgt….HAHA

  8. Ahli kebumian itu pasti orang kebumen ya? :p

  9. afda pendapat teman :

    masih banyak geologist yang tak bisa menempatkan diri dalam arus pragmatis-direct to the problem dan objective engineering sehingga kadang muncul dengan solusi lubang merpati,anehnya juga, banyak juga geologist yang suka mengikuti pola fikir kualitatifnya dalam pemecahan masalah kuantitatif meski dasar kualitatifnya salah dari awal….

    ini sekedar pengamatan dari yang teman yang berhubungan dengan geologist….

    semoga perasaan teman ini salah….jikalaupun benar, semoga segera berubah….

    satu pesan dari teman ini(gak tahu apakah sebenarnya beliau bermasalah dengan geologist di organisasinya): kalau petrologist mbok ya gak usah ikut2 bicara tekanan fluida secara kualitatif hehehe ada-ada saja….

    melihat berita dari Undip, alhamdulillah…..semoga geologi terus maju….

  10. lho photo kampusku kok gak ada? hehehe

  11. WAAAHHH..fto2 di atas kayaknya kenal tuhh, banggaaaaa…
    Saya terharu pak dhe,melihat kampus saya seolah-olah digendong dan dipeluk oleh wali kelas ketika berhasil meraih juara kelas.
    Kampus yg membanggakan, benar2 dibesarkan dengan penuh suapan motivasi.
    Mohon doanya kembali pak dhe, semoga sesuatu yg lebih spektakuler bisa kita raih secepatnya..

    “BRAVO GEOLOGI”

  12. salam geo pak dhe! ngenang kampus ni ye?
    jadi ingat kampusku, UNHAS-geofisika..moga2 bisa maju juga kaya’ UNDIP!

  13. bagaimanapun kata orang tentang geologist bagiku itu dikembalikan pada geologist….. ya buktinya saja banyak geologist yang juga berwirausaha dan tidak selamanya meneliti yang setahu saya Jubir HTI juga kan lulusan geologi, jadi tidak selamanya riset tapi setidaknya orang-orang geologi yang ke arah riset adalah orang-orang yang ingin membaktikan ilmunya pada kepentingan masyarakat tidak hanya sekedar mencari nilai ekonomi tapi juga sosialnya…… Kapan-kapan bahas dong pak dhe batubara terutama bitument!!!!! kayaknya menarik pak dhe……..

  14. bangga melihat foto kampus saya masuk ke dalam salah satu blog terlaris punya pak dhe rovicky…

    “harus mampu cepat mengantisipasi perubahan”, saya sangat setuju sekali, tidak cuma geologist saja, tapi calon geologist pun (mahasiswa geologi) juga harus pandai adaptasi dan mengetahui lingkungannya, hal ini terjadi ketika jurusan geologi harus bersaing dengan jurusan2 lain dalam hal “pamer” hasil penelitian.

    ketika jurusan elektro dan mesin memamerkan robot, jurusan teknik kimia dan lingkungan memamerkan mesin penjernih air, masa’ geologi harus memamerkan batu??? karena selama ini geologi belum menghasilkan suatu “produk” hasil riset, (kecuali poster2 hasil penelitian yang tidak ada produknya, tapi hanya pemodelan dan rekomendasi).

    kita harus segera beradaptasi, walaupun tidak punya “produk”, tapi kita punya cerita, gambar, dan animasi tentang hal2 yang dekat dengan masyarakat, dan juga kita menjelaskan dengan bahasa yang seringan mungkin, yang pada akhirnya membuat stand geologi menjadi yang paling banyak dikunjungi.

    salam avel (yang salaman dengan pak dhe rovicky di foto, hehe..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: