Keputusan Lusi : politik, hukum atau sains


Lusi: Gejala alam atau kesalahan pengeboran ?

Selalu saja konflik dan issue Lusi hanya membahas masalah krusial diatas (siapa yang salah) karena berhubungan dengan ekonomi, berhubungan dengan moneter, dan menyangkut duwik dan lagi-lagi ujung-ujungnya ada pada kekuasaan. Iya looh, banyak yang lebih tertarik membahasa masalah kekuasaan dibanding masalah kesulitan dan tidak kuasanya manusia menghadapi gejala ini.

Gejala ini jelas menjadi sebuah fenomena alam yang unik yang baru sekali dilihat pertama kali di dunia. Sebuah peristiwa lahirnya gunung lumpur atau Mud Volcano. Kalau aku bilang seperti bisul yg dipecototin. Tentusaja kalau bisul itu didiamkan saja tanpa ditusuk juga akan meletus sendiri entah kapan.

:D “Tetapi konon menurut pakar bisul, bisul yang sudah matang kalao mecotot dengan sendirinya tidak terasa lebih sakit ketimbang disengaja dipecototin”
:( “Tapi nunggu bisul mateng itu kan juga sakit cukup lama Pakde”
:D “Lahwong namanya saja sakit bisulan, bukan nikmat bisulan !” :P

Keputusan Menteri dan DPR bukan keputusan ilmiah !

Banyak yang terkaget-kaget ketika ada keputusan atu rekomendasi dari Menteri dan juga DPR tentang Lusi yang menyatakan bahwa Lusi merupakan gejala alam. Tentusaja banyak yang sontak kaget, diantaranya Walhi.

“looh apa saintis sudah sepakat bahwa itu merupakan kejadian alam ?”

“Apakah berarti semua yang berhubungan dengan kasus pengeboran jadi bebas hukum ?”

Kalau dirunut, sebenarnya secara ilmiah (sains) tidak ada keputusan bulat bahwa kejadian itu merupakan kejadian alam maupun kesalahan manusia, ini kajian secara ilmiah. Karena memang pada dasarnya penelitian atau kepastian ilmiah itu tidak selalu keputusan bulat. Penemuan sains selalu merupakan sebuah keputusan atau pendapat sementara dan sangat parsial kalau dilihat dari sisi perjalanan waktu.

:( “Looh Pakdhe, apa iya Pak Menteri memutuskan itu bukan berdasarkan ilmiah”
:D “Bisa saja Pak Menteri menggunakan dasar-dasar ilmiah atau berdasar pemikiran ilmuwan. Tetapi tidak ada keputusan ilmiah yang diputuskan oleh menteri, thole”
:( “Looh Pakdhe menentang pak Menteri dan DPR ?”
:D “Thole, menteri dan DPR itu jabatan politis bukan jabatan ilmiah ! Jadi keputusannya tidak bisa disebut sebagai keputusan ilmiah !”

Mengapa Lusi diputuskan secara politis ?

Semua keputusan Menteri ataupun DPR, apapun itu masalahnya, selalu dibuat berdasarkan politis. Lah, iya lah, kan Menteri serta DPR itu jabatan politis. Walaupun institusi pendidikan dan dosen-dosen di UGM bilang anu, sedangkan dari ITB bilang itu, dan dari ITS bilang inu, selalu saja apa yang bapak ibu dosen katakan adalah kesimpulan dan hasil dari sebuah pengkajian, bukan sebuah keputusan. Dan bisa saja kesimpulan penelitian itu tidak dipakai oleh DPR maupun Menteri (termasuk menteri teknologi sekalipun !)

Hasil pengkajian ilmiah ini didasarkan pada data, didasarkan pada kajian ilmu, serta pengetahuan yang telah ada dan disepakati. Benar, seringkali science itu hanyalah sesuatu yang sudah disepakati oleh para ilmuwan. Jadi ilmiah atau tidakpun sakjane juga hanya kesepakatan atau lebih tepatnya hipotesa baru yang disusun berdasarkan data. Einstein ahli fisika deterministik yang pinternya kayak gitu saja masih ngga percaya sama teorinya Schrodinger yang menggunakan teori kuantum yang berupa probabilistik. Sampai-sampai Einstein mengatakan “Tuhan tidak bermain dadu“. Jelas kan, kalau saintistpun juga tidak satu pendapat saja. Dan masing-masing berguna pada porsinya.

Lalu.
Siapa yang bertanggung jawab ?

Membicarakan masalah tanggung jawab ini menyangkut masalah konsekuensi atas tindakan yang diperbuat. Ada institusi atau pihak lain yang membuat keputusan yaitu pengadilan, ini untuk memutuskan kasus hukum. Pengadilan bukan memutuskan kaidah science dibalik kejadian, bukan memutuskan apakah Lusi akibat pengeboran atau hanya akibat peristiwa alam saja (misalnya gempa). Pengadilan akan memutuskan siapa yang ebrsalah dan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Contoh bencana yang menggeret seseorang ke pengadilan : Ketika sebuah gunung meletus yang menelan banyak korban akibat kelalaian penjaga gunung yg terambat memberikan amaran. Kelalaian ini juga akan berakibat kasus hukum terhadap si penjaga gunung, kan ? Demikian juga kasus Lusi. Walaupun Lusi dinyatakan sebagai bencana alam secara politik tidak berarti kasus hukumnya berhenti, kan ?

Science ngomong apa lagi ?

Tanpa pikiran suudzonpun suatu saat bisa saja logis kalau sainstis mengatakan kejadian Lusi adalah kejadian alam, karena dia berdasarkan atas data-data yang mendukung teorinya. Namun juga sangat logis kalau Lusi merupakan akibat keteledoran manusia (drilling), tentunya dengan data-data yang mendukung teorinya.

Teori itu tidak pernah kekal, teori itu paling mudah berubah ketika ada data baru, atau ada teori pendukung lainnya yang diketemukan. Saat ini teori yang mengatakan akibat gempa tidak mampu membuktikannya secara langsung (direct) kecuali kesamaan waktu (korelasional). Sedangkan pendapat Lusi akibat pengeboran juga dihadapkan pada realitias magnitude yang luar biasa ini…. pssst dan susahnya mendapatkan data otentik.

Namun perlu disadari semestinya para saintist tidak berhenti berpikir dan meneliti fenomena alam ini. Bukan hanya mencari penyebabnya, tetapi bagaimana agar manusia dapat berdampingan hidup bersama bencana unik ini.

Hanya di dunia ideal keputusan politik berdasarkan kaidah ilmiah yang sesuai dengan keputusan hukum.

Tentunya banyak contoh diluar negeri tentang keputusan politik yang berbeda dengan para ilmuwannya. Contoh mudahnya soal global warming,  Amerika tidak meratifikasi Kyoto Protokol tentang pemanasan global karena ada konsekuensi pembatasan emisi karbon. Padahal kita juga tahu bahwa tidak sedikit para ilmuwannya menyetujui perlunya pengurangan emisi karbon yang dicurigai penyebab percepatan global warming.

Mengapa ?

siapa-yang-memakai.jpgYa tentusaja keputusan politik Amerika meratifikasi Kyoto Protokol akan mengandung dan akan menggeret sejumlah konsekuensi negara yang terlalu berat baginya. Bayangkan saja, Amerika saat ini menenggak lebih dari seperempat minyak dunia. Tentusaja dengan mengurangi emisi berarti harus kerja sangat keras. Dan ini diluar kemampuan Amerika saat ini. Mungkin kalau Amrik sudah siap bisa saja keputusan politiknya diubah

Bagaimana dengan Lusi

Hal yang sama seandainya secara politis ditentukan bahwa Lusi akibat kelalaian pengeboran. Lantas konsekuensinya sangat berat dan berbahaya dan berpotensi menggeret institusi-institusi pemerintah yang justru membahyakan negara. Bukan hanya pemerintah tetapi negara ini, termasuk rakyatnya diperkirakan akan tidak akan mampu menanggung bebean tekana dari luar.

Tanpa memahami kebutuhan politik negara. Tentusaja sulit menerima keputusan poltik ini. Ya wis diputuskan saja sechara politik untuk urusan keluar, tetapi kedalam masih diperlukan tanggung jawab moral dan material untuk mengurangi beban. Tentusaja kasus Lusi akan berpotensi menjadi Tampomas baru apabila diputuskan kesalahan pengeboran bukan ?

Jadi jangan dianggap bahwa keputusan atau pendapat politisi (menteri dan DPR) itu selalu berdasarkan kaidah ilmiah yang memadai.

:( “Lah trus pendapat Pakdhe gimana ?”
:D “Ya masih tetep seperti dalam tulisan
Detak-detak kelahiran LUSI !
:( “Halllah …. Sok saintist !”
:D “Hust tak kuethak kowe !”
:( “Pakdhe aku nunggu keputusan dari sisi bisnis, ah”
:D “Hust !!”

About these ads

8 Tanggapan

  1. Secara hukum memang perusahaan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.Tapiiiii secara politisss LUSI itu akibat bencana alam. Yo wiss pakdhe kita semua kan tau memang beda bila kita memandang persoalan dari sisi hukum dan memandang persoalan secar politis

  2. C spasi D, caapee deehhh.

  3. la wong yg duduk disana orang yg gak becus kalee yeee…
    terima kasih infonya..
    sangat bermanfaat
    :D

  4. Salahnya mungkin karena kita bicara benar dan ilmiah. kalau kita melakukan pendekatan kekuasaan pasti semuanya klop.

    Salam Merdeka!

  5. Pak Rovicky saya gaktau harus ditempatkan dimana? karena 8 April merupakan hari yang mempunyai makna (HUT 1th BPLS), saya secara respon cepat (quick respon) menulis secuil kilas balik TAHUN 1981 di segitiga Masalembo dikaitkan dengan Tragegi Kemanusiaan TAMPOMAS II.

    KILAS BALIK ‘SEGITIGA MASALEMBO ANTARA TRAGEDI KEMANUSIAAN ’TAMPOMAS’ DENGAN INSPIRASI ILMU KEBUMIAN’

    –> Saya masukkan dalam bilik khusus disini : Setahun BPLS : Dongengannya Pak Hardi Prasetyo seputar Segitiga Masalembo

  6. Sebenarnya mudah saja hukum membuktikan siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab terhadap LUSI … sepengetahuan saya ikut beberapa diskusi dan mengikuti sidang-sidang yang berkaitan .. ternyata para penggugat lemah disisi pembuktian dan tidak adanya ahli geologi yang secara jelas dan tegas menyatakan apakah fenomena alam atau human error …. seandainya ada 1 saja ahli geologi yang mau bersaksi dipengadilan tentunya akan sangat membantu … ironisnya yang ada ahli2 geologi tersebut lebih suka beropini di media massa …

  7. Bukan hanya pemerintah tetapi negara ini, termasuk rakyatnya diperkirakan akan tidak akan mampu menanggung bebean tekana dari luar.
    “beban tekanan dari luar” itu maksudnya bagaimana pakdhe…
    tapi apapun keputusannya tetap itu musibah harus dicari jalan keluarnya…


    –> Dalam setiap keputusan politik dimana pemerintah-nya mengakui ada kesalahan, maka akan banyak “musuh” negara yg akan “mengail di air keruh”. Misalnya saja, seandainya dianggap adanya ketidak mampuan BPMIGAS dan DESDM dalam pengelolaan, dan diakui secara politis, ya tentusaja nanti tekanan kontraktor2 asing yang saat ini ada hubungan ‘bisnis’ dapat merambah ke sisi operasional. Padahal secara operasional kontraktor ini bekerja di daerah yang dekat dengan rakyat, walaupun perjanjiannya dibuat dengan pemerintah pusat. Yang lebih penting lagi sebenernya bahwa Lapindo sudah bersedia membiayai dana

  8. Gusti mboten sare, Pakdhe. Siapa pun — penguasa, pengusaha nasional, ilmuwan — yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kebatilan …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.163 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: