Geologist mulai berdiskusi soal LuSi : “Menyumbat uap semburan”


Saat ini ahli-ahli geologi sudah tidak banyak yang berseteru soal bagaimana terjadi, tetapi sudah mulai berseru tentang bagaimana mengatasi. Ini perkembangan bagus kiprah ahli geologi secara professional sudah tidak mudah direcokin oleh kepentingan ekonomi, hukum, dan politik.

Salah satu sahabat saya berdiskusi di IAGI-net menuliskan tulisan yang sudah mulai melihat berbagai kemungkinan penjelasan kejadian langka ini. Mas Wikan ini sudah berpengalaman banyak di dunia perminyakan termasuk diantaranya injeksi uap, (tahu donk siapa yang melakukan injeksi uap di Indonesia). Semburan Lusi juga pernah di’bumbui’ dengan ledakan uap. Tentunya pandangan beliau cukup bagus menambah wacana perilaku uap dari dalam bumi.

Menyumbat uap semburan

WikanWinderasta, Anggota IAGI

Sebenarnya saya agak sedikit heran, kenapa prosedur drilling lebih dipermasalahkan dalam kasus erupsi lumpur ini. Sepengetahuan saya, kejadian blow-out hampir pasti disebabkan oleh “dilanggarnya” prosedur drilling yang saya pikir lebih tidak disengaja (kecuali zaman dulu di era minyak Texas akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ketika blow-outnya akibat semburan minyak – yang ini memang diharapkan blow-out). Dengan kata lain kejadian blow-out/kick/loss adalah hal yang biasa dalam operasi drilling. Apa itu “undergroud blowout” ?)

ugbo_collapse.jpgYang sempat saya alami minimal 3 kejadian blow-out besar saat operasi drilling, yaitu pertengah tahun-90-an ketika menara rignya amblas ke dalam tanah, kemudian akhir 90-an ketika menara rignya terbang ke udara, dan terakhir di awal 2000-an ketika menara rignya tumbang ke tanah. Jadi menurut saya blow-out secara teknik operasi adalah hal yang “biasa” dalam suatu operasi pemboran – note: saya berdo’a semoga tidak pernah mengalami lagi. Tinggal bagaimana upaya untuk mengatasinya (emergency respon/mitigasi terkait operasi drilling). Cuma ada fakta menggelitik, ketika ketiga peristiwa blow-out yang saya sebutkan di atas dibayar dengan hancurnya menara rig dan fasilitasnya. Tetapi kejadian di BJP-1 dengan efek semburan yang sedemikian jauh lebih dahsyat, berdasarkan info yang saya ketahui, rig-nya ternyata selamat. (red, Referensi terkait Amblesnya Drilling Rig dan Tenggelamnya Kapal Pemboran)

Selamatnya rig, dalam arti dapat rig down dan moving-out saya pikir ada 3 hal:
1. Rig telah bekerja dengan sempurna dalam mengatasi kejadian blow-out, serta melakukan prosedur plug-abandon well (menutup sumur dengan semen sampai ke lubang di permukaan) yang telah memenuhi prosedur keselamatan.
2. Rig tidak berhasil mengatasi blow-out sehingga harus meninggalkan lokasi untuk digantikan oleh upaya rig yang lain, misalkan rig untuk relief well dari lokasi yang lain.
3. Faktor non-teknis.

Saya tidak tahu pasti skenario mana yang terjadi, asumsi saya ketika terdapat penugasan team relief well, maka Rig pemboran tidak berhasil mengatasi blow-out. Meskipun dari informasi yang saya ketahui, prosedur plug-abandon telah terlaksana dengan baik. Mungkin ini bisa dikaji lebih dalam bagi yang memiliki akses data hasil plug-abandon well.

Dengan kekuatan semburan yang sedemikian besar, menjadi pertanyaan apakah mungkin hal kejadian ini diatasi oleh relief well ? Mungkinkah ledakan hydrothermal/mud volcano tidak terjadi apabila relief well bisa dilaksanakan dengan optimal ? Saya pikir sulit untuk menjawab pertanyaan itu karena:

1. Kalau diprediksi berhasil dilakukan (seperti keyakinan Dr. Rudi R.), maka telah terjadi kehilangan critical time untuk melakukan killing well, sehingga persoalannya berkembang liar menjadi problem killing reservoir. Critical time ini dapat didefinisikan sebagai periode penting setelah rig meninggalkan lokasi dengan penyelesaian plug abandon dan perkiraan waktu diselesaikannya relief well – mungkin sekitar 2-12 bulan? Tetapi seperti disampaikan Pak Rudi dalam satu session TV, team merasa kesulitan untuk menyelesaikan karena kurangnya faktor dukungan operasi. Saya tidak tahu sejauh mana kebenarannya – mungkin bisa menjadi option untuk “dikaji“. Sayangnya critical time untuk killing well tersebut sudah jauh lewat sehingga usaha mengatasi semburan dengan relief well untuk killing well kembali akan jauh lebih sulit. (red, Referensi terkait Bisul Lusi sudah infeksi)

slide6.gif2. Interverensi alam terlalu kuat. Saya cenderung faktor alam seperti gempa (liquifaction batuan menurut pendapat Pak Awang) ataupun incharge acquifer dari gunung Penanggungan (seperti diungkapkan Pak Rovicky dalam blog Dongeng Geologi) lebih mendorong terbentuknya engine erupsi lumpur yang terlalu besar untuk kejadian sebuah blow-out oleh drilling. Faktanya erupsi besar justru terjadi 2 bulan setelah 27-May (tercatat oleh monitoring flow rate lumpur – Mazinni dan Dongeng Geologi) adalah setelah critical time untuk killing well. Hal lain yang masih menjadi pertanyaan bagi saya adalah demikian besar energi yang mengakibatkan semburan lumpur sampai saat ini. Pak Rovicky menjelaskan dalam kartunnya di blog Dongeng Geologi, meskipun masih menyisakan berbagai pertanyaan bagi saya. Hipothesis Pak Rovicky mengenai incharge air dalam aquifer Formasi Kujung menawarkan konsep material balance untuk munculnya fluida air (uap) secara menerus. Tentunya ada faktor lain yang tidak kalah besar yaitu suplai material batuan lunak (lumpur) yang demikian besar.

Apabila saya analogikan lagi pada sistem injeksi uap, kunci dari sistem ledakan hidrothermal adalah tekanan fluida uap panas. Perkenankan saya sekedar berbagi prosedur mitigasi erupsi uap panas yang terjadi pada operasi injeksi uap, at least sebagai perbandingan dari sistem analogi – mungkin tidak bisa diaplikasikan secara persis dalam kasus ini karena tingkat kesulitan yang jauh lebih besar. (red, Referensi terkait Sumber Tekanan Lusi ?)

1. Membuat kolam penampungan. Ini sudah dilakukan di kasus Sidoarjo.

2. Mematikan sumber masukan fluida uap. Tanpa mematikan sumber masukan aktif, sistem semburan akan berjalan terus. Kalau sistem artificial (injeksi uap) adalah mudah karena hanya mematikan sumur-sumur injeksi. Sebagai gambaran sistem injeksi uap yang dioperasikan pada reservoir dengan permeabilitas 2-8 darcy, hanya efektif dalam mematikan semburan dengan melakukan shut-in sumur injeksi dalam radius <2 km. Dalam kasus hipothesis Pak Rovicky mengenai water incharge, masih menyisakan pertanyaan bagi saya; apakah recharge area Gunung Penanggungan (sejauh~5 km) efektif sebagai penyuplai acquifer Formasi Kujung. Berapa kapasitas aliran dari Formasi Kujung dan berapa debit dari recharge Gunung Penanggunggan. Mungkinkah suplai fluida uap panas lumpur Sidoarjo sebenarnya secara efektif hanya dari radius km tertentu sebagai insitu acquifer. Sebagai salah satu kasus pengurangan water incharge ke dalam
reservoir adalah penggunaan interdiction well, yaitu memproduksi air di peripheral/flank reservoir – di sebuah lapangan California mereka secara konstan memproduksi lebih dari 100.000 bwpd dari beberapa sumur untuk mengurangi pengaruh water drive dari acquifer. Kasus adanya incharge dari Gunung Penanggungan adalah kasus dengan tingkat kesulitan tertinggi, karena akan menyangkut biaya operasi yang sangat besar.

tekanan_lusi.jpg

3. Melakukan killing temperature/tekanan. Yaitu mendinginkan sumur atau reservoir dengan air. Kalau di operasi injeksi uap mudah dilakukan karena tinggal menginjeksikan air lewat sumur injeksi di sekeliling lokasi semburan. Dalam kasus semburan di Sidoarjo, hal ini memiliki kesulitan yang jauh lebih besar, karena menyangkut kedalaman acquifer (biaya pemboran, ukuran pompa injeksi), suplai air, dan juga apalagi bila ada teori pemanasan dari dapur magma. Teknik ini menuntut studi detil kondisi reservoir dan juga biaya operasi yang mahal karena menyangkut biaya pemboran sumur dan fasilitas suplai air termasuk pompa.
Saya baca di blog Pak Rovicky ada ide dengan menahan tekanan semburan dengan meninggikan kolom lumpur di permukaan – mungkin ide teknis yang
cukup baik, silahkan dicoba.

4. Hanya apabila tekanan telah cukup rendah, dilakukan injeksi semen/kontaminant untuk massive dumping menutup lubang atau rekahan. Dalam kasus Sidoarjo, tingkat kesulitan juga jauh lebih tinggi, mengingat harus dilakukan kembali relief well serta pemodelan rekahan yang telah terbentuk. Mungkin bola-bola beton sebenarnya ide teknik yang cukup baik meskipun sampai saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan karena tekanan semburan masih terlalu tinggi untuk dapat diredam.

Yang menjadi persoalan besar lagi adalah bagaimana menghadapi suplai material lumpur. Apabila diduga material adalah gerusan dari dinding lubang atau rekahan, maka tentunya menjadi hal yang terkait dengan kasus hidrotermal di atas. Bila dapat menghentikan aliran fluida panas, otomatis suplai material batuan lunak dari gerusan juga akan berhenti. Yang menjadi persoalan besar bila terjadi kasus liquifaction formasi shale atau adanya shale diapir. Kami belum pernah menghadapi kasus ini, jadi untuk sementara ya walahualam.

Yang terakhir dan paling penting adalah kita memohon ampunan atas segala kesalahan kita, dan memohon izin Allah swt untuk berkenan menghentikan ujian peristiwa ini.

5 Tanggapan

  1. btw pak dhe pernah ikutan saran bagaimana nutup si LUSI biar tangisan lumpurnya berhenti.. Untuk masalah RW bukankah resikonya juga besar apalagi adanya sesar watukosek dan adanya semburan gas dimana-mana menurut pak dhe RW tersebut seberapa besar bisa menutupi lumpur sidoarjo

  2. Assalamualaikum, pagi pakdhe…aku ikut mengamini aja deh moga cepat terselesaikan…Eh pakdhe dah pernah ngebahas tentang sesar geser (transform fault) di Indonesia yang pada akhirnya mampu membentuk basin dan pada basin tersebut tersimpan kandungan hidrokarbon. Yang sebenarnya aku pengen tau tu mekanisme bagaimana suatu sesar geser mampu membentuk suatu basin. Moga moga pakdhe ada waktu buat menjawab rasa ingin tau saya yang amat sangat ini. Salam hangat dari anak2 geologi ugm 05. Salam batu!. Wassalamualaikum…

    –> Salam Batu juga !, tulisan mengenai pembentukan danau (basin) akibat patahan pernah aku tulis disini https://rovicky.wordpress.com/2006/08/09/longsoran-dan-danau-akibat-gempa-dan-patahan/

  3. semoga segala macam musibah dapat diminimalkan efeknya dengan adanya penelitian-penelitian untuk menanggulanginya….

  4. Kebiasaan orang kita kalau ada sesuatu masalah tenggelam dalam mencari sumbernya. Sementara solusi tidak pernah terlintas dalam benak.

    Bagus-lah kalau sudah mulai berpikiran selankah maju.

  5. baguslah pakdhe kalau ahli2 geology udah pada akur…
    biar cepat musibah ini berakhir..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: