Bekerja di Luar Negeri – Apakah nasionalisme sudah menjadi barang jadul ?


pekerja Apakah nasionalisme sudah menjadi barang jadul ?

“Mengapa tertarik ke Malaysia, mengapa tidak ke Uni Eropa atau ke AS? Apa keuntungan/ kemudahan bekerja di Malaysia?? Apa keinginan atau harapan terhadap Indonesia sebagai tanah air, terutama dari pemerintah dimana ternyata banyak sekali ahli-ahli Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri dan membangun negara orang lain karena mendapat imbalan ekonomi yang sangat menyejahterakan dibandingkan dengan membangun negeri sendiri ?”

Ya, itu sebuah pertanyaan sangat mendasar yang konon katanya ditulis oleh seorang wartawan yang ditujukan kepada kaan-kawan IATMI-KL (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan di Kuala Lumpur).

😦 “Whalllah, Pakdhe niku. Itu pertanyaan atau tuduhan ?”
😀 “Lah anggap saja itu pertanyaan wartawan tanpa koran, bisa saja to ?

Pertanyaan diatas muncul dalam mailist IATMI-Kuala lumpur selama sepekan kemarin. Pak Hari Primadi sebagai ketua IATMI-KL akhirnya merangkum jawaban yg berupa essai itu seperti dibawah ini. Lebih dari 80 responden menjawab berdasarkan atas pemikiran apa yang paling utama ketika mereka menentukan tempat bekerja (terutama di Malaysia).

  • Gaji & Benefit: 11 responden = 14%
  • Kualiatas hidup (fasos, fasum, keluarga): 10 responden = 12%
  • Dekat (dengan kampung halaman): 10 responden = 12%
  • Kultur (makanan, bahasa pengantar, culture shock): 9 responden = 11%
  • Dihargai (sebagai Duta bangsa, ekspatiat): 8 responden = 10%
  • Peluang (tidak diterima saat melamar di Indonesia): 8 responden = 10%
  • Pahlawan devisa: 5 responden = 6%
  • International exposure: 4 responden = 5%
  • Skill development (coaching, mentoring, training): 3 responden = 4%
  • Job related (load, environment): 3 responden = 4%
  • Batu Loncatan: 3 responden = 4%
  • Sekolah Anak (pergaulan, kesinambungan ke jenjang Universitas): 3 responden = 4%
  • Pajak: 2 responden = 2%
  • Lain-lain (berobat, program “my second home”): 2 responden = 2%

Nah, kalau hanya angka mungkin tidak menarik. Perlu dicari sisi-sisi pembelajarannya. Mari kita coba kalau dikelompokkan berdasarkan klasifikasi lebih kecil maka terlihat bahwa ada fakta lain yang bisa diambil.

😦 “Wah pakdhe selalu saja menjadikan angka sebuah cerita dongeng ya ?”
😀 “Thole, angka itu menjadi dasar dalam berpikir dan mengambil keputusan. Yang penting bagaimana memahami arti dari angka !”

Ternyata

Ternyata alasan serta pemikiran profesionalisme dan karier mendominasi diantara 29 responden atau sekitar 33%. Sedangkan faktor sosial budaya mendapat respons dari 19 orang, atau sekitar 23%. Sedangkan Gaji dan segalanya yang berhubungan dengan uang mendapatkan 18 responden atau kira-kira menduduki rangking ketiga 22%. Sedangkan Kehidupan keluarga bukan yang terutama walaupun hal penting terbukti dipilih oleh 15 responden atau 18% saja.

Wah ini data-data sungguh penting dan berharga terutama buat pengamat human resources dalam industri migas di Jakarta. Bahwa ternyata mereka-mereka yang bekerja di Luar Negeri tidak harus disebabkan atau di drive oleh gaji (remunerasi) atau masalah uang. Uang ternyata bukan segalanya bagi mereka. Ini sebuah berita bagus yang menunjukkan bahwa profesionalisme saat ini menjadi menjadi titik tolak para pekerja-pekerja Indonesia di Luar negeri khususnya di Malaysia (Kuala Lumpur).

Tentusaja fakta diatas dapat menjadi tantangan bagi pengelola tenaga kerja di Indonesia.

Bagaimana peran IATMI ?

IATMIMinggu lalu IATMI Kuala Lumpur kedatangan tamu khusus dalam acara Ulang Tahun IATMI-KL ke 5. Para tamu dari Jakarta itu diantaranya Pak Kuswo Wahyono: Ketua Umum IATMI yg saat ini menjabat sebagai Executive Advisor BP MIGAS. bersama Mas Fauzi Imron: Deputi Umum yg saat ini menjabat sebagai General Manager MedcoEnergi dan Mbak Eri Sistiana: Bidang Usaha yg saat ini menjabat sebagai PR Specialist Chevron.

Pak Kuswo mempresentasikan bagaimana kebutuhan tenaga GGE di Pertamina, yang dilanjutkan dengan diskusi yang juga berisi tanya jawab cukup hangat dengan Pak Fauzi. Tentusaja diskusinya juga masih berbicara soal ketenaga kerjaan dan hal-hal lain yang menarik.

Bagaimana HR-HR Migas di Jakarta ?

Sepertinya apa yang diungkapkan Pak Kuswo waktu itu dengan kurangnya tenaga GGE adalah benar. Dan juga fakta yang diungkap Pak Kardaya tahun lalupun sudah benar ketika mengindikasikan kekurangan hingga 16 ribu posisi yang lowong di lingkungan migas. Nah bagaimana dan apa yang mesti diperbuat supaya tidak terjadi hengkangnya profesional dan juga potential GGE – Geoscientist dan Engineer yang ada di Indonesia ini ?.

“There is no silver bullet to kill all enemies”

Yang pasti Kalau diterjemahkan dalam sebuah program kerja ini sangat jelas pesan diatas. Tidak ada “satu” langkah yang bisa dipakai sebagai “sapu jagad” dalam menyeleseikan masalah yang kompleks, multi dimensional dan merupakan dampak dari “globalization phenomena“.

Pertanyaan “wartawan” untuk menyinggung rasa nationalisme sudah bukan hal mudah dipergunakan lagi. Nasionalism barang abstract yang hanya perlu ditunjukkan dengan sebuah “semangat” yang abstrak pula. Nationalisme saat ini harus mampu ditumbuhkan dan ditunjukkan dalam sebuah bentuk realitas dan cenderung material dan kasat mata.

Semoga menjadi perenungan bersama.

Tantangan human resources masih akan menjadi issue mungkin hingga 5-10 tahun lagi ketika gap, kesenjangan tingkat keahlian, yang terindikasi dalam tulisan The workforce challenge disini akan terisi.

—————————————————

Catatan lepas atas pertanyaan Sigit dibawah “Apa itu nasionalisme ?”

Sebenernya menghubungkan nasionalisme dengan “brain drain” tidaklah sederhana. Tidak ada salahnya kita mengerti dahulu apa itu nasionalisme. Wiki memberikan definisi sederhana begini.

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Memang ini hanyalah faham yang mengatakan bahwa “nation” harus didahulukan, dan ini merupakan bagian dari landasan berpikir dan bertindak demi kepentingan eksistensi sebuah negara. Jadi awalnya nationalism hanyalah untuk negara. Dalam perkembangannya ada Nasionalism budaya, Juga ada Nationalism etnic (misal china, etnic melayu, etnic India, caucasian dll).

Dalam nationalism etnic ini misalnya orang melayu yang berpikir “yang penting untuk orang melayu”, ini banyak terdengar di Malaysia. Sehingga ketika nationalism etnic ini muncul maka Malaysia akan mungkin bersatu dengan Kaum Melayu di Indonesia Barat, dimana nationalisme negara akan pudar.

Apakah nationalism itu penting ? Yang jelas faham nationalism itu ADA ! dan beragam !

Iklan

38 Tanggapan

  1. di negeri para bedebah,rakyatnya jadi kuli di negara orang,upahnya sumpah serapah dan bogem mentah

  2. Semakin banyak warga negara kita yang bekerja di luar negeri, semakin besar pula devisa yang diterima negara

  3. nasionalisme.patriotisme.dan isme2 sejenis lainnya, pentingkah??
    kalo bagi saya, nasionalisme hanya lah sekat “transparan” diantara umat manusia, ujung2nya y memecah belah manusia…hiks!

  4. klo nasionalisme bisa ngisi perut, gue dukung nasionalisme (ini kata para caleg,capres,cagub,dll)

    rakyat biasa ga penting nasionalisme..

  5. luar biasa, tak kira kerja di luar negeri cuma karena nyari duit tok, hehe..
    merdeka!!

  6. pakdhe rovicky ini mustinya sudah pulang saja ke indonesia. seperti kata ki hajar dewantoro, yg sudah merasa sepuh ya harus ing ngarso sung tulodho – di depan dan memberi teladan, menciptakan trend baru. kalau masih merasa mid-level – ing madyo mangun karso. kalau masih baru ya tut wuri handayani.

    berkat perjuangan pendekar migas indonesia, sekarang para profesional migas dari indonesia sudah diakui kehandalannya hampir di seluruh penjuru dunia. jadi sekarang sudah cocok lah untuk yang masih baru sampai ke tingkatan menengah.

    jadi kalau sudah jadi pendekar kayak mbah rovicky akan lebih banyak kiprah yang bisa dilakukan di tanah air. misalkan 1) meningkatkan renumerasi profesional migas di indonesia (pakai sistem re-grading, lump-sum exercise, fast-track career development, production bonus etc.), 2) mengelola kawah candradimuka untuk melahirkan pendekar-pendekar baru di belantara migas dunia, dan 3) mengembangkn bisnis migas indonesia.

  7. […] perkembangan politik kini telah banyak mempengaruhinya. Komentar-komentar dari para pembaca blog di https://rovicky.wordpress.com/2008/04/08/nasionalisme-barang-jadul/#comment-19181 tentan kerja di luar negeri dan semangat nasionalisme, lagi-lagi, menarik untuk disimak. Hanya […]

  8. ijin kopi-paste komentarnya…

  9. Ya iya lah. Mau di mana pun namanya hujan emas lebih mengasyikkan dari hujan batu. Dan kalau yang cerdas, mengumpulkan emas di negeri orang, lalu dibawa ke negeri sendiri supaya di negeri sendiri isinya bukan batu doang. 🙂 . Dengan pepatah lama yang berbau mbok-mboken itu (takut jauh dari rumah) akibatnya devisa kita nggak bertambah. Sementara hujan emas yang di sini sudah diboyong ke negeri lain.

  10. ternyata hujan emas di negeri orang lebih mengasyikkan daripada hujan batu di negeri sendiri

  11. musim memang udah berganti.. 😕

    istilahnya sekarang, ada uwang abang sayang nasiyonalis, nggak ada uwang abang tendang kapitalis 😆

  12. Ada seorang ahli fusi nuklir, kalau nggak salah namanya Iwan; satu-satunya orang Indonesia yang expert di bidang itu; malah dikucilkan dan idle capacity di BATAN.

    Dia disalahkan karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan aturan administratif dan standar kepatuhan yang diminta bosnya di BATAN.

    Kalau tidak salah orang itu sekarang kerja di Mitsubishi Jepang; TERPAKSA, padahal dia sangat ingin membaktikan ilmunya demi kemajuan Indonesia.

    Habibie adalah contoh lain lagi. Pulang ke Indonesia, terpaksa berpolitik untuk melindungi proyek teknologi yang mau dibangunnya; akhirnya ilmunya sia-sia dan karir politiknya tamat secara menyedihkan (Timtim).

  13. Aneh ya, nasionalisme kok dihubungkan dengan tempat tinggal. Indonesia itu bangsa, bukan negara atau alamat tinggal. Tidak tinggal di Indonesia apa terus jadi bukan orang Inonesia? Kenapa pizza, makanan italia ada di mana-mana? Juga makanan cina dan jepang? Kenapa ada artis cina yang ngetop di hollywood, dan sutradara India yang dihormati di sana. Atau boss perusahaan global kayak Citibank atau Pepsi kok bossnya orang India? Kenapa? Karena mereka berani meninggalkan tanah airnya dan menyebarkan kebangsaannya di tanah yang baru apapun alasannya. Menurut saya mereka nasionalisme, karena mereka justru mengharumkan nama bangsanya lewat makanan, inteligensia, fashion, budaya, dll di seluruh dunia.

  14. ya seperti itulah kira2

  15. nasionalisme tidk berbanding lurus dengan kesejahteraan dan kenyamanan keluarga jadi ya begitu lah…

  16. Pakdhe bagi anak-anak muda sepertiku cieee 🙂 yang namanya nasionalisme itu musti dilihat kepraktisannya, lebih seringnya individual. Secara memang menguntungkan dalam kehidupannya ya ambil saja. Kalau tidak bermanfaat ya ditinggalin aja, Pakdhe.
    Mohon maaf kalau salah

  17. emangnya nasionalisme bisa ngedatengin apa?? kebahagian atau kesengsaraan??
    bingung pakdhe?😀

  18. Nasionalisme …. mmmm artinya seperti yang di katakan di post subjek , tetapi makna lain org pasti beda maknanya. ya kalau bagi yang bekerja di luar negeri tidak bisa di bilang tidak nasionalisme. butuh uang , butuh penghidupan yang layak , namanya juga manusia, jika ada kesempatan kenapa tidak !!!!.

    Lebih cocok jika membahas masalah nasionalisme ini di tujukan kepada org keturunan yang katanya lahir disini dan besar disini malahan udah 25 sampai 30 tahunan , akan tetapi masih berstatus warga negara asing. nah itu nasionalismenya harus di pertanyakan. dan pada kenyataannya mereka mendapat lebih dari apa yang kita rasakan.

    Alasan susah dapet gelar WNI , tuh mah alasan klise ya.

    Contoh nya saudara gw : ayahnya AS ibunya orang sini, tetapi semua anaknya orang Indonesia. mau tahu caranya gampang aja. waktu anaknya lahir tuh si bapak dateng ke badan imigrasi dan aparat terkait trus buat pernyataan kalau anak anaknya diserahin kepada bangsa ini. udah deh bisa dapet akte kelahirannya.

    jika ingin berbicara tentang nasionalisme gk akan habis – habisnya. tergantung kepada kita sendiri.
    saya , anda dan mereka apakah kita mempunyai rasa nasionalisme

  19. Nasionalisme , bukan barang jadul, ia berbentuk adjective noun yang hanya melekat pada pribadi-pribadi berjiwa besar pada tempo dulu dan zaman modernisasi sampai sekarang ini.

  20. nasionalisme memang dapat dipengaruhi oleh tingkat kemakmuran suatu bangsa dan budaya serta kebijakan pemerintah dalam membina dan mendidik warga negaranya. misalnya saja negara India yang mana mereka lebih suka memakai kain sari dan menggunakan Tata mobil kecil seperti VW kodok dari pada produk asing, karena pendidikan kepada warganegara sangat ditanamkan semenjak kecil. mungkin itu pendapat saya, kalau ada salah kata mohon maaf, salam. andiku.wordpress.com

  21. Sigit
    Sebenernya menghubungkan nasionalisme dengan “brain drain” tidaklah sederhana.
    Tidak ada salahnya kita mengerti dahulu apa itu nasionalisme.
    Wiki memberikan definisi sederhana begini. Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

    Memang ini hanyalah faham yang mengatakan bahwa “nation” harus didahulukan, dan ini merupakan bagian demi kepentingan eksistensi sebuah negara. Jadi awalnya nationalism hanyalah untuk negara. Dalam perkembangannya ada Nasionalism budaya, Juga ada Nationalism etnic (misal china, etnic melayu, etnic India, caucasian dll).
    Dalam nationalism etnic ini misalnya orang melayu yang berpikir “yang penting untuk orang melayu”, ini banyak terdengar di Malaysia. Sehingga ketika nationalism etnic ini muncul maka Malaysia akan bersatu dengan Kaum Melayu di Indonesia Barat, dimana nationalisme negara akan pudar.

    Apakah nationalism itu penting ? Yang jelas faham nationalism itu ADA ! dan beragam !

  22. salam kenal

    salman fadlullah

    68n86.wordpress.com
    syariat.tharikat.hakikat.blogspot

  23. Yang jadul itu malah fotonya Pakdhe 😛
    Salam kenal

    Warsito, Gresik

  24. Dear Pak Dhe,

    Definisi Nasionalisme itu apa to…

    Perlu ditanyakan ke para Profesional yang bekerja di luar negeri , setelah puas mendapatkan apa yang mereka inginkan, apakah mereka lupa dengan Indonesia…saya kira tidak….

    Saat 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dikumandangkan, Nasionalisme saat itu begitu menggelora, untuk saat ini, Nasionalisme sudah berkaitan dengan berbagai aspek dalam kehidupan…

    Contoh nya , la kalo dinegeri sendiri saja penghargaan kepada para profesional, misal dari segi gaji saja relatif gak bisa bersaing dengan gaji di luar negeri, padahal unjuk kerja yang diberikan adalah sama, ya tentu secara normal akan memilih yang ‘lebih baik’…

    Kalo aku jadi bagian dari pemerintah, akan aku susun program jangka panjang, yang akan disepakati oleh siapa pun yeng memerintah nanti nya, semacam ‘blue print’…

    Terus isi dari program jangka panjang itu, antara lain membahas tentang “bagaimana menumbuhkan kembangkan semangat nasionalisme”, yang disokong oleh unsur2 penghargaan dari pemerintah kepada rakyat nya, misal dari gaji yang bagus untuk para pegawai negeri sipil, TNI-POLRI, kejaksaan, kehakiman, dan aparatur negara lain nya…kalo kesejahteraan sudah makin bagus, saya kok masih punya keyakinan, bahwa nilai dasar kehidupan seperti kejujuran akan semakin meningkat, la kalo sudah enek hidup nya, tercapai apa semua keinginan nya, ya masak sih masih tergoda buat berbuat ‘nakal, he he he…

    Kemudian untuk para karyawan, baik yang ‘pure scientist’ maupun yang ‘managerial’, diberikan standart gaji yang bersaing juga, iklim keilmuan dimajukan, riset2 yang berguna untuk masyarakat banyak, di lombakan dan diberikan hadiah, baik saat di umumkan maupun setelah nya, jadi ada sistem royalti untuk para scientist…

    Darimana sumber dana nya, apa mesti ngutang lagi…

    Gak harus ngutang, Indonesia kaya akan sumberdaya alam yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan…

    Tinggal dimaksimalkan, pengelolaan nya secara profesional dan jujur, sesuai pasal 33 UUD 1945, dsb.,…

    Selain juga dari pemaksimalan penerimaan pajak, dan bagus juga kalo setiap pembayaran pajak, ada laporan nya ke masyarakat, entah per bulan/pertahun, atau dalam jangka waktu tertentu, dipakai untuk apa saja uang dari pajak tersebut…

    kalo masyarakat melihat secara berkesinambungan, bahwa membayar pajak, ternyata dipakai untuk pembangunan ini, itu, dan jelas pemakaian nya, minimal untuk lingkungan dimana dia tinggal, saya kok masih yakin, rakyat akan berbondong-bondong berinisyatif membayar pajak secara aktif dan sukarela…

    Selain itu program2 yang menyerap tenaga kerja yang banyak, perlu ditumbuhkan, agar tingkat pengangguran bisa ditekan, yang semoga dengan makin meningkat nya tingkat ekonomi, pendidikan, akan berkorelasi dengan menurun nya tingkat kriminalitas, yang ujung-ujung nya kemajuan bangsa yang terus berproses akan lebih cepat dicapai…

    Tolok ukur kemajuan bangsa ada banyak, gak harus yang njlimet-njlimet..antara lain :

    1. Pendapatan per kapita, ini ngitung nya gimana ya…secara konsisten, ada pemonitoran, bagaimana suatu bangsa lain bisa mencapai kemajuan nya seperti saat ini, proses nya, aspek-aspek kehidupan yang haru diselaraskan, dsb., jadi untuk mengejar ketertinggalan itu ada tolok ukur dan contoh nyata nya, dan selalu diinfo kan ke masyarakat…
    2. Pendapatan per kepala keluarga, tentu tiap KK, tiap daerah lain-lain, namun sebaik nya ada angka standart tertentu secara nasional, supaya kelihatan, gak ada yang maju bangett, gak ada yang masih tertinggal, mesti maju bersamaan, katanya bangsa yang satu…
    3. Tingkat pengangguran, makin tinggi atau turun, apa penyebab nya…, bagaimana membuat program yang bisa menurunkan tingkat pengangguran secara bertahap…
    4. Tingkat melek huruf, pemberantasan buta huruf minimal harus dicapai, syukur2 dikenalkan dengan teknologi tepat guna, yang bermanfaat untuk menjadi wira usahawan…
    5. Hutang pemerintah dan swasta, nah ini yang agak rumit pembahasan nya, la wong skema hutang nya saja berbeda-beda, tingkat suku bunga, jangka waktu pengembalian berbeda-beda, kayak nya bila gak terlalu bergantung dengan hutang, alias sebagai bangsa suatu saat bisa sedikit saja hutang nya, martabat sebagai bangsa akan lebih baik di mata negara-negara lain…
    6. Terserap nya program2 Pemerintah ke tiap daerah, dan disetujui oleh DPR, diketahui manfaat dan urgensi nya oleh masyarakat,…saya masih mikir, gimana mengefektifkan pola ‘top down’ dan ‘bottom up’…, jadi bila masyarakat punya keinginan yang memang urgent dan bagus untuk dimasukkan ke program pemerintah, DPR sebagai wakil rakyat bisa secara efektif merumuskan nya, kemudian saat disusun RUU sebelum jadi UU, disosialisaikan ke masyarakat yang memilih nya, minimal untuk daerah dimana wakil rakyat tersebut berasal…

    kemudian yang top down, saat pemerintah membuat Perpu, apakah sudah pasti akan berguna untuk kemjuan masyarakat nya, apakah ada media komunikasi untuk menjembatani nya ya…?

    7. Apa lagi ya…

    Hmmm, kayak nya sudah agak menjadi diskusi yang tidak hanya membahas Nasionalisme saja ya, he he he…

    Semoga bisa menambah ‘warna’ dalam berdiskusi, dan membawa manfaat..

    Best Regards
    Sigit

  25. Bagus, bagus dan bagus.
    Bekerja dimana saja, asal amanah ya sama saja. Yang penting bekerja itu sebagai ibadah.
    Gaji kecil, sedang atau besar itu relatif dan anggap saja rejeki dari yang Kuasa. ‘
    Kalau nyaman di hati dan selalu mensyukuri itu yang diharapkan…
    (Pjt)

  26. Sebenarnya untuk rasa nasionalisme kawan2 (temasuk saya) yg kerja diluar tidak perlu diragukan lagi pakdhe. Bahkan kalo saya simak uneg2nya mereka, sebagian besar lebih suka kerja diindonesia. Tapi ya itu tadi, lagi2 faktor gaji as main reasonnya. Kalo saja mereka or saya bisa dapet gaji yg = diluar, 100% moleh pakdhe…

  27. Saya baca dengan cukup hati-hati tulisan ini….saya bekerja di bidang pendidikan, dan memang benar, ternyata di Malaya jauh lebih baik, terutama perkembangan keilmuannya…beberapa teman bercerita, kalau ada pertunjukkan yang berbau Indonesia, para imigran Indonesia berbondong-bondong datang untuk menontonnya…mereka masih bercokol yang namanya Nasionalisme, namun apakah citra kebangsaan itu tetap akan meleket???, saya yakin masih….

  28. Jadi sebaiknya profesional2 indonesia yang bekerja di luar, bikin komunitas ril yang bisa bermanfaat untuk kemajuan teknologi di dalam negeri, seperti membagi2kan tulisan2 macam ini, atau mungkin bikin prusahaan2 yang memang sesuai dengan keahliannya? kan udah cukup “nabung” juga tuh diluar..bimbinglah kami…

  29. makin hebat aj pakdhe..

  30. […] Bisa saja tho? Soal Nasionalisme, mereka jagonya, jadi kalo sampai ketiduran itu bukan lantaran tidak nasionalis […]

  31. saya link tulisan ini ya, pakde…

    nasi… nasi onal isme…

  32. Brain drain ini pertama-tama bukan soal nasionalisme, tapi merosotnya harkat dan martabat pekerja di Indonesia menjadi sekadar tool atau sekrup korporasi dan kapitalisme.

    Sudah begitu, gajinya pun terlalu kecil; sehingga pekerja yang punya tingkat keahlian tinggi merasa seperti pelacur jalanan; padahal untuk menjadi pelacur high class pun masih merasa malu pada hati nurani.

    Soal kedua, mungkin, lantaran di semua bidang pekerjaan di negara ini tidak berlaku merrit system.

    Soal ketiga, pemerintah yang pro-bisnis adalah musuh alamiah bagi pekerja intelek.

    Ini sekadar urun pendapat. sejatinya masalah ini sangatlah kompleks.

    Salam Merdeka!

  33. Pak Rov Yth.,
    mungkin model penelitiannya yang harusnya lebih fokus dengan tujuannya. Kalau sekilas saya lihat khan hasilnya general…tidak 100% mempertanyakan masalah nasionalisme tock. sehingga kesimpulannya juga harusnya general. Pertanyaan lanjutan adalah berapa per sen khah yang ada diluar sana dibandingkan di dalam negeri?… Kalau meminjam istilah di penyakit (MenKes) apakah sudah “epidemi” , “kejadian luar biasa” atau masih dalam batas ambang?.
    Rasul pernah menghadapi masalah kekacauan /jahiliah masyarakat Mekah dan beliau melakukan kontemplasi (khalwat) di Gua Hira…dan kemudian diberi petunjuk dan terpilih sebagai Rasul…..jadi tetap tinggal di dalam negeri juga suatu pilihan….he he he..
    wass. HI

  34. nasionalisme kan tidak hanya melulu soal kerja dan tinggal di mana, nasionalisme itu luas, pakde

  35. World is without boundary …
    Now it is the globalism era …

    Kita bisa memperkaya pengalaman kita dengan melihat kondisi pekerjaan dan sosial budaya negara lain.

    Benefits adalah pelengkap yang umumnya lebih baik. Jadi kita bisa juga jadi ekspat di negara lain.

    Majulah para TKI (Tenaga Kerja Intelektual) Indonesia yang akan mengharumkan dan menambah devisa negara. Semoga citra Indonesia tidak hanya bangsa TKW.

    Salam dari yang akan tugas di Cambodia
    “How to change the killing fields into the oil and gas fields.”

  36. Yuppie, Thanks komentar Kang Andang Bachtiar.
    Sebenernya ini bukan hasil sebuah kuesioner tetapi hasil dari pertanyaan “wartawan” yang jawabannya akhirnya berupa kalimat-kalimat terpecah-pecah. Akhirnya Pak Hari Primadi mengelompokkan jawaban-jawaban itu menjadi 14 items. Dari 14 itulah aku sederhanakan supaya lebih mudah dimaknai lebih sederhana. Menjadi 4 kelompok kelas.
    Btw, memang akan lebih menarik lagi kalau pertanyaan senada diberikan ke pekerja-pekerja di negeri lain, misal Middle east, Amerika, dan Eropa.
    Thanks

  37. Hmmm,.. agak tricky juga dirimu memaknai angka-angka itu, Vick. Terutama ketika dirimu tidak membahas fakta feed-back questionaire yang 14%nya (prosentase paling besar) menganggap gaji&benefit merupakan driving factornya. Apalagi ketika dalam pengkelasan “gaji-benefit-pajak” kamu pisahkan dari komponen “profesionalisme & karir”; ini juga sangat subjective. “Gaji-benefit-pajak” inheren dalam pengertian profesionalisme. Jadi, mustinya sampeyan gabungkan “Gaji-benefit-pajak” itu dalam overall klasifikasi “profesionalisme dan karir”. Kalau misalnya dari questionaire tsb hanya minoritas (say, less than 5%) yang menganggap “Gaji-benefit-pajak” sebagai driving force, barulah faktor korelasi profesionalisme dan gaji tsb menjadi negatif, dan kesimpulan sampeyan jadi valid. Tapi, lha ini wong kebanyakan (14%) bilang gaji-benefit-pajak itu pendorong utamanya, jee….. Coba kalau ditanyakan dalam questionaire: Kalau anda digaji sama dengan di Indonesia, tapi diberikan peluang berprestasi dan berkarir secara profesional dengan berbagai embel2: international exposure, batu loncatan, expatriate image, dsb, dsb,…. apakah anda tetep mau kerja di Malaysia? Hehehehe.. kemungkinan statistik jawabannya akan lebih aneh lagi analisisnya.

    Anyway,.. salut untuk usahanya terus menerus menggedor nasionalisme dan profesionalisme migas Indonesia. Keep on moving broer….

    ADB

  38. ternyata nasionalisme tidak berhubungan langsung dengan kenapa bekerja diluar negeri.

    pertanyaan yang lebih baik menurut saya: “apakah orang yang bekerja didalam negeri adalah seorang nasionalis?”

    halo para pelaku KKN, halo para koruptor, halo pak pejabat yang menindas rakyat, halo pelayan masyarakat yang meminta layanan dari rakyat? halo? halo?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: