Mengapa Pakdhe sering menginfokan energi nuklir ?


Ada seseorang bertanya di mailist IndoEnergy, terutama karena sepertinya saya mendukung PLTN

 

On 11/3/07, Wisnu Pranoto <wisnu.pranoto@—.com> wrote:
PS: Pak Rovicky dulu geologinya di geologi nuklir atau minyak? Saya melihat Anda sering mengirimkan informasi dukungan terhadap proyek PLTN

Saya ini sekolah di jurusan geologi umum, kerja di migas. Tapi konsen soal energi secara umum. Saya sering menginformasikan PLTN (nuclear energy) karena belajar dari sejarah pergeseran energi dari batubara ke migas yang disebabkan oleh teknologi mesin.

Intuisi saya menyatakan pergeseran pemanfaatan sumber energi migas ke nuklir akan terjadi karena pemanfaatan dan perkembangan distribusi energi masa depan ada di Listrik, dan PLTN sebagai sarana pembangkit utama-nya. Dan saya menyayangkan seandainya Indonesia akan tertinggal jauh kalau pengetahuan tentang PLTN tidak berkembang baik.

Apakah nuklir (PLTN) akan mampu menggantikan sumber energi migas ?

Jawaban saya jelas TIDAK. Namun Nuklir (PLTN) saya yakin akan mampu menjadi penolong terbaik sesuai dengan kemampuan, persiapan dan kemajuannya saat ini. Di Indonesia kendala PLTN lebih banyak pada kampanye sosialisasi pengetahuan tentang PLTN dan energi secara umum. Untuk pemenuhan kebutuhan energi nasional, saya tidak mengharapkan terlalu banyak dengan pemanfaatan PLTN, yang konon akan menggantikan migas dan target 5-10%. Angka ini hanya sebagai penyumbang energi saja sudah cukup bagus sebagai tonggak untuk menunjukkan “advancement of technology applications“. Akan ada aspek ‘pride‘ yg mungkin akan menumbuhkan kepercayaan diri bangsa ini. Ini sangat debatable, tentusaja looh.

Gas sebagai pengganti antar waktu

 

Secara global setelah sumber energi dari minyak bumi saya meyakini gas akan menggantikannya sementara Nuklir masih akan menyusul kemudian. Jadi gas akan mengisi seandainya penambahan cadangan (resource replacement) minyak tidak berubah signifikan. Mengapa ? Karen akepemilikan industri ini masih dalam satu korporatyang sama. Hampir semua perusahaan minyak juga penguasa gas bumi. Karena secara alamian keterdapatannya memang seiring sejalan.

Kalau melihat cadangan gas di Indonesia, harus disadari yang nganggur (stranded) sebesar 100 Tcf. jumlah yang suangat besar tentunya. Tentunya sangat disayangkan mengapa cadangan sebesar ini tidak belum dikembangkan. Apalagi ada satu lapangan sebesar 45 Tcf dari satu lapangan saja, yaitu Natuna D-Alpha yang diketemukan pada tahun 1973 oleh Agip.Permasalahan pengembangan gas ini ada pada penyebaran lapangan gas yang tidak dikembangkan ini, yaitu di Indonesia ini tersebar 62% di laut dangkal (shelf), 22 % di darat dan sisanya 16% di laut dalam. Lapangan-lapangan ini di Indonesia ini kebanyakan berukuran sedang hingga kecil sehingga pengembangan lapangan dengan “stand alone type” (satu lapangan satu fasilitas) tentunya menjadi sangat tidak ekonomis.

Pengembangan lapangan yang ideal adalah dengan menggunakan satu kesatuan (integrated). Tentunya tidak hanya fasilitas produksinya saja tetapi juga pemasarannya. Nah, dalam hal ini pasaran dalam negeripun mestinya harus di edukasi lebih dahulu. Penggantian kompor minyak dengan kompor gas sebenarnya mneurutku langkah yang tepat. Hanya saja implementasi di lapangan amburadul karena kesadaran energi di masyarakatnya yang masih rendah.

lengkapnya soal gas di Indonesia disini :
https://rovicky.wordpress.com/2007/07/18/cadangan-gas/

 

Geothermal “potensi”nya terbesar

https://i2.wp.com/iga.igg.cnr.it/geo/en/What_is_geothermal_en_html_4983ad05.jpgSaya sendiri hingga saat ini masih meyakini geothermal merupakan potensi sumber energi terbesar di Indonesia yang sesuai dengan posisi
geografis kebutuhannya (Jawa-Sumatra). Namun kesiapan (readyness) serta penggarapan geothermal aku pikir di Indonesia ini masih sangat
tersendat terutama dari sisi non tehnisnya. Secara tehnis jelas sudah tersedia teknologi serta bagaimana memanfaatkannya serta merubah menjadi energi listrik. Namun sisi yang tersendat didalam non tehnis ini termasuk didalamnya soal aturan main, kesiapan sosial, maupun strategi nasionalnya dll.

Saya sudah pernah menuliskannya tahun lalu disini :

Dan cadangan yang kononnya 40% cadangan dunia ini ya terbengkalai saja.

Batubara sebagai pengisi sejak lama

globalwarming.jpgSejak tergesernya batubara oleh migas sebagai sumber energi utama, batubara tetap saja berjalan sebagai sumber energi. Dan yang pasti batubara masih melimpah, dan pemanfaatannya berkembang dari tahun ke tahun. Batubara tidak mati tetapi memang bukan primadona. Batubara masih akan terus dipakai sebagai sumber energi dengan segala tantangannya, baik lingkungan, harga, serta tehnologi. Namun pastinya batubara tidak boleh ditinggalkan. Walaupun sebaiknya batubara bukan menjadi sumber energi utama, karena kendala dampak lingkungannya.

 

Sumber energi lain ?

Angin, surya, biofuel, … ?
Hmm untuk Indonesia masih bisa dikatakan “sorri … ngga ngefek … !”

Iklan

31 Tanggapan

  1. Menghambat PLTN merupakan perwujudan dari: “ketakutan berlebih dan bisnis”. entah berapa perusahaan besar yg semakin cepat kehilangan kue suplai bahan bakar untuk pembangkit listrik kovensional.
    Mereka para pembisnis tidak pernah berfikir tentang hematnya anggaran untuk listrik. kemungkinan besar mereka berfikir jangka panjang yang jika dipertahankan akan mendapatkan laba yg berlimpah dikarenakan bahan bakar yg semakin sulit.

  2. Ass Pak kalau bicara nuklir ke Batan aja, para pakarnya yang akan bicara baik aspek teknlogi maupun teknoekonominya agar jelas dab tidak penasaran. Untuk mbak @ Aprilia saya pandu ke expertnya yang mengusai teknologi kedokteran nuklir sebagai bahan belajar. monggo mas tak tunggu di batan serpong. wassalam

  3. Dear Pakde…, Kalo kita urut2kan mana hal penting yang bisa kita lakukan untuk sumber energi pada bagsa kita menurut saya adalah Migas, Pabum, dan Nuklir. saat skrng Migas “On Being” exploration and Production, Pabum baru hanya 4-5% dari total 40% potensi Pabum Kita ( kutip dari tulisan bapak), dan Nuklir baru pada sebatas wacana. artinya untuk saat ini mungkin kita maksimalkan Produksi Migas, dan Kembangakn dulu Pabum dan baru kemudian Nuklir…, kalo pinjam istilah orang ” pintar” bahwa belum sampai ” maqom” nya di kita untuk pake nuklir…, so we just explore and produce of our “migas dan Pabum” maximizely…!
    Nb : kalo ada bahan2/ referensi soal geothermal bisa di share dmn yah pakde.., mungkin bisa bantu saya untuk bahan tesis. Thx 🙂

  4. Pak Dhe, jujur saja banyak yang mengakui kalau kita sebenarnya sudah butuh PLTN itu.. ning buanyak yang kuatir tentang kualitas mental manusia nya… PakDhe kok ndadak tinggal di Malaysia dan gak mulih2 hayo.. aku dulu pernah kerja di TL Offshore, dan sing survey cari minyak itu geolog dari Indonenok..sing nggowo kapale yo bangsane awak-awak iki…. wiiis jjiaaannn… kapan ono presiden sing bener-bener ikhlas berbakti demi nusa dan bangsa yo dhe….

  5. PLTN;
    Mu aman atau gak aman, korupsinya pasti jalan. udah lagu lama negeri ini.bosen!

  6. “Serahkan urusan kepada ahlinya”… Di tangan ahli, akan lebih tepat di dalam menilai PLTN. Bukan cuma kira-kira. Apalagi takut. Bukan juga karena tidak tahu.

  7. Batubara banyak banget. Tapi lebih baik disimpan. Dari pada digali terus dijual. Mending disimpan dan dipakai pas kita bener2 butuh

  8. Soal batu bara, Sawahlunto katanya telah kehabisan, tapi desa sekitar Sawahlunto masih tersimpan batu bara yang masih muda, Tapi saya tidak tahu apakah batubaranya bagus atau tidak. Batu bara didesa yang termasuk wilayah Sawahlunto itu malah banyak bertebaran diatas permukaan tanah, dan jika butuh banyak bisa digali kapan saja.

  9. buat bang Jack
    Sebenarnya, pengembangan solar cell sudah diusahakan. Yang jadi masalah itu budaya masyarakatnya. Sakit hati begitu terasa ketika saya tahu solar cell yang dihibahkan pemerintah ke salah satu daerah di Jawa Tengah hanya digunakan sebagai MEJA. Ini Fakta!!!! coba banyangin, solar panel harganya jutaan dengan ukuran 1 m persegi. Kok bisa2nya investasi ratusan juta cuma disamain dengan kayu.Sebuah desa di Klaten baru saja membangun solar cell. Tiap rumah urun 5 juta. Mereka pun dapat 200 V. Bayangin, 5 juta cuma dapan 200 V. Buat nyetrika aja njeglek. Ini yang menyebabkan dunia ini perlu kesabaran. Solar cell akan segera dipasang besar2an di Bantul (kalo gak salah) oleh mahasiswa2 Teknik Fisika UGM dengan supervisor ahli di Pusat Studi Energi UGM.

    Kemudian soal busway. Kita dari dulu salah soal transportasi. Harusnya transportasi publik difasilitasi dan disubsidi. Trus BBM untuk motor dan mobil dihapus. Wong bisa beli kendaraan kok gak bisa beli bensin. Kalo subsidi buat bensin kan aneh, yang menikmati orang middle up. Yang bawah, ya tetap jalan kaki. Busway menurut saya ide yang sangat brilian dari pemprov DKI. Banyak yang protes memang iya. Ngurangin jalan?? Memang itu tujuannya. Sudah saatnya kita mengubah budaya dengan membawa kenyamanan bersama dan mengesampingkan kenyamanan pribadi. Selama ini kita senang membawa kenyamanan kemana-mana. Kalo gak pake mobil atau motor sendiri terasa gak nyaman. Coba kalo kita punya transportasi murah, full subsidi untuk publik dan semua menikmati. Jumlah mobil berkurang. Orang akan mikir beli mobil/motor wong BBM mahal, dan ada bis Full AC dan layanan lengkap dengan harga murah. Uang bisa ditabung buat naik haji. Bayangkan, buat ber[pindah tempat 300 m saja kita harus naik motor/mobil. Capek. Nah ini budaya. Di Jerman, orang jalan kaki 2-3 km sehari udah biasa. Anak kecil naik sepeda gak ada yang takut. Wong transportasi dipercantik sedemikian rupa. Lha, disini. Trotoar penuh PKL. Mau ngusir?? Itu suicide namanya. So, Busway jangan ditolak ya. Kalo macet, kenapa gak naik busway aja?? Mobil diparkir. Hemat bensin, hemat waktu. Dan jelas membantu pemerintah…

    Terjun ke bidang energi terbarukan memang kayak orang gila. Terlalu banyak yang bisa ngomong energi terbarukan, ngomong potensi besar tapi gak mau terjun langsung. Kami di Komunitas Mahasiswa Sentra Energi UGM ( buka http://www.kamase.org )harus mau bermuka tebal. Ketika banyak orang mempertanyakan langkah pemerintah yang mengutamakan nuklir dan tidak beralih ke energi terbrukan, kami justru kelimpungan menerima berbagai pesanan biogas di DIY dan Jawa Timur. Sebenarnya, semua tergantung kita. Kalau anda berani, mari kita terjun bersama di Energi Terbarukan. jangan cuma mendukung. Di luar pesanan sangat banyak. Mereka menunggu anda sebagai investor.

    Membiayai penelitian sama saja membuang waktu. Udahlah, ayo kita learning by doing. Lakukan!! Biar anda tahu kesulitan2 dan kendalanya jadi tidak menyalahkan pemerintah terus.

    Banyak yang terkagum2 pada kami ketika kami membawakan paper di WRECE (World Renewable Energy Region Conference and Exhibition) dan menjadi satu2nya pembicara dari kalangan mahasiswa s1. Padahal kami mengajak anda untuk terjun bukan malah berdecak kagum. Anda siap bergabung di dunia yang gila ini?? Kami masyarakat energi terbarukan menunggu anda!!

  10. Kang Rovicky, sebenarnya kebutuhan energi terbesar adalah untuk industri. Yang kedua mungkin untuk Pembangkit Listrik. Kebutuhan untuk rumah tangga, pemukiman dan prasarana umum mestinya nomer tiga. Kalau Indonesia lebih keras lagi mengembangkan solar cell untuk rumah tangga di Jawa (saat ini mungkin sudah cukup banyak di beberapa daerah di NTT) saya rasa akan sangat membantu.
    Apalagi kalau ilmu-ilmu kuno seperti “ilmu Macan Putih”, “Ilmu Menunggang Angin” dan sebagainya itu dikembangkan dan dijadikan standar untuk transportasi manusia di Jawa, saya rasa akan sangat menghemat energi… guyon yo kang! Bayangkan, alangkah iritnya bepergian di Jawa.. cukup merapal mantra dan wuss samapai ke tujuan. Tidak perlu berjubel dan antri di tol.
    Ini misalnya saja Kang Rovicky. Misalnya, biaya pemborosan energi transportasi di kota metropolitan adalah 50 juta/hari. Saya rasa biaya itu cukup untuk biaya training ilmu-ilmu yang saya sebutkan tadi… ha..ha.. Lebih hebat dari nuklir kan..

  11. Salam kenal pakdhe. Tanpa basa basi, saya ingin katakan salut dengan blog Anda. Pakdhe bisa buat tulisan tentang fenomena alam (khususnya geologi) yang sgt spesifik ini menjadi bacaan dan informasi yang enak dibaca siapapun. Meski saya juga dari geologi, tp jujur, nggak pernah kebayang bisa buat blog spt ini. Salut pakdhe !

    Regards,
    Bey Laspriana//www.beyblog.syafaatadvertising.net

  12. Yaah, energi alternatif selain migas & batubara, yang paling siap memang nuklir.. wong tinggal import. Minyak kita cuma 0.6% dunia, bbrp belas tahun lagi abis. Gas kita cuma 1.6% cadangan dunia bbrp puluh tahun lagi juga abis. Batubara kita 3,1% dunia mungkin 100 tahun lagi juga abis. Sedangkan yg lain (geothermal baru 2% walaupun kita punya 40% cadangan geothermal dunia, tenaga air 10%) kontribusinya masih keciilll sekali. Barangkali keasyikan pake migas sampe lupa ngembangin. Sekarang pake nuklir, sekali lagi wong tinggal import. Nantinya juga lupa lagi untuk ngembangin energi alternatif yg terbarukan & ramah lingkungan. Yaaah… begitulah..
    Sori ya Pakde, rada pedes nih.. Kan makan tahu enaknya juga pake cabe.. hehe..

  13. Apakah Nuklir itu pilihan yang paling tepat? Kalau saya sih mendukung banget tuh soal geothermal sama gas. Selain banyak, relative lebih aman bukan dibanding nuklir?

  14. Pakdhe bagaimana dengan harga minyak yang selalu cenderung naik ini ? Apakah ada kemungkinan akan turun ? Apakah benar minyakbumi akan segera habis ?
    wah maaf banyak tanya ya

  15. @ Gerie
    Mempertimbangkan “worse case” ini memang harus, tetapi memutuskan berdasarkan “worse case” saja ini yang cukup “menantang” 😀
    Dan jangan lupa ada “worse case” seandainya defisit 4-5% … Badai protes juga tak kalah serunya looh 😛

  16. Pakde, nambahin komentar ya..
    Soal PLTN, masalah yang paling kontroversial kan pada pemilihan lokasi instalasinya (yg katanya ada 3) di sekitar gunung Muria. Kalau penggunaannya sih, masih bisa dijelaskan sisi ekonomis dan keamananannya. Tapi pemilihan tempat ini, memang agak sulit dicerna oleh akal (saya). Katanya, muria adalah daerah yg relatif paling aman gempa di pulau jawa. Lha kalo pertimbangannya itu, pulau seribu kan lebih aman? Ancaman paling tsunami, itupun tidak tinggi 1-2 meter (menurut catatan letusan krakatau 1883). Kalo pertimbangannya kabel transmisi lewat laut takut kegaet jangkar kapal, lha kan bisa ditanam pakai kapal Cable Laying Ship yg biasa dipakai utk kabel telekomunikasi. Kalo seandainya (moga gak terjadi) kebocoran reaktor, yg hrs diungsikan kan ukuran ratusan/ribuan orang, dibanding di muria bisa belasan juta orang.
    Atau pakai reaktor terapung (konon rusia lagi ngembangin). Kenapa sih hrs di Muria? Apalagi kontribusinya thd kebutuhan listrik nasional cuma 4-5%, kemungkinan dampak bila terjadi kegagalan kan jauh lebih besar drpd pembangkit konvensional. Mbok ya para pembuat keputusan bisa mempertimbangkan “worst case”nya dan dampak sosial, nasional dan regionalnya. Gimana pakde?

  17. lho, rumahnya mas Andri di serpong juga tho ?
    rumah saya di serpong listriknya juga suka mati
    kalau ada hujan gede.

  18. saya cuma bercita-cita, kalau hujan datang, listrik di rumah saya tidak mati 😀

  19. Pak Dhe,
    Indonesia kan sebenare kaya akan laut, kenapa sih ndak pakai energi gelombang laut sih,Dulu seingatku pernah baca bahwa ada orang Indonesia yang menemukan pembangkit listrik tenaga gelombang laut tapi katanya di patenkan di Jepang, selain itu mungkin ndak misalkan Mikro hidro di terapkan di desa-desa di Indonesia,terus listriknya di pusatkan di suatu tempat gitu, kan dari kecil-kecil kalau banyak kan bisa terkumpul energi besar, saya juga dulu sempat ada pikiran waktu Bandung jadi lautan sampah,kenapa sampah di seluruh kota di Indonesia tidak dibuat campuran bahan bakar PLTU saja sih,misal komposisinya di buat 1:2 gitu, 1 sampah 2 batubara, lumayan kan selain mengurangi sampah juga pemakaian batubara agak berkurang.Akhirnya sih saya sempat ada pikiran, permasalahan energi ini sebenarnya bukan bisa ndak bisanya aja,tapi kemauan politik pemerintah mau apa ndak saja, sbb masalah energi kan ada kaitannya sama politik.

  20. @ Aprilia,
    Setahuku X-ray itu termasuk nuclear medis. Saya kira banyak pemanfaatan nuklir medis yang juga diteliti oleh Batan. Juga ada beberapa teknik penyinaran untuk pengobatan kangker dianggap sebagai aplikasi nuklir medis.

  21. @ Mulharsono

    Untuk Bali juga punya geothermal loh, tepatnya yang sekarang sedang akan dikembangkan adalah di Bedugul. Pulau Bali sendiri masih termasuk gugusan busur gunung api seperti Jawa-Sumatra. Namun sayangnya hingga saat ini, seperti yang diutarakan pak dhe Rovicky, terkendala dengan aspek non teknis 😦

    @ Pak Dhe

    Pak dhe angin, surya, biofuel untuk sementara memang belum ngefek tapi mungkin untuk skala kecil di daerah-daerah yang belum terjangkau jaringan PLN saya kira layak juga bagi pemerintah untuk mengalakkannya. Setidaknya itu kata orang-orang environmentalist di milis energy troop.

  22. Pak Rovicky saya pikir usulan Pak rovicky dulu dengan geographical based lebih cocok utk Indonesia yang beragam ini.
    Mengapa tidak :
    – Sulawesi (Indonesia timur) dikembangkan PLTN
    – Kalimantan dikembangkan batubara
    – Jawa Sumatra dikembangkan geothermal
    – Bali ombak atau terbarukan angin misalnya. Toh industri Bali juga mahal wong yang mampu menikmati juga cuman bule-bule 🙂

  23. kalo pendapat saya, untuk kemandirian energi secara kecil-mikro, sebaiknya yang dikembangkan adalah biogas ataupun gas dari sampah domestik/perumahan.
    saya ada cerita, di daerah gunungkidul yogya, ada seorang pengusaha yang “smart”, dia bikin industri tahu, ampasnya digunakan sebagai pakan tambahan ternak sapinya, kotoran sapinya dia gunakan sebagai penghasil biogas dan sisa ampas biogas jadi kompos, kompos dia gunakan untuk pupuk tanaman rumput gajah sebagai pakan ternak sapinya, biogas dia gunakan untuk bahan bakar, baik pasteurisasi susu maupun digunakan untuk memasak. Limbah yang dihasilkan dari industri kecilnya itu hampir dikatkan tidak ada.
    Sampah domestik merupakan masalah sangat besar di perkotaan, jika ini dikelola dengan baik, bisa menghasilkan pasokan energi lewat biogas. kalo tidak salah, perencanaan pengelolaan sampah Jakarta sudah mengarah kesana.

  24. Pak.. mau tanya niy.. kalo kedokteran yang menggunakan energi nuklir itu… maksdunya gimana ya?? soalnya di Universitas saya ada jurusan itu..

    Terima Kasih..
    salam kenal, Aprilia

  25. Kebijakan industri nasional juga harus mempertimbangkan nilai strategisnya buat kita lho pak. Jangan karena ikut-ikutan trend bangsa kita ditumbalkan.

    Kalau bagi saya sih,

    Penguasaan teknologi nuklir YES … PLTN NANTI DULU.

    Apa nggak lebih baik untuk menumpahkan sebagian besar sumber daya kita untuk mencari sumber energi terbarukan yang murah dan besar, mengoptimalkannya dan menjadi leader dunia di bidang tsb.

    Saya yakin, siklus seperti yang diceritakan pak de kalo diteruskan adalah :

    minyak bumi – gas – nuklir – renewable energy
    ___________________________
    kasih tanggapan dong di tulisan ini :
    http://jepits.wordpress.com/2007/11/09/mengontrol-kebijakan-negara-melalui-pltn/

  26. Ya pakde, mau pake nuklir atau yg lain, yg penting manfaatnya jauh2 lebih besar dari dampak buruknya (short term & longterm). Masalahnya baru muncul, kalau bagi yg setuju yg dilihat cuma manfaatnya terus sedang yg gak setuju yg diperhatikan dampak buruknya terus. Apalagi kalau sampai gak ketemu konvergensinya, debat gak abis2..
    Tapi saya pikir yang juga sangat utama yg hrs dipikirkan adalah pengembangan energi alternatif yg renewable. Dan tidak harus bertumpu sepenuhnya pada PLN, tapi penyediaan energi juga bisa dilakukan oleh kelompok usaha kecil misalnya koperasi2 pedesaan (tdk hanya listrik, tapi juga energi kebutuhan rumah tangga lainnya, misalnya bahan bakar dll) yg disesuaikan dengan kondisi mikro tiap wilayahnya. Jadi harus ada program pemerintah yg bersifat SIMULTAN antara penyediaan energi nasional makro (listrik & bahan bakar) dan pemberdayaan unsur2 masyarakat utk tumbuhnya usaha2 penyediaan energi skala mikro kedaerahan (misalnya koperasi listrik mikrohidro, tenaga angin, tenaga matahari, biodiesel, arang kelapa, dll).
    Penggunaan bahan bakar fossil sudah jadi terkendala, karena sdh ada protokol Kyoto dll, sedang energi panas bumi belum menguntungkan secara ekonomis. Kalau pilihannya pada nuklir, tetap harus digarisbawahi bahwa itu bersifat SEMENTARA sampai pertumbuhan energi alternatif mapan teknologi dan nilai ekonomisnya, dan juga diversifikasi energi ditingkat masyarakat tsb diatas juga telah tumbuh mapan.
    Nah untuk itu, upayanya harus serius dan multidimensi (bukan oleh 1 departemen saja) tapi melibatkan banyak unsur pemerintah, masyarakat dan sektor usaha. Kalau bisa sinkronisasinya ditangani oleh 1 lembaga setingkat menko. Gitu lho pakde, angan2 saya… hehehe…

  27. Supaya jangang tegang terud dengan Kelud. Sakjane lebih tepat kita mesti berbicara soal “energi” nuklir hanya sebagian kecil saja. Tapi kekurangan 5% saja hidup ini sangat terganggu. Bahkan bagi yg pesimis berkurang 5% terasa mau mati. Padahal dengan efisiensi kita bisa menghemat 10-15% looh :p
    Kampanye efisiensi ini memerlukan tambahan hanya 0,005 pct biaya energi tapi akan mampu 5% saja, sudah berarti untung 100 kali kaan ?
    Hayooo hemattt energi kalau mau menolak nuklir !!! 🙂

  28. Wah, pakde pinter cari topik. Pasti seru n penuh debat kayak topik ttg nuklir yg lalu…

  29. Memang banyak persh migas menjadi persh energi scr umum (baik upstream mapupub downstream) Kebanyakan pengembang nuklir-pltn bukan pemilik usaha migas. Tapi beberapa persh migas malah pengembang solar sell, biogas dll yg bukan nuklir. Banyak yg mikir saingan migas itu ya nuklir sbg pesaing substitusi.

  30. Sepertinya kalau ada yg mo bikin pembangkit yg pake nuklir kok banyak yg menentang ya. Apa yang punya pabrik minyak pada takut produknya nggak laku apa ya dhe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: