Longsoran di Bukit Antar Bangsa, Kuala Lumpur (2)


Dibawah ini hanya sebuah analisa sekilas dari apa yang saya lihat disekitar lokasi kejadian,serta beberapa foto yang diperoleh dari beberapa media.

Kejadian longsor diseputar daerah ini, menurut beberapa media yang ada di KL,  sebenernya merupakan kejadian ke-tiga dalam satu tahun ini.

Kejadian terbesar adalah runtuhnya sebuah apartemen yang pernah saya singgung sebelumnya disini.  https://rovicky.wordpress.com/2007/12/29/hati-hati-longsor-diwaktu-hujan/

Tulisan tentang longsoran di Bukit Antar Bangsa tahun 1993 diatas itu sebenarnya sudah aku tulis setahun lalu dibulan Desember 2007. Gambar di atas ini diambil dari investigasi resmi di salah satu website Malaysia yang menceritakan bagaimana retaining wall telah runtuh.

Longsoran 6 Desember 2008.

Coba perhatikan. Sebenarnya daerah inipun cukup lebat pohon-pohonnya. Kurangnya pohon atau pembabatan pohon sepertinya bukan penyebab utamanya

Disebelah ini memperlihatkan gambar yang diambil dari koran The Star. Saya pakai untuk membuat penampang (cross section) yang memotong bukit yang longsor ini.

Foto ini dibuat dari udara memperlihatkan lokasi longsoran yang menimpa rumah-rumah dibawahnya.  Rumah-rumah ini sejajar dengan “igir-igir” (punggungan bukit). Kalau anda melewati jalan Bukit Antar Bangsa ini tentunya hanya merasakan jalan yang sangat landai, namun dibelakang perumahan sebelah kanan ini merupakan bukit yang cukup terjal dan pepohonan yang cukup rindang.

antarbangsa-1Gambar disebelah  ini memperlihatkan kelerengan bukit pada kondisi awal, dimana kondisi lereng yang cukup tajam pada sisi belakang perumahan. Yang paling utama perlu diketahui adalah ketebalan lapukan didaerah ini yang bisa mencapai 30 meter.

antarbangsa-2Gambar berikutnya  ini memperlihatkan kondisi saat sebelum terjadinya longsoran. Dinding penahan (retaining wall) merupakan konstruksi yang paling umum dijumpai di daerah ini.

Yang bisa dilihat dari torehan atau singkapan akibat longsor ini adalah ketebalan pelapukan (weathering zone) yang memiliki ketebalan hingga diatas 30 meter. Sehingga fondasi bangunan masih akan berada di atas bedrock yang cukup dalam.
antarbangsa-3

Penampakan rumah yang bertumpuk-tumpuk ini mungkin disebabkan oleh proses longsoran yang terjadi beberapa kali atau beebrapa tahap. Menurut Pak Kusumahardy (Warga Indonesia yang menjadi korban dalam longsoran ini), beliau merasakan proses longsoran ini berlangsung sekitar 10 menit saja. Kalau memang benar bertumpuk-tumpuk dan terjadi beberapa tahapan proses longsor, mungkin terjadi akibat adanya beberapa ‘retaining wall  collapsed‘.

😦 “Pakdhe, sepertinya tanah runtuh di seputar Kuala Lumpur ini selalu berkaitan dengan retaining wall ya ?”

😀 “Kalau diperhatikan topografinya, sebenernya selain proses erosi, secara alamipun daerah diseputar KL  ini dibentuk oleh proses longsoran, Thole”

For learning

Investigasi resmi sedang dilakukan oleh pihak yang berwenang di Malaysia. Pandangan sekilas ini mungkin bisa dipakai sebagai pelajaran buat kita-kita di Indonesia.

Ada yang menarik yaitu perbedaan antara orang Indonesia (terutama di Jawa). Di Jawa orang kota hidup didaerah landai (dataran), sedangkan pegunungan tempatnya orang udik (ndeso). DI Jawa, gunung merupakan tempat wisata. Kalau di Malaysia ini, terutama KL) banyak orang moderen yang lebih suka tinggal di perbukitan. Karena memang topografi di KL ini yang berbukit-bukit.

Di Bandung juga banyak juga yang mulai senang hidup di gunung atau perbukitan (Dago atas), tetapi batuan disana berbeda dengan batuan di perbukitan seputar KL. Di Bandung mungkin ketebalan lapisan tanah dan weathering zone tidak setebal di seputar KL. Namun kalau curah hujan cukup tinggi maka aliran air perlu diperhatikan supaya tidak menggerus tanah, juga air ini harus segera dilalukan supaya tidak mengurangi daya dukung tanah.

Hati-hati longsor bulan Desember

Longsoran di Bukit Antar Bangsa di Kuala Lumpur ini mungkin juga menjadi peringatan buat rekan-rekan di Indonesia. Seperti yang selalu diingatkan oleh Badan geologi, bahwa bulan Desember merupakan bulan “merah” untuk bencana longsor. Selain akibat curah hujan yang cukup besar menyebabkan longsor, bulan Desember hingga February merupakan bulan-bulan dengan curah hujan sangat tinggi yang juga menyebabkan banjir.

Salam Waspada !
Waspada is your early warning !

9 Tanggapan

  1. terima kasih atas paparan diatas dan dapat menambah ilmu bagi saya.
    namun saya masih kurang mengerti, dan saya ingin tanyakan, bagaimanakah untuk menjaga kestabilisatan lereng yang berupa batuan utuh ( bukan tanah)? dan kira-kira adakah teknologinya? bila ada berupa apa ya?
    kalau untuk tanah kan salah satu teknologinya dengan geotextile/geosystem, namun kalau batuan berupa apa yah?
    bila ada yang mengetahui jawabannya silahkan kirim ke email saya ziyanfarizkaromah@yahoo.com
    terima kasih atas kesempatannya.

  2. wah pak wo tulisannya asyik banget neh…
    pak wo tulisannya mbokya ditambahi tentang alat-alat tool geologi engineer yang mutakhir, perkembangan di malay gimana gitu, kan bisa bagi2 rahasia pak wo….

  3. waspada sebelum kejadian, dan tanggap ketika terjadi longsoran.. mungkin itu yang jadi tugas geologi..
    masalah terjadi ketika longsoran memakan korban jiwa, banyak warga yang tertimbun longsor harus menunggu waktu berhari-hari untuk ditemukan, adakah ide kreatif untuk itu pakde???
    apakah survey geofisika yg selama ini kita pelajari untuk mengetahui kondisi bawah permukaan dapat dilakukan untuk mencari orang yg tertimbun longsor??

  4. Pak dhee,,sekali lg sy mau ngucapkan trima kasih atas kdatangannya ke kampus saya GEOLOGI UNDIP. Sungguh tidak rugi mengikuti paparan yg bpak brikan kmrin,,luar biasa..semakin membuat sy lebih ingin berkreasi, khususnya dalam bidang geologi..
    kami tunggu kedatngan selanjutnya tentunya dengan ide2 kreatif yang lebih dahsyat..
    BRAVO GEOLOGI

  5. kilasan yang sungguh menarik ternyata pak dhe tidak hanya indonesia saja yang longsor malaysia juga toh… Kalo misalnya ada pemukiman rumah didaerah perbukitan bukankah itu sangat bahaya pak dhe… apalagi semisalnya tanah atau batuan daerah tersebut mempunyai tingkat hubungan kemasan yang terbuka dan belum benar-benar kompaksi dengan yang dikatakan pak dhe itu… sangat terjal kok masih bisa dizinkan mendirikan pemukiman pada daerah tersebut….. Apalagi jarak lereng dengan pemukiman dibawahnya yang tidak terlalu jauh….. Oh iya pak dhe satu lagi ucapan saya sebagai Humag HMTG magmadipa mengucapkan terima kasih atas kedatangannya di UNDIP semoga lain kali pak dhe dapat berkunjung kembali kemari…… 🙂

  6. wuih ilmu baru nih ……… thanks for share

  7. pakde vicky.
    Setiap musim hujan (setiap tahun) bencana longsor selalu terjadi (di Jawa) bahkan memakan korban jiwa. Lha kan banyak ahli geologi kaya pakde dan IAGI-nya yang sudah dapat memprediksi akan terjadinya bencana tersebut. Sementara di tiap pemprov/pemkab ada dinas terkait untuk penanggulangan/penanganan bencana, kenapa ya pakde kok yang namanya longsoran dan memakan jiwa masih selalu terjadi ?

  8. kota yang begitu moderenpun kalo tidak memeperhaikan alam, akan membuat alam marah

  9. Turut prihatin atas bencana longsor di Bukit Antar Bangsa, Kuala Lumpur.

    Meskipun tanah hasil pelapukan di suatu lokasi relatif tipis, namun perlu juga diperhatikan adanya gejala struktur seperti kekar intensif yang juga bisa menjadi penyebab longsor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: