Indonesia perlu Pertamina-Pertamina yang lain sebagai NOC


//www.pertamina.com/images/stories/logo/logo_pertamina_english.gif” cannot be displayed, because it contains errors.Nah sekarang kita tengok Pertamina. Tetapi jangan terlalu sensitif membaca dongengan ini. Ini hanya merupakan kajian referensi beberapa penelitian orang lain tentang Pertamina. Adakalanya kita perlu melihat punggung kita yang barangkali ada panu atau koreng yang tidak mungkin kita lihat sendiri kan ?

😦 “Pakdhe, emangnya Pertamina panuan ya ?”

😀 “Hust, itu namanya sanepo, atau perumpamaan thole, kok kamu ikutan sensi gitu ! 😛

noc_2.jpg

Pertamina 7 tahun ini (pasca 2001)

Sejarah Pertamina tentunya tidak perlu diceritakan panjang lebar lagi. Kalau tertarik bisa dilihat di websitenya Pertamina disini. Peristiwa penting adalah setelah 30 tahun menjadi Pertamina sejak 1971, maka pada tanggal 2001 diterbitkan UU Migas No 22 tahun 2001 yang akhirnya mengantar Pertamina menjadi PT Pertamina (Persero).

Nah dongengan ini hanya akan lebih banyak menyoroti Pertamina Pasca UUMigas no 22 tahun 2001. Seperti apa Pertamina itu sekarang. Dan semua ini lebih banyak bersumber dari pandangan luar, bagaimana image luar terhadap Pertamina kini.

Tahun 2001 merupakan turning point terakhir Pertamina menghadapi abad 21. Perubahan besar terjadi di tahun 2001 setelah adanya perubahan atau pengesahaan UU no 22 tahun 2001. Sementara itu didunia juga terjadi reformasi besar di kalangan IOC dimana tahun 2001-2002 juga merupakan perubahan struktur industri-industri migas. Yaitu terjadinya merger dan akuisisi yang sangat aktif dalam periode pendek ini. (Baca: Sepintas mengenal IOC – International Oil Corporation )

Tugas ganda (sosial – ekonomi)

Seperti yang ditayangkan sebelumnya disini, ilustrasi disebelah atas ini memperlihatkan perbandingan Pertamina dengan NOC lain di dunia dalam mengemban tugas sosial dan ekonominya. Terlihat bahwa Pertamina pun tidak lepas dari politik. Pertamina dalam banyak hal dianggap mirip dengan NIOC (Iran), ini mungkin bukan maksud dari UU22/tahun 2001 tetapi itulah pandangan image orang luar terhadap Pertamina saat ini.

😦 “Waaah Pakdhe jangan begitu. Masak disamain dengan Iran”

Disinilah perlunya melihat punggung dengan mata orang lain. Dengan cara inilah maka kita harus mengerti bagaimana pandangan orang lain terhadap Pertamina. Ini bukan pandangan saya, tetapi pandangan sebuah university dimana institusi pendidikan ini secara ilmiah mereka mengkaji Pertamina.

Untuk melihat seberapa kecil besar Pertamina kita ini mari kita lihat apa yang sudah “dihitung” oleh orang-orang lain ini.

Produksi Migas dan key asset Pertamina.

noc_9.jpg

Sebelum ada UU no 22 tahn 2001 Pertamina dapat dengan gagah mengatakan (claim) bahwa produksinya sekian ratus ribu barrel perhari atau bahkan sejuta barel lebih setiap hari Namun dengan adanya UU tersebut maka secara hukum Pertamina hanya mampu (secara legal) melakukan klaim produksinya hanya sekitar 50 ribu Barrel perhari atau hanya 5% dari produksi Indonesia. Bandingkan dengan Petronas yang bisa melakukan klaim memproduksi 60% dari total produksi Malaysia. Tengok tulisan sebelumnya Pergeseran peran NOC (National Oil Corporation) dalam kancah global energi.

Apakah ini menunjukkan produksi pertamina merosot ? Bukan ! Ini hanya masalah legal sebesar apa Pertamina boleh melakukan klaim total produksi minyaknya. Jumlah cadangan minyaknyapun hanya 20% dari total cadangan Indonesia. Dan cadangan gas 10% saja dari total cadangan gas seluruh Indonesia.

Barangkali kenyataan ini bisa menjadi cambuk positip buat Pertamina sendiri untuk segera sadar bahwa sakjane produksi aslinya cuman segitu ! Sehingga Pertamina harus bisa menjadi sebuah perusahaan yang profit oriented. Ah, apa iya berdasarkan profit. Memang tujuan dari reformasi Pertamina menjadi Persero memang seperti itu. Tetapi pandangan luar, sekali lagi pandangan luar, menunjukkan hampir semua kebijakan Pertamina itu sangat-sangat politis. “Nah kontradiksi donk !” …” Ah ini mungkin kan pandangan mereka saja !

Asset kilang yang dimiliki dan dibawah kontrol penuh Pertamina menurut studinya Rice University ini hanya dua, yaitu di Kasim Irian dan Balongan. Sedangkan yang lain bukan milik Pertamina, namun menurut website Pertamina ada 6 Kilang yang “dioperasikan” oleh Pertamina, tetapi mungkin bukan dimiliki. Sehingga dalam key asset diatas (menurut Donald Hertzmark) hanya 2 kilang saja yang disebut-sebut milik Pertamina dengan kapasitas sekitar 12% dari total kilang di Indonesia. Gambar dibawah ini diambil dari salah satu website pemerintah di Indonesia (maaf lupa dimana aku dapetinnya)

kilang-di-indonesia.jpg

noc_12.jpgnoc_11.jpgSeorang sahabat saya yang berkerja di Pertamina pernah ngobrol santai. Beliau bercerita bahwa salah satu tolok ukur bonafiditas sebuah perusahaan adalah melihat seberapa banyak perusahaan lain ingin mengajak untuk bekerja sama. Tentu saja sebuah perusahaan akan lebih suka bekerja sama dengan perusahaan yang bonafid, assetnya besar, produksinya lancar dan tidak memiliki kesulitan. Salah satu yang mungkin akan mempersulit Pertamina dalam mencari partner adalah karena penilaian dibawah ini.

Studi perbandingan yang dilakukan oleh Stacy dkk disebelah ini mungkin bisa menjawab, mengapa mencari partner usaha itu tidak mudah bagi NOC. Karena rata-rata mereka memang menduduki rangking bawah. Silahkan klik gambar diatas untuk melihatnya dengan jelas.

Struktur pengelolaan hulu migas Indonesia

noc_14.jpg

Menurut pandangan Donald, Pasca UU-2001 BPMIGAS merupakan badan yang paling berpengaruh dalam kegiatan hulu migas termasuk diantranya (terutama) kontrak PSC di Indonesia. Bahkan Pertamina dalam hal ini berada dibawah BPMIGAS. Tentusaja, karena dalam hal ini Pertamina hanyalah perusahaan operasi.

Namun kalau dilihat dari obrolanku diatas, bahwa perusahaan migas yang ingin joint venture, biasanya akan melihat ukuran (size) dari perusahaan tersebut. Salah satu diantaranya jumlah produksi. Lah kalau Pertamina hanya mampu mengeklaim 50 ribu BArrel perhari, sementara BPMIGAS bisa menyatakan produksi minyak Indonesia yang sekitar sejuta itu ya tentusaja (by legal) BPMIGAS lah yang lebih besar. Namun sayangnya BPMIGAS bukanlah institusi atau usaha operasi sehingga tidak memungkinkan diajak kerja sama sebagai partner, kan ?

Berbeda dengan Petronas yang secara legal bisa melakukan klaim produksinya 60% dari total produksi negaranya. Baca tulisan sebelumnya Pergeseran peran NOC (National Oil Corporation) dalam kancah global energi.

Dari sisi Indonesia Indonesia, Pertamina hanya disejajarkan seperti kontraktor-kontraktor pemegang PSC. Tentunya ada juga keistimewaannya donk. Lah iya lh, mosok ambek seduludr dewe … gitu kata w

Pembagian (kue) tugas sektor perminyakan di Indonesia

Ada yang mengatakan ini sebagai pembagian tugas dan tanggung jawab, tetapi ada pula yang secara sinis mengatakan itu sakjane pembagian kue. Mboh terserah anda, tetapi pembagian tugas untuk mengambil keputusan soal peminyakan di Indonesia ini menurut studinya Donal di Rice Unversity dapat digambarkan seperti dibawah ini:

noc_13.jpg

Bagaimanapun tugas utama ada di tangan Presiden, lah iya lah wong beliau ini sebagai pemegang mandat rakyat. Tetapi tentunya beliau (Presiden) ini hanya menentukan arah kebijakan secara general saja. Secara detail tentusaja masih ditangani Pak Menteri ESDM, doh beratnya tugas Pak Meteri, ya ?.

😦 “Lah iya makanya dibantu donk Pakdhe. Jangan cuman protest doank !”

😀 “Thole, dongengan ini jangan hanya dianggap protes, ini merupakan pembelajaran tentang apa yang sudah kita lakukan pada tahun 2001 lalu. Ketika perusahaan-perusahaan di dunia lain sedang merger. Tetapi Pertamina mbalah terpecah-pecah. Harus ada pembelejaran !!”

Apa hanya itu yang ada di Pertamina ?

Sebenarnya banyak hal yang cukup membanggakan dari Pertamina dan industri Migas di Indonesia dimasa lampau ini, berikut catatan khusus dari Donald Hertzmark, Washington, DC orang luar tentang Pertamina (Indonesia).

• Indonesia is one of the world’s oldest oil provinces
• Pertamina, an early OPEC member, was for many years a pioneer in PSCs and Innovatory LNG business structure
• Pertamina (inthe past) acted as both an investor and a regulator upstream
• Pertamina controlled the key downstream assets
• Petronas found Pertamina’s model so compelling they copied it

What we learnt ? Pembelajaran atas UU 22 tahun 2001.

Undang-undang no 22 itu sudah berjalan tujuh tahun, tentunya cukup waktu untuk melihat balik, melihat dampak serta kebutuhan untuk melanjutkannya atau memperbaikinya. Pembahasan UU tentusaja tidak harus berhenti, harus selalu di-update. Karena dinamika global tidak berhenti, bahkan rentaknya semakin cepat.

😀 “Lah iki pendapat pribadiku Thole. Itulah bagusnya Indonesia. Siapa saja boleh mengeluarkan pendapat. Itu demokrasi”

😦 “Lah inggih Pakdhe, Tapi kalau terlalu crewet itu ya bising, mbalah ngriwuti !”

😀 “Yang perlu diketahui juga bahwa ini hanya dari pandangan orang lain (refrensi). Kalau memang kita yakin Pertamina tidak seperti itu, maka Pertamina perlu lebih aktif criwis kayak Pakdhe, memberitahukan seperti apa yang sebenarnya, Ngomong Doonk !!! gitu Thole”

  • Undang-Undang itu disiapkan, dibahas, dan ditetapkan memerlukan waktu cukup panjang. Sedangkan perubahan global dalam dunia energi ini berjalan sangat cepat. Barangkali saja perlu membuat UU yang lebih “leluasa” dan tidak terlalu spesifik supaya akomodatif terhadap perubahan. Tapi juga harus disadari UU yang “leluasa” bisa diartikan lain. Doh !
  • Yang mungkin bisa dilakukan adalah perlunya membentuk NOC-NOC lain selain Pertamina untuk memperkuat Ketahanan Eenergi Nasional. Ini yang paling penting menurut pembelajaran tiga dongengan ini. Perlunya perusahaan ini sebagai komplimentary dari adanya Pertamina, bukan sekedar sebagai pesaing (competitor).
  • Pembentukan NOC baru tidak harus membuat “sangat baru” (brand new), tetapi bisa saja modifikasi dari perusahaan migas hilir yang dikembangkan ke hulu, seperti Sinopec. Misalnya merubah PGN, atau juga mungkin menambah anak perusahaan.
  • Membuka NOC yang sebagian sahamnya juga dimiliki oleh publik. Banyak contoh NOC yang mulai dengan membuka saham ke publik. Keterbukaan justru seringkali menjadi pengontrol alamiah yang menjadikan profesionalitasnya terukur.
  • Soal adanya korupsi dan tuduhan-tuduhan adanya ketidak efisienan di tubuh Pertamina jelas bukan domain saya, jadi mesti ada yang lain mendongengankannya, tetapi bukan aku lah 😛

Referensi :

Pertamina, Indonesia’s State-Owned Oil Company (New revised version!!!), Donald I. Hertzmark, Consultant, March 2007.
– Corporate website – Pertamina : http://www.pertamina.com/
UU NO. 22 TH. 2001
JPT Online January 2007, Guest Editorial, The Winds of Change: Resource Nationalism Shifts the Balance of Power to National Oil Companies, Pete Stark, Vice President of Industry Relations, IHS Inc.
Empirical Evidence on the Operational Efficiency of National Oil Companies, Peter Hartley, (Professor of Economics, Rice University), enneth B. Medlock III, (Research Fellow in Energy Studies, Baker Institute) and Stacy L. Eller, (Graduate Researcher in Energy Studies, Baker Institute). March 2007.

Dongengan terkait :

5 Tanggapan

  1. Kapan yah kita bisa merasakan ekonomi yang merata buat masyarakat Indonesia? Apa pemerintah sengaja menyimpan kekayaan Negara sebagai cadangan kekayaan untuk Negara walaupun sebagian masyarakat harus hidup dibawah garis kemiskinan.

    Saya senang dengan informasi pada tulis diatas, namun sayangnya sedikit saja informasi ini diterima masyarakat.

    Semoga saja ada kebijakan dan penertiban dari Pemerintah agar pembagian hasil pertambangan merata dan dapat berguna baik untuk masyarakat Indonesia.

    Masa Pertamina harus kalah dengan pengusaha Tembakau, apa jadinya kalau Pertambangan jadi anak tiri bisa-bisa laju dunia industri makin redup yah…

    Go Green dan Go Pertamina semoga kedepan makin baik.

  2. analisis yang terstruktur dan lengkap…salut deh dengan blog ini. Semoga Pertamina semakin maju dan semakin bersih dan transparan agar tidak tersendat memajukan industri Migas dan Geothermal Indonesia.

    Apakah Pak De punya kiat khusus dalam melahirkan pertamina-pertamina lainnya di Indonesia?

  3. Kadang Pertamina justru dikebiri oleh pemerintah atas desakan IOC. CEO yang handal (ex CEO IOC) dicopot dari Pertamina dan diganti dengan CEO “Boneka” yang gampang diatur. Sehingga berbagai proyek seperti Blok Cepu lepas dari Pertamina.

    Ada baiknya memang dibuat “Pertamina” baru agar Pertamina sekarang lebih kompetitif.

    Kemudian pemerintah juga jangan mengebiri BUMN migas. Pemerintah cukup minta dividen 20% dari keuntungan sehingga sisa uangnya bisa dipakai untuk eksplorasi migas/pengembangan perusahaan.

  4. Kalau didunia Agro Industri peta industrinya rame banget Pak Rovicky, ada Perkebunan Swasta (Sinar Mas, Bakrie Sumatra Plantation, Rajawali, Wilmar, Astra Agro, ……) perkebunan pemerintah (PTPN 1 sampai 15) dan ada juga perkebunan rakyat.

    Ciri khas dari PTPN biasanya adalah yield produksi (ton/hektar/tahun) yang lebih rendah drpd swasta dan keuntungan yang lebih rendah, akan tetapi untuk kesejahteraan karyawan (level bawah sampai menengah) mereka lebih bagus daripada di swasta.

    Setelah cadangan minyak bumi habis tahun 2050, Indonesia dan Brasil yang akan jadi Timur Tengahnya Agro Industri untuk energi (i.e biofuel), so kesimpulannya: siap2 saja invasi US ke Brasil dan negara kita…..

    Mas Tri dari Pakem yang lagi rodo kumat, gara-gara mikir Indonesia

  5. Pak Dhe, dongengannya itu menarik. Orang Tiongkok bilang ‘hen hao’ lah. Sedikit ‘koreksi’ (??) aja pak Dhe, mengenai produksi minyak Pertamina. Kalau pa Dhe tulis produksi minyak Pertamina sekitar 50 ribu barel per hari ‘itu betul’, tapi itu hanya produksi PT. PERTAMINA EP saja yang membawahi 3 wilayah produksi di Indonesia (di organisasi PT. PERTAMINA EP saat ini disebut Region, yaitu Region Sumatera, Jawa dan Kawasan Timur Indonesia. Sementara PT.PERTAMINA (Persero) masih mempunyai beberapa anak perusahaan yang mengurusi masalah upstream seperti :
    1. PT. Pertahulu Energy…nyambut gawene ngurusin kerjasama seperti JOB/KPS/IP (interest Participation)antara PT.PERTAMINA (persero) dan perushaan lain baik di dalam dan luar negeri, misal JOB Pertamina – Petrochina Tuban yang mengeoperasikan Sukowati dan sekitarnya. JOB Pertamina – Medco Tomori di Sulawesi atau contoh lainnya Badan Operasi Bersama (BOB) Pertamina-Bumi Siak Pusako yang mengelola blok CPP, dan perusahaan kerjasama lainnya seperti yang di SK 305 Malaysia, Vietnam, Sudan, Equador dan Libya.

    2. PT. PERTAMINA EP Cepu, khusus untuk ‘mengawal’ 45 % interest di blok Cepu dengan ExxonMobil…Mudah-mudahan tahun ini sudah mulai berproduksi.

    3. Dan beberapa anak perusahaan lainnya seperti Elnusa yang mulai jadi operator. Tidak menutup kemungkinan didirikan lagi PT. PERTAMINA EP Natuna..itu pak Dhe kalau jadi diserahkan ke PT. PERTAMINA (persero).

    Kumpulan produksi PT. PERTAMINA (persero) dari beberapa ‘anak’ perusahaannya itu untuk tahun 2007 kemarin total produksi minyak sekitar 150 ribu barel per hari (tentunya setelah disesuaikan dengan jumlah partisipasi produksi minyak di masing-masing perusahaan kerjasama). Jadi ‘ndak salah kalau PT. PERTAMINA (persero) nge-klaim produksi hampir 15 % dari produksi Indonesia. Itu saja pak Dhe.

    Thanks berat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: