Rakyat Indonesia bukan penyumbang emisi karbon terbesar


  • The image “https://i1.wp.com/www2.wwnorton.com/college/chemistry/chemconnections/warming/thumbs/toasty.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.Setujukan anda bahwa setiap individu manusia di dunia ini pada hakekatnya memiliki hak yang sama persis ?
  • Setuju juga kan, kalau hak seorang presiden dan seorang tukang becak adalah sama persis ?
  • Juga setuju bahwa orang jawa dan orang cina, juga orang arab dan bahkan orang amrik maupun orang israel juga berhak hidup di dunia ini ?

Kalau anda menjawab ya, maka anda akan tahu bahwa masyarakat Indonesia bukanlah penyumbang gas emisi terbesar seperti yang selama ini diteriakkan oleh negara-negara lain termasuk yang diteriakkan oleh Guiness Book of the record ketika cerita tentang penggundulan hutan.

Setiap orang berhak bernafas, hak nafas orang Indonesia sama dengan hak nafas orang Malaysia, juga punya hak yang sama dengan orang India. Kebutuhan oksigen serta kebutuhan energinya juga sama. Jadi sepertinya tulisan di Antara ini kurang tepat seandainya Cina dan India dituduh sebagai penyebab munculnya CO yg terlempar keluar selama ini. Bahkan Indonesia yang juga dituduh sebagai penyebar kmisi karbon harus ditinjau ulang.

carbonperkapita.jpg

Kalau saja karbon emisi itu ditinjau berdasarkan jumlah penduduk maka Malaysialah yang menjadi penyebab emsisi gas buang perkapitanya tinggi. Indonesia yang berpenduduk sekita tiga ratus juta memang wajar kalau mememerlukan energi lebih.

– 😦 “Pakdhe kalau gitu kita bakar hutan ngga papa-apa ya dhe ?”
+ 😀 “Hust …. ora ngawur kowe !! Membakar hutan jelas ngga boleh. Tetapi yang kumaksud adalah cemoohan Indonesia sebagai menyebab peningkatan emisi karbon harus dilihat secara adil”

Laporan grafis EIA tahun 2004 saja sudah menunjukkan hal itu. Namun tidak pernah ada sangat sedikit didunia ini yang menyatakan bahwa peninjauan aspek pemanasan global harus ditargetkan atau dilihat segi kepentingan manusia-nya bukan negaranya saja. Akhirnya yang terjadi pencemoohan negara. Seperti yang dilakukan oleh Guiness Book Of Record yang memasukkan Indonesia sebagai pencatat rekord penyebab emisi karbon. Memang harus disadari juga bahwa negara lah yang mampu melakukan. Tetapi sasarannya mestinya jangan memberatkan rakyatnya, kan?.


co2_per_capita_per_country.pngBahkan kalau dilihat dari skala dunia Rakyat Indonesia harus bangga bahwa secara individu Manusia Indonesia BUKAN penyumbang karbon emisi. Masyarakat Ustrali yang konsen dengan lingkungan inilah yang seharusnya MALU karena menyumbang emisi terbesar di kawasan Asia Pasifik.

– 😦 “Kalau Amrik Pakdhe ?”
+ 😀 “Blaik !! … kowe wani po ?”

Tetapi soal penggundulan hutan jangan dilupakan begitu saja ya. Ada hubungannya dengan emisi juga. Harus diketahui juga bahwa kejadian kebakaran berskala besar di tahun 1997-98, diestimasikan sekitar 10 juta hektar lahan yang rusak atau terbakar, kerugiannyapun mencapai 3 milyar dollar Amerika. Kejadian ini sekaligus melepaskan emisi gas rumah kaca (GRK) sebanyak 0,81-2,57 Gigaton karbon ke atmosfer (itu kira-kira setara dengan 13-40% total emisi karbon dunia yang dihasilkan dari bahan bakar fosil per tahunnya) yang berarti tetap berkontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Walaupun kalau dilihat perkapita pada tahun itu tidak juga menimbulkan gejolak pada grafis EIA.

Yang perlu diketahui juga adalah Indonesia masih zauuuh dan kecil dalam penyumbang karbon karena pemanfaatan energi fosil.

Sumber gambar EIA, wikipedia.

Fact Data : The United States is the world’s largest producer of greenhouse gases that cause global warming, producing 25% of worldwide emissions.
According to the EPA, the main causes of U.S. Global Warming pollution are:

* Electricity Generation: 33.9%
* Transportation: 26.8%
* Industry: 18.8%
* Agriculture: 7.6%
* Residential: 7.6%
* Commercial: 4.7%

22 Tanggapan

  1. hu…hu…hu…. cedih dweh dtdh sbg biang kldi pdhal q msh anak2.

  2. guiness book of record punya amrik,, coba punya india,, pasti ngomong kalo penduduk india dikit,,kalo punya china pasti ngmg china negara dgn pertumbuhan manusia paling sedikit,,kalo punya indonesia pasti ngomong indonesia negara anti korupsi no 1 di dunia,,,

  3. Guiness Book Of Record!?
    Setau abdi mah, bukan mencatat Indonesia sebagai penyebab emisi karbon, TAPI penggundulan hutan tercepat akibat kebakaran hutan gt, yang dsinyalir akibah ulah manusia dech! Coba klarifikasi lg pakdhe!!
    So proud our country tercatat dsana,,sebagai pengingat kita juga mksdnya .. Whatever lahh .. Mereka punya data2 akurat juga k0q, guiness book gt, udah mendunia ..

    Salam Hijau^^

  4. emang benar tiap kita didunia ini bernafas..tapi yang dimaksudkan dicini…komuniti penduduk yang ramai adalah punca kepada pemesatan permodenan dan itu udah pastinya lebih menjurus kepada penyumbang kepana global warming kan…tapi nggak udak risau dan bimbang dunia ini diciptakan ada permulaan dan pasti ada pengakhirnya..mau atau nggak itu udah suratan takdir,jadi bersedia aja…

  5. Pak dhe … Saya setuju dengan pendapat pak dhe… rakyat kita bukan penyumbang Emisi karbon…. kan kagak mungkin rakyat kita kan gak ada uang untuk belia Ac banyak… terus Mobil Banyak…. Beli Motor aja Mpot-mpotan. Mestinya pihak negara maju atau negara industri harus paham donk tentang penderitaan Indonesia …. kapan kita majunya kalo tyuntutan dari luar negara kita tetap menjadi hutan untuk itu harus ada timbal baliknya kan…

  6. Pak Dhe, salam kenal
    Jadi kalo dihitung emisi karbonnya tanpa memasukan peristiwa kebakaran hutan 1997, Indonesia bukan emmiter terbesar ke-3.

    Kalo kita memasukan data kebakaran 1997, maka hasilnya lain. Kebakaran 1997 memang luar biasa, tapi di tahun-tahun berikutnya tidak sebesar itu.

    Oia Pak dhe, Indonesia juga punya gudang karbon yang luar biasa besar lo selain hutan, yakni gambut.

  7. Om Rov.
    Di Bali lagi ada tawar menawar masalah berapa duwit yang akan diberikan kalau bisa mengurangi emisi karbon per metric ton. sangat mungkin minggu ini kluar karena para pakar lagi mengusulkan besaran yang saat ini variatif dari $4 s.d. $16.
    DI sisi laen aku mbayangin bagaimana indahnya kalau Indonesia ini dipower oleh Geothermal…gunung kita berderet….saya yakin cadangan “kompor alam” berlimpah belum lagi turbin “iso-butane” (seje Iso dadi Buthone lho) yang semangkin maju. tinggal kita mau niatkan mengembangkan listrik ini. Polusi nyaris nol…Unocal eeh Chevron saja dapet insentif karena geothermalnya di gunung Salak….
    Kereta Listrik berkembang…mudhik nok Yogyo kanggo njenengan gak enek suwarane ….mak nyesss…nganggo motor listrik…..
    Trem….kereta listrik…mobil listrik…parkiran isine mobil ngisi baterai…..
    Kapan yoo iso koyok ngono??? kita harus mulai…
    Pak De Supramu ngedol share nok Star Energy….barengan karo Pak Lik Radikal (ex VP Caltex) berencana masuk ke Geothermal…..future energy yang bersih….
    salam semua…

  8. kata reporter yg ikut ktt di bali, amerika itu nomer SATU penyumbang emisi gas buang di dunia…..nah, itu guinness book brojolnya dari mana? emang paling gampang melempar kesalahan ke tempat lain…

  9. bukannya amrik yg mengeluarkan emisi plg byk?? iya nihh knapa sih ga’ ada pejabat tinggi negara yg tersinggung dgn tuduhan ka’ gini:{

  10. Indonesia,..kan plg gampang dikambing hitamkan,..karena yo kui ga ono sing mbelo,….rakyate do sibuk politik padu dewe,…nek menurut aku,..NASIONALISME perlu ditingkatkan.

  11. Benar atau salah setidaknya hal ini bisa menjadikan sebuah pelajaran bagi Indonesia untuk terus selalu menjaga negerinya (lingkungannya) demi mengurangi efek pemanasan global. Tetapi, akhir-akhir ini saya rasakan suhu udara di jogja kok agak dingin ya? (tanya kenapa)

  12. setau saya, negara” maju itu juga tau kok klo mereka yang berkontribusi paling tinggi dalam emisi CO2 di dunia. emang bener klo secara teknologi mereka lebih maju dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan yang “katanya” lebih hemat energi. tapi sayangnya distribusi teknologi tersebut ke negara” berkembang masih belum terlalu banyak. selain itu negara maju pun cenderung lebih “boros” dalam menggunakan energi, soalnya mereka lebih “kaya”. g kayak negara berkembang yang emang pada dasarnya lebih “miskin” jadinya penggunaan energinya pun g akan sebesar penduduk negara maju.
    mungkin ini yang mendasari dikeluarkannya protokol kyoto yang katanya pas awal” sempet jadi perdebatan. tapi yang penting kan gimana kita bisa melakukan sesuatu untuk mengurangi emisi ini secara global to?

  13. mbah bush nan mbelgedhes itu malah sekarang mau cuci tangan sok2 jadi pahlawan lingkungan

    http://www.iht.com/articles/2007/05/31/america/environ.php

  14. ahh.. qlo gtuu saiia stujuu skalii dhe…
    memang benar apa yang pakde katakan…

    yang ngomong warga indonesia tu penyumbang emisi terbesarnya tu syapa dhee….
    pazti orang asing yaa..
    sinii byar tak sobek-sobek..

    qlo pun bner emisi nya besar toh perusahaan2 asing juga turut mnyumbang devisa terbesar nya bukan…

    lihat aja tu…
    asap nya lebih hitam mana antara perusahaan2 asing sama yang indonesia punyaa..
    lagian jugaa salah indonesia…
    penjajahan gaya baruu qo masii rela..
    gmana dunk dhee..

  15. nah kalau para pakar dan ahli dalam menilai dan meneliti tentang kualitas udara yang dihasilkan Indonesia, kenapa kita tidak berbicara saja secara international ??
    lah kan kita punya bukti ne toh ?? –klo emang bukti dan alasan yang kita ajukan itu kita anggap bener dan emang sesuai fakta–
    mosok harus ngomong tok nda ada pergerakan yang kita lakukan. ya kalau seperti itu sama saja, tetep selamanya kita diperolok2 dan dianggap remeh diluaran sono.

    takut ???

  16. mas doddys… hal itu benar jika hanya melihat daya serap (absorbsi) air terhadap gas CO2, karena kemampuan air (laut) mengabsorbsi gas (tidak hanya CO2, termasuk O2 dan gas2 lain lho) memang berbanding terbalik dengan naiknya temperatur air yang artinya semakin tinggi temperatur air makin sedikit gas yang bisa diserap, tetapi jangan lupa, bahwa di daerah tropis ganggang laut/fitoplankton juga jauh lebih banyak dan mereka juga berfotosintesis yang artinya lagi juga menyerap CO2. Hutan tropis sebenarnya punya andil yang lebih sedikit dalam penyerapan CO2 ini, porsi terbesar penyerapan CO2 ini adalah di laut lewat ganggang/fitoplankton ini. Jadi yang nggak boleh ditinggalkan haruslah mencegah tercemarnya laut oleh kegiatan manusia, seperti tumpahan minyak (tidak hanya oleh kapal tanker, kapal laut lainpun sering buang oli bekasnya ke laut), percobaan bom nuklir (dulu sering tapi sekarang nggak tahu), explorasi dan pemboran lepas pantai pastinya juga ikut andil. Saya pernah membaca (dimananya saya lupa, apa di blog pakdhe rovick ini ya), ada pendapat yang mengatakan secara ekstrim, bahkan jika seluruh hutan di dunia ini rusak, seluruh emisi CO2 di dunia ini masih bisa di handel oleh kegiatan fotosintesis fitoplankton yang berada di laut, tentu saja jika tak ada perusakan laut yang berakibat matinya fitoplankton itu.
    Dan tentu saja negara-negara maju punya andil terbesar dalam “perusakan” laut ini, contohe: perusahaan minyak yang besar2 kan memang punya negara maju, yang nyoba-nyoba bom atom tentunya negara2 maju, yang kapalnya sliwar-sliwer di laut kebanyakan juga punya negara2 maju. Pas ada isu pemanasan global, negara2 tropis yang disalahin karena penggundulan hutan, padahal kayu hasil pembalakan liar itu banyak juga yang larinya ke negara2 barat, negara2 barat kan juga banyak ngimpor CPO/minyak sawit padahal buat nanem kelapa sawit kan harus membabat hutan, dan juga di Indonesia sendiri pabrik pengolah CPO itu kebanyakan perusahaan eropa, belum termasuk pabrik produk turunan CPO seperti sabun de el el kebanyakan juga perusahaan asing (Unilever dll).
    Penggundulan hutan memang salah, tapi kalo karena itu kita (Indonesia) yang dipersalahkan atas pemanasan global/emisi CO2 dan kemudian ujung2nya dijelek2kan di forum internasional dan biasanya berujung embargo ini itu ya sepertinya nggak adil gitu loh.
    Emisi CO2 juga tidak hanya dari penggunaan bahan bakar fosil, semua kegiatan pembakaran bahan apapun -tidak hanya bahan bakar fosil- pasti menghasilkan CO2, termasuk pembakaran zat makanan dalam tubuh makhluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan) juga menghasilkan CO2, juga karena alam sendiri, seperti gunung meletus, nggak terbayangkan berapa banyak CO2 dan gas berbahaya lain seperti SOx (belerang oksida, penyebab hujan asam) yang dihasilkan dari gunung yang meletus

  17. Perlu diingat bahwa CO2 tidak mudah diserap di temperatur yang relatif tinggi seperti di daerah tropis (salah satunya indonesia). CO2 sangat mudah diserap di temperatur yang rendah seperti di lautan antartika atau daerah2 yang sangat dingin. Oleh karena itu, secara posisi geografis saja, dalam hal penyerapan CO2 daerah tropis sudah tidak bagus dibanding daerah2 yang dekat dgn kutub (Eropa). Ditambah lagi penggunaan bahan bakar dari fosil yang berpotensi menambah emisi CO2 di atmosfer.

  18. Lah hiya … Negara-negara gede itu ya nakal-nakalan juga kok.
    mbok ya kita rada mbeling n nakal dikit kalau lawan negara lain. Nakal kok cuman brani didalem negeri aja ya ?
    😛

    Kalau soal Jakarta dsk ini soal polusi. Dimana-mana “polusi” ditanggung sendiri. Bakar sampah ya asapnya masuk rumah sendiri. Polusi asap mobil sih tidak menggangu negara lain, tetapi menganggu diri sendiri. 😦

  19. pak dhe, kalo di lihat di wilayah Indonesia sendiri bagaimana? terutama di Jawa, khususon Jabodetabek. Tapi benar juga, negara-negara maju itu mau menangnya sendiri, begitu mereka telah merusak lingkungan dulu, memakai energi fosil paling boros (mobil amerika dan eropa rata-rata ber-cc besar yang tentu saja lebih boros bahan bakar) pas giliran negara berkembang mulai menggunakan SUMBER DAYA ALAMNYA SENDIRI mereka teriak-teriak isu penghematan, pemanasan global dan lain lain.

  20. –> mbojo
    Angka yang di WIKIPEDIA dan EIA ini dasarnya perkapita artinya jumlah total emisi seluruh negara dibagi jumlah pendudukknya.

  21. pak dhe dasarnya apa itu?

    apa karena jumlah penduduk? klo itu dasarnya aneh bangat

  22. Biasanya yang “menuduh” itulah biang keroknya. Kayanya Guiness Book Of Record-lah yang menjadi penyumbang karbon emisi terbesar itu, pak rovicky.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: