Bonus Masuk Kerja “Sejuta Dollar !!”


Whaddduh masuk kerja di kantor baru dikasi SEJUTA DOLLAR !!! Bagaimana kalau tawaran itu diberikan kepada anda sebagai seorang ahli perminyakan ? Ini benar-benar sebuah berita heboh yang bukan sekedar hoax ! Berita ini dilansir oleh Emirates today :

Petroleum producers from Libya to the Gulf are offering $1 million bonuses to attract the skilled workforce they need
As the price of oil is poised to touch a record $100 per barrel, oil companies have resorted to desperate measures to attract skilled employees, including offering signing bonuses of up to $1 million (Dh3.75m).

Seperti sudah saya tuliskan dahulu ketika mempertanyakan oil BooM, bahwa yang menjadi masalah bukan sekedar langkanya cadangan migas (lack of natural resources) yang dibawah sana tetapi justru kelangkaan jumlah manusia (baca tenaga ahli) yang mampu menyedot minyak dibawah sana untuk diambil dan dimanfaatkan.

Kelangkaan pegawai migas ini bukan isapan jempol belaka. Ini sudah merupakan hal yang harus di-serius-i buat siapa saja. Semestinya konsen ini juga ada pada para pemakai tenaga kerja (industri migas), penghasil tenaga kerja (university) serta calon-calon pekerja (mahasiswa) serta angkatan kerja saat ini dan mungkin, eh pastinya penyelenggara negara di Indonesia. Tidak hanya pemerintah tetapi juga DPR dan Migas.

Saat ini memang “good time for employee“, tentunya kalau kita mampu mengoptimumkan ‘harga diri‘, maka dengan sendirinya nilai jual juga akan naik.

😦 “Lah Pakdhe, kalau gitu kerja nyatai saja gaji naek doonk !”
😀 “Lah ini thole, sekarang ini perusahaan migas sudah menjadi ‘dewasa’ sudah tidak melankolis mengandalkan loyalitas saja. Merekapun akan dengan enaknya membayar orang professional lain yang bekerja untuknya kalau kau ngga kerja beneran !”

Dari hasil survey pegawai migas yang dilakukan oleh BPMIGAS, di Indonesia dikenal sebagai Petrotechnical ini yang paling mengalami kelangkaan adalah tenaga-tenaga yang bekerja untuk menganalisa subsurfaces (bawah permukaan) yaitu geologist-geophysicist, serta engineer bawah permukaan (drilling engineer, reservoir engineer, production technologist ). Geoscientist merupakan jenis yang paling susah dicari substitusinya, karena tidak mungkin merubah profesi seorang sarjana elektro menjadi seorang ahli interpretasi. Petroteknikal (Engineer) yang bekerja di permukaan, masih memungkinkan untuk diperoleh dengan substitusi. Misalnya mengambil profesi yang sama di bidang non migas. Pak Kardaya dari BPMIGAS pernah mengeluarkan angka hingga sejumlah kekurangan 2444 tenaga GGRE di Indonesia. Sejumlah angka yang luar biasa untuk sebuah perusahaan migas.

Workforce (GGE) requirement is irrespective of the crude prices

gg-shortage.jpgKalimat di atas itu merupakan salah satu kesimpulan yang saya presentasikan dalam pertemuan IAGI tahun lalu di Pekanbaru. Hal ini terutama adalah kelangkaan G&G (Geologist and Geophysicist) ini tidak tergantung dari harga minyak. Pada waktu saya presentasi di IAGI itu (November 2006) harga minyak sedang turun hingga 56 USD/bbl. Tentusaja ditambah dengan kondisi mas kini, dimana harga minyak yang mendekati 100USD/bbl ini, maka akan lebih-lebih menjadikan culik-menculik tenaga kerja akan semakin kencang.

Gambar diatas menggambarkan kondisi pada tahun 2002, lima tahun lalu yang saat itu harga minyak masih sekitar belasan dollar perbarel. Sebenarnya pada waktu itu sudah diketahui bahwa akan terjadi shortage (kelangkaan) tenaga kerja (terutama G&G). Kalau diproyeksikan saat ini, akan terlihat kekurangan tenaga kerja sebesar 20%. Menurut tulisan Emirates today yang mensitir sebuah penelitian di US, menunjukkan tenaga kerja yang penisun ditahun 2010 sebesar 40% !.

Tentunya kelangkaan ini bisa saja merupakan peluang (opportunity) namun juga tantangan (tantangan).

Kemana saja mereka ?

gg-traffic.jpg

Saat ini ada sekitar 250-300 GGRE yang ada di Kuala lumpur dimana 60% dari mereka adalah pekerja dibagian bawah permukaan (subsurface). Dan 40% dari mereka adalah Geoscientist (G&G). Seorang kawan di Saudi Aramco menyebutkan ada 40 orang Indonesia di Saudi saat ini. Sedangkan catatan dari IATMI Middle East ada sejumlah 140 yang menjadi anggota IATMI-ME.

Tentunya ini bisa dianggap peluang, tantangan, kehilangan, atau unjuk gigi, atau apapun tergantung dari kacamata yang melihat.

Gambar disebelah ini memperlihatkan pergeseran mereka-mereka yang saat ini sangat “mobile” (mudah berpindah) dari satu negara ke negara lain. Dahulu di jaman “sulit” (pra-1990), berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainpun boleh dibilang tidak mungkin. Pindah dari ARCO ke Mobil-Oil bahkan pernah dilarang. Tetapi saat ini berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain sudah jamak. Bahkan beberapa orang sudah keluar masuk ke perusahaan yang sama beebrapa kali (kayak ingus aja 🙂 .

Walaupun saat ini saat yang bagus untuk pekerja, namun situasinya sudah berbeda. Perusahaan tidak lagi berbicara loyalitas ke perusahaan, jadi kalau anda ngga mampu bekerja dan menguntungkan, ya ditendang. Ini penting diperhatikan pekerja saat ini.

Perlukah expatriate (pegawai asing) ?

iatmi-kl_2007.jpgSebelum ada kesadaran kelangkaan ini (kira-kira 6 tahun lalu) Petronas sangat kecewa kalau ada Kontraktor KPS (perusahaan migas) di Malaysia yang mengambil orang Indonesia sebagai pegawainya. Mereka di Malaysia, sama juga seperti di Indonesia yang menginginkan pegawainya adalah orang-orang lokal. Tidak hanya karena menginginkan pemberian lapangan kerja tetapi juga nasionalisme, serta menjaga asset negara. Namun saat ini sepertinya Petronas sudah selangkah didepan Indonesia dengan tidak terlalu merisaukan siapa yang akan menjadi pekerjanya. Tentusajaini berbeda dengan di Indonesia yang selalu risih dengan adanya tenaga asing di negerinya.

Pada akhirnya perusahaan migas (termasuk Petronas Carigali, Pertamina, Exxon, Chevron dll) hanya berfikir soal bisnis. Kalau mereka mampu (mau) membayar maka mereka akan mendapatkan pegawai. Tanpa peduli pasport dan warna kulitnya. Tentusaja dengan pemikiran sederhana kalau ada pekerjaan yang bakal dikerjakan, makan ada proyek, dan akhirnya akan ada nilai tambah berupa keuntungan. Keuntungan itulah yang perlu disumbangkan ke negara tuan rumah. NAmun tanpa pekerja, tidak ada yang akan disumbangkan.

Tanpa merisaukan siapa yang bekerja, tanpa merisaukan apa warna kulitnya, tanpa peduli passportnya yang penting “bekerja”.

Akankah di Indonesia juga terjadi hal yang sama, memperkerjakan siapa saja, asalkan mau bekerja dan menguntungkan ?

iatmi-kl_2007_1.jpgBacaan selanjutnya :

Iklan

21 Tanggapan

  1. excellent publish, very informative. I ponder why the other experts of this sector don’t notice this. You must continue your writing. I’m sure, you’ve a great readers’ base already!

  2. Pakdhe, rumus polinomial peramalan harga minyak kq bisa panjang banget sech? Itu apa aja sech Pakdhe? Pakdhe punya master prediksi harga minyak? Menarik lho, hehe

  3. salam kenal y akang..
    saya seorang fresh graduate di sebuah perusahaan migas, cuma lulusan esma but saya dah menerima gaji yang cukup lumayan walau untuk ukuran perminyakan itu masih relatif kecil…
    menurut hemat saya, untuk yang fresh graduate dari sma alangkah baiknya meneruskan perdidikannya sebelum memasuki dunia kerja karena masih banyak perusahaan migas yang mau menerima s1 fresh graduate…
    dunia migas adalah dunia yang penuh persaingan, bagi perusahaan yang bisa memberikan SESUATU yang lebih maka akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pekerja migas sendiri. Banyak teman saya yang telah menjadi kutu loncat dari satu perusahaan ke perusahaan laen…
    anyway, walau cuma lulusan sma tak menutup semangat saya untuk terus belajar mengenai perminyakan. Sementara ini juga sambil nyambi kuliah, meneruskan pendidikan yang terputus dan tentunya dibidang perminyakan pula.Moga2 bisa ikutan jadi kutu loncat..^^

  4. sekarang banyak perusahaan2 migas lokal yang bisa menjadi “chandradimuka” bagi para fresh graduate

  5. sayangnya para fresh graduate sedikit sekali yang mau mengambil mereka, mendidik mereka jadi qualified person sehingga bernilai tinggi…. lagipula sayang sekali pendidikan migas kita tidak terpadu dan tidak menjadi pilihan banyak orang (karena minim informasi), kebanyakan pengen kerja di kantor, mas… malas ke lapangan 🙂

    asalkan kompensasinya memadai saya kira, banyak fresh graduate yang pengen belajar jadi qualified person 🙂

  6. ” … karena tidak mungkin merubah profesi seorang sarjana elektro menjadi seorang ahli interpretasi…”

    Wah pak Rovicky ngece nih …. Tapi yang jelas mungkin kok..

  7. Urun rembug ya kang..
    Menurut saya sih semua menunjukkan gejala yang kata orang-orang pinter jaman dulu disebut sindroma hijaunya rumput tetangga.. Itu untuk menunjukkan bahwa manusia memang tidak bisa puas. Selalu yang “diluar” yang lebih indah dan lebih baik.
    Coba saja dipikir-pikir, sudah bagus saat ini Indonesia merdeka dari seragam dan sentralisasi, masih banyak lho yang mendambakan saat2 kita diseragamkan dan diatur pusat. Begitu juga dengan masalah kerja. Seorang tenaga ahli yang sudah permanen dan digaji besar masih iri dgn pedagang di sebelah rumahnya yang bisa santai dan ketemu keluarga setiap saat.. sementara si pedagang iri dengan tetangganya yang bisa ngelencer kemana-mana dengan biaya kantor… ha…ha.
    Menurut saya kelangkaan tenaga GGRE bukan karena tenaga ahli GGRE yang tidak ada. Tapi karena tenaga yang sudah ada pindah-pindah profesi (jadi tenaga ahli iya tapi masih punya sambilan tambak atau bisnis rumah makan atau bahkan sibuk cari proyek untuk perusahaannya di rumah)…
    Semua jadi tidak profesional gitu. Jadi si tenaga ahli kalo disuruh kerja yang sulit di daerah terpencil beratnya bukan main.. (bahkan mungkin ada yang memilih keluar prshn daripada jauh dari bisnis sampinganya).

  8. gimana yah mas?? kalo aku melihat “mereka” itu sebenarnya hanya tidak mau buang-buang uang untuk melatih orang agar menjadi profesional, sebenarnya untuk masalah loyalitas tersebut, saya menganggap jika “mereka” mau buang2 uang untuk memberikan beasiswa kepada para mahasiswa G&G dan meng”hired” mereka sebelum mereka tamat, atau jika sesorang yang telah di training diberikan kepastian karier maka mereka pasti akan bekerja dengan penuh loyalitas pada perusahaan tersebut, sebab rata2 orang indonesia itu tipe orang yang tahu balas budi…walaupun tidak semuanya seperti itu, maka untuk kasus tersebut alangkah baiknya jika disamping segala fasilitas yang telah diberikan oleh siperusahaan tersebut diberikan juga kontrak yang bersifat mengikat mereka dengan syarat2 tertentu. toh intinya kita semua ingin agar anak2 bangsa ini maju dan mampu bersaing dengan bangsa asing, jangan cuma dijadikan target pasar dan tenaga kerja murah saja, kita juga harus berani menuntut hak kita kepada para perusahaan2 asing yang beroperasi di indonesia agar “mereka” juga mau menerima dan melatih sarjana2 G&G asli indonesia, toh untungnya juga buat bangsa (kata iklan perusahaan minyak produk lokal loh), masalah persaingan antar “mereka” itu, saya berpikiran jika ada energi alternatif yang murahpun maka persaingan antar “mereka” tersebut juga akan terus ada malah semakin meningkat karena masing2 perusahaan akan meningkatkan efisiensinya, yang penting ialah solusi yang ada untuk memenangkan hati para pegawai di perusahaan itu sendiri, kan gak semuanya bisa dibeli dengan uang :), tul lagi gak pak dhe?? 🙂
    (ket: “mereka”=perusahaan migas di indonesia; mereka=para calaon sarjana G&G indonesia)

  9. @Rachman,
    Kalau anda menyebutkan “mereka” ini sulit banget melihat individualnya. Karena mereka (perusahaan-perusahaan migas) itu jamak, bukan satu dan diantara mereka sendiri juga “saling bersaing”. Lah iya lah, industri ini juga bersaing mencari keuntungan sebanyak-nya. Satu perusahaan yang mentraining takut pegawainya diculik lawannya. Namun sayangnya yang menjadi korban kenaikan harga energi ini bukanlah industri migas. tetapi justru non-migas (non energi).
    Pesaing “mereka” adalah energi alternatif. Kalau saja ada energi alternatif yang dapat menyaingi “migas” maka “mereka” ini akan bersatu. Misalnya impian energi fusi dingin yang hanya dengan bahan bakar sebesar satu tablet bisa dipakai utk sepeda motor selama sebulan 😀

  10. betul juga yah pak dhe, tapi jika mereka ingin fresh grad yang sesuai dengan kulifikasi yang mereka inginkan, kenapa mereka tidak melakukan training2 saat kita masih kuliah, sehingga saat kita lulus kita telah menjadi lulusan yang cukup qualified untuk bekerja di industri migas, atau jika mereka ingin loyalitas kenapa tidak sekalian diberikan beasiswa berjangka saja (maksudnya si penerima beasiswa tersebut harus bersedia “membayar” biaya kuliah mereka dengan bekerja di perusahaan tersebut dalam jangka waktu tertentu), saya rasa orang indonesia masih memegang budaya balas budi, jadi jika mereka menerima bantuan dari seseorang maka sebaiknya “air susu tidak dibalas dengan air tebu..eh air tuba”, lha tapi kenyataannya yang saya lihat saat ini hubungan antara industri migas dan dunia pendidikan sangat tidak harmonis sekali(ibarat sebuah pernikahan kayaknya udah pisah ranjang deh), nah jadi timbul kesan bahwa perusahan2 migas tersebut ingin sesuatu yang “instant” mereka ingin para sarjana G&G kita sudah langsung siap pakai, padahal kenyataannya apa yang didapat di bangku kuliah seringkali berbeda dengan apa yang ada di lapangan, yaaah..lagi2 ini cuma mimpi saya supaya antara dunia industri migas dan dunia pendidikan bisa rujuk lagi jangan terus-terusan marahan kaya saiful jamal & dewi persik, tul gak pak dhe?

  11. @Rachman
    Tahun lalu aku sempat berbicara dalam forum bersama-sama dengan salah satu HR dari Petronas. Dan yang terlontar adalah “we are not running out people, but we running-out of qualified people” Artinya orangnya sih ada dan cukup banyak yang menganggur, namun saat ini kualifikasi yang diambil juga meningkat.
    Kalau “sekedar” geologist saja mudah mencarinya, tetapi yg ditargetkan perusahaan migas, kebanyakan hanya yang kualifikasinya sesuai. KArena mereka menyadari bahwa yang dicari itu akan dibayar mahal, sehingga dengan bayaran mahal mereka menginginkan kualifikasi sangat tinggi.
    Memang benar sayangnya kesulitan dalam membuat program training. Perusahaan juga takut2 menghire fresh grad kmudian dididik sesuai keinginannya. Namun saat ini banyak pekerja yang loyal pada profesi tetapi bukan loyal pada perusahaan. Dan ini disadari oelh HR perusahaan. Kalau ternyata malah trus resign dan kluar … mereka merasa rugi telah mengeluarkan biaya training. Akhirnya yang sudah pengalaman (experienced) yang dikejar2.
    Problem ini tidak hanya di Indonesia, namun termasuk di LN bahkan di Amrik dan Eropa, lebih lagi Middle East yang rakyatnya males-males tetapi kebutuhan HR-nya membengkak. Dan ini bisa jadi potensi keruntuhan industri migas dimasa mendatang ini yang lebih mengerikan, terutama kelangkaan human resources-nya.

  12. wah apa memang seperti itu kondisinya?? buktinya masih ada kok perusahaan migas, yang suka pilih2 pegawai (terutama pada bagian G&G), katanya mesti “experience” minimal 3-th lah, IPK minimal 3,4 (ooops!), TOEFL diatas 540 (ooops lagi!), bla..bla..bla, padahal potensi fresh garduate kita di bidang G&G cukup besar, namun sayang kebanyakan mundur lantaran alasan2 diatas, padahal menurut saya yang penting bagi seorang interpreter ialah pengalaman (bagaimana bisa punya pengalaman bekerja jika memulai masuk ke lingkungan kerja saja susah), dan pada akhirnya akan terjadi “gap” dalam regenerasi ahli2 G&G indonesia di industri migas, padahal tantangan industri migas kedepan semakin sulit, lalu akhirnya solusinya perusahan2 migas tersebut akan mulai menarik pegawai2 asingnya untuk bekerja di indonesia, dan para sarjana2 baru bidang G&G asal indonesia (krn dainggap “kurang pengalaman”) hanya dijadikan operator alat saja di rig, bukan seorang interpreter apalagi decesion maker…saya membayangkan alangkah indahnya jika seorang fresh graduate bidang G&G di indonsia yoo..di terima dulu baru dilatih agar dapat menjadi seorang profesional geologist/geophysicts jadi regenerasi ahli2 G&G indonesia dapat terus berkelanjutan, toh seperti kata eyang saya “roma wasn’t build in a day”, tul gak pak dhe???

  13. wuih enak kali yaa kl skill kt bisa dihargai bangets..

  14. Out Of Topic nih (malah nyambungnya ke urusan Evolusi), tapi karena sejauh pencarian saya nggak ada sarana buat kontak pak Rovicky di sini, jadi saya tulis lewat comment aja.

    Saya kemaren-kemaren selesai baca buku “Mapping Human History” karya Steve Olson (terjemahan Indonesia diterbitkan Serambi). Buat saya sih menarik. Tapi saya pengen tau komentar orang-orang yang lebih ngerti sains genetika dan biologi evolusi tentang buku ini.

    Udah baca belum? Kalau udah, ada komentar apa? Thanx!

    setan

  15. Kelangkaan pegawai migas ini bukan isapan jempol belaka. Ini sudah merupakan hal yang harus di-serius-i buat siapa saja.

    *Duduk tercenung… dg kesan serius….
    Emang bener… ini bukan main-main….*

  16. ceritanya mau pindah kemana nih pakdhe? ke qatar? dubai? atau mana lagi … 🙂

  17. Waduuh.. Pakde ketularan gunung Kelud, langsung “berganti gaya”.. hehe..
    Kapan nulis soal Krakatau lagi pakde?

  18. mumpung oil boom isn’t over (yet), ada peluang bikin sekolah G&G, kalo perlu mulai setingkat SMA, biar dolar mereka kita yg ngebor-in 😀

  19. saya pemakai minyak sahaja pakde 😀

  20. Hmm ya pakde, sering masalahnya kerja di minyak persepsinya harus jauuh dari lingkungan manusia. Padahal untuk fresh graduate aja, ada S1 EL ITB yang “konon” katanya ditawari sekitar Rp.10-15 juta. Tapi banyak juga yang mikir2 dan pilih kerja umpel2an di Jakarta.

    Staf saya suaminya kerja di bidang tsb, dia cuma ingin agar kalau dipindahkan dekat dengan lapangan terbang. Mengapa? Agar kalau si suami nengok mudah…maklum cuma bisa setahun sekali…karena sering ditengah lautan…Yang jelas, dia kaya raya, lebih kaya dibanding bosnya….dan saya lihat happy aja.

  21. ah sayang sekali, kuliah politik gara2 IIUM gak mengakui matematika saya, mentang2 saya lulusan pondok…hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: