Hari ini harga minyak tertinggi !


Dalam beberapa bulan terakhir ini, hampir setiap minggu ada berita yang mirip masuk ke mailbox dikantor yaitu : Harga minyak menyentuh angka tertinggi. Ini artinya harga minyak terus naik membumbung ke langit. Tentusaja ini tidak hanya menjadi konsennya orang-orang perminyakan tetapi saat ini menjadi sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

😦 “Pakdhe pemegang rekordnya berganti-ganti ya ?” 😛

Price Index – Indeks harga

Harga minyak mentah selalu menjadi sorotan sebagai “achoring price” atau lebih sering disebut “Price index“, harga patokan yang dipakai untuk menentukan atau memperkirakan beberapa harga komoditi lain. Kalau anda tahu perihal sembako “sembilan bahan pokok” maka tentunya andapun dapat mengikuti bagaimana kira-kira perkembangan harga lain. Misalnya “harga cabai keriting di Psar Senin naik menjadi 5045 rupiah perkilo“.

😦 “Halllah aku ini ngga suka pedes-pedes apa ya perlu tahu harga sambal to, Pakdhe?”

Disitulah letaknya perlunya kita melihat harga-harga barang tertentu yang dapat dipakai sebagai patokan untuk menentukan atau tepatnya memperkirakan harga barang-barang lainnya. Barang-barang ini tentusaja bukan barang yang kita butuhkan, dan sebagai pedagang barang-barang inipun bukan yang dijual. Tetapi anehnya banyak barang-barang yang dapat dipakai sebagai patokan.

Di BPS (Biro Pusat Statistik) barang-barang khusus ini antara lain cabe kriting, beras, gula, juga kadang-kadang ada yang menggunakan harga sabun colek sebagai indeks harga. Indeks harga nasional dikenal dengan istilah sembako (sembilan bahan pokok). Dan seringkali lembaga-lembaga statistik menggunakan harga-harga ini yang dipakai untuk menentukan laju inflasi dan sebagainya.

Dalam ilmu statistik harga (pricing statistics) hal ini sering dijumpai adanya barang-barang khusus yang menjadi komoditi kunci dalam penentuan harga lain. Harga-harga komoditas ini sering dipakai sebagai tolok ukur dalam menentukan besarnya budget (anggaran), menentukan harga jual produk, bahkan juga menentukan nilai tukar uang dalam jangka panjang dan inflasi.

“Itu dengan asumsi harga minyak berapa ?”

Minyak bumi saat ini merupakan komodity “price index” yang dipakai untuk menentukan harga serta prediksi keekonomian. Itulah sebabnya banyak yang sering bertanya kalau ada sebuah rencana besar sering dibumbui pertanyaan “Itu dengan asumsi harga minyak berapa ?”.

Perlu hati-hati ketika menggunakan minyak atau pun harga indeks dalam merencanakan sesuatu. Seringkali banyak yang terpeleset ketika menggunakan harga indeks ini dalam bermimpi (eh merencanakan sesuatu).

Berikut ini salah satu contoh potential pitfall dalam menggunakan index harga minyak. Ketika itu awal 2000 harga minyak masih 20-25 barrel karena barusaja meningkat dari harga 15 USD/barrel, maka banyak issue yang berkembang dan menyatakan bahwa kalau harga minyak sudah diatas 40 USD/barrel, maka batubara akan dengan mudah menggantikannya. Sehingga waktu itu banyak yang bersiap-siap mengembangkan batubara. Bahkan batubara pernah menggeliat booming awal 2000 itu. Namun disi lain ternyata supply batubara terkendali oleh kebijakan China yang ingin mengerem exportnya. Sedangkan Ustrali saat itu belum mampu menggenjot produksinya.

Issue bahwa batubara menggantikan minyak ini sepertinya “sudah terlanjur” sehingga muncul pameo “Kalau saja harga minyak mencapai diatas 50 USD/barrel maka batubara akan menjadi komoditas yang paling ekonomis dalam mengembangkan energi” atau ada juga yang bermimpi “Kalau harga minyak diatas 50 $/bbl, maka oil shale yang ada di Canada akan ekonomis untuk ditambang”.

Nah hari ini harga minyak sudah diatas 100$/bbl, mengapa tetap saja minyak paling dicari ? Dan mengapa oilshale di Canada belum juga ditambang secara massal ?

Ya tentusaja itulah yang sering terjadi. Sebenarnya dalam harga minyak berapapun, maka biaya mengekstraksi oilshale akan selalu berada diatas harga minyak. Lihat ilustrasi disebelah ini.

Ketika harga minyak naik, ongkos transportasi menjadi naik. Karena ongkos transportasi naik, maka biaya menambang logam untuk membuat baja, dan juga permintaan gaji pegawai naik, akhirnya semua harga ikutan naik. Jadi meningkatnya harga minyak tidak menjadikan energi alternatif akan mampu menggantikan minyakbumi. Selama mesin-mesin peminum minyak ini masih ber”kuasa” maka harga minyak bukanlah tolok ukur yang tepat untuk menentukan nilai keekonomian komoditi lainnya.

😦   “Lantas yang membuat harga minyak itu naik apa donk Pakdhe?”
😀 , “Nah itu dongeng lainnya nanti thole”

Demikian juga energi alternatif lainnya. Energi angin tetap saja angin-anginan. Energi matahari juga masih tertutup mendung. Demikian juga energi gelombang masih juga mengalun-alun naik turun tak pasti.

Bagaimana dengan Indonesia ?
Biodiesel, Jathropa ?
Tunggu tulisan berikutnya

Perkembangan harga minyak bulan ini Perkembangan bulanan harga minyak ada di sebelah ini (updated ! ):

sumber gambar : Wikipedia, www.oilprice.net

15 Tanggapan

  1. pak saya mo nanya neh….mo tau dunk analisa tetntang harga minyak bumi dari harga tertinggi tahun 2007 ampe harga terendah tahun 2008 berserta grafiknya….
    tolong yah pak..buat tgas kamous neh……..

  2. yg penting mikirin antisipasinya, pertajam lagi sektor riil spt pertanian dan peerkebunan yg telah terbukti tahan terhadap terpaan badai resesi selama ini

  3. Pak de, mau nanya donk mengenai mekanisme terbentuknya harga minyak dunia yang skrg udah di atas $100/bbl ini. Biasanya di koran2 kan ada versy NYMEX, nah harga $100/bbl itu terbentuk dari mana, karena setau saya harga minyak beda2 berdasarkan nilai API nya.

    Dosen saya pernah bilang bahwa ada perusahaan konsultan harga minyak dunia yang mengkalkulasi semua paramater yang berpengaruh terhadap harga minyak dunia (i.e supply, demand, war, etc) lalu mereka mempekirakan, “menurut perusahaan kami, harga yang wajar buat minyak adalah $100/bbl” dah statement dari perusahaan tersebut lah yang jadi patokan buat ber tranksaksi migas, contohnya di NYMEX..

    Kalau memang begitu mekanisme tebentuknya harga, menurut saya bisa sangat konspiratif… karena perusahaan konsultan tersebut secara implisit mempunyai kontrol yang besar terhadap harga komoditi yang paling valuable skrg ini,

  4. Harusnya Indonesia revolusi aja. Ubah tuh KUhp Pidana. Untuk koruptor 100 juta potong tangan, 500 juta keatas hukuman mati. wong yang buat undang-undang aja korupsi gimana mau menghukum diri sendiri. SORII…..III LAH YAU

  5. Birokrat indonesia emang keterlaluan. Janji pemilu aja gak ada yang ditepati, masih punya alasan untuk janji-janji terus. Kapan janji terlaksana. udah keburu mati yang diberi janji keburu mati

  6. Ternyata 8 tempe yang dijual ke masyarakat sendiri itu cukup dan berlebih untuk nomboki 2 tempe dari tempat tetangga itu lho. Asli, tempe buatan sendiri lebih murah dari tempe tetangga. Kate siapa…kate tempe…..

  7. […] 30 April 2008 at 2:37 pm | In Dongeng Geologi, Energi | Tags: energy, engine, save energy Dengan harga crude-oil merangkak ke angka 120 USD/bbl saat ini, harga BBM suangat terancam untuk naik. Penghematan merupakan salah […]

  8. pak dhe… minta alamat e mail pak dhe boleh gak….
    By theway saya mau tanya nih meski gak ada hubungannya dengan harga minyak, menurut pak dhe…. pecahnya atau jebolnya tanggul sidoarjo disebabkan sesar aktif pada wilayah sidoarjo, menurut pak dhe sesar tersebut akibat subsidencekah, lempeng yang bergerakkah, atau yang lain… o.. iya solusi oak dhe nutup lapindeh lumpurnya gimana saya dengar proyek RW pak ruby rubiandini masih ngembang karena rasio keberhasilannya


    —> email boleh saja silahkan ke gmail.
    Tanggul di Sidoarjo dulu awalnya sering jebol akibat gorong-gorong yang ada sebelumnya (ref : https://rovicky.wordpress.com/2006/08/28/pandangan-dari-atas/ . Namun kemudian karena subsidence ref : https://rovicky.wordpress.com/2006/11/09/retak-retak-di-tanggul-itu-wellcome-to-our-dynamic-earth/ ) . Pak Rudi memang masih mempercayai bahwa RW (Relief Well) masih mampu mengatasi semburan. Tetapi saya sudah tidak yakin bahwa RW mampu mengatasi karena kondisi bagian atasnya yang sudah retak-retak akan sulit untuk di bor, dan yang lebih krusial adalah “ketidak tahuan” kondisi bawah permukaan saat ini.

    Silahkan baca dari awalnya disini : http://hotmudflow.wordpress.com/yang-sering-dibaca/

  9. Pak Dhe,
    Harga minyak diatas USD 110 per barrel, produksi Indonesia sekitar 850-900 barrel oil perday…
    Bisa dijelaskan kenapa malah harga kebutuhan pokok dan lain-lain meningkat, kenapa justru peningkatan harga minyak tidak setara dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat banyak…?
    Terimakasih
    Regards
    Sigit

    –> Mas Sigit, Seandainya anda penggemar tempe yang juga penghasil tempe. Kalau anda sehari makan 10 tempe padahal anda hanya mampu membuat 8 tempe, apakah anda suka cita dengan harga tinggi atau duka cita karena nombok beli 2 tempe ke toko sebelah ? 🙂
    Jadi intinya asalkan anda memproduksi tempe diatas kebutuhan, maka harga tempe meningkat akan menyenangkan produsen tempa 🙂 .
    Nah Indonesia itu kebutuhan minyaknya jauuuh diatas sejuta barrel sehari ! “Oh Begono “, kata Ntjep “

  10. Mas, badhe nyuwun pirsa. Kalo masyarakat di sumatra bisa menimba minyak (saya lihat di tv bulan april 2008), terus menyulingnya pake drum, dan jadi bensin, apakah negara kita yang besar dan kaya ini juga bisa melakukannya?
    Kalau tidak bisa menyuling kenapa? Kalau bisa, kenapa harus import bensin?
    Saya kok bingung dengan pikiran saya tersebut.

    Tolong dijelasin nggih Mas.

    –> Kalau menggunakan contoh di Sumur-sumur tua di Cepu yang diusahakan oleh rakyat, memang seolah-olah biayanya murah. Tetapi kalau anda melihat dampak lingkungannya dimana banyak minyak berceceran, serta hasil limbah yang cukup menganggu, maka akan berpikiran lain.
    Dalam jumlah kecil yang diusahakan rakyat tentunya hal ini tidak terasa, namun ketika mengaku rakyat kecil dengan produksi ribuan barrel sehari, tentunya bukan rakyat kecil, tetapi RAKYAT KECIL 😛

    Jadi kalau diusahakan kecil-kecilan dengan standart perusahaan besar yang harus memenuhi ini itu, maka dengan cara menyuling dengan drum tersebut bisa jadi ongkosnya juga tidak sedikit.
    Dalam pertambangan rakyat di Kalimantan, banyak yang menggunakan Buldozer dan mesin pengeruk serta dump truck. Penambangan rakyat dalam benak ini semestinya menggunakan cangkul atau mesin kecil-kecilan. Lah kalau pakai buldozer dan dump truk ini apa ya boleh disebut rakyat. Walaupun sebenernya RAKYAT KECIL.
    Mnurutku, kalau rakyat mau menambang sendiri dan mengikuti aturan pemeliharaan lingkungan, keselamatan, serta menjaga kualitas ya bagus lah yaw.
    Btw, busway … Mengapa kita impor ?
    Mnurutku karena jumlah kilang minyak di Indonesia yang hanya 6 (kalau tak salah) tidak mampu mencukupi kebutuhan sendiri di Indonesia. Jumlah kilang di Indonesia hanya sedikit dibandingkan Singapore, looh. Singapore ini bukan pengasil minyak (crude), tetapi Singapore merupakan pengekspor Diesel terbesar di Asia … looh ! 😀

  11. pak dhe kalo hari ini naik besok apa dong….!!!
    daripada mikirin minyak naik mending mikirin gimana pendidikan murah pak dhe… kasian wong indonesia makin banyak dibodohin, oh iya pak dhe… kalo di undang jadi pembicara seminar pak dhe rovicky mau gak….

    —> Kalau waktunya pas boleh saja. Aku beberapa kali ngasi seminar juga kok. Cuman waktu seminarnya ini yang sulit disamakan dengan jadwal kerja. Maklum masih jadi kuli 😛

  12. wah jadi bahan kuliah lagi nih besok sama dosen saya…

  13. Semoga dengan naiknya harga minyak dunia juga menaikan salary buat yg bekerja di oil company 😦

  14. Kalau harga energi melambung, maka dengan alasan untuk ‘survive’ perang2 bisa mulai terjadi. Hmm, mudah2an bisa menemukan alasan untuk optimis lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: