Ketika anak lain mainan panjat pohon – 2


Wah ternayata banyak response tulisan sebelumnya Ketika anak lain mainan panjat pohon, dia diajak nyari minyak. Terutama dari mailist yang cukup menarik untuk ditambahkan dalam tulisan sebelumnya. Ternyata aspek pendidikan inilah yang merupakan hal terpenting. Pendidikan itu bukan hanya sekolah, pendidikan itu bisa dirumah, di sekolah, dilingkungan, bahkan juga di jalan raya. Dalam hal ini pendidikan di dalam rumah oleh orang tua.

Salah satu komentar dari dari sahabatku Mas Suhaimi OesmanBany yang sebelumnya pernah bertemu dengan Sang Bapak (Leon HESS) :

Tapi Mas Roficky belon pernah ketemu sama yang bikin Hess nya kan…? Leon Hess (alm). Nah aku dah pernah ketemu. Kalau John Hess kan Cuma pewaris saza, jadi kagak heran jadi orang kaya. Noh lihat bapaknya, itu kan dari jual minyak pikul pake truck tua keliling kampung sampe segeda sekarang ini. Nah semangat itu kalau mo ditiru…..bukan yang tiba2 pake dasi….(he..he..)

Berikan dia mimpi !

Jdream.gifustru ini yang ingin saya sampaikan yaitu memberikan “impian ke anak”, salah satunya berpikir BESAR sewaktu masih kecil. Dua contoh lain adalah HUFFCO dan MURPHY-OIL, kedua perusahaan ini juga dibangun oleh pribadi orang-orang yang berani “memulai”. Tetapi (barangkali) ketika anaknya tidak memberikan atau mewariskan “impian BESAR” seperti bapaknya maka Huffco dan Murphy oil, tidak lagi semeriah ketika bapaknya (pembuat) masih memimpin perusahaan ini.

Contoh di Indonesia barangkali usaha dari keluarga Bakrie. Bapaknya Aburizal termasuk sukses mempertahankan harta warisan keluarga, sebagai sebuah usaha bisnis. Saya kira bapaknya Aburizal memberikan impian juga kepadanya sehingga Aburizal sukses menjalankan bisnis bapaknya hingga kini. (upst … jadikepingin juga bisa ngobrol dengan Pak Aburizal, gimana caranya ya ?)

Disinilah pentingnya memberikan impian BESAR sewaktu kecil kepada anak-anak kita (kita ? loe aja kali gwe enggak …. hehehe aku inget di Jakarta liat si Eko Patrio)

Nah sekarang kita lihat saja, apakah bisa ada Bakrie-bakrie lain di Indonesia yang mampu menjadi Powerhouse di Indonesia.

Mas Suheimi melanjutkan bagaimana ‘prejengan‘ Pak Leon HESS ini.

Ya…orangnya ya tua saja. waktu itu dah hampir 80 han tahun umurnya (paranoid kali, abis agak takut salaman sama orang asia kale ya….he..he..) dan dia punya prinsip yg sangat bagus bahwa dia perlakukan karyawan bak satu family, tak ada dlm kamusnya untuk memecat pegawai. Jika belon berhasil disuruh coba lagi. Makanya jarang sekali pegawai yang hengkang dari Hess semasa hidup Bapaknya, sehingga banyak orang bilang bahwa Amerada Hess (nama waktu itu) adalah salah satu tempat kerja yang sangat enak dan baik.

Pendidikan ya no satu agar tetap sustain untuk kelangsungan usaha keluarga. Coba lihat orang2 kaya yang anak2nya gak sekolah bener, ya companynya tinggal nama doang. Yang sekolah macam John Hess dan berteman baik dengan teman sekolahnya Sam Laid law (ex- Coo-Amerada Hess selama 23 tahun) ya kencang larinya….apalagi bidangnya berhubungan dengan petroleum ya kaya Pelor larinya.

Nah setelah bapaknya meninggal, kalau gak salah tahun 1999 apa 2000 (lali aku..), terjadilah perubahan yg extreem, menyebabkan Sam keluar dari Hess (beda filosofi kali sama pewarisnya). Dan ini berdampak pada Hess secara global sehingga banyak orang mengatakan, kalau masa bapaknya dulu, orang mengatakan “we have to be nice”. Nah setelah bapaknya gak ada, orang2 bilang “It’s time not to be nice”….(ha..ha…)

Apakah perlu KARBIT dalam menjalankan regenerasi ?

Kawanku Nazirman berkata :

Sekarang berkembang budaya mendidik anak dari mulai bayi sampai sma sudah menjadi bos, semua kebutuhan tinggal perintakan pembantu untuk mengurus, bahkan orng tuanya juga diperintahnya. Jadi nanti sudah usia kerja tinggal memerintah. Jadi sudah awal sudah pake dasi ….(he…He..)

Untuk hal yang serius soal “karbitan” ini adalah penuturan dari pengalaman kawan-kawan kita yang bekerja di Petronas.

😦 “Halllah Pakdhe ini selalu ngga lepas dari Petronas deh”
😀 “Thole, Petronas itu saudara dekat yang dahulu belajar juga dari Pertamina, dan jangan terlalu GR juga, dia belajar tidak hanya dengan Petronas saja. Saatnya kita gantian belajar dari Petronas, dan juga yang lainnya. Kalau belajar dari satu orang itu nyontek, kalau belajar dari lima orang itu namanya riset !”

Petronas sedang menjalankan program ACD yaitu sebuah progam akselerasi untuk mengejar ketertinggalan dan karena adanya jurang atau ‘gap’ yang cukup besar antara yunior (fresh) dengan experienced (managerial).
Program yang dahulu dilalui dalam masa 10 tahun untuk menjadi seorang Senior Geoscientist diperas menjadi 5 atau bahkan kalau mungkin 3 tahun saja … Wow !!! …. Yuppie, anda boleh berteriak apapun atau hanya mlongo melihat “impian gila” ini ! But it happened !!

Program ACD ini merupakan program akselerasi yang dijalankan Petronas mengingat adanya gap cukup besar dimana pekerja-pekerja middle class-nya banyak yang hengkang cabut dari Petronas. Program ACD ini merupakan program terintegrasi antara rekruitment, training dan bahkan selalu “attached” dengan setiap project. Dalam setiap project selalu ada budget utk mendidik orang-orang baru (fresh) dari Petronas.

Dari sisi rekuitment juga sangat ‘inline‘ dengan kebijakan ACD ini. Setiap satu orang GGE yang di”hire” selalu “diganduli” oleh dua atau bahkan tiga orang “new grad” yang akan menjadi ‘anak asuhnya‘. Progam ‘anak asuh’ sangat sangat krusial, bahkan ‘belief it or not’, anak asuh ini akan mengisi kuosioner yang berisi tentang bagus tidaknya si GGE ini sebagai ‘bapak asuh’ (“mentor“). Dan konon bisa menentukan di perpanjang atau tidaknya kontrak sang mentor. Sechara logika saya, kemampuan teknis orang-orang GGE Indonesia ini sudah cuanggih banget (lah wong seleksinya juga ketat, tidak semua pelamar akan mudah masuk juga kaan), jadi pengawasan teknis atas hasil kerjaannya sepertinya tidak seketat pengawasan (evaluasi) progam ACD ini.
Petronas sepertinya sangat sadar bahwa mentor-mentor ini juga suatu saat tidak diperlukan lagi. Tetapi keberadaan ‘mentee-mentee‘ (anak asuh) ini justru akan lebih diperhatikan karena menyangkut masa depan perusahaan.

Jadi apa yang ditulis Mas Nazirman diatas sudah dijalankan di perusahaan dalam bentuk program ACD (Anak Carbitan Developementhehehehe) yang terstruktur rapi dan dijalankan dengan baik.

berpikir BESAR ketika masih kecil.

Kadang perlu “kegilaan” dalam berkembang

😦 “Pakdhe, bedanya orang gila dan jenius ini kan hasilnya, caranya sering sama-sama gilanya :p. Jadi perlu berpikir gila sewaktu masih waras gitu ya Pakdhe ?”
😀 “hust !!”

ACD – Accelerated Career developement

Iklan

4 Tanggapan

  1. maaf saya kurang sreg dengan beberapa tulisan pakde^_-v

    Sedihnya banyak dari manusia di Indonesia (maap sebelumnya) termasuk para guru tidak mengerti apa itu arti dari “belajar”
    ^_^
    apa itu belajar?

    manusia yang sudah belajar ketika terjadi perubahan terhadap prilaku atau kapasitas organ tubuh melalui pengalaman.
    !_!
    artinya jika orang tersebut berolah raga contohnya push up setiap hari maka otot-otot tangan nya belajar untuk mampu mengangkat beban berat, tetapi jikalau orang tersebut melakukan hal yang sebaliknya maka otot tangan tersebut melakukan adaptasi dengan mengganti fungsinya sesuai sang pemilik tangan inginkan…sebagai contoh misalnya menjadi penampung lemak.

    nah pembelajaran tersebut akan terus berlangsung tetapi sadarkah dia tentang apa yang dia pelajari, atau tahu kah dia kearah mana pembelajaran yang sebenarnya dia lakukan?

    apakah mendekati tujuan orang tersebut atau malah menjauhinya?

    lucunya kebanyakan orang tidak tahu akan hal tersebut.

    bagi saya mengatakan memberikan impian besar kepada anak seakan memaksakan apa yang saya sebagai orang tua inginkan…
    padahal yang terpenting bukannya memberikan impian besar kepada anak tetapi bagaimana anak mempunyai impian besar dan mengarahkan impian tersebut agar menjadi apa yang sang anak inginkan…(memberikan pilihan kepada sang anak)

    maka belum tentu jika kita menyekolahkan anak-anak kita dan memberikan mimpi-mimpi kita agar mereka menjadi sesuai yang kita inginkan menjamin mereka akan sukses di masa mendatang (patut di garis bawahi bahwa “s u k s e s” pada setiap individu itu berbeda-beda)
    Karena tentu sebagaimana pun hebatnya kita mendidik anak pengalaman yang didapat anak tersebut pastinya berbeda dengan pengalaman kita sebagai orang tua!

    Nah jikalau kita memaksakan anak agar menjadi apa yang kita inginkan maka kemungkinan contoh dibawah bisa terjadi juga kepada anak-anak kita
    dimana ada sebuah kasus di UI tehnik dimana para dosennya mengeluh karena para mahasiswa nya pinter tetapi ketika mereka naik semester berikutnya mereka lupa akan pelajaran semester sebelumnya…^_^

    kalau ada kesalahan maaf-maaf kata mohon di koreksi^_^
    (patut di catat saya belum menikah^_-)

  2. Menurut saya “Anak karbitan”itu anak hasil dari suatu kegiatan yang mengabaikan proses. Karena dalam mendidik anak itu yang pentingkan prosesnya, karena dengan melalui proses ini si anak akan banyak belajar dan yang penting pembelajaran di sini tidak sebatas fisik tetapi yang penting non fisiknya (emosi, nurani, dll).

  3. Pak De….cara – cara-cara gila itu perlu
    asal…orangnya gak ikut gila….he..he..
    Liat tuh..orang sukses…pasti gila dulu…

  4. setuju PakDhe, berarti kalo nyontek sekaliyan dengan banyak sumbernya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: