Indonesia-Malesa ini masalah regional sejak jaman rekiplik


Ikutan ribut-ribut soal sayang-sayangan eh rasasayange ah … Sepertinya ini menarik karena kakiku kebetulan ada di dua tempat. Kaki satu di Malesa satu kaki di Indonesia.

😦 “Pakdhe kok nyebut Malesa to ?
😀 “Yo ben impas demi keadilan wae, nek deweke nyebut Indon yo rasah mangkel, thole. Ga usah pakai argumentasi yang rumit-rumit. Samain aja alasannya seperti apa kata media di Malesa, ini hanya untuk mempermudah ditulis dan pengucapannya aja kan ?” 😛

Apakah permasalahan bilateral ini melulu kesalahan Indonesia sendiri ?
Wah kalau mencari siapa yang salah ndak ada gunanya, malah lebih terkesan memprovokasi. Akan lebih baik mempelajari siapa dia dan siapa saya, seperti yang ada dalam tulisan sebelumnya Mengintip jendelanya Johari supaya saling mengenal dengan baik.

Kelemahan dan kekuasaan itu memancing keserakahan dan emosi.

Bukan soal benar dan salah, tetapi itulah yang terjadi. Dunia kekuasaan itu cenderung serakah. Sejak jaman raja-raja jaman dahulupun juga sudah begitu. Kalau dulu kerajaan menyerang kerajaan, jaman sekarang negara lah yang menjadi institusi resmi dalam pengembangan kekuasaan. Yang pasti ada porsi karena kelemahan posisi di satu pihak (Indonesia), dan ada kekuatan lebih di posisi yang lain (Malesa) yang akhirnya memanfaatkan kelemahan itu. Kita bisa saja “victimize the victims” menyalahkan yang kalah atau menyalahkan yang lemah. “Salah sendiri Indonesia kok lemah” … tapi sebenarnya bukan itu point utama dalam mempermasalahkan hubungan kedua negara. Jelas Malesa secara legal formal tidak ada salahnya dalam beberapa kasus “pencurian” lagu, batik, angklung dll. Tetapi secara moral dimana tolok ukurnya sangat-sangat relatif ini jelas ada kesalahan Malesa. Misalnya kasus penganiayaan pekerja ini apapun bentuknya yang namanya penganiayaan itu salah, titik. Jelas tidak benar kalau ada yang melindungi pelanggar kemanusiaan. Mau yang menganiaya wong Jowo, wong cino atau wong bugis siapapun yang menganiaya harus diadili, ini kasus kriminal bukan kasus bilateral. Padahal kalau dari statistik Malesa jelas diakui 80% kriminal di Malesa itu disebabkan oleh warga setempat (klick utk lihat datanya).

😦 “Pakdhe, jadi siapa yang salah Pakdhe ?”
😀 “Tunggu dulu, bagaimana kalau kita melihatnya dengan kacamata sejarahnya ?”

Selama ini Malesa memang selalu memanfaatkan kelemahan Indonesia. Kalau saya yang berhadapan dengan Malesa maka saya akan membawa kasus ini lebih luas lagi, yaitu problem kelemahan regional Asia Tenggara. Kita bisa saja caplok-caplokan sendiri di Asia tenggara, tapi suatu saat kita akan dicaplok oleh region lain, entah Cina, entah India entah Amerika atau malah Arab 🙂 . Kita ngga pernah tahu, kan ?.

Kalau saja Malesa tidak mau berbagi “weatlh” (kemakmuran) yang dimilikinya saat ini dengan region sekitarnya (termasuk Indonesia, Cambodia, Vietnam dan Thailand dan sekitarnya, maka mudah untuk diyakini, bahwa Malesa juga suatu saat akan menuai badai caplokan dari region lain. Sama halnya dengan Indonesia, kalau tidak mau berbagi kemakmurannya dengan daerah-daerah lain, maka akan menuai badai masalah kesenjangan. Hal ini secara historis sudah beberapa kali terjadi di region Asia tenggara ini. Katanya sih sudah dari sononya.

Indonesia sudah memiliki bibit-bibit kesenjangan dalam banyak segi, mulai dari kesenjangan ekonomi, kesenjangan pendidikan, kesenjangan politik dan sebagainya. Misalnya antara Jawa dengan Luar Jawa, banyak orang luar Jawa yang menganggap Jawa lebih dibangun ketimbang luar Jawa. Di dalam satu Pulau Jawa-pun ada kesenjangan antara Ibukota Jakarta dengan kota-kota dan propinsi lain. Di dalam Jakarta-pun juga ada kesenjangan antara Priok dengan Pondok Indah. Demikian seterusnya kalau kita turun kebawah ke daerah lebih sempit. Kesenjangan ini akhirnya dimanfaatkan pihak lain untuk memecah Indonesia atau barangkali akhirnya pecah sendiri merugikan diri sendiri tanpa campur tangan pihak lain sekalipun. Secara singkat Indonesia akhirnya menjadi lemah. Dan kelemahan inilah yang dimanfaatkan oleh Malesa sehingga mampu mencaplok Sipadan-Ligitan, dan juga saat ini masih berusaha mencaplok Ambalat. Jalannya memang bisa berliku-liku. Dahulu jaman kerajaan-kerajan ya melalui perang, saat ini perebutan melalui jalan pengadilan dunia atau dikenal Mahkamah Internasional.

Apakah tindakan Malesa ini salah atau bener ?
Sebelum bicara salah atau bener … Kita lihat saja sejarah perjalanan kawasan ini secara singkat.

😦 “Haiyak, Pakdhe. Mbok udah dimulai crita sejarahnya aja”

Sejarah Singkat Kawasan Melayu

malindo.jpgSudah sejak jaman dahulu kala daerah (kawasan Asia Tenggara terutama termasuk tanah melayu) ini berubah-ubah kekuasaan serta rajanya.

Dahulu ada kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang (kita mulai saja dari sini, ya). Sriwijawa kekuasaannya meliputi Sumatera Bagian Timur termasuk semenanjung malaka (Malesa Barat saat ini). Kemuadia daerah ini diserang oleh Majapahit. Dan akhirnya daerah kekuasaan Sriwijaya ini dikuasai Majapahit.

Majapahit inilah yang sering menjadi lagu dan dongengan serta lamunan indah yang dibanggakan sebagian rakyat Indonesia bahwa “dahulu” pernah ada kekausaan yang pernah besar menguasai Asia tenggara hingga Pilipina dan berpusat di Jawa. Itu dahulu, sekarang Indonesia ya harus kerja keras lagi, tidak mungkin melakukan klaim ini milikku hanya dengan sejarah saja.

Bagaimana dengan Sriwijaya ?

Pangeran Sriwijaya Parameswara dengan para pengikutnya hijrah ke semenanjung, dimana ia singgah lebih dulu ke pulau Temasik dan mendirikan kerajaan Singapura. Pulau ini ditinggalkannya setelah dia berperang melawan orang-orang Siam. Dari Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan kerajaan Melaka membentuk kesultanan Melaka. Ketika Kasultanan itu berkembang, Majapahit sudah mulai memudar sekitar 1400-an. Pusat Melaka ini ada di Negeri Melaka saat ini. Kesultanan Melaka inilah yang selalu menjadi dongengan indah dan manis bagi Rakyat Malesa saat ini. Karena kekuasaan yang berpusat di Malesa saat ini dan yang terbesar yang dimiliki dari segi sejarahnya, ya hanyalah Kesultanan Melaka, hmmm … yang notabene pelarian dari Sriwijaya yang terusir oleh serangan Majapahit.

Setelah itu itu ada juga kerajaan-kerajaan lain yang menyelimuti perjalanan sejarah di Indonesia dan Malesa, tapi mungkin kepanjangan kalau diceritakan. Nah, yang perlu diketahui adalah adanya caplok-caplokan daerah ini sejak jaman raja-raja dahulu. Sangat wajar kan kalau ada sedikiit kekesalan Sultan Melaka yang terusir dari Sriwijaya yang berpusat di Palembang ini. Demikian juga terjadi perebutan pengaruh Hindu dan Islam ketika masuk di Jawa, dan sudah tentu mengundang dikotomi bangsa terusir dan bangsa yang mengusir. Ntah, akan ke bagian atau sebelah mana pembaca ini akan berdiri, sebagai yang mengusir atau terusir. Padahal itu cerita masa lalu saja. Silahkan mencari posisinya masing-masing 😛

malindo1.jpgJaman Kolonial

Kemudian, hmmm …. …. … kita loncati lagi saja sejarahnya menuju pada jaman kolonial. Karena intriknya dan mungkin juga relevansinya sedikit untuk konflik Mal-Indo kali ini. Walaupun ada juga masuknya Islam akan mempengaruhi juga akhirnya. Tapi kita kesampingkan bentar aja.

Negara-negara Eropa (Inggeris, Perancis, Belanda dan juga Portugis) mulai menjelajah keluar dari Eropa mulai tahun 1600-an, keluar kemana-mana termasuk Afrika dan Asia. Belanda dan Inggeris serta Portugis, berbagi-bagi kapling untuk menjadi sapi perahannya di Asia tenggara. Cikal bakal Malesa dikuasai Inggeris. Sedangkan cikal bakal Indonesia dikuasai eh dijajah Belanda. Daerah yang nantinya menjadi negara Indonesia ini “apes” ditangan Belanda, karena belanda tidak seperti Inggeris dalam “mengelola” daerah jajahannya. Walaupun Portugis katanya paling parah dalam mengelola sapi jajahannya. Cikal bakal Indonesia disedot habis seumber dayanya, sedang cikal bakal Malesa tidak begitu merana dibawah ketiak Inggeris, walaupun kecut tapi masih anget kali ya 😛 .

MERDEKA !

Indonesia akhirnya merdeka dari Belanda setelah dengan “merebut” dengan perang fisik dar der dor ! di Tahun 1945. Sehingga Indonesia ini gething dan “suebel mekucel-kucel” dengan Belanda. Saat ini setiap ada langkah atau tindakan dari Belanda selalu diembeli dengan anti, wis pokoke yang berbau Londo itu ngga enak termasuk nama bunga Kenikir Londo 😛 baunya apek !. Hal yang baik (kalau ada) dari pemerintah Belanda selalu dicap buruk dan menyakitkan, misalnya kultur stelsel yang sebenarnya akan positip kalau diterjemahkan tanam pilih dan tebang pilih mengatasi hama, diterjemahkan menjadi tanam paksa. Padahal kejadian itu juga diulang ketika Jaman Suharto ada wajib tanam tebu, tapi hampir semua lupa kalau itu juga bisa diterjemahkan tanam paksa. Sehingga kita tidak dapat memetik hasil positip yang ada sebelumnya, semua peninggalan Belanda selalu terdengar sumbang. Walaupun banyak peninggalan peta-peta hasil belanda itu masih dipergunakan hingga sekarang. Juga Pajang jalan kereta api juga masih saja sama sejak jaman Belanda.

Sedangkan Malesa “diberi” kemerdekaan oleh Inggeris tahun 1957. Sehingga orang Malesa dalam sejarahnya “tidak merasa dijajah Inggeris“. Bahkan ada satu sisi mereka berterimakasih telah ‘dijajah dengan baik‘ 🙂 . Justru Malesa sangat sebel bin ngga suka dengan Jepun (maksudnya Jepang), walaupun Jepang hanya numpang lewat Malesa beberapa tahun saja ketika perang dunia kedua. Mereka yang di Malesa ini justru merasa dijajah Jepun. Inggeris tentunya nyengir 🙂 kalau inget hal ini, Jepun yang mbesengut 😦 ngga kebagian apa-apa.

Dari dua perbedaan diatas sudah terlihat pembawaan Indonesia yang selalu penuh heroik dalam menghadapi negara asing. Semangat 45 sangat kental dengan mental gagah berani untuk maju perang. Berbeda dengan rakyat Malesa yang kaget dan terkesan keder ketika orang Indonesia menyatakan siap mati membela tanah air. Bener looh rakyatnya Malesa yang keder, tapi pasukan militernya Malesa lebih berani wong senjatanya lebih mutahir. Lah militernya Indonesia yang malah ragu-ragu atau diragukan rakyatnya sendiri, Blaik ! Hal ini karena di Malesa ini rakyatnya tidak terasa jiwa heroiknya. Namun dalam hal membangun Malesa beda jagi, mereka terkesan lebih tertata rapi ketimbang Indonesia yang “gagah-berani“.

Dengan demikian kita tahu bahwa Malesa dengan Indonesia memiliki kesamaan dan ketidaksamaan dalam menjalani sejarah masa lalunya. Perjalanan ini membawa sikap mental serta perilakunya berbeda, pada aklhirnya.

😦 “Dari sisi penduduknya gimana Pakdhe ?
😀 “Yo manungso kabeh, dua-duanya sama manusianya thole
😦 “Hallah, Pakdhe

Penduduk Malesa ini secara etnis terdiri dari Tiga etnis besar yaitu, keturunan Melayu, Keturunan Cina dan Keturunan India. Orang India ini datang ke Malesa ketika jaman penjajahan Inggeris, karena India juga daerah jajahan Inggeris wektu itu. Negara Indonesia merupakan negara yang majemuk, terdiri dari hampir 200 suku. Menurut Tante Wiki sudah tercatat lebih dari 170. Duapuluh tahun lalu jumlah bahasa tercatat lebih dari 750 bahasa yang dalam 20 tahun terakhir ini 30 persen sudah punah. Jumlah pulau di Indonesia tercatat lebih dari 17 000, dimana 6000 diantaranya berpenghuni. Dapat dibayangkan bagaimana diversity atau keberagamannya Indonesia ini. Jadi jelas sekali penduduk Malesa yang hanya 20 juta-an ini lebih homogen ketimbang Indonesia.

Indonesia dan Malesa juga pernah mengalami konfrontasi yang cukup parah tahun 1960-an. Namun konfrontasi ini tidak berlanjut. Sukurlah bahkan sudah 40 tahun hubungannya semakin membaik. Namun dua bulan akhir-akhir ini terasa gejolak baru muncul di kedua negeri ini. Soal konfrontasi ngga perlu diperpanjang ceritanya ya ? Bikin mangkel bagi yang pernah terluka saja.

Hanya sebagian yang serumpun, itupun secara biologis doank !

Jadi kalau dikatakan Malesa dan Indonesia ini bangsa serumpun ya ada benarnya (walaupun hanya porsi melayunya) tetapi perjalanan hidupnya membuat kedua bangsa yang secara biologis ini dekat menjadi jauh karena berbeda jalan yang dilaluinya. Ditambah lagi dengan krisis akhir-akhir ini yang menjadikan Indonesia terpuruk menjadi bulan-bulanan kawasan sekitarnya. Mungkin juga sih, secara tidak sengaja. Dalam sebuah lapangan tari-tarian ini tentu saja ada yang mengatakan wajar kalau ada yang kakinya keinjek atau atau terkena sikut. Saking senangnya kawan sebelah kita menari yang lupa ada sekelilingnya terkena sikut kan. Paling trus misuh-misuh “slompret tenan !”.

Bangsa kakak beradik ini masih dipercaya hanya akan satu kalau menggunakan issue melayu dan issue muslim, tetapi kenyataannya suku melayu dan muslim di Malesa juga hanya sebagian. Dan etnis Melayu ini yang menguasai sisi politik, sedang yang menguasai ekonomi juga dari etnis Cina dan etnis India. Di Indonesia penguasaan politik masih terutama dari suku Jawa, paling tidak anggota DPR-nya dari daerah masih banyak yang tinggal di Jawa. Indonesia didalamnya ada banyak sekali suku (hampir 200). Diversity atau keberagaman ini ciri khusus Indonesia yang tidak dimiliki Malesa. Yang jelas issue serumpun dan sesama muslim ini tidak lagi ampuh dapat dipakai sebagai tema atau issue untuk menyatukan kedua negeri yang “mengaku serumpun“.

Kedua bangsa kedua negara ini sudah terasa menjauh. Perlu saling mendekatkan diri, saling mengenalkan diri secara terbuka untuk saling mengenal kembali. Jangan sampai ada berita buruk dari kedua pihak yang justru akan memperlemah kawasan Asia Tenggara ini. Kalau yang sedang menguat tidak mau mengajak yang melemah untuk maju bersama maka keduanya pasti hancur suatu saat.

Dongeng terkait :

Iklan

45 Tanggapan

  1. beberapa hal tentang Malaysia
    1. Dalang Teroris (untungnya telah tewas)
    2. Parasit devisa (melalui MLM banyak devisa kita tersedot tanpa kita sadari)
    3. Parasit Sumber Daya Alam (Perkebunan Sawit dan Karet malaysia yg kontrak tanah di Indonesia cukup banyak, kasus nelayn pencuri ikan)

    Oleh Karenanya, mari rekan2 sebangsa dan setanah air, tingkatkan nasionalisme, rapatkan barisan, dukung petani dan masyarakat kita untuk semakin mandiri dan hargai produk lokal kita. Malaysia bisa lakukan karena kita kurang menjaga apa yang kita miliki

  2. HIdup Indonesia

  3. iya…cerita sriwijaya and malaka emang has history, ..apa orang dulu (budha,hindu) itu adalah nenek moyangnya kami…??? ribet juga…ngebayanginnya…duluan sriwijaya apa majapahit..?tapi raja balaputradewa itu khan dari majapahit..??prameswara juga…?? tapi gimana dengan kutai..? khan…pada abad ke 4 udah berkibar tuh..kutai…???tapi gak ada sejarah kutai seribet majapahit yg awut-awutan..bubuh-bunuh han…………..pantes aja indonesia sekarang gaduh dan ribut….terus……….padahal contoh dari masa lalu yang suram hingga berproses kepada peradaban dan keyakinan (agama) yang lebih baik tidak menjadikan kita menjadi negara yang arif dan berwibawa…andai ada mesin waktu……..

  4. patut lah indon selalu ditimpa bala bencana … tsunami, gempa bumi, letusan gunung berapi, masalah ekonomi …
    rakyat mya selalu suka bergaduh adu domba ..

  5. indo not indon

  6. ulasannya muantap tenan rek, ngegambarin kenyataan tapi jaga pride juga, selamat buat lu bos.
    gw setuju kalo sejarah juga yang ngebangun attitude orang ato generasi selanjutnya cuman aja gw sendiri gedek ama pemerintah skarang, abis gak teges kaya bung karno dulu >> butuh revolusi buat bangsa kita
    warrior nation = bangsa indonesia

  7. fuck malingsia

  8. da pa dgn Indonesia??? knp kita sering dihina oleh negri jaran?? ups maaf salah, maksudnya negri jiran??? kita hrs melakukan perlawanan broow,,, kita lawan dgn otak bkn dgn otot. kita hrs permainkan mereka jg. mungkin lewat internet.

  9. jancok malas-ia !!!, suroboyo siap tempur merebut indonesia kembali. MERDERKA…

  10. Saya puji usaha bapak untuk menulis artikel ketimbang di TOPIX yang dikujungi mereka dari kelompok “kaki di atas kepala di bawah”. Memang kita semua harus membaca sejarah dan simak khabar berita apakah benar atau mainan pena pemiliknya.

    Setiap manusia punya kebaikan dan juga keburukan. Kita akan hidup aman damai jika kebaikan seseorang itu yang disoroti, bukan keburukannya.

    Kami di Malaysia sewaktu kasus Ambalat dan TKI tidak pernah tau, malah menganggap isu kecil dan koran di Malaysia tidak menjadikannya isu gede. Selama itupun masyarakat umum tidak menganggap hina TKI. Kalau ada kasus TKI teraninyaya, itu terjadi antar satu individu A dengan individu B. Perkara ini dibawa kemuka pengadilan. Kita harus berpikir secara rasional bahwa mungkin A yang benar, B yang salah, atau A yang salah, B yang benar. Bukan semuanya bangsa A benar, bangsa B salah(atau sebaliknya).

    Saya punya banyak teman di Indonesia. Kami saling kunjung mengunjungi dan saling memuji kebaikan dan memahami masalah yang ada di negara masing-masing. No problem!

  11. info yg bagus utk saya yg baru datang ke malaysia, sangat bermanfaat, terimakasih banyak utk yg sudah menulis artikel (salam kenal).

    br,

    haris
    (yg sedang mencari room di bandar melaka)
    hp. 60166035919

  12. keh2 harap kalau dah dapat lagu tu indon maju la hendaknya..dasar bangsa yg ngak akan maju

  13. […] Malaysia Akui Rasa Sayange Milik RI 13 11 2007 Akhirnya Malesa menyerah…. lagu Rasa Sayange tetap milik Indonesia! Dan semoga peristiwa-peristiwa seperti ini […]

  14. TKI banyak membantu malesial, banyak yang mendapat perlakuan buruk, tapi semestinya mereka juga dihargai. kami INDONESIA pantas MARAH, kami tudak pernah mengakui salah satu kebudayaan kalian, kami tidak pernah mengambil pulau kalian (malesial juga tau sipadan-ligitan bukan punya mereka). banyak TKI yang membantu malasia di segala bidang-yang warganya sendiri jual mahal untuk melekukannya-seperti PRT. jadi kami punya alasasn untuk MARAH dan mlesial TIDAK. bila ada kesalahan kami baik secara politik, ekonomi, sosisl, budaya dan apappun bentuknya (bukan masalah pribadi perorangan) pada bangsa malesa coba katakan saya ingin tau,
    saya harap ada saudara dari negeri tetangga yang mau menjawabnya ……..
    sehingga saya tidak akan memanggil malesial lagi, dan saya akan bangga mengatakan MALAYASIA sebagai saudara saya yang berhasil dan sukses.
    coba katakan
    APA SALAH KAMI YANG MEMBUAT KALIAN MERASA MARAH DAN TERHINA SEPERTI YANG KAMI RASAKAN AKIBAT ULAH KALIAN ????????/

  15. mari kita lihat suporter sepakbola dalam mendukung klub-nya.
    kalau pemain lawan berbuat curang, apalagi kasar mereka maki-maki, tidak senang, seakan-akan arif sekali bahwa dalam permainan tidak boleh melakukan kecurangan, kasar, arogan dan anarkis.
    Tapi coba lihat ketika pemain dari klubnya yang berbuat kasar, arogan dan anarkis, mereka tertawa melihat pemain lawan jatuh terpuruk, tersungkur bahkan harus di-rumah sakit-kan, seolah-olah melegalkan perbuatan tersebut.
    Saya cinta Indonesia karena saya orang Indonesia, jadi perlakuan buruk dari pihak lain tentu saja saya tdak setuju, tapi mungkin menjadi kebanggaan bagi yang melakukannya.
    jadi, gimana yaaa?

  16. klo kita mau bercermin pada diri,mau berbagi,saling harga mnghargai mungkin g begini jadinya.kata toleransi n perdamaiaan menjadi absurd,tanpa makna.malesa sedang mendapat ujian yaitu kekayaan sadar/tidak itu semua trgantung dia bisa/g melewati ujian itu.kitapun juga sedang diuji keikhlasan dan ketabahan smoga bangsa indonesia mampu melewatinya…amien…

  17. Terima kasih kpd pemilik blog ini kerana menimbulkan isu/perkara ini. Sekurang2nya kami tahu perasaan anda terhadap Malaysia & sudah semestinya kami akan memberikan gambaran sebenar situasi di Malaysia.

  18. Sdr rendraagustin,

    Saya setuju kalau kita harus melihat perkara ini dalam dua sisi. Tetapi anda harus ingat yg tulisan saya adalah responds terhadap komentar2 yg ditulis di sini yg ternyata melihat Malaysia dari satu sisi sahaja.

    Lihat sahaja komentar Mijn Heer yg berbunyi;
    (…apakah anda tahu apa yang sudah dilakukan oleh Malingsiah untuk menghina kita

    buat semua:
    apakah anda RELA, Indonesia dihina oleh MALINGSIAH?
    Staf diplomatik kita dihina!
    TKI kita diperkosa (baca Tempo!)
    pakai acara ‘ngirim’ teroris, pula!

    GANYANG MALINGSIAH!!!!)

    Cuba anda amati komentar di atas berkali2. Ternyata ia terlalu prejudis terhadap Malaysia.
    Umum akan menganggap bahwa SEMUA rakyat Mlaysia melakukan JENAYAH, sedangkan pelaku2 jenayah seperti yang disebutkan di atas juga dilaknat, dikutuk dan dibenci oleh rakyat Malaysia.

    Biar saya berikan contoh di sini; Kalau seorang rakyat Malaysia dirogol di Indonesia, bolehkah kita menganggap yang perogol itu adalah negara Indonesia? Adakah seluruh rakyatnya turut sama menjadi perogol? Perlukah diwujudkan perkataan Ganyang Indonesia?

  19. begitulah manusia, hanya dapat melihat sisi yang tampak di hadapannya saja, jadi Bp Ahmad yang merasa telah banyak berkorban janganlah seperti sekelompok orang buta yang meraba gajah dan memberikan komentar bagaimana rupa gajah tersebut. alhasil akan sangat beraneka rupa, maka kita perlu mendengar komentar yang mengalami baru kita rangkum dan tentukan apa yang sebenarnya terjadi. Coin selalu memiliki dua sisi betul?!!!

  20. Terima kasih kerana memberikan beberapa komen terhadap negara kami. Cuma ejaan Malesa itu tidak tepat. Inilah yg tepat: MALAYSIA. Saya mengakui beberapa perkara yang ditulis oleh penulis adalah benar; misalnya tentang lagu rasa sayang, korupsi RELA etc.

    Tetapi isu2 ini adalah isu terpinggir (sedikit/ jarang berlaku). Saya bukanlah seorang prejudis terhadap bangsa Indonesia. Jauh sekali untuk memusuhi kalian, kerana saya juga mempunyai ramai sahabat berbangsa indonesia.

    Cuma persepsi anda terhadap Malaysia itu adalah salah. Apa yg nyata media anda sering sahaja membesarkan isu yg berlaku, seolah-olah semua warga Indonesia di Malaysia teraniaya.

    Sedangkan kerajaan(pemerintah) & warga kami sudah terlalu banyak berkorban utk warga anda di sini. Pekerja2 ladang yg umumnya berasal dari Indonesia disediakan rumah, elektrik, air, perkhidmatan kesihatan, bahkan sekolah. Ibu2 yg sedang hamil dimestikan datang ke klinik setiap bulan & bayi yg baru dilahirkan juga diwajibkan mendapat suntikan imunisasi.

    Saya masih ingat semasa di sekolah menengah (SMA) begitu ramai teman berbangsa Indonesia. Malah ada juga keluarga saya yg berkahwin dengan mereka. Pernah seorang teman Indonesia menyatakan bahawa kalau boleh dia ingin terus menetap di Malaysia kerana keselesaan & ‘keistimewaan’ yg mereka dapat. KALAU TIDAK PERCAYA BOLEH SAJA MELAWAT KE MALAYSIA.

    Kalau saja saya tuliskan semua pengorbanan yg rakyat kami berikan kepada rakyat Indonesia yg datang ke sini, akan menjadi sangat panjang. Cukuplah dulu setakat ini. Kalau ada masa saya akan tuliskan pula MASALAH YANG DITIMBULKAN OLEH WARGA INDONESIA TERHADAP MALAYSIA.

    Semoga kita akan melihat perkara2 ini dengan fikiran yang terbuka.

  21. Huhuy: salah sendiri coy punya banyak ragam budaya kaga di patenin..uda direbut orang aja baru marah2..pinter dikit makanya..kaga pernah maju kalo bisanya marah2 doang…mo ganyang malaysia lagi..mimpi de lu.

    Bung huhuy,
    Apakah jika sebuah bank dirampok, maka anda hanya menyalahkan “sistem security” bank tsb, dan bukan menyalahkan perampoknya…

    cobalah ambil analoginya ….

  22. buat Fitri: saya mengajukan protes balik kepada anda
    apakah anda tahu apa yang sudah dilakukan oleh Malingsiah untuk menghina kita

    buat semua:
    apakah anda RELA, Indonesia dihina oleh MALINGSIAH?
    Staf diplomatik kita dihina!
    TKI kita diperkosa (baca Tempo!)
    pakai acara ‘ngirim’ teroris, pula!

    GANYANG MALINGSIAH!!!!

    sebenarnya, ini bukan masalah ganyang menganyang, tetapi: kita harus lebih tegas kepada Malingsiah….

  23. bagaimana kalau Indonesia juga minta bantuan sama Amerika Serikat dan Eropa, tidak usah gengsi…

    Gengsi nggak bisa bantu apa-apa !!!

  24. salah sendiri coy punya banyak ragam budaya kaga di patenin..uda direbut orang aja baru marah2..pinter dikit makanya..kaga pernah maju kalo bisanya marah2 doang…mo ganyang malaysia lagi..mimpi de lu..

  25. malaysia emang g bisa dibiarkan terus2an menghina bangsa indonesia tercinta, saya curiga malaysia punya “dekengan” dari negara eropa ato bahkan USA- yang biadab-, kebetulan saya orang kalimantan, di sini dengan sangat jelas, kapal2 malaysia dengan maen kucing2an berusaha memasuki kawasan indonesia, begitu di dekati keluar lagi, apa itu g bikin jengkel, apa coba maksud dari malaysia itu? bisa ditebak memancing kerusuhan dengan indonesia, kalo macem2 sikat aja! betul g?

  26. Saya salut utk Pak Rovicky. Dalam memahami masalah ini, unsur sosial + sejarah memang harus dipertimbangkan. Mengapa begini mengapa begitu, ya gak pak de hehe 😀

  27. Hi Maling

  28. Protes

    Mohon teman-teman tidak menyebut malaysia dengan nama-nama yang jelek. Saya amat sangat tidak setuju sekali apabila ada yang menyebut dengan malingsial.

  29. Waduh dalam negeri belum beres sudah mau punya urusan dengan luar negeri ?????

    Tidak usah yang rumit-rumit mulai dari yang kecil tapi jelas.

    Contoh:
    Kalau naik angkot tarifnya berapa ? naik kereta api (PJKA) beli karcis atau salaman sama kondekturnya ? Sudah mulai mendingan TRANS JAKARTA (maaf yang ini belum pernah coba tapi saya berpikir positif aja).

    Saya juga disini dipanggil INDON tapi cuek aje, jelek atau buruk is my country.

  30. lha gmana pakde?malesa ki cen ngeyel tur egois..njaluk dibom,hehehe…
    maaf lair batin ya de….

  31. denger2 hacker indonesia udah mulai bergerak …

    bisanya cuma denger doank 😉

  32. Malesa bagus juga, tapi barangkali bisa juga bangsa “Mala”

    Pertimbangannya :

    Indonesia -> minus empat huruf terakhir untuk menghemat penulisan jadi “Indon”.

    Malaysia -> minus empat huruf terakhir : “Mala”
    (malapetaka :P)

  33. Tulisan yang panjang lebar….
    sekedar share ada juga tulisan tentang perbandingan Singapura, Malaysia dan Indonesia di
    http://rahard.wordpress.com/2007/10/08/malaysia-and-indonesia-and-singapore/

  34. lah wong pemerintah kita juga diem aja pak 😛 jadi inget waktu ada rame2 ganyang malaysia (ambalat) kita2 yang di KL gak ada yang ngumpulin tuh, setidaknya kasih penyuluhan biar tenang atau apa, mahasiswa malaysia yang di indo malah pada diungsiin sama pemerintahnya 😛

  35. hehe ‘tante wiki’… 🙂
    kita orang indon (hihi) emang patriotik…
    kita dari kecil disuguhin sejarah2 dramatik, komik2 yg isinya 350 abad dijajah, perjuangan dengan bermandikan darah dan kata ‘merdeka!’ akrab ditelinga..
    lalu lagu2 perjuangan, ‘dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau’
    malasia,.. emang orang kaya baru… jadi mereka nganggap kita rendah mulu…
    kalo aku bilang sih,anggap aja ini cobaan buat kita untuk memperbaiki diri kedepan..

  36. Pak Rovi,
    Indonesia kaya, anaknya ada yang pinter, tetapi banyak yang bodho. Yang bodho (moralnya) ini mencuri dan menjual aset (milik orang tuanya), pembelinya kemudian kita sebut pencuri. Lha, kenapa kita meski marah dibilang Indon? Bukankah masih lebih baik daripada dibilang pencuri harta milik bapaknya?

  37. Selamat Hari Raya Idul Fitri ya pak rovicky, maaf lahir & batin

  38. pak dhe pulanglah ke ibu pertiwi….negara ini masih perlu orang2 sperti pak dhe….

  39. Dasar pencuri, negara pencuri ga malu tuh, ngaku2 memiliki udah ketauan hak cipta Indonesia. Ga punya kebudayaan kali ye.. ato kebudayaan nya dah punah??

  40. ganyang malaysia….
    ah, jangan ah
    minal aidin wal faidzin aja dengan malaysia,he..he..

  41. hm… indonesia memiliki cobaan dari dalam negeri maupun luar negeri sekarang 😦

  42. Dengan berdiri di 2 kaki membuat kita bisa berpikir secara obyektif. Apalagi kalo untuk golongan high quality TKI seperti bapak.

  43. kalo sama temasik, meskipun banyak mangsalah juga tapi kok gak pernah seheboh sama malesa.. tanya kenapa?

    –>Kang Ucup

    Kalau sama Tamasek (Singapore) Malesa jelas sudah kalah dari sisi ekonominya. Walaupun S’pore itu airnya masih harus “beli” dari johor, sebagai bagian dari perjanjian masa lalu. Dan harga jual air ini suangat muraah. Pernah membuat iri rakyat Johor looh.

  44. g peduli pak, pokoke aku g rela. g usah cerita masa lalu … yang sekarang-sekarang aja
    yang jelas malingsia sedang ‘menantang’ dan mentang-mentang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: